Maret 16, 2019

APA AKU SUDAH TERLALU TUA UNTUK BENAR-BENAR MERASA CINTA?

Tadinya aku sudah ingin bergegas untuk ikut memenuhi shaf-shaf yang kosong untuk menunaikan shalat maghrib, tapi demi adab aku urungkan ketika melihat Abah Anom masih meniti anak tangga. Usianya sudah hampir satu abad, tapi semangat untuk shalat berjamaah di masjid tidak pernah absen.
“Duluan saja Nak Jim, orang tua ini mah jalannya sudah mirip siput.” Abah Anom bergurau menoleh ke arahku.

“Nggak apa-apa Abah, saya di belakang Abah saja.” Kataku menolak permintaannya dengan sopan. Meski sudah sepuh dan langkah sudah kurang jejak, Abah Anom tidak mau sama sekali dibantu untuk sekadar dipapah oleh orang lain.

Suasana masjid sudah mulai ramai dengan anak-anak yang sibuk bercanda. Mengganggu kekhusuan shalat sunnah orang-orang dewasa.

“Ssssst jangan bercanda anak-anak. Berisik. Jangan lari-larian.” Suara salah satu jamaah dewasa dengan nada yang sedikit membentak.

Aku melihat Abah Anom menggeleng, sejenak langkahnya berhenti di ambang pintu masjid. Tiba-tiba saja wajahnya murung, nampak sedih.

“Ada apa Abah?” Hati-hati aku bertanya.

“Kau tahu Nak, Jim. Usia masjid ini jauh lebih tua dari usia abah, tapi suasananya masih saja nggak berubah dari dulu sejak abah seusia mereka. Abah suka sedih kalau mendengar anak-anak itu dibentak karena berisik.”

“Kalau boleh tahu kenapa jadi sedih, Abah?”

“Kau tahu Nak, dulu semasa kecil tingkah laku abah seperti mereka, bahkan bisa dibilang paling bandel. Abah punya genk sepuluh orang yang selalu membuat rusuh shalat berjamaah. Ada saja keusilan dari kami, dari mulai melorotin kain sarung, lempar-lemparan kopiah sampai berlomba mengucap amin dengan sangat kencang. Banyak orang dewasa yang menegur dan kesal karena merasa terganggu. Tapi kami nggak ada kapoknya. Semakin dilarang justru semakin ngeyel.”

Aku menggangguk, ternyata dari masa ke masa anak-anak sudah begitu kelakukannya kalau berada di masjid.

“Suatu waktu Abah Muallim Jufri, guru ngaji di kampung abah, sengaja mengumpulkan kami sehabis shalat Maghrib. Abah kira kami akan kena omelan lagi. Tapi ternyata nggak. Abah Muallim Jufri hanya menunduk lama menahan sedih. Lama sekali kami menunggu, hingga Abah Muallim mulai bicara”

“Nak, masjid ini luas sekali, tapi jamaah yang datang setiap shalat lima waktu segitu-segitu saja.” Abah Muallim Jufri menghela napas. “Abah sedih bukan lantaran kelakuan nakal kalian, sebab siapa lagi kalau bukan kalian yang masih mau meramaikan masjid ini. Abah sedih karena semakin berkurangnya kesadaran orang tua kalian untuk ikut memakmurkan masjid. Lebih sibuk dengan dunianya masing-masing.”

“Saat itu kami saling pandang satu sama lain, merasa bangga karena dianggap meramaikan masjid tapi di sisi lain juga sadar, jangan-jangan gara-gara kami orang-orang dewasa jadi enggan untuk ke masjid?”

“Tentu bukan kesalahan kalian, Nak.” Abah Muallim Jufri seperti bisa membaca pikiran abah saat itu. “Abah berpesan, tetaplah meramaikan masjid, sampai suatu saat kalian akan memahami, betapa bahagianya hati ini, dikala sujud begitu terasa sedang ditatap oleh Allah. Di saat benar-benar merasa tunduk dan patuh karena cinta Allah.”

“Mendengar kata-kata itu kami semua terdiam. Memang nasihat Abah Muallim Jufri itu tidak langsung membuat kami berubah. Tetap bandel seperti biasanya. Tapi seiring berjalannya waktu pemahaman baik itu benar-benar tumbuh di masjid tua ini. Betapa pertistiwa itu terasa baru kemarin, Nak Jim. Genk Abah sepuluh orang itu, anak-anak yang paling bandel di kampung ini dulu, satu per satu sudah meninggal dunia. Tinggal Abah saja yang sedang menunggu gilirannya.”

“Melihat anak-anak ini, Abah jadi sedih mengingat masa-masa itu. Semoga mereka dapat lebih cepat memahami bahwa betapa bahagianya hati ini, di kala sujud begitu terasa sedang ditatap oleh Allah. Merasakan cinta yang sebenarnya di masjid ini.”

Aku terharu mendengar cerita Abah. Hingga shalat maghrib selesai ditunaikan, Abah Anom tetap sujud dengan khidmat, mengembuskan napas terakhirnya. Merasa benar-benar sedang ditatap oleh Allah. Maghrib ini adalah giliran Abah Anom merasakan benar-benar cinta-Nya.

@azurazie_

Maret 13, 2019

TAHUKAH KAMU?

Tahukah kamu, seseorang yang terbiasa tergesa meninggalkan doa setelah salam untuk mengejar kepentingan dunianya. Ia tidak sadar, dunia tidak akan pernah bisa memenuhi semua kebutuhannya. Sedangkan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa itu, sebenarnya untuk kebaikannya.

Tahukah kamu, seseorang yang masih merasa amalan-amalan sunnah itu sangatlah sepele, dan seperlunya saja. Merasa cukup dengan menunaikan kewajiban-kewajibannya saja. Kemudian lebih mementingkan rutinitas dunia untuk menambah pundi-pundi rezeki. Ia tidak sadar sedang tidak menambah apa-apa untuk kebaikannya. Sedangkan amalan sunnah bisa menambal kewajiban yang ia tunaikan, yang belum tentu sempurna.

 Tahukah kamu, seorang ayah/suami yang masih membiarkan perempuan-perempuan yang disayangnya keluar rumah tanpa menutup auratnya, boleh jadi sudah semakin hilangnya rasa cemburu pada hatinya. Merasa biasa saja membiarkan orang lain memandang mahkota yang seharusnya ia lindungi dengan nyawanya.

@azurazie_

Maret 12, 2019

APA AKU MASIH TERLALU KECIL UNTUK MENJADI TAQWA?

Shalat maghrib berjamaah sudah hampir di mulai. Hampir saja aku menjadi masbuk kalau tidak bergegas untuk mengambil wudhu. Sembari merapikan gulungan celana, aku memperhatikan kejadian menarik itu. Di antara orang-orang dewasa yang berduyun-duyun mengambil shaf terdepan, ada satu anak kecil yang berantusias tidak mau kalah. Tapi, malang nasibnya, ia terusir dengan mudahnya dari barisan shaf pertama.

Dibanding dengan bocah-bocah lain yang masih sibuk bercanda, sikut-sikutan dengan teman di sampingnya sambil berisik.  Alih-alih tertib menyempurnakan shaf. Dan sulit sekali untuk diatur. Anak kecil tadi dengan kopiah putihnya, masih terlihat berusaha mendapatkan tempat di barisan shaf kedua. Tapi, malang nasibnya, lagi-lagi harus terusir disuruh ke belakang oleh orang dewasa.

Ia pun beringsut mundur mencari celah dibarisan shaf ketiga. Sayangnya sudah keduluan oleh orang dewasa lainnya. Aku yang sedari tadi memperhatikan anak kecil itu, merasa kasihan. Ada kesedihan nampak di wajahnya. Aku pun memutuskan memanggilnya, masih ada celah di sampingku di shaf ke empat. Dan kujamin kali ini tidak akan ada yang mengusirnya untuk menyuruhnya ke belakang.
Ia pun mengangguk dan mulai fokus untuk melakukan takbiratul ihram.

Aku pun melakukan hal yang sama.

***
Mendidik anak untuk membiasakan diri shalat tepat waktu dan berjamaah di masjid memang sudah seharusnya tugas untuk orang tua. Tapi, kenyataan yang sering terjadi anak-anak itu disuruhnya pergi ke masjid tanpa didampingi langsung oleh ayahnya. Ya itu dampak yang terjadi, lebih banyak becandanya daripada benar-benar belajar menunaikan shalat dengan baik. Makanya tak jarang banyak orang dewasa lain yang jengkel merasa terganggu.

Aku salut dengan anak kecil di sampingku ini. Sepanjang shalat tiga rakaat semua gerakannya sempurna. Tumaninahnya sempurna. Seperti tidak tergiur sama sekali dengan teman sebayanya yang sibuk becanda di barisan belakang. 

Selepas shalat pun ia tak langsung beranjak. Turut mengikuti untaian doa dari sang imam. Begitu khusyu tanpa bersuara. Sedangkan anak-anak lain baru selesai salam pun langsung belingsatan berlari keluar masjid.

Belum selesai sampai di situ kekagumanku, anak kecil itu beranjak bangun pindah ke shaf pertama yang sudah hampir kosong, untuk menunaikan shalat Ba'diyah maghrib. Barangkali hatinya berkata inilah shaf yang paling aku idamkan. Shaf pertama tak jauh dari imam.

Aku tersenyum, menerka-nerka, siapa nama anak ini? Dari mana asalnya? Bagaimana cara orang tua mendidiknya?

***
Saking penasarannya, tak pikir panjang lagi aku menghampirinya.

“Siapa namamu, dek?” Aku basa-basi bertanya.

“Alif, kak.” Alif tersenyum, bibirnya masih tetap bertasbih.

“Tadi kakak perhatikan kamu berusaha banget ya ingin di shaf pertama? Boleh tahu alasannya?”

“Kata ayah Alif, shaf yang paling utama itu yang paling depan, kak. Alif ingin sujud berdoa di shaf itu.”

“Alif sedih ya tadi nggak bisa dapat shaf pertama?”

“Nggak apa-apa, Kak. Setidaknya Alif sudah berusaha. Allah Maha Melihat.”

“Tapi Alif pernah dapat kesempatan di shaf pertama?” Tanyaku penasaran.

“Dulu sering, kak. Saat ke masjidnya bareng ayah.”

“Kalau boleh tahu, ayah Alif ke mana sekarang?” Aku tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

“Sudah hampir satu tahun ayah lumpuh karena kecelakaan. Jadi shalatnya di rumah, kak. Ayah selalu meminta Alif untuk tetap shalat berjamaah di masjid. Karena itu yang lebih utama untuk anak laki-laki. Lagi pula di masjid doa Alif jadi lebih khusyu. Karena terasa lebih dekat sama Allah.”
Tiba-tiba hatiku mencelos. Ada anak kecil yang setabah dan selurus ini hatinya.

“Memang apa yang Alif minta dalam doa?”

“Alif ingin cepat tumbuh besar agar bisa memapah ayah untuk pergi ke masjid. Biar bisa shalat jamaah lagi.”

Aku sempurna terdiam mendengarnya.

@azurazie_

Maret 11, 2019

MENJAGA PRASANGKA

Pernah tidak kamu tiba-tiba kecewa dengan harapanmu sendiri, inginnya sesuatu itu diterima di saat itu juga, ternyata tidak. Allah menunda untuk memilikinya.

Tapi, di lain waktu kamu tiba-tiba bersyukur, Allah menunda keinginanmu waktu itu. Sebab, kalau di saat itu keinginanmu terwujud, belum tentu saat ini kebutuhanmu bisa terpenuhi.

Contoh sederhananya uang arisan. Di bulan yang kamu inginkan namamu keluar, ternyata belum rezekimu saat itu. Kamu sedikit masygul. Merasa kurang beruntung dan susah sekali rezekinya.

Tapi, di bulan berikutnya, di saat giliran namamu keluar, seratus delapan puluh derajat kamu berubah pikiran, kamu merasa bersyukur uang arisan itu sempat tertunda, jadi bisa membantu memenuhi kebutuhanmu yang lebih mendesak. Bisa jadi di bulan kemarin itu kamu jadi tambah boros karena terlalu mengikuti keinginan.

Maka, benar adanya, adakalanya Allah menunda sesuatu, untuk menambal kebutuhanmu di lain waktu. Karena Allah lebih tahu apa yang akan terjadi di masa depanmu.

Maka, menjaga prasangka itu perlu. Apalagi kepada Allah Sang Maha Segala Tahu.

Pernahkah kamu berharap menerima rezeki dari sumber yang tidak di sangka-sangka dan di waktu yang bersamaan secara tidak sadar menyangka Allah kurang memenuhi kebutuhanmu?

Masya Allah, sungguh kita masih perlu banyak belajar menjaga prasangka itu.

@azurazie_

Maret 08, 2019

ASK : BAGAIMANA CARANYA AGAR IMAN SELALU KONSTAN TIDAK NAIK TURUN?

Bagaimana senantiasa agar iman itu konstan tidak naik turun?

Masya Allah, terima kasih ukhi khansahanunn atas pertanyaannya,

Bismillah, saya berlindung dari menulis/menjawab sesuatu yang sebenarnya saya tidak paham maksudnya.

Pertanyaanmu membuat saya ikut bertanya-tanya, bagaimana ya caranya? mengalami masa-masa futur sudah pasti setiap orang akan mengalaminya. Karena sifat iman memang sudah fitrahnya akan naik dan suka turun. Setidaknya dengan mengetahui itu jadi kita lebih mudah untuk mengevaluasi diri sendiri, agar tidak futur terus-terusan.

Kembali dengan pertanyaan di atas, bagaimana senantiasa agar iman itu konstan tidak naik turun?
Bagaimana bila kita coba dengan membiasakan kebiasaan-kebiasaan baik, agar kita selalu punya ‘imun’ di kala futur tersebut. Belajar lebih istiqomah. Karena biasanya kebiasaan yang membuat kita merasa ada yang kurang bila kita sewaktu-waktu lupa mengerjakannya. Kebiasaan itu yang bisa jadi alarm untuk kita kembali naik imannya.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa sedikit menjawab pertanyaanmu ya. 

Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan.

Salam
Azura Zie

Maret 06, 2019

PROMO MARET 2019 : NAFAS 2 MASA & KAMPUS HIJAIAH

Promo Maret 2019




Bismillah,
paket Novel NafAs 2 Masa & Kampus Hijaiah Rp. 100.000,- Bebas biaya ongkir untuk wilayah Jabodetabek.


Novel NafAs 2 MasaBerkisah tentang  perasaan yang bertanya - tanya, siapa sosok yang bersembunyi di dalam tulisan - tulisan yang selama ini mewarnai hari - hari keduanya, terpanggil satu sama lain untuk mencari tahu sosok misterius itu.

Siapakah dia? Seperti apa wajahnya? Berapa umurnya? Kenapa tidak pernah pasang foto di media sosial? Atau memang tidak punya? Hanya blognya saja? Lalu kenapa tidak pernah ada biografi di belakang buku-bukunya?

Ah, kenapa aku begitu penasaran dengan sosok itu? 

Pernahkah kalian jatuh cinta kepada tulisan seseorang? Atau jangan-jangan jatuh cinta sama penulisnya juga?
…………….
Aku pernah membaca tulisan seseorang, yang dengan tulisannya itu, membuka pemahaman baru. Tentang sisi lain yang tidak terlintas dipikiran sebelumnya. Tentang sisi yang lebih baik dari prasangka yang kadung aku percayai. Tentang sisi putih yang lebih tentram membawa kelapangan hati.

Barangkali bila aku tidak pernah membaca tulisan itu, selamanya aku akan terkukung oleh sisi yang kubaca dengan egoku sendiri. Sisi abu-abu yang aku yakini itulah yang paling masuk akal. Itulah yang paling mendekati benar.

Bahwa hidup ini akan selalu ada hitam dan putih. Kanan dan kiri. Atas dan bawah. Depan dan belakang. Seringnya kita mudah men-judge hanya satu sisi, dan menyepelekan sisi lainnya. Kadung menelan bulat-bulat. Tidak berusaha mencari kebenaran yang lebih akurat.
…………………..
Terkadang untuk seorang penulis, lebih mudah menyisipkan nasihat-nasihat bijak dalam tulisan-tulisannya. Tapi dirinya sendiri ragu bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Barangkali itulah dirasakan oleh seorang Najma Tazkiya.

Terkadang seorang pembaca teramat ingin berterima kasih kepada penulis, yang tulisan sederhananya mampu menggugah kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tulisan itu meresap ke dalam hati tanpa merasa sedang dinasehati. Tapi merasa dirangkul dan diajak untuk sama-sama berbenah diri. Seperti itulah yang dirasakan oleh Syauqi Khumain.

Ada pula dua kisah yang romantis antara Rasha Kamil dan Hilda Inayah, yang sama-sama berjuang mengukuhkan perasaannya ke jenjang halal. Sekaligus ingin tetap menghargai perasaan kakak-kakaknya yang masih belum menemukan tambatan hatinya.

Simak kisah mereka di Novel #NafAs2Masa.

Novel Kampus Hijaiah

Tentang perjalanan Kalam Qadri (Lam) Jim Azami (Jim) Fatih L Makki (Fa) & Hijrah Amala ( Ra) yang belajar di Kampus Hijaiah.

Novel ini dikemas menggunakan tema huruf-huruf Hijaiah dari mulai nama-nama kegiatan, tempat, tokoh-tokoh yang ada di dalam ceritanya. Di susun dari mulai Bab Alif hingga Ya.

……..
Orang bijak berkata, cinta yang paling tulus adalah melepaskan. Karena mengikat kuat sesuatu yang ingin berontak itu percuma. Perasaan bahagia tidak pernah ada dengan sesuatu yang sengaja dibuat terpaksa.

Melepaskan tidak melulu soal perasaan. Banyak hal bila direnungi yang paling bijak dengan melepaskan. Sebab, sejatinya diri tidak pernah benar-benar memiliki apa-apa. 

Dengan melepaskan akan lebih mendidik hati untuk ikhlas. Meski kata #Jimazami ikhlas adalah pelajaran seumur hidup.

Bila doa mampu mengubah jalannya takdir yang sudah tertulis sejak lahir menjadi lebih baik. Memperbaiki nasib yang buruk. Ajarkan kami berdoa dengan menyebut Nama-Mu Yang Agung. Rangkaian doa yang mampu membuat pintu Rahmat-Mu terketuk.
Bila dengan doa menjadikan kami lalai untuk berusaha memperbaiki keadaan, dengan daya upaya. Hanya mengandalkan doa tanpa usaha. Ingatkan kami untuk bangun bertindak, mengawali dengan Asma-Mu Yang Sempurna. Bahwa suatu kaum harus mengubah nasibnya sendiri dengan mengoptimalkan upaya yang ada.
Bila dengan giat berusaha, kami lalai untuk menyempatkan waktu berdoa. Sungguh, jangan biarkan kesombongan itu betah berlama-lama di dalam dada. Karena tiada daya dan upaya, selain dari pertolongan-Mu jua. Dan sungguh kami percaya Engkau Maha Mengabulkan Semua Pinta hamba yang sudah berusaha sekuat tenaga.
Untuk itu mohon kabulkan segala hal yang terbesit di dalam pikiran. Jika memang baik untuk kami. Mohon pertimbangkan segala hal yang tersusun dalam bait-bait doa permintaan. Sungguh yang demikian itu benar-benar tulus dari hati kami.

Simak kisahnya di Novel #KampushijaiahBila berminat untuk mengkoleksi kedua novel tersebut sila pesan di 082114648833

Jazakumullahu khaira jazaa.

@azurazie_

ASK : BAGAIMANA CARA MEMPERCANTIK AKHLAK

Bagaimana cara mempercantik akhlak? Trimakasih.

Masya Allah terima kasih ukhti seyshami untuk pertanyaannya.

Bismillah... sebelumnya saya berlindung dari menulis/berkata yang sebenarnya saya tidak tahu/memahami maksudnya.

Bagaimana cara mempercantik akhlak? Pertanyaan itu membuat saya ikut bertanya-tanya, bagaimana ya? pertanyaan berikutnya : Apakah akhlak saya pribadi sejauh ini sudah cukup baik? Nah, lho?
Saya teringat nasihat sederhana senior saya di tempat saya bekerja :

“Kalau bertanya sesuatu dengan seseorang itu akan lebih terkesan dengan menyapa dulu namanya.”
Awalnya saya sempat menyangkal, kalau sudah akrab memangnya tidak bisa langsung to the point aja? seperti yang sering kali kita lakukan, baik secara langsung face to face ataupun obrolan di social media ditambah saya tipikal orang yang tidak terlalu suka dengan basa-basi.

Saya pun penasaran ingin menerapkan nasihat sederhana itu, bagaimana pun kita tidak bisa meremehkan begitu saja sebuah nasihat yang datang kepada kita. Beberapa hari mencoba masih terasa tidak biasa. Tapi, Masya Allah benar berbeda dampaknya. Yang kita ajak bicara jadi terasa lebih respect kepada kita. Yang tadinya pertanyaan itu sering tidak dihiraukan, dengan menyapa namanya lebih dulu, justru beberapa orang sedia memberitahu sebelum kita bertanya. Ini ajaib. Maka, benar adanya adab itu lebih tinggi kedudukannya daripada ilmu.

Kembali dengan pertanyaan di atas, Bagaimana cara mempercantik akhlak? Bagaimana kita coba lebih dulu dengan bersama-sama mempercantik adab? yang sederhana dulu dengan mencoba nasihat senior saya di atas.

Semoga tulisan ini bisa menjawab sedikit dari pertanyaan di atas. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan.

Jazakumullahu ahsanal jaza.



Salam
Azura Zie

Maret 02, 2019

GARANSI TEPAT WAKTU

Seberapa sering kamu mendengar sikap pesimisnya seseorang yang belum berusaha tapi sudah pasrah duluan?

Semisal, mengerjakan sesuatu - yang sebenarnya untuk kepentingannya sendiri. Lebih bisa memprioritaskan kewajibannya untuk menunjang hak-haknya terpenuhi.

Dateline itu dengan mudahnya ia langgar, karena merasa pesimis dan berpikir, kalaupun dikerjakan tepat waktu, yang sudah-sudah hak yang didapat selalu telat melulu.

Hmm, sesekali ubah pola pikirnya. Jangan-jangan segala sesuatu datangnya terlambat, karena sikap kita sendiri yang selalu kurang tepat. Jangan-jangan pikiran kita sendiri yang menghambat. Untuk hasil yang lebih cepat.

Bukankah kita perlu percaya, bahwa Allah akan mengganjarkan apa-apa yang telah kita upayakan. Nasib suatu kaum itu bergantung dengan usahanya sendiri, kan? Dan saya percaya, yang selalu berusaha tepat waktu, akan selalu ada ‘hadiah’ manis diujung penantiannya. Buah dari upayanya. Meski, mungkin tak selalu berupa apa yang diinginkan, boleh jadi diganti dengan apa yang lebih dibutuhkan.

Terkadang Allah menunda terpenuhinya sesuatu saat ini, untuk menambal kebutuhan kita di waktu yang lain.

Bila alasan itu tak mengubah pikiranmu, minimal dengan selalu tepat waktu itu, sebagai pembuktian bahwa apa-apa yang kita lakukan adalah hasil dari versi terbaik dari diri kita sendiri. Sikap paling optimal yang sudah kita usahakan. Untuk proses selanjutnya biarlah Allah yang menggaransikan hasilnya.

Bila masih belum cukup untuk mengubah mindset-mu. Untuk seberapa pentingnya sikap tepat waktu itu. Bagaimana kita bisa yakin sepenuh hati dengan bergantung kepada Allah, kalau bergantung pada upaya sendiri saja, kita sudah pesimis duluan sebelum berusaha.

Yang perlu diiingat, waktu tidak pernah berbaik hati untuk menunggu seseorang yang selalu ketinggalan.

@azurazie_

Februari 26, 2019

ADAKAH YANG LEBIH MESRA

Adakah yang lebih mesra dari sepasang kekasih-halal yang selalu bersama menumbuhkan kebaikan-kebaikan dalam interaksi kesehariannya. Saling menjadi alarm untuk banyak hal. Mengajak untuk memperbaiki beberapa hal dengan saling merangkul dalam nasihat. Menjaga untuk lebih bijak dalam menempatkan sesuatu. Untuk kenyamanan satu sama lain dan mengurangi selisih paham yang tidak perlu.

Adakah yang lebih mesra dari sepasang kekasih-halal yang saling menjaga dan memastikan satu sama lainnya untuk selalu baik-baik saja. Baik sedang dalam satu atap rumah maupun terpisah sementara, jarak yang jauh. Termasuk menjaga perasaan dan rindu yang bersemayam di dalam dada keduanya.

Adakah yang lebih mesra dari sepasang kekasih-halal yang terbangun bersama di sepertiga malam. Bersama-sama mengetuk cinta dan rindu berkeluh kesah kepada Rabb-Nya. Berharap dalam bidak rumah tangga itu ada dalam keberkahan dan keridhoan-Nya.

Adakah yang lebih mesra dari sepasang kekasih-halal yang membangun bersama tangga-tangga untuk rumah yang dijanjikan sebagai penghuni syurga. Dalam suka dan duka untuk selalu sepakat menerima sepaket. Untuk setia sehidup hingga sesurga. Tumbuh bersama mempererat taat.

Adakah yang lebih mesra dari sepasang kekasih-halal yang mencintai satu sama lain karena Allah. Menjaga sunnah Rasulullah, belajar untuk mengupayakan sakinah mawaddah warahmah, seperti kemesraan Muhammad tercinta dengan siti Aisyah.

Adakah yang lebih mesra dari itu semua?

@azurazie_

Februari 25, 2019

BERBAGI DI SOCIAL MEDIA

Tahukah kamu, dengan atau tanpa disadari, hampir setiap harinya, banyak sekali yang secara sukarela kita bagi-bagi di social media. Mulai dari tulisan-tulisan, karena kita memang terbiasa berbagi keresahan dalam tulisan. Itu terapy yang baik. Seperti yang saya juga lakukan di beberapa media : instagram, tumblr, maupun blog.

Masih banyak juga orang yang sekadar berbagi status keluhan. Yang orang lain sebenarnya tidak perlu-perlu amat tahu. Seperti lagi sumilangen, pertengkaran rumah tangga, bahkan banyak kata-kata sumpah serapah juga. Mungkin bagi sebagian orang masih merasa, membuat status keluhan seperti itu adalah cara agar ia merasa masih ada yang mau memperhatikan. Ada yang mau ‘mendengarkan’. Meski faktanya tidak banyak yang peduli. Lebih banyak yang menghakimi.

Yang suka dibagi-bagi secara sukarela lainnya adalah : foto selfie. Duh, kalau sudah menyinggung soal ini gatal sekali rasanya saya ingin bertanya. Karena banyak juga yang meng-uploud fotonya, tapi bagian wajahnya ditutupi sticker. Tujuannya apa? Merasa tidak percaya diri? Lalu kenapa dibagi-bagi ke social media? Ada yang bisa bantu menjawabnya?
Dan banyak lainnya yang sering kita bagikan secara sukarela di social media. Mudah-mudahan apapun bentuknya itu, kelak bisa dipertanggungjawabkan tentang apa maksud tujuannya.

Adakalanya kita harus berusaha agar tidak ditertawakan orang lain, karena keteledoran kita. Meskipun ada pula yang berkata untuk apa mikirin pendapat orang lain, toh yang jalani kita. Hmm… itu juga ada benarnya. Tapi, yang menjalani memang kita, seharusnya kita juga yang paling tahu bagaimana menjaga sikap untuk menjadi yang terbaik. Untuk diri sendiri.

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung atau menghakimi siapa-siapa. Sekadar untuk mengingatkan, bahwa penting sekali yang namanya menjaga rasa malu. Menjaga sendiri aib-aib itu. Allah sudah Maha Baik masih menutupinya. Masa, kita membukanya begitu saja secara sukarela. Jejak digital itu akan selalu ada. Sekalipun tidak ada, dua malaikat selalu siap mencatatnya. Pentingnya memelihara rasa malu, agar kita terjaga dari berbagi yang tidak perlu. 

@azurazie_

Februari 24, 2019

JANGKAR YANG TERJUNGKIR

Seberapa greget kamu, ketika sedang dalam kondisi merasa tidak berdaya melakukan sesuatu. Baik dari kemampuan yang tidak mendukung untuk keluar dari kondisi itu, ataupun fasilitas pendukung yang kurang memadai.

Seberapa greget kamu, ketika ingin memperbaiki sesuatu, tapi tidak tahu caranya. Ketika ingin membantu mempermudah ini itu, tapi tidak punya aksesnya.

Ketidakmampuan itu menjadi jangkar yang menghambat untuk terus melangkah. Berat sekali untuk dipaksakan bergerak. Seperti beban tertuju semua di pundak.

Seberapa greget kamu, ketika memiliki kemampuan lebih, tapi acuh dengan masalah orang lain. Memiliki kuasa untuk mempermudah urusan orang lain, tapi menutup mata karena merasa tidak banyak gunanya. Tidak ada untungnya.

Kelebihan itu membuatmu terjungkir karena angkuh. Jumawa, merasa di atas angin. Terlalu percaya diri bisa mengatasi segalanya. Lebih mementingkan diri sendiri dan kenapa harus repot-repot dengan ketidakmampuan orang lain.

Seakan lupa, hidup ini harus selalu seimbang. Roda nasib itu masih terus berputar. Kekurangan itu bukanlah jangkar yang menghambat pergerakan langkah. Kelebihan itu bisa membuat terjungkir di kala dirimu angkuh.

@azurazie_

Februari 23, 2019

PERHITUNGAN DALAM PERUNTUNGAN

Bila sebesar zarahpun ada dalam perhitungan. Yakinlah, setitik kebaikanmu kelak ada dalam peruntungan.  

Sebagai muslim, yang perlu kita ingat adalah, yang dapat menyelamatkan kita pada hari perhitungan kelak, bukanlah semata-mata seberapa banyak ibadah kita. Entah itu shalat, puasa, dan amalan-amalan lainnya. Tapi, bagaimana Allah ridho dengan perbuatanmu.

Dengan kesadaran itu, membuat kita selalu mawas diri. Berusaha sepenuh hati apa yang akan kita lakukan, yang kita perbuat tidak keluar dari jalur yang diperintahkan-Nya. Jauh dari apa yang jelas-jelas dilarang-Nya. Menjadi seorang muslim yang tahu benar bagaimana mengupayakan taqwa.

Dengan kesadaran itu, kita jadi sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Sekecil apapun diperhitungkan. Berusaha sungguh-sungguh tidak berada di zona yang abu-abu. Yang halal sudah jelas halal. Yang haram pun jelas haram. Sedangkan yang makruh pun tidak ingin kita bersinggungan dengan itu.
Dengan kesadaran itu, kita jadi tambah yakin, sebesar zarahpun ada dalam perhitungan. Maka, kebaikan-kebaikan kecil bisa dijadikan kebiasaan. Karena kita tidak pernah tahu dimana letak Ridho Allah itu disematkan. Kebaikan kecil bisa jadi peruntungan. 

@azurazie_

Februari 22, 2019

MENGINGAT DALAM DOA

Pernah tidak, di suatu malam dirimu bermimpi ketemu teman-teman lama yang sudah tidak terdengar lagi kabarnya. Tidak diketahui apa kesibukannya. Di bumi bagian mana keberadaannya.

Di mimpi tersebut, mereka berkumpul di sebuah ruang kelas, dengan bangku-bangku dan meja yang nampak tak asing. Kita pernah duduk di sana lengkap dengan buku pelajarannya. Ya, masa-masa sekolah itu seperti terulang semalam di mimpi tersebut.

Lucunya, ada yang terasa ganjil. Di dalam kelas tersebut tidak hanya sekadar bertemu dengan teman-teman dalam satu periode. Sebagian teman SD, SMP, SMA berkumpul di sana dan terlihat begitu akrab. Dengan seorang guru yang sudah lupa-lupa ingat dulu pernah mengajar di periode yang mana. Entah SD, masa SMP atau SMA.

Pernah dirimu mengalami mimpi yang ganjil seperti itu? Hingga pada saat dirimu terbangun, senyuman itu mengembang hingga nyaris tertawa. Ada-ada saja pikirmu. Kok bisa bertemu dalam satu kelas seperti itu. Sejak kapan teman-teman itu saling mengenal satu sama lain? Meski dunia mimpi mah bebas saja.

Dan dirimu mulai teringat, masa-masa itu sudah berlalu jauh berpuluh tahun di masa lalu. Saat ini barangkali untuk mengupayakan pertemuan itu dengan mereka adalah satu hal yang sulit direalisasikan.

Maka, dirimu hanya mampu berdoa sepenuh harap, dimanapun kini mereka berada, berbahagialah dengan doa yang menjelma nyata.

Semoga kita masih bisa saling mengingat dalam doa.

@azurazie_

Februari 21, 2019

DOA MANA YANG DIDENGAR

Siang itu, selepas menunaikan shalat jum'at berjamaah. Aku memutuskan diam sejenak di dalam masjid. Masih lumayan banyak yang  bertahan di sana. Sebagian menunaikan shalat sunnah. Lebih banyak yang mengobrol atau bahkan tidur-tiduran saja.

Perhatianku tertuju kepada beberapa orang yang masih khusyu berdoa. Rasanya aku ingin mencuri dengar apa yang mereka pinta dalam doanya. Ada anak kecil di samping jendela menengadahkan tangan. Barangkali, di usianya itu belum banyak bendahara kata dalam doa-doanya. Paling juga yang ia rapal adalah doa untuk kedua orang tuanya. Doa yang diajarkan di  sekolahnya. Belum banyak tuntutan dalam hidupnya. Doa yang begitu polos tanpa tendensi apa-apa.

Lain hal dengan seorang pemuda dua langkah dari tempat duduk anak kecil tadi. Boleh jadi jauh lebih banyak kosa kata doanya. Sebanding dengan apa yang sedang ia resahkan dalam pikirannya. Tentang jodoh yang belum kelihatan kabar baiknya. Tentang rezeki yang berharap datang tak terduga, di tanggal-tanggal tua. Dan banyak tentang-tentang lainnya. Doa-doa itu penuh tekanan sana sini. Besar harapannya doa-doa itu cepat dikabulkan, agar sedikit berkurang beban dipikiran.

Lain hal lagi dengan doa-doa bapak-bapak yang ada di samping mimbar. Atau doa-doa pak tua di shaf kedua. Lebih dalam lagi makna doa-doanya.

Menarik sekali, aku bertanya-tanya, dari sekian banyak doa-doa itu menguntai ke udara, melewati kubah masjid dan terus menganak tangga menuju langit. Aku tidak tahu doa siapa yang lebih dulu didengar oleh-Mu? Pembendaharaan doa siapa yang lebih menarik perhatian-Mu? Aku benar-benar tidak tahu.

@azurazie_

Februari 19, 2019

EMP(A)TY

 Jangan kehilangan empati, hanya karena empty. Kebaikan itu bukan sekadar berharap timbal balik dari manusia. Tapi ada berkah manfaat yang kamu rasa setelah melakukannya.

Seharusnya kita tidak pernah memikirkan kebaikan apa saja yang telah dilakukan untuk membantu kemudahan orang lain. Karena tidak begitu cara ikhlas bekerja.

Seharusnya kita lebih memikirkan manfaat apalagi yang bisa kita upayakan untuk membantu kemudahan orang lain. Karena sudah seharusnya begitu cara kita menteladani Rasulullah tercinta.
Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baiknya perbuatan, itulah yang selalu perlu kita upayakan.

@azurazie_

Februari 12, 2019

BERHARAP BERLEBIHAN

Suatu hari
"Kita mah gimana Allah saja, ya." Kataku, di beberapa keadaan yang ternyata di luar ekspektasi sebelumnya. Harapan kami sedang tidak sejalan dengan yang terjadi.

"Iya, mungkin berharap memang tidak boleh berlebihan, ya." Masih ada raut sedih di wajahnya. Aku menggeggam tangannya lebih erat.

"Boleh. Berharap boleh berlebihan. Tapi..." sengaja aku menggantung kalimat itu. Di beberapa keadaan, tiba-tiba membuatnya antusias dengan sesuatu yang lain, bisa membalikan keadaan. Dari murung menjadi penasaran.

"Tapi apa?"

"Tapi, di saat mulai memupuk harapan itu, di ingat-ingat juga akan konsekwensinya. Harus mengukur juga kadar akibat setelahnya. Berharap perlu berlebihan, lebihnya bisa jadi doa, bisa jadi tambahan semangat. Pun bisa jadi nilai kesungguhan dalam usaha."

"Umm... berharap boleh berlebihan, tapi kecewanya jangan." Ia mengangguk menyimpulkan sesuatu.

"Nah. Berharap boleh berlebihan, tapi harus berlebihan juga keyakinan itu kepada-Nya. Bahwa sesuatu yang akan ditakdirkan untuk kita adalah yang terbaik."

"Harus berlebihan juga keyakinan kita bahwa Allah tidak pernah mengecewakan hambanya."

"Dalam berharap, dalam berusaha dan dalam berdoa." Percakapan itu membuat perasaan kami menjadi lebih baik.

@azurazie_

Februari 04, 2019

MELIBATKAN ALLAH

Suatu hari, pasti ada saja moment yang membuatmu begitu bersyukur atas keputusan yang dulu pernah kamu buat. Tentang pilihan Plan A atau Plan B yang dulu pernah menjadi pertimbangan yang berat. Saat itu kamu bersyukur telah menjalani keputusan yang benar. Kamu menemukan hikmah yang menambah dirimu untuk selalu sadar. Selalu melibatkan Allah atas tiap-tiap perkara yang baik adalah memang keputusan yang paling bijak.

Pernahkah kamu tiba-tiba mendengarkan cerita tentang seseorang yang baru saja ditimpa kemalangan karena akibat pilihan yang pernah  ia buat di masa lalu. Ibarat nasi telah menjadi bubur, ia begitu mengeluh dengan apa yang sedang dialaminya. Di sisi lain, dengan tanpa mengurangi rasa empati, dirimu justru begitu bersyukur tidak mengalami yang demikian. Bersyukur, karena kisahnya itu ada kemiripan dengan apa yang dulu pernah menjadi pertimbanganmu. 

Istikharah pernah memanggilmu untuk menyakinkan hatimu itu. Agar langkah-langkah berikutnya seiring dengan kebaikan dari keputusan yang dibuat. Langkah-langkah berikutnya menjadi ringan atas akibat dari hikmah yang didapat.

Maka, melibatkan Allah atas perkara-perkara yang belum kita ketahui adalah pilihan yang bijak. Untuk setiap skenario-Nya yang terbaik.

@azurazie_

Februari 02, 2019

TAK APA

Tak apa bila tiap-tiap mengusahakan sesuatu tak selalu berjalan dengan mulus, yang berharga adalah prosesnya. Pemahaman baik yang didapatnya. Komitmen itu memang penting. Lebih penting lagi kesadaran kita untuk selalu berjuang.

Sebab, secara naluriah segala sesuatu berharapnya berjalan menuju yang lebih baik. Menuju perubahan. Bila tak ingin ketinggalan belum cukup untuk memotivasi kita melangkah jadi lebih baik. Tak ingin ditinggalkan bisa jadi jalan keluar lain. Karena kita seharusnya tak ingin jadi penghambat untuk orang lain terlambat.

Karena tidak selalu (si)apa-apa itu akan secara sukarela memaklumi keterlambatanmu. Memaklumi ketidaktepatan komitmenmu. Karena kembali lagi dengan naluriah kita semua di atas, segalanya inginnya mendapat sesuatu yang lebih baik.

Mudah-mudahan dengan pemahaman itu, cukup menjadi alarm pribadi kita, jika sedang dalam keadaan futur, jika sedang di situasi yang tak teratur.

Semoga.

#azurazie_

Januari 20, 2019

CERMIN

Jodoh adalah cerminan diri.

Sebelum menikah, kalimat di atas hanya terasa tidak lebih dari sekadar kata-kata kiasan. Sebagai motivasi untuk mendapatkan teman hidup sesuai dengan harapan kita. Yang baik untuk yang baik dan sebaliknya.

Tapi, setelah menikahi @sekitar_putri rasanya-rasanya kalimat di atas jadi lebih 'hidup'. Bukan lagi sekadar kata-kata kiasan. Setiap harinya, sejak bangun, hingga tidur lagi saya seakan sedang melihat cerminan diri saya sendiri. Melihat kembaran atau replika saya sendiri. Bagaimana cara ia bangun, pola ketika tidur. Bagaimana ia memperlakukan sesuatu, menanggapi sesuatu dan sifat-sifat lain yang sulit saya ceritakan melalui kata-kata. 

Meski tidak semua kebiasaan-kebiasaan kami itu sama, tapi semakin ke sini seakan ada satu dua atau lebih kebiasaan itu menular, melebur atau bahkan jadi tertukar. Hingga tidak sadar lagi kebiasaan siapa yang masih original.

Begitulah, bersamanya saya merasa sedang memandang cermin dengan lebih seksama. Sampai-sampai saya menyadari sesuatu, bahwa ketika kita sedang bercermin, itu tidak sekadar untuk terlihat lebih manis. Cermin menampilkan keadaan kita apa adanya, dan setelah itu kita berusaha untuk membuatnya terlihat lebih pantas. Intropeksi untuk lebih percaya diri.

Tulisan di bawah ini untuk yang masih berusaha mencari jodohnya.

Bila kalimat "jodoh adalah cerminan diri" masih terasa hanya sekadar kata-kata kiasan untukmu, tak apa. Tapi, cobalah pastikan cerminmu itu selalu dalam keadaan baik, (tidak retak, bernoda, kusam, dll) agar apa-apa yang akan ditampilkan oleh cermin tersebut adalah sebenar-benarnya tampilanmu. Tak ada yang ditutup-tutupi. Jujur untuk selalu jadi diri sendiri.

Pun sebaliknya, bila cermin itu memang sudah sempurna. Tapi, menampilkan sesuatu yang tidak kamu suka untuk melihatnya. Maka, yang perlu diperbaiki adalah dirimu agar cermin itu optimal untuk membuatmu menjadi lebih baik lagi. 

Dan untukmu @sekitar_putri aku tidak pernah keberatan untuk selalu bercermin kepadamu. Dalam keadaan bagaimana pun. Karena apa yang selalu kita tampilkan adalah selalu apa adanya.

@azurazie_

Januari 18, 2019

BUKU T(J)INTA YANG BERCERITA

T(J)inta Yang Bercerita

Seberapa banyak tinta-tinta itu telah bercerita melalui tulisan-tulisan yang pernah kita buat? Dari tulisan yang benar-benar niat untuk dituliskan atau sekadar iseng dalam bentuk coretan, komentar atau bahkan keluhan.
Seberapa banyak cinta-cinta itu bercerita dalam keseharian, melalui orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupan. Dari yang menetap lama, hingga yang sekadar berseliweran, singgah atau bahkan 'nyasar' tak bermaksud bersinggungan dalam hidup kita.

Seberapa banyak tinta-tinta tulisan itu mewakili cinta dan perasaan. Minimal apa yang sedang terlintas dalam pikiran.
Aku tidak pernah benar-benar iseng menghitungnya. Tapi, tinta-tinta itu akan selalu ada dan tersedia bila ingin menuliskan suatu cerita. Cinta itu akan selalu ada dan tersedia bila ingin mengungkapkan rasa.

T(J)inta Yang Bercerita.... apa adanya... #30Haribercerita
#30HBC19
#30HBC1917
#Nulisyuk
#Tjintayangbercerita
#Kumpulantulisan
#Azurazie_

Januari 15, 2019

MENGAMBIL KEPUTUSAN

Seberapa sering kita perlu mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup ini? Seberapa sering pula kita mengambil langkah istikharah untuk membulatkan keyakinan itu. Seberapa sering orang tua atau orang yang terdekat ikut andil dalam musyawarah. Memberi pendapat agar keputusan yang kita ambil benar-benar sesuatu yang tepat. Sesuatu yang kita mampu tanggung akibatnya. Kita mampu 'jawab' sebab-sebab prosesnya.

Bahwa, kehidupan ini tidaklah lepas dari keputusan-keputusan. Baik sesuatu yang sulit ataupun mudah.  Dan selalu berharap akan jauh dari keputusasaan. 

Seorang muslim tak akan berputus asa atas Rahmat Allah, untuk itu istikharah selalu memanggil untuk tiap-tiap langkah.

Seorang muslim selalu cenderung saling menasehati dalam kebaikan, untuk itu musyawarah mengetuk mufakat untuk tiap-tiap keputusan.
#azurazie

Januari 12, 2019

BAGAIMANA JIKA

Bagaimana jika selama ini ternyata sudut pandang kitalah yang keliru. Tentang memahami sesuatu. Tentang banyak hal yang sedang atau akan terjadi padamu.

Bahwa, yang selama ini kita sangkakan, nyatanya apa yang terlalu kita khawatirkan itu sudah berlebihan. Hingga selamanya kita tidak akan merasa cukup. Selamanya kita akan selalu berprasangka buruk.

Bagaimana jika kacamata yang selama ini kita pakai tidak membantu penglihatan kita menjadi lebih baik. Yang kita lihat selalu hal-hal yang dirasa tidak adil. Yang selalu dirasa kurang. 

Bahwa, apa-apa yang selalu kita harapkan, apabila jauh dari kenyataan. Tidak mudah untuk kita terima. Meskipun boleh jadi sebenarnya itulah yang saat ini lebih kita butuhkan.

Bagaimana jika apa-apa yang kita sesali, sesuatu yang telah terjadi, adalah takdir terbaik-Nya. Yang apabila kita mengalami itu, tidak kehilangan sesuatu itu, malah semakin menjauhkan diri dari rahmat-Nya. Semakin menjauhkan diri dari hal-hal yang lebih baik untuk ke depannya. 

Bagaimana jika apa-apa yang tidak kita ketahui adalah cara terbaik-Nya untuk menjaga kita dari rasa kecewa yang berlebihan. Yang apabila kita tahu malah membuat kita menyesal lebih dalam.

Bagaimana jika kita mulai berhenti berandai-andai dan mulai dengan yang namanya penerimaan.
@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1912
#30HBC19Jika
#30HBC19
#30HBCjika
#bagaimanajika
#jika
#tulisan
#azurazie_

Januari 10, 2019

NAMA-MU YANG MANA, YANG MASIH AKU DUSTAI?

Kudengar dengan lantang suara Salman sedang melantunkan Nama-Nama Agung-Mu di bilik kamarnya, ketika aku hendak menumpang ke kamar kecil gubug sederhana ini.

Suaranya merdu sekali. Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahiim, Ya Maalik, Ya Quddus, Ya Salam... Langkahku terhenti, hatiku terenyuh, sudah lama sekali rasanya aku tak lagi mendengar lantunan nama-nama itu. Dulu sewaktu kecil aku pernah berhasil menghapalnya. Kini.... entahlah aku tak yakin bisa melapalkannya dengan lancar sampai nama ke 99.
Salman melantunkannya dengan begitu khidmat hingga meresap ke relung hatiku. Mataku tiba-tiba merembas. Ada apa dengan keluarga kecil ini, lagi-lagi membuat kesadaranku terusik. Sadar, telah semakin jauh untuk bersungguh-sungguh mencinta-Mu.
Salman memandangi Nama-Mu, nenek menyebut-nyebut Nama-Mu. Sedangkan aku? Masih saja mendustai Nama-nama-Mu.

Sang Maha Pengasih... aku tak lagi sering berkeluh kesah kepada-Mu di sepertiga malam. Sang Maha Penyayang... aku tak lagi peka dan peduli dengan orang-orang sekitar ku. Terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Sang Maha Pemberi Rezeki... aku lebih sering mengeluh kekurangan dengan apa yang telah Engkau beri. Sang Maha Memberi Ketetapan... aku lebih sering tak terima dengan apa-apa yang telah terjadi dalam keseharian. Lebih sering bertanya, kenapa? Kenapa? Dan kenapa?

Semakin terhanyut dengan lantunan Salman, aku semakin bertanya-tanya. Nama-Nama-Mu mana lagi yang masih aku dustakan? Sang Maha apalagi yang membuat diri ini masih saja angkuh. Padahal tidaklah daya dan upaya tanpa KEMAHAAN-Mu.

Inikah yang membuat hatiku belakangan ini merasa sepi?

esuatu yang dibiarkan mengalir apa adanya. Tidak lagi diburu-buru. Biasanya malah mendekat begitu saja. Bahkan seringnya kita sudah hampir lupa dengannya. Pernah merasakan moment seperti itu?

Siang itu, ketika aku sedang berkemas untuk melangkah pulang. Tiba-tiba saja anak kecil itu menghampiriku. Mungkin Salman merasa perlu berterima kasih karena kemarin aku membantu membenarkan genting kamar mandi yang bocor. Sesuatu yang belum bisa ia lakukan sendiri di usianya.

Selepas itu, aku dan keluarga kecil itu menjadi lebih akrab. Meskipun aku lebih banyak mendengarkan cerita nenek dan Salman hanya sibuk membaca terjemahan Al-Qur'an. "Sudah mau pulang, Bang?"

"Ia, nih. Besok sudah harus masuk kerja lagi." Kataku, masih tidak menyangka anak itu mau bertanya.

"Kamu masih belum mau menjawab pertanyaan abang yang kemarin?" Kataku, berusaha sekali lagi. Meskipun kali ini tidak terlalu muluk ingin mengetahui teka-teki ini. Kenapa seorang Salman akan berdiri mematung bila mendengarkan suara adzan.

Salman kembali terdiam. "Tak apa, tak perlu dijawab. Abang cuma iseng bertanya. Jaga nenek baik-baik ya, Man. Insya Allah nanti abang kembali berkunjung." Ia mengangguk. "Bang, seberapa sering orang dewasa bertanya-tanya akan sesuatu. Padahal sebenarnya jawabannya sudah tahu." "Maksudmu?" Aku mengerutkan dahi.

"Ya, penasaran dengan ini-itu. Tapi, sebenarnya jawabannya tidak selalu perlu tahu." Aku masih tidak mengerti. Dari mana ia bisa berkata seperti itu. "Salman diam hanya karena butuh untuk diam. Butuh 5 waktu panggilan adzan hanya untuk diam mendengarkan. Diam mentaati panggilan illahi."

Hatiku mencelos. Entah kenapa mendengar jawaban Salman membuat perasaanku terasa lebih tenang. Entah karena penasaran berhari-hari itu baru mendapatkan jawabannya. Atau karena hal lain. 

Mungkin benar kata anak kecil itu, dari segitu banyak pertanyaan tentang hidup yang belum terungkap. Sebenarnya jawabannya hanyalah cukup diam. Diam menerima apa adanya. Mendengarkan dan mentaati sepenuh hati akan ketetapan-ketetapan-Nya. Kenapa hati suka begitu tiba-tiba kesepian. Jawabannya karena belum benar-benar adanya penerimaan.

#azurazie_ 

Januari 05, 2019

MENYEBUT NAMA-MU

Kota ini selalu ramai. Kontras sekali dengan perasaanku yang rasanya makin sepi saja. Barangkali memang kesepian tak bisa diakali dengan berada di tengah-tengah keramaian.

Selepas kemarin hatiku yang tiba-tiba bergetar hebat dikala memandang Nama-Mu. Rasanya aku mengerti, sepi ini bukan soal situasi di sekitar. Tapi, ketenangan hati yang kian hari semakin memudar.

Sepanjang perjalanan hari ini, aku bertemu banyak orang. Sekadar bertanya basi-basi, ingin tahu lebih banyak tentang situasi kota ini. Tiba-tiba saja aku melihat anak kecil kemarin sedang menjunjung sebuah tampah kosong di kepalanya. Jujur saja aku masih penasaran dengan anak ini. Aku buntuti saja, ingin tahu ia akan pergi ke mana. Untuk ukuran anak sekecil itu, langkah kakinya cepat sekali. Hampir saja aku kehilangan jejaknya. Hingga tiba-tiba ia berhenti di sebuah gubug sederhana di sudut gang kecil.

Ada seorang nenek yang sedang duduk di bale-bale kecil depan gubug itu. Sedang membuat anyaman tampah.

Aku pun memutuskan untuk bertamu dan memberi salam.

"Silakan duduk, Nak." Ujar nenek dengan ramah. Kulihat mulut sang nenek tidak pernah berhenti bergerak. Begitu juga dengan tangannya yang selalu bekerja. "Salman, tolong ambilkan minum untuk nak..."

"Saya, Jim, Nek. Nggak perlu repot-repot, Nek. Cuma sekadar lewat saja." Kataku memperkenalkan diri. Ternyata anak kecil itu bernama Salman.

"Nggak apa-apa, Nak Jim. Gubug ini jarang kedatangan tamu. Memuliakan tamu itu bisa membawa berkah. Alhamdulillah." Aku tersenyum, entah kenapa setiap nenek berbicara, terasa nyaman untuk didengar. 

Sekarang pun aku tahu, dari mulut sang nenek selalu terdengar lirih Nama-Mu. Allah... Allah... Allah.. sepanjang hembusan napasnya. Hatiku tiba-tiba mencelos.

Salman keluar membawa segelas air putih dan beberapa potong gorengan. Melihat kedatanganku seolah biasa saja di mata anak itu. Tidak terganggu sama sekali, seperti kami sebelumnya tidak pernah bertemu. Ia pun kembali masuk ke gubug. "Ayo, silakan Nak Jim dinikmati ala kadarnya." Allah... Allah... Allah..

"Terima kasih banyak, Nek." Aku meneguk air untuk menghargai. "Nek, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Semenjak kedua orangtuanya meninggal, anak itu memang jarang mau bicara." Allah... Allah... Allah... Ujar sang nenek menjawab kepenasaranku, sebelum ditanya. Aku benar-benar kagum, nenek selalu menyebut-nyebut nama-Mu sepanjang deru napasnya.

Aku mengangguk sembari mencicipi goreng pisang, ternyata rasanya enak sekali.

"3 hari ini saya ketemu Salman di Masjid Agung, ia selalu berdiri mematung saat mendengar adzan. Tapi, nggak ikutan shalat di sana."

"Mak tahu, itu yang mendorong nak Jim sampai ke sini." Allah... Allah... Allah... "Rasa penasaran yang berlebihan itu bahaya loh, Nak."

Aku menyeringai, seperti baru saja tertangkap basah. Mau bagaimana lagi, memang itulah faktanya.

"Nak, Salman itu tinggal satu-satunya keluarga yang mak punya. Hampir setiap malam, mak memikirkan masa depan anak itu. Bagaimana nanti kalau sudah hidup sebatang kara. Yang namanya umur, rahasia gusti Allah. Semakin tua, sudah seharusnya semakin mawas diri. Ya, dalam kondisi seperti ini, mak hanya bisa bergantung dengan Salman. Hanya anak itu mahrom mak yang bisa membantu menjaga komitmen seumur hidup." Allah... Allah... Allah...

"Komitmen seumur hidup, Nek? Boleh saya tahu apa itu?" Penasaranku bertambah banyak.

Nenek tersenyum meletakkan anyaman tampah yang selesai. "Menjaga wudhu dan shalat tepat waktu, Nak." Allah... Allah... Allah.... "Selepas adzan Salman pulang membantu mak untuk itu." 

Aku mulai paham alasannya.

"Terus kalau soal mematung di saat adzan, Nek?" Tak tahan aku untuk tak bertanya. "Soal itu hanya Salman yang tahu alasannya. Bukankah memang di saat panggilan agung itu, kita harus khusyu mendengarkan?" Allah... Allah... Allah...

Aku mengembuskan napas kecewa. Sepertinya rasa penasaranku kembali mengganjal untuk beberapa waktu ke depan. Apa yang membuat anak itu mematung di saat adzan berkumandang? Apa aku harus bertanya langsung ke orangnya? Sebenarnya untuk apa aku ingin tahu alasannya? Ya Allah benar adanya perkataan nenek tadi, penasaran yang berlebihan itu bahaya.
@azurazie_ 

Januari 04, 2019

MEMANDANG NAMA-MU

Ini hari ketiga aku ikut memandanginya. Dari sebuah teras masjid kota ini. Kota yang beberapa hari ini sengaja aku telusuri titik keramaiannya. Pernah mendengar istilah sepi di tengah ramai? Aku sedang menjalani kesepian itu.
Awalnya aku merasa heran, ketika melihat anak kecil umur kira-kira 7tahun. Berdiri mematung, memandang ke dalam masjid. Kala adzan berkumandang. Pakaiannya lusuh, rambut berantakan. Tidak beralas kaki. Sangat tidak ideal untuk dipakai melakukan shalat.

Ia sama sekali tidak bergeming ketika aku hampiri. Matanya tetap memandang lurus ke depan. Aku lihat sang muadzin masih lantang mengumadangkan adzan, berdiri di samping mimbar. Apa mungkin muadzin itu adalah sang ayah anak ini? Ia sengaja menunggu di depan teras, mungkin juga sesuai pesanan ayahnya. Itu yang aku kira di hari pertama aku menemukan anak itu. Berdiri mematung tak bergeming. Sayangnya, tidak sesuai perkiraanku. Setelah adzan selesai dikumandangkan. Anak itu berbalik arah dan pergi begitu saja. Membuat aku tambah heran. Kok bukannya malah mengambil wudhu? Ia malah pergi begitu saja meninggalkan masjid. Ah, sial! Aku sendiri malah ikutan belum wudhu.

Di hari kedua, ritual itu kembali digelar. Anak yang sama. Di waktu shalat yang sama. Dengan muadzin yang berbeda. Aku tambah yakin ini semua bukan tentang muadzinnya. Lalu sebenarnya apa yang dipandangi oleh anak itu? Kenapa ia begitu khusyu melakukannya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Meskipun beberapa kali aku penasaran bertanya. Hari kedua aku tidak terlalu ambil pusing. Kutinggalkan anak itu sebelum ia menyelesaikan ritualnya. Sebelum sang muadzin menyelesaikan tugasnya. Aku memilih ikut antri mengambil wudhu. Masjid ini selalu ramai. Aku tidak ingin bernasib seperti kemarin. Lalai berwudhu karena memperhatikan anak kecil itu.

Apa mungkin manusia itu dirancang untuk mengikuti rasa penasarannya? Dan tak akan mudah berhenti, bila sesuatu yang ia ingin tahu, belum juga ada yang benar-benar memberitahu.

Bagaimana mungkin aku dibuat penasaran oleh ulah anak kecil kumal ini. Sudah hari ketiga ia membuatku gemas dengan perilakunya. Hari ketiga aku ikut mematung memandang ke dalam sebuah masjid kota ini. Saking penasarannya, sebelum waktu adzan dzuhur, tadi aku sengaja mengambil wudhu lebih dulu. Dan sengaja pula berdiri lebih dulu di tempat anak kecil itu biasa mematung sendiri. Benar saja, tidak lama kemudian ia datang kembali tanpa basa-basi. Seolah tidak terganggu dengan keberadaanku. Pandangannya fokus ke depan, sejak kumandang adzan berlangsung.
Kini ada 2 orang yang tengah mematung memandang jauh ke dalam sebuah masjid kota ini. Barangkali sudah banyak mata yang merasa heran. Atau perasaanku saja, biasanya orang lain tidak terlalu peduli dengan orang-orang sekitarnya.

Satu menit bertahan, kakiku mulai pegal-pegal. Mulai merasa konyol dengan apa yang aku lakukan. Kenapa pula aku ikut-ikutan kebiasaan anak kecil ini.

Hingga tiba-tiba entah kenapa hatiku mulai bergetar. Aku tahu, apa yang ia pandangi dalam tiga hari ini. Ukiran nama-Mu, ya Rabb. Nama Agung itu menempel indah di dinding sebelah kanan dari posisi muadzin mengajak panggilan shalat. Masya Allah, sungguh hatiku tambah bergetar. Memandangi nama-Mu dengan fokus. Apa ini yang dalam 3 hari kemarin dirasakan oleh anak kecil itu? Seolah waktu berhenti berputar. Seolah ia sedang berdiri sendiri di dunia ini. Menikmati memandang nama Agung-Mu dengan begitu takjub. Meninggalkan hiruk-pikuk dunia di sekitarnya.

Tak sadar mataku mulai memanas. Rembas. Seolah baru saja diberi kesadaran, bukankah sudah seharusnya begitu bila ada panggilan adzan. Mendengarkan dengan fokus tanpa melakukan aktivitas apa-apa.
Saat sedang begitu terhanyut dengan perasaan yang baru saja terjadi. Aku sedikit terkejut ketika anak kecil itu tiba-tiba berlari meninggalkan teras masjid. Adzan sudah berakhir. Meninggalkan pertanyaan baru, kenapa ia tidak pernah ikut shalat di masjid ini?

@azurazie_ 

Januari 02, 2019

KULINER LITERASI

Kesan pertama kali mengikuti event @30haribercerita  seperti sedang berada di #kulinerliterasi. Dengan suguhkan aneka tulisan yang beragam. Membaca satu demi satu tulisan-tulisan yang berserak di #30haribercerita. Yang mau tidak mau membuat dirimu menikmati yang namanya kekenyangan. Kenyang yang membawa nikmat. Tak terasa sudah berapa banyak tulisan-tulisan itu yang berhasil kamu baca dengan baik dan seksama. Dan rasanya masih terus ketagihan karenanya. Ooh, bagaimana bila diteruskan malah menjadi candu?

Tidak hanya sampai disitu, dirimu pun akan merasa sedikit keheranan. Kok bisa ya mereka menulis mengalir seperti itu? Ada saja ide ceritanya. Kok bisa kepikiran sampai situ. Wow!

Mungkin itulah yang akan dirasa, bila sedang berada di dunia yang kita suka. Semacam katarsis yang sama. #tulisan. Bukan sekadar kecipratan tapi kuyup karena sengaja menyelam sampai dalam-dalam.
Dunia yang di dalamnya kita merasa menjadi diri sendiri dengan sepenuh hati. Tidak lagi merasa sendirian karena akan selalu ada yang mau meluangkan waktu untuk mendengarkan. Bukankah itu keinginan dasar kita ketika sedang bercerita? Sedang menulis.

Semoga #kulinerliterasi ini menjadi satu kebiasaan yang baik. Berbagi hal yang positif dan terus menginspirasi. 
\
Ini hari ke-2 #30HBC1902 semoga istiqomah menjalaninya.
Tak lupa terima kasih sedalam-dalamnya untuk @30Haribercerita dan kepada sahabat-sahabat semua yang ikut serta meramaikannya.
#30haribercerita
#30hbc1902
#tulisan
#azurazie_

Januari 01, 2019

PELETAKAN KATA PERTAMA

Bismillah.
Waktunya peletakan kata pertama. Kata yang menjadi pondasi awal untuk permulaan semua. Tentang harapan, doa dalam kebaikan, tujuan-tujuan yang perlu diperjuangkan, terutama tentang konsistensinya. Tentang ke-istiqomahan-nya. Haruslah kokoh. Berazam yang kuat dan sungguh-sungguh.

Kata yang menjadi pembuka bab awal sebuah cerita. Tentang tulisan-tulisan yang kedepannya harus selalu ‘mengalir’ dalam ruang imaji. Mengalir dalam mengutarakan perasaan-perasaan. Katarsis yang baik dalam bentuk tulisan. Kata yang menjadi pengingat di kala nanti akan ada masanya kembali susah untuk berpikir. Block writer.

Peletakan kata pertama ini perlu dirayakan. Mengundang banyak orang untuk bantu mendoakan. Minimal harus selalu ada telapak tangan yang menepuk bahu itu, seraya berkata : bersabarlah! Pada waktunya kata demi kata itu akan selalu membentuk tulisan-tulisan yang bermanfaat. Minimal untuk dirimu sendiri. Alih-alih bisa untuk banyak orang. Maka, selesaikanlah apa-apa yang sudah dimulai.

Minimal akan ada yang mengingatkan bahwa selepas peletakan kata pertama itu, 'pembangunan’ ini barulah resmi dimulai. Membangun kebiasaan baik. Yang bagaimana pun caranya, bagaimana pun rintangannya haruslah selesai sesuai dengan tujuan semula. Peletakan yang tidak akan berakhir sia-sia. Sebatas seremonial belaka.

Waktunya peletakan kata pertama. Bismillah. La haula wala quwwata illa billah.

Bogor, 01 Januari 2019
@azurazie_