Januari 17, 2014

Kampus Hijaiah : Taman Baca Sepeda

Haloo pembaca yang bijaksana. Sebelumnya mohon maaf nih beberapa hari ini saya tak sempat menyapa kalian. karena dua hari yang lalu mendadak saya harus ke markas besar, menyerahkan dokumen-dokumen penting hasil pemantauan saya kemarin-kemarin. Di sana file-file tersebut akan diolah dan diamati oleh agen-agen yang kompeten dibidangnya.

Umm... baiklah sepertinya saya harus menerangkan sedikit misi khusus ini. Untuk kalian ketahui, di luaran sana -tempat yang tak diduga dan belum pernah kalian kunjungi. Ada sebuah pergerakan terselubung yang sudah lama kami dirikan. Untuk satu tujuan, mencegah dunia kebebasan. Ada banyak sekali agen-agen khusus yang disebar ke seluruh penjuru dunia. Salah satunya saya, setiap agen membawa tugas untuk mengawasi empat orang pilihan. Mereka dipilih dengan acak oleh mesin teladan. Setelah itu, tugas agen-agen khusus lah yang bergerilya mengawasi, memata-matai setiap gerak-gerik kehidupan mereka. -boleh jadi kalian yang sedang membaca tulisan ini termasuk target salah satu agen kami untuk diawasi. Tapi tenang saja, kami sama sekali tidak akan mengganggu hal-hal yang sangat amat pribadi. Yang menjadi rahasia kalian.

Nantinya file-file yang terkumpul, akan diolah lebih lanjut. Jika sudah memenuhi kelayakan, file-file itu akan diperbanyak dalam bentuk bermacam-macam. Disket, chip, program games, selebaran buku, ebook dan sebagainya. Sesuai dengan kebutuhan. Untuk apa? untuk mencegah dunia kebebasan menyebar lebih luas.

Percayalah bukan hanya team kami yang sedang menyusun pergerakan terselubung ini. Ada banyak agen-agen ilegal yang berdiri dan mengupayakan dunia kebebasan itu benar-benar menguasai dunia. Mereka bergerilya dengan lebih gencar. Melalui permainan games yang bisa melupakan waktu belajar, ibadah dan kegiatan yang jauh lebih manfaat. Dari program-program yang digencarkan media. Dari buku-buku pencuci otak. Dan lain sebagainya, yang kami semua tidak ketahui secara mendalam.

Terus apa itu dunia kebebasan? dunia yang sudah sangat rusak oleh pemikiran-pemikiran orang yang menganggap semua hal halal untuk dilakukan. Laki-laki dengan perempuan sudah semakin membaur. Anak-anak tidak merasa perlu lagi hormat ke orang yang lebih tua. Orang tua tidak lagi memedulikan pendidikan moral untuk anak-anaknya, dibiarkan jadi pengemis, penjahat, koruptor dan tumbuh dengan kerusakan-kerusakan. Orang-orang tidak malu lagi untuk mencuri, mengambil hak orang lain. Halal-haram sudah semakin abu-abu untuk dibedakan. Orang-orang sudah kehilangan rasa malu, mengumbar aib sendiri di depan umum. Dan kondisi kebebasan lain yang sangat menakutkan untuk dilihat.

Tapi kalian jangan khawatir, selagi masih ada orang-orang yang bergerak peduli untuk memperbaiki diri. Menebar kebaikan-kebaikan. Saling nasihat menasihati dalam kesabaran. Masih menyadari batasan-batasan yang tidak seharusnya dilakukan. Dunia kebebasan ini tidak akan mudah untuk meluas. Dan itulah tugas kita semua, termasuk kami sebagai agen khusus. Kami akan berjuang mengumpulkan file-file kebaikan, kepedulian, nasihat-nasihat teladan, kata-kata bijak orang tua yang masih tersisa. Dan berharap jika kelak dunia kebebasan memang sudah tidak mampu lagi untuk dicegah kemunculannya, akan masih ada harapan untuk generasi-generasi mendatang. Dengan memperlihatkan file-file itu. Agar mereka tahu, belajar, inilah kebaikan, inilah kepedulian, inilah nilai-nilai yang positif dan sebagainya.

Pergerakan kami bukan berarti tanpa resiko. Untuk itu kami perlu merahasiakan jati diri sebagai agen. Menyembunyikan kegiatan-kegiatan di markas besar. Untuk alasan keamanan. Untuk itu wahai pembaca sekalian yang bijaksana, cukuplah kalian percaya bahwa kami ada. Untuk masa depan generasi yang lebih baik.

Baik, saya rasa cukup penjelasannya. Mari kita lanjutkan misi kita. Sebentar, akan saya siapkan alat pendukungnya. Ummm... sebentaaaaar. Ok siap.

Alun-alun kota belum terlalu ramai. Hanya ada satu dua pasangan yang menikmati udara petang. Ya, sekarang saya sedang duduk membaca koran di salah satu bangku taman. Ini bukan koran sembarangan, ini monitor tembus pandang. Orang lain akan melihat saya sedang membaca koran, sedangkan saya bebas melihat mereka kebingungan melihat orang membaca koran terbalik. Ah sudahlah saya hampir kehabisan waktu untuk membetulkan posisi monitornya.

Sebentar-sebentar, capung robot saya masih mencari target kita hari ini. Nah, ini dia sepedanya. Tepat arah jam dua belas dari tempat duduk saya. Baik, gambar ok. Suara jelas. Mari agen khusus bekerja. Semoga tidak turun hujan.

Seperti biasa, setiap minggu petang kalau langit cerah. Fa dengan sepeda antiknya akan menggelar 'taman baca sepeda'. Ia akan menyediakan berbagai macam buku. Novel, majalah bekas, komik, buku-buku pelajaran umum, dongeng, bahkan kamus tebal bahasa inggris-indonesia. Selama dua jam ia akan memarkirkan sepedanya di bawah pohon rindang. Menunggu pengunjung alun-alun yang ingin membaca. Sudah berjalan dua bulan kegiatan ini. Awalnya hanya dirinya yang sibuk membaca. Tak ada satupun pengunjung yang mampir ke taman bacanya. Tapi ia tidak berkecil hati, tetap tersenyum. Tekadnya bulat, menyebarluaskan kebiasaan membaca kepada banyak orang yang mengaku sibuk dengan kegiatannya.

Di minggu kedua pada bulan pertama, hanya ada satu pengunjungnya yang melihat-lihat. Anak kecil yang berprofesi sebagai pengamen jalanan. Fa tersenyum sumringah, ini tamu pertamanya. Meskipun anak itu hanya melihat-lihat sebentar kemudian pergi. Dan di minggu selanjutnya baru taman baca sepeda resmi dibuka, rupanya anak pengamen itu datang lagi dengan membawa banyak temannya.

Mereka semua antusias saling mengambil komik dan buku dongeng. Meski entah dibaca atau cuma dilihat-lihat gambarnya.

Sekarang lihatlah taman baca sepeda ini telah mengalami kemajuan pesat. Tidak perlu menunggu sampai lima belas menit, pembaca sudah banyak. Duduk rapi pada rerumput hijau. Sibuk dengan bacaannya masing-masing. Tidak hanya anak kecil, ada juga remaja, anak sekolah dan orang tua. Mereka sudah hafal dengan jadwal buka-tutup taman baca sepeda ini.

Fa pun jadi lebih dikenal sebagai peri buku, itu julukan anak-anak jalanan. Fa tersenyum mendapat julukan itu. Ia sudah menyiapkan toples berisi permen untuk dibagi-bagikan kepada pengunjung. Tentu saja para pengunjung senang, buku-buku koleksi Fa sangat menarik. Setiap minggunya selalu ditambah dengan yang baru. Sejauh ini semua tidak ada hambatan. Semua buku kembali ke tempatnya dengan keadaan utuh. Fa menghela napas lega. Tidak terasa dua jam. Waktunya berkemas pulang. Tinggal beberapa anak kecil yang bertahan.

"Kak, aku bantu rapihinnya ya." Seorang anak pengamen menghampiri Fa. Dari data yang muncul di monitor saya, nama anak itu... Arid.

"Waah memang Adek udah selesai bacanya?" Fa tersenyum.

"Belum tamat sih Kak. Minggu depan kakak datang lagi kan?" Tanya Arid antusias.

"Tentu, Insya Allah Dek. Kalau Adek mau bawa dulu aja bukunya. Minggu depan bisa dikembalikan. Biar yang lain juga dapat giliran membacanya. Gimana?"

"Boleh Kak?" Mata anak itu berbinar.

Fa mengangguk tersenyum.

"Yes. Sini Kak aku saja yang menyusun bukunya di kardus." Arid cekatan semangat.

Fa melihatnya tersenyum. Terlihat mencatat judul buku dongeng di notenya. Satu buku dipinjam Arid.

Duh, sepertinya pengawasan ini tidak bisa dilanjut. Layar monitor saya tiba-tiba mati. Jangan-jangan capung robot saya tertangkap. Tadi ada anak jahil yang mengincarnya. Huh... dasar anak-anak. Kalau begitu sampai di sini dulu. Sampai ketemu lagi para pembaca yang bijaksana.



2 komentar:

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)