Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Juli 09, 2026

CERPEN : KUCING

"Kucing itu punya insting yang tajam, tahu mana orang asing yang memang suka mereka, mana yang tidak," katamu di sela-sela suapan makan siang kita. Aku masih sibuk mengunyah potongan otak-otak, sembari melirik seekor anak kucing yang tiba-tiba melendot manja di kakiku.

"Ah, masa? Itu bukannya insting, memang penciuman mereka saja yang peka. Kita kan sedang makan," kataku berasumsi, kini sisa gigitan otak-otak pindah alih menjadi jatah kucing itu.

"Ye, nggak percaya. Nanti aku buktikan, tanpa kita sedang makan pun, mereka akan berdatangan menghampiri kita," itu percakapan yang paling aku ingat tentangmu. Benar saja, di lain kesempatan, ketika kita sedang asyik membaca serial Supernova yang baru, tiba-tiba saja sekumpulan anak-anak kucing yang entah dari mana datangnya, mengeong menghampiri.

Kamu menyambut hangat mereka dengan usapan lembut. Aku seperti melihat sekumpulan anak kucing itu menemukan ibu asuhnya. Dan caramu berinteraksi memang kelihatan sekali menyayangi mereka.Itu sepotong kenangan yang membuat aku ikut menyukai kucing.

Anabul ini memang menggemaskan sekali. Apalagi jika habis terkena cipratan gerimis. Lucu sekali melihat mereka berjalan agak berjinjit, 'mengibrit-ngibrit' kan tangannya yang basah, lalu sibuk sekali menjilati bagian tubuhnya agar cepat kering. Kamu akan tertawa terpingkal kalau sedang menyaksikan momen itu. Meskipun tidak lama kemudian kamu sibuk mencari handuk kecil untuk membantu mengeringkannya.

Itu dulu, sebelum kamu pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Meninggalkan kenangan itu di sini, di tempatku kini berada. Lorong panjang, sepi, dan jika malam akan sedikit gelap. Dan setelah kejadian menyedihkan itu, entah kenapa setiap kali aku melewati lorong panjang ini, aku seperti ditemani oleh kumpulan kucing yang aku tak tahu dari mana datangnya. Ketika mulai gelap, pancaran bulat dari cahaya bola mata mereka lah yang menjadi penerang perjalananku, sampai di ujung lorong. Dan kembali mereka pergi entah ke mana.

Satu ekor yang warnanya paling menonjol dari yang lainnya. Warnanya oranye dengan loreng-loreng putih. Buntutnya panjang sekali, sampai-sampai ketika berjalan, ekor itu membentuk lingkaran sempurna di udara. Hmm, jika diperhatikan, kucing itu agak mirip dengan kucing yang kamu selamatkan dulu. Kucing yang hampir tertabrak motor ugal-ugalan, yang kamu selamatkan dengan nyawamu. 


@azurazie_

DOA MANA YANG DIDENGAR

Siang itu, selepas menunaikan shalat jum'at berjamaah. Aku memutuskan diam sejenak di dalam masjid. Masih lumayan banyak yang  bertahan di sana. Sebagian menunaikan shalat sunnah. Lebih banyak yang mengobrol atau bahkan tidur-tiduran saja.

Perhatianku tertuju kepada beberapa orang yang masih khusyu berdoa. Rasanya aku ingin mencuri dengar apa yang mereka pinta dalam doanya. Ada anak kecil di samping jendela menengadahkan tangan. Barangkali, di usianya itu belum banyak bendahara kata dalam doa-doanya. Paling juga yang ia rapal adalah doa untuk kedua orang tuanya. Doa yang diajarkan di  sekolahnya. Belum banyak tuntutan dalam hidupnya. Doa yang begitu polos tanpa tendensi apa-apa.

Lain hal dengan seorang pemuda dua langkah dari tempat duduk anak kecil tadi. Boleh jadi jauh lebih banyak kosa kata doanya. Sebanding dengan apa yang sedang ia resahkan dalam pikirannya. Tentang jodoh yang belum kelihatan kabar baiknya. Tentang rezeki yang berharap datang tak terduga, di tanggal-tanggal tua. Dan banyak tentang-tentang lainnya. Doa-doa itu penuh tekanan sana sini. Besar harapannya doa-doa itu cepat dikabulkan, agar sedikit berkurang beban dipikiran.

Lain hal lagi dengan doa-doa bapak-bapak yang ada di samping mimbar. Atau doa-doa pak tua di shaf kedua. Lebih dalam lagi makna doa-doanya.

Menarik sekali, aku bertanya-tanya, dari sekian banyak doa-doa itu menguntai ke udara, melewati kubah masjid dan terus menganak tangga menuju langit. Aku tidak tahu doa siapa yang lebih dulu didengar oleh-Mu? Pembendaharaan doa siapa yang lebih menarik perhatian-Mu? Aku benar-benar tidak tahu.

@azurazie_

Juli 05, 2026

CERPEN : SIAPA YANG MEROKOK DI SINI?

  Siang itu salah satu whatsapp group riuh dengan hot news yang ada di kantor. Dengan pertanyaan yang serupa: Siapa yang dimaksud oleh pak Slamet? Dan dua puluh orang yang bergabung di dalam grup tersebut satupun tidak tahu akan jawabannya. 

“Coba bro @Deras bisa update? Kan tadi pagi kalian habis meeting bareng?” tanya Jamal bagian HR sambil tag namaku yang kebetulan telat membuka chat group dan sama sekali tidak menyimak apa yang sedang dibahas di sana. Karena aku memang baru sampai kembali ke kantor.

“Kalian bahas apa sih? Sorry baru sampai kantor.” Jawabku masih menyimak.

“Itu loh story wa pak Slamet, udah lihat belum bang @Deras?” kata Dian bagian team kreatif ikut menjelaskan. “Lagi heboh nih di ruangan team kreatif.”

Emang pak Slamet update status apa? Tumben. Pikirku. Karena setahuku Pak Slamet jarang sekali update status, kecuali saat moment-moment tertentu. Semisal hari libur Nasional. Itu juga hanya ikut membagikan template ucapan selamat yang dibuat tim kreatif. Semisal Selamat Hari Lahir Pancasila. Dan hari ini bukan momentnya.

Buru-buru aku buka history untuk mencari status pak Slamet yang dimaksud oleh rekan kerjaku. 

......................................................................................

“ATTENTION!

Bagi siapa yang masih suka MEROKOK di dalam TOILET UMUM. Kalau sudah tidak punya OTAK untuk BERPIKIR, minimal punya ETIKA untuk BERBUAT!!!”

......................................................................................

Waduh, aku ikutan penasaran siapa oknum yang dimaksud oleh pak Slamet. Tadi pagi aku memang mendampingi beliau ketemu client di luar. Tetapi kami tidak kembali ke kantor bersama, karena aku harus ke kantor cabang untuk mengurus alokasi minggu ini. Dan suasana meeting tadi pagi cukup kondusif.  

......................................................................................

“Bagi OKNUM yang dengan sengaja MEROKOK pada pukul sekitar 12.00 – 12.15 di dalam toilet bilik ke-2 gudang utama pada hari ini. Bila tidak ada i’tikad baik mengaku dan bertanggung jawab atas perbuatannya dalam 1x24 jam ke depan. DEMI ALLAH saya SLAMET RAHARJO tidak akan ridho atas perbuatannya dunia akhirat. Terima kasih.”

......................................................................................

Aku menghela napas saat selesai membaca status pak Slamet yang kedua. Pantes saja di grup tadi heboh sekali. Rupanya ini memang serius. Kenapa begitu? Pak Slamet ini salah satu atasan kami yang orangnya terkenal sangat santun, bijaksana dan sabar sekali orangnya. Dan hampir semua karyawan di sini pernah dibantu oleh beliau, karena memang ringan tangan dan baik sekali ke semua orang. Baik dalam urusan-urusan yang berkaitan dengan urusan kantor maupun urusan pribadi kami.

Makanya kami sebagai bawahan ataupun rekan kerja beliau sangat berhati-hati agar tidak membuat orang sebaik beliau sampai marah. Bukan karena kami takut dimarahi, tetapi karena kami segan. Kami yang tahu diri untuk menjaga hal itu.

“Duh, kira-kira siapa ya yang berani-beraninya merokok di toilet kantor?” aku melemparkan pertanyaan serupa di grup.

“Ye... telat banget ini orang.” Jamal menggerutu.

“Hahaha.... kita mah lagi nungguin update dari Mas @Deras malah nanya balik.” Kata Ryan bagian kreatif.

Aku menyeringai. 

“Kayaknya, supir pengiriman deh, pak. Hari ini kan toilet di gedung gudang lagi diperbaiki. Jadi sopir-sopir pada ke gedung utama.” Kata Dimas bagian kasir sales menimpali.

“Tolong bilangin ke satpam yang jaga ya, @Dimas. Sopir arahin ke toilet kantin aja untuk sementara. Jangan ke gedung utama.” Kataku mencari solusi terbaik. “Nanti saya coba diskusi ke Pak Slamet juga deh.”

“Baik pak @Deras saya langsung ke pos satpam.”

“Iya coba bro @Deras cari tahu, ditunggu updatenya hehe....” Jamal menimpali lagi.

“Thanks @Dimas. Siap bos @Jamal delapan enam.”

***


Setahuku pak Slamet bukan type yang intoleran terhadap perokok. Selagi memang pada tempatnya. Karena beliau pernah cerita dulu juga sempat menjadi perokok aktif ketika masih muda. Tetapi Alhamdulillah sudah bisa berhenti untuk mengkonsumsi nikotin itu tiga tahun ke belakang. Dan sudah lumrah juga, di setiap perusahan pasti akan lebih banyak perokok aktif dibanding dengan yang tidak merokok. Apalagi perusahan kami sebagai perusahaan distributor memang setiap harinya akan banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk mengambil barang ataupun dari ekpedisi pengiriman.

Maka, jika sampai beliau membuat status seperti itu, ini artinya memang sudah keterlaluan. Dan aku makin penasaran untuk mendengar cerita lengkapnya dari beliau. Maka, aku putuskan untuk langsung menemui beliau di ruangannya, kebetulan memang ada report yang harus aku setorkan sore ini. 

“Permisi, Pak.” Aku mengetuk pintu dengan sopan, setelah memastikan pak Slamet memang ada di ruang kerjanya.

“Oh, Deras, masuk.” Pak Slamet dengan ramah mempersilakan masuk sembari jemarinya tetap sibuk mengetik di atas keyboard. “Gimana alokasi minggu ini, aman?”

“Alhamdulillah, pak proposenya sudah dibuat sesuai estimasi yang tadi pagi kita bahas.” Aku menyodorkan laporan.

“Mantap. Seharusnya bulan ini kita bisa growth lebih dari bulan lalu. Semoga lancar ya.”

Aku mengangguk setuju.

“Pak Slamet tumben bikin status, pak. Hehe... “Tanyaku tanpa basa-basi.

“Kenapa? Status saya bikin heboh, ya?” Pak Slamet menyeringai.

“Bukan heboh lagi pak, tapi gempar se perusahaan ini.” Kataku mengkonfirmasi apa yang sedang menjadi hot news.

“Iya tadi pak Andre sampai nelpon saya. Dikira saya ada apa, taunya cuma nanya saya apa baik-baik saja, habis itu beliau basa-basi menyinggung status saya.” Pak Slamet menghela napas teringat tadi atasannya menelepon.

 “Bayangin aja, Deras. Saya buru-buru kembali ke kantor setelah meeting tadi. Karena sudah kebelet, eh pas sampai sini toiletnya ngebul. Macam habis ada yang bakar sampah. Nggak ada etikanya itu orang.”

“Waduh, parah, pak.” Kataku mengiyakan kalau memang perbuatan tersebut benar-benar tidak beretika. Apakah oknum yang merokok tersebut sampai tidak bisa menunda kebutuhannya ya, sampai di dalam toilet pun yang notabene-nya sebagai tempat yang tidak baik untuk makan, ia tidak bisa bersabar sebentar. Itupun kalau rokok bisa dikategorikan sebagai makanan. 

“Saya sudah minta team GA untuk cetak spanduk denda larangan merokok di lingkungan kerja, pak. Termasuk toilet dan kantin dalam. Yang diperbolehkan hanya di luar gerbang kantor atau di area kantin luar.” Kataku memberi laporan.

“Sip, bagus tuh. Meskipun saya membuat status bukan bermaksud untuk itu.  Hmm... sebagai makhluk sosial, seharusnya kita semua punya yang namanya etika dasar dalam bersosialisasi. Tanpa harus dibuat larangan ini atau larangan itu. Tidak dibebani dengan denda ini dan denda itu apabila melanggar. Karena sebagai manusia seharusnya kita punya kesadaran diri untuk menjaga lisan maupun perbuatan kita agar tidak mengganggu atau bahkan merugikan orang lain. Kalau sampai orang lain tidak ridho dengan perbuatan kita bagaimana? Berat loh konsekwensinya jika tidak dapat maaf dari yang bersangkutan.” 

“Masya Allah, betul sekali, Pak. Hal itu yang sering banget kita abaikan.” Kataku menggangguk setuju.

“Karena hidup ini adalah rangkaian sebab-akibat. Jangan-jangan hari ini kita merasa susah, lagi sial, tiba-tiba dapat kemalangan, itu gara-gara rasa kesal orang lain yang tidak sengaja kita buat susah duluan. Yang udah kita buat hidupnya tidak nyaman karena perbuatan kita. Jangan-jangan doa mereka yang lebih dulu didengar. Dan Allah Maha Adil untuk membalaskannya.”

“Tapi Pak Slamet sudah tahu kira-kira siapa yang siang tadi merokok di toilet?”

“Allah yang Maha lebih Tahu.” Pak Slamet tersenyum mengakhiri diskusi.

Aku kembali ke meja kerja dengan membawa peringatan untuk diriku sendiri. Agar lebih berhati-hati dalam berbuat, dan lebih bijak dalam berucap.

***

“Gimana bro @Deras udah ada update belum?” Jamal kembali tag namaku di grup.

“Duh, semoga aja selamat dunia akhirat dah tuh orang. hehe....” kataku menimpali.

“Waduh.”


@azurazie_

Juli 01, 2026

CERPEN : BAN KOTAK?

Siang itu, ketika matahari sedang terik-teriknya, lagi-lagi aku mendapatkan ‘bonus’ di pinggir jalan. Jatah ban bocor sebagai salah satu pengguna jalan. Mau tak mau aku harus mendorong motorku untuk mencari jasa tambal ban. Yang untungnya tidak terlalu jauh dari tempat kejadian. Dan bertambah lega juga karena melihat tempat ‘dokter spesialis ban luar-dalam’ itu ternyata bersebelahan dengan warung. Tentu saja, kegiatan dorong-dorong motor di siang bolong itu butuh asupan minuman segar pelega tenggorokan.

Ketika baru saja sampai di lokasi, ternyata nasib malangku ada temannya. Dari arah yang berlawanan, seorang gadis sedang menuntun motor matic-nya. Wajahnya memakai masker. Motorku sampai beberapa detik lebih dulu dari motornya. Setelah meminta tolong untuk mengeksekusi ban dalamku yang bocor, aku duduk sejenak untuk sekadar menormalkan ritme pernapasan.

“Motornya kenapa, Neng?” tanya bapak pemilik bengkel. Sejenak mengacuhkan motorku.

“Minta ditambah anginnya saja, Pak,” gadis itu menjelaskan tujuannya. "Yang belakang."

Aku ikut menyimak.

“Wah, ini mah bocor, Neng, harus ditambal. Sebentar ya, Bapak nambal motor si Aa-nya dulu.”

“Tidak apa-apa, Pak. Motor matic-nya dulu saja.” Kataku menawarkan.

“Tidak apa-apa, nih, A? Kan tadi sampai duluan dari si Neng-nya?” tanya bapak pemilik bengkel memastikan.

“Iya, Pak. Saya lagi tidak buru-buru kok.” Kataku meyakinkan.

Gadis itu sekilas melihatku, tapi tidak mengucapkan basa-basi apa-apa. Ia malah menuju mesin pendingin warung. Ah, sepertinya aku juga harus mengambil minuman dingin, tapi nanti dulu deh kalau gadis itu sudah selesai transaksinya.

Aku memperhatikan kinerja bapak pemilik bengkel yang sangat telaten. Aku taksir ia menggeluti bidangnya itu sudah lebih dari dua tahun. Atau bahkan lebih. Aku pernah bertanya ke bapak penambal ban di lampu merah sana, malahan sudah mau sepuluh tahun jadi penambal ban. Entah sudah berapa r ratus ban motor yang ia tambal. Sebanding dengan berapa banyak pengguna jalan yang merasa tertolong karena jasanya itu. Waktu yang cukup lama untuk bertahan di satu bidang yang sama. Apa tidak bosan, ya?

Ketika aku sedang mengecek hp, tiba-tiba gadis itu menyodorkan sebotol minuman. Tanpa kata-kata. Aku mendongak melihat wajahnya, yang kini tanpa masker. Maksudnya apa? 

“Sebagai ucapan terima kasih karena sudah bersedia mendahulukan kepentingan perempuan asing,” katanya panjang lebar.

“Oh... terima kasih juga.” Kataku meraih minuman itu. Menghargai pemberiannya. Ia duduk di bangku sebelahku, mulai menikmati minumannya. Aku pun melakukan hal yang sama.

“Ban memang bulat, lingkaran bentuk paling bisa diandalkan untuk melajukan kendaraan. Tapi kalau kempes, sama saja, ia jadi tidak berdaya juga.” Gadis itu mulai berbicara panjang lebar lagi.

Aku menyeringai, apa ia selalu begitu kalau sedang berbincang dengan orang lain? Terlebih orang asing?

“Ya, kalau kotak malah tidak bisa dipakai jalan ke mana-mana.” Aku basa-basi menimpalinya. Garing banget, ya? Mana ada coba ban kotak?

“Ban luar memang bulat, kuat, bisa menghalau jalan keras sekalipun. Kerikil-kerikil tajam dilewati juga. Tanah berlumpur pun bisa dihadapi. Tapi kalau sudah tertusuk benda tajam, walaupun kecil, dan tembus sampai dalam. Nyatanya ia tidak berdaya juga.”

“Sepertinya memahami banget soal ban?” Aku menoleh mencoba bergurau.

“Ah, tidak juga.” Gadis itu menenggak habis minumannya. Aku pun melakukan hal yang sama.

“Manusia juga seperti halnya ban. Tubuhnya memang kuat menahan segala beban. Tapi kalau hatinya sudah tersentuh... manusia juga ikut jadi tak berdaya.”

“Lho? Kok jadi menyinggung soal hati?” Aku spontan bertanya.

“Ah, tidak. Lupakan saja.” 

Gadis itu beranjak bangun. Motor matic-nya memang sudah selesai ditambal.

“Sekalian saja nanti biayanya sama motor saya, Pak.” Kataku, mengurungkan gerak gadis itu yang mengeluarkan uang dari dompet.

Ia menoleh ke arahku.

“Sebagai ucapan terima kasih karena percakapan menarik soal ban tadi.” Aku menyeringai.

“Oh.... terima kasih juga.”

Gadis itu memakai maskernya kembali.

“Boleh tahu namamu?” Kataku beranjak bangun. Ia berhenti sejenak.

“Deras.” Aku lebih dulu memperkenalkan diri.

Gadis itu mengeluarkan dompetnya lagi. Menyodorkan sebuah kartu nama. Aku menerimanya.

“Joko Suroto?” Aku mengerutkan dahi. Masa sih namanya Joko?

“Hubungi saja ayahku di nomor itu kalau ingin tahu nama anak gadis semata wayangnya.”

Gadis itu pamit mengucapkan terima kasih kepada bapak pemilik bengkel. Meninggalkanku yang hanya bisa menggaruk-garuk kepala sambil memandangi sebaris nama di kartu nama itu.

“Sudah datangi saja rumahnya, A. Terus lamar deh. Manis pisan tuh si Neng-nya tadi, seperti gula jawa.” Kata bapak pemilik bengkel bergurau. Aku hanya menyeringai mendengar usulannya.

@azurazie_

Juni 30, 2026

CERPEN : KAPAN TERAKHIR KAMU TERTAWA?

Siang itu, suasana kedai kopi tidak terlalu ramai. Ah, memang itu juga yang menjadi alasanku menjadi pelanggan tetap kedai kopi ini. Untuk menumpang menulis berjam-jam.

Sebenarnya, menu di sini bisa dibilang tidak buruk-buruk amat, pelayannya juga ramah, plus difasilitasi Wi-Fi. Cuma mungkin karena tempat yang kurang strategis, jauh dari jalan utama yang dilewati kendaraan umum, dan promo yang kurang gencar, yang membuat kedai kopi ini sepi pengunjung. Sayang sekali memang, mungkin lain waktu aku akan bantu mempromosikannya. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah memberi 'tumpangan' yang nyaman berjam-jam untuk tempat menulis.

Aku menyeruput gelas coklat panas yang kedua. Sudah tidak terlalu panas, karena sejak tadi aku tidak seruput karena fokus dengan ide-ide di kepala yang ingin segera dituangkan dalam tulisan.

Saat menikmati tegukan itulah, seorang gadis berkerudung coklat Pramuka menghampiriku, sambil menggenggam secangkir cappucino di tangan kanannya.

"Boleh aku gabung di sini?" katanya basa-basi.

Sejenak aku melirik ke arahnya. Tatapan kami bertemu. Wajahnya sangat menyenangkan, aku bisa duga gadis ini tipe yang selalu periang dan ceria. Aku melirik meja lain, memastikan apa memang banyak pengunjung hari ini sehingga gadis berwajah menyenangkan itu harus mengganggu aktivitasku? Ternyata memang tidak ada pengunjung lain, selain kami berdua.

"Keberatan?" tanyanya yang sejak tadi berdiri menunggu jawabanku.

"Oh, tidak. Silakan dengan senang hati," kataku berbasa-basi, sambil menggeser tas laptopku agar meja lebih lapang.

"Terima kasih," katanya sambil meletakkan cangkir kopi.

Jemariku kembali sibuk menulis. Tidak merasa perlu berbasa-basi mengajak ngobrol 'tamu'ku itu. Sekadar berkenalan misalnya.

"Kamu suka menulis?"

Aku melirik ke arahnya. Tersenyum mengangguk tanda mengiyakan.

Gadis berwajah menyenangkan itu sudah sibuk mengunyah camilan yang ia keluarkan dari tasnya. Aku suka dengan caranya mengunyah, seperti anak kecil. Ada remah-remah snack yang menempel di sekitar mulutnya. Aku menyeringai ingin sekali tertawa teringat keponakanku yang baru genap tiga tahun di awal bulan ini.

"Mau?" katanya ketika menyadari sedang diperhatikan.

"Oh, tidak, terima kasih," aku menyeruput coklat panas untuk menutupi salah tingkah.

"Ini ya tulisannya?" Gadis itu menunjuk satu bundel tulisan yang kemarin aku print, di atas tas laptopku.

Aku mengangguk.

"Boleh aku baca?"

"Dengan senang hati. Tapi maaf sudah banyak coretan di dalamnya," kataku, memang bundel tulisan itu fungsinya untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan dalam pengetikan. Cara yang kuno, tetapi menyenangkan untuk dilakukan.

"Tak masalah," ia mengambil bundel kertas itu, langsung membuka halaman pertama. Judul tulisan dengan huruf kapital dan di bold terbaca jelas di sana: KAPAN TERAKHIR KAMU TERTAWA?

Ah, aku suka juga dengan caranya membaca. Kadang terlihat tertawa, mengangguk, menghela napas. Seperti benar-benar menikmati jalan ceritanya. Aku merasa senang, ada orang lain yang mau bersedia membaca salah satu tulisanku.

Aku menyeringai. Kembali melanjutkan tulisanku yang belum rampung untukku posting di blog malam ini. 

@azurazie_

Mei 11, 2026

APA INI CARA YANG PALING MANIS UNTUK BERTEMU DENGAN-MU?

Aku benci waktu pagi, entah terakhir kali kapan aku tersenyum saat pagi itu tiba. Selebihnya aku hanya menangis, menjerit, merengut, memaki, ketakutan, dan tersudut di sela-sela bongkahan bangunan rumahku. Ingin rasanya aku mendengarkan lagu-lagu kesukaanku semasa kecil. Saat suara merdu ibu memandikanku di pagi hari. Atau saat beliau mulai mendongengkan cerita sebelum aku tertidur. Tapi sayangnya semua itu kini hanya terkubur dalam kenangan.

Berbeda dengan lagu pagi hari yang sering aku dengar sekarang. Begitu memecahkan gendang telinga. Sumpah serapah, kata-kata kotor, umpatan, hujatan, dan rintihan doa-doa yang teraniaya. Tak jarang deretan peluru meluncur ke udara, memporak porandakan tembok-tembok yang berdiri kekar. Tidak bisa aku bayangkan jika peluru itu mengenai batok kepala.

Semua memang berbeda setelah kedatangan mereka. Iyah mereka datang bagaikan malaikat kematian, oh tidak lebih tepat bagai serigala lapar. Yang siap memangsa domba-domba ketakutan. Karena sudah tentu malaikat kematian, bisa saja datang lebih manis dan jauh lebih sopan. Tidak seperti mereka yang tidak berperikemanusiaan. Dan nyatanya akulah salah satu domba ketakutan itu.

Coba lihat mereka? lihat adik-adik kecil yang masih berserakan di trotoar. Apakah kalian lihat, mereka belum sempat di makamkan karena sang ibu yang lebih dulu tiada. Dan coba lihat itu. Iyah itu yang seperti kobangan. Itu bukan air hujan saja, tapi air hujan yang sudah bercampur dengan darah segar. Makanya berwarna coklat agak kemerah-merahan. Mewangi harum karena darah itu tumpah tidak sia-sia. Darah korban dari keserakahan manusia. Darah yang tumpah karena ulah mereka yang angkuh, yang merasa paling benar, paling berkuasa.

Sempat aku berpikir, Oh Tuhan! segitu murahnya kah nyawa kami Tuhan?, apakah kami hanya dianggap tumpukan dedaunan yang gugur di bawah pohon rindang?. Tak kenal itu daun muda ataukah daun yang memang sudah tua. Semua di sapu bersih oleh angin yang berseliweran. Bahkan ada yang tersudut di tong sampah.

Apakah mereka yang terlihat sangat gagah itu, mereka yang berkokang senjata sudah benar-benar tidak takut kepada-Mu Tuhan? Atau kah ini memang cara yang paling manis untuk bertemu dengan-Mu T? jika memang ia tentunya aku akan tersenyum untuk menantinya. Karena tak ada tempat yang paling indah untuk kembali selain kepada-Mu.

Entah itu siang atau malam, rasanya semua waktu sama saja, tak ada waktu untuk sekedar menikmatinya. Atau sekedar bercengkrama dengan keluarga. Yang ada hanyalah menunggu giliran peluru itu bersarang di tubuhku, menunggu giliran dentuman bom itu merobek telingaku. Menunggu dan melihat kematian. Bahkan mungkin akan segera merasakan kematian itu lebih cepat.

Dentuman juga menyeramkan, kami selalu ketakutan saat ia berbicara, dentuman yang kusaksikan membuyarkan impian, dentuman yang kudengar memekikan kematian.

***
Dan apa ini? rasanya ada sesuatu yang kental mengalir di pelipis kiriku, sakiiiiiiit!. Aku rasakan sangat sakit. Meski tak sesakit di hantui ketakutan itu, tapi ini benar-benar sakit. Penglihatanku sudah mulai kabuuur. Lemas, rasanya cairan itu sudah mulai banyak yang keluar.

Tapi aku tersenyum, ko aku malah tersenyum? rasanya aku senang. Apa semua ketakutan itu akan segera berakhir? Apa ini adalah waktunya Tuhan?, waktunya aku kembali kepada-Mu?. Aku biarkan pertanyaan-pertanyaan itu menggantung. Sampai ada seseorang yang datang, melihat nasibku dan meneruskan cerita ini.

***
“Ya Tuhan kasihan banget ya kalau melihat konflik di sana Bud?” ketika ada breaking news disalah satu stasiun televisi swasta.

“Memang ada berita apa Dik?, coba geser gw juga mau nonton berita!”  sambil menyeruput teh hangat.

“Itu anak kecil seumuran anak pertamamu ditemukan tewas di samping bak sampah semalam!”

“Aduuuuh! Ke tembak ya? Kepalanya sampai kaya gitu. Merinding gw melihatnya.” Budi sampai gemetar sendiri.

“Sampai kapan yah nasib mereka seperti itu. Kasihan banyak yang masih kecil sudah jadi korban.” Lanjut Dika prihatin.

“Entahlah! Gw pribadi berharap akan segera berakhir.” Kata budi sambil meneruskan baca koran paginya

Untuk Mereka Di Negeri Konflik

Bangkai busuk darah mengering
Tak ada hati tak ada iba
Napas bebas kemana jua
Rona ketakutan meronta ronta
Aku di sini hanyalah saksi
Tentang konflik semakin pelik

Sedikit saja aku berlengah
Napas ini akan terengah
Pandangan mata selalu menganga
Tembusan peluru di depan raga

Sesak isak semakin serak
Tangisan rintih teriak teriak
Oh tuhan boleh aku sekedar meminta
Semua ini berganti segera.

nyawa yang hilang akan berseri

@azurazie_

Maret 28, 2024

KETELADANAN

 *Kisah Ramadhan malam ke-18*


Minggu ini bisa dibilang yang paling sering menerima pertanyaan yang sama, dari orang-orang yang berbeda. Tentang keberadaan bapak yang memang 'dayanya' sedang turun sehingga tidak memungkinkan untuk berjamaah 5 waktu seperti biasanya.


"Pak Haji ke mana?"

"Pak Haji ga ke masjid?"

"Pak Haji ga kelihatan, biasanya udah ada."


Bahkan ada yang tiba-tiba menghampiri sembari membawa sepiring berisi empat buras, kemudian bertanya. "Pak Haji ga ke masjid lagi? Padahal udah disiapin buat bukaannya."


Masya Allah, terharu rasanya. Karena apa? Benar adanya, sejarah itu berulang. Keteladanan itu dekat di depan mata. Tetiba teringat kisah sahabat-sahabat Nabi yang soleh, yang saling menanyakan ke mana si fulan, ke mana si fulan. Perhatian kepada saudara seimannya. Ketika tidak didapati berada dalam barisan shalat berjamaah di Masjid bersama Rasulullah.


Indah rasanya apabila keberadaan kita dirindukan karena kebiasaan baiknya. Di tempat dan keadaan yang memang baik dipandangan Allah maupun dipandangan sesama manusia. 


Maka, bagi kita semua yang memiliki cita-cita ingin sekali dirindukan oleh syurga, setidaknya saat masih berada di dunia, saat masih hidup, minimal menjadi orang yang dirindukan oleh (jamaah) masjid. Oleh saudara-saudara seimannya. Dengan rajin shalat berjamaah di kala sedang gagah-gagahnya, pun di kala sedang payahnya.


@azurazie_

Januari 01, 2024

TAHUN 2024

Sekitar minggu lalu, sempat sumringah ketika mendengar himbauan dari bapak walikota tentang pelarangan perayaan pergantian tahun baru, dengan tidak berkumpul di titik point yang biasanya tiap tahun diadakan, maupun tentang pemasangan kembang apinya.

Sumringah hati ini dan mulai berekspektasi : wah tahun ini mah sepi mudah-mudahan, sudah mulai banyak masyarakat yang sadar diri. Ditambah berempati mengingat masih gencarnya seruan #safepalestine🇵🇸 #freepalestine🇵🇸 #stopgenocide.

Maka, kami sekeluarga mulai tumbuh ekspektasi-ekspektasi itu, bahwa malam pergantian tahun bisa tidur nyenyak, ditambah habis diguyur hujan di waktu maghribnya. Jalan raya pun terbilang sepi. 

Sayangnya, sekitar pukul 23.15 ekpektasi itu mulai runtuh. Karena kami terbangun mendengar ada yang mulai menyalakan kembang api, di kampung sendiri. Ekspektasi itu semakin ambyar saat pukul 0.00 semakin berisik dar der dor ramai bersahut-sahutan dengan kampung tetangga juga. 

Saat itu juga rasanya ingin berteriak tentang masih hilangnya empati di negeri ini. Ingin mengumpat kemudian sedih hati ini tentang minimnya kesadaran diri. 

Dan rasanya ingin pula mencari orang-orang yang sudah berbohong di hari pertama pergantian tahun dengan dirinya sendiri. Mereka yang mengaku punya resolusi agar tahun ini menjadi lebih baik, akan tetapi barisan shalat subuh masih saja bisa terhitung dengan jari. 
@azurazie_

September 01, 2023

SIDETIK, SIMENIT, SIJAM

Alkisah ada tiga SI yang sedang berperan dengan takdirnya masing-masing. Dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.Mereka adalah SIDETIK, SIMENIT dan SIJAM. SIDETIK yang perannya harus lebih bekerja keras dari yang lain. Ibarat kata, ia adalah promotor untuk yang lain agar terus bergerak. Agar tetap hidup dan berfungsi sebagaimana mestinya. Meskipun ya tahu sendirilah, SIDETIK seolah yang paling capek dari yang lain. Melaju terus seolah tanpa jeda. Dipacu terus sampai tidak kenal yang namanya istirahat, walau hanya sedetik. Nasibnya menjadi kaki-kaki paling bawah dalam sebuah organisasi. Dalam hal ini adalah Waktu. 

Lain hal dengan SIMENIT perannya bisa lebih santai sedikit. Perannya enam puluh detik lebih pelan dari SIDETIK. SIMENIT cukup beruntung, ada sedikit jeda untuk sekadar menghela napas. Untuk sekadar selonjoran, meluruskan kaki-kaki yang pegal. Tapi, meskipun begitu sebenarnya tanggung jawab dan bebannya tentu lebih besar dari SIDETIK. Ada target-target yang perlu dicapai agar lajunya bisa sampai ke tujuan. Bisa mencapai satu jam dengan efesien, produktif dan berkualitas.

Lain hal lagi dengan SIJAM, perannya lebih santuy dari yang lain. Akan tetapi secara bersamaan, perannya menjadi yang paling penting, sekaligus rentan. Seperti seorang pemimpin. Ketika ia bijak, jeda dalam kurun waktu enam puluh menit itu bisa ia manfaatkan untuk banyak hal.  Untuk mengatur strategi. Untuk mencari solusi. Untuk mendapatkan kebaikan lebih untuk semuanya. Akan tetapi, kita lalai semua jadi berantakan, waktu yang berharga selama enam puluh menit itu seolah terbuang cuma-cuma. 

Al-kisah ada tiga SI yang sedang berperan dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Dan ketiganya memiliki satu kesamaan. Yakni, TIDAK ADA YANG MAU MUNDUR KE BELAKANG. Semua berharapnya terus maju. Semua sama ingin sampai pada tujuan. Maka, adalah penting untuk saling menghargai peran satu sama lainnya. Bahu membahu berjuang untuk kebaikan bersama. Baik peran SIDETIK,  peran SIMENIT maupun peran SIJAM. Karena ketika salah satu dari mereka ada yang terpaksa berhenti bergerak, karena satu dan lain hal. Maka, sudah dipastikan putaran roda kehidupan dalam satuan waktu itu akan berantakan. 

Maka, apapun peranmu saat ini, bersemangatlah untuk terus bergerak ke depan. Jangan berhenti melangkah. Dalam porsinya masing-masing. Dengan tetap menghargai dan menghormati peran satu sama lain. 

Jampang, 01.09.23 | 00.10 WIB
Ditulis ketika memperhatikan laju jarum jam dinding kamar dan kepikiran. Kok kayaknya lelah ya kalau jadi sidetik. 

@azurazie_

Desember 04, 2022

BETAH ATAU BERTAHAN

Pegawai kantor itu sedang lelah sekali. Hari ini super sibuk tidak seperti biasanya. Permintaan yang banyak. Koreksian yang menumpuk. Tekanan dari atasan yang tinggi. Dateline ini itu, seolah-olah tidak bisa menunggu untuk sekadar makan siang dulu. Untuk sekadar coffetime dulu. Jenuh. Jengah. Hmm... Hanya bisa menghibur hati dengan berkata. Sabaaar... Sabar... 

Pegawai kantor itu menghela napas, kondisi seperti itu rentan sekali untuk mendatangkan pikiran yang bercabang. Tentang tujuannya masih berada di tempatnya sekarang. Setelah bertahun-tahun. Ketika betah dan butuh tak lagi seimbang, akan tetapi mulai jadi pertimbangan. 

Ketika jenuh tak lagi sekadar kata yang mewakili rasa. Tetapi sedikit banyak mulai berpengaruh terhadap asa.

"Kerja bertahun-tahun belum tentu karena betah, bro. Tapi karena kebutuhan. Makanya masih banyak yang mau tidak mau bertahan." Celoteh teman kerjanya yang sama suntuknya hari ini. 

Begitukah? Pegawai kantor itu membenak. 

"Tapi setidaknya kita merasa cape dan jenuh karena banyaknya kerjaan. Dari pada cape mikirin gimana cara dapat pekerjaan." Tambah rekan kantornya itu yang sudah lima tahun lebih lama masa kerjanya. 

Betul juga. Pegawai kantor itu bersyukur. 

@azurazie_

Desember 03, 2022

HUJAN DI WAKTU MAGRIB

Hujan di waktu magrib selalu terasa lebih... Hmm apa ya kata yang pas untuk mendeskripsikannya? Sendu? Bikin galau? 
Karena di kala itu banyak pilihan yang perlu dipikirkan, khususnya bagi orang-orang yang ada dalam perjalanan. Memilih mampir sebentar untuk menunaikan kewajiban. Atau tetap jalan karena sebentar lagi tujuan sudah sampai.

Lelaki itu memutuskan untuk singgah sebentar ke salah satu SPBU kota ini. Kalau kewajiban sudah tunai, perjalanan pun akan lebih tenang, pikirnya. Ia pegawai kantor yang hendak pulang ke rumah. 
Sembari memakai kembali mantel, ia melihat-lihat sekitaran. Banyak juga pengguna jalan lain yang memutuskan berteduh. Karena hujan cukup deras. Dan sebagian tidak memiliki jas hujan. 
Di sudut lain SPBU ini juga ada tiga remaja tanggung yang asik dengan kegiatannya. Satu orang sedang asik mengenjreng gitarnya, satu lagi mematik sebatang rokok yang entah sudah ke berapa hari ini. Puntung rokok terlihat berserakan di sekitarnya. Satu yang lainnya meneguk habis kopi hitam yang sudah dingin. Asik saja mereka tidak memedulikan orang-orang yang berteduh, yang berharap cemas kapan hujan ini akan segera reda. Ingin sampai rumah untuk bertemu keluarga. Ingin rebahan. Ingin makan karena perut sudah keroncongan.Dan kecemasan-kecemasan lain. Barangkali itu lah cara mereka menikmati waktu. Menikmati hidup. Toh, semua orang punya caranya sendiri-sendiri. 
Lelaki itu menyeringai. Menuntaskan kembali memakai mantel. Tetiba teringat voice note anak gadisnya yang baru berumur tiga tahun sore tadi. 

'Ayah kapan pulang kerjanya? Yogurt dd habis yah.'
'Ayah dd udah maman sama nuget. Nuget dino nya habis yah. Nanti beli lagi ya yang ada minionnya.'

Lelaki itu tersenyum setelah memutar kembali voice note tersebut. Teringat harus mampir dulu ke mini market. Kalau sampai lupa bisa merasa bersalah tidak bisa memenuhi kebutuhan anak gadisnya.
Lelaki itu bergegas melanjutkan perjalanan. Memilih menikmati waktu dan hidupnya bersama keluarga tercinta di rumah dengan segera.
@azurazie_

Juli 29, 2021

MENGUMBAR AIB

"Hati-hati ketika kondisi kita sedang sakit." Jim tiba-tiba memecah konsentrasi Lam yang sedang memeriksa aturan pakai obat yang baru ia terima dari dokter.

"Maksudnya hati-hati gimana?"

"Ya, bisa dibilang ketika kondisi kita sedang sakit, itu waktu yang mudah sekali untuk kita mengumbar aib kita sendiri. Menurunkan pertahanan kita sendiri." Lanjut Jim menjelaskan maksudnya.

"Jadi lebih mudah mengeluh maksdunya?" Lam mencoba menebak.

"Lebih tepatnya mengeluh bukan pada tempatnya. Di social media, misalnya." 

Lam mengangguk untuk sedikit setuju.

"Kenapa mengeluh dikategorikan sebagai aib?" Seperti biasa mengobrol dengan kawannya satu ini seringkali membuat Lam terpancing ingin tahu lebih dalam tentang apa yang maksud. Karena pemikirannya menurut Lam sering Out of the box.

"Ya, fitrahnya manusia kan, seharusnya mengeluh dalam senyap. Hanya sebatas dirinya dan Tuhannya yang tahu. Merintih diam-diam. Mengaduh dalam-dalam. Mengakui ketidakberdayaannya hanya kepada Allah. Tidak di depan manusia. Seharusnya begitu."

"Tapi, lumrahnya kebanyakan kita, alih-alih mengeluh hanya sebatas keluarga dekat dalam satu rumah. Kebanyakan kita mudah sekali membaginya ke mana-mana. Sampai yang tidak kenalpun bisa ikut kebagian curhatannya."

"Iya, ya jadi runtuh sudah pertahanan dirinya sendiri."

"Masuk akal kan jadi mudah mengumbar aib sendiri?"

Lam hanya mengendikkan bahu.

@azurazie_

Mei 14, 2021

KAKEK DERMAWAN

Seorang kakek, hamba Allah yang soleh. Yang masih semangat shalat jum'at berjamaah.  Meski berjalan sudah tertatih menggunakan tongkat (sekaligus kursi untuk digunakan ketika shalat.)

Selepas shalat, kakek tersebut menghampiri anak kecil yang ikut shalat berjamaah dengan ayahnya.

Sang kakek menegur dan bertanya sederhana, entah tentang apa karena tidak terdengar. Mungkin soal puasa kemarin. Selepas itu sang kakek mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan lima ribuan untuk anak kecil tersebut. 

Kejadian itu berulang sama persis hingga beberapa anak.

Melihat moment indah itu, tetiba teringat hamba allah lain di kampung tempat saya tinggal. Belasan tahun ke belakang. Dulu sewaktu masih kecil ada seorang kakek juga yang sangat hangat kepada anak-anak kecil. Sama dermawannya. Suka berbagi lembaran rupiah. Membuat kami sebagai anak kecil gembira hatinya di saat itu.

Teruntuk kakek yang saya temui hari ini, semoga Allah selalu berkahi sisa umurnya dalam ketaatan. Dalam kenyamanan beribadah di masa tuanya. Selalu dimudahkan dalam shalat berjamaah. 

Sedangkan teruntuk kakek di kampung saya dulu. Semoga Allah senantiasa melapangkan barzah beliau dengan ditemani amalan-amalan soleh semasa hidupnya.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

#kisahjumat
#masjidAs-sofia

Januari 19, 2021

BERUNTUNG DALAM KEMALANGAN

 Suatu ketika, di panas yang terik, ban sepeda motormu kempes. Alhasil dirimu harus mendorongnya cukup jauh, sampai menemukan bengkel penambal ban. Dengan peluh keringat, haus karena panas yang menyengat, hatimu mengkal sekali. Padahal sedang terburu-buru menuju suatu tempat.


Sesampainya di bengkel, ada seorang anak kecil kira-kira usianya baru empat tahun sedang menangis tersedu-sedu. Entah sebab apa. Sedikit membuat bising di telinga.

"Sebentar atuh dek, bapak bantu abang ini dulu. Kasian jauh-jauh habis dorong motor." Ujar si pemilik bengkel. "Duduk di sini dulu aja, bang." Lanjutnya menyodorkan bangku plastik.

"Terima kasih, pak." Jawab dirimu tak banyak basa-basi.

Anak kecil itu masih terus saja menangis hingga prosesi menambal ban selesai.

"Nih, jajan deh." Kata si pemilik bengkel menyodorkan uang satu lembar pecahan sepuluh ribu kepada anaknya. Uang dari dirimu sebagai jasa menambal ban.

Lintang pukang, anak kecil itu langsung berlari. Drama menagisnya berhenti seketika. Dirimu menyeringai. Ada-ada saja anak-anak tuh. Batinmu berkata.

"Dari tadi itu minta duit buat jajan." Kata Si bapak tanpa dirimu bertanya.

Dan dirimu seketika terenyuh. Baru tahu kalau ternyata di balik kemalangan yang sedang dirimu alami. Membawa peruntungan bagi si bapak pemilik bengkel. Yang sejak tadi bingung membujuk anaknya untuk berhenti menangis. Karena belum ada pemasukan untuk hari ini atas usahanya membuka jasa tambal ban di pinggir jalan. Padahal sederhana, anaknya cuma minta uang jajan.

@azurazie_

Oktober 17, 2020

TANPA SYARAT

 

Barangkali di antara teman-teman kita, satu atau dua orang ada yang memiliki sifat selalu ingin mengomentari apa-apa yang ia lihat, apa-apa yang ia dengar. Sedikit-sedikit, ada saja komentarnya. Baik memang itu penting atau lebih seringnya tidak membawa manfaat apa-apa.

                Dan pernah tidak di waktu-waktu tertentu, justru kamu bersyukur, karena komentarnya itu tiba-tiba saja membuka pemahaman baru. Sudut pandang yang lebih baik. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehmu.

                Jum'at ke jum'at pesan taqwa itu tersampaikan kepada laki-laki soleh yang lebih memilih menjaga imannya untuk mendengarkan dua khutbah, melaksanakan shalat jum'at. Dibanding masih berkutat dengan kesibukan dunia, seolah-olah akan rugi banyak, bila menunda pekerjaannya itu. Padahal tidak lebih dari 1 jam lamanya untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Memperbaharui taqwa, kemudian setelah itu bebas kembali bertebaran di muka bumi ini.

                Di antara laki-laki soleh itu, ada dua pemuda yang masih duduk santai di teras masjid. Kalau hari jum’at memang jam istirahatnya lebih panjang dari hari-hari yang lain.

                "Kenapa, Sob? Kok sepertinya ruwet sekali pikiranmu?" Tanya Jim kepada Tahsin yang sejak tadi terlihat gelisah memikirkan sesuatu.

                "Ooh, bukan apa-apa, Bro. Lagi nggak habis pikir saja dengan manajemen masjid ini." Jawab Tahsin dengan sedikit helaan napas.

                "Maksudmu? Memang apa yang aneh?" Jim mengerutkan dahinya, sedikit penasaran. Ia paham benar dengan tabiat temannya itu, kalau ada sesuatu yang dirasa kurang pas dengan pemikirannya, sesuatu itu bisa jadi ‘ganjalan’ yang cukup berat untuk hatinya. Seperti ada yang harus segera diluruskan. Meski seringnya itu hanya kerumitan pikirannya sendiri.

                "Itu loh, kamu dengar kan tadi ya, kalau saldo kas masjid ini ada puluhan juta. Tapi, kok kemakmuran masjidnya nggak terawat begini. Misal, kran-kran di tempat wudhunya saja pada rusak. Aku lihat ada lebih dari tiga kran yang nggak berfungsi sama sekali. Padahal, berapa sih harga kran?" Tahsin mengeluarkan unek-uneknya.

                "Oooh, maksudmu kenapa saldo kas banyak, tapi nggak dipakai untuk mengganti yang anggarannya nggak butuh banyak keluar uang gitu, ya?"

                "Betul, Sob." Tahsin menyungging senyum karena temannya mengerti dengan apa yang ia maksudkan.

                "Oalaaah... pantas tadi aku perhatikan kamu ragu-ragu waktu mau masukin uang ke keropak." Kotak amal itu sempat lama terhenti di depan Tahsin, tapi tidak ada selembar uang pun yang masuk ke dalamnya.

                "Ya, aku pikir lebih baik infak ke tempat lain daripada di sini yang ujungnya hanya jadi saldo. Nggak dimanfaatkan dengan baik. Benar toh? Seharusnya kan bukan jadi tabungan kas."

                "Sebelum aku menanggapi komentarmu itu, boleh aku tanya dulu. Kamu niat infak berapa memang tadi?" Jim menyeringai.

                "Umm..." Tahsin ragu-ragu.

                "Hehe... becanda, Sob. Nggak perlu dijawab.” Jim membenarkan posisi duduknya karena mulai kesemutan. “Aku mau cerita nih, semoga ceritaku  ini bisa meringankan unek-unekmu itu.”

                Tahsin juga membenarkan posisi duduknya, terlihat antusias.

                “Begini, dulu ketika masjid ini sempat di renovasi. Kebetulan aku ini ikut bantu-bantu. Waktu kami pada sibuk mengecor, mengaduk semen dan sebagainya, tiba-tiba ada Pak Tua yang menghampiri DKM masjid ini. Mereka mengobrol lama dan terlihat cukup serius. Pak Tua itu bertanya kepada DKM apa yang sekiranya ia bisa bantu untuk pembangunan masjid ini. Membantu tenaga Pak Tua merasa nggak akan mampu, membeli semen dan benda material lain pun rasanya berat untuk ukuran pendapatannya sehari-hari. Tapi, Pak Tua itu ingin sekali punya andil dalam pembangunan masjid ini. Ia juga ingin punya rumah di surga nanti meskipun sederhana.”

                “DKM masjid ini pun sempat bingung menjawab pertanyaan si Pak Tua. Di sisi lain DKM nggak tega menolak keinginan tulus itu. Singkat cerita akhirnya DKM masjid ini mengusulkan agar Pak Tua membantu menyediakan kran masjid ini saja, kebetulan saat itu memang sudah ada yang pedalnya patah.”

                “Mbah keberatan nggak kalau membantu membelikan kran satu atau dua buah? Nggak perlu yang harganya mahal, yang biasa saja. Insya Allah, kran itu akan berfungsi dengan baik dan membantu orang-orang yang akan bersuci sebelum menunaikan shalat.” Begitu kata DKM masjid ini.

                “Boleh, Ustadz. Mbah, bersedia.” Cukup lama Pak Tua itu menimbang-nimbang keputusannya. “Kalau sudah ada nanti krannya mbah bawa ke sini. Terima kasih, Ustadz.”

                Tahsin menghela napas, masih mendengarkan dengan baik cerita Jim.

                “Sejak itulah, masjid ini seperti punya ‘donatur’ tetap untuk penggantian kran-krannya kalau rusak. Makanya, kalau diperhatikan kran-kran di tempat wudhu nggak seragam warnanya, alias warna-warni. Nah, hari ini kamu masih melihat ada kran yang belum diganti, mungkin karena tabungan si Pak Tua itu belum cukup.”

                Tahsin mengangguk mulai mengerti ceritanya.

                “Kau tahu nggak, siapa Pak Tua yang aku maksud di cerita ini, Sob?”

                “Iya, siapa, Bro? Sejujurnya sejak tadi aku sudah penasaran ingin menanyakan hal itu.”

                “Kau tahu kan, Pak Tua yang berjualan tissue di pintu masuk stasiun Bojong Gede?”

                “Oh iya, Pak Tua yang itu. Aku pernah membeli tissue-nya beberapa kali.” Tahsin ingat betul dengan Pak Tua yang dimaksud. Karena hampir setiap hari ia melihatnya.

                “Nah, Pak Tua itu yang aku maksud. Ia setiap hari berjualan tissue seharga dua ribu perak. Sebagian keuntungannya ia tabung untuk membeli kran untuk masjid ini. Sisanya ia gunakan untuk menopang kehidupannya sehari-hari. Nggak besar-besar amat kan pastinya keuntungannya? Tapi Pak Tua telaten untuk menabung.”

                Tahsin tiba-tiba merasa takjub. Tidak menyangka sama sekali.

                “Memang benar setiap jum’at, kas masjid ini selalu dilaporkan saldonya puluhan juta. Tapi, aku tahu betul amanah infak jama’ah Masjid ini disalurkannya dengan baik. Salah satunya, pengurus DKM punya data anak-anak yatim piatu yang masih perlu biaya sekolah, sekaligus memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Ada ratusan anak. Salah satunya, cucu dari Pak Tua itu. Ia hanya tinggal berdua dengan cucu yang usianya baru 10 Tahun. Namanya Alif. Anaknya cerdas dan kalau nggak salah sudah hafal 15 juz.”

                “DKM Masjid ini pernah cerita kalau sebenarnya saldo kas infak dari jama’ah selalu nyaris nol kalau sudah hari kamis. Di salurkan ke yang memang membutuhkan. Sesuai dengan yang sudah dianggarkan tiap minggunya. Tentu saja juga digunakan untuk perawatan masjid besar ini.” Jim menjeda ceritanya sejenak. “Tapi, berkahnya Masya Allah, setiap jum’at malam selalu saja masuk lagi infak baru ke rekening Masjid ataupun di antar langsung ke rumah DKM. Makanya jangan heran kalau setiap jum’at yang dilaporkan saldo kas masih puluhan juta.”

                “Tapi, kenapa nggak pernah di umumkan rincian pengeluarannya, ya?”

                “Untuk apa? Menurutku nggak perlu-perlu banget hal yang itu dibacakan, selain butuh waktu dan bisa mengganggu yang sedang berdzikir, shalat sunnah dan sebagainya. Kalau soal rincian lengkapnya sebenarnya selalu dipasang di papan pengumuman masjid. Kitanya saja yang kadang acuh, nggak tertarik untuk membaca pengumumannya.”

                Tahsin mengangguk, ia mengakui termasuk jama’ah masjid ini yang tidak pernah mampir untuk melihat-lihat mading.

                “Hanya soal pergantian kran yang rusak saja yang nggak pernah menggunakan uang kas, karena DKM masjid ini ingin menghormati dan menjaga azam Pak Tua untuk berinfak membantu kemakmuran masjid. Jadi, meskipun sudah rusak berhari-hari, kran tersebut belum juga diganti. Begitu ceritanya, Sob.”

                Tahsin terenyuh. Mulai terbuka pikirannya dengan sudut pandang yang baru. Tanpa Jim katakan pun ia mulai paham, bahwa infak itu sudah seharusnya tanpa syarat apa-apa.

                Jum’at ke Jum’at pesan taqwa itu menjadi pengingat kita semua. Taqwa dalam artian menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi segala larangannya.

                Perintah dalam artian sepenuh yakin dengan ketetapan Allah. Infak itu termasuk perintah-Nya. Dan larangan-Nya dalam artian berprasangka buruk kepada-Nya. Dengan terus bertanya-tanya apa yang sudah kita keluarkan, takut-takut tidak disalurkan dengan baik.

                Maka, sudah seharusnya infak itu tanpa syarat apa-apa. Selebihnya biarkan skenario Allah bekerja dengan kebijaksanaan-Nya. Biarkan Allah yang mengatur dengan keindahan cerita dibaliknya.


@azurazie_

Desember 07, 2019

MALU SAMA ANAK KECIL

Tiga anak TPA sedang riuh di tempat wudhu. Saat itu kumandang adzan maghrib sudah hampir selesai dilantunkan muadzin. Ketiganya ikut bergegas untuk berwudhu seperti peserta shalat berjamaah yang lain. Satu anak di antaranya terlihat sudah selesai lebih dulu, sehingga menuntun ke dua temannya agar urutan anggota tubuh yang perlu dibasuh benar. Sesekali ia menginterupsi temannya agar mendahulukan bagian kanan dulu sebelum yang kiri.

“Tangan yang kanan dulu.”

“Sikutnya belum tuh.”

Betapa menggemaskan ketika melihat adegan itu, mengalir seperti air yang sedang mengalir. Tidak ada kesan canggung untuk memberitahu temannya yang salah, tidak ada kesan menggurui meskipun lebih mengerti dari yang lainnya. Gambaran kepedulian itu begitu indah. Seolah sedang berbagi kebaikan bersama. Untuk wudhu yang sempurna. Untuk shalat berjamaah yang lebih utama.

Tapi, ada kejadian yang lucu setelah itu. Selesai mengambil wudhu, kemudian ketiganya berbaris menghadap kiblat seraya menengadahkan doa bersama.

“Tunggu… tunggu.” Anak yang paling kecil di antara ketiganya merasa belum siap. Masih menurunkan gulungan celana.

“Udah belum?” Anak yang paling besar mencoba memastikan.
Kedua temannya itu kompak mengangguk.

“Bismillahirrahmanirrahim..” Kompak ketiganya mengawali dengan basmalah. Aku yang kebetulan melihatnya semakin takjub dan tidak sabar mendengar lantunan doa berikutnya.

“Alhamdullillahilladzi ahyaanaa…” Masih dengan suara yang lantang dan kompak.
Loh? aku spontan mengerutkan dahi. 

“ba’da maa amaatanaa…” 

Aduh kok jadi doa bangun tidur? Tiba-tiba saja mulut ini ketelepasan bertanya. Dan sedikit menyesal karena itu. 

“wa ilaihin nushur.” Mereka menuntaskan doanya bersamaan dengan memandang ke arahku dengan ekspresi bingung.

Duh, dek. Sungguh menyaksikan kepolosan kalian membuat senyum ini sumringah. Tapi, hati tiba-tiba mencelos. Terlepas dari salahnya doa yang mereka baca. Betapa sebagai orang yang umurnya semakin ‘tua’, seiring berjalannya waktu malah lebih banyak lupa untuk mengawali sesuatu dengan doa. Dari perkara doa ketika bangun tidur, hingga doa-doa lain yang mengiringi aktivitas sehari-hari.

Betapa seringnya kita tanpa sadar menghilangkan begitu saja nilai keberkahannya.
Malu.

@quotezie

April 26, 2019

NAMANYA JUGA ANAK-ANAK

Kenapa kau habis wudhu bukannya masuk masjid malahan senyum-senyum sendiri.” Kalam menepuk punggung Jim yang ketahuan sedang memperhatikan anak-anak TPA yang sedang belajar shalat berjamaah.
“Bikin kaget saja kamu, Lam. Nggak, tadi merasa lucu aja melihat tingkah laku anak-anak tuh. Di luar tingkah laku mereka yang seringnya masih main-main dalam beribadah, ada saja yang membuat kita sebagai orang dewasa jadi merenung.”
“Misalnya?” Kalam mulai penasaran.
“Contohnya, tadi sewaktu wudhu ada dua anak yang hampir berantem gara-gara soal tumit. Yang satu ngasih tahu kalau wudhu temannya nggak sah karena dia lihat mata kaki temannya itu belum basah. Yang dikasih tahu juga ngotot kalau wudhu yang dia lakukan sudah benar. Ia merasa sudah membasuh semua kakinya bahkan sampai dengkul.”
“Terus menurutmu anak mana yang lebih benar?”
“Tadi sih pas diperhatikan si anak yang wudhu memang sudah basah dari dengkul hingga jari kaki. Tapi memang sebelah mata kakinya belum basah sempurna. Yang dia basuh cuma bagian kaki depan doang. Si anak yang menegor temannya juga sebenarnya wudhunya belum sempurna benar. Cepat banget udah seperti capung minum air.”
“Berarti kita masih punya PR untuk praktek wudhu lagi besok.” Kalam menyimpulkan.
“Nah, pas mau masuk masjid ada lagi anak-anak yang berantem. Yang ini lebih lucu lagi. Ada anak laki-laki yang main kejar-kejaran dan nggak sengaja menabrak anak perempuan yang sudah memakai mukena. Yang lain jadi ikutan ramai sambil berseru ‘batal tuh wudhunya kan kena kulit’. Anak perempuan yang ditabrak keliatan masygul karena merasa udah pakai mukena malas bukanya lagi.”
“Waduh ada-ada aja mereka.”
“Lucu melihat tingkah mereka yang secara nggak langsung lagi menerapkan hukum fiqih. Walaupun sebenarnya usia mereka masih jauh dari baligh.”
“Iya betul, Jim. Kita yang sudah lama baligh malah seringnya nggak hati-hati ya. Menabrak hukum ini itu.”
“Nah, itu yang tadi aku maksud jadi merenungi banyak hal. Kita masih suka susah menjaga diri bersentuhan dengan yang bukan mahrom. Baik yang nggak sengaja apalagi yang terang-terangan berjabatan tangan. Padahal di luar punya wudhu pun sudah haram hukumnya. Innalillah.”
“Betul sekali, Jim. Belum tentu wudhu kita juga sudah sempurna ya. Masih harus banyak belajar menjadi muslim yang kaffah. Yang menerapkan ketentuan-ketentuan dalam islam secara menyeluruh. Nggak sekadar maunya mengambil yang ringan-ringan saja. Yang memberatkan nafsu malah diabaikan.”
“Betul sekali, Lam.”
@azurazie_

April 25, 2019

MUNGKIN MEMANG TIDAK SEBERAPA


Waktu sudah menunjukkan pukul 21 lebih 15 menit, sudah cukup larut untuk para pekerja yang seharian berjuang untuk menafkahi diri sendiri dan keluarganya. Aku satu di antara yang selarut ini belum sampai rumah. Perjalanan cukup macet, sehingga aku memutuskan menepi untuk sekadar mencari minuman dingin di salah satu minimarket yang cabangnya makin menjamur saja.

Toko ini sedang tidak terlalu ramai, di depan kasir hanya ada satu pelanggan yang sedang bertransaksi. Seorang bapak yang aku taksir usianya sekitar 40-42 tahun. Kebetulan tadi masuknya berbarengan denganku. Ia membawa beberapa berkas di tangan kirinya.

Si bapak tersebut membeli beras 5kg, susu formula, tissue, dan 2 snack ukuran 200gr. Meski belanjaannya hanya 5 item produk, tapi transaksi itu belum juga selesai. Setelah diperhatikan, ternyata si bapak membayar dengan kartu debit. Dan mesin EDC-nya seperti sedang bermasalah, sehingga prosesnya gagal terus.

Ada yang menarik dengan transaksi yang sedang aku perhatikan ini. Sejak pertama masuk toko ini, aku menilai si penjaga kasir (laki-laki usianya sekitar 30-31 tahun) pelayanannya tidak terlalu ramah. SOP standartnya tidak jalan. Seperti 3S yang menjadi kewajiban sebagai pelayan di sebuah minimarket pun tidak ia jalankan.

Beberapa kali si penjaga kasir ngedumel sendiri, karena mesin EDC yang bermasalah. Si Bapak pembeli terlihat begitu sabar sembari menahan kantuk dan berulang kali melirik jam tangan. Sudah pasti keluarganya sudah menunggu di rumah.

“Ada uang cash, aja pak?” tanya si penjaga kasir tanpa memandang ke arah pembeli.

“Totalnya berapa emang?”

“64 Ribu, Pak.” Si penjaga kasir mengembalikan kartu ATM.

“Ya udah saya ke atm dulu.”

Kebetulan di dalam toko memang tersedia mesin ATM salah satu Bank. Kena biaya admin tambahan karena tarik tunai antar Bank.

Sembari menunggu si bapak tadi menarik uang di ATM, aku maju untuk bertransaksi. Tidak banyak yang aku beli, satu minuman dingin, satu lagi roti isi strawbery. Tidak lama kemudian si Bapak tadi kembali ke meja kasir dan menyodorkan dua lembar pecahan 50an.

“Kembaliannya pak 46ribu.” Si penjaga kasir memberikan uang 2 lembar pecahan 20an dan 3 lembar pecahan 2 ribuan, lengkap dengan struk belanjaannya.

“Terima kasih.” Jawab Si Bapak sambil siap-siap membawa belanjaannya. Tangan kanan membawa beras, tangan kiri ada berkas dan 4 belanjaan lain. Kebijakan baru walikota sudah melarang menyediakan kantung plastik untuk membawa barang belanjaan.

Melihat si bapak sepertinya kerepotan, aku menawarkan diri untuk membantu membawakan sebagian belanjaanya. Tapi, si bapak menolak dengan ramah karena merasa masih mampu sendiri. Aku hanya membantu membukakan pintu keluar saja.

Sesampainya di parkiran tiba-tiba si Bapak berhenti.

“Ada apa pak? Apa ada yang ketinggalan?” tanyaku basa-basi.

“Ternyata uang kembaliannya kelebihan 10ribu, nak.” Si bapak terlihat memastikan ulang hitungannya. “Kalau sekiranya sedang tidak buru-buru, bapak minta tolong, jagain sebentar barang-barang ini ya, nak.”

Aku mengangguk bersedia dan memperhatikan si bapak masuk kembali ke dalam toko demi untuk mengembalikan uang kembalian yang lebih. Masya allah, aku tersenyum memperhatikan kejadian ini. Meski sudah semakin larut, dan sudah pasti merasa lelah karena aktivitas seharian. Masih ada yang teliti dan bersedia untuk mengembalikan sesuatu yang bukan menjadi haknya. Meski mungkin untuk sebagian orang uang 10ribu itu nilainya tidak seberapa.

“Terima kasih loh, Nak sudah dibantu.” Kata si Bapak setelah kembali ke parkiran. “Alhamdulillah, Allah masih menjaga bapak.”

“Maaf, maksudnya gimana, pak?” Aku penasaran ingin tahu.

“Iya, Allah masih menggerakkan hati bapak untuk teliti menghitung kembalian. Jadi hak orang lain tidak terbawa pulang sampai rumah.”

“Walaupun hanya uang selembar senilai 10ribu ya, Pak?”

“Bagi karyawan toko tadi, selembar 10ribu itu bisa jadi sangat berarti, Nak. Karena termasuk gaji hariannya. Yang sudah menjaga amanah toko ini selama 8 jam kerja. Sedangkan bagi kita mungkin tidak ada apa-apanya, tidak banyak menambah tabungan atau terlalu sedikit juga untuk tambahan uang belanja. Tapi, satu lembar itu bisa jadi sumber penyakit yang bisa termakan oleh keluarga kita di rumah. Rezekinya jadi tidak berkah. Alhamdulillah, Allah masih menjaga keluarga bapak dari kemudhorotan yang bisa saja timbul karena hal itu.”

“Masya Allah, Pak. Terima kasih atas nasihat berharganya ini.” Kataku benar-benar merasa beruntung mendengarnya.

“Sama-sama, Nak. Bapak sedang mengingatkan diri sendiri. Mari lanjutkan perjalan lagi. Masih jauh toh sampai rumah?”

“Lumayan jauh, Pak.”

“Kalau begitu hati-hati di jalan. Bapak duluan.” Si Bapak pamit lebih dulu meninggalkan parkiran

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Aku tersenyum seraya berdoa, semoga selalu termasuk golongan orang-orang yang mampu menjaga diri dari amanah. Ada amanah dalam diri sendiri, yaitu memastikan tidak ada barang yang haram, bukan milik sendiri yang termakan atau terpakai oleh kita. Ada amanah dalam diri sendiri untuk menjaga keluarga juga dengan hal yang sama.


@quotezie



Maret 16, 2019

APA AKU SUDAH TERLALU TUA UNTUK BENAR-BENAR MERASA CINTA?

Tadinya aku sudah ingin bergegas untuk ikut memenuhi shaf-shaf yang kosong untuk menunaikan shalat maghrib, tapi demi adab aku urungkan ketika melihat Abah Anom masih meniti anak tangga. Usianya sudah hampir satu abad, tapi semangat untuk shalat berjamaah di masjid tidak pernah absen.
“Duluan saja Nak Jim, orang tua ini mah jalannya sudah mirip siput.” Abah Anom bergurau menoleh ke arahku.

“Nggak apa-apa Abah, saya di belakang Abah saja.” Kataku menolak permintaannya dengan sopan. Meski sudah sepuh dan langkah sudah kurang jejak, Abah Anom tidak mau sama sekali dibantu untuk sekadar dipapah oleh orang lain.

Suasana masjid sudah mulai ramai dengan anak-anak yang sibuk bercanda. Mengganggu kekhusuan shalat sunnah orang-orang dewasa.

“Ssssst jangan bercanda anak-anak. Berisik. Jangan lari-larian.” Suara salah satu jamaah dewasa dengan nada yang sedikit membentak.

Aku melihat Abah Anom menggeleng, sejenak langkahnya berhenti di ambang pintu masjid. Tiba-tiba saja wajahnya murung, nampak sedih.

“Ada apa Abah?” Hati-hati aku bertanya.

“Kau tahu Nak, Jim. Usia masjid ini jauh lebih tua dari usia abah, tapi suasananya masih saja nggak berubah dari dulu sejak abah seusia mereka. Abah suka sedih kalau mendengar anak-anak itu dibentak karena berisik.”

“Kalau boleh tahu kenapa jadi sedih, Abah?”

“Kau tahu Nak, dulu semasa kecil tingkah laku abah seperti mereka, bahkan bisa dibilang paling bandel. Abah punya genk sepuluh orang yang selalu membuat rusuh shalat berjamaah. Ada saja keusilan dari kami, dari mulai melorotin kain sarung, lempar-lemparan kopiah sampai berlomba mengucap amin dengan sangat kencang. Banyak orang dewasa yang menegur dan kesal karena merasa terganggu. Tapi kami nggak ada kapoknya. Semakin dilarang justru semakin ngeyel.”

Aku menggangguk, ternyata dari masa ke masa anak-anak sudah begitu kelakukannya kalau berada di masjid.

“Suatu waktu Abah Muallim Jufri, guru ngaji di kampung abah, sengaja mengumpulkan kami sehabis shalat Maghrib. Abah kira kami akan kena omelan lagi. Tapi ternyata nggak. Abah Muallim Jufri hanya menunduk lama menahan sedih. Lama sekali kami menunggu, hingga Abah Muallim mulai bicara”

“Nak, masjid ini luas sekali, tapi jamaah yang datang setiap shalat lima waktu segitu-segitu saja.” Abah Muallim Jufri menghela napas. “Abah sedih bukan lantaran kelakuan nakal kalian, sebab siapa lagi kalau bukan kalian yang masih mau meramaikan masjid ini. Abah sedih karena semakin berkurangnya kesadaran orang tua kalian untuk ikut memakmurkan masjid. Lebih sibuk dengan dunianya masing-masing.”

“Saat itu kami saling pandang satu sama lain, merasa bangga karena dianggap meramaikan masjid tapi di sisi lain juga sadar, jangan-jangan gara-gara kami orang-orang dewasa jadi enggan untuk ke masjid?”

“Tentu bukan kesalahan kalian, Nak.” Abah Muallim Jufri seperti bisa membaca pikiran abah saat itu. “Abah berpesan, tetaplah meramaikan masjid, sampai suatu saat kalian akan memahami, betapa bahagianya hati ini, dikala sujud begitu terasa sedang ditatap oleh Allah. Di saat benar-benar merasa tunduk dan patuh karena cinta Allah.”

“Mendengar kata-kata itu kami semua terdiam. Memang nasihat Abah Muallim Jufri itu tidak langsung membuat kami berubah. Tetap bandel seperti biasanya. Tapi seiring berjalannya waktu pemahaman baik itu benar-benar tumbuh di masjid tua ini. Betapa pertistiwa itu terasa baru kemarin, Nak Jim. Genk Abah sepuluh orang itu, anak-anak yang paling bandel di kampung ini dulu, satu per satu sudah meninggal dunia. Tinggal Abah saja yang sedang menunggu gilirannya.”

“Melihat anak-anak ini, Abah jadi sedih mengingat masa-masa itu. Semoga mereka dapat lebih cepat memahami bahwa betapa bahagianya hati ini, di kala sujud begitu terasa sedang ditatap oleh Allah. Merasakan cinta yang sebenarnya di masjid ini.”

Aku terharu mendengar cerita Abah. Hingga shalat maghrib selesai ditunaikan, Abah Anom tetap sujud dengan khidmat, mengembuskan napas terakhirnya. Merasa benar-benar sedang ditatap oleh Allah. Maghrib ini adalah giliran Abah Anom merasakan benar-benar cinta-Nya.

@azurazie_

Maret 12, 2019

APA AKU MASIH TERLALU KECIL UNTUK MENJADI TAQWA?

Shalat maghrib berjamaah sudah hampir di mulai. Hampir saja aku menjadi masbuk kalau tidak bergegas untuk mengambil wudhu. Sembari merapikan gulungan celana, aku memperhatikan kejadian menarik itu. Di antara orang-orang dewasa yang berduyun-duyun mengambil shaf terdepan, ada satu anak kecil yang berantusias tidak mau kalah. Tapi, malang nasibnya, ia terusir dengan mudahnya dari barisan shaf pertama.

Dibanding dengan bocah-bocah lain yang masih sibuk bercanda, sikut-sikutan dengan teman di sampingnya sambil berisik.  Alih-alih tertib menyempurnakan shaf. Dan sulit sekali untuk diatur. Anak kecil tadi dengan kopiah putihnya, masih terlihat berusaha mendapatkan tempat di barisan shaf kedua. Tapi, malang nasibnya, lagi-lagi harus terusir disuruh ke belakang oleh orang dewasa.

Ia pun beringsut mundur mencari celah dibarisan shaf ketiga. Sayangnya sudah keduluan oleh orang dewasa lainnya. Aku yang sedari tadi memperhatikan anak kecil itu, merasa kasihan. Ada kesedihan nampak di wajahnya. Aku pun memutuskan memanggilnya, masih ada celah di sampingku di shaf ke empat. Dan kujamin kali ini tidak akan ada yang mengusirnya untuk menyuruhnya ke belakang.
Ia pun mengangguk dan mulai fokus untuk melakukan takbiratul ihram.

Aku pun melakukan hal yang sama.

***
Mendidik anak untuk membiasakan diri shalat tepat waktu dan berjamaah di masjid memang sudah seharusnya tugas untuk orang tua. Tapi, kenyataan yang sering terjadi anak-anak itu disuruhnya pergi ke masjid tanpa didampingi langsung oleh ayahnya. Ya itu dampak yang terjadi, lebih banyak becandanya daripada benar-benar belajar menunaikan shalat dengan baik. Makanya tak jarang banyak orang dewasa lain yang jengkel merasa terganggu.

Aku salut dengan anak kecil di sampingku ini. Sepanjang shalat tiga rakaat semua gerakannya sempurna. Tumaninahnya sempurna. Seperti tidak tergiur sama sekali dengan teman sebayanya yang sibuk becanda di barisan belakang. 

Selepas shalat pun ia tak langsung beranjak. Turut mengikuti untaian doa dari sang imam. Begitu khusyu tanpa bersuara. Sedangkan anak-anak lain baru selesai salam pun langsung belingsatan berlari keluar masjid.

Belum selesai sampai di situ kekagumanku, anak kecil itu beranjak bangun pindah ke shaf pertama yang sudah hampir kosong, untuk menunaikan shalat Ba'diyah maghrib. Barangkali hatinya berkata inilah shaf yang paling aku idamkan. Shaf pertama tak jauh dari imam.

Aku tersenyum, menerka-nerka, siapa nama anak ini? Dari mana asalnya? Bagaimana cara orang tua mendidiknya?

***
Saking penasarannya, tak pikir panjang lagi aku menghampirinya.

“Siapa namamu, dek?” Aku basa-basi bertanya.

“Alif, kak.” Alif tersenyum, bibirnya masih tetap bertasbih.

“Tadi kakak perhatikan kamu berusaha banget ya ingin di shaf pertama? Boleh tahu alasannya?”

“Kata ayah Alif, shaf yang paling utama itu yang paling depan, kak. Alif ingin sujud berdoa di shaf itu.”

“Alif sedih ya tadi nggak bisa dapat shaf pertama?”

“Nggak apa-apa, Kak. Setidaknya Alif sudah berusaha. Allah Maha Melihat.”

“Tapi Alif pernah dapat kesempatan di shaf pertama?” Tanyaku penasaran.

“Dulu sering, kak. Saat ke masjidnya bareng ayah.”

“Kalau boleh tahu, ayah Alif ke mana sekarang?” Aku tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

“Sudah hampir satu tahun ayah lumpuh karena kecelakaan. Jadi shalatnya di rumah, kak. Ayah selalu meminta Alif untuk tetap shalat berjamaah di masjid. Karena itu yang lebih utama untuk anak laki-laki. Lagi pula di masjid doa Alif jadi lebih khusyu. Karena terasa lebih dekat sama Allah.”
Tiba-tiba hatiku mencelos. Ada anak kecil yang setabah dan selurus ini hatinya.

“Memang apa yang Alif minta dalam doa?”

“Alif ingin cepat tumbuh besar agar bisa memapah ayah untuk pergi ke masjid. Biar bisa shalat jamaah lagi.”

Aku sempurna terdiam mendengarnya.

@azurazie_