Januari 15, 2014

Kampus Hijaiah : Seminar Kepenulisan

Haloo pembaca yang bijaksana. Hari ini kampus Hijaiah sedang riuh sekali. Banyak murid-murid yang berlalu lalang ke sana kemari sambil mengobrol. Ada pula yang duduk-duduk santai –membuat lingkaran, di bawah pohon pala. Entah mendiskusikan apa. Desas-desus yang saya dengar, baru saja ada rapat besar di ruang kerja KAF. Membahas banyak agenda kegiatan untuk menyambut tahun ajaran baru. Biasalah untuk menarik peminat calon Mahamurid baru. Dan mereka baru saja bubar dari rapat itu.

Hari ini saya sengaja menyamar menjadi petugas kios fotocopy-an. Menggantikan nyonya Marbutoh yang sedang terburu-buru menjemput anaknya pulang sekolah. Kelas 4 SD. Biasanya sih anak itu tidak rewel minta dijemput, bisa pulang sendiri. Tapi entah kenapa hari ini agak sedikit manja. Sampai-sampai nyonya Marbutoh terlihat sedikit kesal. Kiosnya sedang ramai. Bukan waktu yang tepat untuk ditinggal.

Sssst... rahasia kecilnya, sebenarnya saya yang beberapa menit lalu menelpon nyonya Marbutoh. Dengan sedikit bantuan alat pengalih suara, saya pura-pura menjadi anaknya. Merengek-rengek minta segera dijemput. Ini sangat mudah, saya meniru gaya Conan Edogawa ketika memecahkan misteri. Dan berhasil telak. Tak apalah, hitung-hitung bantu nyonya Marbutoh istirahat sejenak dengan rutinitasnya. Mempertemukan ibu dan anak itu juga hal yang baik bukan? Hahaha....

Ini misi khusus, karena target saya hari ini pasti akan mengunjungi kios fotocopy-an ini. Nah, itu arah jam sembilan target sudah terlihat mendekat. Saya harus segera siap-siap, agar penyamaran ini tidak dicurigai oleh mereka.

Lam sang ketua KAF kita terlihat membawa sebuah map, tempat berkas-berkas hasil rapat tadi. Di sebelahnya ada Dzal, juga membaca selebaran kertas. Ia menjadi koordinator bagian Humas.

“Bang tolong diperbanyak dua puluh lembar.” Dzal memberikan selembar kertas. Saya mengambilnya dan mulai bertugas sesuai pesanan. Syukurlah sejauh ini mereka tidak menyadari kalau yang menjaga kios berbeda. Berubah jenis kelamin pula.

Itu undangan rapat untuk para pengurus senior. Membahas tentang seminar kepenulisan bulan depan.

“Kak, aku punya usul. Gimana salah satu penulis yang memberikan materi nanti mbak Tere saja?” Dzal berujar.

“Mbak Tere?” Lam mengerutkan dahi. Pandangannya beralih ke etalase. Melihat-lihat pulpen.

“Iya mbak Tere Liye. Ituloh penulis best seller Hafalan Shalat Delisa.”

“Memangnya perempuan ya?” Lam mengambil uang di kantong kemejanya, “Bang Pulpen yang ini satu deh.”

“Setahuku sih perempuan Kak. Bisa dilihat dari tutur bahasanya juga.”

“Memangnya kenapa harus Tere Liye?”

“Aku sudah punya sembilan novelnya di rumah. Banyak pelajaran penting setelah membaca cerita-cerita fiksinya. Apalagi yang berjudul Rembulan Tenggelam Di Wajahku. Pokoknya recomended deh.”

Lam mengangguk.

“Bisa dibilang aku ini agen ‘tidak resmi’ terselubungnya Tere Liye, Kak. Aku suka sekali mengajak orang-orang buat suka membaca karya-karya Tere Liye. Udah ada sekitar lima orang yang akhirnya berminat membacanya juga. Tidak ada alasan khusus sih. Hanya saja menyenangkan sekali melakukannya.”

“Waaah semangat sekali. Jangan-jangan aku ini sedang jadi target selanjutnya ya?”

“Secara nggak resmi bisa dibilang begitu, Kak.” Dzal terkekeh. “Aku sedang bersemangat saja mengusulkan nama Tere Liye sebagai daftar penulis yang wajib kita undang untuk mengisi seminar kepenulisan nanti. Bagaimana?” Tanya Dzal sungguh-sungguh.

“Baik, aku buka wacana ini dalam rapat besok. Diingatkan lagi nanti ya.” Lam mengalihkan pandangan ke penjaga kios. “Jadi berapa Bang semuanya?”

Saya menyebutkan nominal dan transaksi jual-jasa pun berlangsung. Setelah mengucap terima kasih mereka berlalu. Aha... aku tertawa, selanjutnya akan lebih mudah mengintai keseharian murid pertama kita ini. Di pulpen yang Lam beli tadi, aku sudah pasangkan kamera mikro. Sudah canggih dan fleksibel, karena dilengkapi dengan sensor anti pribadi. Sederhananya, kamera itu akan otomatis mati ketika sudah menyangkut hal-hal pribadi yang Lam lakukan. Seperti mandi dan kegiatan lain yang tidak termasuk target yang kita ingin selidiki.  Lagipula mana ada orang yang hendak mandi membawa-bawa pulpen ya?

Sekarang saya hanya perlu duduk manis, dan mulai memonitor kegiatan Lam selanjutnya. Mari kita simak. Dan berharaplah tidak ada yang datang ke kios untuk sekedar memotokopi bocoran tes. Itu sangat mengganggu sekali.

“Dzal, sekarang kita ke rumahku saja. Kemarin aku sudah dapat design baliho dan pamflet dari Ra’ untuk acara kita nanti. Sayangnya flasdiskku tertinggal di rumah. Aku harus mengantar Alif mengaji sore ini. Jadi aku tak sempat mengantarkan ke rumahmu. Bisa ya?”

“Siplah Kak. Meluncur ke TKP.”

Nah, selagi menunggu Lam dan Dzal sampai. Tidak menarik juga bukan melihat kondisi jalan raya yang selalu macet. Saya akan membahas sedikit mengenai Komunitas Alif Fathah ini.  Sesuai dengan nama dan lambangnya, alif fathah dalam bahasa arab dibaca jelas A. Komunitas ini bercita-cita ingin menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan tegas kepada setiap diri anggotanya. Disiplin dan bertanggung jawab atas perilaku diri sendiri. Mengajak diri pribadi untuk selalu berperilaku baik, menyeru dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Dan tentu saja belajar meredam hawa nafsu yang membawa sifat-sifat buruk. Untuk itu KAF selalu berinovasi melakukan kegiatan-kegiatan positif di luar jam mata kuliah. Kegiatannya apa saja? nantilah ya sambil berjalan saja menerangkannya.

Lam dan Dzal sudah sampai di kediaman abah Tanwin.

“Dzal, keberatan nggak kalau kamu ambil flasdisknya di meja kamarku. Sepertinya aku harus jemput Alif di tempat mainnya. Sudah jam segini belum pulang buat mandi dan siap-siap ngaji.”

“Oke Kak. Di meja kan ya?” Dzal memastikan. Teman-teman pengurus KAF yang laki-laki memang sudah tidak canggung dengan rumah abah Tanwin. Mereka sering menginap untuk sekedar bakar-bakar ayam atau ikan.  
Lam mengangguk. “Maaf Dzal sekalian. Simpan saja di meja ya.” Lam memberikan map dan pulpen digenggamannya.

Dzal pun langsung menuju kamar Lam. Aha, lihat apa yang terjadi kemudian. Dzal sedikit terkejut melihat rak buku, Lam. Di antara deretan bukunya, ada barisan 17 novel-novel karya Tere Liye. Dan sebuah foto di dinding dengan capture ‘Bedah Novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu Tere Liye 181213, Lam dan Bang Tere.

Dzal menggaruk-garuk kepala. Menyambar flasdisk dan keluar dari kamar, Lam.

Umm... sebagian sifat sok tahu tanpa mencari tahu lebih dulu kebenarannya, memang kenyataannya kadang menggelikan bukan?

Monitornya sudah tidak menangkap gambar apa-apa selain kamar Lam yang lengang. Saya harus segera pergi dari kios nyonya Marbutoh ini, ia sudah pulang. Sebelum ia menyadari ada orang asing di kiosnya selama ia pergi. Bisa panjang urusannya. Setidaknya saya sudah pastikan kamera mikro pulpen anti pribadi itu sudah berfungsi dengan baik. Jadi tinggal tunggu cerita selanjutnya ya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)