Mei 21, 2018

MUBADZIR

Mubadzir. Baiklah, kali ini yang kita akan review adalah soal sesuatu yang cenderung mubadzir. Coba diingat-ingat, sepanjang berbuka puasa, nafsu inginnya menyantap apa saja, dan setelah dug.. dug.. bedug.. dan adzan, sebanyak apa makanan yang berhasil kita makan? kita nikmati tanpa kekenyangan? Sekali lagi perlu digaris bawahi : dinikmati tanpa kekenyangan.

Toh, kalau mengikuti nafsu mah, semua bisa saja habis walaupun sudah benar-benar kenyang.

Sesuai dengan teladan Rasulullah, membagi sepertiga perut untuk tiga hal, makan, minum dan bernafas.

Barangkali, kita sudah terbiasa mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah, dengan membaca doa sebelum makan, menggunakan tangan kanan dan tidak berdiri. Mengambil makanan yang paling dekat. Tidak mencelanya bila makanannya tidak kita suka. Tapi, kita sering lalai dengan sesuatu yang bersifat mubadzir. Senang benar berkawan dengan syaitan. Naudzubillah.

Maka, mulai buka hari ini, perlu ada perenungan lebih dalam. Bukan lagi sekadar bersyukur telah melalui satu hari berpuasa. Bukan lagi sekadar bersyukur, masih adanya rezeki untuk dinikmati saat berbuka. Merenungi dalam-dalam, kita mampu berbuka dengan keadaan yang lapang. Lapang di sini, bukan karena tidak dalam situasi perang. Lapang, karena kita jauh dari berkawan dengan syaitan, tidak lagi memubadzirkan makanan. Yuk! Sama-sama bertekad demikian.

05 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 20, 2018

DOA YANG DIIJABAH

Hari ke empat. Bagaimana puasanya? Terasa nikmat? Atau yang lebih dirasa tentang lapar dan dahaganya? Aw.. aw... hati-hati, pandai-pandailah memperbaharui niat dalam hati. Jangan sampai ciloko yang Rasulullah pernah sabdakan, menjalankan puasanya yang didapat hanya lapar dan dahaganya saja. Atau di sabda yang lain, puasa sih puasa, tapi tetap ciloko karena di akhir ramadhan tetap tidak mendapatkan ampunan. Alih-alih mendapat gelar takwa.

So, mumpung masih empat hari, bukan sekadar memperbaharui niat hati. Tetapi memperkuat azam diri. Puasa ini bukanlah sekadar menggugurkan kewajiban, tapi tuntutan diri sendiri, untuk senantiasa menuntun hati, dengan sepenuh jiwa raga, memperbaiki kualitas iman. Kan, biasanya kalau yang menuntut diri sendiri jadi lebih bersemangat, bukan lagi karena paksaan. Karena diri sendiri yang memang mau.

Kalau sedang terasa futur, ingat-ingat lagi, bukankah hari ini adalah jawaban atas doa-doa kita sepanjang Rajab dan Sa'ban. Waballigna Ramadhan... Waballigna Ramadhan... atas anugerah-Nya, doa itu sudah diijabah sampai hari ini. Alhamdulillah.. Alhamdulillah... maka sudah seyogyanya, menjalani puasanya dengan sepenuh kesadaran. Penuh kesabaran. Penuh kehati-hatian. Menjaga perkara-perkara yang membatalkan puasa dan menghanguskan pahala. Betul.. betul.. betul..

04 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 19, 2018

BERBUKA DENGAN SAUDARA

Berbuka dengan saudara

Bagi seorang muslim yang berpuasa, waktu yang paling di nanti adalah saat-saat berbuka. Bahkan di beberapa grup saja sudah mulai menggaung tentang rencana-rencana bukbernya kapan dan di mana? Padahal baru jalan tiga hari ya.

Nah, soal bukber tahun ini saya sendiri bertekad untuk meminimalisirnya. Karena mempertimbangkan banyak hal. Tentas efektivitas waktu dan sebagainya.

Itu bukber yang terencana, atau bukber undangan. Lain hal dengan bukber karena kondisi dan situasi. Semisal pengalaman dua hari ini. Alhamdulillah, tahun ini ramadhan saya bertambah aktivitas penting, antar-jemput istri. Yang dituju adalah stasiun bojong.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya memutuskan tidak mengejar buka puasa di rumah. Dan lebih memilih buka puasa di jalan, agar semua urusan bisa lebih efesien. Taraweh, dan jemput istri tepat waktu. Hingga istri pun bisa ikut solat taraweh berjamaah.

Nah, dua hari inilah yang saya sebut bukber karena kondisi dan situasi. A.k.a memburu takjil di masjid-masjid. Masya Allah, betapa persaudaraan sesama muslim begitu hangat di rasakan di bulan Ramadhan. Bayangkan, saya baru sampai parkiran masjid saja, sudah ada saudara seiman saya yang memanggil mengajak untuk ikut serta kumpul riung menunggu waktu berbuka. Tentu saja dengan hidangan yang berbagai rupa. Itulah hangatnya saudara seiman.

Cerita ini pun melunturkan kecemasan istri yang memikirkan saya berbukanya dengan apa. Hehe... dia tidak tahu beberapa tahun kebelakang saya sudah melakukan hal yang sama. Berburu takjil di kala perjalanan pulang dari tempat kerja, waktu masih di jakarta.

Maka, adalah benar. Tiap-tiap muslim adalah bersaudara, bahwa doa-doa selepas sholat, doa-doa di kala kutbah jum'at bukan sekadar isapan jempol. Selalu disebut-sebut namanya, minal muslimin wa muslimatin.. dalam artian, wahai saudaraku seiman, di manapun kini dirimu berada. Aku memikirkan keselamatanmu, aku mendoakan kebaikan-kebaikan untukmu. Masya Allah, indah kan?

03 Ramadhan 1439H
#ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 18, 2018

NAFSI-NAFSI

Nafsi-Nafsi.

Benar sekali, perkara ibadah adalah urusan masing-masing. Makanya, banyak yang berkoar-koar, jangan sok paling alim, urus saja ibadah sendiri. Jangan ikut campur, belum tentu ibadah sampean lebih baik dari ane.

Ya memang belum tentu lebih baik. Hanya sekadar berusaha lebih aktif.

Pun demikian soal menjalankan ibadah puasa. Yang bersangkutan sendiri, yang paling tahu sedang/masih atau tidaknya berpuasa. Dan Allah pulalah yang paling mengetahui derajat ganjaran pahalanya.

Nafsi-nafsi, terkadang menjadi topeng untuk membela nafsu sendiri. Melakukan pembenaran akan tindakannya sendiri. Kalau perihal itu terkadang masih di anggap wajar saja. Toh memang urusannya masing-masing. Resiko ditanggung masing-masing.

Yang sudah melampaui batas adalah, apabila seseorang sudah bangga dengan aibnya sendiri. Memberitahukan terang-terangan ke khalayak ramai bahwa ia enteng sekali meninggalkan kewajibannya sebagai seorang hamba. Apalagi bila ditambah mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Sudah tidak adakah rasa malu pada dirinya sendiri?

Maka demikian, menjalankan puasa adalah urusan nafsi-nafsi, tentang menggenggam teguh kejujuran pada diri sendiri. Bila nafsu yang berkata lain,  yang bersangkutan sama saja sudah membohongi diri sendiri. Dengan berpura-pura di depan manusia. Sedangkan Allah Maha Mengetahui segalanya. Jangan heran apabila Allah pun berpura-pura masih memberikan rasa cukup dan bahagia, padahal hanya sedang menunda azab hingga pada waktunya. Naudzubillah.

Semoga kita selalu diberi kesadaran untuk menjalankan kewajiban pada tiap-tiap napas yang dianugerahi oleh-Nya. Aamiin.

@azurazie_
02 Ramadhan 1439H

Mei 17, 2018

MARHABAN

Marhaban. Sebelum melangkah lebih jauh, yuuk coba raba dalam hati masing-masing. Sudah sedalam apakah kita menyambut bulan Ramadhan dengan hati yang paling lapang. Bergembira dengan sebenar-benarnya penerimaan. Kaffah. Menyeluruh. Ta'at atas kewajiban yang Allah serukan dalam Al-Qur'an. Hingga tamat menunaikan, memang karena kita juga yang membutuhkan.

Bukan apa-apa, karena bila kita benar-benar menerimanya dengan menyeluruh, pun demikian kita wajib menghormatinya dengan sungguh-sungguh. Dengan begitu, tidak akan adalagi kita dengar lelucon-lelucon yang mungkin niatnya hanya untuk lucu-lucuan, tapi hakikatnya lucu tidak, ada manfaat apalagi.

Bukankah kita masih sering mendengar, entah langsung, entah obrolan di grup, entah berupa status, selentingan sederhana yang menurut pendapat saya pribadi sama saja dengan melecehkan kehormatan tamu agung kita. a.k.a bulan Ramadahan.

Misal :

H-1 nih, hari terakhir puas-puasin makan siang, atau yaah besok udah nggak boleh makan siang nih.

Ya ampun, segitu bebannya kah kedatangan Ramadhan sampai kita tega mengeluarkan statment seperti itu?

kasus lain :
BC berupa daftar warteg-warteg yang buka selama ramadhan, dengan ditutup dengan candaan "siapa tahu ada yang mau bukanya siang."

Ya salam, dan banyak kasus lain yang tak serupa tapi senada, sama-sama mengentengkan candaan, guyonan, untuk lucu-lucuan, tapi sebenarnya bila lebih direnungi sama saja kita sudah tidak menghargai bulan suci ini. Tidak lagi ada rasa hormat untuk sekadar menjaga lisan dan 'tulisan', dari statement yang tidak seharusnya. Tidak pada tempatnya. Loh kok perihal ibadah di guyonin?

Apalagi yang terang-terangan tidak puasa ya?

Maka dari itu, sudah benar-benar kah kita mengucap 'Marhaban' dengan sebenar-benarnya penerimaan. Tidak lagi terasa berat harus bangun malam untuk sahur, tidak lagi mengeluh siang hari haus dan lapar. Tidak lagi merasa berat untuk shalat taraweh. Dan blabla keberatan lainnya.

Tidakkah kita takut, tamu agung yang kita hormati ini, merasa tersinggung, tidak terima perlakuan kita, lalu berkahnya tidak sampai ke kita?

Marhaban Ya Ramadhan, aku menyambut kedatanganmu dengan sepenuhnya penerimaan. Dan menghormati kesucianmu dengan sepenuh penghargaan.

@azurazie_
01 Ramadhan 1439H

Mei 10, 2018

MERASA (TIDAK) MEMILIKI

Menurutmu, dari kedua celoteh yang sering didengar :

1.  Begitulah, kebanyakan yang lebih menghargai dan menjaga justru yang tidak merasa memiliki.

2. Karena merasa memiliki, makanya dia menjaga dan menghargainya lebih dari siapapun.

Mana yang menjadi kecenderungan sifat manusia?

Teori yang mendasarinya adalah : Bila sesuatu itu adalah benda, sudah tentu semua memiliki batas kegunaannya, batas fungsionalnya. Tiap-tiap sesuatu ada umur-umurnya. Sudah selayaknya dirawat dan dijaga. Agar selalu berfungsi dengan baik. Minimal jadi lebih lama bisa dimanfaatkan.

Bila itu sesama makhluk hidup, sudah lebih

pasti ada ajal-ajalnya. Maka, tidak bisa sekadar berharap kebersamaan itu lebih lama, kebahagiaan itu awet adanya. Tanpa berjuang untuk selalu menjaga dan menghargainya.

@azurazie_

Mei 03, 2018

TENTANG BERHARAP KEPADA MANUSIA

Menaruh harapan kepada manusia, tidak memiliki garansi apa-apa. Maka, seyogyanya kita, menjatuhkan harapan hanya kepada Allah semata. Dengan doa. Berharap dengan perantara doa. Tak harus memikirkan tentang : kapan dikabulkannya, bagaimana cara Allah memberinya, apa yang akan digantikannya. Gimana Allah aja. Berdoa tanpa tendensi apa-apa. Toh, kita memang selalu butuh. Tempat bergantung dan mencari untung. Perihal harapan yang genap menjadi utuh, adalah hak Allah Sang Maha Pengasih.

Dan tentang harapan kepada manusia. Baiknya, diganti dengan selalu berbuat baik. Tanpa pamrih. Tak perlu memikirkan manusia itu membalas kebaikan kita atau tidak. Gimana Allah aja. Yang kita yakini, bahwa tiap-tiap kebaikan digaransikan akan menjadi kebaikan untuk kita jua.

Maka, cukuplah sudah terlalu berharap kepada manusia. Cukuplah kita selalu berbuat baik saja. Kapanpun, di manapun, dengan siapapun. Agar harapan-harapan yang membersamai doa-doa itu. Allah qobul sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh kita. Sesuai dengan kemampuan kita untuk menerima tiap-tiap ketetapan-Nya.