Januari 24, 2013

Getaran Itu Aku Nikmati


Iringan suara kepingan CD yang ibunda putar pagi ini, tak hanya mendengungkan gendang telinga. Alunan nada itu membuat aku sedikit bergertar. Bukan karena aku dengar dentuman bom maha dahsyat, semburan peluru membabi buta. Tangisan anak kecil dari saudara-saudaraku di seberang negeri sana, yang mungkin pagi ini juga sedang ketakutan. Bukan itu, lalu kenapa hati ini begitu bergetar hanya ulah sebuah nada? Semakin kuat getaran itu, ketika aku dekati dan resapi. Serasa jantung ini memompa ria lebih enerjik dari biasanya. Tapi sungguh getaran itu sangat aku nikmati. Getaran yang melahirkan kidung rindu.

Ku nikmati getaran itu dengan perlahan. Sesekali menutup mata dan menghirup napas panjang, berharap getaran yang aku rasakan semakin terasa lama, tidak terputus. Tidak menjeda. 


Oh, Tuhan mata ini mulai memainkan salah satu perannya, yang jarang sekali aku saksikan sendiri. Peranan kecil namun berarti di hati. Ya mata sendu ini mulai basah, bukan karena basuhan air. Karena sejatinya aku masih terpaku oleh nada dahsyat itu. mataku basah karena getaran itu semakin kuat dan meresap ke palung hati. Getaran kerinduan, yang sempat aku lupakan, seolah aku tertampar,  bahwa saat ini aku bersalah. Bersalah pernah melupakan getaran itu. Bersalah pernah menapikkan rindu di dada.

Oh, Tuhan ke mana saja aku ini, seolah-olah telah lama aku lupakan satu-satunya kekasihku yang sejati. Padahal aku tahu demi nama Tuhan, sedikit pun dirinya tidak pernah lupa kepadaku. Betapa malunya aku Tuhan, aku lebih ingat kapan mereka di lahirkan, sorak sorai bersemangat, dalam canda tawa, suka cita, larut dalam kebahagian mereka. Kenapa aku lebih merasa bersalah ketika aku lupa hari bahagia mereka. Ya ketika sahabat-sahabatku atau orang-orang di sekelilingku bertambah usia. Seolah aku melupakan kekasihku sendiri Tuhaan.

Aku begitu Rindu, Rindu masa-masa kecilku dulu, yang selalu saja diajarkan oleh ibunda untuk selalu menyebut namanya. Dalam lantunan Shalawat. Apakah bunda sengaja hari ini, agar aku terbangun, terbangun dari sikapku yang semakin melupakannya. Atau ini hanya kebetulan? ya apapun itu sunnguh getaran itu masih aku nikmati. Menari-nari di relung hati.

Aku nikmati irama demi irama dalam kepingan CD itu, sampai habis. bait tiap bait membuat aku semakin termenung. Dalam tiap getaran namanya, untaian Shalawat, dalam cinta & rindu Sang Kekasih hati -Nya. Sungguh aku nikmati getaran-getaran itu, dengan satu Doa kelak nanti aku benar-benar bisa berjumpa dengannya.

Sepanjang zaman cahayamu paling terang. Sealam semesta beserta isinya cahayamu menakjubkan. Menentramkan sanubari. Membasuh lembut bulir-bulir rindu di hati. Kekasih Rabbku. Tauladan hidupku. Cahaya di atas cahaya. Cahaya dari sumber cahaya. Seluruh makhluk bershalawat kepadamu. Tertunduk penuh harap akan syafaatmu. Menangis rindu bertemu dalam naungan cahayamu. Wahai lelaki terbaik, rinduku segera ingin berputik. Bibir dan hati berirama menggema, mengkidungkan shalawat atas namanya. Muhammad Rasulullah tercinta.

Allahumma solli wasallim wabarik 'alaih...



Januari 22, 2013

Di Balik Awan Raksasa Yang Berarak

Keadaan langit senja kali ini sedang tidak stabil. Peredaran awan-awan raksasa yang membentuk gumpalan-gumpalan udara terlihat tidak seperti biasanya. Tidak bisa dikatakan mendung, tidak juga cerah. Awan-awan bergerak pelan. Seperti itulah gambaran langit jika dipandang lurus dari permukaan tanah. Ditambah semilir angin berhembus agak nakal, menggoda bulu-bulu lengan berdiri menahan dingin. Dan hal itu membuat hati para pejalan kaki yang bernaung di bawahnya was-was, bertanya-tanya : kira-kira hujan turun tidak ya?

Lupakan soal pertanyaan yang bersarang di benak para pejalan kaki itu. Ada kisah yang lebih menarik untuk dibicarakan. Sisi lain dari keadaan langit senja kali ini. Umm, seandainya saja kamu memiliki kemampuan untuk menyibakkan awan-awan tebal yang selalu terlihat lembut dari permukaan bumi. Niscaya senja kali ini kamu akan mendapati pemandangan yang sangat menarik. Kamu tidak akan memiliki pertanyaan yang sama dengan pejalan kaki tadi, karena kamu akan langsung mendapatkan jawabannya. Alasan kenapa langit senja kali ini berbeda.

Rupanya di balik salah satu awan raksasa itu, yang tidak mendung tidak juga cerah. Seorang putri pelangi sedang mematutkan senyum masamnya di depan cermin. Putri pelangi yang memiliki kekuasaan di negeri awan yang berarak bebas. Dengan istana megah berlantaikan gelombang awan-awan lembut sebagai permadaninya.

Hei! Bukankah ia putri pelangi yang terkenal selalu ceria? Putri pelangi yang memiliki kejernihan wajah paling sempurna bagi siapa saja yang mencuri pandang ke arahnya. Yang senyumannya menular, siapa saja yang melihat akan langsung ikut tersenyum. Akan kecipratan bahagianya. Ke manakah binar-binar wajah riangnya itu pergi? Ke manakah kemilau cahaya memesona yang ia miliki? Apa mungkin ini alasan langit senja kali ini berbeda? Tidak mendung tidak juga cerah. Kumpulan awan yang bergerak murung. Tapi apa gerangan yang membuat sang putri berwajah masam seperti itu?

Rupanya kisah ini benar-benar menggelitik sekali. Kisah seorang putri pelangi yang sedang terusik hatinya. Bagaimana mungkin, ia yang selalu dibanggakan dan disukai keberadaanya. Selalu dinanti kehadirannya. Selalu membuat iri putri-putri lain ketika melihat keberhasilannya, kepintarannya, tutur lembut katanya. Iri dalam artian ingin bisa seperti dirinya, putri pelangi yang selalu menyenangkan ketika siapa saja berada di sisinya. Tapi kali ini harus terlihat murung hanya karena seorang tamu asing yang tidak diundang. Umm, mungkin kasarnya seperti itu. Karena setelah kejadian menyebalkan beberapa waktu tadi, sang putri benar-benar mati rasa dibuatnya. Padahal tamu tadi, adalah sosok yang selama ini diharapkan putri pelangi. Sosok yang selalu diharapkan kehadirannya.

Putri pelangi menggigit bibir. Memandang lurus ke arah cermin, melihat bayangannya sendiri sedang menangkupkan telapak tangannya menopang dagu. Kata-kata pedas tamu tak diundang itu terus menerus mengiang di telinganya. Membuat jingga paling memesona yang dimiliki sang putri ikut redup. Putri pelangi mulai sibuk dengan lamunannya sendiri. Tiba-tiba bayangan di dalam cermin yang menyerupainya terbahak kencang sekali. Mengejeknya bulat-bulat sambil memegang perut terpingkal-pingkal kegelian.

“NGGAK ADA YANG LUCU!!” putri pelangi tersungut-sungut sebal. Tapi bayangan di dalam cermin itu terus saja tertawa tidak memperdulikan wajah putri pelangi yang berubah galak. Malah tertawanya semakin lepas.

“DIAAAAAM!!”

“Ups!” Bayangan yang menyerupai sang putri menyeringai, “habisnya wajah kamu lucu sih kalau lagi seperti ini.” Bayangan itu kembali tertawa, tetapi tiba-tiba diam ketika melihat wajah putri pelangi semakin murung. Mejikuhibiniu yang menjadi perisai pesonanya redup sempurna. Ia menengelamkan wajahnya, tertunduk.

“Ya ampun Putri, sudahlah. Kamu belum puas melihat tamu tadi digiring paksa keluar istana oleh para pengawalmu?”

Putri pelangi tidak mempedulikan bayangan dalam cermin yang menyerupainya terus menerus mengajak bicara.

“Apa perlu aku menyuruh pengawalmu membawa tamu tadi kemari. Terus kamu bebas menyambitnya dengan batu besar sambil mengeluarkan semua kekesalanmu itu di depan orangnya? Biar tamu itu tahu bagaimana sakitnya. Sampai kamu puas dan kesalmu hilang. Kalau perlu sampai telinganya benar-benar panas.”

Putri pelangi menghela napas. “Itu bukan caraku.”

“Ya aku tahu, terus menerus sembunyi dan mengurung diri dari masalah juga bukan caramu.” Suara itu terdengar lembut tapi tegas sampai membuat putri pelangi mendongakkan kepala. Seakan ia tertohok.

Bayangan di dalam cermin yang menyerupainya kembali menyeringai senang karena berhasil menggoda sosok putri di depannya. Putri pelangi melotot tajam melempar cermin dengan sisir kecil yang tidak jauh darinya, tanda tidak suka digoda.

“Aduh aduh putri. Sadar nggak sih, apa yang dikatakan tamu itu sebenarnya ada benarnya.”

Putri pelangi mengeryitkan dahi tidak mengerti. Baginya bayangan di dalam cermin yang menyerupainya benar-benar menyebalkan.

“Nyatanya, dia berhasil memancing sisi lain dari dirimu keluar dari persembunyiannya. Sifat mudah tersinggungmu itu. Dengan kata lain secara nggak sadar kamu sendiri yang membuka gerbang pertahanan kelemahanmu.”

Putri pelangi terdiam. Bibirnya mengatup sempurna. Bayangan yang menyerupainya itu tersenyum tipis.

“Boleh aku bertanya putri? apa kamu mengingat pernah memberi harapan yang mungkin saja nggak kamu sadari, padahal itu boleh jadi sangat berarti untuk orang lain? atau sebuah janji yang nggak sengaja terucap yang mungkin kamu lupa menepatinya. Atau minimal iming-iming manis sederhana lainnya.”

Deg! Hati sang putri seakan tersengat sesuatu.

“Boleh jadi kekecewaanmu kali ini, kekesalanmu saat ini adalah buah hasil dari itu semua. Yang bisa jadi di luaran sana ada yang merasakan hal yang sama karena ulahmu itu. Jadi untuk apa kamu terus menerus kesal karena perkataan tamu tak diundang itu. Bukankah itu artinya ada sesuatu pada dirimu yang sebenarnya harus diperbaiki.”

Putri pelangi kembali terdiam.

“Ayolah putri. Kembalikan cahayamu yang memesona pandangan mata itu. Bukan untuk orang lain, istanamu atau orang-orang disekelilingmu. Tapi untukmu sendiri. Karena dengan melihat kamu tetap ceria saja orang lain di sekitarmu akan terbawa bahagia. Karena mereka membutuhkan cahayamu. Dan mana janjimu untuk nggak akan membiarkanmu kalah? Soal tamu tak diundang tadi anggap sajalah hanya semilir angin yang sebentar lagi juga berlalu.”

Putri pelangi merekahkan senyuman baru. Mejikuhibiniu yang menjadi perisainya satu persatu kembali bercahaya. Sinarannya membentang lurus membentuk labirin cahaya permadani di atas awan lembut, putri pelangi berlarian riang mengikutinya. Awan putih raksasa itu pun berarak cerah. Begitu juga dengan hati para pejalan kaki di bawah langit tadi, yang akhirnya yakin senja kali ini tidak akan hujan.

Sebenarnya masih begitu menarik mengikuti langkah kaki putri pelangi yang kembali ceria di atas awan sana. Tapi di sudut bumi lain ada kisah yang tidak kalah menarik. Rasanya sayang sekali kalau kalian lewatkan. Ya, di seberang danau itu tidak jauh dari pergerakan awan raksasa yang berada di atasnya. Duduk termenung seorang pangeran angin yang tengah memaki-maki kebodohan dirinya sendiri. Tidak ada suara apa-apa yang keluar dari bibirnya. Tapi tidak ada yang tahu bahwa hatinya sedang berteriak keras.

Aaaaaaaaaaaaa, kenapa kata itu yang justru terucap. Aku kan pergi ke istana awan untuk mengajak jalan-jalan sang putri. Tapi kenapa aku malah membuatnya marah. Aaaaaaaaaa....” pangeran angin melemparkan jauh-jauh sebongkah batu ke tengah danau, melempar kekesalan atas kebodohannya sendiri yang tidak berani mengatakan maksud sebenarnya.

Hati-hati dengan lidah yang tak tertata, boleh jadi sesal dan kesal yang akan berbicara.
Hati-hati dengan janji manisnya, boleh jadi ada harapan besar sedang mengikutinya.
Ketika seseorang menjatuhkanmu, sebelum mengingat rasa kesalnya, sebelum dimulai menikmati sakitnya, tengok dulu dirimu mungkin ada sesuatu yang harus diperbaiki lebih dulu sebelumnya.

  


  

Januari 02, 2013

Menjadi Lebih Baik

Ini bukan tentang diujung bulan, atau esok hari pergantian tahun. Karena aku sendiri tidak merayakannya. Tidak berlomba-lomba mengucapkannya. Ini sisi lain dari waktu yang tersisa, kesempatan menjejak hidup yang masih dipunya. Apalagi ketika berbicara waktu yang sudah terbuang cuma-cuma. Usia sudah tentu bertambah, entah itu usia manusia, usia bumi itu sendiri, atau yang kadang kita tidak pikirkan. Usia impianmu, usia rencana-rencanamu, usia target-target yang kau tetapkan untuk masa depanmu. Mereka juga bertambah bukan? Bertambah lama belum terwujud juga. Atau di sisi lain berkurang sudah waktu dan belum juga memetik hasil. Hmm alangkah hanya menjadi ceremonial belaka ketika waktu terus bergulir, usia semakin menua, tapi pemahaman-pemahaman baru tidak ikut bermunculan. Pendewasaan hati tidak ikut berbicara. Usaha dan kegigihan tidak ikut mengencangkan sabuk menambah kekuatan. Atau mungkin hati yang baik tidak ikut memaafkan sebuah kesalahan.

Apa mungkin selamanya tidak melakukan perubahan? Padahal semua memiliki proses perpindahan, seiring berjalannya waktu. Seperti detik waktu itu sendiri yang terus menerus membuat menit berpindah, membuat jam berpindah. Membuat hari berpindah. Dan celakalah kalau kita sendiri tidak ikut berpindah. Menjadi lebih baik.

Sekali lagi ini bukan tentang diujung bulan, atau esok pergantian tahun. Tapi ini tentang kita, berpindah atau diam tidak membuat perubahan.

Hari masih terus bergulir, menatap lurus masa depan, jalan yang panjang masih terbentang. Mendongakkan kepala menatap langit luasnya impian. Menunduk, memejamkan mata, menangkupkan tangah ke dada, mengumpulkan harap dengan doa dan kegigihan. Sambil sesekali tertawa kecil, ketika berkelebatan potongan masa lalu. Masa-masa yang jauh tertinggal di belakang. Waktu berlanjut, impian terajut, doa terpanjat, masa lalu melekat, masa depan memikat. ~ 311212

Setiap awalan memang mudah rapuh. Seperti anak balita yang belajar berjalan, tertatih, mudah jatuh. Setiap awalan perlu jejak yang kuat. Seperti menanam pohon kecil. Perlu perhatian, sekali-kali harus ditengok apa ia akan tumbuh meninggi atau malah tumbang. Tapi awalan yang baik memberi energi yang baik, kepercayaan diri yang baik, membawa kekuatan yang baru. Saat pagi memang menjadi lembaran baru hari. Membentangkan semangat baru, gairah baru. Tapi tahun ini bukan sekedar hari baru. Hari ini lembaran kisah berlanjut. Dengan pribadi diri yang sama. Keadaan yang sama. Tempat dan lingkungan yang sama. Orang-orang yang sama. Melanjutkan mimpi yang sama. Berbagai macam kesibukan yang sama. Suatu hal yang selalu baru, napas-napas yang terhembus, bertekad kuat ingin menjadikan hari yang lebih baik. Kepalan tangan tergenggam erat, bertekad diri menjadi lebih baik. Ya, hal itulah yang selalu baru sepanjang hari. Setiap berganti hari. Mulai fajar menyingsing sampai rembulan bersiaga. Berjanji pada diri sendiri akan jadi lebih baik. Entah hanya seruan semata, atau berakhir menjadi angan belaka. Tanpa perubahan.~010113

Pagi terbilang
Asa menjulang
Kehidupan berputar
Takdir sudah digelar
Rezeki tidak akan lari
Mati selalu pasti
Mimpi semangat jiwa
Doa pelipur lara
Kebetulan adalah kepastian
Jodoh adalah cerminan

Ini bukan tentang hari yang baru, tapi kegigihan untuk selalu menjadi lebih baik, itu yang selalu baru.