November 30, 2012

Kagum

Matahari perlahan menanjak bukit, semburat cahayanya menembus celah-celah bilik. Rasanya tubuhku segar sekali pagi ini. Semalam aku benar-benar terlelap. Untung saja tidak sempat disapa mimpi-mimpi aneh itu lagi. Sebenarnya jam berapa ini? rumah ini tidak memiliki jam dinding. Pak Ramlan memanfaatkan sinar matahari untuk mengetahui waktu. Di samping tempat tidurku sudah tersedia beberapa potong gorengan dan segelas jahe hangat. Aku menikmati sarapan pagiku.

Aku ingin keluar menikmati udara pagi, sambil ingin tahu ada apa saja di sekitar rumah ini. Kakiku sudah tidak terlalu memar,  rupanya khasiat tumbuhan kemarin sudah bereaksi. Hanya saja aku masih harus berjalan ‘jingkat-jingkat’. Masya Allah indah sekali pemandangan pagi hari dari pegunungan ini. Embun-embun es yang menghiasi rerumputannya, di tengah udara yang menggigit kulit, sampai-sampai seolah mulutku mengeluarkan asap. Melihat arak-arakan kabut membentuk gumpalan awan. Sebagian gumpalan itu ditembus oleh burung-burung yang berterbangan.

Tapi ke mana pak Ramlan? Sejak subuh tadi aku tidak melihatnya. Mungkin di belakang kali. Simpulku. Ternyata pak Ramlan memiliki lahan cukup luas yang ditanami macam-macam tumbuhan obat. Ketika aku melihat-lihat, aku menemukan sebuah aungan besar berbentuk segitiga, aku kedalamnya. Aku melihat seseorang di sana. Ia menggunakan masker dan sarung tangan, terlihat sedang mengaduk-aduk pupuk, menempatkannya ke sebuah polybag. Itukah yang bernama Savana? Apa aku menyapanya saja?

“Kang Delus kok keluar?” rupanya dia menyadari kehadiran ku.

“Oh...iya aku bosan di dalam terus. Ingin menikmati udara pagi, kamu....”

 “Savana kang, abah kalau pagi pasti ke ladang dan baru pulang nanti siang.” Ternyata tebakan ku benar. Sepertinya ia paham kalau aku sedang mencari pak Ramlan.

“Panggil kak aja ya,” pintaku kepada gadis manis berjilbab di depan ku. Sepertinya ia lebih muda empat tahun dari usiaku. Aku memang agak risih kalau di panggil kang atau pun mas. “Kamu sedang apa? Tumbuhan-tumbuhan ini semua kamu yang rawat?” aku mulai memperhatikan tumbuhan jenis bunga Putar, berwarna merah keunguan, bentuknya mirip manik-manik yang biasa menghiasi jilbab ibuku.

“Oh...maaf kak, iya semuanya aku yang rawat. Itu namanya bunga Kenop kak, meski memiliki bunga kecil, banyak khasiatnya sebagai obat.”  Terangnya sambil meneruskan memberi pupuk ke tanaman lain.

 “Masa? Kalau di tempat aku biasanya hanya ditanam di pekarangan sebagai tanaman hias. Memang apa khasiatnya?” selidikku. Biasanya aku temukan tanaman itu berjejer indah di rumah-rumah penduduk.

“Iya kak, semua tumbuhan memiliki keistimewaan, cuma kita kadang tidak sampai ilmunya ke sana. Bunga Kenop bisa di gunakan untuk mengobati sesak napas, pertusus dan obat radang mata. Dia memiliki kandungan kimia Gomphrein dan Amarathin, kandungan minyak Asiri, flavon yang khasiatnya sebagai peluruh dahak. Bisa juga kalau sedang sakit kepala.”

“Waaah...aku harus banyak belajar dari Savana nih.” Benar juga, semua yang di ciptakan Allah pasti ada maksud dan tujuannya. “Ternyata ada pohon ciplukan juga yang tumbuh di pegunungan ini.” aku kagum dengan cara Savana menerangkan. Seperti semua sudah di luar kepala.

 “Kakak bisa saja, tapi sayangnya tanaman satu itu sudah jarang aku temui di daerah ini kak.” Katanya prihatin. Sangat di sayang kan memang, aku jadi teringat dulu nenek suka marah-marah dengan ke isengan ku mencabut tanaman ciplukan di kebun. Padahal Ciplukan yang nama latinnya Physallis Angulata Linn itu cukup ampuh untuk pengobatan alternatif mengatasi Influenza dan sakit tenggorokan.

“Oh gitu...kamu sedang membuat apa Savana? Boleh aku melihat-lihat lebih jauh?”

 “Boleh kak, silahkan masuk. Tapi maaf bukan maksud nggak sopan, jaraknya tolong tetap berjauhan, nggak baik kita cuma berdua saja di sini. Maaf!” Pintanya penuh kehati-hatian. ”Aku sedang membuat kan ramuan obat untuk abah.”

Subhanallah, aku jadi malu sendiri. Selain santun dan pintar, dewasa sekali gadis di hadapan ku ini, “Iya...aku mengerti. Abahmu sakit apa? Boleh sekalian di jelasin dari tanaman apa saja obatnya kamu buat.”

“Batu Ginjal kak, ini aku sedang memilih-milih daun Kumis Kucing, Daun Keji Beling, dan daun bunga Tempuyung yang masih segar. Biasanya aku rebus untuk di minum abah tiap pagi dan malam. Atau bisa juga sebagai lalapan.” Terangnya sambil memetik beberapa helai daun yang dibutuhkan.

“Oh gitu, sepertinya kamu banyak paham yah tentang obat-obatan. Kapan-kapan boleh ajari aku untuk bahan karya ilmiah. Oh iya, kamu benar hanya tinggal berdua sama abah? Kalau ibu?”

“Sedikit kak, belajar dari abah. Iya sejak kecil aku memang hanya berdua dengan Abah. Ibu pergi lebih dulu setelah berjuang melahirkan anak satu-satunya.” Ia menunduk.        “Aduh, maaf! Aku....” sungguh aku menyesali pertanyaan itu.

 “Tidak apa-apa kak, aku tinggal sebentar ya, mau merebus daun-daun ini. Silahkan dilanjutkan melihat-lihatnya. Permisi.” Savana berlalu ke dapur. Dan aku menatap kosong sebuah pot tanaman kemuning di depan ku. Berwarna putih, berkeping lima menyerupai bintang dan daunnya licin seperti daun jeruk nipis.

#Bagian dari naskah berjudul lakaran Minda
Maaf kalau masih berantakan. 

November 27, 2012

Pematang

Gunung Mindaru tampak begitu hijau. Meskipun saat ini ada beberapa bagian yang gundul, berwarna ‘coklat’ karena sudah tidak ditumbuhi pepohonan besar. Tapi tetap tidak mengurangi megahnya raksasa hijau itu. Dari kejauhan kera-kera hutan sedang bergelayutan dari dahan pohon satu ke dahan lain. Mulutnya tidak lepas mengunyah biji-bijian atau buah yang tumbuh sebagai kekayaan alam.

Setelah sarapan dengan singkong rebus, sebagai ciri khas penduduk yang rata-rata hidup dengan bertani. Damar beranjak ikut abah Sarif ke sawah. Sedangkan emak Neni sedang menampi beras,  memisahkan gabah dari butiran padi sebelum menanaknya. Terlihat Syifa berpamitan dengan emak untuk ke sekolah. Satu lagi kekurangan desa ini, belum adanya tempat pendidikan yang menunjang. Anak-anak harus berjalan jauh ke kabupaten untuk menimba ilmu.

Di pematang tampak para petani sudah mulai sibuk memanen, ada juga yang sedang menyebar benih, memberikan makan untuk ikan-ikan di empang, menyiangi rumput untuk makanan hewan ternak mereka. Anak-anak kecil yang belum sekolah terlihat asyik menangkap belalang, digoda oleh burung-burung yang ikut hilir mudik menikmati nuansa pagi di desa Cipulaya.

“Waah... Den Damar sedang liburan?” Tampak tidak jauh dari Damar, seseorang sedang memanggul karung berisi mentimun. Rupanya ladang mentimun yang kemarin dilihat Damar sudah dipanen pagi ini. Orang itu memakai topi kerucut yang terbuat dari anyaman bambu... yang biasa disebut camping, di pinggangnya tersoren sebuah golok. Damar menerka-nerka, “Kang Udin Den, masa sudah lupa sama saya?” Ia menurunkan panggulannya yang terlihat berat itu. Lalu mengusap keringat dari pelipis dengan handuk kecil.

“Oh iya, Kang Udiiiiiiin, pangling saya Kang, waah makin sehat saja nih sepertinya.” Damar baru ingat, Udin ini adalah pembantu abah Sarif dalam mengurus sawah-sawahnya. Dulu mereka suka ke hutan untuk berburu ayam atau kelinci, lalu dipanggang bersama. “Iya, Kang. Umm... mau dibawa ke mana mentimunnya Kang?”

“Harus sehat atuh Den, buat bantu-bantu Abah. Iya nggak Bah?” Udin minta persetujuan abah Sarif perihal pernyataannya itu. Abah Sarif hanya mengangguk, terlihat serius sedang membaca keterangan dibungkus pupuk urea. Sesekali membetulkan letak kacamatanya.

“Ah... si Abah serius banget. Oh ini mau dibawa ke pasar Den. Saya tinggal dulu ya Den Damar, mari Bah.” Kembali Udin memanggung karung itu dan abah hanya melempar senyum. Sudah bertahun-tahun Udin mengabdi kepada keluarga abah Sarif.

“Iya Kang, kapan-kapan boleh atuh kita ke hutan lagi,” pinta Damar, yang hanya dibalas dengan acungan jempol. Kini perhatian Damar beralih, memperhatikan abah yang sedang menakar pupuk. “Bah, takarannya harus sesuai banget ya Bah?” Damar kagum begitu telitinya abah, padahal kondisi matanya sudah kabur karena faktor usia.

“Iya... A kita itu tidak boleh dzalim sama sesama, sekalipun sama makhluk lain. Agar hidup selalu seimbang, dan bermanfaat,” katanya sambil mulai keliling pematang dan menabur pupuk.

“Maksud Abah? Kan hanya pupuk Bah.” Damar menerka-nerka.

“Semua makhluk kan memiliki hak dan kewajibannya A. Seperti pohon padi, hak dia ya... pupuk ini, tidak kurang ataupun lebih. Saat tidak sesuai berarti kita sudah dzalim. Nanti pada waktunya gantian dia yang memberi hak kita, berupa beras untuk kita olah menjadi makanan.”

“Bah... tapi kenapa padi justru meminta haknya lebih dulu? Baru menyelesaikan kewajibannya?”

“Bukan meminta A, itu memang sudah tugas kita sebagai makhluk yang lebih kuat, bukannya kita juga yang lebih membutuhkan? Makanya abah suka lucu kalau melihat yang kuat menindas yang lemah. Padahal tanpa mereka kita tidak memiliki kekuatan apa-apa. Itulah siklus kehidupan yang seimbang.”

Semilir angin begitu menyejukan. “Haduuuh... kita istirahat dulu di sini.” Ketika sampai disebuah gubug di tengah-tengah pematang. Damar merebahkan tubuhnya di atas tikar sebagai alas gubug. Damar mulai mengerti, ia dapat pelajaran baru lagi hari ini. Selama ini manusia terlalu banyak menuntut tanpa menyempurnakan kewajibannya terlebih dulu. Padahal Allah selalu memberi yang dibutuhkan mahluknya.

#diambil dari naskah berjudul lakaran Minda.
Maaf kalau masih ada yang berantakan.  


Rindu itu sederhana

Rindu itu sederhana, seperti halnya seorang blogger yang ingin aktif seperti dulu, itu juga rindu.

November 20, 2012

Jeritan Jiwa Di Tepi Gaza

Inilah jalan hidupku. Di bagian bumi inilah aku mengumpul cinta Tuhanku. Aku percaya di sinilah tempat terbaik aku dilahirkan. Tempat terbaik menunggu pembuktian Tuhan. Bahkan rerumputan hijau selalu siap untuk diinjak-injak. Sebatang pohon kelapa yang menjulang pun selalu siap tersambar petir. Mereka selalu pasrah dengan takdir-Nya. Berzikir memuji keadilan Tuhannya. Mereka percaya itulah bentuk kasih sayang Tuhan. Yang aku harus cari. Yang aku harus buktikan sendiri, dengan bersabar, bertawakal. Sadar hidup di dunia tidak lah kekal.

Lihat jiwa-jiwa melonglong memanggil-manggil Tuhannya. Mewangi surga berkubang bermerah saga. Dentuman peluru laksana nyanyian rindu pengantar tidurku, obat penenang kegelisahanku. Tak banyak yang aku pinta, Tuhan dekap aku, dekap aku dengan cinta-Mu, dengan janji manis-Mu. Basuh hausku dengan air sungai telaga kautsar itu. Aku tak cemas dengan peradilan-Mu, karena aku yakin Engkau memang adil. Aku tak menagih kebaikan-Mu, karena aku yakin Engkau memang baik. Aku ikhlas, aku ikhlas kembali ke pangkuan, asal tidak kembali dalam kehinaan. Tak akan ada airmata untuk menyenangkan keangkuhan mereka, biarlah airmata itu sebagai persembahanku menyambut kemenangan. Ketika bersua menghadap-Mu Tuhan. Sungguh! Itu lebih dari cukup, lebih dari cukup menggantikan derita penghujung napasku, menuju Ar-Rayyan.

Tuhan aku yakin kelahiran tak ada yang sia-sia, perjalan hidup bukan menjajaki kaki melangkahkan ke sana kemari hanya untuk berujung sia-sia. Satu hal yang aku takuti, menjadi hambaMu yang benar-benar sia-sia. 



November 19, 2012

Ini Cara Manis Bertemu Dengan-Mu Tuhan?

Aku benci waktu pagi, entah terakhir kali kapan aku tersenyum saat pagi itu tiba. Selebihnya aku hanya menangis, menjerit, merengut, memaki, ketakutan, dan tersudut di sela-sela bongkahan bangunan rumahku. Ingin rasanya aku mendengarkan lagu-lagu kesukaanku semasa kecil. Saat suara merdu ibu memandikanku di pagi hari. Atau saat beliau mulai mendongengkan cerita sebelum aku tertidur. Tapi sayangnya semua itu kini hanya terkubur dalam kenangan.

Berbeda dengan lagu pagi hari yang sering aku dengar sekarang. Begitu memecahkan gendang telinga. Sumpah serapah, kata-kata kotor, umpatan, hujatan, dan rintihan doa-doa yang teraniaya. Tak jarang deretan peluru meluncur ke udara, memporak porandakan tembok-tembok yang berdiri kekar. Tidak bisa aku bayangkan jika peluru itu mengenai batok kepala.

Semua memang berbeda setelah kedatangan mereka. Iyah mereka datang bagaikan malaikat kematian, oh tidak lebih tepat bagai serigala lapar. Yang siap memangsa domba-domba ketakutan. Karena sudah tentu malaikat kematian, bisa saja datang lebih manis dan jauh lebih sopan. Tidak seperti mereka yang tidak berperikemanusiaan. Dan nyatanya akulah salah satu domba ketakutan itu.

Coba lihat mereka? lihat adik-adik kecil yang masih berserakan di trotoar. Apakah kalian lihat, mereka belum sempat di makamkan karena sang ibu yang lebih dulu tiada. Dan coba lihat itu. Iyah itu yang seperti kobangan. Itu bukan air hujan saja, tapi air hujan yang sudah bercampur dengan darah segar. Makanya berwarna coklat agak kemerah-merahan. Mewangi harum karena darah itu tumpah tidak sia-sia. Darah korban dari keserakahan manusia. Darah yang tumpah karena ulah mereka yang angkuh, yang merasa paling benar, paling berkuasa.

Sempat aku berpikir, Oh Tuhan! segitu murahnya kah nyawa kami Tuhan?, apakah kami hanya dianggap tumpukan dedaunan yang gugur di bawah pohon rindang?. Tak kenal itu daun muda ataukah daun yang memang sudah tua. Semua di sapu bersih oleh angin yang berseliweran. Bahkan ada yang tersudut di tong sampah.

Apakah mereka yang terlihat sangat gagah itu, mereka yang berkokang senjata sudah benar-benar tidak takut kepada-Mu Tuhan? Atau kah ini memang cara yang paling manis untuk bertemu dengan-Mu T? jika memang ia tentunya aku akan tersenyum untuk menantinya. Karena tak ada tempat yang paling indah untuk kembali selain kepada-Mu.

Entah itu siang atau malam, rasanya semua waktu sama saja, tak ada waktu untuk sekedar menikmatinya. Atau sekedar bercengkrama dengan keluarga. Yang ada hanyalah menunggu giliran peluru itu bersarang di tubuhku, menunggu giliran dentuman bom itu merobek telingaku. Menunggu dan melihat kematian. Bahkan mungkin akan segera merasakan kematian itu lebih cepat.

Dentuman juga menyeramkan, kami selalu ketakutan saat ia berbicara, dentuman yang kusaksikan membuyarkan impian, dentuman yang kudengar memekikan kematian.

***
Dan apa ini? rasanya ada sesuatu yang kental mengalir di pelipis kiriku, sakiiiiiiit!. Aku rasakan sangat sakit. Meski tak sesakit di hantui ketakutan itu, tapi ini benar-benar sakit. Penglihatanku sudah mulai kabuuur. Lemas, rasanya cairan itu sudah mulai banyak yang keluar.

Tapi aku tersenyum, ko aku malah tersenyum? rasanya aku senang. Apa semua ketakutan itu akan segera berakhir? Apa ini adalah waktunya Tuhan?, waktunya aku kembali kepada-Mu?. Aku biarkan pertanyaan-pertanyaan itu menggantung. Sampai ada seseorang yang datang, melihat nasibku dan meneruskan cerita ini.

***
“Ya Tuhan kasihan banget ya kalau melihat konflik di sana Bud?” ketika ada breaking news disalah satu stasiun televisi swasta.
“Memang ada berita apa Dik?, coba geser gw juga mau nonton berita!”  sambil menyeruput teh hangat.
“Itu anak kecil seumuran anak pertamamu ditemukan tewas di samping bak sampah semalam!”
“Aduuuuh! Ke tembak ya? Kepalanya sampai kaya gitu. Merinding gw melihatnya.” Budi sampai gemetar sendiri.
“Sampai kapan yah nasib mereka seperti itu. Kasihan banyak yang masih kecil sudah jadi korban.” Lanjut Dika prihatin.
“Entahlah! Gw pribadi berharap akan segera berakhir.” Kata budi sambil meneruskan baca koran paginya

Untuk Mereka Di Negeri Konflik

Bangkai busuk darah mengering
Tak ada hati tak ada iba
Napas bebas kemana jua
Rona ketakutan meronta ronta
Aku di sini hanyalah saksi
Tentang konflik semakin pelik

Sedikit saja aku berlengah
Napas ini akan terengah
Pandangan mata selalu menganga
Tembusan peluru di depan raga

Sesak isak semakin serak
Tangisan rintih teriak teriak
Oh tuhan boleh aku sekedar meminta
Semua ini berganti segera.

^nyawa yang hilang akan berseri T.T

November 12, 2012

Mentimun

Di persimpangan jalan Damar berhenti, wajahnya tampak kusut, ini memang bukan kali pertama artikelnya ditolak. Sebagai mahasiswa sekaligus freelance di salah satu media kabar, lagi-lagi dia gagal menerbitkan artikelnya. Editor beralasan bahwa berita yang dia cari kurang hangat, berbobot dan tidak menjual. Padahal dia sudah berusaha mencari berita yang berkualitas.

“Harusnya loe manipulasi saja Mar biar makin heboh, sesuai mau si bos. Kaya gue ini!” kata-kata Faza mengiang-ngiang di telinga Damar. Memang mudah jika mengikuti saran temannya itu, tapi prinsip Damar, berita ya berita, fakta ya fakta. Harus selalu apa adanya, tidak di kurangi atau di lebih-lebihkan. Sudah terlalu sering kasus besar tenggelam seolah tidak pernah terjadi apa-apa, kasus kecil justru lebih di besar-besarkan.

 “Gue nggak mau fakta yang ada hanya jadi gosip murahan yang di baca banyak orang.” Elaknya tegas. Damar prihatin dengan kondisi ‘informasi’ zaman sekarang, semua tidak lagi transparan. Justru acapkali kebenaran tidak di tampilkan di muka. Bahkan oleh segelintir orang justru ‘aib’ yang menjadi trending topic, tanpa melihat sisi baiknya lebih dulu. Banyak yang berlomba-lomba mengemukakan pendapat, tapi tidak bertanggung jawab dengan apa yang sudah di utarakan.

 “Sepandai apapun loe kasih berita, ujung-ujungnya di penggal juga Mar, bagian editor yang berkuasa. Okelah... gue jalan dulu ya.” Lanjut Faza, sebelum berpamitan.

 Protes keras Damar bermula, ketika dua tahun lalu dirinya meliput berita di salah satu desa yang baru terkena bencana longsor. Di sana dia menemukan fakta kalau penyebab longsornya  dikarenakan adanya pengeboran batu bara ilegal. Tapi opini yang muncul di berita hanya sebatas erosi tanah alamiah. Miris! Padahal banyak korban yang berjatuhan. Rumah-rumah warga rusak berat. Semenjak itulah Damar berusaha keras memperbaiki keadaan yang ada dengan memberikan informasi yang benar.

-Z-


Hembusan angin membawa langkah Damar semakin jauh, beberapa ekor burung dara beterbangan ke sana ke mari menggoda setiap yang melintas. Damar berhenti di sebuah batu besar di tepi jalan. Duduk untuk menyeka keringat di ujung dahi. Sekitarnya merupakan ladang luas, pematang hijau dari pohon-pohon padi yang baru sekitar lima belas sentimeter tingginya. Pematang sepi, hanya berkelebatan burung-burung kutilang bergerombol mencari makan, lalu terbang ketika orang-orangan sawah bergoyang.

“Permisi.” Tiba-tiba seorang kakek separuh baya melangkah di depannya. Santun dan sangat lembut. Lalu di sapa anggukan sopan oleh Damar. Tapi kakek itu berhenti dan memilih untuk ikut berteduh.

“Hmm... cukup terik hari ini ya nak.” Kakek itu mengibas-ngibaskan topi ‘camping-nya’ untuk sekedar mendapatkan angin.

“Iya kek... kakek mau ke mana?” tanya Damar basa-basi.

“Masih jauh, ke desa di sana.” Sambil menunjuk arah yang akan di tuju. Yang tampak hanya jalan kecil berliku, belum terlihat ujungnya.

“Oh... iya.” Damar melemparkan senyum. Sejenak hening kembali sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Damar membuka modul yang terjilid rapi, tapi sudah ada tinta silang merah di halaman pertamanya. Ia Menghela napas panjang, lalu menutupnya kembali.

“Nak semua orang pernah berada di sebuah jurang, paling tidak di jurang kesalahan. Apapun penilaian orang, tanggapi saja dengan santun. Yakinlah suatu saat akan kamu dengar tong siapa yang paling nyaring bunyinya,” Damar tampak tertegun mendengar kalimat kakek itu. “Kakek duluan ya nak. Mari.” Lanjutnya.

Angin yang berhembus menerpa daun-daun ilalang di tepi jalan, menari-nari dengan riang. Di atasnya beberapa belalang melompat-lompat dari satu daun ke daun lainnya. Damar juga merasakan sedikit kesejukan dari sapaan angin. Ia masih merenungi kata-kata kakek itu. Ada benarnya juga, pikirnya dalam hati.

“Tunggu kek,” setengah berlari Damar menyusul sang kakek yang sudah beberapa langkah di depan, cukup gesit langkah kakek itu jika di lihat dari usia senjanya. Tidak sampai satu menit Damar berhasil menjajarkan langkah. “Boleh aku ikut kakek? Kebetulan tujuan ku juga ke desa sana.” Katanya penuh harap. Sepertinya kakek sudah terbiasa menempuh perjalanan jauh, terbukti dengan napasnya yang masih stabil. Kakek itu hanya tersenyum.

“Kek, boleh aku bertanya? Maksud pernyataan kakek yang tadi apa yah? Aku belum sepenuhnya mengerti.” Tanya Damar penuh selidik. Ia membetulkan ransel di bahunya agar lebih nyaman. Lalu menunggu penjelasan dari sang kakek yang lagi-lagi hanya tersenyum.

Lima belas menit berlalu, sepanjang perjalanan tampak sepi, tidak ada satupun orang lain yang lewat kecuali mereka berdua. Damar belum juga menemukan jawabannya. Sang kakek menepi, meneguk air dalam botol yang dibawanya untuk sekedar menambah tenaga. Di keluarkannya pula dua potong roti dari dalam celana.

“Istirahat dulu, kita makan sebentar, kadang kala saat berjalan kita butuh sejenak untuk berhenti. Kaki juga kan menuntut haknya, perut ini juga. Ayo silakan. Kakek cuma ada roti nak.” Kakek menawarkan satu rotinya, dan di sambut hangat oleh Damar. Damar mengangkat kedua alisnya, berpikir apa maksud pernyataan kakek itu. Apa ada korelasinya dengan yang ia pertanyakan tadi?

“Kamu pernah makan mentimun?” kakek itu menangkap raut bingung di wajah pemuda yang berjalan bersamanya.

“Pernah kek.” Damar semakin tidak mengerti. Ia memandang lurus ke sebuah ladang yang tumbuh pohon-pohon mentimun merambat di tanah. Sepertinya mentimun-mentimun itu sudah masuk masapanen. Selain mentimun, di petakan lain terdapat juga pohon-pohon terong dan kacang panjang yang sudah siap panen juga. Rupanya kakek ini ingin aku memperhatikan sekitar. Simpulnya dalam hati.

“Apa yang kamu lihat dari sebuah mentimun?” kembali ia meneguk air minum.

Sekali lagi Damar lamat-lamat memperhatikan buah mentimun itu. Mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan kakek. Bagi Damar ini seperti teka-teki, rumit tapi menjadi tantangan untuk menyelesaikannya. Dan Damar tahu kakek itu sedang mengujinya.

 “Umm... mentimun itu bersifat dingin kek, tapi ada juga bagian yang pahit jika di makan.” Damar tampak ragu menjawabnya, tapi setidaknya itu yang ia tangkap setelah sekian menit menatap buah mentimun. Damar mengingat-ingat seperti apa rasa mentimun yang pernah ia makan.

“Terus bagian mana yang biasanya kamu makan lebih dulu?” kakek mulai melangkah lagi, mengajak Damar menempuh sisa perjalanan yang sempat tertunda.

“Umm... Tentu bagian yang kulit dagingnya berwarna putih kekuningan kek, dari ujung, karena pangkal yang bergaris-garis hijau biasanya pahit.” Jawab Damar yakin.

 “Benar nak,” kakek itu tersenyum, “Itulah sebuah pilihan, kamu bisa bijak memilih pilihanmu sendiri. Seperti kamu sedang makan mentimun, sudah jelas kan mana yang enak untuk di nikmati, mana yang pahit. Mana yang kamu makan lebih dulu, dan mana yang kamu sisihkan.” Damar sungguh-sungguh mendengarkan penjelasan kakek itu. “Begitu juga dengan memilih, pilihan baik buruknya ada di tanganmu. Tinggal kamu yang cermat melihat kemungkinan dan resiko yang ada.”

 “Tapi kek, kadang ada pilihan yang samar bukan? Yang memberatkan hati.”

 “Keraguan yang membuat semua itu tampak samar, sejatinya baik dan buruk itu sudah jelas. Dan jangan kamu samarkan. Hidup memang ada sisi positif dan negatif, sisi negatif manusia lah yang membuat semua itu jadi ragu. Umm... perjalanannya jadi nggak kerasa, sebentar lagi sampai.”

  “Yakinlah hatimu tidak akan mengambil pilihan yang menjerumuskan kamu. Tapi nafsu yang kadang datang merusaknya. Baiklah... sepertinya kita harus berpisah di sini nak Damar. Tujuanmu masih beberapa meter ke depan kan?”

“Lho? Kakek tahu nama saya? Kakek tinggal dimana?” Damar memperhatikan sekitar, yang ia dapati hanya sebuah jalan kecil di balik kawat berduri, kawat pembatas itu di tutupi pohon hijau menjalar menutupi hampir semua bagian. Ada celah di antara kawat pembatas itu, sepertinya karena sengaja di rusak, hanya cukup untuk satu badan manusia masuk dengan posisi miring. Tapi secara kasat permukaan celah itu tidak tampak terlihat, kecuali bagian daunnya di singkap lebih dulu. Umm... semacam tirai seperti itulah. Dan di sampingnya terdapat sebuah plang lusuh bertuliskan ‘WARNING! DILARANG MASUK AREA ANGKER’ dengan cat warna merah. “Kakek tinggal di dalam sana?”

 “Iya saya tahu, jelas tadi tertera di buku yang nak Damar bacaBenar, saya tinggal di dalam.”

 “Tapi kakek nggak....” sekali lagi Damar melirik tulisan itu. Damar yakin di dalamnya adalah sebuah hutan rimba yang banyak di tumbuhi pepohonan besar. Dan mungkin saja banyak binatang buas yang hidup.

 “Manusia selalu lebih cepat menduga di muka, sebelum tahu baik buruknya di dalam. Karena itulah prasangka buruk selalu dominan. Satu lagi yang kamu harus ingat, kadang kita tidak sengaja telah memakan bagian pahit dari mentimun itu, dan rasa pahitnya itu tidak bisa di sembunyikan. Mari nak.” Kakek itu memasuki celah tadi. Meninggalkan Damar yang masih tidak mengerti.

 Lagi-lagi otak Damar mencari jawaban untuk pernyataan kakek itu. Damar melongok ke dalam, “Kek, nama kakek siapaaaaaaa?” Dengan setengah berteriak.

“Panggil saja Wantaru.” Terdengar kakek menjawab. Dan bayangannya perlahan hilang di balik pohon-pohon berdiameter besar.  “Pahit yang tidak bisa di sembunyikan? Apa itu resiko pilihan? Entahlah!” Delus melanjutkan perjalanannya.

#naskah lama yang tak jua selesai dari seri - Lakara Minda
#mohon maaf jika susunan kata masih berantakan, semoga ada yang bisa dipetik.

November 08, 2012

laskar Cilik - Kisah Rasul



Abdullah nama ayahnya, Aminah ibundanya
Abdul Muthalib kakeknya, Abu Thalib pamannya
Khadijah Istri setia, Fatimah putri tercinta
Semua bernasab mulia, dari quraish ternama

Dua bulan di kandungan, wafat ayah handanya
Tahun gajah dilahirkan, yatim dengan kakeknya
Sesuai adat yang ada, disusui Halimah
Enam tahun usianya, wafat ibu terpuja

Delapan tahun usia, kakek meninggalkannya
Abu Thalib pun menjaga, paman paling membela
Saat kecil penggembala, dagang saat remaja
Umur dua puluh lima, memperistri Khadijah

Di umur ketiga puluh, mempersatukan bangsa
Saat peletakan batu, hajar aswad mulia
Genap empat puluh tahun, mendapatkan risalah
Ia pun menjadi Rasul, akhir para Anbiya

November 02, 2012

Menyapa

Babak (level) baru.

Suasana/daya di medan juang bisa sama bisa berbeda, tergantung pembawaan pemain. Satu hal yang pasti, akan ada tingkat kesulitan yang meningkat, misteri baru yang harus terpecahkan, rintangan yang harus di lewati, berbekal pengalaman di episode sebelumnya.

Mari tekan play untuk memulai. Siap temukan bonus/hadiah yang sudah di siapkan. Pastikan jangan ada satu pun yang terlewat, untuk bekal di level berikutnya. Play. November Babak Baru.
 ***
Tertegun memandang langit biru di bawah pohon jambu air depan rumah. Seketika angin berhembus menelisik dedaunan, menyapa peluh keringat yang menetes di dahi. Aku tertawan, bunga-bunga jambu air yang baru mekar berguguran bak salju di Negeri Sakura. Turun dari putiknya melapisi tanah kecoklatan menjadikan hamparan putih di sebidang tanah tempat pohon itu berakar. Ah kenapa tak sekalian saja aku berkhayal sedang berada di Negeri Sakura, imajiku mulai liar menerbangkan putik rindu ke sana. Siapa tahu ia merasakan hal yang sama. Putri Sakura.
***
Ada seseorang yang bertanya mengapa selalu ada kata 'kenapa' dan 'terlalu'?

Kenapa aku dibilang jadi orang terlalu baik, sampai-sampai ada yang memanfaatkan kebaikan itu tanpa menghargai jerih payahnya.


Kenapa aku dicap terlalu peduli, sampai-sampai ada yang begitu ketergantungan oleh kepedulian itu, dan kecewa ketika satu haripun aku tidak ada.


Kenapa aku dikatakan terlalu mengalah, sampai-sam

pai aku dibilang bodoh dan mau saja diacukan begitu saja tanpa perasaan.

Kenapa aku terlahir terlalu dibanggakan, sampai-sampai ada yang berkecil hati karena dibanding-bandingkan.


Kenapa aku dianggap terlalu diandalkan, sampai-sampai semua beban begitu saja diletakkan di pundak.


Apa karena selalu ada kata 'terlalu' setelah 'kenapa'? Padahal sungguh aku hanya ingin menjadi orang yang bisa bermanfaat untuk orang lain, tidak lebih, tidak kurang. Menjadi Orang Yang Bermanfaat.


***

Jika kamu mengira aku orang yang bisa memberimu solusi ketika dilanda kebingungan, belum tentu aku pun tahu solusi untuk setiap masalahku.

Jika kamu mengira aku orang yang mau mendengar berjam-jam timpah ruah keluh kesahmu, belum tentu aku orang yang terbebas dari keluhan diri sendiri dan tidak membutuhkan telinga untuk mendengarnya.


Jika kamu mengira aku orang yang menyediakan bahunya untuk ber

sandar bagi tiap orang yang datang. Belum tentu aku tidak membutuhkan sedikit topangan.

Jika kamu mengira aku orang yang bisa melukiskan senyum dikala sedih, belum tentu aku bisa mempertahankan senyum ku sendiri dikala duka.


Jika kamu mengira aku orang yang bisa diminta nasihat dan bisa menenangkan, belum tentu akupun bisa tenang dan duduk santai memikirkan sesuatu yang terjadi.


Jika kamu mengira aku bisa menghapus butiran air di pelupuk matamu dan berkata semua akan baik-baik saja, belum tentu aku tidak pernah menangis dan menguatkan hati untuk percaya akan baik-baik saja.


Kamu tahu kawan, semua yang aku lakukan itu hanya karena aku ingin merasakan hal yang sama, kelegaan setelah kamu berkeluh kesah datang kepadaku. Apa kamu pernah memikirkan itu?
Saling Memahami.

*hanya menulis apa yang sedang singgah di pikiran. Semoga ada yang bisa dipetik. Tak pernah terpikir untuk mundur kembali, apalagi waktu yang sejak awal tercipta sudah mengutuk kata itu, makanya ia melaju cepat meninggalkanmu yang masih berpikir.