Januari 23, 2014

Kampus Hijaiah : Alasan berhijab

Haloo selamat pagi semuanya. Sudah sarapan apa hari ini? saya sedang menyantap goreng ubi dan segelas teh hangat. Bagaimana dengan yang di sana? Sepanjang pagi ini saya sudah duduk manis di depan monitor. Siap melanjutkan misi berikutnya. Hari ini tidak langsung terjun kelapangan. Dari ruang kerja saja. Sebab saya juga perlu menyiapkan review untuk di evaluasi besok.

Ada kabar baik nih, sistem di komputer ‘agak’ canggih saya menemukan dua titik yang sedang berdekatan. Setelah ditinjau lebih detail ternyata Fa dan Ra’ sedang bersama sepagian ini. Mantaaap. Mari kita lihat akan seperti apa cerita yang kita dapat hari ini.

“Sedang apa Kak?” Ra’ menghampiri Fa yang sedang sibuk dengan skop kecil, pupuk kandang dan polybag. Sepagian ini Fa sudah berkutat dengan tanaman-tanaman apotik hidup. Ada beberapa tunas kunyit yang perlu dipindahkan ke tempat yang lebih besar.

“Boleh aku mengganggumu sebentar?”

Fa menoleh. “Hei kamu Ra’. Tumben main-main ke sini. Lagi nggak meliput?” Fa memeriksa tangan Ra’. Memastikan tidak ada alat perekam dan sebagainya. Fa tahu, biasanya sabtu pagi memang jadwal Ra’ untuk mencari bahan tulisannya. Untuk buletin mading hari senin.

Ra’ tertawa kecil. “Tenang Kak, aku hanya ingin mengobrol saja.”

“Waaah ada apa nih? Pagi-pagi sudah serius sekali.” Fa mengusap keringat di dahi. Membetulkan posisi kacamatanya. “Mengobrol tentang apa adik manis? Nggak keberatan kan kalau tangan ini sambil tetap bekerja?"

Ra’ tertawa. “Tentu saja Kak. Sekalian sini apa yang bisa aku bantu?” Ra’ menawarkan diri.

“Baiklah kalau begitu. Tolong bawakan cangkul itu ya. Sepertinya kita perlu tambahan tanah lagi.” Fa menenteng dua ember besar berisi pupuk kandang.

Ra’ mengangguk, mengikuti langkah kakaknya ke bagian belakang pekarangan apotik hidup.

“Aku mau tanya, apa sih alasan Kakak berhijab dan berpenampilan selayaknya muslimah yang baik?” Ra’ memulai pertanyaannya.

Fa menoleh sebentar. “Kakak bukan lagi sedang di wawancarai kan?” Fa menggoda lagi. Ra’ ikut tertawa, “Kamu berlebihan Ra’. Aku belum sebaik yang kamu kira. Bukankah kamu sendiri sudah berjilbab sayang? Alasanmu sendiri apa?”

“Aku kan baru tahap belajar, Kak. Belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Termasuk dalam berpakaian. Dan Kakak bisa lihat sendiri, aku masih saja lebih sering memakai celana jeans ke mana-mana, dibanding rok. Lebih lama Kakak istiqomahnya.” Ra’ mengaduk-aduk pupuk kandang dengan tanah hasil cangkulan kakaknya.

“Subhanallah, niat yang baik. Pertahankan niat itu, sayang. Insya Allah kebaikan-kebaikan berikutnya akan ikut serta dalam keseharianmu.”

“Sebagai seorang muslim. Ibadah kita kan masih banyak yang berdasarkan ikut-ikutan, Kak. Misalnya dalam takbiratul ihram ketika shalat. Aku yakin orang-orang shalat dengan di awali Takbir semata-mata karena mengikuti contoh yang sudah ada. Atas didikan orang tua. Kalau shalat harus begini harus begitu. Kata Guru ngaji dan sebagainya. Bukan karena tahu dalilnya, mengerti landasannya. Lebih sedikit orang yang paham atau pernah mendengar/membaca hadist yang menerangkan kalau Rasulullah memang melakukan Takbiratul ihram ketika memulai shalat.” Obrolan mereka semakin serius dan menarik. Dengan tangan tetap bekerja.

“Iya kamu benar.” Fa’ menghentikan sejenak pekerjaanya. “Kebanyakan kita tumbuh menjadi muslim yang mengikuti, bukan muslim yang mencari.”

“Nah, sekarang kembali lagi ke soal hijab, Kak. Aku takut berjilbab ini juga karena faktor ikut-ikutan. Atau bahkan suruhan orang tua. Dan nggak tahu sebenarnya apa yang mendasari niat kita untuk berjilbab. Makanya aku ingin tahu alasan Kakak berhijab apa?” Ra’ tersenyum.

“Seperti yang kamu bilang tadi Ra’, awalnya kakak memakai kerudung hanya karena terbiasa dari kecil. Kebiasaan orang tua kakak yang memakaikan penutup kepala sejak bayi. Hanya sebatas itu. Tapi beberapa tahun lalu kakak mulai berpikir, persis bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan yang sama sepertimu.”

Lengang sejenak.

“Ternyata sebagai muslimah, bukan sekedar berkewajiban menutup aurat dengan berhijab. Tapi ada yang memang seharusnya dijaga. Sesuatu yang lebih besar dampaknya. Fitnah dunia, Ra’. Kakak nggak ingin menjadi salah satu perempuan yang menjadi fitnah dunia. Perempuan yang pada akhirnya akan menyicipi jilatan api neraka karena nggak pandai menjaga dirinya, perbuatannya, tutur katanya dan juga dalam berpenampilan sehari-harinya.”

Ra’ terdiam lama.

“Bergetar hati kakak waktu itu, Ra’. Ketika mendengar penghuni neraka lebih banyak dari kaum kita. Lebih banyak perempuannya. Kakak takut sekali. Semenjak itulah kakak mengerti hijab bukanlah sekedar kewajiban. Tapi kebutuhan. Ada hal yang memang seharusnya dijaga. Yang jika dibiarkan akan menimbulkan fitnah yang lebih besar.” Fa menghela napas sejenak.

“Masya Allah. Aku ikut merinding mendengar penjelasanmu, Kak.”

“Ada satu lagi alasan pribadi Kakak, Ra’. Sebagai seorang perempuan, tentunya kakak ingin mendapat calon imam yang baik. Ia yang pandai menjaga pandangannya. Untuk itu kakak belajar istiqomah berhijab, dengan menjaga hak yang akan ia terima dari kakak kalau sudah menjadi istrinya. Tentu kamu mengerti maksud kakak.”

“Subhanallah. Aku memang nggak salah memilih tempat bertanya.” Ra’ memeluk Fa seakan lupa tangannya sedang blepotan dengan tanah. “Terima kasih, Kak. Aku ingin sekali belajar lebih banyak lagi darimu.”

“Adu duh... pekerjaan kita masih banyak, Dek.”

“Ups!” Ra’ terkekeh. “Uraian dari Kakak tadi boleh nggak jadi bahasan mading hari senin?” Ra’ menyeringai memamerkan gigi gingsulnya yang tumbuh satu di bagian atas. Bukan masalah besar untuk seorang Ra’ merangkum obrolannya sejak tadi. Ia perempuan berpredikat sebagai pengingat yang baik. Tidak perlu alat rekam.

“Eh?” Fa melotot. Memperbaiki letak kacamatanya.

“Haha... bercanda, Kak. Buletin untuk senin sudah beres kok.”  Ra’ mencuci tangannya. Pekerjaan mereka sudah selesai. “Kak, satu pertanyaan lagi deh. Bagaimana caranya membiasakan diri memakai rok?”

“Haduuuh pertanyaanmu aneh sekali Ra’. Kakak kan memang dari kecil sudah biasa memakai rok. Seharusnya kakak yang bertanya bagaimana rasanya memakai celana seharian?”

Keduanya tertawa.

“Buat dirimu senyaman mungkin, Dek. Dengan menjadi diri sendiri. Yang penting tahu batasan-batasan yang seharusnya dijaga. Dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah kita pilih. Kakak rasa itu yang lebih penting.”

“Siiip. Terima kasih Kak untuk pelajaran hari ini. Aku pergi dulu ya. Ada yang harus aku kerjakan.” Ra’ menyodorkan secarik kertas. Sebuah ilustrasi gambar seorang Fa dengan jejeran tanaman apotik hidupnya.

“Ra’, Ra’ sejak kapan coba dia menggambar ini?” Fa tersenyum. Punggung Ra’ sudah semakin jauh.

Syukurlah liputan hari ini lancar-lancar saja. Yup file cerita mereka bisa menambah rating review saya besok di markas. Untung saja sepagian ini mereka memakai bros kupu-kupu yang sama. Jadi rekamannya tidak mengalami hambatan seperti yang sudah-sudah. Beberapa pekan lalu mereka membelinya. Tentu saja itu saya yang menyamar menjadi pedagang bros di depan kampus. Waktu ada acara bedah buku. Salah satu alat pendeteksi keberadaan mereka.  Ah menyenangkan sekali menjadi agen rahasia ini. Bisa menyamar menjadi apa saja. Lumayan kan kalau saya sudah pensiun bisa membuka banyak wirausaha. Bhahaha....

Baiklah sampai di sini dulu. Sampai jumpa di kisah selanjutnya.


2 komentar:

  1. Saya sendiri berhijab karena ikut2an pada awalnya, karena lulus di kuliah negeri sebagai tanda syukur.. Buka tutup sih, hijabnya.. Tapi semakin ke sini semakin paham pentingnya hijab dan akhirnya setahun kemudian sy pun menutup sepenuhnya meskipun tanpa cadar.. Salam silaturahmi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mudah-mudahan selalu istiqomah ya :)

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)