Desember 07, 2019

MALU SAMA ANAK KECIL

Tiga anak TPA sedang riuh di tempat wudhu. Saat itu kumandang adzan maghrib sudah hampir selesai dilantunkan muadzin. Ketiganya ikut bergegas untuk berwudhu seperti peserta shalat berjamaah yang lain. Satu anak di antaranya terlihat sudah selesai lebih dulu, sehingga menuntun ke dua temannya agar urutan anggota tubuh yang perlu dibasuh benar. Sesekali ia menginterupsi temannya agar mendahulukan bagian kanan dulu sebelum yang kiri.

“Tangan yang kanan dulu.”

“Sikutnya belum tuh.”

Betapa menggemaskan ketika melihat adegan itu, mengalir seperti air yang sedang mengalir. Tidak ada kesan canggung untuk memberitahu temannya yang salah, tidak ada kesan menggurui meskipun lebih mengerti dari yang lainnya. Gambaran kepedulian itu begitu indah. Seolah sedang berbagi kebaikan bersama. Untuk wudhu yang sempurna. Untuk shalat berjamaah yang lebih utama.

Tapi, ada kejadian yang lucu setelah itu. Selesai mengambil wudhu, kemudian ketiganya berbaris menghadap kiblat seraya menengadahkan doa bersama.

“Tunggu… tunggu.” Anak yang paling kecil di antara ketiganya merasa belum siap. Masih menurunkan gulungan celana.

“Udah belum?” Anak yang paling besar mencoba memastikan.
Kedua temannya itu kompak mengangguk.

Bismillahirrahmanirrahim..” Kompak ketiganya mengawali dengan basmalah. Aku yang kebetulan melihatnya semakin takjub dan tidak sabar mendengar lantunan doa berikutnya.

Alhamdullillahilladzi ahyaanaa…” Masih dengan suara yang lantang dan kompak.
Loh? aku spontan mengerutkan dahi. 

“ba’da maa amaatanaa…” 

Aduh kok jadi doa bangun tidur? Tiba-tiba saja mulut ini ketelepasan bertanya. Dan sedikit menyesal karena itu. 

“wa ilaihin nushur.” Mereka menuntaskan doanya bersamaan dengan memandang ke arahku dengan ekspresi bingung.

Duh, dek. Sungguh menyaksikan kepolosan kalian membuat senyum ini sumringah. Tapi, hati tiba-tiba mencelos. Terlepas dari salahnya doa yang mereka baca. Betapa sebagai orang yang umurnya semakin ‘tua’, seiring berjalannya waktu malah lebih banyak lupa untuk mengawali sesuatu dengan doa. Dari perkara doa ketika bangun tidur, hingga doa-doa lain yang mengiringi aktivitas sehari-hari.

Betapa seringnya kita tanpa sadar menghilangkan begitu saja nilai keberkahannya.
Malu.

@quotezie

Desember 01, 2019

TERBALIK

Nak, bila sepenuh yakin hati ini tentang pemeliharaan Allah atas tiap-tiap hambanya yang beriman. Tentu, hati ini tidak akan cemas untuk sesuatu yang belum atau akan datang. Sebab, Allah sebaik-baiknya dalam mewarisi sesuatu. Terlebih bila kita terbiasa berhusnudzon kepada-Nya. Bahwa skenario-Nya itu selalu menjadi yang terbaik.

Tapi, terkadang yang masih membuat cemas adalah, adakah kita termasuk orang-orang yang beruntung itu? yang selalu dianugerahi warisan-warisan terbaiknya. Yang selalu didahulukan dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Yang doa-doanya selalu mudah untuk dipertimbangkan.

Sedangkan kita tahu diri, lebih sering mencemaskan perihal dunia. Tentang rezeki yang inginnya dengan takaran-takaran lebih. Padalah sebenarnya sudah terjamin sejak lahir hingga mati. Dan hanya diperintahkan untuk berjalan dalam mencarinya. Justru kita kejar-kejar dari gelap hingga kembali gelap.

Dialah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka BERJALANLAH di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. (QS. Al-Mulk: 15)

Sedangkan kita tahu diri, lebih sering mencemaskan perihal dunia. Tidak selalu “kami dengar dan kami taat.” Atas perkara ibadah. Di mulai dari panggilan adzan. Dan panggilan-panggilan lain.

Wahai orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka BERLARILAH kalian MENGINGAT Allah dan tinggalkanlah jual beli. (QS. Al-Jumah: 9)

Maka BERLARILAH kembali taat kepada ALLAH. (QS. Adz-Dzaariyat: 50)

Maka BERLOMBA-LOMBALAH dalam berbuat KEBAIKAN. (QS. Al-Baqarah: 148)

@azurazie_