Januari 31, 2014

Meruncingkan Pena

Sedikit bercerita, sejenak keluar dari cerpen dan cerita fiksi lainnya. Beberapa hari lalu saya baru saja meruncingkan pena kembali. Buat yang setia mengikuti artikel di blog Lakaran Minda ini dan Tumblr Titik Temu, pasti sudah tahu di bulan Januari saya hanya me-repost tulisan-tulisan saya yang lama. Tidak ada satu pun tulisan yang fresh. Sejujurnya sebagai pemilik blog saya agak sedikit prihatin dengan penurunan ini.  Hah kadang memang lebih sulit jika menepati janji pada diri sendiri dibanding ke orang lain.

Untuk itu saya bertekad di bulan Februari ini akan mengisi blog lagi dengan tulisan-tulisan baru. Entah itu cerpen, fiksi, katalog kata atau yang lainnya. Targetnya setiap tanggal akan mewakili satu kata sebagai judul. Dan diikuti selanjutnya sebagai kata keterangan apa yang sebenarnya saya ingin sampaikan. Entah tokohnya yang berjumlah sesuai tanggal, entah point-point yang ingin di sampaikan. Mengikut dari ide waktu saya menulis nanti.

Lalu bagaimana dengan cerbung Kampus Hijaih kemarin? Sepertinya untuk cerbung itu akan dilanjutkan nanti. Ada sesuatu yang masih diperdebatkan dalam diri saya tentang cerbung itu. Sesuatu yang tidak mudah dijelaskan. Tapi karena itu salah satu target saya, Insya Allah akan tetap dipikirkan nasibnya. 

Besar harapan mudah-mudahan untuk target di bulan Februari ini jauh lebih terealisasi. Saya dapat banyak ide setiap harinya, dan yang terpenting saya bisa berbagi waktu dari aktivitas lainnya. Meluangkan waktu untuk mengisi blog ini. Insya Allah. 

Terakhir saya selalu berharap tulisan apapun yang tertuai di blog ini bisa memberikan manfaat untuk diri saya pribadi, dan pembaca sekalian. Bisa saya pertanggungjawabkan pada waktunya nanti. Terima kasih tetap setia membaca Lakaran Minda ini. Mudah-mudahan kedepannya akan jauh lebih baik lagi. Aamiin.



Februari Sebagai BAB Pertama

Februari akan tiba. Jika dianalogikan dengan sebuah buku yang meliput satu kisah utuh. Februari adalah BAB Pertama di buku besar yang berjudul : Perjalanan 2014. Di mana Januari yang sudah kita lewati adalah bagian dari prolog pembuka cerita. Berupa penjabaran resolusi dan rancangan-rancangan yang perlu dilalui.

Di BAB Pertama biasanya sudah mulai jejak-jejak kisah itu tertoreh. Berupa keping-keping cerita yang mulai menjelaskan sebenarnya apa dibalik prolog yang sudah kita lewati. Ke arah mana si tokoh utama akan membawa perjalanan kisah ini menuju epilog yang baik dan melegakan. Selanjutnya di bab-bab berikutnya mulai lah muncul konflik-konflik. Aral rintangan yang harus ia hadapi.

BAB Pertama ini harus terlewati dengan baik. Jejak pertamanya harus tegap. Langkahnya harus meyakinkan. Tekadnya harus kuat. Demi epilog di ujung Desember jadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Hingga misi perjalanan tahun ini terlaksana semua. Resolusi itu bukan hanya sekedar wacana. Akan terlahir lebih nyata.
 

Januari 30, 2014

Hujan sebagai pembersihan



Di musim penghujan seperti ini, akan mudah sekali menemukan kerumunan orang yang berteduh. Terhenti perjalanannya karena hujan yang menderas. Dan menarik sekali jika kita bisa mencuri dengar apa yang mereka perbincangkan. Mengobrol dengan teman seperjalanannya –atau mungkin orang asing yang beberapa menit lalu sudah seperti sahabat senasib, sesama penunggu hujan di bawah atap ruko yang sejam lalu tutup. Mengusir kebosanan.

Seperti halnya dua orang yang memilih tetap berdiri, meskipun ada bangku kayu yang masih kosong. Mereka teman seperjalanan yang hendak menjenguk temannya yang sakit. Terpaksa menepi karena salah satu dari mereka tidak membawa mantel. Tadi pagi ketika hendak berangkat kerja kadung percaya diri kalau hari ini tidak akan hujan. Memang sepanjang siang hari mataharinya terasa lebih menyengat. Tapi siapa yang bisa menduga cuaca, hampir tengah malam ini saja hujan masih membumi.

“Menurutmu apa alasan mendasar Tuhan menurunkan hujan?” Salah satunya memulai pembicaraan. “Selain untuk menghidupi seisi bumi tentunya. Yang makhluk-makhluk di dalamnya memang sulit hidup tanpa air.” Tubuhnya mulai gigil karena jaketnya sudah setengah basah karena kecipratan mobil yang sembarang menerabas genangan.

“Hujan ya.” Temannya yang lengkap terbungkus mantel menghirup udara, seakan menikmati aroma air yang turun dari langit, sembari tangannya terjulur sengaja merasakan tetesan-tetesan itu menyentuh kulitnya. “Tujuan persisnya hanya Dia yang tahu, tapi aku kira seperti layaknya mobil itu.” Ia menunjuk mobil yang sebagian permukaan tubuhnya dilapisi debu, sedang terparkir di garasi salah satu rumah. Tidak jauh dari tempat mereka berteduh. “Bumi ini pun berdebu. Bahkan mungkin tidak lagi sekedar diselimuti hamparan debu, tapi sudah berlumpur. Mengingat bumi semakin tua dan rusak. Barangkali itu pemicu hujan turun. Tujuannya untuk pembersihan. Untuk pemulihan.”

“Tapi kalau kadar hujannya selalu tinggi seperti ini bukannya malah merusak bumi itu sendiri? Banjirlah, tanah longsorlah.”

“Ya mungkin itu proses yang diperlukan bumi untuk pembersihan tersebut. Aktivitas manusia yang membuatnya lebih rumit. Sehingga ada debu-debu yang perlu dibersihkan lebih keras. Debu yang sudah berkerak.”

Beberapa peneduh yang lain nekat meneruskan perjalanan, mungkin sudah mulai bosan menunggu. Hujannya tidak jua mereda, malahan semakin menderas. Bahkan ada yang sedang mendorong-dorong motornya karena mogok ketika melewati genangan yang terlalu tinggi.

“Soal kadar, sepanjang yang aku tahu dan aku pernah baca kadar hujan yang turun ke bumi selalu tetap, selalu sama. Meskipun belum ada profesor dengan alat canggihnya yang mampu membuktikan teori itu. Tapi aku sungguh yakin, karena tertera dalam Al-Qur’an demikian. Kadar hujan yang turun ke permukaan bumi selalu sama. Sederhananya, jika di Indonesia saat ini intensitas turun hujannya sedang sering, boleh jadi di belahan bumi lain ada tempat yang sedang kekeringan.”

“Kalau untuk pembersihan, aku kira tidak perlu selalu menggunakan air. Mengusir debu bisa dengan angin misalnya.”

“Hei jangan lupa, membersihkan rak yang kotor tidak cukup dengan hanya menggunakan kemoceng. Tapi lebih baik dilap sama kanebo basah. Karena kemoceng sejatinya bukan alat untuk membersihkan. Tapi ia cuma memindahkan debu. Begitu juga dengan angin. Jadi aku rasa masih lebih tepat hujan untuk proses pembersihan bumi, bukan angin.”

Temannya mengangguk pelan, penjelasan yang ia dengar cukup masuk akal. Hujan belum juga reda. Kini keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali diselingi dengan suara perut yang mulai keroncongan. 

*di kasus yang lain, hujan pun bisa menjadi pembersihan kenangan #eh


Januari 28, 2014

Terlihat tidak seimbang


Barangkali memang sudah begitu adanya. Ada hal yang terlihat tidak seimbang. Kita mendengar kisah ada seseorang yang begitu perhatian, ia bertekad akan selalu ada untuknya. Sosok yang ia ingin selalu baik keadaannya. Tidak peduli sekalipun ia sendiri tidak memperoleh hal yang sama. Tidak pernah menjadi perhatian. Tidak peduli karena ia hanya ingin memberi perhatian.
—  Terlihat tidak seimbang bukan? Tunggu dulu, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Tanpa sepengetahuan kita, boleh jadi seseorang yang selalu diperhatikan itu. Sosok yang cuek kepada tokoh yang sedang kita bela, boleh jadi ia juga begitu perhatian kepada ‘seseorangnya’. Sama tekadnya, ingin selalu menyediakan sandaran untuk ‘seseorangnya’. Menjadi bahu untuk menampung keluh kesah ‘seseorangnya’. Tapi sayangnya, ia sama persis nasibnya dengan kisah si tokoh yang kita sedang bela. Ia juga tidak pernah menjadi pusat perhatian. Ia juga hanya dipunggungi oleh ‘seseorangnya’. Bukankah ia juga tidak memiliki keseimbangan dalam perihal perhatian? Atau kita tega benar mengatakan itu balasan setimpal. Biar tahu rasa. Kita terlanjur membela si tokoh utama dalam tulisan ini.

Oooi, betapa banyak ketidakseimbangan dalam alur cerita itu jika kita tarik kesimpulan. Atau jangan-jangan itulah definisi keseimbangan yang sebenarnya. Kisah yang satu dengan yang lain saling kait mengait melengkapi kekurangan.

Atau itu buah dari segala yang kita perbuat di masa lalu. Yang sedikit banyak berdampak di masa berikutnya. Atau ini semua hanya sesederhana sebuah pilihan?

Entahlah, yang aku tahu kadang seseorang tidak butuh banyak alasan untuk peduli kepada ‘seseorangnya’. Tidak perlu banyak pertimbangan untuk memberikan perhatian kepada ‘seseorangnya’.



Sapa


Ada yang sudah terbiasa dengan kehadiran seseorang. Ketika tak ada sapa, seakan ada sesuatu yang belum lengkap di kesehariannya.
—  Ada yang membiasakan diri hadir untuk melengkapi satu hari seseorang. Selalu berusaha menyempatkan waktu untuk sekedar menyapa.

Keduanya sama-sama diikat oleh kebiasaan. Dan boleh jadi hari-hari yang akan di lewatinya tak lagi biasa ketika salah satunya tidak lagi ada sapa.


Mendamba Temu

Aku pernah begitu mendamba temu. Setiap hari aku pikirkan dengan menumpuk keresahan. Tidak sabar menjemput perjumpaan. Setiap saat terus berharap waktu akan lebih memihak, meminta segera dipertemukan dengan yang aku rindukan.
—  Aku pernah begitu mendamba temu dengan melamunkan banyak hal. Menunggu dengan tidak sabaran. Tapi tidak juga ada kepastian. Tidak juga kulihat titik terang. Tidak kudengar kabar baik perjumpaan.

Aku pernah begitu mendamba temu dan melupakan satu hal, ada temu yang tidak bisa diprediksi oleh angan sendiri. Ada jumpa yang tidak bisa kupaksakan segera.

Ingin Merdeka

Ada segumpal rasa yang aku endapkan pada kata-kata. Suara hati yang sengaja disembunyikan pada bait-baitnya.
—  Bukankah setiap orang memiliki rahasia kecil di hatinya? Ada yang membiarkannya tetap tertutup rapat. Ada yang membukanya dalam ungkapan nyata. Tanpa sekat.

Anggap saja aku memilih membukanya, melalui kata yang terlebih dahulu harus kau eja. Sebab rahasia kecilku tidak selamanya ingin terpenjara. Rasaku ingin merdeka.


Rumput Liar

Seseorang terlanjur merawat harapannya sampai tumbuh tinggi menjulang. Hingga suatu hari ia menyadari ternyata harapan itu menjelma menjadi ‘rumput liar’ yang menghalanginya berjalan.” 

Januari 23, 2014

Kampus Hijaiah : Alasan berhijab

Haloo selamat pagi semuanya. Sudah sarapan apa hari ini? saya sedang menyantap goreng ubi dan segelas teh hangat. Bagaimana dengan yang di sana? Sepanjang pagi ini saya sudah duduk manis di depan monitor. Siap melanjutkan misi berikutnya. Hari ini tidak langsung terjun kelapangan. Dari ruang kerja saja. Sebab saya juga perlu menyiapkan review untuk di evaluasi besok.

Ada kabar baik nih, sistem di komputer ‘agak’ canggih saya menemukan dua titik yang sedang berdekatan. Setelah ditinjau lebih detail ternyata Fa dan Ra’ sedang bersama sepagian ini. Mantaaap. Mari kita lihat akan seperti apa cerita yang kita dapat hari ini.

“Sedang apa Kak?” Ra’ menghampiri Fa yang sedang sibuk dengan skop kecil, pupuk kandang dan polybag. Sepagian ini Fa sudah berkutat dengan tanaman-tanaman apotik hidup. Ada beberapa tunas kunyit yang perlu dipindahkan ke tempat yang lebih besar.

“Boleh aku mengganggumu sebentar?”

Fa menoleh. “Hei kamu Ra’. Tumben main-main ke sini. Lagi nggak meliput?” Fa memeriksa tangan Ra’. Memastikan tidak ada alat perekam dan sebagainya. Fa tahu, biasanya sabtu pagi memang jadwal Ra’ untuk mencari bahan tulisannya. Untuk buletin mading hari senin.

Ra’ tertawa kecil. “Tenang Kak, aku hanya ingin mengobrol saja.”

“Waaah ada apa nih? Pagi-pagi sudah serius sekali.” Fa mengusap keringat di dahi. Membetulkan posisi kacamatanya. “Mengobrol tentang apa adik manis? Nggak keberatan kan kalau tangan ini sambil tetap bekerja?"

Ra’ tertawa. “Tentu saja Kak. Sekalian sini apa yang bisa aku bantu?” Ra’ menawarkan diri.

“Baiklah kalau begitu. Tolong bawakan cangkul itu ya. Sepertinya kita perlu tambahan tanah lagi.” Fa menenteng dua ember besar berisi pupuk kandang.

Ra’ mengangguk, mengikuti langkah kakaknya ke bagian belakang pekarangan apotik hidup.

“Aku mau tanya, apa sih alasan Kakak berhijab dan berpenampilan selayaknya muslimah yang baik?” Ra’ memulai pertanyaannya.

Fa menoleh sebentar. “Kakak bukan lagi sedang di wawancarai kan?” Fa menggoda lagi. Ra’ ikut tertawa, “Kamu berlebihan Ra’. Aku belum sebaik yang kamu kira. Bukankah kamu sendiri sudah berjilbab sayang? Alasanmu sendiri apa?”

“Aku kan baru tahap belajar, Kak. Belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Termasuk dalam berpakaian. Dan Kakak bisa lihat sendiri, aku masih saja lebih sering memakai celana jeans ke mana-mana, dibanding rok. Lebih lama Kakak istiqomahnya.” Ra’ mengaduk-aduk pupuk kandang dengan tanah hasil cangkulan kakaknya.

“Subhanallah, niat yang baik. Pertahankan niat itu, sayang. Insya Allah kebaikan-kebaikan berikutnya akan ikut serta dalam keseharianmu.”

“Sebagai seorang muslim. Ibadah kita kan masih banyak yang berdasarkan ikut-ikutan, Kak. Misalnya dalam takbiratul ihram ketika shalat. Aku yakin orang-orang shalat dengan di awali Takbir semata-mata karena mengikuti contoh yang sudah ada. Atas didikan orang tua. Kalau shalat harus begini harus begitu. Kata Guru ngaji dan sebagainya. Bukan karena tahu dalilnya, mengerti landasannya. Lebih sedikit orang yang paham atau pernah mendengar/membaca hadist yang menerangkan kalau Rasulullah memang melakukan Takbiratul ihram ketika memulai shalat.” Obrolan mereka semakin serius dan menarik. Dengan tangan tetap bekerja.

“Iya kamu benar.” Fa’ menghentikan sejenak pekerjaanya. “Kebanyakan kita tumbuh menjadi muslim yang mengikuti, bukan muslim yang mencari.”

“Nah, sekarang kembali lagi ke soal hijab, Kak. Aku takut berjilbab ini juga karena faktor ikut-ikutan. Atau bahkan suruhan orang tua. Dan nggak tahu sebenarnya apa yang mendasari niat kita untuk berjilbab. Makanya aku ingin tahu alasan Kakak berhijab apa?” Ra’ tersenyum.

“Seperti yang kamu bilang tadi Ra’, awalnya kakak memakai kerudung hanya karena terbiasa dari kecil. Kebiasaan orang tua kakak yang memakaikan penutup kepala sejak bayi. Hanya sebatas itu. Tapi beberapa tahun lalu kakak mulai berpikir, persis bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan yang sama sepertimu.”

Lengang sejenak.

“Ternyata sebagai muslimah, bukan sekedar berkewajiban menutup aurat dengan berhijab. Tapi ada yang memang seharusnya dijaga. Sesuatu yang lebih besar dampaknya. Fitnah dunia, Ra’. Kakak nggak ingin menjadi salah satu perempuan yang menjadi fitnah dunia. Perempuan yang pada akhirnya akan menyicipi jilatan api neraka karena nggak pandai menjaga dirinya, perbuatannya, tutur katanya dan juga dalam berpenampilan sehari-harinya.”

Ra’ terdiam lama.

“Bergetar hati kakak waktu itu, Ra’. Ketika mendengar penghuni neraka lebih banyak dari kaum kita. Lebih banyak perempuannya. Kakak takut sekali. Semenjak itulah kakak mengerti hijab bukanlah sekedar kewajiban. Tapi kebutuhan. Ada hal yang memang seharusnya dijaga. Yang jika dibiarkan akan menimbulkan fitnah yang lebih besar.” Fa menghela napas sejenak.

“Masya Allah. Aku ikut merinding mendengar penjelasanmu, Kak.”

“Ada satu lagi alasan pribadi Kakak, Ra’. Sebagai seorang perempuan, tentunya kakak ingin mendapat calon imam yang baik. Ia yang pandai menjaga pandangannya. Untuk itu kakak belajar istiqomah berhijab, dengan menjaga hak yang akan ia terima dari kakak kalau sudah menjadi istrinya. Tentu kamu mengerti maksud kakak.”

“Subhanallah. Aku memang nggak salah memilih tempat bertanya.” Ra’ memeluk Fa seakan lupa tangannya sedang blepotan dengan tanah. “Terima kasih, Kak. Aku ingin sekali belajar lebih banyak lagi darimu.”

“Adu duh... pekerjaan kita masih banyak, Dek.”

“Ups!” Ra’ terkekeh. “Uraian dari Kakak tadi boleh nggak jadi bahasan mading hari senin?” Ra’ menyeringai memamerkan gigi gingsulnya yang tumbuh satu di bagian atas. Bukan masalah besar untuk seorang Ra’ merangkum obrolannya sejak tadi. Ia perempuan berpredikat sebagai pengingat yang baik. Tidak perlu alat rekam.

“Eh?” Fa melotot. Memperbaiki letak kacamatanya.

“Haha... bercanda, Kak. Buletin untuk senin sudah beres kok.”  Ra’ mencuci tangannya. Pekerjaan mereka sudah selesai. “Kak, satu pertanyaan lagi deh. Bagaimana caranya membiasakan diri memakai rok?”

“Haduuuh pertanyaanmu aneh sekali Ra’. Kakak kan memang dari kecil sudah biasa memakai rok. Seharusnya kakak yang bertanya bagaimana rasanya memakai celana seharian?”

Keduanya tertawa.

“Buat dirimu senyaman mungkin, Dek. Dengan menjadi diri sendiri. Yang penting tahu batasan-batasan yang seharusnya dijaga. Dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah kita pilih. Kakak rasa itu yang lebih penting.”

“Siiip. Terima kasih Kak untuk pelajaran hari ini. Aku pergi dulu ya. Ada yang harus aku kerjakan.” Ra’ menyodorkan secarik kertas. Sebuah ilustrasi gambar seorang Fa dengan jejeran tanaman apotik hidupnya.

“Ra’, Ra’ sejak kapan coba dia menggambar ini?” Fa tersenyum. Punggung Ra’ sudah semakin jauh.

Syukurlah liputan hari ini lancar-lancar saja. Yup file cerita mereka bisa menambah rating review saya besok di markas. Untung saja sepagian ini mereka memakai bros kupu-kupu yang sama. Jadi rekamannya tidak mengalami hambatan seperti yang sudah-sudah. Beberapa pekan lalu mereka membelinya. Tentu saja itu saya yang menyamar menjadi pedagang bros di depan kampus. Waktu ada acara bedah buku. Salah satu alat pendeteksi keberadaan mereka.  Ah menyenangkan sekali menjadi agen rahasia ini. Bisa menyamar menjadi apa saja. Lumayan kan kalau saya sudah pensiun bisa membuka banyak wirausaha. Bhahaha....

Baiklah sampai di sini dulu. Sampai jumpa di kisah selanjutnya.


Januari 22, 2014

Kampus Hijaiah : Menjaga kepercayaan

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing....

Duh sudah jam berapa ini. Bisa-bisanya saya ketiduran ketika bertugas. Bisa gawat kalau ketahuan oleh team khusus pemantau aktivitas para agen. Hah, memang melelahkan membuntuti orang yang gemar jalan kaki kalau tidak terbiasa. Untung saja waktu transaksi abu gosok tadi saya sempat menjatuhkan robot semut mikro chip ke celana anak itu. Ah semoga saja kali ini robot itu bekerja dengan baik.

Sebentar, sebentar saya kucek-kucek mata dulu. Untuk kalian pembaca yang bijaksana, sembari menunggu saya mengaktifkan perangkat-perangkat pendukung monitoring dan sebagainya. Silakan kalau ada yang kebelet atau ingin mengambil cemilan di dapur. Tidak lama kok. Diusahakan.

Umm... sebentar ya. Baik. Nah ini dia. Pembaca sekalian, mari kita lihat apa yang sudah dilakukan Jim ketika saya tertidur. Sudah sampai mana anak itu melangkah. Di monitor saya terlihat kendaran-kendaraan rapat merayap. Pengamen-pengamen jalanan mulai beraksi. Sepertinya sedang lampu merah. Satu dua pedagang asongan berseliweran dari mobil satu ke mobil lain. Sejauh ini belum terdengar adanya percakapan.

Nah, sekarang jalanan mulai lengang. Sepertinya Jim memasuki sebuah gang kecil. Rupanya ia menemui nenek penjual nasi bungkus yang sudah bertahun-tahun mangkal di gang itu. Mak Kasroh biasa orang-orang memanggilnya. Kebetulan saya termasuk salah satu langganannya kalau lagi ngirit. Masakannya enak dengan harga kantong anak kosan banget. Ah jadi ikutan lapar. Sepertinya perut lupa kalau satu jam lalu baru diisi dua porsi mie ayam ceker Mang Domah. Terlalu.

“Emak udah lama ya dagang di sini?” seperti biasa Jim selalu bertanya ingin tahu.

“Hampir 20 Tahun, Nak.” Mak Kasroh menjawab antusias. Menyunggingkan senyum. “Dari Emak baru punya cucu satu.”

“Sekarang berapa cucunya?”

“Udah 12 sekarang mah. Cucu paling tua malah udah nikah tahun ini.”

Inilah keahlian seorang Jim. Ia tahu benar bagaimana caranya menghidupkan obrolan. Bagaimana pun orang tua akan selalu senang jika diajak ngobrol. Apalagi pedagang pinggir jalan yang jaganya selalu sendirian. Sudah pasti mereka merasa jenuh. Dengan mengobrol atau dipancing untuk bercerita seperti hiburan tersendiri untuk mereka. Itu teori Jim. Meskipun tidak sepenuhnya terbukti. Karena ada juga yang malah sebal ditanya-tanya.

“Wah udah lama juga ya Mak. Rame banget pasti kalau lagi pada kumpul semua cucunya.” Jim menggigit donat saljunya. “Selama itu nggak pindah-pindah dari gang ini?”

“Iya. Kalau lagi pada main ke rumah rame banget. Nggak, di sini terus Nak. Nggak pernah pindah. Udah enak di sini mangkalnya.”

“Rumah Emak jauh dari sini? Terus gerobagnya ditinggal di sini?”

“Dekat Nak. Lima kilo lah kira-kira. Nggak, gerobagnya dibawa pulang. Kalau pagi bapak yang bawain. Pulangnya bapak datang lagi. Ke sini.”

“Oooh gitu.” Jim menyeruput es teh manis pesanannya. “Tapi Emak dulu pernah kerja?”

“Pernah 6 tahun. Di pabrik keset. Tapi Emak berhenti karena kerjanya sampai malam terus. Tadinya ditahan-tahan sama bosnya, tapi Emak tetap ngundurin diri. Nggak ada yang ngurus bapak sama anak di rumah.”

Jim mengangguk mengerti. “Kalau bapak sendiri kerjanya apa Mak?”

“Ngurut, Nak. Bapak itu bisa ngurut pakai air panas. Alhamdulillah pasiennya banyak yang datang ke rumah. Orang-orang jauh, pada minta diurut sama bapak. Emak mah ngeri dah nggak pernah mau diurut sama bapak.” Mak Kasroh tertawa pelan.

“Kalau orang udah punya keahlian emang banyak yang nyari ya, Mak. Jadi bermanfaat.”

“Iya, kadang ada pasien perempuannya juga. Tapi kalau perempuan bapak selalu izin dulu sama Emak. Katanya kalau nggak diizinin sama Emak mah bapak nggak mau ngurut.”

“Terus Emak izinin?”

“Nggak. Kalau ngurut kan udah pasti buka baju, Nak.”  Mak Kasroh mencuci piring kotor.

Jim tertawa. “Seharusnya Djo belajar banyak sama si bapak ini. Bagaimana menjaga kepercayaan pasangan.” Jim bergumam sendiri. Teringat sifat Djo ketika bertemu dengan Rina di kampus.

“Jadi....”

Tut... tut... tut....

Alamak monitornya tiba-tiba gelap begini.

Koneksi error.

Status failed.

Tepok jidat. Jangan-jangan semutnya jadi korban lagi? Hadooooh....

Tak apalah, setidaknya hari ini tetap ada hasilnya. Berarti tinggal satu anak lagi yang belum ada file aktivitasnya. Ra', si bungsu yang enerjik. Sepertinya saya memang perlu mengkonsumsi vitamin ini. Mengingat empat anak ini terlalu aktif di kehidupannya masing-masing. Haha...

Adios para pembaca sekalian.


Januari 20, 2014

kampus Hijaiah : Manipulasi pengeluaran

“Tak bisakah lo sumringah sedikit kawan. Langit mendung. Kenapa juga lo ikut murung.”

“Eh lo, Jim. Dikira siapa.” Kembali Djo menekuni coretan-coretan tak beraturan yang ia buat dari tadi. “Gue ini lagi bingung Jim, bukannya murung.” Djo menjelaskan sembari menyeruput sisa minumannya.

Djo ini teman nongkrong Jim di kantin kampus. Mang Domah salah satu pedagang di kantin, sudah hafal benar dengan pesanan kedua anak yang suka jahil ini. Mie Rebus Soto Ceker. Bisa dibilang kedua pelanggan tetap Mang Domah ini memang agak sedikit merepotkan. Mang Domah aslinya hanya menjual mie ayam ceker. Biasanya Djo dan Jim patungan beli mie rebus rasa soto satu dus, untuk persediaan makan mereka. Dus mie itu sengaja dititip ke Mang Domah. Katanya biar Mang Domah nggak bisa nolak kalau diminta bikinin mie rebus soto ceker dengan alasan nggak ada mie instannya. Padahal dipikir-pikir apa bedanya coba? Toh sama-sama mie? Jelas ada bedanya. Dan itu hanya Djo dan Jim yang tahu perbedaannya.

“Mau makan sekarang Den?” Tanya Mang Domah melihat Jim baru datang. Sambil tangannya terampil menyiapkan pesanan mie ayam ceker untuk tiga porsi.

“Nggak Mang, saya mau jalan. Minta teh hangat tawar nggak pake gula aja ya Mang.” Sahut Jim dengan nada cepat. Mang Domah berhenti sejenak. Dahinya berkerut. Seperti menerka-nerka sesuatu. Jim terkekeh, lalu beralih ke Djo, “bingung kenapa?”

“Sekarang gue tanya, gimana cara mengatur pengeluaran uang yang baik?” Djo melingkari kata uang di kertas bekas coretannya. Di bawahnya banyak deretan angka, seperti fungsi bagi kurung pada matematika.

“Maksudnya?” Jim mempelajari coretan-coretan tak beraturan itu.

“Jadi kemarin gue baca blog, katanya kalau mau nabung yang sukses itu. Setelah dikeluarkan zakat penghasilannya 2,5% dan pajak. Sisihin uangnya dulu buat tabungan, baru sisanya buat pengeluaran. Bukan sebaliknya, nunggu ada sisa pengeluaran baru nabung.”

“Seharusnya begitu, terus?” Jim meraih segelas air dari Mang Domah. “Kok bening Mang?”

“Itu namanya teh air hangat tawar tanpa teh, Den.” Mang Domah terkekeh.

“Lho?” Jim mengerutkan dahi. Djo terkekeh, lebih dulu menangkap maksud Mang Domah.

“Teh-nya habis, Den.” Sahut Mang Domah tanpa merasa bersalah.
Jim menepok jidat baru menyadari sesuatu.

“Ok! Gue setuju dengan teori itu. Tapi kan tahu sendiri, kadang pengeluaran kita itu lebih banyak yang tak terduganya. Nah yang jadi pertanyaan sekarang, gimana caranya sisa uang setelah ditabung itu mencukupi kebutuhan semuanya. Sedangkan kadang lebih banyak uang itu habis tak berbekas, entah ke mana rimbanya. Sedangkan kebutuhan tetap saja nggak terpenuhi.”

“Waaaah berat juga nih pembahasan. Umm.... Kalau masalah pengeluaran itu relatif ya. Tergantung kita sendiri yang pandai-pandai mengaturnya. Memilah-milah mana yang seharusnya lebih diperioritaskan. Karena seharusnya kita sudah tahulah apa saja yang menjadi kebutuhan kita, bukan sekedar mengikuti keinginan. Alih-alih dihambur-hamburkan.” Jim meneguk minumannya. “Umm... begini saja, lo ikut gue sekarang. Kita cari tahu cara yang baik mengatur sebagian uang itu, dengan pengeluaran yang lebih bermanfaat.”

Djo mengangguk. Mulai tertarik.

“Mang makasih ya teh hangat tanpa teh-nya.”

“Besok mah dijamin plus teh, Den.”

Jim melambaikan tangan. Bukan suatu masalah.

“Jalan kaki nih kita?” Djo merasa perlu bertanya, karena Jim tidak terlihat menuju parkiran motor. “Memang tujuan kita ke mana?”

“Yoi.” Sahut Jim tanpa merasa perlu menjawab pertanyaan kedua Djo.

“Halooo Djo, mau ke mana?” Seorang mahasiswi bertanya pada Djo.

“Hai Rin. Nanti aku telpon ya.” Jawab Djo sambil melempar senyum terbaiknya.
Djo menyikut lengan Jim. “Jim yang barusan jangan bilang-bilang ke Sinta ya.”

“Maksudnya?”

“Iya jangan bilang-bilang Sinta kalau gue telpon-telponan sama Rina, bisa-bisa dia marah kalau ketahuan.”

Jim melambaikan tangan. Bukan urusannya.

Lima belas menit berlalu tanpa percakapan. Langit tak lagi mendung. Sepertinya tidak jadi turun hujannya. Deru-deru kendaraan terdengar saling bersahutan. Djo sudah mulai ngos-ngosan. Tentu saja ia tidak seperti Jim yang terbiasa jalan kaki dengan jarak jauh.

Sampai lampu merah pertama mereka berhenti.

“Kalau tahu mau ke sini tadi pakai motor, Jim. Haaah.” Djo mengatur napasnya.

“Dekat toh? lagipula dikira kita bisa menemukan sesuatu tanpa perlu berjalan sampai sini. Ternyata nggak.” Jim beralasan.

“Dengkulmu dekat. Jadi sebenarnya apa yang kita cari di sini?” Djo tidak sabaran. Meski tidak panas udaranya. Berjalan dari kampus sampai lampu merah cukup membuatnya gerah.

“Perlu diingat kawan. Nggak cuma kita yang punya banyak kebutuhan setiap harinya. Orang lain juga. Bahkan mungkin lebih banyak. Dan perlu menguras pikiran lebih keras lagi. Nah, untuk mengurangi tingkat pengeluaran itu, coba kita manipulasi dengan membantu memenuhi kebutuhan mereka. Nggak perlu banyak, sekedarnya saja juga sudah mengubah banyak hal.”

“Yaelah berbelit-belit amat. Maksudnya memberi ke mereka-mereka?” Djo menunjuk ke peminta-minta yang sedang mengetuk-ngetuk kaca mobil. “Ngapain jauh-jauh ke sini. Di dekat kampus kita juga banyak.”

“Ye... siapa bilang ini berhubungan dengan mereka. Nggak, uang itu bukan untuk dikasih ke mereka. Jelas kalau yang itu malah nggak mendidik.” Jim mengedarkan pandangan ke segala arah. Mencari sesuatu. “Nah itu saja, Pak beli Pak.”

“Loh bapak itukan jualan abu gosok, Jim. Buat apa?”

Jim menyikut lengan Djo menyuruh diam.

“Sebungkusnya berapa Pak?”

“Cukup seribu perak, Den.”

“Duit sisa kembalian Mang Domah berapa tadi?” Jim berbisik.
 Djo mengeluarkan uang dari sakunya.

“Saya ambil lima bungkus Pak. Nggak usah diplastikin Pak. Ditenteng begini saja.”
Pedagang abu gosok mengangguk. Mengucapkan terima kasih. Lalu pergi.

“Kita kenapa jadinya beli abu gosok, Jim? Kita kan lagi ga butuh itu. Dan gue rasa-rasanya familiar dengan tukang abu gosok tadi. Kayaknya sepanjang jalan dia ngikutin kita dari kampus.”

Jim tersenyum, “Masa sih? Nggak lihat apa tadi si bapaknya. Sudah tua tapi masih semangat mencari nafkah. Bukannya banyak yang kayak si bapak tadi? Nah, carilah alasan apa saja untuk membeli apa yang mereka jual. Sekalipun lo lagi nggak butuh barangnya. Itu jauh lebih bermanfaat, dibanding lo mengeluarkan uang yang nggak jelas arahnya. Yang lo bilang apa tadi? Hilang begitu saja, tak berbekas. Entah ke mana rimbanya. Bla bla bla.”

Djo bengong, masih mencerna kata-kata Jim. “Tapi ada benarnya juga sih, Jim.”

“Masih mau lanjut jalan ga nih? Tujuan gue masih satu lampu merah lagi.”

“Ogaaaaah. Mendingan gue pulang.”

“Yaudah nih bawa abu gosoknya. Kasih Mang Domah kek buat dia nyuci piring.”

“Nah, kan kan jadi gue juga yang ketumpuan bawa-bawa beginian. Mana jalan kaki.”
Jim terkekeh, cepat-cepat berlalu.

Hah, hari yang cukup melelahkan. Memang bukan pilihan yang tepat untuk membuntuti seorang Jim dengan berjalan kaki. Apalagi harus memikul-mikul barang begini. Walaupun cuma abu gosok, kalau banyak ya bikin pegel pundak juga. Ditambah perut baru diisi mie ayam ceker Mang Domah. Udah diajak jalan. Enak banget itu cekernya. Bikin mau nambah.

Sebenarnya yang bikin berat bukan abu gosoknya. Tapi monitor tampah ini. Ini keluaran jadul, perangkatnya masih manual. Kenapa juga markas mengirimnya beginian, bukan robot capung atau apalah itu. Nasib-nasib jadi agen rahasia. Setelah insiden robot capung yang dirusak anak-anak waktu itu. Saya harus mengikuti penyuluhan ulang tentang mekanisme kerja di lapangan. Katanya tindakan ceroboh saya kemarin bisa membahayakan anak-anak. Hah...

Kalau nggak salah dengar anak ini mau melanjutkan jalan lagi? Oh No. Sepertinya harus balik dulu ke markas untuk persiapan yang lebih matang.  Jadi sampai di sini dulu pembaca sekalian yang bijaksana. Saya mau mengurut betis dulu. Adios.


Januari 17, 2014

Kampus Hijaiah : Taman Baca Sepeda

Haloo pembaca yang bijaksana. Sebelumnya mohon maaf nih beberapa hari ini saya tak sempat menyapa kalian. karena dua hari yang lalu mendadak saya harus ke markas besar, menyerahkan dokumen-dokumen penting hasil pemantauan saya kemarin-kemarin. Di sana file-file tersebut akan diolah dan diamati oleh agen-agen yang kompeten dibidangnya.

Umm... baiklah sepertinya saya harus menerangkan sedikit misi khusus ini. Untuk kalian ketahui, di luaran sana -tempat yang tak diduga dan belum pernah kalian kunjungi. Ada sebuah pergerakan terselubung yang sudah lama kami dirikan. Untuk satu tujuan, mencegah dunia kebebasan. Ada banyak sekali agen-agen khusus yang disebar ke seluruh penjuru dunia. Salah satunya saya, setiap agen membawa tugas untuk mengawasi empat orang pilihan. Mereka dipilih dengan acak oleh mesin teladan. Setelah itu, tugas agen-agen khusus lah yang bergerilya mengawasi, memata-matai setiap gerak-gerik kehidupan mereka. -boleh jadi kalian yang sedang membaca tulisan ini termasuk target salah satu agen kami untuk diawasi. Tapi tenang saja, kami sama sekali tidak akan mengganggu hal-hal yang sangat amat pribadi. Yang menjadi rahasia kalian.

Nantinya file-file yang terkumpul, akan diolah lebih lanjut. Jika sudah memenuhi kelayakan, file-file itu akan diperbanyak dalam bentuk bermacam-macam. Disket, chip, program games, selebaran buku, ebook dan sebagainya. Sesuai dengan kebutuhan. Untuk apa? untuk mencegah dunia kebebasan menyebar lebih luas.

Percayalah bukan hanya team kami yang sedang menyusun pergerakan terselubung ini. Ada banyak agen-agen ilegal yang berdiri dan mengupayakan dunia kebebasan itu benar-benar menguasai dunia. Mereka bergerilya dengan lebih gencar. Melalui permainan games yang bisa melupakan waktu belajar, ibadah dan kegiatan yang jauh lebih manfaat. Dari program-program yang digencarkan media. Dari buku-buku pencuci otak. Dan lain sebagainya, yang kami semua tidak ketahui secara mendalam.

Terus apa itu dunia kebebasan? dunia yang sudah sangat rusak oleh pemikiran-pemikiran orang yang menganggap semua hal halal untuk dilakukan. Laki-laki dengan perempuan sudah semakin membaur. Anak-anak tidak merasa perlu lagi hormat ke orang yang lebih tua. Orang tua tidak lagi memedulikan pendidikan moral untuk anak-anaknya, dibiarkan jadi pengemis, penjahat, koruptor dan tumbuh dengan kerusakan-kerusakan. Orang-orang tidak malu lagi untuk mencuri, mengambil hak orang lain. Halal-haram sudah semakin abu-abu untuk dibedakan. Orang-orang sudah kehilangan rasa malu, mengumbar aib sendiri di depan umum. Dan kondisi kebebasan lain yang sangat menakutkan untuk dilihat.

Tapi kalian jangan khawatir, selagi masih ada orang-orang yang bergerak peduli untuk memperbaiki diri. Menebar kebaikan-kebaikan. Saling nasihat menasihati dalam kesabaran. Masih menyadari batasan-batasan yang tidak seharusnya dilakukan. Dunia kebebasan ini tidak akan mudah untuk meluas. Dan itulah tugas kita semua, termasuk kami sebagai agen khusus. Kami akan berjuang mengumpulkan file-file kebaikan, kepedulian, nasihat-nasihat teladan, kata-kata bijak orang tua yang masih tersisa. Dan berharap jika kelak dunia kebebasan memang sudah tidak mampu lagi untuk dicegah kemunculannya, akan masih ada harapan untuk generasi-generasi mendatang. Dengan memperlihatkan file-file itu. Agar mereka tahu, belajar, inilah kebaikan, inilah kepedulian, inilah nilai-nilai yang positif dan sebagainya.

Pergerakan kami bukan berarti tanpa resiko. Untuk itu kami perlu merahasiakan jati diri sebagai agen. Menyembunyikan kegiatan-kegiatan di markas besar. Untuk alasan keamanan. Untuk itu wahai pembaca sekalian yang bijaksana, cukuplah kalian percaya bahwa kami ada. Untuk masa depan generasi yang lebih baik.

Baik, saya rasa cukup penjelasannya. Mari kita lanjutkan misi kita. Sebentar, akan saya siapkan alat pendukungnya. Ummm... sebentaaaaar. Ok siap.

Alun-alun kota belum terlalu ramai. Hanya ada satu dua pasangan yang menikmati udara petang. Ya, sekarang saya sedang duduk membaca koran di salah satu bangku taman. Ini bukan koran sembarangan, ini monitor tembus pandang. Orang lain akan melihat saya sedang membaca koran, sedangkan saya bebas melihat mereka kebingungan melihat orang membaca koran terbalik. Ah sudahlah saya hampir kehabisan waktu untuk membetulkan posisi monitornya.

Sebentar-sebentar, capung robot saya masih mencari target kita hari ini. Nah, ini dia sepedanya. Tepat arah jam dua belas dari tempat duduk saya. Baik, gambar ok. Suara jelas. Mari agen khusus bekerja. Semoga tidak turun hujan.

Seperti biasa, setiap minggu petang kalau langit cerah. Fa dengan sepeda antiknya akan menggelar 'taman baca sepeda'. Ia akan menyediakan berbagai macam buku. Novel, majalah bekas, komik, buku-buku pelajaran umum, dongeng, bahkan kamus tebal bahasa inggris-indonesia. Selama dua jam ia akan memarkirkan sepedanya di bawah pohon rindang. Menunggu pengunjung alun-alun yang ingin membaca. Sudah berjalan dua bulan kegiatan ini. Awalnya hanya dirinya yang sibuk membaca. Tak ada satupun pengunjung yang mampir ke taman bacanya. Tapi ia tidak berkecil hati, tetap tersenyum. Tekadnya bulat, menyebarluaskan kebiasaan membaca kepada banyak orang yang mengaku sibuk dengan kegiatannya.

Di minggu kedua pada bulan pertama, hanya ada satu pengunjungnya yang melihat-lihat. Anak kecil yang berprofesi sebagai pengamen jalanan. Fa tersenyum sumringah, ini tamu pertamanya. Meskipun anak itu hanya melihat-lihat sebentar kemudian pergi. Dan di minggu selanjutnya baru taman baca sepeda resmi dibuka, rupanya anak pengamen itu datang lagi dengan membawa banyak temannya.

Mereka semua antusias saling mengambil komik dan buku dongeng. Meski entah dibaca atau cuma dilihat-lihat gambarnya.

Sekarang lihatlah taman baca sepeda ini telah mengalami kemajuan pesat. Tidak perlu menunggu sampai lima belas menit, pembaca sudah banyak. Duduk rapi pada rerumput hijau. Sibuk dengan bacaannya masing-masing. Tidak hanya anak kecil, ada juga remaja, anak sekolah dan orang tua. Mereka sudah hafal dengan jadwal buka-tutup taman baca sepeda ini.

Fa pun jadi lebih dikenal sebagai peri buku, itu julukan anak-anak jalanan. Fa tersenyum mendapat julukan itu. Ia sudah menyiapkan toples berisi permen untuk dibagi-bagikan kepada pengunjung. Tentu saja para pengunjung senang, buku-buku koleksi Fa sangat menarik. Setiap minggunya selalu ditambah dengan yang baru. Sejauh ini semua tidak ada hambatan. Semua buku kembali ke tempatnya dengan keadaan utuh. Fa menghela napas lega. Tidak terasa dua jam. Waktunya berkemas pulang. Tinggal beberapa anak kecil yang bertahan.

"Kak, aku bantu rapihinnya ya." Seorang anak pengamen menghampiri Fa. Dari data yang muncul di monitor saya, nama anak itu... Arid.

"Waah memang Adek udah selesai bacanya?" Fa tersenyum.

"Belum tamat sih Kak. Minggu depan kakak datang lagi kan?" Tanya Arid antusias.

"Tentu, Insya Allah Dek. Kalau Adek mau bawa dulu aja bukunya. Minggu depan bisa dikembalikan. Biar yang lain juga dapat giliran membacanya. Gimana?"

"Boleh Kak?" Mata anak itu berbinar.

Fa mengangguk tersenyum.

"Yes. Sini Kak aku saja yang menyusun bukunya di kardus." Arid cekatan semangat.

Fa melihatnya tersenyum. Terlihat mencatat judul buku dongeng di notenya. Satu buku dipinjam Arid.

Duh, sepertinya pengawasan ini tidak bisa dilanjut. Layar monitor saya tiba-tiba mati. Jangan-jangan capung robot saya tertangkap. Tadi ada anak jahil yang mengincarnya. Huh... dasar anak-anak. Kalau begitu sampai di sini dulu. Sampai ketemu lagi para pembaca yang bijaksana.



Januari 15, 2014

Kampus Hijaiah : Seminar Kepenulisan

Haloo pembaca yang bijaksana. Hari ini kampus Hijaiah sedang riuh sekali. Banyak murid-murid yang berlalu lalang ke sana kemari sambil mengobrol. Ada pula yang duduk-duduk santai –membuat lingkaran, di bawah pohon pala. Entah mendiskusikan apa. Desas-desus yang saya dengar, baru saja ada rapat besar di ruang kerja KAF. Membahas banyak agenda kegiatan untuk menyambut tahun ajaran baru. Biasalah untuk menarik peminat calon Mahamurid baru. Dan mereka baru saja bubar dari rapat itu.

Hari ini saya sengaja menyamar menjadi petugas kios fotocopy-an. Menggantikan nyonya Marbutoh yang sedang terburu-buru menjemput anaknya pulang sekolah. Kelas 4 SD. Biasanya sih anak itu tidak rewel minta dijemput, bisa pulang sendiri. Tapi entah kenapa hari ini agak sedikit manja. Sampai-sampai nyonya Marbutoh terlihat sedikit kesal. Kiosnya sedang ramai. Bukan waktu yang tepat untuk ditinggal.

Sssst... rahasia kecilnya, sebenarnya saya yang beberapa menit lalu menelpon nyonya Marbutoh. Dengan sedikit bantuan alat pengalih suara, saya pura-pura menjadi anaknya. Merengek-rengek minta segera dijemput. Ini sangat mudah, saya meniru gaya Conan Edogawa ketika memecahkan misteri. Dan berhasil telak. Tak apalah, hitung-hitung bantu nyonya Marbutoh istirahat sejenak dengan rutinitasnya. Mempertemukan ibu dan anak itu juga hal yang baik bukan? Hahaha....

Ini misi khusus, karena target saya hari ini pasti akan mengunjungi kios fotocopy-an ini. Nah, itu arah jam sembilan target sudah terlihat mendekat. Saya harus segera siap-siap, agar penyamaran ini tidak dicurigai oleh mereka.

Lam sang ketua KAF kita terlihat membawa sebuah map, tempat berkas-berkas hasil rapat tadi. Di sebelahnya ada Dzal, juga membaca selebaran kertas. Ia menjadi koordinator bagian Humas.

“Bang tolong diperbanyak dua puluh lembar.” Dzal memberikan selembar kertas. Saya mengambilnya dan mulai bertugas sesuai pesanan. Syukurlah sejauh ini mereka tidak menyadari kalau yang menjaga kios berbeda. Berubah jenis kelamin pula.

Itu undangan rapat untuk para pengurus senior. Membahas tentang seminar kepenulisan bulan depan.

“Kak, aku punya usul. Gimana salah satu penulis yang memberikan materi nanti mbak Tere saja?” Dzal berujar.

“Mbak Tere?” Lam mengerutkan dahi. Pandangannya beralih ke etalase. Melihat-lihat pulpen.

“Iya mbak Tere Liye. Ituloh penulis best seller Hafalan Shalat Delisa.”

“Memangnya perempuan ya?” Lam mengambil uang di kantong kemejanya, “Bang Pulpen yang ini satu deh.”

“Setahuku sih perempuan Kak. Bisa dilihat dari tutur bahasanya juga.”

“Memangnya kenapa harus Tere Liye?”

“Aku sudah punya sembilan novelnya di rumah. Banyak pelajaran penting setelah membaca cerita-cerita fiksinya. Apalagi yang berjudul Rembulan Tenggelam Di Wajahku. Pokoknya recomended deh.”

Lam mengangguk.

“Bisa dibilang aku ini agen ‘tidak resmi’ terselubungnya Tere Liye, Kak. Aku suka sekali mengajak orang-orang buat suka membaca karya-karya Tere Liye. Udah ada sekitar lima orang yang akhirnya berminat membacanya juga. Tidak ada alasan khusus sih. Hanya saja menyenangkan sekali melakukannya.”

“Waaah semangat sekali. Jangan-jangan aku ini sedang jadi target selanjutnya ya?”

“Secara nggak resmi bisa dibilang begitu, Kak.” Dzal terkekeh. “Aku sedang bersemangat saja mengusulkan nama Tere Liye sebagai daftar penulis yang wajib kita undang untuk mengisi seminar kepenulisan nanti. Bagaimana?” Tanya Dzal sungguh-sungguh.

“Baik, aku buka wacana ini dalam rapat besok. Diingatkan lagi nanti ya.” Lam mengalihkan pandangan ke penjaga kios. “Jadi berapa Bang semuanya?”

Saya menyebutkan nominal dan transaksi jual-jasa pun berlangsung. Setelah mengucap terima kasih mereka berlalu. Aha... aku tertawa, selanjutnya akan lebih mudah mengintai keseharian murid pertama kita ini. Di pulpen yang Lam beli tadi, aku sudah pasangkan kamera mikro. Sudah canggih dan fleksibel, karena dilengkapi dengan sensor anti pribadi. Sederhananya, kamera itu akan otomatis mati ketika sudah menyangkut hal-hal pribadi yang Lam lakukan. Seperti mandi dan kegiatan lain yang tidak termasuk target yang kita ingin selidiki.  Lagipula mana ada orang yang hendak mandi membawa-bawa pulpen ya?

Sekarang saya hanya perlu duduk manis, dan mulai memonitor kegiatan Lam selanjutnya. Mari kita simak. Dan berharaplah tidak ada yang datang ke kios untuk sekedar memotokopi bocoran tes. Itu sangat mengganggu sekali.

“Dzal, sekarang kita ke rumahku saja. Kemarin aku sudah dapat design baliho dan pamflet dari Ra’ untuk acara kita nanti. Sayangnya flasdiskku tertinggal di rumah. Aku harus mengantar Alif mengaji sore ini. Jadi aku tak sempat mengantarkan ke rumahmu. Bisa ya?”

“Siplah Kak. Meluncur ke TKP.”

Nah, selagi menunggu Lam dan Dzal sampai. Tidak menarik juga bukan melihat kondisi jalan raya yang selalu macet. Saya akan membahas sedikit mengenai Komunitas Alif Fathah ini.  Sesuai dengan nama dan lambangnya, alif fathah dalam bahasa arab dibaca jelas A. Komunitas ini bercita-cita ingin menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan tegas kepada setiap diri anggotanya. Disiplin dan bertanggung jawab atas perilaku diri sendiri. Mengajak diri pribadi untuk selalu berperilaku baik, menyeru dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Dan tentu saja belajar meredam hawa nafsu yang membawa sifat-sifat buruk. Untuk itu KAF selalu berinovasi melakukan kegiatan-kegiatan positif di luar jam mata kuliah. Kegiatannya apa saja? nantilah ya sambil berjalan saja menerangkannya.

Lam dan Dzal sudah sampai di kediaman abah Tanwin.

“Dzal, keberatan nggak kalau kamu ambil flasdisknya di meja kamarku. Sepertinya aku harus jemput Alif di tempat mainnya. Sudah jam segini belum pulang buat mandi dan siap-siap ngaji.”

“Oke Kak. Di meja kan ya?” Dzal memastikan. Teman-teman pengurus KAF yang laki-laki memang sudah tidak canggung dengan rumah abah Tanwin. Mereka sering menginap untuk sekedar bakar-bakar ayam atau ikan.  
Lam mengangguk. “Maaf Dzal sekalian. Simpan saja di meja ya.” Lam memberikan map dan pulpen digenggamannya.

Dzal pun langsung menuju kamar Lam. Aha, lihat apa yang terjadi kemudian. Dzal sedikit terkejut melihat rak buku, Lam. Di antara deretan bukunya, ada barisan 17 novel-novel karya Tere Liye. Dan sebuah foto di dinding dengan capture ‘Bedah Novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu Tere Liye 181213, Lam dan Bang Tere.

Dzal menggaruk-garuk kepala. Menyambar flasdisk dan keluar dari kamar, Lam.

Umm... sebagian sifat sok tahu tanpa mencari tahu lebih dulu kebenarannya, memang kenyataannya kadang menggelikan bukan?

Monitornya sudah tidak menangkap gambar apa-apa selain kamar Lam yang lengang. Saya harus segera pergi dari kios nyonya Marbutoh ini, ia sudah pulang. Sebelum ia menyadari ada orang asing di kiosnya selama ia pergi. Bisa panjang urusannya. Setidaknya saya sudah pastikan kamera mikro pulpen anti pribadi itu sudah berfungsi dengan baik. Jadi tinggal tunggu cerita selanjutnya ya. 

Januari 10, 2014

Tidak Sembarang Terbuka

Katakan pada mereka,

“Aku masih terlihat selalu sendiri bukan berarti tidak memiliki tujuan. Hanya saja aku sedang menjaga apa yang sudah seharusnya terjaga. Hingga adanya kesempatan dihalalkannya pasangan.

Aku menjaga hal-hal pribadiku dengan menutup pintu. Tidak membiarkannya sembarang terbuka. Hingga aku mendapat petunjuk Tuhanku. Tentang ciri-ciri tamu yang datang secara santun. Ia yang tidak lancang begitu saja masuk sebelum aku sedia bukakan pintu. Ia yang mengutarakan maksud hati untuk menetap bersamaku, dengan sebelumnya meminta restu orangtuaku."


Kampus Hijaiah : Kisah Lam, Jim, Ra' & Fa

Salam hangat untuk pembaca sekalian yang bijaksana. Selamat datang di kampus Hijaiah. Kampus Paling gaul –dalam artian positif. Tidak pernah tergerus oleh zaman yang semakin modern. Kampus istimewa yang pernah ada di dunia. Kampus yang banyak melahirkan generasi-generasi terbaik pada zamannya. Kampus masa depan yang menjanjikan kehidupan. Tapi bukan seperti kampus-kampus yang kalian kenal. Ini kampus yang berbeda.

Ups... saya sudah seperti bagian promosi kampus saja, yang biasanya menyebarkan brosur-brosur ke adik-adik kelas sekolah menengah atas. Kapan lagi kalau bukan setelah ujian akhir sekolah. Tentu tidak, saya berada di sini bukan berperan sebagai itu. Tidak akan memperpanjang bahasan tentang kampus dan segala macam program-program pembelajaran bla bla bla-nya.

Di sini saya akan menceritakan segelintir murid-murid terbaik kampus Hijaiah. Yang tengah berjuang dengan mata kuliah kehidupannya. Anggap saja ketika sedang melihat-lihat ruangan arsip kampus, dengan tidak sengaja menemukan database mereka. Dan saya iseng membacanya.

Ssst... sebenarnya bukan begitu, saya memang sengaja mencari tahu profil mereka satu persatu. Ini misi khusus. Sangat rahasia. Jadi kalian sebagai pembaca yang bijaksana, bacanya pelan-pelan saja ya. Diam-diam.

Siapa saja mereka? Sebenarnya saya lebih fokus ke empat orang. Dua laki-laki. Dua perempuan. Dengan sifat dan karakter yang berbeda. Tapi memiliki kepemahaman yang sama dalam mengisi hidup. Hari ini harus selalu lebih baik dari hari kemarin. Itu prinsip mereka.

Kalian juga ingin tahu lebih dalam tentang mereka? Baik kita urai profilnya satu persatu. Mumpung ruang arsip masih lengang. Belum pada pulang dari jam istirahat. Aha... sejauh ini amaaan.

Murid pertama bernama Lam. Anak sulung dari keluarga emak Nun dan abah Tanwin. Memiliki adik laki-laki bernama Alif, berusia lima tahun. Di umur segitu, Alif sedang tumbuh dengan keingintahuan yang besar. Apa saja ditanyakan. Semua hal dibanding-bandingkan. Nah, esok-lusa sangat menarik sekali kalau  kita ‘mencuri dengar’ tentang bagaimana seorang kakak menjawab pertanyaan adiknya yang kritis dan tak terduga. Bagaimana Lam menyikapi keingintahuan Alif dan menjawabnya dengan pemahaman-pemahaman yang baik. Seru sekali pastinya.

Lam memiliki sifat pendiam dan agak kaku. Berpenampilan sederhana. Tidak banyak bicara, tapi terlihat tindakannya. Dan sekalinya mengeluarkan pendapat, semua orang akan mendengarkan dengan penuh perhatian. Seperti tidak ingin melewatkan satu kata pun yang keluar dari pemikiran seorang Lam. Makanya di acara-acara penting yang digelar kampus, Lam menjadi sorotan banyak mata. Tidak heran jika ia diangkat menjadi ketua KAF di kampus Hijaiah. Komunitas Alif Fathah dengan lambang A dalam tulisan arab. Sebuah komunitas sentral yang membawahi komunitas kecil lainnya yang ada di kampus. Tentang KAF ini nanti kita bahas lebih detail.

Baiklah lanjut ke profil murid yang kedua. Namanya Jim. Semenjak kecil hanya tinggal dengan kakek neneknya. Dan beberapa bulan ini ia suka tinggal bersama keluarga abah Tanwin, berbagi kamar dengan Lam. Jim tidak terlalu memperhatikan penampilan. Rambut yang gondrong dan jarang disisir. Ke kampus tidak pernah membawa modul materi kuliah. Tapi kalau soal daya menghafal, Jim jagonya. Jim tumbuh menjadi pemuda yang sedikit liar, tapi tetap menjaga aturan-aturan yang ditetapkan agama. Liar tapi tahu batasan yang diperbolehkan dan yang dilarang. Ia bertanggung jawab dengan segala perbuatannya. Tidak pernah takut apapun selagi ia merasa benar.

Jim hobi sekali berpetualang, jalan kaki. Menelusuri tempat-tempat yang belum pernah ia datangi, sambil memotret. Hasil jepretan kameranya patut diperhitungkan. Ia tidak segan bertanya banyak hal kepada semua orang yang ia temui. Keingintahuannya besar. Baginya, semua yang ia temui adalah pembelajaran yang baik. Salah satunya dari pengalaman orang lain. Makanya akan sangat menarik kalau kita diam-diam membuntuti Jim. Kita akan menemukan hal-hal yang berbeda yang selama ini mungkin kita belum tahu. Meskipun akan sedikit cape karena ya itu, jalan kaki.

Sekarang kenalkan murid kampus Hijaiah yang ketiga. Si perempuan berkaca mata. Dikenal dengan panggilan Fa. Di mana ada buku di situ ada Fa. Ke mana-mana selalu membawa buku. Ia gemar sekali membaca. Tentang apa saja. Mudah menemukannya, datangi saja perpustakaan kampus, perpustakaan besar di pusat kota atau toko buku langganannya.

Tidak banyak yang tahu tentang Fa. Ia sangat tertutup. Tidak mudah ditebak dan selalu tersenyum. Dunia Fa selalu ceria di mata orang-orang. Meskipun tidak ada yang tahu kalau ia sedang sendirian. Ia juga pandai menulis. Pengisi rutin rubrik cerpen mading kampus Hijaiah. Cerpennya banyak digemari. Meskipun mereka tidak tahu kalau itu tulisan Fa. Si kutu buku. Ya, Fa tidak pernah meninggalkan nama pada setiap tulisannya, sekalipun nama pena. Mudah saja memasukkan cerpen itu ke mading, karena ia salah satu pengurusnya.

Fa selalu terbuka ketika seseorang membutuhkan tempat untuk bercerita. Ia pendengar yang baik. Perangkul yang hangat. Pemikirannya dewasa. Meskipun ia sadar betul betapa keras kepalanya ia. Bisa dibilang Fa adalah ikon muslimah sejati di kampus Hijaiah. Meskipun banyak juga yang masih beranggapan penampilan Fa itu kuno. Tidak masa kini. Mereka segelintir murid kampus yang belum memahami pentingnya menutup aurat yang sesuai dengan syariat sebagai muslimah. Fa tidak terganggu dengan pendapat miring tentangnya itu.

Siap-siap saja kalian mendengar ketegasan seorang Fa dalam menyikapi kesehariannya.

Dan murid keempat panggil saja dengan nama Ra’. Anak bungsu dari empat bersaudara. Perempuan yang sangat enerjik dan aktif –meski agak sedikit manja. Vocalnya terdengar di mana-mana. Selalu ikut serta diberbagai kegiatan kampus. Dan pandai sekali membuat ilustrasi gambar. Sebut saja apa yang sedang kalian imajinasikan, tidak sampai lima menit ilustrasi imajinasimu pindah menjadi bentuk gambar.

Ra’ masih belajar menjadi muslimah yang lebih baik. Ia belum terbiasa memakai rok ke mana-mana. Selalu memakai celana jeans dan sepatu ketsnya. Meskipun tetap bisa menjaga diri dari tidak bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahromnya. Bisa menjaga pandangan dan jarak dari mereka. Dengan memiliki prinsip yang teguh, Ra selalu bisa diandalkan dalam kelompoknya.

Nah itulah ke empat murid terbaik di kampus Hijaiah yang akan saya pantau terus gerak-geriknya. Tak perlu ditanya ya bagaimana cara saya bisa tahu banyak hal tentang mereka. Itu rahasia penyelidikan yang maaf saja tidak bisa saya ceritakan ke kalian. Bisa dengan menempelkan chip pada pakaian mereka, menggunakan kamera pengintai, pura-pura jadi sales yang datang ke rumah. Lewat loteng atau apalah itu nantinya. Tak perlu kalian risaukan soal itu. Sebagai pembaca yang bijaksana, ikuti saja jalan cerita yang sudah saya kumpulkan dari ke empat anak-anak ini. Deal?

Sepertinya saya sudah harus keluar dari ruang arsip kampus ini. Radar pendeteksi saya menangkap ada jejak kaki yang mendekat ke ruangan. Saya harus keluar. Jadi sampai jumpa dicerita selanjutnya.