Juli 23, 2013

Seseorang yang dikenal

Ada seseorang yang kukenal sosoknya hanya untuk menjadi penyemangat, bukan sebagai pelengkap hidup.

Seseorang yang kukenal sosoknya hanya sebagai sumber kekuatan, bukan sebagai pendamping hidup.

Seseorang yang kukenal, ia sering kali hadir dalam ingatan, tapi tidak cukup baik untuk dirindukan.

Ia sering bersliweran di dalam pikiran, tapi tak cukup baik untuk diharapkan.

Ia selalu tersebut dalam doa, meski tahu tidak lagi bisa berharap akan bersama.

Yang namanya selalu menjadi doa 'monoton', selalu kupinta, meski tahu tidak akan lagi berada di jalan yang sama.

Seseorang yang datang menawarkan (r)asa yang baik, aku sedia untuk memupuknya. meski tak selalu berhasil memeliharanya.

Sedia untuk menerimanya, meski tak selalu berhasil mengendalikannya.

Kadang terlanjur menerimanya, terlalu percaya diri menggenggamnya. sampai tak tahu cara untuk melepaskannya.

Kadang perihal melepaskan memang tak pernah sederhana, terlebih ketika hati yang (harus) mengurai maknanya.

Ada seseorang yang kukenal ia mahir menumbuhkan harapan-harapan, yang tak bisa ku mengerti mengapa tumbuh subur.

*kalimat genap balasan twit @aulialiesa

Juli 21, 2013

Berbagi Bukit Senja (2)

“Seperti biasa, titip motornya ya Bang.” Basa-basinya sambil mengeluarkan sebatang rokok dari saku.  

“Siap Mas Faza. Beres. Pokoknya soal motor mah aman.” Jawabku sambil mengembalikan uang kembalian ke Indri yang membeli minuman dingin. “Kembaliannya Neng.

“Terima kasih Bang.” Indri berlalu. Dari arah langkahnya, rupanya ia yang akan mengalah kali ini. Tapi tidak lama Faza terlihat mensejajari langkahnya. 

“Kenapa kita tidak berbagi senja bersama saja? Sesekali boleh kan?” Faza menawarkan ramah, sambil membenahi letak ransel yang dibawanya. 

Indri enggan menjawab. Ia memutar arah, setuju dengan usul lelaki yang mengajak bicaranya itu. Menutup hidungnya dengan ujung pangkal jari, menghalau asap rokok. Merasa terganggu.  

Berbagi Bukit Senja (1)

Senja kembali menguasai langit sore. Lagi-lagi ia datang dengan wajah berbinar. Hmm... pantas saja, ini sudah hampir pukul setengah lima sore. Aku tak heran. Bahkan aku sudah terbiasa menyebutnya ini konspirasi langit. Senja memang sengaja menampakkan diri seceria itu ketika menaungi dua pengunjung setianya yang tak jemu memelototinya. Selalu begitu di setiap akhir pekan. 

Ya, dari tempatku berjualan ini aku diam-diam terbiasa memperhatikan mereka. Bahkan hafal mati kebiasaan yang keduanya lakukan. Menarik dan menggelitik. Sampai seberapa lama mereka berdiri pun aku catat baik-baik dalam memori kepala.

Yang membakar diri

Makhluk bumi ibarat si pencari kayu bakar. Pengumpul daun-daun kering. Ranting-ranting lapuk. Getas. Di tempatkan menjadi satu. Menggunung di tengah-tengah ladang yang luas. Kering. Gersang. Tandus tanpa sejumput rumput liar pun yang tumbuh. Apalagi mencari pohon rimbun yang memayungi kepala. Jangan harap. 

Untuk apa semua itu mereka kumpulkan? hanya untuk disimpan. Untuk dikumpulkan. Bukan untuk perlombaan milik siapa yang paling tinggi. Kepunyaan siapa yang paling banyak. Hanya itu, untuk disimpan, untuk dikumpulkan.

Tunas kebahagiaan

Tahukah kau, ada sesuatu yang sedang patah, lepas dari tubuhnya. Tapi bersamaan dengan itu, sedikit demi sedikit mulai tumbuh tunas-tunas baru. Cabang-cabang baru. Meretas daun-daun muda. Meskipun tetap saja patahannya masih terbentuk jelas. Ada bekas cacat yang tak bisa hilang, mengelung di tubuh sang batang. 

Ada sesuatu yang sedang mendung. Berkabut. Sebentar lagi merintik gerimis. Tapi setelah itu, tidak selang lama turun milyaran tetes air yang menumbuhkan. Membasahi lahan tandus, menyegarkan tubuh pepohonan. Memberi makan akar-akar tanaman. Meskipun tetap saja berkabut, tidak cepat cerah kembali.

Manusia yang membawa Parsel Buah

Di ujung zaman ini telah lahir sekelompok manusia yang berjalan di muka bumi dengan mengemban amanah. Salah satunya, mereka diharuskan membawa satu parsel buah termanis yang pernah ada di dunia. Berwarna merah hati, beraroma harum, bulat, dengan daging buah yang tebal. Sangat memesona mata, tidak ada alasan untuk tidak memakannya.

Mereka berduyun-duyun membawa buah itu, disimpan di atas telapak tangannya. Dengan penuh hati-hati mereka menjaga agar buah itu tetap segar, terpelihara, utuh sampai di hadapan sang raja Agung. Dengan harapan buah yang mereka bawa akan mampu membuat sang Raja gembira.

Tahukah kalian apa upaya mereka? seperti apa cara mereka menunaikan amanah ini?

Menjadi yang segelintir

Bersyukurlah termasuk golongan yang sedikit, mereka yang masih menyempatkan waktu untuk tarawih berjamaah. Ketika sebagian yang lain lebih memilih bersenda gurau di jalan. Lalu lalang menghabiskan waktu sepanjang malam.

Beruntunglah masih menjadi golongan yang tinggal segelintir, mereka yang mulutnya masih berbasah-basah tadarus. Mentartil Qur'an berjam-jam. Berlembar-lembar. Berjuz-juz. Dari halaman ke halaman hingga khatam. Ketika sebagian yang lain lebih memilih meracau. Berceloteh. Wara-wari, menghabiskan berjam-jam di dunia maya maupun nyata.

Juli 10, 2013

Mengais atau mengemis

Tubuh pagi masih rembas oleh sisa hujan semalam. Tanah yang lembab. Dedaun yang kuyup. Dan mentari yang malas-malasan membuka jendelanya.

Rerumputan yang masih digelayuti butiran embun, membuat enggan jemari kaki untuk bertapak. Ada sensasi dingin yang membekukkan langkah. Menggigil. Bulu tangan merinding.

Di kejauhan terlihat induk ayam berkecipak di atas genangan air. Sesekali cekernya mengais, mencari rezekinya pagi ini.Tak peduli dengan manusia yang masih menguap. Si tuan rumah yang mengulet di depan pintu rumahnya.

Jauh di luaran sana rutinitas keseharian sudah padat merayap. Sebuah persaingan hidup, proses bertahan menegakkan tulang punggung. Rutinitas yang mungkin membosankan bagi sebagian orang. Atau justru menyenangkan yang memiliki banyak kelapangan. Banyak lahan.

Berbagai cara ditempuh, persaingan sehat atau tidak tepat. Sikut-sikutan atau berjabat tangan erat. Semua sibuk dengan dunianya masing-masing, meskipun tetap masih ada saja yang kerjanya hanya mengutuk hari, menunggu mati. Tidak ada gairah, terlalu mudah untuk berkeluh kesah. 

Nyatanya pagi penyeleksi alami makhluk hidup di bumi. Mana yang berkualitas. Mana yang produktif. Mana yang mengais. Mana yang mengemis.

Pada keramahan pagi, ada remah kehidupan yang senantiasa disyukuri.

Juli 08, 2013

Aku sudah kepalang rindu

Mari ikut saya. | ke mana? | menjemput ramadhan di gerbang hati gembira. | Apa yang ingin kamu katakan ketika ia datang? | Aku bahagia bisa bertemu lagi dengannya. Aku siap dengan kejutan-kejutan yang dibawanya.| Semoga tahun ini kamu lebih beruntung. | Masih diberi kesempatan menghirup udaranya pun aku sudah merasa jauh lebih dari beruntung. |



Sedalam-dalamnya hati merasakan, ada getaran kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan. Mohon kelapangan atas segala laku dan ucapan, atas kerikil-kerikil dosa yang tajam berserakan. Guna melangkah nyaman mengharungi ladang amal, bulan kemuliaan. Ramadhan yang selalu menjadi tumpuan kerinduan. Telaga bening keridhoan.

 Aku sudah kepalang rindu. Hati sumringah ingin lekas bertemu. 

Juli 06, 2013

Belajar percaya

Percayakan saja kepadaNya, di balik penundaan ada rencana yang lebih menjanjikan.

Belajar menikmati pilihanmu sendiri.

Belajar bertanggung jawab dengan apa yang ingin kamu cari.
Belajar mengikuti aliran rencana yang sudah ditentukan olehNya. Sekalipun masih dalam bentuk praduga, percaya saja itu untuk kebaikanmu juga. 
Belajar meneriama apa yang kamu butuhkan, dan ke sampingkan dulu apa yang kamu inginkan.
Belajar berterima kasih dengan apa yang sudah diberi. Belajar menghargai usaha yang telah dilakukan sendiri. 
Belajar berdoa dan meminta dengan hati yang menerima apa adanya.
Belajar berbaik sangka kepadaNya. 
Hal yang kamu cari mungkin lebih dekat dari apa yang kamu duga.

Juli 04, 2013

Manusia yang tahu tempat kembali

Barangkali nanti manusia yang (mengaku) modern membutuhkan sebuah benang, tali yang mengikat kakinya ketika sudah merasa terbang mengawan.

Belakangan ini bukankah semakin banyak manusia yang memanjakan kesombongannya, memamerkan kebolehannya. Serasa melambung, melayang-layang. Padahal sejatinya ia tidak pernah bisa lari dari tanah. 

Mungkin manusia perlu membawa sekantung tanah sepanjang pengembaraan, pengingat darimana sebenarnya asalnya. Bukankah banyak yang menjelajah jauh, masih menjejakkan kaki di atas tanah. Tetapi lupa ada waktunya nanti ia berada di bawah tanah.

Dan manusia yang sabar selalu punya segenggam tabah untuk tidak mudah berkeluh kesah.
Manusia yang jujur selalu mempunyai penjaga diri, mengepal amanah.
Manusia yang pintar tidak pernah melepaskan kebiasaan bersyukur.
Manusia yang tahu diri selalu ingat darimana asalnya, dan ke mana ia harus kembali. 

Juli 03, 2013

Terima kasihku


Bagaikan embun kau sejukkan
Hati ini dengan kasih sayangmu
Betapa kau sangat berarti
Dan bagiku kau takkan pernah terganti


Tahukah ibu kaulah nomor satu buatku
Nomor satu buatku
Tidak ada di dunia ini yang dapat menggantikan posisimu
Oh, maafkan aku membuatmu senantiasa mengasuhku,
Akan ku gunakan setiap kesempatan yang kudapatkan
Tuk membuatmu tersenyum, saat kubersamamu
Sekarang ku kan mencoba menyayangimu seperti engkau menyayangiku
Hanya Tuhan yang tahu betapa berartinya engkau padaku


Ya Allah ampuni dosanya
Sayangilah seperti menyayangiku
Berilah ia kebahagiaan
Di dunia juga di akhirat

Juli 02, 2013

Yang sulit terjangkau

Aku menengadah, melipat kedua tangan sebagai alternatif alas kepala. Sejauh mata memandang, bulan siaga penuh. Purnama tepat pandang-pandangan dengan kedua bola mata. Angin berdesir mengipas kulit. Masuk angin? Ah itu urusan belakangan. Yang pasti malam ini aku biarkan selentingan rindu memainkan peranannya. Perkara rasa yang akan mempengaruhi sedikit banyak kepolosan hati. Hati yang selalu sedia menampung apa saja, tanpa keberatan akan berduka. Hati yang selalu setia menyerap rasa apa saja, meski kadang tidak peduli ada kehilangan yang begitu nyata.

Juli 01, 2013

Makhluk pencemburu di ruang imajimu

Asing. Kamu pernah terbangun dari tidur panjang, karena tidak ada lagi yang mengusik lelapnya. Kemudian merasa linglung seperti terbangun di tempat yang berbeda. Merasa kehilangan sesuatu yang biasanya dilihat. Didengar. Bertanya-tanya. Atau mungkin lebih dari sekedar pertanyaan, tapi merasa ketakutan. Asing. Kehilangan aura yang biasanya.