Tampilkan postingan dengan label #spinoffkampushijaiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #spinoffkampushijaiah. Tampilkan semua postingan

Agustus 30, 2026

SPIN OFF KAMPUS HIJAIAH : KEMENANGAN SEJATI

Kemenangan itu bukan di saat bisa meraih semua yang diinginkan. kemenangan itu saat lebih dulu bisa merasa cukup, dari apa yang dibutuhkan. Agar rasa syukur senantiasa bertambah pada lisan, dan sabar selalu bertumbuh dalam hati. Sebab setiap keinginan harus selaras dulu dengan takdir yang terjalin. Sedangkan setiap kebutuhan, sebenarnya sudah lebih dulu terjamin.

 

Matahari sudah akan terbit ketika Jim Azami hampir menyelesaikan layout tulisan untuk edisi KHM (Kampus Hijaiah Magazine) bulan ini. Suara ayam pelung Abah Tanwin sudah mulai berkokok, terdengar jelas meski jarak rumah Jim dan rumah orang tua Kalam Qadri itu berselang tiga rumah.

                “Mangga dituang, Kang-kung! Mumpung masih hangat-hangatnya.” Saktah menyajikan segelas teh manis dan goreng talas yang ditaburi parutan kelapa ke meja kerja suaminya.

                “Wah mantap nih, Beb!” Jim menyomot satu talas. “Makasih ya. Sekalian cek nih Bu Ketu, cover depannya sudah oke belum?” Jim menggeser layar laptopnya.

                “Beb, beb, bebek kali.” Meskipun begitu wajah Saktah tetap tersipu.

                Pasutri ini tidak memiliki panggilan khusus secara spesifik seperti pasangan-pasangan yang lain. Tidak ayah-ibu, mamah-papah, abi-ummi, dll. Bahkan sampai sekarang ketika sudah dianugerahi satu anak laki-laki yang rencananya minggu depan mau melaksanakan sunnah aqiqah.

                Sebenarnya tidak aneh sih, jika mengingat proses ‘jadian’ mereka pun agak awkward. Ada unsur ketidaksengajaan di tepian jurang Gunung Gede, saat tim Jejak Musafir melakukan perjalanan kesana. Baca kisah lengkapnya di Novel Kampus Hijaiah.                              

                “Ini foto Mamang penjual kopi yang suka mangkal dari subuh di Masjid Kampus itu ya? Setiap minggu pagi?” tanya Saktah menyelidik. Ia menunjuk foto ‘jepretan’ Jim yang ia jadikan cover depan. Saktah selalu takjub dengan hasil bidikan seorang Mr. J yang dulu ia kagumi diam-diam, dan sekarang menjadi suami beneran.

                “Betul.”

                “Terus korelasinya dengan quote di bawahnya apa? Itu tulisan Kak Lam bukan sih? Kaya pernah baca.” Sebagai pimred KHM dirinya termasuk yang perfeksionis.

                “POV! Kemenangan sejati. Tentang perjuangan orang tua yang subuh-subuh sudah mengayuh sepedanya mencari nafkah. Padahal rumahnya jauh sekali lho. Dan si Mamang tuh selalu datang tiga puluh menit sebelum adzan subuh.” Jim menjelaskan dan membenarkan kalau quote-nya benar tulisan Kalam Qadri dan sudah izin untuk dikutip.

                “Oke! Pas. Langsung kirim aja filenya ke tim percetakan.”

                Jim mengangguk. Layout dan design-nya memang dirasa sudah pas.

“Rahasia kecilnya, si Mamang ini yang mau dijadikan target oleh Pasukan Ababil.” Jim memberi tahu. “Sepedanya sudah perlu diganti, rantainya selalu lepas pas tanjakan.”
               

                “Oh yang challenge #SedekahSubuh ya? kemarin aku lihat mereka sibuk membuka celengan pas aku panen tomat sama ‘Ain. Dan kelihatannya lumayan banyak hasilnya.” Saktah bercerita, sembari mengecek draft tulisan yang akan dimuat di KHM edisi saat ini.

                “Iya, mereka semangat sekali tuh. Lumayan juga dapat cadangan liputan untuk KHM edisi berikutnya.” Jim menyeruput teh manisnya.

                “By the way, Bung Mr. J yang sekarang sudah resmi menjadi bapak-bapak, kapan jadinya berhenti total merokok?” Saktah menagih komitmen Jim. “Padahal anggota Jejak Musafir makin banyak sekarang lho. Kebanyakan anak remaja yang masih harus dituntun dengan lebih baik.”

                “Hmm.... iya, iya ini sudah jauh dikurangi kok. Di area kampus dan rumah sudah tidak pernah juga. Sesekali saja di warung atau sambil motret. Aseli ini fakta bukan mitos.” Jim mencoba bercanda. Menyeringai seperti anak kecil yang baru ketahuan berbuat salah.

                “Gagal lagi deh satu tulisan ini dimuat di edisi sekarang.” Saktah cemberut, menutup kembali satu tulisan yang berjudul: MEMUTUS ‘LINGKARAN SETAN’ ROKOK.

                “Lho, kalau mau dimuat bulan ini ya nggak masalah toh?”

                “Ya nggak lucu aja, Mas. KHM ini dulu dibuat oleh almarhumah Kak Fatih tujuannya untuk media dakwah. Yang mengajak para pembacanya untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin, lebih baik untuk dirinya sendiri dulu. Kalau yang menjalankan dakwahnya sendiri belum mencontohkan apa yang mau disampaikan, ya piye toh? Jadi berasa omon-omon saja.” Saktah selalu ketus jika menyinggung soal rokok.

                “Baik Bu Ketu. Bulan depan pasti terbit tulisan itu. Insya Allah. Janji!” Jim memantapkan kembali niatnya. Tanpa disuruh sebenarnya Jim memang sudah ingin berhenti merokok. Lebih-lebih ia sudah memiliki anak laki-laki saat ini. Tetapi memang diakui untuk langsung berhenti sekaligus agaklah susah. Bukannya tidak berusaha dengan sekuat tenaga untuk berhenti ketergantungan nikotin, tetapi ya.... memang susah untuk dijelaskan. Tidak semudah membalikkan telapak tangan.

                “Makasih ya. Masih mau berjuang.” Saktah berucap tulus. Ia tahu suaminya sudah cukup berusaha.

                “Kembali kasih, darling.” Jim terkekeh.

                “Darling, darling, dadar guling kali.” Saktah beranjak bangun sembari tersenyum merona. Ia harus memastikan anak laki-lakinya masih tertidur pulas, sebelum mengerjakan pekerjaan rumah lainnya

                Sepeninggalan Saktah, Jim membuka file tulisan tentang rokok itu, yang sudah sekitar tiga bulan selesai ditulis oleh Saktah. Dengan judul yang cukup frontal dan berani.

.......

MEMUTUS ‘LINGKARAN SETAN’ ROKOK –

oleh Saktah.

                Tulisan ini didedikasikan kepada kaum hawa yang sedang mencari teman hidup. Boleh juga untuk kaum ayah yang memiliki anak perempuan, yang sudah mulai beranjak usia matang untuk menikah. Kalau bisa tekankan kepada mereka mulai dari sekarang, mulai dari hari ini. Arahkan pandangan mereka  untuk memilih kriteria calon pasangan hidup, selain yang baik agamanya, santun etika dan perbuatannya, boleh juga ditambahkan: 

Pilihlah yang tidak merokok. Atau minimal mantan pecandu nikotin. Alias perokok yang sudah taubatan nasuha.

                Kenapa begitu? Penting rasanya jika kita ingin memutus ‘lingkaran setan’ kebiasan jelek itu untuk keturunan kita jauh ke depan. Dengan dimulai dari memilih pasangan yang tepat dari awal. Kalau perlu masukkan di point perjanjian pra nikah. Sehingga lebih terjamin, suatu saat dianugerahi anak laki-laki tidak akan tergoda oleh asap rokok. Termasuk untuk coba-coba. Karena teladan dari sang ayah.

                Sebab, berapa banyak anak-anak yang menjadi perokok aktif, secara tidak sadar sudah diturunkan dari ayahnya sendiri. Bisa dibilang identitas warisan. Ayahnya perokok, anaknya ketika sudah mulai besar sedikit mulai ikutan merokok. Dengan dalih: ayah gue juga perokok kok!

                Dari awalnya sembunyi-bunyi, sampai ‘ngebulnya’ aja sekarang malah sebelahan. Kan miris!

                Sebab, berapa banyak ibu-ibu yang merasa prihatin karena tidak bisa menasehati anaknya dengan maksimal untuk tidak merokok, karena suaminya saja seperti tidak bisa bernapas tanpa rokok. Ibu-ibu yang pada akhirnya pasrah, karena sudah tidak ‘kuasa’ untuk melarang anaknya menjadi pecandu juga. Mengikuti jejak ayahnya.

                Padahal ya, kalau saja setiap anak memiliki pemahaman ini (apalagi yang masih pelajar dan belum berpenghasilan sendiri): 

bagaimana jika uang yang saya belikan untuk sebatang rokok, uang jajan dari orangtua menjadi nggak halal untuk diri sendiri. Sang ayah yang memeras keringat banting tulang tidak ridho nafkahnya dipakai untuk merokok? Sang ibu yang sepanjang siang malam mendoakan kebaikan, dari mengandung, membesarkan hingga akil baligh (sudah bisa membedakan mana yang baik, mana yang buruk) juga tidak ridho balasan doanya malah dibalas dengan menghisap rokok? Bagaimana bila dalam proses belajar terasa bebal sekali, ilmu itu tidak masuk-masuk karena guru yang mengajarpun tidak ridho muridnya merokok? Kan jelas di instansi pendidikan anak pelajar dilarang merokok.

                Bangga sekali rasanya, beberapa minggu lalu mendengar langsung dari salah satu adik saya (anak dari salah satu paman) yang dengan lantang berkata ketika ditawari rokok oleh saudaranya yang lain. Ia berkata: Mendingan buat beli kuota dari pada buat rokok.

                Mantap, anak muda yang punya integritas dan identitas yang jelas. Semoga istiqomah sampai nanti punya keturunan.

                Yang lebih ngeri lagi. Pernah mendengar tausiah dari salah satu ustadz di Kampus Hijaiah. Beliau berkata: Bagaimana bila orang yang meyakini kalau hukum rokok itu adalah haram. Lantas saat dijalan secara ia tidak sengaja berpapasan dengan orang yang sedang merokok. Dan asapnya atau abunya menempel ke baju orang tersebut. Kemudian bajunya dipakai untuk shalat. Itu artinya orang tsb. sedang shalat dengan menggunakan baju yang terkena barang yang haram. Padahal dia tidak mengkonsumsinya. Kira-kira siapa yang menjadi berdosa?

                Maka, bagi kaum hawa yang belum menikah ayo masih punya kesempatan sangat banyak untuk memilih pasangan yang tidak memiliki indentitas sebagai perokok. Jika yang sudah terlanjur punya calon, coba minta untuk berhenti, pelan-pelan tidak mesti sekaligus. Asal punya niat baik dan progress yang menjanjikan. Bukan omon-omon doang. Jika dia tidak bisa berhenti karenamu, minimal minta pikir ulang lagi, berhenti untuk keturunan-keturunanmu nantinya yang sangat punya hak memiliki ayah yang tidak perokok. Semoga dengan begitu ada itikad baik untuk memutus 'lingkaran setan' rokok yang boleh jadi nanti diwariskan.

Semoga.

 

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

 

Artinya:
"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan perbuatan (tangan) dirinya." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

***

                “Padahal tulisan ini cocok dengan tema bulan ini. Tentang kemenangan.” Kata Jim dalam hati yang tiba-tiba merasa bersalah.

 

 @azurazie_

Agustus 27, 2026

SPIN OFF KAMPUS HIJAIAH : PASUKAN ABABIL & SEDEKAH SUBUH

 

Ahad pagi adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Pasukan Ababil. Apalagi hari ini tepat 100 hari sejak challenge mereka berakhir. Alif, Si Kembar Sin dan Shin sudah bertandang pagi-pagi sekali ke Taman Baca di kediaman Ibu Ta Marbutoh yang semakin terkenal dan ramai oleh pengunjung. Tak terkecuali ‘Ain yang memang sudah berjanji dengan Saktah aunty-nya untuk membantu memanen tomat yang sudah matang di taman herbal –samping Taman Baca. Rencananya jus tersebut akan dibagikan kepada pengunjung Taman Baca hari ini.

                Rasanya baru kemarin Hijrah dengan sepeda antiknya harus berkeliling ke taman kota, sembari membawa banyak buku bacaan dan berusaha mencari orang-orang yang berkenan mampir untuk membaca. Yang kemudian hari diputuskan untuk membangun Taman Baca yang lebih permanen di kediaman ibunya itu. Kisahnya bisa dibaca di novel Kampus Hijaiah. Sekarang para pengunjung setialah yang rutin dan sengaja datang ke sini. Sampai usia Alif dkk. sudah SMP, Taman Baca ini masih eksis dengan koleksi bukunya yang semakin banyak.

                “Ada berapa celengan yang sudah kembali, Lif?” tanya Sin yang bertugas mengumpulkan celengan-celengan dari anak-anak pengunjung tetap Taman Baca.

                “Iya, ada berapa, Lif?” Shin, kembarannya, ikut bertanya.

                “Dari kelompok Arid sudah ada 5 celengan. Kalau ditambah dengan celengan punya kita, jadi 9 celengan,” jawab Alif. “Kalian bisa nggak sih kalau bertanya satu orang saja?” gerutunya untuk kesekian kali.

                “Wah, sudah banyak itu,” seru Sin.

                “Iya ya, banyak itu,” sahut Shin. Keduanya menyeringai, memang suka sekali menjahili temannya itu.

                “Suka-suka kalian saja. Ayo, mulai kita bedah celengannya.”

                “Siap, Kapten!” Sin bersemangat.

                “86, Komandan!” Shin tidak kalah antusias

                Alif pun mulai membagikan celengan untuk dibongkar dan dihitung isinya. Celengan ini adalah hasil dari gerakan #SedekahSubuh yang dicanangkan oleh Pasukan Ababil sejak tiga bulan yang lalu. Berawal dari kajian Ustadz Idgham yang tak lain adalah ayah ‘Ain di Masjid Kampus Hijaiah. Sang ustadz menerangkan tentang keutamaan #SedekahSubuh jika dirutinkan setiap hari. Alif dkk. antusias menyimak. ‘Ain bahkan sampai mencatat poin-poin yang ayahnya sampaikan pada kajian tersebut.

1.       Didoakan malaikat

Dari Abu Hurairah ra: Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Setiap awal pagi saat matahari terbit, Allah menurunkan dua malaikat ke bumi. Lalu salah satunya berkata: Ya Allah, berilah karunia kepada orang yang menginfakkan hartanya. Gantilah kepada orang tersebut yang membelanjakan hartanya karena Allah. Malaikat yang satu lagi berkata: _Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang bakhil._” HR. Bukhari dan Muslim

2. Rezeki lebih dimudahkan

Karena kita dahulukan Allah di awal hari, insyaallah pintu rezeki hari itu dibukakan. Banyak orang merasa rezekinya jadi lebih berkah dan cukup setelah rutin bersedekah subuh.

3. Menghapus dosa dan menolak bala

Sedekah itu memadamkan kemurkaan Allah seperti air memadamkan api. Sedekah di waktu subuh juga dipercaya bisa menjadi pelindung dari musibah sepanjang hari.

4. Melatih keikhlasan

Subuh adalah waktu yang paling berat untuk bangun. Jika kita masih sempat menyisihkan rezeki di jam segitu, itu bukti kita benar-benar berniat karena Allah, bukan karena dilihat orang.

5. Mendapat pahala berlipat

Waktu subuh termasuk waktu yang diberkahi. Amal kecil di waktu utama, pahalanya bisa menjadi besar. Apalagi jika sedekahnya rutin, walaupun hanya sebesar dua ribu rupiah.

                Ustadz Idgham pun menjelaskan bahwa #SedekahSubuh yang paling afdal adalah langsung diberikan kepada yang membutuhkan. Misalnya kepada orang-orang yang pergi berdagang dan belum sempat sarapan, atau kepada petugas kebersihan di taman kota yang sudah bertugas sejak pagi-pagi buta. #SedekahSubuh juga bisa dimasukkan ke kotak amal masjid atau membuat celengan khusus di rumah. Jika sudah terkumpul cukup banyak, hasilnya bisa diserahkan kepada yang membutuhkan. Dan Pasukan Ababil memilih opsi yang terakhir itu.

                Mereka sangat antusias membuat celengan dari bahan-bahan bekas yang sudah tidak dipakai. Alif membuat celengan dari kaleng biskuit yang dibungkus dengan kertas buletin Kampus Hijaiah yang pernah memuat tentang keutamaan sedekah. Sin dan Shin membuat celengan dari kotak bekas sepatu baru mereka. Kotak sepatu tersebut dibungkus dengan kertas HVS yang sebelumnya sudah digambari grafiti bertuliskan "Ayo Sedekah" buatan mereka sendiri. Sedangkan ‘Ain memilih yang simpel saja, membeli celengan di warung sebelah rumahnya.

                Tidak lupa Pasukan Ababil mengajak orang-orang yang memang rutin datang ke Taman Baca untuk ikut meramaikan challenge #SedekahSubuh ini. Dengan tenggat waktu 100 hari pengumpulan.

                “Kalau sudah terkumpul memang kalian mau apakah hasilnya nanti?” Tanya Jim ketika mendengar chalengge prajurit-prajuritnya tersebut. Saat baru satu minggu berjalan.

                 Tak terasa waktu berlalu, rasanya baru kemarin Jim membuatkan berbagai permainan-permainan menarik ketika mereka masih kecil. Dari mulai misi pencarian harta karun, lomba kelas mendongeng dan banyak lainnya. Kisahnya bisa dibaca di novel Kampus Hijaiah. Sekarang prajurit kecilnya itu sudah bisa membuat chalengge untuk mereka sendiri dan mengajak orang lain untuk ikut serta.

                “Belum tahu nih, uncle.” ‘Ain menjawab mewakili yang lainnya.

                “Iya, Paman. Punya ide nggak baiknya untuk apa?” Alif meminta saran.

                “Aku maunya yang kreatif, seru dan menyenangkan, Om.” Sin ikutan berseru.

                “Iya, Om yang paling menyenangkan.” Shin mendukung kembarannya.

                “Ye... yang penting mah bermanfaat kali.” Alif meluruskan dan ‘Ain mengangguk setuju.

                “Baik nanti Paman-Om-Uncle bantu cari ide yang bagus deh, sekarang jalanin aja dulu. Yang rutin isinya, jangan sampai terlewat satu hari pun.” Jim berjanji kepada mereka yang memang sejak kecil sudah terbiasa memanggil dengan panggilan yang berbeda. Pasukan Ababil pun semakin bersemangat untuk menyelesaikan challengge-nya.

@azurazie_

Agustus 24, 2026

SPIN OFF KAMPUS HIJAIAH : PEREMPUAN SELALU BENAR

Semilir angin sedang sejuk sekali, ditemani suara gemericik air dari kolam ikan. Sesekali semerbak bunga kamboja berwarna merah muda yang sedang mekar tercium baunya. Membuat kegiatan rutin di akhir pekan di kediaman Kalam Qadri dan Hijrah Amala semakin syahdu rasanya. Kegiatan itu diisi dengan membaca buku, mentadabburi Al-Qur'an, atau sekadar berbincang santai sambil diskusi banyak hal di gazebo, sampai senja kembali ke pangkuan langit.

Biasanya Hamzah sibuk menanyakan apa saja yang sedang ada dalam pikirannya, ikut nimbrung ketika Ibu dan Ayahnya sedang larut dengan bacaannya masing-masing. Tetapi kali ini Hamzah lebih asyik memberi makan ikan-ikan koi di kolam, ditemani Alif (Adik bungsu Kalam Qadri). Mamangnya yang sedang libur kuliah itu punya janji membuatkan kincir air untuk kolam ikan koi tersebut. Hamzah sibuk bertanya banyak hal, sambil bermain air. Terutama bertanya berulang : Mang Alif Kapan kincir airnya jadi?

Kolam mini Hamzah semakin penuh dengan banyak ikan. Beberapa hari yang lalu, 'Paman Kodok'nya menambahkan koleksi ikan baru untuk Hamzah. Ada empat ekor berukuran sedang. ‘Paman Kodok’ adalah panggilan sayang Hamzah untuk Jim Azami. Sahabat baik ayahnya.

Jim dan Saktah baru pulang plesiran entah dari mana. Teringat, kalau di rumah Kalam sekarang sudah ada kolam mini yang Hamzah ceritakan dengan sangat antusias ketika video call dengan 'Paman Kodoknya' itu.

"Bu, acara si Mr. J itu hari Sabtu apa Minggu, ya?" tanya Kalam sembari memastikan Fatihah tidak digigit nyamuk, yang sedang tidur dengan nyenyak. Usianya baru 20 bulan, selisih 4 tahun dengan kakaknya, Hamzah. Meski keduanya dilahirkan dari rahim yang berbeda. Ibunya Hamzah meninggal dunia saat melahirkan. Kisah lengkapnya ada di Novel Kampus Hijaiah.

"Minggu, Yah." Hijrah mengkonfirmasi undangan aqiqah anak pertama dari Saktah dan Jim beberapa hari yang lalu.

"Lagi baca apa, Bu? Seru sekali sepertinya." Kalam menghampiri Hijrah yang memang selalu kelihatan serius ketika sedang membaca buku.

"Oh, ini... Kemarin dua orang 'couple goals' yang sekarang makin terkenal seantero Kampus Hijaiah itu, selain ke sini membawa undangan, juga ngasih PR ke aku untuk membuat tulisan untuk tayang di Majalah Kampus edisi pekan depan. Dan aku belum juga dapat ide mau nulis apa, habis segala pakai tema sih, nggak dibebasin kayak biasanya."

"Oh, tumben. Memang temanya apa?" Kalam jadi penasaran. Biasanya istrinya itu selalu punya ide untuk bahan tulisan, mengingat memang selalu rutin mengisi mading saat masih aktif ngampus di Kampus Hijaiah dulu. Biasanya selalu punya stok tulisan yang masih ‘draft’ dan belum pernah di publish dimana pun.

"Temanya 'Perempuan Selalu Benar'. Ada-ada saja ya?" Hijrah menjawab sembari menahan tawa. Entah Saktah dapat ide tema darimana. Rasanya ide kreatif itu berhasil diturunkan oleh Fatih L Makki sebagai penggagas mading kampus dulu, yang diwariskan kepada Saktah yang masih menjabat sampai sekarang.

"Masya Allah, temanya perempuan banget.Mantul... mantap betul." Kalam terkekeh sambil mengacungkan jempol.

"Yee... Ayah malah meledek. Punya ide nggak baiknya tulis apa? Mentok nih." tanya Hijrah sembari memastikan Fatihah masih tertidur pulas.

"Coba kamu buka Q.S. At-Tahrim ayat 6."

"Sudah nih, dari tadi memang lagi baca bolak-balik ayat itu. Niatnya memang ayat ini yang mau dijadikan referensinya."

“Coba bacakan sekali sampai terjemahnya, ya.” Pinta Kalam.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

"Nah, pas itu. Menurutku istilah 'Perempuan Memang Selalu Benar' sepertinya memang sudah ditekankan dari sananya. Seperti sudah di-headline untuk umat muslim, terutama untuk laki-laki. Bagi yang memang peka akan tanggung jawabnya."

"Kenapa begitu, Yah?" Hijrah menyimak dengan seksama, sembari menyiapkan catatan kecil untuk poin-poin yang bisa ia pakai untuk PR tulisannya itu.

"Kita sudah sama-sama tahu, seperti apa yang sudah Rasulullah tekankan bahwa tiap laki-laki adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya sama Allah."

"Dan yang dipimpin oleh laki-laki adalah perempuan-perempuan mahram yang ada di sekitarnya. Perempuan itu sepenuhnya tanggung jawab Ayahnya. Tanggung jawab kakak atau adik laki-lakinya. Tanggung jawab Paman dari jalur ayahnya. Tanggung jawab Kakeknya kalau masih ada." Hijrah menambahkan.

"That point!"

"Lalu, hubungannya dengan 'Perempuan Selalu Benar' apa, Yah?" Hijrah mulai penasaran.

"Begini, tiap-tiap perempuan yang lahir idealnya punya pelindung untuk hidupnya. Punya penanggung jawab atas perbuatannya. Perempuan di usia dini, sejak lahir sampai usia baligh, yang bertanggung jawab adalah ayahnya. Bagaimana ia tumbuh dengan pemahaman yang baik, menutup aurat, menjaga pergaulannya dan menjaga kehormatan dirinya. Jika ia tidak bisa menjaga rasa malunya, menjaga tingkah lakunya, menjaga perkataannya, maka beban dosa itu ada pada ayahnya.”

“Sekalipun sang ayah sudah meninggal dunia.”

“Benar. Ini bisa kita sebut 'Perempuan Selalu Benar' di tahapan pertama. Dan ketika perempuan memasuki fase hidup berikutnya, menjadi seorang istri. Tampuk tanggung jawab itu beralih pada suaminya. Suami tidak sebatas wajib menafkahi, tetapi juga harus bisa mendidik, menjaga, dan mengarahkan. Kalau istri terjerumus dalam kelalaian agama karena suami cuek, tidak menasehati, tidak memberi contoh... atau bahkan malah mengajak yang tidak baik, maka hisabnya kembali ke suami. Ini tahapan ‘Perempuan Selalu Benar’ fase kedua.”

“Makanya 'Perempuan Selalu Benar' di sini bukan berarti perempuan nggak pernah salah ya Bu. Tapi maksudnya: kesalahan perempuan seringkali adalah cermin dari lalainya laki-laki yang menjadi pelindungnya. Cermin bagaimana laki-laki yang menjadi pemimpinnya. Kalau ayahnya mendidik dengan baik, kalau suaminya membimbing dengan baik, insyaAllah perempuannya akan baik. Dan kalau baik, pahalanya ngalir ke laki-laki itu juga.”

“Dan sebaliknya, ketika menjadi perempuan yang durhaka kepada Allah, yang kembali bertanggung jawab nanti di akhirat adalah laki-laki yang bertanggung jawab semasa hidupnya di dunia.”

“Jadi ayat ini sebenarnya 'tamparan' buat kami para laki-laki. Allah bilang: 'Qū anfusakum wa ahlikum naarā' ...jaga dirimu dan keluargamu. Urutannya diri dulu, baru keluarga. Karena nakhoda yang baik, baru bisa menahkodai kapalnya dengan baik.”

Hijrah terdiam. Ia menatap Kalam, lalu menatap Fatihah yang mengigau kecil dalam tidurnya. "Berat juga ya tanggung jawab Ayah... bukan sekadar ‘Perempuan Selalu Benar’ saat di dunia saja, bisa juga ‘selalu benar’ sampai akhirat." gumamnya pelan.

Kalam tersenyum, menggenggam tangan istrinya. "Makanya doain terus, Bu. Biar aku sebagai suami maupun seorang ayah nggak lalai akan tanggung jawabnya, terutama dalam mendidik dan mencontohkan yang baik. Biar kita sama-sama selamat di dunia, sampai sehidup sesurga nantinya bersama keluarga kecil kita ini.” Keduanya menatap Fatihah bersamaan, kemudian beralih ke Hamzah yang sedang berlari kecil menghampiri mereka.

  “Insya Allah, Yah.” Hijrah tersenyum penuh makna. Hari ini, tidak sekadar mendapatkan ide untuk PR tulisannya. Ia semakin bertekad kuat menjadi madrasatul ula dengan sebaik mungkin untuk anak-anaknya, Hamzah dan Fatihah. Ia bertekad menjadi wasilah agar keluarga kecil ini menjadi generasi-generasi yang soleh dan solehah. Yang bukan sekadar meringankan beban pundak pemimpinnya dalam rumah tangga. Tetapi ikut andil berperan untuk keselamatan bersama dalam menggapai keridhoaan-Nya.

“Hmmm.... sepertinya kalimatnya harus disempurnakan deh, Bu.” Kalam terbesit sesuatu di benaknya.

“Apa tuh?”

“Perempuan memang selalu benar, tetapi laki-laki tidak boleh salah.”

“Wah jadi double kill untuk kaum adam nih, yah.” Hijrah sedikit terkekeh.

“Mau bagaimana lagi, laki-laki memang tidak boleh salah. Salah dalam mendidik, salah dalam mengambil keputusan, salah dalam bersikap, salah dalam bertanggung jawab. Tentu ini dalam hal kemaslahatan rumah tangganya. Kan visi dan misinya saja jelas, berorientasi pada akhirat : Menjaga diri sendiri dan keluarga dari api neraka.”

“Mantap betul kesimpulannya.” Hijrah memberi apresiasi. Rumah tangga ini rasanya semakin lapang, meski sederhana. Karena tujuannya sudah jelas, bersama-sama menggapai sakinah, mawaddah, warahmah. Rumahku adalah syurgaku.


@azurazie_