Januari 20, 2019

CERMIN

Jodoh adalah cerminan diri.

Sebelum menikah, kalimat di atas hanya terasa tidak lebih dari sekadar kata-kata kiasan. Sebagai motivasi untuk mendapatkan teman hidup sesuai dengan harapan kita. Yang baik untuk yang baik dan sebaliknya.

Tapi, setelah menikahi @sekitar_putri rasanya-rasanya kalimat di atas jadi lebih 'hidup'. Bukan lagi sekadar kata-kata kiasan. Setiap harinya, sejak bangun, hingga tidur lagi saya seakan sedang melihat cerminan diri saya sendiri. Melihat kembaran atau replika saya sendiri. Bagaimana cara ia bangun, pola ketika tidur. Bagaimana ia memperlakukan sesuatu, menanggapi sesuatu dan sifat-sifat lain yang sulit saya ceritakan melalui kata-kata.
Meski tidak semua kebiasaan-kebiasaan kami itu sama, tapi semakin ke sini seakan ada satu dua atau lebih kebiasaan itu menular, melebur atau bahkan jadi tertukar. Hingga tidak sadar lagi kebiasaan siapa yang masih original.

Begitulah, bersamanya saya merasa sedang memandang cermin dengan lebih seksama. Sampai-sampai saya menyadari sesuatu, bahwa ketika kita sedang bercermin, itu tidak sekadar untuk terlihat lebih manis. Cermin menampilkan keadaan kita apa adanya, dan setelah itu kita berusaha untuk membuatnya terlihat lebih pantas. Intropeksi untuk lebih percaya diri.

Tulisan di bawah ini untuk yang masih berusaha mencari jodohnya.

Bila kalimat "jodoh adalah cerminan diri" masih terasa hanya sekadar kata-kata kiasan untukmu, tak apa. Tapi, cobalah pastikan cerminmu itu selalu dalam keadaan baik, (tidak retak, bernoda, kusam, dll) agar apa-apa yang akan ditampilkan oleh cermin tersebut adalah sebenar-benarnya tampilanmu. Tak ada yang ditutup-tutupi. Jujur untuk selalu jadi diri sendiri.

Pun sebaliknya, bila cermin itu memang sudah sempurna. Tapi, menampilkan sesuatu yang tidak kamu suka untuk melihatnya. Maka, yang perlu diperbaiki adalah dirimu agar cermin itu optimal untuk membuatmu menjadi lebih baik lagi.
Dan untukmu @sekitar_putri aku tidak pernah keberatan untuk selalu bercermin kepadamu. Dalam keadaan bagaimana pun. Karena apa yang selalu kita tampilkan adalah selalu apa adanya.

@azurazie_

Januari 18, 2019

BUKU T(J)INTA YANG BERCERITA

T(J)inta Yang Bercerita

Seberapa banyak tinta-tinta itu telah bercerita melalui tulisan-tulisan yang pernah kita buat? Dari tulisan yang benar-benar niat untuk dituliskan atau sekadar iseng dalam bentuk coretan, komentar atau bahkan keluhan.
Seberapa banyak cinta-cinta itu bercerita dalam keseharian, melalui orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupan. Dari yang menetap lama, hingga yang sekadar berseliweran, singgah atau bahkan 'nyasar' tak bermaksud bersinggungan dalam hidup kita.

Seberapa banyak tinta-tinta tulisan itu mewakili cinta dan perasaan. Minimal apa yang sedang terlintas dalam pikiran.
Aku tidak pernah benar-benar iseng menghitungnya. Tapi, tinta-tinta itu akan selalu ada dan tersedia bila ingin menuliskan suatu cerita. Cinta itu akan selalu ada dan tersedia bila ingin mengungkapkan rasa.

T(J)inta Yang Bercerita.... apa adanya... #30Haribercerita
#30HBC19
#30HBC1917
#Nulisyuk
#Tjintayangbercerita
#Kumpulantulisan
#Azurazie_

Januari 15, 2019

MENGAMBIL KEPUTUSAN

Seberapa sering kita perlu mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup ini? Seberapa sering pula kita mengambil langkah istikharah untuk membulatkan keyakinan itu. Seberapa sering orang tua atau orang yang terdekat ikut andil dalam musyawarah. Memberi pendapat agar keputusan yang kita ambil benar-benar sesuatu yang tepat. Sesuatu yang kita mampu tanggung akibatnya. Kita mampu 'jawab' sebab-sebab prosesnya.

Bahwa, kehidupan ini tidaklah lepas dari keputusan-keputusan. Baik sesuatu yang sulit ataupun mudah.  Dan selalu berharap akan jauh dari keputusasaan. 

Seorang muslim tak akan berputus asa atas Rahmat Allah, untuk itu istikharah selalu memanggil untuk tiap-tiap langkah.

Seorang muslim selalu cenderung saling menasehati dalam kebaikan, untuk itu musyawarah mengetuk mufakat untuk tiap-tiap keputusan.
#azurazie

Januari 12, 2019

BAGAIMANA JIKA

Bagaimana jika selama ini ternyata sudut pandang kitalah yang keliru. Tentang memahami sesuatu. Tentang banyak hal yang sedang atau akan terjadi padamu.

Bahwa, yang selama ini kita sangkakan, nyatanya apa yang terlalu kita khawatirkan itu sudah berlebihan. Hingga selamanya kita tidak akan merasa cukup. Selamanya kita akan selalu berprasangka buruk.

Bagaimana jika kacamata yang selama ini kita pakai tidak membantu penglihatan kita menjadi lebih baik. Yang kita lihat selalu hal-hal yang dirasa tidak adil. Yang selalu dirasa kurang. 

Bahwa, apa-apa yang selalu kita harapkan, apabila jauh dari kenyataan. Tidak mudah untuk kita terima. Meskipun boleh jadi sebenarnya itulah yang saat ini lebih kita butuhkan.

Bagaimana jika apa-apa yang kita sesali, sesuatu yang telah terjadi, adalah takdir terbaik-Nya. Yang apabila kita mengalami itu, tidak kehilangan sesuatu itu, malah semakin menjauhkan diri dari rahmat-Nya. Semakin menjauhkan diri dari hal-hal yang lebih baik untuk ke depannya. 

Bagaimana jika apa-apa yang tidak kita ketahui adalah cara terbaik-Nya untuk menjaga kita dari rasa kecewa yang berlebihan. Yang apabila kita tahu malah membuat kita menyesal lebih dalam.

Bagaimana jika kita mulai berhenti berandai-andai dan mulai dengan yang namanya penerimaan.
@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1912
#30HBC19Jika
#30HBC19
#30HBCjika
#bagaimanajika
#jika
#tulisan
#azurazie_

Januari 10, 2019

NAMA-MU YANG MANA, YANG MASIH AKU DUSTAI?

Kudengar dengan lantang suara Salman sedang melantunkan Nama-Nama Agung-Mu di bilik kamarnya, ketika aku hendak menumpang ke kamar kecil gubug sederhana ini.

Suaranya merdu sekali. Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahiim, Ya Maalik, Ya Quddus, Ya Salam... Langkahku terhenti, hatiku terenyuh, sudah lama sekali rasanya aku tak lagi mendengar lantunan nama-nama itu. Dulu sewaktu kecil aku pernah berhasil menghapalnya. Kini.... entahlah aku tak yakin bisa melapalkannya dengan lancar sampai nama ke 99.
Salman melantunkannya dengan begitu khidmat hingga meresap ke relung hatiku. Mataku tiba-tiba merembas. Ada apa dengan keluarga kecil ini, lagi-lagi membuat kesadaranku terusik. Sadar, telah semakin jauh untuk bersungguh-sungguh mencinta-Mu.
Salman memandangi Nama-Mu, nenek menyebut-nyebut Nama-Mu. Sedangkan aku? Masih saja mendustai Nama-nama-Mu.

Sang Maha Pengasih... aku tak lagi sering berkeluh kesah kepada-Mu di sepertiga malam. Sang Maha Penyayang... aku tak lagi peka dan peduli dengan orang-orang sekitar ku. Terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Sang Maha Pemberi Rezeki... aku lebih sering mengeluh kekurangan dengan apa yang telah Engkau beri. Sang Maha Memberi Ketetapan... aku lebih sering tak terima dengan apa-apa yang telah terjadi dalam keseharian. Lebih sering bertanya, kenapa? Kenapa? Dan kenapa?

Semakin terhanyut dengan lantunan Salman, aku semakin bertanya-tanya. Nama-Nama-Mu mana lagi yang masih aku dustakan? Sang Maha apalagi yang membuat diri ini masih saja angkuh. Padahal tidaklah daya dan upaya tanpa KEMAHAAN-Mu.

Inikah yang membuat hatiku belakangan ini merasa sepi?

esuatu yang dibiarkan mengalir apa adanya. Tidak lagi diburu-buru. Biasanya malah mendekat begitu saja. Bahkan seringnya kita sudah hampir lupa dengannya. Pernah merasakan moment seperti itu?

Siang itu, ketika aku sedang berkemas untuk melangkah pulang. Tiba-tiba saja anak kecil itu menghampiriku. Mungkin Salman merasa perlu berterima kasih karena kemarin aku membantu membenarkan genting kamar mandi yang bocor. Sesuatu yang belum bisa ia lakukan sendiri di usianya.

Selepas itu, aku dan keluarga kecil itu menjadi lebih akrab. Meskipun aku lebih banyak mendengarkan cerita nenek dan Salman hanya sibuk membaca terjemahan Al-Qur'an. "Sudah mau pulang, Bang?"

"Ia, nih. Besok sudah harus masuk kerja lagi." Kataku, masih tidak menyangka anak itu mau bertanya.

"Kamu masih belum mau menjawab pertanyaan abang yang kemarin?" Kataku, berusaha sekali lagi. Meskipun kali ini tidak terlalu muluk ingin mengetahui teka-teki ini. Kenapa seorang Salman akan berdiri mematung bila mendengarkan suara adzan.

Salman kembali terdiam. "Tak apa, tak perlu dijawab. Abang cuma iseng bertanya. Jaga nenek baik-baik ya, Man. Insya Allah nanti abang kembali berkunjung." Ia mengangguk. "Bang, seberapa sering orang dewasa bertanya-tanya akan sesuatu. Padahal sebenarnya jawabannya sudah tahu." "Maksudmu?" Aku mengerutkan dahi.

"Ya, penasaran dengan ini-itu. Tapi, sebenarnya jawabannya tidak selalu perlu tahu." Aku masih tidak mengerti. Dari mana ia bisa berkata seperti itu. "Salman diam hanya karena butuh untuk diam. Butuh 5 waktu panggilan adzan hanya untuk diam mendengarkan. Diam mentaati panggilan illahi."

Hatiku mencelos. Entah kenapa mendengar jawaban Salman membuat perasaanku terasa lebih tenang. Entah karena penasaran berhari-hari itu baru mendapatkan jawabannya. Atau karena hal lain. 

Mungkin benar kata anak kecil itu, dari segitu banyak pertanyaan tentang hidup yang belum terungkap. Sebenarnya jawabannya hanyalah cukup diam. Diam menerima apa adanya. Mendengarkan dan mentaati sepenuh hati akan ketetapan-ketetapan-Nya. Kenapa hati suka begitu tiba-tiba kesepian. Jawabannya karena belum benar-benar adanya penerimaan.

#azurazie_ 

Januari 05, 2019

MENYEBUT NAMA-MU

Kota ini selalu ramai. Kontras sekali dengan perasaanku yang rasanya makin sepi saja. Barangkali memang kesepian tak bisa diakali dengan berada di tengah-tengah keramaian.

Selepas kemarin hatiku yang tiba-tiba bergetar hebat dikala memandang Nama-Mu. Rasanya aku mengerti, sepi ini bukan soal situasi di sekitar. Tapi, ketenangan hati yang kian hari semakin memudar.

Sepanjang perjalanan hari ini, aku bertemu banyak orang. Sekadar bertanya basi-basi, ingin tahu lebih banyak tentang situasi kota ini. Tiba-tiba saja aku melihat anak kecil kemarin sedang menjunjung sebuah tampah kosong di kepalanya. Jujur saja aku masih penasaran dengan anak ini. Aku buntuti saja, ingin tahu ia akan pergi ke mana. Untuk ukuran anak sekecil itu, langkah kakinya cepat sekali. Hampir saja aku kehilangan jejaknya. Hingga tiba-tiba ia berhenti di sebuah gubug sederhana di sudut gang kecil.

Ada seorang nenek yang sedang duduk di bale-bale kecil depan gubug itu. Sedang membuat anyaman tampah.

Aku pun memutuskan untuk bertamu dan memberi salam.

"Silakan duduk, Nak." Ujar nenek dengan ramah. Kulihat mulut sang nenek tidak pernah berhenti bergerak. Begitu juga dengan tangannya yang selalu bekerja. "Salman, tolong ambilkan minum untuk nak..."

"Saya, Jim, Nek. Nggak perlu repot-repot, Nek. Cuma sekadar lewat saja." Kataku memperkenalkan diri. Ternyata anak kecil itu bernama Salman.

"Nggak apa-apa, Nak Jim. Gubug ini jarang kedatangan tamu. Memuliakan tamu itu bisa membawa berkah. Alhamdulillah." Aku tersenyum, entah kenapa setiap nenek berbicara, terasa nyaman untuk didengar. 

Sekarang pun aku tahu, dari mulut sang nenek selalu terdengar lirih Nama-Mu. Allah... Allah... Allah.. sepanjang hembusan napasnya. Hatiku tiba-tiba mencelos.

Salman keluar membawa segelas air putih dan beberapa potong gorengan. Melihat kedatanganku seolah biasa saja di mata anak itu. Tidak terganggu sama sekali, seperti kami sebelumnya tidak pernah bertemu. Ia pun kembali masuk ke gubug. "Ayo, silakan Nak Jim dinikmati ala kadarnya." Allah... Allah... Allah..

"Terima kasih banyak, Nek." Aku meneguk air untuk menghargai. "Nek, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Semenjak kedua orangtuanya meninggal, anak itu memang jarang mau bicara." Allah... Allah... Allah... Ujar sang nenek menjawab kepenasaranku, sebelum ditanya. Aku benar-benar kagum, nenek selalu menyebut-nyebut nama-Mu sepanjang deru napasnya.

Aku mengangguk sembari mencicipi goreng pisang, ternyata rasanya enak sekali.

"3 hari ini saya ketemu Salman di Masjid Agung, ia selalu berdiri mematung saat mendengar adzan. Tapi, nggak ikutan shalat di sana."

"Mak tahu, itu yang mendorong nak Jim sampai ke sini." Allah... Allah... Allah... "Rasa penasaran yang berlebihan itu bahaya loh, Nak."

Aku menyeringai, seperti baru saja tertangkap basah. Mau bagaimana lagi, memang itulah faktanya.

"Nak, Salman itu tinggal satu-satunya keluarga yang mak punya. Hampir setiap malam, mak memikirkan masa depan anak itu. Bagaimana nanti kalau sudah hidup sebatang kara. Yang namanya umur, rahasia gusti Allah. Semakin tua, sudah seharusnya semakin mawas diri. Ya, dalam kondisi seperti ini, mak hanya bisa bergantung dengan Salman. Hanya anak itu mahrom mak yang bisa membantu menjaga komitmen seumur hidup." Allah... Allah... Allah...

"Komitmen seumur hidup, Nek? Boleh saya tahu apa itu?" Penasaranku bertambah banyak.

Nenek tersenyum meletakkan anyaman tampah yang selesai. "Menjaga wudhu dan shalat tepat waktu, Nak." Allah... Allah... Allah.... "Selepas adzan Salman pulang membantu mak untuk itu." 

Aku mulai paham alasannya.

"Terus kalau soal mematung di saat adzan, Nek?" Tak tahan aku untuk tak bertanya. "Soal itu hanya Salman yang tahu alasannya. Bukankah memang di saat panggilan agung itu, kita harus khusyu mendengarkan?" Allah... Allah... Allah...

Aku mengembuskan napas kecewa. Sepertinya rasa penasaranku kembali mengganjal untuk beberapa waktu ke depan. Apa yang membuat anak itu mematung di saat adzan berkumandang? Apa aku harus bertanya langsung ke orangnya? Sebenarnya untuk apa aku ingin tahu alasannya? Ya Allah benar adanya perkataan nenek tadi, penasaran yang berlebihan itu bahaya.
@azurazie_ 

Januari 04, 2019

MEMANDANG NAMA-MU

ni hari ketiga aku ikut memandanginya. Dari sebuah teras masjid kota ini. Kota yang beberapa hari ini sengaja aku telusuri titik keramaiannya. Pernah mendengar istilah sepi di tengah ramai? Aku sedang menjalani kesepian itu.
Awalnya aku merasa heran, ketika melihat anak kecil umur kira-kira 7tahun. Berdiri mematung, memandang ke dalam masjid. Kala adzan berkumandang. Pakaiannya lusuh, rambut berantakan. Tidak beralas kaki. Sangat tidak ideal untuk dipakai melakukan shalat.

Ia sama sekali tidak bergeming ketika aku hampiri. Matanya tetap memandang lurus ke depan. Aku lihat sang muadzin masih lantang mengumadangkan adzan, berdiri di samping mimbar. Apa mungkin muadzin itu adalah sang ayah anak ini? Ia sengaja menunggu di depan teras, mungkin juga sesuai pesanan ayahnya. Itu yang aku kira di hari pertama aku menemukan anak itu. Berdiri mematung tak bergeming. Sayangnya, tidak sesuai perkiraanku. Setelah adzan selesai dikumandangkan. Anak itu berbalik arah dan pergi begitu saja. Membuat aku tambah heran. Kok bukannya malah mengambil wudhu? Ia malah pergi begitu saja meninggalkan masjid. Ah, sial! Aku sendiri malah ikutan belum wudhu.

Di hari kedua, ritual itu kembali digelar. Anak yang sama. Di waktu shalat yang sama. Dengan muadzin yang berbeda. Aku tambah yakin ini semua bukan tentang muadzinnya. Lalu sebenarnya apa yang dipandangi oleh anak itu? Kenapa ia begitu khusyu melakukannya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Meskipun beberapa kali aku penasaran bertanya. Hari kedua aku tidak terlalu ambil pusing. Kutinggalkan anak itu sebelum ia menyelesaikan ritualnya. Sebelum sang muadzin menyelesaikan tugasnya. Aku memilih ikut antri mengambil wudhu. Masjid ini selalu ramai. Aku tidak ingin bernasib seperti kemarin. Lalai berwudhu karena memperhatikan anak kecil itu.

Apa mungkin manusia itu dirancang untuk mengikuti rasa penasarannya? Dan tak akan mudah berhenti, bila sesuatu yang ia ingin tahu, belum juga ada yang benar-benar memberitahu.

Bagaimana mungkin aku dibuat penasaran oleh ulah anak kecil kumal ini. Sudah hari ketiga ia membuatku gemas dengan perilakunya. Hari ketiga aku ikut mematung memandang ke dalam sebuah masjid kota ini. Saking penasarannya, sebelum waktu adzan dzuhur, tadi aku sengaja mengambil wudhu lebih dulu. Dan sengaja pula berdiri lebih dulu di tempat anak kecil itu biasa mematung sendiri. Benar saja, tidak lama kemudian ia datang kembali tanpa basa-basi. Seolah tidak terganggu dengan keberadaanku. Pandangannya fokus ke depan, sejak kumandang adzan berlangsung.
Kini ada 2 orang yang tengah mematung memandang jauh ke dalam sebuah masjid kota ini. Barangkali sudah banyak mata yang merasa heran. Atau perasaanku saja, biasanya orang lain tidak terlalu peduli dengan orang-orang sekitarnya.

Satu menit bertahan, kakiku mulai pegal-pegal. Mulai merasa konyol dengan apa yang aku lakukan. Kenapa pula aku ikut-ikutan kebiasaan anak kecil ini.

Hingga tiba-tiba entah kenapa hatiku mulai bergetar. Aku tahu, apa yang ia pandangi dalam tiga hari ini. Ukiran nama-Mu, ya Rabb. Nama Agung itu menempel indah di dinding sebelah kanan dari posisi muadzin mengajak panggilan shalat. Masya Allah, sungguh hatiku tambah bergetar. Memandangi nama-Mu dengan fokus. Apa ini yang dalam 3 hari kemarin dirasakan oleh anak kecil itu? Seolah waktu berhenti berputar. Seolah ia sedang berdiri sendiri di dunia ini. Menikmati memandang nama Agung-Mu dengan begitu takjub. Meninggalkan hiruk-pikuk dunia di sekitarnya.

Tak sadar mataku mulai memanas. Rembas. Seolah baru saja diberi kesadaran, bukankah sudah seharusnya begitu bila ada panggilan adzan. Mendengarkan dengan fokus tanpa melakukan aktivitas apa-apa.
Saat sedang begitu terhanyut dengan perasaan yang baru saja terjadi. Aku sedikit terkejut ketika anak kecil itu tiba-tiba berlari meninggalkan teras masjid. Adzan sudah berakhir. Meninggalkan pertanyaan baru, kenapa ia tidak pernah ikut shalat di masjid ini?

@azurazie_ 

Januari 02, 2019

KULINER LITERASI

Kesan pertama kali mengikuti event @30haribercerita  seperti sedang berada di #kulinerliterasi. Dengan suguhkan aneka tulisan yang beragam. Membaca satu demi satu tulisan-tulisan yang berserak di #30haribercerita. Yang mau tidak mau membuat dirimu menikmati yang namanya kekenyangan. Kenyang yang membawa nikmat. Tak terasa sudah berapa banyak tulisan-tulisan itu yang berhasil kamu baca dengan baik dan seksama. Dan rasanya masih terus ketagihan karenanya. Ooh, bagaimana bila diteruskan malah menjadi candu?

Tidak hanya sampai disitu, dirimu pun akan merasa sedikit keheranan. Kok bisa ya mereka menulis mengalir seperti itu? Ada saja ide ceritanya. Kok bisa kepikiran sampai situ. Wow!

Mungkin itulah yang akan dirasa, bila sedang berada di dunia yang kita suka. Semacam katarsis yang sama. #tulisan. Bukan sekadar kecipratan tapi kuyup karena sengaja menyelam sampai dalam-dalam.
Dunia yang di dalamnya kita merasa menjadi diri sendiri dengan sepenuh hati. Tidak lagi merasa sendirian karena akan selalu ada yang mau meluangkan waktu untuk mendengarkan. Bukankah itu keinginan dasar kita ketika sedang bercerita? Sedang menulis.

Semoga #kulinerliterasi ini menjadi satu kebiasaan yang baik. Berbagi hal yang positif dan terus menginspirasi. 
\
Ini hari ke-2 #30HBC1902 semoga istiqomah menjalaninya.
Tak lupa terima kasih sedalam-dalamnya untuk @30Haribercerita dan kepada sahabat-sahabat semua yang ikut serta meramaikannya.
#30haribercerita
#30hbc1902
#tulisan
#azurazie_

Januari 01, 2019

PELETAKAN KATA PERTAMA

Bismillah.
Waktunya peletakan kata pertama. Kata yang menjadi pondasi awal untuk permulaan semua. Tentang harapan, doa dalam kebaikan, tujuan-tujuan yang perlu diperjuangkan, terutama tentang konsistensinya. Tentang ke-istiqomahan-nya. Haruslah kokoh. Berazam yang kuat dan sungguh-sungguh.

Kata yang menjadi pembuka bab awal sebuah cerita. Tentang tulisan-tulisan yang kedepannya harus selalu ‘mengalir’ dalam ruang imaji. Mengalir dalam mengutarakan perasaan-perasaan. Katarsis yang baik dalam bentuk tulisan. Kata yang menjadi pengingat di kala nanti akan ada masanya kembali susah untuk berpikir. Block writer.

Peletakan kata pertama ini perlu dirayakan. Mengundang banyak orang untuk bantu mendoakan. Minimal harus selalu ada telapak tangan yang menepuk bahu itu, seraya berkata : bersabarlah! Pada waktunya kata demi kata itu akan selalu membentuk tulisan-tulisan yang bermanfaat. Minimal untuk dirimu sendiri. Alih-alih bisa untuk banyak orang. Maka, selesaikanlah apa-apa yang sudah dimulai.

Minimal akan ada yang mengingatkan bahwa selepas peletakan kata pertama itu, 'pembangunan’ ini barulah resmi dimulai. Membangun kebiasaan baik. Yang bagaimana pun caranya, bagaimana pun rintangannya haruslah selesai sesuai dengan tujuan semula. Peletakan yang tidak akan berakhir sia-sia. Sebatas seremonial belaka.

Waktunya peletakan kata pertama. Bismillah. La haula wala quwwata illa billah.

Bogor, 01 Januari 2019
@azurazie_