Januari 20, 2014

kampus Hijaiah : Manipulasi pengeluaran

“Tak bisakah lo sumringah sedikit kawan. Langit mendung. Kenapa juga lo ikut murung.”

“Eh lo, Jim. Dikira siapa.” Kembali Djo menekuni coretan-coretan tak beraturan yang ia buat dari tadi. “Gue ini lagi bingung Jim, bukannya murung.” Djo menjelaskan sembari menyeruput sisa minumannya.

Djo ini teman nongkrong Jim di kantin kampus. Mang Domah salah satu pedagang di kantin, sudah hafal benar dengan pesanan kedua anak yang suka jahil ini. Mie Rebus Soto Ceker. Bisa dibilang kedua pelanggan tetap Mang Domah ini memang agak sedikit merepotkan. Mang Domah aslinya hanya menjual mie ayam ceker. Biasanya Djo dan Jim patungan beli mie rebus rasa soto satu dus, untuk persediaan makan mereka. Dus mie itu sengaja dititip ke Mang Domah. Katanya biar Mang Domah nggak bisa nolak kalau diminta bikinin mie rebus soto ceker dengan alasan nggak ada mie instannya. Padahal dipikir-pikir apa bedanya coba? Toh sama-sama mie? Jelas ada bedanya. Dan itu hanya Djo dan Jim yang tahu perbedaannya.

“Mau makan sekarang Den?” Tanya Mang Domah melihat Jim baru datang. Sambil tangannya terampil menyiapkan pesanan mie ayam ceker untuk tiga porsi.

“Nggak Mang, saya mau jalan. Minta teh hangat tawar nggak pake gula aja ya Mang.” Sahut Jim dengan nada cepat. Mang Domah berhenti sejenak. Dahinya berkerut. Seperti menerka-nerka sesuatu. Jim terkekeh, lalu beralih ke Djo, “bingung kenapa?”

“Sekarang gue tanya, gimana cara mengatur pengeluaran uang yang baik?” Djo melingkari kata uang di kertas bekas coretannya. Di bawahnya banyak deretan angka, seperti fungsi bagi kurung pada matematika.

“Maksudnya?” Jim mempelajari coretan-coretan tak beraturan itu.

“Jadi kemarin gue baca blog, katanya kalau mau nabung yang sukses itu. Setelah dikeluarkan zakat penghasilannya 2,5% dan pajak. Sisihin uangnya dulu buat tabungan, baru sisanya buat pengeluaran. Bukan sebaliknya, nunggu ada sisa pengeluaran baru nabung.”

“Seharusnya begitu, terus?” Jim meraih segelas air dari Mang Domah. “Kok bening Mang?”

“Itu namanya teh air hangat tawar tanpa teh, Den.” Mang Domah terkekeh.

“Lho?” Jim mengerutkan dahi. Djo terkekeh, lebih dulu menangkap maksud Mang Domah.

“Teh-nya habis, Den.” Sahut Mang Domah tanpa merasa bersalah.
Jim menepok jidat baru menyadari sesuatu.

“Ok! Gue setuju dengan teori itu. Tapi kan tahu sendiri, kadang pengeluaran kita itu lebih banyak yang tak terduganya. Nah yang jadi pertanyaan sekarang, gimana caranya sisa uang setelah ditabung itu mencukupi kebutuhan semuanya. Sedangkan kadang lebih banyak uang itu habis tak berbekas, entah ke mana rimbanya. Sedangkan kebutuhan tetap saja nggak terpenuhi.”

“Waaaah berat juga nih pembahasan. Umm.... Kalau masalah pengeluaran itu relatif ya. Tergantung kita sendiri yang pandai-pandai mengaturnya. Memilah-milah mana yang seharusnya lebih diperioritaskan. Karena seharusnya kita sudah tahulah apa saja yang menjadi kebutuhan kita, bukan sekedar mengikuti keinginan. Alih-alih dihambur-hamburkan.” Jim meneguk minumannya. “Umm... begini saja, lo ikut gue sekarang. Kita cari tahu cara yang baik mengatur sebagian uang itu, dengan pengeluaran yang lebih bermanfaat.”

Djo mengangguk. Mulai tertarik.

“Mang makasih ya teh hangat tanpa teh-nya.”

“Besok mah dijamin plus teh, Den.”

Jim melambaikan tangan. Bukan suatu masalah.

“Jalan kaki nih kita?” Djo merasa perlu bertanya, karena Jim tidak terlihat menuju parkiran motor. “Memang tujuan kita ke mana?”

“Yoi.” Sahut Jim tanpa merasa perlu menjawab pertanyaan kedua Djo.

“Halooo Djo, mau ke mana?” Seorang mahasiswi bertanya pada Djo.

“Hai Rin. Nanti aku telpon ya.” Jawab Djo sambil melempar senyum terbaiknya.
Djo menyikut lengan Jim. “Jim yang barusan jangan bilang-bilang ke Sinta ya.”

“Maksudnya?”

“Iya jangan bilang-bilang Sinta kalau gue telpon-telponan sama Rina, bisa-bisa dia marah kalau ketahuan.”

Jim melambaikan tangan. Bukan urusannya.

Lima belas menit berlalu tanpa percakapan. Langit tak lagi mendung. Sepertinya tidak jadi turun hujannya. Deru-deru kendaraan terdengar saling bersahutan. Djo sudah mulai ngos-ngosan. Tentu saja ia tidak seperti Jim yang terbiasa jalan kaki dengan jarak jauh.

Sampai lampu merah pertama mereka berhenti.

“Kalau tahu mau ke sini tadi pakai motor, Jim. Haaah.” Djo mengatur napasnya.

“Dekat toh? lagipula dikira kita bisa menemukan sesuatu tanpa perlu berjalan sampai sini. Ternyata nggak.” Jim beralasan.

“Dengkulmu dekat. Jadi sebenarnya apa yang kita cari di sini?” Djo tidak sabaran. Meski tidak panas udaranya. Berjalan dari kampus sampai lampu merah cukup membuatnya gerah.

“Perlu diingat kawan. Nggak cuma kita yang punya banyak kebutuhan setiap harinya. Orang lain juga. Bahkan mungkin lebih banyak. Dan perlu menguras pikiran lebih keras lagi. Nah, untuk mengurangi tingkat pengeluaran itu, coba kita manipulasi dengan membantu memenuhi kebutuhan mereka. Nggak perlu banyak, sekedarnya saja juga sudah mengubah banyak hal.”

“Yaelah berbelit-belit amat. Maksudnya memberi ke mereka-mereka?” Djo menunjuk ke peminta-minta yang sedang mengetuk-ngetuk kaca mobil. “Ngapain jauh-jauh ke sini. Di dekat kampus kita juga banyak.”

“Ye... siapa bilang ini berhubungan dengan mereka. Nggak, uang itu bukan untuk dikasih ke mereka. Jelas kalau yang itu malah nggak mendidik.” Jim mengedarkan pandangan ke segala arah. Mencari sesuatu. “Nah itu saja, Pak beli Pak.”

“Loh bapak itukan jualan abu gosok, Jim. Buat apa?”

Jim menyikut lengan Djo menyuruh diam.

“Sebungkusnya berapa Pak?”

“Cukup seribu perak, Den.”

“Duit sisa kembalian Mang Domah berapa tadi?” Jim berbisik.
 Djo mengeluarkan uang dari sakunya.

“Saya ambil lima bungkus Pak. Nggak usah diplastikin Pak. Ditenteng begini saja.”
Pedagang abu gosok mengangguk. Mengucapkan terima kasih. Lalu pergi.

“Kita kenapa jadinya beli abu gosok, Jim? Kita kan lagi ga butuh itu. Dan gue rasa-rasanya familiar dengan tukang abu gosok tadi. Kayaknya sepanjang jalan dia ngikutin kita dari kampus.”

Jim tersenyum, “Masa sih? Nggak lihat apa tadi si bapaknya. Sudah tua tapi masih semangat mencari nafkah. Bukannya banyak yang kayak si bapak tadi? Nah, carilah alasan apa saja untuk membeli apa yang mereka jual. Sekalipun lo lagi nggak butuh barangnya. Itu jauh lebih bermanfaat, dibanding lo mengeluarkan uang yang nggak jelas arahnya. Yang lo bilang apa tadi? Hilang begitu saja, tak berbekas. Entah ke mana rimbanya. Bla bla bla.”

Djo bengong, masih mencerna kata-kata Jim. “Tapi ada benarnya juga sih, Jim.”

“Masih mau lanjut jalan ga nih? Tujuan gue masih satu lampu merah lagi.”

“Ogaaaaah. Mendingan gue pulang.”

“Yaudah nih bawa abu gosoknya. Kasih Mang Domah kek buat dia nyuci piring.”

“Nah, kan kan jadi gue juga yang ketumpuan bawa-bawa beginian. Mana jalan kaki.”
Jim terkekeh, cepat-cepat berlalu.

Hah, hari yang cukup melelahkan. Memang bukan pilihan yang tepat untuk membuntuti seorang Jim dengan berjalan kaki. Apalagi harus memikul-mikul barang begini. Walaupun cuma abu gosok, kalau banyak ya bikin pegel pundak juga. Ditambah perut baru diisi mie ayam ceker Mang Domah. Udah diajak jalan. Enak banget itu cekernya. Bikin mau nambah.

Sebenarnya yang bikin berat bukan abu gosoknya. Tapi monitor tampah ini. Ini keluaran jadul, perangkatnya masih manual. Kenapa juga markas mengirimnya beginian, bukan robot capung atau apalah itu. Nasib-nasib jadi agen rahasia. Setelah insiden robot capung yang dirusak anak-anak waktu itu. Saya harus mengikuti penyuluhan ulang tentang mekanisme kerja di lapangan. Katanya tindakan ceroboh saya kemarin bisa membahayakan anak-anak. Hah...

Kalau nggak salah dengar anak ini mau melanjutkan jalan lagi? Oh No. Sepertinya harus balik dulu ke markas untuk persiapan yang lebih matang.  Jadi sampai di sini dulu pembaca sekalian yang bijaksana. Saya mau mengurut betis dulu. Adios.


2 komentar:

  1. Kali-kali jalan kaki, biar sehat jasmani bkn hanya rohani.
    Kalau masalah ngatur keuangan, kaya'a tergantung kebiasaan pola hidup sehari-hari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya mas olahraga gratis ya :D

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)