Januari 22, 2014

Kampus Hijaiah : Menjaga kepercayaan

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing....

Duh sudah jam berapa ini. Bisa-bisanya saya ketiduran ketika bertugas. Bisa gawat kalau ketahuan oleh team khusus pemantau aktivitas para agen. Hah, memang melelahkan membuntuti orang yang gemar jalan kaki kalau tidak terbiasa. Untung saja waktu transaksi abu gosok tadi saya sempat menjatuhkan robot semut mikro chip ke celana anak itu. Ah semoga saja kali ini robot itu bekerja dengan baik.

Sebentar, sebentar saya kucek-kucek mata dulu. Untuk kalian pembaca yang bijaksana, sembari menunggu saya mengaktifkan perangkat-perangkat pendukung monitoring dan sebagainya. Silakan kalau ada yang kebelet atau ingin mengambil cemilan di dapur. Tidak lama kok. Diusahakan.

Umm... sebentar ya. Baik. Nah ini dia. Pembaca sekalian, mari kita lihat apa yang sudah dilakukan Jim ketika saya tertidur. Sudah sampai mana anak itu melangkah. Di monitor saya terlihat kendaran-kendaraan rapat merayap. Pengamen-pengamen jalanan mulai beraksi. Sepertinya sedang lampu merah. Satu dua pedagang asongan berseliweran dari mobil satu ke mobil lain. Sejauh ini belum terdengar adanya percakapan.

Nah, sekarang jalanan mulai lengang. Sepertinya Jim memasuki sebuah gang kecil. Rupanya ia menemui nenek penjual nasi bungkus yang sudah bertahun-tahun mangkal di gang itu. Mak Kasroh biasa orang-orang memanggilnya. Kebetulan saya termasuk salah satu langganannya kalau lagi ngirit. Masakannya enak dengan harga kantong anak kosan banget. Ah jadi ikutan lapar. Sepertinya perut lupa kalau satu jam lalu baru diisi dua porsi mie ayam ceker Mang Domah. Terlalu.

“Emak udah lama ya dagang di sini?” seperti biasa Jim selalu bertanya ingin tahu.

“Hampir 20 Tahun, Nak.” Mak Kasroh menjawab antusias. Menyunggingkan senyum. “Dari Emak baru punya cucu satu.”

“Sekarang berapa cucunya?”

“Udah 12 sekarang mah. Cucu paling tua malah udah nikah tahun ini.”

Inilah keahlian seorang Jim. Ia tahu benar bagaimana caranya menghidupkan obrolan. Bagaimana pun orang tua akan selalu senang jika diajak ngobrol. Apalagi pedagang pinggir jalan yang jaganya selalu sendirian. Sudah pasti mereka merasa jenuh. Dengan mengobrol atau dipancing untuk bercerita seperti hiburan tersendiri untuk mereka. Itu teori Jim. Meskipun tidak sepenuhnya terbukti. Karena ada juga yang malah sebal ditanya-tanya.

“Wah udah lama juga ya Mak. Rame banget pasti kalau lagi pada kumpul semua cucunya.” Jim menggigit donat saljunya. “Selama itu nggak pindah-pindah dari gang ini?”

“Iya. Kalau lagi pada main ke rumah rame banget. Nggak, di sini terus Nak. Nggak pernah pindah. Udah enak di sini mangkalnya.”

“Rumah Emak jauh dari sini? Terus gerobagnya ditinggal di sini?”

“Dekat Nak. Lima kilo lah kira-kira. Nggak, gerobagnya dibawa pulang. Kalau pagi bapak yang bawain. Pulangnya bapak datang lagi. Ke sini.”

“Oooh gitu.” Jim menyeruput es teh manis pesanannya. “Tapi Emak dulu pernah kerja?”

“Pernah 6 tahun. Di pabrik keset. Tapi Emak berhenti karena kerjanya sampai malam terus. Tadinya ditahan-tahan sama bosnya, tapi Emak tetap ngundurin diri. Nggak ada yang ngurus bapak sama anak di rumah.”

Jim mengangguk mengerti. “Kalau bapak sendiri kerjanya apa Mak?”

“Ngurut, Nak. Bapak itu bisa ngurut pakai air panas. Alhamdulillah pasiennya banyak yang datang ke rumah. Orang-orang jauh, pada minta diurut sama bapak. Emak mah ngeri dah nggak pernah mau diurut sama bapak.” Mak Kasroh tertawa pelan.

“Kalau orang udah punya keahlian emang banyak yang nyari ya, Mak. Jadi bermanfaat.”

“Iya, kadang ada pasien perempuannya juga. Tapi kalau perempuan bapak selalu izin dulu sama Emak. Katanya kalau nggak diizinin sama Emak mah bapak nggak mau ngurut.”

“Terus Emak izinin?”

“Nggak. Kalau ngurut kan udah pasti buka baju, Nak.”  Mak Kasroh mencuci piring kotor.

Jim tertawa. “Seharusnya Djo belajar banyak sama si bapak ini. Bagaimana menjaga kepercayaan pasangan.” Jim bergumam sendiri. Teringat sifat Djo ketika bertemu dengan Rina di kampus.

“Jadi....”

Tut... tut... tut....

Alamak monitornya tiba-tiba gelap begini.

Koneksi error.

Status failed.

Tepok jidat. Jangan-jangan semutnya jadi korban lagi? Hadooooh....

Tak apalah, setidaknya hari ini tetap ada hasilnya. Berarti tinggal satu anak lagi yang belum ada file aktivitasnya. Ra', si bungsu yang enerjik. Sepertinya saya memang perlu mengkonsumsi vitamin ini. Mengingat empat anak ini terlalu aktif di kehidupannya masing-masing. Haha...

Adios para pembaca sekalian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)