Juni 14, 2015

KEPOMPONG


Sebelas bulan tinggal menghitung hari akan berlalu. Sebelas bulan waktu yang cukup panjang untuk merangkak, berjalan atau bahkan berlari mengejar ketinggalan.

Sebelas bulan kita layaknya seekor ulat yang ingin bermetamorfosis menjadi mahkluk yang lebih indah. Seekor ulat yang kebanyakan orang akan merasa jijik ketika melihatnya. Di hindari. Di jauhi dan tidak dipedulikan kehadirannya.

Barangkali kita akan bernasib seperti ulat, jika saja Allah yang Maha baik membiarkan aib-aib kita diperlihatkan. Dosa-dosa kita akan ditampakkan.

Sebelas bulan akan berlalu. Kita seperti ulat yang akan menuju kepompongnya. Tempat ia akan berproses dan dibentuk menjadi lebih baik. 

Ramadhan adalah 'kepompong' kita untuk bulan-bulan berikutnya. Tempat berproses dan dibentuk menjadi manusia yang lebih baik. Tempat dibersihkannya noda-noda hitam yang menjijikkan. 

Semoga ramadhan kali ini benar-benar menjadi 'kepompong' untuk kita menjadi manusia yang kembali fitrah. Menjadi manusia yang lebih terlihat baik. Layaknya seekor ulat yang bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Hewan menawan yang banyak membuat mata tertawan.

Semoga.

Juni 09, 2015

jagalah!


Tidak lagi utuh sesuatu yang telah terlanjur kau buat retak. Meskipun secara tampak mata wujudnya tetaplah sama. Sejatinya ada yang membuat sesuatu itu menjadi kurang sempurna.

Tidak lagi sama sesuatu yang terlanjur kau buat patah. Ada 'luka' yang tak lagi bisa begitu saja disembunyikan. Meski kau berupaya membuatnya terlihat tersambung seperti sediakala. Sejatinya ada cela yang teriris di dalamnya.

Untuk itu, memang sulit menjaga kepercayaan. Tetapi jauh lebih sulit jika harus mengembalikan kepercayaan.

Untuk itu, jagalah dengan bijak sesuatu itu sebelum terlanjur retak. Lindungilah dengan tanggung jawab sesuatu itu sebelum terlanjur patah.

Juni 08, 2015

untukmu RAMADHAN

Rasanya seperti baru kemarin. Aku bergegas pulang dari kemacetan ibukota. Tidak sabaran menunggu tanda dibolehkannya memanjakan lapar dan dahaga. Menyantap menu-menu idaman. Sering makan kekenyangan.
Rasanya seperti baru kemarin. Berduyun-duyun menuju masjid belakang rumah. Mengejar shalat tarawih berjamaah. Tidak ingin ketinggalan. Mencari shaft paling depan. Meski tidak bertahan lama, tidak sampai sebulan ruang masjid kembali menjadi lega.

Rasanya seperti baru kemarin. Memenuhi rutinitas bulanan. Tidak belajar melakukannya sebagai kebutuhan.
Rasanya seperti baru kemarin. Memaksakan diri bangun di sepertiga malam. Menahan kantuk mengunyah makan sahur. Tak jarang subuh kembali tidur.

Rasanya seperti baru kemarin aku bersedih ketika hari-hari terakhir bisa meniti ibadah bersamamu. Di sepuluh hari terakhir, malam-malam utamamu. Bersedih karena betapa malasnya mengisi kesempatan memperbaiki kualitasnya.

Rasanya seperti baru kemarin. Kau tinggalkan kami dalam kedukaan. Harus menunggu datangmu lagi setahun. Meski kau pun tahu banyak yang lebih bersuka cita. Euporia di hari raya.

Tinggal beberapa hari lagi gerbang pintumu kembali terbuka. Banyak yang bersuka cita menantinya. Semoga kami 'memperlakukan'mu jauh lebih baik dari tahun sebelumnya.

Juni 06, 2015

MENJADI ANAK YANG LEBIH BERMUTU


"Harus bersyukur masih ada yang mau bilangin, masih ada yang negor, masih ada yang perhatiin. Berarti masih ada yang peduli, masih ada yang sayang."

Saya tertegun sejenak, menghentikan kunyahan terakhir dari makanan yang sedang saya nikmati. Terasa dejavu dengan nasihat itu. Seakan ingatan terlempar ke masa lalu. Sewaktu saya masih kecil. Ketika keras kepala ini masih perlu dididik dengan keras dan bijaksana. Meski sampai saat ini masih belum juga lulus dan dewasa.

Betapa waktu melesat cepat berlalu. Dua puluh tahun lebih seperti baru kemarin. Tetapi nasihat itu seperti udara segar yang terus berhembus. Dan kali ini saya kembali 'tertampar' oleh hembusannya. Nasihat itu masih segar diingatan. Meskipun kalimat tadi, kali ini lebih ditunjukkan kepada adik lelaki saya yang paling kecil. Dialog antara ibu dan anaknya di dapur.

Waktu itu barangkali saya belum paham benar maksud kalimat ibu. Seperti adik lelaki saya yang tetap saja asyik dengan makanannya. Tetapi saat ini, ketika nasihat itu kembali terdengar. Saya paham. Ibu benar. Nasihat orang tua harus selalu didengar. Bukan hanya untuk saat itu ketika beliau menegur, tetapi untuk sepanjang perjalanan hidup kita. Agar tidak tersungkur.

Dik, barangkali saat ini kamu belum memikirkannya baik-baik. Kamu belum mengerti banyak hal. Tapi saya harap kamu tidak terjebak di jalan yang sama seperti yang kakak lalui. Kamu harus lebih banyak belajar sejak dini.

Karena waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Dik, percayalah nasihat orang tua selalu benar. Untuk kita belajar. Belajar untuk lebih menghargai waktu. Dengarkan ibu. Jadilah anak ibu yang lebih bermutu.