Agustus 29, 2017

DALAM(I) UJIAN

Dalam menanti, ada ujian, tentang keyakinan. Dalam mencari, ada ujian, tentang kesabaran. Dalam bertahan, ada ujian, tentang kesiapan. Dalam melepaskan, ada ujian, tentang penerimaan.

Tentang apa-apa yang perlu atau butuh kamu pilih, ada ujian tentang kesadaran. Bahwa segala apa yang kamu mau, akan kamu dapat setelah berani untuk memperjuangkannya.

Tidak melulu yang kamu nanti, akan ada seketika. Ada ujian, seberapa yakin sesuatu itu memang akan tiba pada waktunya.

Tidak melulu yang kamu cari, akan mudah ditemukan. Ada ujian, seberapa sabar langkah itu, hingga benar-benar kamu temukan.

Tidak melulu saat kamu memilih bertahan, akan mudah dan nyaman untuk dijalani. Ada ujian, seberapa siap kamu mengambil resiko akan hal yang datang tidak menyenangkan atau bahkan menyakiti.

Tidak melulu saat kamu memilih melepaskan, akan mudah untuk menerima keadaan. Ada ujian, seberapa kuat hati itu untuk lebih ikhlas atas kehilangan, akan sesuatu yang selama ini sudah membersamai keseharian.

Dan semoga apa-apa yang sedang kamu nanti, apa yang kamu cari, apa yang membuatmu bertahan, serta apa yang sudah seharusnya kamu lepaskan. Ada dalam ujian berikutnya. Ujian untuk ridho dalam setiap ketetapan.

Agustus 23, 2017

SAJAK KAPAL OLENG KAPTEN

Kapal mulai oleng kapten.
Lalu, bagaimana caranya agar awak kapal yang ada, memiliki kesadaran untuk bahu-membahu memperbaiki keadaan. Bukan justru satu persatu memilih terjun meninggalkan.

Kapal mulai oleng kapten.
Lalu bagaimana caranya agar awak kapal yang ada, merasa memiliki dan bersyukur masih berada di kapal. Kebersamaan itu yang pada akhirnya menyeimbangkan laju kapal.
Bukan justru memilih mencari sekoci, masing-masing menyelamatkan diri sendiri.

azura-zie.com

Agustus 19, 2017

YANG SINGGAH SEWAKTU-WAKTU

Satu atau beberapa orang yang datang ke kehidupan kita. Tidaklah penting apa yang mereka bawa. Tugasmu sederhana, jadilah tuan rumah yang baik. Agar tamu itu selalu merasa aman dari lisan, nyaman dari perbuatan. Begitulah Rasulullah menganjurkan.

Satu atau beberapa orang yang pergi dari kehidupanmu. Tidaklah penting apa yang mereka ambil, begitu juga apa yang mereka tinggalkan. Tugasmu sederhana, jadilah tuan rumah yang bijak. Bahwa apa-apa yang ada di rumahmu pun, tidaklah berarti sepenuhnya milikmu. Sebagian banyak hanyalah titipan. Mengikhlaskan adalah pilihan. Memaafkan adalah berjiwa besar yang disarankan. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Tapi, satu hal yang perlu kamu garis bawahi. Bahwa, sebagai tuan rumah kamu pun harus punya pendirian. Lebih perlu lagi tegas dalam tindakan. Bahwa, bukan berarti satu atau beberapa orang yang datang itu, dengan seenaknya berhak berlalu lalang. Meninggalkan luka, memberi bekas noda pada hal-hal yang memang penting. Sebab, mereka hanya sekadar singgah dalam kehidupanmu. Seiring berjalannya waktu. Sedangkan kamu sudah susah payah membangun rumah yang (ny)aman kamu tinggali, di kala sendirian. Kalau sudah kadung rusak porak poranda, siapa yang pada akhirnya tidak nyaman sepanjang waktunya?

Agustus 13, 2017

BERKAH ITU KEBAIKAN YANG BERTAMBAH

Berkah itu kebaikan yang bertambah.

Satu niat baik meskipun belum dilakukan, sudah dicatat sebagai kebaikan. Bila dikerjakan pahalanya dilipatgandakan.

Satu niat buruk meskipun belum dilakukan, belum dihisab sebagai hitungan. Bila dikerjakan baru deh menambah tabungan keburukan.

Kurang bijak apa Allah, kita?
Pertanyaannya, sejauh ini kita tahu diri tidak, ya?

Bila kamu berbuat baik, sebanyak apapun memang belum tentu menjadi tiket masuk syurga. Bila tidak ada Ridho-Nya. Tapi tetap positif, kebaikan itu boleh jadi memberatkan timbangan kebaikan. Semoga kelak bisa menjadi salah satu yang memberi pertolongan.

Bila kamu berbuat buruk, tanpa niat ditambahpun sebenarnya boleh jadi tetap bertambah. Bukankah sebagian prasangka adalah dosa. Dan pikiran manusia tidak pernah lepas dari namanya prasangka. Bawaanya suudzhon mulu kan, ya? Entah kepada sesama manusia, entah kepada Allah juga. Belum lagi kita tak tahu perbuatan buruk mana yang kita lakukan secara sengaja yang membuat Allah murka.

Makanya, bila dihitung untung-ruginya. Sudah tentu lebih untung menambah kebaikan. Minimal untuk menambah kebaikan pada diri sendiri dulu, ya. Alih-alih bisa menggugah orang lain untuk juga bertambah kebaikannya. Kan asyik tuh, seperti kata kang @arya.poetra kebaikan itu ibarat ranting yang bercabang, kebaikan yang satu menuntun untuk kebaikan yang lain.

Semoga dengan begitu, hidup menjadi lebih berkah. Dengan kebaikan yang bertambah.

Bunyi nasihat itu, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Termasuk apa yang hendak di share di social media. So, marilah lebih selektif memilah-milah mana yang bisa memberi banyak manfaat. Minimal tidak menambah mudhorot. Biar yang tidak terasa bertambah itu tabungan kebaikan. Bukan justru 'spam' hal buruk yang dilakukan orang lain. Karena terinspirasi atau ikut-ikutan keburukan kita di social media. Naudzubillah.

Agustus 09, 2017

BILA HATIMU INGIN

Bila hatimu ingin sedikit lebih tenang. Mulailah belajar untuk tidak melulu membanding-bandingkan. Yang nampak terlihat lebih 'wah' di matamu, belum tentu benar-benar 'wow' seperti dugaanmu. Terkadang ekspektasi itu terlalu ketinggian.

Yang nampak terlihat lebih 'duh' di matamu pun belum tentu benar-benar 'yaah' seperti pradugamu. Terkadang penilaian itu terlalu kecepatan.

Karena hidup memiliki porsinya masing-masing. Takaran takdir tidaklah akan tertukar.

Barangkali rumput tetangga terlihat begitu hijau. Matamu terlalu silau, berprasangka berlebihan dengan ukuran 'ada apanya'. Boleh jadi, tetangga itu sudah bekerja keras untuk mewujudkannya, tanpa menunjukkan keluhan.

Sedangkan biasanya rumput di pelataran rumah sendiri, terlalu kita biarkan 'apa adanya'. Tidak ada upaya untuk merawatnya agar lebih hijau di mata sendiri. Alih-alih yang nampak di mata orang lain, pemiliknya hanya mendramakan keluhan. Bukan upaya untuk perbaikan-perbaikan.

Bila hatimu ingin sedikit lebih tenang. Mulailah belajar untuk tidak terlalu mencemaskan banyak hal. Yang belum benar-benar kejadian, belum tentu sesulit apa yang kamu bayangkan. Toh, adakalanya, banyak sekali yang sudah berhasil kita lewati, pada akhirnya berlalu begitu saja. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Tertinggal jauh di belakang. Untuk sekadar menjadi pelajaran dan masuk ke kantung kenangan.

Bila hatimu ingin sedikit lebih tenang. Mulailah belajar untuk merasa cukup. Tidak terlalu berambisi mendapatkan sesuatu yang memang jauh dari jangkauan. Alih-alih memang tidak didukung oleh kemampuan. Mulailah belajar untuk merasa cukup. Menikmati dengan apa adanya. Bukan berarti pasrah menerima segitu adanya, tanpa ada upaya perubahan. Tapi, setidaknya lebih dulu menjadi tolak ukur rasa syukur. Belajar untuk lebih sabar.

Bila hatimu ingin sedikit lebih tenang. Ayo sama-sama belajar lebih bersabar. Belajar lebih bersyukur.

azura-zie.com