Januari 22, 2018

FUNGSI BLOG

Yang menjaga tulisan-tulisan itu selalu ada, adalah blog. Yang memicu untuk selalu tetap menulis, menulis, dan menulis adalah keberadaan blog. Meskipun tidak setiap hari selalu di update postingannya, tapi dengan adanya blog, seperti pengingat, bagaimana dulu begitu ber-euporia meramaikannya. Belajar menyusun kata-kata menjadi lebih baik. Memperbaiki eyd dengan lebih sempurna. - pelajaran yang di masa sekolah dulu dianggap sepele. Memberanikan diri membuat cerita-cerita pendek pun karena blog.

Yang memelihara tulisan-tulisan itu pun adalah blog. Layaknya ruang arsip untuk tulisan-tulisan yang selesai ditulis dengan baik. Yang mungkin suatu saat rindu untuk membaca ulang satu persatu. Nostalgia dengan kenangannya. 

Yang diharapkan ada kebaikan-kebaikan yang bermanfaat karenanya adalah blog. Seperti air, tulisan-tulisan itu tetap mengalir ke muara para pembacanya. Meskipun kelak penulisnya sudah tiada. 

Dan blog itu memiliki nama LAKARAN MINDA beralamat di www.azura-zie.com
Apakabar blogger2 tempo baheula?

  

Januari 20, 2018

DITAMPAKKAN RAHASIA

Pada hari ditampakkan segala rahasia. (86:9)

Di saat aib-aib itu di pertontonkan. Hendak ke mana wajahmu di palingkan? Hendak mencari apa untuk sekadar menutupi cela dan keburukan? Sedangkan pada hari itu dirimu ditelanjangi habis-habisan.

Lalu, di mana wajah pongah itu. Dulu kala, ketika terasa ringan mengumbar aurat. Terasa ringan meninggalkan shalat. Terasa ringan menanggalkan kewajiban. Terasa berat menyempatkan diri untuk memenuhi panggilan adzan.

Lalu, di mana punggung yang angkuh itu. Dulu kala, ketika setiap nasihat-nasihat diabaikan. Teguran-teguran tidak didengarkan. Ajakan-ajakan memperbaiki diri diacuhkan. Ayat-ayat Al-Qur'an dinistakan. Aturan-aturan agama menjadi gurauan. Di kala orang-orang soleh yang berpegang teguh kepada agamanya, justru menjadi bahan tertawaan.

Pada hari ditampakkan segala rahasia. Mampukah kita berdalih kalau itu bukan perbuatan kita?
  

Januari 19, 2018

PERBEDAAN DOA DAN ASA

Doa : entah sudah berapa ulang kamu eja. Dengan lirih, sampai merintih. Diam-diam, hingga dalam-dalam. Doa, tidak pernah terasa usang. Doa tetap membuat hatimu tenang, bahwa pada waktunya, yang selalu di doakan, menjadi milikmu jua, di hari yang sudah di tetapkan.

Harap : entah sudah sejauh apa ia melambungkan angan. Dengan ekspektasi yang sering berlebihan. Memberikan energi positif yang sangat membangun. Bagi siapa-siapa yang percaya, hal-hal baik akan selalu datang, setelah bersusah payah mengupayakan.

Dan perbedaan keduanya adalah : doa yang baik selalu ada garansi akan di kabulkan. Secara kontan maupun di angsur perlahan-lahan. Maka, berdoalah sebanyak mungkin. Dengan terus menggenggam yakin.

Sedangkan harap, tidak selalu berujung sesuai dengan keinginan. Maka, berharaplah seadanya. Sesuai dengan kemampuanmu melapangkan dada, di kala di rundung krundung
  

Januari 18, 2018

KEBETULAN

Kita yakini, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah ada dalam ketetapan. Sebab-sebab adalah proses. Akibat yang terjadi, tidaklah perlu ditanggapi dengan banyak protes. Sebab-sebab yang baik, membuat takdir itu menjadi lebih baik.

Dan kita berjalan sesuai dengan apa-apa yang menjadi harapan. Usaha satu upaya agar pada waktunya menjadi kenyataan. Doa menjadi cara paling lembut agar apa yang di harap lantas disegerakan.

Tapi, bila ternyata tidak sesuai dengan prasangka. Jauh dari apa yang di harapan. Bukan berarti langsung menyimpulkan hidup ini tidak adil, kan?

Sebab, kita tidak tahu satu detik apa yang akan terjadi ke depan. Boleh jadi ketidaksesuaian harapan itu, justru yang menyelamatkan kita dari kecewa, yang lebih besar dari pada dugaan.
Tersebab karena ketidaktahuan kita.

Dan semoga Allah masih menjadi yang pertama untuk di percaya. Di yakini setiap ketetapanNya.

  

Januari 10, 2018

TIDAK HARUS, TAPI MAU

“Aku ada kata-kata nih, coba dicek enak dibaca nggak? ‘seseorang yang sering bertanya memang harus ada, agar si serba tahu (bagian ini yang susah pasnya) bisa berbagi ilmu.”

“Jangan Si serba atuh, kesannya sombong.”

“Oh! Nah, makanya kurang pas.”

“Yang rajin bertanya memang harus selalu ada, agar yang lebih tahu, bisa berbagi ilmu.”

“Nahhhh, itu dia hahahaha...”

“Yang rajin bertanya memang perlu ada, agar yang lebih tahu, bisa berbagi ilmu.”

“Okok....”

“Yang rajin bertanya memang perlu ada, agar yang lebih tahu, juga berbagi ilmu. Kalau pakai kata ‘mau berbagi’ kesannya dipaksa ngebaginya.”

“Oh, jadi harus diperhatikan tiap kata-katanya.”

“Biar nggak ambigu, jadi kesannya secara tidak langsung saling berbagi tanpa diminta. Ikhlas apa adanya.”

“Satu lagi... satu lagi... bagaimana mengajak orang lain ke jalan kebaikan?”

“Cara yang paling tepat, ya, jadi jalan kebaikan itu sendiri. Seseorang kan cenderung mengikuti apa yang ia sukai. Nah, biar ajakan itu tepat sasaran, kamu sendiri harus bisa jadi ‘jalanan’ untuk dia, agar sukarela ‘ngekor’ di belakang. Jadi nggak perlu ada istilah ngajak, tapi sukarela ikut.”

“Caranya? jadi ‘jalanan’.”

“Contohin, kamu lakuin duluan, berasa di shaf paling depan. Paling tepat waktu dan tidak plinplan. Biar yang nantinya ngikutin juga nggak ragu sama keputusannya. Kamunya sendiri nggak ada perasaan telah mengajak. “

“Itu kan kalau dia satu keyakinan. Kalau buat yang beda agama gimana?”

“Sama aja seperti Rasulullah, berdakwah dengan teladan. Nggak ada unsur paksaan, mencontohkan dalam keseharian. Dan mereka pada akhirnya berbondong-bondong masuk islam. Hidayah tetap ada di kuasa Allah, kita hanya sebagai perantara. Dengan usahanya. “

“Mungkin aku harus banyak-banyak membaca kisah Rasulullah saat berdakwah. Tapi awalnya aku harus jadi pribadi yang baik dulu ya intinya.”

“Tidak harus, tapi mau.”

“Iya iya.”

“kalau pakai kata ‘harus’ ada kesan paksaan. Tapi kalau ‘mau’ itu sukarela.”

“Hahaha itu ‘paksaan’ ada lagi.”


  

Januari 07, 2018

LEBAH & SEMUT MERAH

Satu dari sekian banyak tanda-tanda kita sedang hidup di akhir zaman adalah fitnah yang merajalela. Kerusakan-kerusakan akhlak di mana-mana.

Maka di manakah posisi hati kita bila di ilustrasikan seperti di bawah ini. Muslim seperti apakah kita?

Layaknya sekumpulan lebah, yang bila tidak diganggu, mereka tidak berbahaya, hanya merutinitaskan keseharian mencari sari-sari yang baik. Hingga pada akhirnya membuahkan madu yang manis. Menebar kebaikan. Keberadaannya menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tapi, bila sekali saja di ganggu, dibuat marah, sekumpulan lebah kompak sekali menyerang musuh-musuhnya. Tanpa ampun. Tanpa pandang bulu. Sampai tercapai apa yang dituju.

Ataukah kita seperti sekumpulan semut merah yang sedang mengerubungi sisa-sisa makanan yang jatuh. Yang justru bila digertak sedikit saja, sekelompok semut merah itu akan langsung kocar-kacir berlarian ke sana kemari. Seperti tidak ada pegangan. Tidak punya pemimpin. Seperti lupa semut adalah satu kelompok yang kompak dalam bekerja.

Maka, coba renungi dalam hati. Muslim yang seperti apakah kita saat ini?

@azurazie_

Januari 06, 2018

PUNGGUK MERINDU BULAN

Kala fajar tiba, aku bagaikan pungguk yang merindukan rembulan. Sembari menyusuri jalan setapak menuju rumah-Mu. Aku memantau langit, mencari 'seonggok' rembulan. Di langit sebelah mana ia 'bertengger' pagi ini.

Bagaimana keadaanya, sabit?purnama? Sekantung doraemon? Redup? Terang benderang? Atau bahkan nyaris tertutup awan. Lalu, kupandangi beberapa detik, fokus ke arahnya. Termenung, dari pekatnya malam di luasnya bentangan langit , Dia bermurah hati menghadirkan setitik cahaya. Seperti setitik iman di dada, yang tiap saat terus menerus bertambah titik-titik hitam karena dosa. Dosa yang disengaja, dosa yang terbiasa, dosa yang tidak terasa.

Aku bagaikan pungguk yang selalu merindukan rembulan. Begitupun hidayah-Mu agar iman di jiwa selalu aman. Aamiin.

@azurazie_