Agustus 19, 2019

SEDEKAT APA

Kira-kira, sedekat apa seseorang dengan kekasih hatinya. Yang sepanjang deru napasnya memanggil-manggil nama itu tanpa pernah merasa bosan. Nama pujaannya itu tersebut dalam rintih doa, tanpa sekalipun ketinggalan.

Ketika sendiri menyepi, tenggelam dalam kerinduan, nama kekasihnya itu menggetarkan palung hati, hingga tak terasa air mata merembas di pipi.

Kira-kira, sedekat apa seseorang dengan kekasih hatinya. Meski sepanjang hidupnya, sosok yang dicintainya itu tidak pernah ditemui. Ia tetap berbesar hati, sepenuh harap, suatu saat nanti, ada kesempatan dirinya akan dikenali. Rindu itu tersambut dengan berbalik dicintai.

Kira-kira, sedekat apa seseorang dengan kekasih hatinya. Jika sepanjang sepengetahuanmu sudah begitu dekat. Sepanjang yang terdengar olehmu, hatinya itu sudah begitu terpaut.
Apalagi yang sudah diluar kuasamu untuk mengetahuinya. Tak kan mungkin lagi dirimu menerka-nerka, sedekat apa seseorang itu dengan kekasih hatinya.

Tidakkah dirimu cemburu, bila ada seseorang yang sedekat itu dengan kekasih hatinya. Sedangkan dirimu, terhitung sedikit sekali meluangkan waktu untuk sekadar menyebut-nyebut namanya. Apalagi perihal meneladani kehidupannya. Perihal menerapkan tiap-tiap sunnahnya. Rasanya... teramat jauh untuk dibandingkan. Yang seperti itu, apa masih bisa dikategorikan benar-benar cinta? Dan masih berbangga hati ingin ikut diakui sebagai bagian dari ummatnya.

Kira-kira, sedekat apa seseorang dengan kekasih hatinya. Tersebutlah dalam sejarah, Rabiah Al-Adawiyah, tidak kurang kesehariannya menyebut-nyebut nama kekasih hatinya hingga puluhan ribu shalawat. Dan ketika ditanya untuk apa bershalawat sebanyak itu? Sederhana saja, ia ingin dibanggakan sebagai bagian dari ummat Rasulullah. Sang kekasih hatinya.

Oh, adakah yang lebih indah dari itu? Tatkala dibanggakan di hadapan seluruh manusia yang berkumpul di padang Mahsyar. Tatkala manusia-manusia sibuk meminta pertolongan. Rasulullah pun berseru... inilah ummati.... ummati... ummati.... yang sepanjang hidupnya mencintaiku dan akupun mencintainya. Yang sepanjang deru napasnya merindukanku. Dan akupun merindukannya.

Sungguh, adakah yang lebih indah dari itu? Ketika sang kekasih hati sudah tak lagi hanya terasa dekat. Akan tetapi mengulurkan tangan mulianya untuk memberimu syafa'at.

Kira-kira, sedekat apa seseorang dengan kekasih hatinya. Sedekat dirimu yang membutuhkan lebih banyak lagi bershalawat.

@azurazie_

Agustus 16, 2019

SEPENUH YAKIN

Bila pada hatimu sepenuh yakin, ketika memudahkan urusan orang lain akan bergembira hatinya. Maka akan lapang pula dadanya untuk mendoakan kebaikan-kebaikan berikutnya. Sembari berharap kita pun sedikit kecipratan dari kebaikan-kebaikan itu. Hingga tanpa disadari urusan-urusan kita pun terasa menjadi lebih mudah. Tanpa disangka-sangka orang lain pun tanpa pamrih mau membantu urusan-urusan kita. 

Membantu memudahkan urusan orang lain dari hal-hal sederhana, tidak perlu selalu sesuatu yang besar tapi tetap bisa menyentuh hatinya dengan senyuman penuh syukur.

Membantu memudahkan urusan orang lain dengan hal-hal sederhana. Memberikan uang pas dalam membeli sesuatu, misalnya.

Bila pada hatimu sepenuh yakin, bahwa skenario Allah adalah yang terbaik untuk tiap-tiap hamba-Nya yang beriman. Beriman kepada Qada dan Qadar. Untuk setiap ketetapan-ketetapan. Seharusnya perasaanmu tetap tenang, bila sesekali apa yang telah engkau rencanakan sebelumnya. Ternyata tidak sesuai ekspektasi. Jauh sekali dari harapan. Keinginan itu tiba-tiba berguguran. Tersebab berganti dengan rasa syukur. Bahwa apa yang sedang kamu jalani saat ini adalah pengganti dari skenario yang lebih baik. Bahwa berhusnudzon dengan takdir yang telah jauh dituliskan, adalah sesuatu yang sebenarnya lebih kamu butuhkan untuk dijalani saat ini.

Jangan mudah berkecil hati.

@azurazie_