Maret 16, 2019

APA AKU SUDAH TERLALU TUA UNTUK BENAR-BENAR MERASA CINTA?

Tadinya aku sudah ingin bergegas untuk ikut memenuhi shaf-shaf yang kosong untuk menunaikan shalat maghrib, tapi demi adab aku urungkan ketika melihat Abah Anom masih meniti anak tangga. Usianya sudah hampir satu abad, tapi semangat untuk shalat berjamaah di masjid tidak pernah absen.
“Duluan saja Nak Jim, orang tua ini mah jalannya sudah mirip siput.” Abah Anom bergurau menoleh ke arahku.

“Nggak apa-apa Abah, saya di belakang Abah saja.” Kataku menolak permintaannya dengan sopan. Meski sudah sepuh dan langkah sudah kurang jejak, Abah Anom tidak mau sama sekali dibantu untuk sekadar dipapah oleh orang lain.

Suasana masjid sudah mulai ramai dengan anak-anak yang sibuk bercanda. Mengganggu kekhusuan shalat sunnah orang-orang dewasa.

“Ssssst jangan bercanda anak-anak. Berisik. Jangan lari-larian.” Suara salah satu jamaah dewasa dengan nada yang sedikit membentak.

Aku melihat Abah Anom menggeleng, sejenak langkahnya berhenti di ambang pintu masjid. Tiba-tiba saja wajahnya murung, nampak sedih.

“Ada apa Abah?” Hati-hati aku bertanya.

“Kau tahu Nak, Jim. Usia masjid ini jauh lebih tua dari usia abah, tapi suasananya masih saja nggak berubah dari dulu sejak abah seusia mereka. Abah suka sedih kalau mendengar anak-anak itu dibentak karena berisik.”

“Kalau boleh tahu kenapa jadi sedih, Abah?”

“Kau tahu Nak, dulu semasa kecil tingkah laku abah seperti mereka, bahkan bisa dibilang paling bandel. Abah punya genk sepuluh orang yang selalu membuat rusuh shalat berjamaah. Ada saja keusilan dari kami, dari mulai melorotin kain sarung, lempar-lemparan kopiah sampai berlomba mengucap amin dengan sangat kencang. Banyak orang dewasa yang menegur dan kesal karena merasa terganggu. Tapi kami nggak ada kapoknya. Semakin dilarang justru semakin ngeyel.”

Aku menggangguk, ternyata dari masa ke masa anak-anak sudah begitu kelakukannya kalau berada di masjid.

“Suatu waktu Abah Muallim Jufri, guru ngaji di kampung abah, sengaja mengumpulkan kami sehabis shalat Maghrib. Abah kira kami akan kena omelan lagi. Tapi ternyata nggak. Abah Muallim Jufri hanya menunduk lama menahan sedih. Lama sekali kami menunggu, hingga Abah Muallim mulai bicara”

“Nak, masjid ini luas sekali, tapi jamaah yang datang setiap shalat lima waktu segitu-segitu saja.” Abah Muallim Jufri menghela napas. “Abah sedih bukan lantaran kelakuan nakal kalian, sebab siapa lagi kalau bukan kalian yang masih mau meramaikan masjid ini. Abah sedih karena semakin berkurangnya kesadaran orang tua kalian untuk ikut memakmurkan masjid. Lebih sibuk dengan dunianya masing-masing.”

“Saat itu kami saling pandang satu sama lain, merasa bangga karena dianggap meramaikan masjid tapi di sisi lain juga sadar, jangan-jangan gara-gara kami orang-orang dewasa jadi enggan untuk ke masjid?”

“Tentu bukan kesalahan kalian, Nak.” Abah Muallim Jufri seperti bisa membaca pikiran abah saat itu. “Abah berpesan, tetaplah meramaikan masjid, sampai suatu saat kalian akan memahami, betapa bahagianya hati ini, dikala sujud begitu terasa sedang ditatap oleh Allah. Di saat benar-benar merasa tunduk dan patuh karena cinta Allah.”

“Mendengar kata-kata itu kami semua terdiam. Memang nasihat Abah Muallim Jufri itu tidak langsung membuat kami berubah. Tetap bandel seperti biasanya. Tapi seiring berjalannya waktu pemahaman baik itu benar-benar tumbuh di masjid tua ini. Betapa pertistiwa itu terasa baru kemarin, Nak Jim. Genk Abah sepuluh orang itu, anak-anak yang paling bandel di kampung ini dulu, satu per satu sudah meninggal dunia. Tinggal Abah saja yang sedang menunggu gilirannya.”

“Melihat anak-anak ini, Abah jadi sedih mengingat masa-masa itu. Semoga mereka dapat lebih cepat memahami bahwa betapa bahagianya hati ini, di kala sujud begitu terasa sedang ditatap oleh Allah. Merasakan cinta yang sebenarnya di masjid ini.”

Aku terharu mendengar cerita Abah. Hingga shalat maghrib selesai ditunaikan, Abah Anom tetap sujud dengan khidmat, mengembuskan napas terakhirnya. Merasa benar-benar sedang ditatap oleh Allah. Maghrib ini adalah giliran Abah Anom merasakan benar-benar cinta-Nya.

@azurazie_

Maret 13, 2019

TAHUKAH KAMU?

Tahukah kamu, seseorang yang terbiasa tergesa meninggalkan doa setelah salam untuk mengejar kepentingan dunianya. Ia tidak sadar, dunia tidak akan pernah bisa memenuhi semua kebutuhannya. Sedangkan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa itu, sebenarnya untuk kebaikannya.

Tahukah kamu, seseorang yang masih merasa amalan-amalan sunnah itu sangatlah sepele, dan seperlunya saja. Merasa cukup dengan menunaikan kewajiban-kewajibannya saja. Kemudian lebih mementingkan rutinitas dunia untuk menambah pundi-pundi rezeki. Ia tidak sadar sedang tidak menambah apa-apa untuk kebaikannya. Sedangkan amalan sunnah bisa menambal kewajiban yang ia tunaikan, yang belum tentu sempurna.

 Tahukah kamu, seorang ayah/suami yang masih membiarkan perempuan-perempuan yang disayangnya keluar rumah tanpa menutup auratnya, boleh jadi sudah semakin hilangnya rasa cemburu pada hatinya. Merasa biasa saja membiarkan orang lain memandang mahkota yang seharusnya ia lindungi dengan nyawanya.

@azurazie_