Juni 23, 2018

MENANTI APA MENUNGGU?

Pada suatu senja.

"Putri, lagi apa?"

"Menanti suami aku pulang."

"Menanti apa menunggu?"

"Memang beda, ya?"

"Beda atuh, menunggu itu untuk sesuatu yang pasti datang. Baik waktu atau kabarnya. Sedangkan menanti untuk sesuatu yang belum tentu pasti datangnya."

"Oke di ralat. Berarti menunggu. Suami aku lagi apa?"

"Menanti."

"Menanti apa?"

"Menanti, dapat kejutan bahagia apalagi yang Allah kasih, sampai rumah."

"Bukannya menunggu?"

"Nggak perlu menunggu lagi, kan sudah merasa bahagia."

"Terus kenapa bahasanya menanti? Berarti belum pasti dong sifatnya."

"Karena kita nggak pernah tahu bentuk kejutannya seperti apa. Meskipun belum pasti, a nggak masalah. Karena tanpa kejutan pun bahagia itu selalu dirasa apa adanya."

"😙 Menunggu sambil menanti ini mah jadinya."

23 Juni 2018
@azurazie_
@sekitar_putri

DE UTUN?

"Putri, kalau utun artinya apa ya?" Pada suatu malam. Sambil menunggu waktu isya.

"Utun?" Putri mengkonfirmasi.

"Iya, kalau a perhatikan, pasangan-pasangan yang baru hamil manggilnya De Utun. Emang itu bahasa apaan?" Sambil sibuk lihat-lihat status di whatsapp.

"Aku juga nggak tahu, panggilan umum buat jabang bayi kali, ya?"

"Oooh..  macam tu. A juga mau ikutan cari nama khusus, ah. Tapi jangan ikut-ikutan 'utun'. Ada ide?"

"Umm... apa ya?" Ia berpikir sejenak. "De Kaffah?"

"Kaffah? Sempurna maksudnya?"

"Kaffah alias... kinanti dan fauzi." Putri tersenyum manis.

"Lho? H nya punya siapa? Kepikiran aja lagian haha..." sambil menjawil hidungnya.

"Ya, kan cuma saran." Wajahnya sedikit cemberut.

"Kaffah, kaffah, umm..... gimana kalau Futuh, aja?"

"Setujuuu, 😍"

"Yes, De Futuh. Biar beda dari yang lain." Sambil mengusap-usap perut. "Assalamu'alaikum De Futuh."

Begitulah cerita Futuh ini dimulai. Sambil berdoa sepenuh harap, ia bertumbuh dengan baik.

23 Juni 2018
@azurazie_
@sekirar_putri

Juni 16, 2018

SELEPAS HARI RAYA

Sobat, satu hari selepas ritual ramah-tamah hari raya. Setelah terasa 'kenyang' mendapati pertanyaan 'kapan' dan tentu saja dibersamai dengan bisikkan doa-doa kebaikan juga. Maka, hari ini adalah langkah berikutnya.

Yang kebagian ditanya, 'kapan nikah?' Kebagian doa, 'semoga segera ketemu jodoh'. Itu artinya selepas ini, ada azam yang lebih kuat dari sebelumnya. Lebih giat menabungnya, lebih giat ikhtiar menemukan jodohnya. Lebih giat memperbaiki kualitas dirinya. Lebih sungguh-sungguh untuk segera menghalalkannya. Ayo, lekas jangan ditunda lagi.

Pun demikian, yang kebagian ditanya, 'Udah isi belum?' Kebagian doa, 'semoga segera punya momongan, ya'. Itu artinya selepas ini, harus lebih harmonis hubungan dengan pasangannya. Lebih saling mendukung dalam ikhtiarnya. Saling menguatkan satu sama lain. Lebih giat lagi nabung untuk masa depannya. Lebih giat memperbaiki kualitas diri untuk keduanya. Kualitas waktu luang. Kualitas perhatian dan kasih sayang. Kualitas kebersamaan.

Begitu juga yang kebagian ditanya, 'kapan wisuda?' Dan kebagian doa 'semoga cepat lulus ya' selepas ini, harus lebih giat lagi menyelesaikan skripsweetnya, lebih giat membaca dan mengumpulkan bahan-bahan pendukungnya. Lebih giat lagi bimbingan dengan dosennya. Lebih giat lagi menabung untuk biayanya. Lebih giat memperbaiki kualitas diri. Untuk lebih rajin. Lebih ulet. Pantang menyerah dan tidak mudah untuk mengeluh.

Dan begitu juga yang kebagian pertanyaan-pertanyaan lainnya. Baik yang serupa ataupun yang tak sama. Tentu saja selain lebih giat dari yang disebutkan di atas. Ada yang lebih penting lagi. Lebih giat memperbanyak doa. Dengan begitu semoga Allah mudahkan jalannya

Kenapa harus begitu?Sebab, apalah arti banyak 'menelan' pertanyaan-pertanyaan itu. Apalah arti menampung banyak sekali doa-doa dari saudara, orang tua, sahabat-sahabat kita. Bila kita sendiri tidak lebih tergerak untuk merealisasikannya. Pertanyaan dan doa-doa itu hanya sekadar rutinitas ceremonial tahunan. Bila sedang bertemu dan berkumpul. Padahal jauh di lubuk hati kita, semua itu adalah yang paling kita harapkan. Yang sejauh ini sedang kita perjuangkan.

Selamat menjadi lebih giat dari biasanya. Ganbatte kudasai yoo.

@azurazie_

Juni 15, 2018

IDUL FITRI 1439H

Dear pembaca Lakaran Minda  yang bijaksana. Barangkali banyak kata-kata yang terlanjur tertulis, menyinggung hingga menyakiti hati. Dan menjadi tabungan tuntutan di yaumil kiamah nanti. Besar harapan kami selagi masih ada di dunia, sudilah kiranya kau bantu hapus kesalahan itu dengan kata yang lebih bijak darimu. Maaf dari setulusnya hatimu.

salam dari kami yang sedang membuka pintu hati.
@azurazie_
@sekitar_putri

Juni 14, 2018

HAK YANG TERTANGGUH

Sobat,
Sebelum lebaran datang. Di penghujung Ramadhan ini. Mari ingat-ingat kembali, adakah hak-hak adami yang masih tertanggung pada dirimu? Bila ada dan mampu, ditunaikanlah dengan segera. Bila ada dan masih belum cukup mampu, kabari dan berikepastian akan waktunya. Jangan sampai hak-hak itu menggantung tanpa kejelasan. Karena waktu terus mengalir tanpa menunggu kesiapan.
Maka, adalah penting untuk diingat-ingat kembali, adakah hak adami itu yang belum tertunai. Baik harta benda, janji harapan, maupun hak-hak yang menyangkut keluasan hati mereka. Adakah hati yang masih terlanjur sakit hati karena ulah tangan dan lidah kita? Menjadi hak-hak permintaan maaf dari kita.

Apalah arti lebaran tiba. Hari kemenangan itu datang. Akan tetapi masih ada hak-hak adami yang masih tertangguhkan tanpa kejelasan. Masih ada yang belum mau saling memaafkan dengan hati yang lapang.

Apalah arti kemenangan, bila masih banyak banyak yang belum merdeka dari ulah kita punya lisan dan perbuatan.

Apalah artinya lama hidup di dunia, bila diakhir hayat hanya mengumpulkan banyak tuntutan-tuntutan. Karena waktu terus berjalan tanpa menunggu kesiapan. Tetangga kita pun ada yang menghembuskan nafasnya, satu hari sebelum lebaran. Innalillahi wainnailahi rajiun. Cukup menjadi nasihat untuk kita semua renungkan.

29 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 13, 2018

TARAWEH TERAKHIR

Bagaimana bila malam ini adalah malam taraweh terakhir di dunia? Saat itu posisimu ada di mana? Sedang sungguh-sungguh berduyun-duyun memenuhi masjid-masjid. Berlomba-lomba untuk mendapatkan shaf paling depan. Persis di belakang imam. Atau dirimu justru sedang singgah-singgah. Pindah dari satu mall menuju mall berikutnya untuk mengejar diskon.

Bagaimana bila malam ini adalah malam taraweh terakhir di dunia? Ya ini bukan lagi tentang membicarakan kesempatanmu sendiri. Tapi tentang kesempatan semua orang. Kita sedang membicarakan dunia. Sebab, bagaimana bila tahun-tahun berikutnya ramadhan tidak lagi datang. Dan malam ini gerbang rahmat itu akan segera ditutup. Gerbang ampunan itu sudah habis batasannya. Di manakah posisimu saat itu? Sedang sungguh-sungguh untuk meraihnya? Berusaha menjadi salah satu orang-orang terpilih yang mendapatkan kemuliaan ramadhan. Atau dirimu justru sedang singgah-singgah, macet-macetan. Euporia karena ini buka bersama terakhir. Canda tawa melewatkan kesempatan malam ini begitu saja.

Bagaimana bila malam ini adalah taraweh terakhir di dunia? Akankah akan dilewatkan begitu saja?

28 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 12, 2018

BATAS

Tiap-tiap sesuatu ada batasan-batasannya. Itu sudah fitrah bagi semua makhluk. Dan kalau sudah bertemu batasnya, manusia bisa mengupayakan apa? Diberi sakit yang 'agak' serius saja kita butuh bantuan orang lain. Apalagi sudah menyangkut batasan usia. Sudah pasti lebih banyak lagi bantuan orang lain untuk mengurusnya.

Dan lucunya, manusia itu walau sudah tahu begitu banyak memiliki batasan-batasan kemampuan. Akan tetapi, suka tidak serius untuk membekali batas kesempatannya. Seringnya penyesalan datang di akhir. Waktu yang selalu berakhir. Tidak diisi dengan bijak dan pintar.

Dalam konteks Ramadhan, batasan ini adalah sisa hari-hari berpuasa. Lalu timbul pertanyaan dalam benakmu, bagaimana bila dua hari sisa ramadhan ini adalah batasan kesempatanmu untuk berpuasa? Bagaimana bila tidak akan dirimu jumpai puasa-puasa di tahun-tahun berikutnya? Bagaimana bila dalam dua hari ini adalah batasan Allah menurunkan rahmat dan ampunan-Nya? Sedangkan dirimu sudah terlanjur membatasi diri untuk tidak sungguh-sungguh beribadah.

Maka, tiap-tiap sesuatu ada batasan-batasannya. Tidaklah bijak bila upayamu hanya sebatas menggugurkan kewajiban. Hanya sebatas menjalani rutinitas.Tidak sungguh-sungguh menambal kekurangan. Sedangkan kesempatan untuk memperbaiki sesuatu, waktunya terbatas.

27 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 11, 2018

MENYESUAIKAN

Dalam tiap-tiap keadaan, yang paling bijak adalah bagaimana bisa menyesuaikan. Bukan ingin selalu menang dan egois mengikuti mau sendiri atau sudah saja mengalah karena merasa tidak memiliki daya apa-apa.

Belajar menyesuaikan tanpa harus kehilangan jati diri. Semata-mata untuk tetap menyeimbangkan keadaan.

Seperti bijaknya air, ia mengalir menyesuaikan dengan keadaan. Apabila melewati turunan, dengan mudah mereka mengalir tanpa hambatan. Apabila menghadapi tanjakkan. Mereka tetap berusaha membendung hingga melampaui batasan. Meluber hingga akhirnya mengalir lagi sesuai dengan arahan.

Seperti bijaknya air, meski dari berbagai penjuru air mata sungai yang mengalir ke lautan. Mengalir air tawar itu, sampai laut menyesuaikan menjadi asin. Berbaur dengan keadaan. Tahu diri karena sifat air laut adalah asin. Tahu tempat. Tahu situasi.

Begitu pula dengan ibadah puasa, tubuh yang terbiasa menjalani puasa, ia tidak lah sulit menyesuaikan keadaan. Makan dan minum disesuaikan dengan kebutuhan waktunya. Yang tadinya makan di waktu siang. Disesuaikan di saat buka dan saur. Tidak lagi menuntut makan sepanjang hari, karena itu bisa membatalkan. Menyesuaikan dengan peraturan.

Makanya nyeleneh sekali apabila ada statment : hormatilah yang tidak berpuasa. Sebab, seharusnya yang tidak berpuasalah yang harus pandai menyesuaikan. Yang berpuasa sedang menjalani kewajibannya. Menyesuaikan dengan waktu-waktunya. Sedangkan yang tidak berpuasa menyesuaikan apa? Kewajiban saja tidak dijalani. Seharusnya lebih tahu diri untuk menghormati yang taat.

Maka, belajar untuk selalu menyesuaikan adalah bijak. Untuk berbagai keadaan. Untuk tiap-tiap kebutuhan.

26 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 10, 2018

TUJUAN PERJALANAN

Sebuah perjalanan semestinya selalu dibersamai oleh tujuan. Hendak ke mana. Guna menemukan apa. Sebab, tanpa tujuan, perjalanan itu akan kehilangan maknanya. Seperti tidak ada yang harus diperjuangkan. Seperti tidak memiliki target perjalanan itu sampai kapan. Alih-alih hanya lelah dan waktu yang dilaluinya sia-sia.

Seperti halnya hidup. Seseorang yang beruntung adalah yang mengetahui tujuan hidupnya. Hingga ia memahami benar hendak digunakan untuk apa waktu dua puluh empat jam dalam ke sehariannya. Kalau tidak tahu, boleh jadi sisa-sisa usianya hanya dihabiskan untuk makan minum buang air besar saja. Hingga tiba-tiba tak terasa semakin hari usia semakin tua.

Seperti halnya ramadhan. Seseorang yang beruntung adalah yang memahami betul apa tujuan puasanya. Apa yang harus di isi/ditunaikan sejak niat berpuasa hingga berbuka. Terus menerus hingga lebaran tiba. Dengan begitu ia berpuasa dengan bersungguh-sungguh. Tak sekadar menahan lapar dan dahaga. Tapi menjaga dari apa-apa yang bisa membatalkan pahalanya juga. Tentu saja tujuan puasa adalah gelar takwa.

Maka, sebuah perjalanan sudah semestinya dibersamai dengan tujuannya. Kalau tidak begitu, perjalanan sejauh ini untuk apa?  Perjalanan ini akan berakhir ke mana? Ada yang dihasilkan atau sia-sia.

25 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 09, 2018

MERASA CUKUP

Bukan tentang seberapa banyak, tapi tentang seberapa cukup.
Begitulah. Adakalanya kita menginginkan apa-apa yg didapat banyak. Tanpa memikirkan bahwa yang kita butuhkan adalah apa-apa yg dicukupkan.

Apa makna banyak jika tidak mencukupi?

Allah Maha Baik, selalu mencukupi apa-apa yang kita butuhkan, bukan selalu apa-apa yang kita inginkan.

Allah Maha Kaya, bisa saja jika sudah berkehendak, Allah akan memberi banyak. Adakalanya Dia tidak memberi banyak bukan karena tidak kuasa. Sungguh Allah Maha Kuasa untuk demikian, Allah menguji seberapa dalam dirimu merasa cukup. Seberapa mudah dirimu untuk bersyukur.

Semoga, cukup itu selalu mengutuhkan rasa syukur, tanpa kufur.

Ramadhan adalah latihan untuk memupuk rasa cukup. Bahwa, seringnya kita di siang hari memikirkan banyak sekali menu untuk berbuka puasa. Menginginkan segala macam jenis makanan yang menggugah selera kita. Tapi saat berbuka, yang diutamakan adalah rasa cukup. Cukup segelas air putih. Cukup tiga butir kurma. Cukup makan sekadarnya. Karena perut hanya bisa menampung secukupnya. Semua yang sejak siang begitu diinginkan, seolah bukan prioritas lagi. Bukan yang dibutuhkan lagi.

Maka, bukan tentang seberapa banyak, tapi tentang seberapa cukup.
24 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_
@sekitar_putri

Juni 08, 2018

BAPER

Kelak, kamu akan merindukan yang dulunya pernah begitu dekat. Yang setiap harinya membersamaimu. Yang kedatangannya ditunggu-tunggu dengan degub hati yang gembira membuncah rindu. Dan kamu akan merasakan kehilangan itu. Quality time sejak membuka mata hingga memejamkannya lagi di waktu malam.
Saat ia benar-benar hilang. Saat ia benar-benar pergi.

Kamu akan merasakan itu. Sebab, mulai menyadari tanpa kehadirannya, ada sesuatu yang terasa kurang. Tanpa adanya, ada hal berharga yang terasa hilang. Dan kamu mulai menyesalinya, kenapa selagi dekat tidak benar-benar menjaganya. Selagi ada tidak sigap untuk senantiasa menggembirakannya. Dan mulai bertanya-tanya, sebenarnya sudah melalukan apa saja selama ini? Apa yang sudah benar-benar diupayakan?

Aduhai, perkara ini tidak pernah terasa sederhana. Kehilangan yang berawal dari ketidakseriusan untuk menjaganya. Padahal dulu ketika menunggu kehadirannya sampai gemas dan semenggerutu itu. Kapan ia datang, kapan ia sampai. Adakah kesempatan itu. Adakah kabar gembira itu. Adakah waktu untuk menemuinya lagi?

Kini semua sudah terlanjur berubah. Terlanjur berbeda. Air mata kehilagan seperti apa yang bisa menebus semua kesalahan itu?

Hmm... iman kita apa sampai sebaper itu ya ketika yang pergi itu adalah Ramadhan. Jangan-jangan biasa-biasa saja.

23 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 07, 2018

OLEH-OLEH RAMADHAN

Sisa-sisa di penghujung ramadhan itu ibarat kita dalam perjalan pulang dari suatu tempat. Tinggal sisa-sisa tenaganya, badan yang mulai lelah, keroncongan dan mudah sekali mengeluh. Ya begitulah biasanya kondisi seseorang kalau dari perjalanan jauh menuju pulang. Sudah tidak lagi prima dalam tenaga. Cuma satu yang di mau, ingin cepat sampai rumah.

Begitu juga dalam beribadah puasa, makin ke sini makin banyak kendurnya. Makin banyak alakadarnya. Shalat jama'ah tidak lagi lima waktu. Jumlah rakaat shalat sunnah semakin berkurang. Tilawahnya tidak lagi onedayonejuz. Begitu pisan kan ya gambarannya. Bawaannya udah kepingin cepat-cepat lebaran.

Makanya seperti dalam perjalanan pulang. Padahal nih ya, kalau dari mana-mana itu, kita selalu ingin menyempatkan diri membawa oleh-oleh. Untuk keluarga di rumah. Walaupun cuma sekadar satu tentengan plastik. Rasanya beda tuh sama yang pulang cuma pulang aja, tak membawa apa saja.

Seharunya juga begitu dalam puasa di bulan Ramadhan. Kita pikirkan juga apa oleh-oleh terbaiknya untuk setelah lebaran. Misal, oleh-oleh kebiasaan baiknya selama ramadhan. Yang tadinya tidak pernah bangun shalat malam. Jadi seterusnya tetap bangun. Yang tadinya jarang baca Al-Qur'an, tiap hari jadi berasa ada yang kurang bila belum buka mushaf dan membaca Al-Qur'an. Ada oleh-oleh yang bisa kita banggakan menuju 'pulang'.

Maka, semoga di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Tidak ada hari yang terlewati sia-sia. Bila diibaratkan seperti perjalanan pulang. Bawalah oleh-oleh terbaiknya. Untuk sebelas bulan kemudian.

Di sisa-sisa hari Ramadhanmu, masa mau menghabiskan sisa-sisa usiamu dengan biasa-biasa saja.

22 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 06, 2018

PENTING ITU, SOBAT

Sobat, tiba-tiba saja aku teringat sepotong nasihat itu : berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan dan ketaqwaan. Maka dari itu, sobat. Apabila kau dapati diri ini sedang khilaf mengajak berbuat yang tidak baik, maka jauhilah. Sebab, kelak aku tidak ingin dituntut olehmu karena pernah mengajak berbuat yang tidak baik. Dan sebaliknya, Sobat. Bila dirimu akan berbuat banyak kebaikan. Jangan sungkan untuk mengajak diriku. Sebab, kelak aku ingin diaku olehmu, pernah sama-sama berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaqwaan.

Begitulah sobat, konon katanya kita akan berkumpul dengan orang-orang yang semasa hidupnya sering bersama. Saling mencintai dan selalu tolong-menolong. Dikumpulkan dengan orang-orang yang memiliki kebiasaan yang sama. Menghabiskan waktu bersama dengan kesukaan yang sama. Maka, apabila kebersamaan itu baik akan menambah dan membawa kebaikan, serta perbaikan. Apabila kebersamaan itu justru melalaikan, akan menambah futur dan menjadi lebih kufur.

Makanya, sobat. Bijak-bijaklah memilah-milah seorang teman. Mana yang sebaiknya sekadar menjadi kenalan. Mana yang sepaputnya dijadikan sahabat dalam beramar ma'ruf nahi mungkar di keseharian. Penting itu, sobat. Lebih bermanfaat dan tentu saja menambah taat.

21 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 05, 2018

MENGGERAKKAN HATI

Ternyata pacaran setelah nikah itu memang menyenangkan ya. Ups! Pembuka tulisan ini bukan sengaja membuat baper. Tapi, memang benar, setelah menikah apa-apa yang dijalankan menjadi lebih istimewa. Ada teman perjalanan yang selalu asyik diajak diskusi di mana saja. Kapan saja.  Tentang apa saja.

Contoh sederhananya perjalanan pada hari minggu kemarin. Dalam perjalanan itu, saya bercerita bahwa di malam minggunya merasa beruntung karena baru pertama kali dalam seumur hidup, berpengalaman di imami shalat taraweh oleh syaikh dari palestina di salah satu Masjid Besar di Bogor.

Masya Allah, terenyuh saya mendengar bacaannya. Meski dengan ayat yang panjang-panjang tetap terasa nyaman dan lebih khusyu. Maka saya menarik kesimpulan, barangkali itu salah satu hikmah kepada salah satu memilih imam dalam shalat itu adalah yang paling fasih bacaannya. Agar supaya makmumnya lebih khusyu dalam shalatnya.

Setelah saya menceritakan pengalaman itu, istri saya berkomentar sederhana. Tapi membuat saya merenungi banyak hal.

Katanya, "Allah yang menggerakkan hati a hingga sampai di masjid itu."

Benar juga, karena masjid itu terbilang cukup jauh dari rumah ataupun dari kantor tempat saya bekerja. Niat awalnya sih hanya untuk mencari suasana baru, sambil menunggu istri yang masih ada kuliah.

"Sama seperti sekarang kita ada di sini ya." Kata saya kemudian.

"Maksudnya?"

"Iya, dari sekian banyak tukang dagang, setelah putar sana, putar sini. Allah ternyata menggerakkan hati kita sampai akhirnya memilih belinya di tempat ini." Kami memang sedang mencari sesuatu di minggu siang kemarin.

"Itu artinya rezeki si abang hari ini dititipinnya sama kita a. Rezeki kita, sesuatu yang kita sedang butuhkan Allah titipkan juga di si abang ini." Katanya sambil tersenyum manis.

"Ah, istri aa luas sekali." Kata saya jujur. Membuat wajahnya bersemu merah.

Alhamdulillah. Begitulah bila Allah sudah menggerakkan hati kita, menuju ketetapan-Nya yang terbaik. Semoga Dia senantiasa memberi hidayah untuk kita, selalu cenderung menuju yang baik-baik saja.

20 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 04, 2018

PIHAK YANG MANA?

Tak terasa ini tulisan sudah ke-19 selama ramadhan, beberapa hari ini terasa ada beban bila belum mem-posting sesuai komitmen. Onedayonepost. Bukan terbebani dengan harus ada tulisan-tulisan yang di posting, tapi lebih ke merasa punya hutang. Kan, di awal inginnya dirutinkan, di awal inginnya lancar tidak ada satu pun yang kelewat. Ini tentang tanggung jawab dengan omongan sendiri.

Begitu pula dengan perjalanan bulan Ramadhan di tahun ini. Semalam saat saya taraweh sempat bertanya-tanya di dalam hati, pada ke mana orang-orang yang sebelum ramadhan menanti dengan gembira. Sebelum ramadhan begitu antusias menyambutnya. Dengan serempak mem-viralkan di dunia maya. Pun demikian dengan semarak mendengungkan di dunia nyata. Munggahan. Siap-siap dengan menu berbukanya. Siap-siap dengan taraweh pertamanya.

Mereka pada ke mana? Apa udahan gembiranya? Apa segitu aja antusiasnya? Kok begitu doang endingnya? Ga seru banget.

Apa kamu juga mempertanyakan hal yang sama? Ketika melihat shaf solat taraweh semakin maju, warung-warung nasi sudah mulai leluasa membuka lagi warungnya dengan kaki-kaki yang menggantung di bangkunya.

Apa memang selalu begitu di tiap tahunnya. Bergembira hanya sekadar mengikuti trend. Tapi di hati tidak benar-benar paten.

Apa semerbak harumnya ramadhan di hidung mereka hanya ibarat parfum saja, yang perlahan-lahan hilang wanginya. Lalu ditinggalkan begitu saja.

Maka, beruntunglah bagi mereka-mereka yang masih menjaga rasa gembira itu. Dibarengi dengan rasa sedih karena sebentar lagi akan sampai di penghujungnya.

Kita ada di pihak yang mana?

19 Ramadhan 1439H
Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 03, 2018

ISI HATI

Allah Maha Mengetahui Segala Isi hati. Maka, tidak malu kah kita bila masih meragukan tiap-tiap ketetapan-Nya. Masih berkecil hati atas tiap-tiap pemberian yang telah kita pinta.

Meragukan, bahwa adalah benar : Wallahu Khairur Roozikiin.. Allah sebaik-baiknya pemberi rezeki. Dan isi hati kita masih menyangkal, merasa rezeki orang lain lebih luas sedangkan kita hanya apa adanya. Kita merasa sudah kerja keras, tapi upah yang diterima masih jauh dari sejahtera.

Meragukan, bahwa adalah benar : Wa'anta Khoirul Waaritsin.. Dan Allah sebaik-baiknya mewarisi. Sedangkan isi hati kita masih meragu, jodoh tak kunjung datang setelah penantian yang panjang. Padahal melihat yang lebih muda banyak yang menikah duluan.

Meragukan, bahwa adalah benar : Wa'anta khoirul faatihiin.. Dan Allah sebaik-baiknya pemberi keputusan.
Sedangkan isi hati kita tidak terima bila harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Merasa keputusan-keputusan Allah merugikan apa yang telah kita upayakan.

Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Tidakkah kita malu bila masih terbersit keraguan atas tiap-tiap ketetapan-Nya. Merasa malu karena Allah Mengetahui tiap-tiap perasangka buruk kita kepada-Nya.

18 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 02, 2018

LADANG PERNIAGAAN

Bila dunia ini adalah ladang perniagaan. Maka sepatutnya yang ada dalam pikiran manusia adalah soal untung rugi. Boleh jadi demikian, kelak ada manusia-manusia yang sederhana, dengan hati yang penuh ikhlas, selalu berbagi, selalu memberi, selalu mengalah, tanpa pernah mengeluh walaupun sering kali di dzolimi. Manusia-manusia sederhana di mata manusia yang lainnya, tapi di yaumil kiamah mendadak timbangan kepunyaannya paling berat. Timbangan kebaikan-kebaikan. Ia menjadi manusia yang paling beruntung karena amal jariah selama di dunia.

Ada pula manusia-manusia yang sangat teramat dermawan, paling sosialis, berperikemanusiaan. Dan ia amat jumawa dengan timbunan amalan-amalannya. Merasa akan aman, di dunia di cintai banyak manusia. Digandrungi oleh manusia-manusia yang membutuhkan pertolongannya. Di akhirat ia merasa aman. Tapi sayangnya, tak disangka-sangka timbangan kebaikannya ringan sekali. Tersebab amalan-amalan jariahnya dibarengi dengan riya. Penuh pencitraan.

Bila dunia ini ladang perniagaan. Adalah waktu yang menjadi 'produk' paling unggulan, paling 'wah' dan bernilai harganya. Maka, tidaklah kau sadar, di beberapa waktu milikmu, selalu bersinggungan dengan waktu kepunyaan orang lain. Apabila kau biarkan ia menunggu terlalu lama, hanya tersebab kelalaianmu, hanya karena kebiasaanmu yang sering tidak tepat waktu. Tanpa disadari kau telah merugikan hak orang lain. Merugikan 'waktu' kepunyaan orang lain. Yang seharusnya sudah berbuat banyak hal. Sudah menjelajahi banyak tempat. Orang lain itu tertunda melakukan hal terbaiknya. Hanya karena ketidaktepatanmu.

Bila dunia ini adalah ladang perniagaan. Sering kali kita mengurangi dengan sengaja takaran 'waktu' orang lain. Dengan datang terlambat. Dengan kebiasaan buruk yang menghambat.

17 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 01, 2018

TIDAK BERUNTUNG

Tahukah kamu, siapa orang-orang yang tidak beruntung itu. Adalah ia yang berdiam lama di dalam masjid, tapi tidak berniat iktikaf. Tidak beruntung, karena hidangan pahala ada di depan matanya, ia tidak mau mencicipinya.

Tahukah kamu, siapa orang-orang yang lebih tidak beruntung itu. Adalah ia yang kesehariannya berada di sekitar masjid, tapi enggan untuk masuk dan shalat berjamaah. Lebih mau menjaga gerobak dagangannya.

Tahukah kamu, siapa orang-orang yang lebih tidak beruntung lagi. Adalah ia yang hatinya tidak pernah condong kepada masjid. Sekadar untuk singgah, apalagi untuk beribadah.

16 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 31, 2018

BANTING TULANG

Saudaraku,
Bukan bermaksud menyinggung perasaanmu. Alhamdulillah kalau masih ada sedikit ketersinggungan atas tulisan ini. Itu artinya, sedikit ada kesadaran bahwa yang aku tulis memang ada benarnya. Bahwa sudah sejauh ini kamu memang terbiasa melakukannya.

Sungguh aku hanya ingin berdoa, semoga hidayah itu akan selalu membersamai keseharian kita.

Adalah benar mencari nafkah adalah ibadah yang amat utama. Soal rezeki memang sudah ditentukan kadar dan takarannya. Tak akan tertukar. Dan Allah pun Maha Luas Pemberiannya.

Tapi saudaraku,
Sampai segitunya kah engkau mengais rezeki. Berangkat gelap pulang gelap getol sekali mencari pundi-pundi harta. Sedang, waktu datangnya panggilan shalat engkau bergeming seperti tidak terdengar di gendang telinga. Sedang di bulan suci Ramadhan ini engkau dengan asyik merokok, makan, minum seperti tidak ada beban di dada.

Sampai segitunya kah engkau mengais rezeki, hingga melupakan hakikat engkau berada di dunia. Sebegitu semangatnya kah engkau mengumpulkan harta sampai lupa bersujud kepada pemberi-Nya. Bukankah Allah adalah sebaik-baiknya pemberi rezeki?

Apa mungkin inilah sebab musababnya dirimu masih tidak merasa berkecukupan. Sedangkan usaha sudah sampai memeras keringat membanting tulang. Jauhlah berkah atas apa yang engkau sedang usahakan. Tersebab ibadah tidak lagi engkau anggap sebagai keutamaan.
Mau sampai kapan?

15 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 30, 2018

PEMIMPIN

Setiap diri adalah pemimpin. Dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Pemimpin secara personal di dalam diri adalah hati. Hati dengan pemahaman yang baik akan menuntut anggota tubuh yang lain ke arah yang baik-baik saja. Jalan yang lurus. Jalan yang di ridhoi. Hati yang memiliki iman yang teguh tidak akan mudah goyah dari bisikkan-bisikkan yang menyesatkan. Karena tujuannya adalah akhirat, tidak tergiur dengan pesona dunia yang sesaat.

Pimpinan dalam rumah tangga adalah suami, bagaimana mendidik seorang istri agar keluar rumah dengan pakaian dan perbuatan yang baik. Yang menjaga kehormatan rumah tangganya. Sebab, surga seorang istri ada pada ridho suaminya.

Pimpinan dalam keluarga adalah seorang ayah. Bagaimana membesarkan anak-anaknya dengan nilai-nilai agama yang baik. Pemahaman-pemahaman yang lurus. Sebab, ayahlah yang mengemban tugas itu, menjaga diri dan ahli keluarganya dari api neraka. Mutlak ada di dalam Al-Qur'an.

Dan seorang pemimpin yang dicenderungi adalah teladannya. Yang selalu menuntun lebih bijak, bukan menuntut dapat lebih banyak.

14 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 29, 2018

BEBAN

Allah tidak pernah membebani suatu kaum melebihi batas kemampuannya. Pun demikian nasib suatu kaum akan berubah sesuai dengan apa yang mereka upayakan.

Kita berjalan di bumi ini tergantung niat masing-masing. Dan kekuatan sebuah niat adalah luar biasa. Seseorang bisa bertahan sedemikian rupa karena niat yang ia genggam di dalam dada. Niat mempertahankan akidah, mempertahankan kehormatan. Itu soal yang sangat krusial. Yang boleh jadi sampai harus mempertaruhkan nyawa. Perkara yang lebih sederhana adalah niat menjalankan puasa.

Bila seseorang yang dalam syariatnya sudah berkewajiban berpuasa. Tanpa ada udzur apa-apa. Apa puasa itu sudah terlalu membebani hidupnya? Bila puasa itu ia anggap sebagai beban.   Lalu apa yang bisa mengubah nasibnya agar sadar diri untuk tidak lagi enteng berbuka? Atau memang tidak pernah terbersit sedikit pun niat di dalam hatinya?

13 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 28, 2018

SEPARUH AGAMA

Ramadhan tahun ini, saya teramat sangat bersyukur sudah didampingi oleh istri. Meskipun tidak selalu berbuka bersamanya, karena rutinitas masing-masing. Tapi, bisa dipastikan menyantap sunnah sahur selalu bersama. Nikmat kan?

Saya jadi merenungi satu hal, bahwa dalam pernikahan itu artinya menyempurnakan separuh agama. Barangkali, untuk seseorang yang masih sangat dangkal ilmu agamanya. Tidak mengerti benar tentang definisi sebenarnya dengan istilah menyempurnakan separuh agama. Yang saya bisa renungi dan ambil hikmahnya adalah, dengan adanya istri, selalu ada kesempatan untuk shalat berjamaah. Bila situasi dan kondisi tidak memungkinkan untuk shalat berjamaah ke masjid. Selalu ada ia yang siap sedia menjadi makmum dan mengaminkan tiap-tiap doa selepasnya. Jadi 27 derajat itu selalu bisa diraih sempurna.

Maka, demi Nama-Mu yang Agung, pemilik alam semesta dengan anugerah-anugerah nikmat yang tiada tara. Hamba bersyukur Ramadhan tahun ini di dampingi olehnya. Seorang istri solehah yang menyempurnakan separuh agama. Alhamdulillah... alhamdulillah...

12 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 27, 2018

IMAN & MALU

Iman itu naik turun. Kadang teratur, sering juga futur. Kalau lagi turun bisa bahaya kalau dibiarkan berlarut-larut. Ada rasa enggan untuk memulainya lagi. Lebih bahaya lagi kalau sudah semakin lunturnya rasa malu. Maka, iman harus dididik dengan rasa malu. Malu kalau terus-terusan masbuk, malu kalau terus-terusan malas. Malu kalau terus-terusan mengumbar maksiat. Dan sebagainya dan sebagainya.

Nah, perkara malu. Adalah sebaik-baiknya fitrah sebagai seorang muslimah. Makanya yang sadar diri atas kodratnya dari hati, muslimah-muslimah yang solehah akan menutup sedemikian rupa auratnya. Akan menjaga lisan dan pandangannya. Mahkota yang mereka miliki amatlah berharga. Di matanya sendiri. Apalagi di mata orang-orang yang memandangnya.

Mirisnya di zaman sekarang ini, rasa malu rasanya semakin terkikis dari pribadi seorang perempuan. Contoh sederhana, di grup-grup atau pun social media. Ada saja satu dua perempuan yang sengaja benar meng-share video-video yang agak sedikit 'nyeleneh' 'vulgar'. Yang kalau direnungi itu sama saja menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang perempuan yang memiliki rasa malu. Bayangkan saja, tidak sampai lama komentar komentar genit mulai muncul dari kaum laki-laki. Yang memang notabenenya 'doyan' dengan hal-hal seperti itu. Isi video/gambar itu menjadi bahan guyonan, bahan ledekan meraka. Yang lucunya lagi si perempuan ikut tertawa. Ikut komentar. Seakan lumrah saja.

Duh, begitulah di zaman sekarang. Banyak hal-hal yang seharusnya tidak dijadikan bahan lucu-lucuan, yang tidak berfaedah, tidak menambah manfaat. Tapi sangat digandrungi oleh kita semua. Setiap hari secara tidak sadar kita konsumsi bersama-sama.

Maka, adalah benar. Adakalanya iman itu naik turun. Bila sedang naik, apapun menjadi teratur. Bila sedang turun, menjadi kendur dan futur. Dan rasa malu menjadi kontribusi yang cukup besar untuk mempengaruhi keadaannya.

Semoga kita semua mampu menjaga kestabilan hati. Untuk senantiasa memupuk iman dan rasa malu.

11 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 26, 2018

ADAB

Attitude. Orang tua bijak pernah berkata, bahwa sikap itu tidak ada di bangku sekolah. Tindak tanduk, tutur kata seseorang, terbentuk dari kebiasaanya bersosialisasi dengan sesamanya. Makanya, setinggi apapun seseorang sekolah, sebanyak apapun ilmu yang dimilikinya, tidak akan ada nilainya bila attitudenya tidak baik. Dalam ajaran agama disebut adab.

Betapa, keseharian kita dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan yang sering kita lakukan. Bila kebiasaan itu baik, pribadi kita pun semakin hari menjadi semakin baik. Pun sebaliknya, bila semakin hari bertambah buruk. Orang lain akan mudah kehilangan respect, hanya karena kita kehilangan adab.

Tentang attitude ini, sering kali kita merasa iba, kenapa mudah sekali adab kesopanan itu luntur seiring bertambahnya usia. Contoh kecil, anak-anak di usia sekolah dasar tiap sehabis shalat berjama'ah, tertib ikut salam-salaman bersama para orang tua. Semua orang yang lebih tua dari mereka, mereka cium tangannya dengan khidmat. Termasuk kakak-kakak kelasnya. Itu semasa kecil. Coba beberapa tahun berikutnya. Ketika usia mereka tambah matang, pertumbuhan badannya semakin besar. Sangat disayangkan satu-dua dari mereka (anak-anak kecil tersebut) menjadi kehilangan sopan santun. Salam tidak lagi dibarengi dengan cium tangan. Mungkin karena merasa tubuh mereka sudah sama-sama besar. Sepantaran dalam artian fisik. Padahal usia mah tetap saja terpaut jauh.

Keberadaan Rasulullah pun sebagai suri tauladan yang baik. Untuk menyempurnakan akhlak. Bila, attitude kita tidak lagi baik. Adab kita jauh sekali dari kesopanan. Tutur kata tindak tanduk lebih banyak yang meresahkan. Saudara kita menjadi tidak merasa aman dari tangan dan lisan. Terus sebenarnya siapa yang menjadi teladan kita selama ini? Termasuk umat siapa kita?

10 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 25, 2018

HATI YANG BERNIAT

Tidaklah Allah ciptakan jin dan manusia adalah untuk semata-mata beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Fitrah itu jelas termaktub di dalam Al-Qur'an. Makanya, ada sepotong nasihat yang sering kita dengar, bahwa segala sesuatu yang baik jangan lupa diniatkan ibadah. Segala niat yang baik, belum dikerjakan pun sudah ada ganjarannya. Apalagi kalau sampai ditunaikan.

Dan niat letaknya ada di dalam hati. Shalat tanpa niat tidak sah sholatnya. Pun demikian puasa. Lalu, menurutmu kenapa letak niat itu ada di dalam hati? Wallahu 'alam. Mohon maaf, belum ada ilmu untuk menjawab itu.

Barangkali, bagian tubuh yang paling jujur bersaksi adalah hati. Mulut sering berdusta - bahkan pada diri sendiri. Sedangkan hati, selalu jujur tanpa pernah memungkiri.

Maka hikmahnya, niatlah di dalam hati. Agar apa-apa yang telah diniatkan selalu dibersamai dengan kejujuran. Tanpa kepura-puraan. Semoga dengan demikian, apa-apa yang kita tunaikan kemudian, ada dalam kesungguhan. Dikerjakan dengan penuh kesiapan.

Barangkali, hal itu pun selaras dengan sabda Rasullullah yang mengabarkan, ada segumplah daging yang menentukan hasil akhir yang baik atau sebaliknya menjadi buruk. Segumpal daging itu adalah hati. Ya muqollibal qulub. Semoga hati kita selalu dalam hidayah Allah Subhanahu wata'ala.

Mari perbaharui niat.

08 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 24, 2018

PRASANGKA

Allah selalu bersama prasangka hamba-Nya. Sedangkan manusia cenderung mudah berprasangka karena penglihatannya. Langsung menilai apa adanya, tanpa mencari tahu dulu ada apanya.

Begitulah, keterbatasan manusia tidak mampu mengetahui suara hati seseorang, tidak mampu mengetahui secara detail apa yang sedang terjadi, apabila tidak ada di depan matanya.
Tapi prasangka itu mudah sekali menelanjangi tanpa ampun. Jadi berburuk sangka. Lucunya pula, mulut selalu gatal untuk tidak mengomentarinya.

Maka demikianlah, Allah selalu bersama prasangka hamba-Nya. Semoga kita pun bijak untuk selalu berprasangka baik kepada sesama.

08 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

 



Mei 23, 2018

KONSISTEN

Hari ke-7. Itu artinya babak pertama sudah hampir genap di Ramadhan ini. Bagaimana? Sejauh ini masih kondusif kah? Apa kabar dengan ekspektasi ketika menyambut kedatangan Ramadhan? Tentang niat-niat baik selama mengisinya. List-list yang ingin sekali dicapai, yang niat hati bertekad tahun ini ada kemajuan dari tahun-tahun terdahulunya. Sejauh ini masihkah tercontreng dengan baik? Niat mengejar shalat berjamaah di masjid? Taraweh yang full? Qiyamulail yang rutin? Duha? Tilawah onedayonejuz?

Masya Allah, inilah beratnya sebuah konsisten. Istiqomah. Jangankan list-list yang disinggung di atas ya, konsisten untuk mulai bangun sahur dari pukul 02.00 saja misalnya, kita tidak bisa mewujudkannya. Alih-alih sahurnya hampir kesiangan.

Begitulah, niat di hati saja tidak cukup. Perlu azam yang kuat untuk menunaikannya. Belajar istiqomah saja tidak cukup, butuh konsisten untuk memperkuatnya. Dan ironisnya, diri kita  untuk membiasakan konsisten untuk kepentingan sendiri saja masih sering belang-bentong. Baik perkataan dalam artian niat, maupun perbuatan dalam artian realisasinya. Alih-alih di beberapa hal enak benar menuntut orang lain konsisten dengan perkataannya, dengan perbuatannya.

07 Ramadhan 1439 H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 22, 2018

MENAHAN

Menahan.
Barangkali, untuk seseorang yang terbiasa berpuasa, menahan lapar dan dahaga tidak lagi menjadi perkara yang berat. Lain hal yang enteng sekali berbuka tanpa ada uzur yang dibenarkan oleh syariat islam. Dirinya sehat, gagah, merdeka, tapi enteng sekali berbuka di tengah-tengah muslim yang berpuasa? Wajar saja berat baginya menahan, karena menjaga iman saja masih kelimpungan. Itu menahan untuk hal-hal yang membatalkan puasa.

Bagaimana dengan menahan diri dari yang menghanguskan pahalanya? Barangkali bagi yang sudah terbiasa puasa pun, hal satu ini masih terbilang berat. Beraat sekali menahan diri untuk tidak tergoda. Baik dari faktor intern, maupun dari luar.

Contoh kecil membicarakan orang lain. Boleh jadi kita sudah sungguh-sungguh menahan diri dari ghibah, dari mulai tidak ikut nimbrung di kelompok yang sedang berghibah, tidak menghiraukan hiruk-pikuk obrolan di grup social media. Tapi, kadang kala kita masih tetap tidak berhasil menahan diri dari keingintahuan kita sendiri. Bertanya-tanya, lagi bahas apa sih rame banget? Siapa sih yang lagi diomongin. Bla bla bla... gatal sekali keingintahuan itu. Ujung-ujungnya ikut tenggelam memakan 'bangkai' saudara sendiri. Innalillah.

Maka, semoga ramadhan kali ini, semoga kita mampu untuk tidak sekadar menahan diri dari yang membatalkan puasa. Tapi, mampu untuk menghindari dari hal-hal yang menghanguskan pahalanya. Semoga.

06 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 21, 2018

MUBADZIR

Mubadzir. Baiklah, kali ini yang kita akan review adalah soal sesuatu yang cenderung mubadzir. Coba diingat-ingat, sepanjang berbuka puasa, nafsu inginnya menyantap apa saja, dan setelah dug.. dug.. bedug.. dan adzan, sebanyak apa makanan yang berhasil kita makan? kita nikmati tanpa kekenyangan? Sekali lagi perlu digaris bawahi : dinikmati tanpa kekenyangan.

Toh, kalau mengikuti nafsu mah, semua bisa saja habis walaupun sudah benar-benar kenyang.

Sesuai dengan teladan Rasulullah, membagi sepertiga perut untuk tiga hal, makan, minum dan bernafas.

Barangkali, kita sudah terbiasa mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah, dengan membaca doa sebelum makan, menggunakan tangan kanan dan tidak berdiri. Mengambil makanan yang paling dekat. Tidak mencelanya bila makanannya tidak kita suka. Tapi, kita sering lalai dengan sesuatu yang bersifat mubadzir. Senang benar berkawan dengan syaitan. Naudzubillah.

Maka, mulai buka hari ini, perlu ada perenungan lebih dalam. Bukan lagi sekadar bersyukur telah melalui satu hari berpuasa. Bukan lagi sekadar bersyukur, masih adanya rezeki untuk dinikmati saat berbuka. Merenungi dalam-dalam, kita mampu berbuka dengan keadaan yang lapang. Lapang di sini, bukan karena tidak dalam situasi perang. Lapang, karena kita jauh dari berkawan dengan syaitan, tidak lagi memubadzirkan makanan. Yuk! Sama-sama bertekad demikian.

05 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 20, 2018

DOA YANG DIIJABAH

Hari ke empat. Bagaimana puasanya? Terasa nikmat? Atau yang lebih dirasa tentang lapar dan dahaganya? Aw.. aw... hati-hati, pandai-pandailah memperbaharui niat dalam hati. Jangan sampai ciloko yang Rasulullah pernah sabdakan, menjalankan puasanya yang didapat hanya lapar dan dahaganya saja. Atau di sabda yang lain, puasa sih puasa, tapi tetap ciloko karena di akhir ramadhan tetap tidak mendapatkan ampunan. Alih-alih mendapat gelar takwa.

So, mumpung masih empat hari, bukan sekadar memperbaharui niat hati. Tetapi memperkuat azam diri. Puasa ini bukanlah sekadar menggugurkan kewajiban, tapi tuntutan diri sendiri, untuk senantiasa menuntun hati, dengan sepenuh jiwa raga, memperbaiki kualitas iman. Kan, biasanya kalau yang menuntut diri sendiri jadi lebih bersemangat, bukan lagi karena paksaan. Karena diri sendiri yang memang mau.

Kalau sedang terasa futur, ingat-ingat lagi, bukankah hari ini adalah jawaban atas doa-doa kita sepanjang Rajab dan Sa'ban. Waballigna Ramadhan... Waballigna Ramadhan... atas anugerah-Nya, doa itu sudah diijabah sampai hari ini. Alhamdulillah.. Alhamdulillah... maka sudah seyogyanya, menjalani puasanya dengan sepenuh kesadaran. Penuh kesabaran. Penuh kehati-hatian. Menjaga perkara-perkara yang membatalkan puasa dan menghanguskan pahala. Betul.. betul.. betul..

04 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 19, 2018

BERBUKA DENGAN SAUDARA

Berbuka dengan saudara

Bagi seorang muslim yang berpuasa, waktu yang paling di nanti adalah saat-saat berbuka. Bahkan di beberapa grup saja sudah mulai menggaung tentang rencana-rencana bukbernya kapan dan di mana? Padahal baru jalan tiga hari ya.

Nah, soal bukber tahun ini saya sendiri bertekad untuk meminimalisirnya. Karena mempertimbangkan banyak hal. Tentas efektivitas waktu dan sebagainya.

Itu bukber yang terencana, atau bukber undangan. Lain hal dengan bukber karena kondisi dan situasi. Semisal pengalaman dua hari ini. Alhamdulillah, tahun ini ramadhan saya bertambah aktivitas penting, antar-jemput istri. Yang dituju adalah stasiun bojong.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya memutuskan tidak mengejar buka puasa di rumah. Dan lebih memilih buka puasa di jalan, agar semua urusan bisa lebih efesien. Taraweh, dan jemput istri tepat waktu. Hingga istri pun bisa ikut solat taraweh berjamaah.

Nah, dua hari inilah yang saya sebut bukber karena kondisi dan situasi. A.k.a memburu takjil di masjid-masjid. Masya Allah, betapa persaudaraan sesama muslim begitu hangat di rasakan di bulan Ramadhan. Bayangkan, saya baru sampai parkiran masjid saja, sudah ada saudara seiman saya yang memanggil mengajak untuk ikut serta kumpul riung menunggu waktu berbuka. Tentu saja dengan hidangan yang berbagai rupa. Itulah hangatnya saudara seiman.

Cerita ini pun melunturkan kecemasan istri yang memikirkan saya berbukanya dengan apa. Hehe... dia tidak tahu beberapa tahun kebelakang saya sudah melakukan hal yang sama. Berburu takjil di kala perjalanan pulang dari tempat kerja, waktu masih di jakarta.

Maka, adalah benar. Tiap-tiap muslim adalah bersaudara, bahwa doa-doa selepas sholat, doa-doa di kala kutbah jum'at bukan sekadar isapan jempol. Selalu disebut-sebut namanya, minal muslimin wa muslimatin.. dalam artian, wahai saudaraku seiman, di manapun kini dirimu berada. Aku memikirkan keselamatanmu, aku mendoakan kebaikan-kebaikan untukmu. Masya Allah, indah kan?

03 Ramadhan 1439H
#ramadhanberkualitas
@azurazie_

Mei 18, 2018

NAFSI-NAFSI

Nafsi-Nafsi.

Benar sekali, perkara ibadah adalah urusan masing-masing. Makanya, banyak yang berkoar-koar, jangan sok paling alim, urus saja ibadah sendiri. Jangan ikut campur, belum tentu ibadah sampean lebih baik dari ane.

Ya memang belum tentu lebih baik. Hanya sekadar berusaha lebih aktif.

Pun demikian soal menjalankan ibadah puasa. Yang bersangkutan sendiri, yang paling tahu sedang/masih atau tidaknya berpuasa. Dan Allah pulalah yang paling mengetahui derajat ganjaran pahalanya.

Nafsi-nafsi, terkadang menjadi topeng untuk membela nafsu sendiri. Melakukan pembenaran akan tindakannya sendiri. Kalau perihal itu terkadang masih di anggap wajar saja. Toh memang urusannya masing-masing. Resiko ditanggung masing-masing.

Yang sudah melampaui batas adalah, apabila seseorang sudah bangga dengan aibnya sendiri. Memberitahukan terang-terangan ke khalayak ramai bahwa ia enteng sekali meninggalkan kewajibannya sebagai seorang hamba. Apalagi bila ditambah mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Sudah tidak adakah rasa malu pada dirinya sendiri?

Maka demikian, menjalankan puasa adalah urusan nafsi-nafsi, tentang menggenggam teguh kejujuran pada diri sendiri. Bila nafsu yang berkata lain,  yang bersangkutan sama saja sudah membohongi diri sendiri. Dengan berpura-pura di depan manusia. Sedangkan Allah Maha Mengetahui segalanya. Jangan heran apabila Allah pun berpura-pura masih memberikan rasa cukup dan bahagia, padahal hanya sedang menunda azab hingga pada waktunya. Naudzubillah.

Semoga kita selalu diberi kesadaran untuk menjalankan kewajiban pada tiap-tiap napas yang dianugerahi oleh-Nya. Aamiin.

@azurazie_
02 Ramadhan 1439H

Mei 17, 2018

MARHABAN

Marhaban. Sebelum melangkah lebih jauh, yuuk coba raba dalam hati masing-masing. Sudah sedalam apakah kita menyambut bulan Ramadhan dengan hati yang paling lapang. Bergembira dengan sebenar-benarnya penerimaan. Kaffah. Menyeluruh. Ta'at atas kewajiban yang Allah serukan dalam Al-Qur'an. Hingga tamat menunaikan, memang karena kita juga yang membutuhkan.

Bukan apa-apa, karena bila kita benar-benar menerimanya dengan menyeluruh, pun demikian kita wajib menghormatinya dengan sungguh-sungguh. Dengan begitu, tidak akan adalagi kita dengar lelucon-lelucon yang mungkin niatnya hanya untuk lucu-lucuan, tapi hakikatnya lucu tidak, ada manfaat apalagi.

Bukankah kita masih sering mendengar, entah langsung, entah obrolan di grup, entah berupa status, selentingan sederhana yang menurut pendapat saya pribadi sama saja dengan melecehkan kehormatan tamu agung kita. a.k.a bulan Ramadahan.

Misal :

H-1 nih, hari terakhir puas-puasin makan siang, atau yaah besok udah nggak boleh makan siang nih.

Ya ampun, segitu bebannya kah kedatangan Ramadhan sampai kita tega mengeluarkan statment seperti itu?

kasus lain :
BC berupa daftar warteg-warteg yang buka selama ramadhan, dengan ditutup dengan candaan "siapa tahu ada yang mau bukanya siang."

Ya salam, dan banyak kasus lain yang tak serupa tapi senada, sama-sama mengentengkan candaan, guyonan, untuk lucu-lucuan, tapi sebenarnya bila lebih direnungi sama saja kita sudah tidak menghargai bulan suci ini. Tidak lagi ada rasa hormat untuk sekadar menjaga lisan dan 'tulisan', dari statement yang tidak seharusnya. Tidak pada tempatnya. Loh kok perihal ibadah di guyonin?

Apalagi yang terang-terangan tidak puasa ya?

Maka dari itu, sudah benar-benar kah kita mengucap 'Marhaban' dengan sebenar-benarnya penerimaan. Tidak lagi terasa berat harus bangun malam untuk sahur, tidak lagi mengeluh siang hari haus dan lapar. Tidak lagi merasa berat untuk shalat taraweh. Dan blabla keberatan lainnya.

Tidakkah kita takut, tamu agung yang kita hormati ini, merasa tersinggung, tidak terima perlakuan kita, lalu berkahnya tidak sampai ke kita?

Marhaban Ya Ramadhan, aku menyambut kedatanganmu dengan sepenuhnya penerimaan. Dan menghormati kesucianmu dengan sepenuh penghargaan.

@azurazie_
01 Ramadhan 1439H

Mei 10, 2018

MERASA (TIDAK) MEMILIKI

Menurutmu, dari kedua celoteh yang sering didengar :

1.  Begitulah, kebanyakan yang lebih menghargai dan menjaga justru yang tidak merasa memiliki.

2. Karena merasa memiliki, makanya dia menjaga dan menghargainya lebih dari siapapun.

Mana yang menjadi kecenderungan sifat manusia?

Teori yang mendasarinya adalah : Bila sesuatu itu adalah benda, sudah tentu semua memiliki batas kegunaannya, batas fungsionalnya. Tiap-tiap sesuatu ada umur-umurnya. Sudah selayaknya dirawat dan dijaga. Agar selalu berfungsi dengan baik. Minimal jadi lebih lama bisa dimanfaatkan.

Bila itu sesama makhluk hidup, sudah lebih

pasti ada ajal-ajalnya. Maka, tidak bisa sekadar berharap kebersamaan itu lebih lama, kebahagiaan itu awet adanya. Tanpa berjuang untuk selalu menjaga dan menghargainya.

@azurazie_

Mei 03, 2018

TENTANG BERHARAP KEPADA MANUSIA

Menaruh harapan kepada manusia, tidak memiliki garansi apa-apa. Maka, seyogyanya kita, menjatuhkan harapan hanya kepada Allah semata. Dengan doa. Berharap dengan perantara doa. Tak harus memikirkan tentang : kapan dikabulkannya, bagaimana cara Allah memberinya, apa yang akan digantikannya. Gimana Allah aja. Berdoa tanpa tendensi apa-apa. Toh, kita memang selalu butuh. Tempat bergantung dan mencari untung. Perihal harapan yang genap menjadi utuh, adalah hak Allah Sang Maha Pengasih.

Dan tentang harapan kepada manusia. Baiknya, diganti dengan selalu berbuat baik. Tanpa pamrih. Tak perlu memikirkan manusia itu membalas kebaikan kita atau tidak. Gimana Allah aja. Yang kita yakini, bahwa tiap-tiap kebaikan digaransikan akan menjadi kebaikan untuk kita jua.

Maka, cukuplah sudah terlalu berharap kepada manusia. Cukuplah kita selalu berbuat baik saja. Kapanpun, di manapun, dengan siapapun. Agar harapan-harapan yang membersamai doa-doa itu. Allah qobul sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh kita. Sesuai dengan kemampuan kita untuk menerima tiap-tiap ketetapan-Nya.

April 14, 2018

SATU PEKAN BERLALU

Satu pekan berlalu, apa-apa yang menjadi harap, kini menjelma bahagia dengan hati yang paling siap.
Satu pekan berlalu, apa-apa yang menjadi doa, terijabah dalam bait-bait rasa, yang tertulis rapi di lauhul mahfud-Nya.
 
Satu pekan berlalu, sepakat menerima sepaket bukan lagi sekadar perbincangan yang kita gaung-gaungkan. Kini mulai menjadi kebiasaan yang perlu untuk selalu di musyawarahkan.

Karena aku dan kamu, telah menjadi kita. Itu artinya, tidak adalagi sekadar kata-kata. Melainkan diterap menjadi sesuatu yang lebih nyata. Musyawarah menjadi jalan agar apa-apa yang akan kita lakukan, apa-apa yang setelah itu dialami, resiko dan konsekuensinya menjadi tanggungan berdua. 

Ridho atas setiap keputusan pasangannya.
 
Dan waktu menjadi saksi dalam prosesnya. Bersamamu selalu, tak ingin berakhir waktuku. Itu saja.
@azurazie_

April 01, 2018

SATU PEKAN DARI HARI INI

Sahabatku, rasa-rasa ada beberapa hal yang perlu aku sampaikan kepadamu, terkait acara pada tanggal 08 April 2018. Satu pekan dari sekarang.

Sekiranya kamu berkenan untuk mengetahuinya. Terlepas setelah ini kamu keberatan atau tidak. Minimal aku sudah sampaikan apa yang menurutku perlu untuk diutarakan. Maka, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan kerendahan hati dan sepenuh harap. Izinkan aku memulainya.

Pertama, satu dari enam hak seorang muslim bagi muslim lainnya adalah perihal memenuhi sebuah undangan. Maka, sepenuh harap, luangkanlah waktu terbaikmu untuk mencumponi undangan itu. Aku doakan di hari yang sudah ditetapkan, kamu dan sekeluarga dalam kelapangan, sehat dan afiat. Diberikan keselamatan baik pergi sampai kembali pulang. Aamiin. Agar silaturrahim itu dapat terjalin.

Kedua, sebagai tuan rumah, sudah sepantasnya kami menjamu dengan jamuan yang paling baik. Itu sudah keharusan, tapi bila di hari itu, kamu merasa tidak terjamu dengan semestinya. Baik dari pelayanan maupun sambutan kedatangan. Atau hidangan yang tidak selera di lidah. Mohon maaf kami sampaikan. Semoga kamu ridho dan memaklumi itu.

Oh iya, saran dari kami, sebelum mencicipi hidangan yang sudah disediakan, alangkah baiknya sendok menu seperlunya. Dalam artian tidak berlebihan. Demi menghindari sesuatu yang bersifat mubadzir karena tidak semua termakan. Bila ternyata kurang dan ingin nambah tentu saja boleh.
Ketiga, menyambung dari point kedua, perihal pelayanan. Aku teringat nasihat Rasulullah SAW, yang melarang makan dan minum sambil berdiri. Semoga kamu pun ingat dengan sepotong nasihat itu, bila hal itu dikarenakan dengan fasilitas yang tidak terpenuhi, keterbatasan kursi yang disediakan. Kami berharap, kamu ridho dengan itu. Pun demikian semoga Allah memaklumi dengan 'keterbatasan itu.'

Keempat, ini yang paling ingin aku sampaikan kepadamu. Nanti, tidak akan kamu dapati sepotong pas photo pun di sana. Karena kami memang tidak melakukan prawed. Mohon maaf itu di luar prinsip kami sebagai muslim. Dan tentu saja hakmu untuk mengabadikan setiap moment yang sedang terjadi dalam hidupmu. Kami tidak akan membatasi itu.

Tapi, di mohon dengan sangat, bila memang di rasa perlu mengambil poto atau video di acara kami, untuk mengabadikan moment. Mohon cukup sekadarnya saja, dan semata-mata untuk koleksi pribadi saja.

Mohon dengan sangat tidak meng-uploud-nya di sosial media manapun. Bukan berarti kami tidak ingin ikut beruforia dengan itu. Apalagi ini memang acara bahagia kami. Tapi, yang lebih kami butuh adalah doa. Agar bahagia itu tetap terjaga setelahnya.

Kelima, teruntuk kamu yang nanti memenuhi undangan kami, ada  beberapa bentuk sovenir yang kami sediakan, sekadar untuk buah tangan agar tidak lengang dalam perjalanan pulang. Sebagai pengingat, bahwa pada tanggal 08 april 2018 pernah ada momentum bahagia yang kami rayakan. Bahagia yang kamu ikut mendoakan.

Itu saja beberapa point yang ingin kami sampaikan. Bila ada tutur kata yang tidak tersusun dengan rapi, mohon dimaklumi. Sebelumnya kami utarakan terima kasih.
Salam
@azurazie_
@sekitar_putri

Maret 31, 2018

TIDAK SELALU TAHU

Kenapa kita suka cemburu dengan seseorang yang tidak kita kenal?

Kenapa tuh?

Ya, kan ini sedang bertanya.

Kalau menurut kamu, kira-kira kenapa?

Tidak tahu, tidak nyaman juga dengan sesuatu yang dikira-kira.

Pernah begitu?

Pernah.

Berarti tahu dong jawabannya!

Tidak selalu yang kita alami sendiri, kita tahu jawabannya. Kita tahu apa hikmahnya.

Maret 21, 2018

UNDANGAN

Sahabatku,
apa kabar? lama kita tak saling menyapa. Barangkali ini yang dinamakan 'ke makan omongan sendiri'. Barangkali kamu pernah mendengar dulu aku pernah berkata, 'malas sama teman yang cuma datang kalau ada maunya, tiba-tiba kasih undangan, misalnya.'

Duh, nyess di hati. Hari ini aku melakukannya. Sungguh, persis dengan apa yang dulu aku katakan. Tak apa ya? Toh ini termasuk kabar baik. Bukannya katamu, tiap-tiap kabar baik itu harus diberitakan. Agar semakin banyak orang yang mendoakan. Alasan klise ya.
Sahabatku, undangan yang sekarang sudah ditanganmu, warnanya coklat hati. Tentu saja nama yang bersanding dengan namaku, adalah orang asing di ingatanmu. Karena aku memang tidak pernah menyebut-nyebutnya sejak terakhir kita masih saling bertukar cerita. Entah itu kapan. Rasanya sudah lama nian.

Setidaknya kamu tahu hari ini. Aku memang tidak pernah memberitakan namanya di social media manapun sebelum ini. Baik di live story atapun status. Tidak pernah update potonya, baik sendiri, apalagi berdua denganku. Sama sekali tidak pernah. Singkatnya, tidak ada satu potong berita pun yang mengabarkan kalau aku sedang dekat dengannya. Alih-alih sedang memiliki hubungan khusus. Ya, aku tidak pernah mengumbar namanya di mana-mana. Jadi wajar saja kamu merasa asing dengan nama itu. Tapi ketahuilah ia amat terkenal di langit. Namanya seperti Uwais Al-Qarni, lebih dikenal di langit. Lewat untaian-untaian doa-doa kebaikan. Dan malaikat-malaikat dengan sukarela ikut meng-aamiin-kannya.

Doaku sederhana, 'Ya Allah berikan ia jodoh yang baik.' Itu yang aku ulang-ulang di kala aku ingat untuk berdoa. Aku tidak meminta jodoh yang baik untukku. Tapi aku meminta untuknya. Dan Allah yang Maha Baik memberi kabar baik itu. Aku pun dianugerahi jodoh yang baik.

Kau tahu sahabatku, sebagai manusia kebanyakan. Bukan berarti aku tidak ingin pamer kemesraan di khalayak ramai. Biar orang-orang tahu. Kalau perlu seluruh dunia. Sungguh, nafsu inginnya demikian. Seandainya engkau tahu, aku berusaha keras untuk tidak melakukan itu. Memang sih itu biasa saja, sudah banyak dilakukan orang. Atau munafik sekali lah kalau aku tidak mengakui, dulu pernah melakukan hal yang serupa itu. Ya begitulah, kita tidak pernah benar-benar belajar berubah, kalau juga tidak pernah benar-benar tahu bahwa yang kita lakukan adalah sia-sia. Dulu hal demikian di atas memang terasa up to date. Keren sekali. Merasa beruntung. Bebas dari julukan jomblo. Tapi nyatanya, bertahun-tahun melakukan itu. Hari ini tidak ada bekas yang bisa dibanggakan. Hanya aib yang selalu berusaha ditutupi. Aku belajar banyak hal dari itu.

Begitulah sahabatku, waktu bergulir, realitas berubah. Termasuk pemikiran kita yang ikut menua. Termasuk prioritas-prioritasnya.

Dan undangan cokelat hati ini, ingin mewakili itu semua. Tidak ada lagi umbar-umbar kata tjinta. Tidak ada lagi ungkapan-ungkapan sayang yang bukan pada ranahnya. Sejujurnya sampai detik ini aku tidak pernah mengungkapkan isi hatiku secara terang-terangan kepadanya. Tidak ada tanggal jadian. Tidak ada jadwal ngedate berduaan.

Maka, jangan heran kalau tiba-tiba kamu menerima undangan. Lalu seolah tak habis pikir bartanya-tanya, kapan pacarannya? Kapan ketemuannya? Kapan saling sukanya?

Haha... siapa yang sangka skenario Allah memang ajaib.

Tentu saja tidak ada hal-hal seperti di atas. Aku menahan diri dan mengumpulkan keberanian itu untuk satu hari yang berarti. Akad. Kulunasi semua itu dengan ikrar akad. Biarlah pertanyaan-pertanyaanmu, jawabannya terangkum dalam ijab dan kabul.
Maka dari itu sahabatku, sudilah engkau dukung azamku ini dengan menghadirinya. Dengan iringan doa-doanya. Agar apa-apa yang aku perjuangkan. Apa yang sejauh ini ia harapakan. Allah senantiasa meridhoi kami. Orang tua merestui kami. Dan sahabat-sahabat setia sepertimu ikut mendoakan kami. Agar kebahagian itu genap tidak sekadar bualan. Tapi menjadi hadiah manis di ujung penantian.
Insya allah
Ahad, 08 April 2018

Ditunggu kehadirannya.
Sepenuh harap.

azura zie

Maret 09, 2018

SESUATU YANG TAK TERDUGA

Kita sering mengalami sesuatu yang tak terduga. Sering dikait-kaitkan dengan sebuah kebetulan, konspirasi semesta. Atau apalah itu namanya. Padahal, tiap-tiap sesuatu ada pengaturnya. Detik, jam, tempat, keadaan, ada skenario yang melatarbelakangi ceritanya. Lalu, apa yang membuat sesuatu yang tak terduga itu dirasa memberatkan? Dianggap Tidak adil? Adalah kesiapan kita untuk menjalaninya. Kesiapan untuk selalu menerima setiap ketentuan. Menerima akibat-akibat yang boleh jadi kita juga penyebabnya. Hanya saja kita lupa atau bahkan tidak peduli ketika dahulu melakukannya.
Maka, sesuatu yang tak terduga, diibaratkan sebagai 'kejutan'. Bila itu baik, adalah sebab dari kebaikan-kebaikan yang dulu kita pernah perbuat. Adalah sebab, doa-doa yang kita ataupun orang lain pernah utarakan.

Bila itu buruk, adalah sebab dari kelalaian-kelalaian kita di waktu dulu. Adalah sebab, ketidakpedulian kita akan sesuatu.

Maka, begitulah seharusnya. Untuk akibat-akibat yang lebih baik, lebih dahulu upayakanlah sebab-sebab yang baik.

Semoga itu menjadi modal untuk menghadapi setiap sesuatu yang tak terduga di kemudian hari.

Azura zie

Maret 06, 2018

SEPERTI TIDAK ADA HABISNYA

Seperti tidak ada habisnya, barangkali itu yang sering kita rasakan, di sela-sela rutinitas yang monoton. Sedang mengerjakan kewajiban ini, datang lagi kewajiban lain, yang juga harus dipenuhi. Mungkin, begitulah sudah seharusnya. Ada yang pernah bilang : "kalau tidak begitu, berarti kita sudah tidak dibutuhkan lagi." Ada benarnya juga.
Kembali ke asal kalimat di atas. Seperti tidak ada habisnya. Begitu juga dengan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita. Satu di antaranya, nikmat kemampuan. Bayangkan, bila kita sudah tidak diberi daya apapun, alih-alih bisa mengerjakan kewajiban ini itu. Justru yang ada, keberadaan kita menyusahkan orang lain. Maka, sudah sepatutnya bersyukur. Seperti tidak ada habisnya, semoga syukur dan sabarpun selalu begitu. Semoga.

#Azurazie

Maret 04, 2018

BERTAHANLAH SEBENTAR LAGI

Pernahkah ada yang mengatakan kepadamu, bertahanlah sebentar lagi, di saat kamu sedang merasa lelah, merasa buntu dengan apa yang sedang kamu usahakan. Di waktu yang hampir habis, tenaga yang terkuras. Kegelisahan-kegelisahan yang menumpuk. Pikiran-pikiran yang bercabang. Yang kamu kira, saat itulah waktunya berhenti. Cukup sudah sampai di sini. Lalu, nasihat itu datang menenangkan, bertahanlah sebentar lagi, sebentar saja, tidak sampai menghabiskan seluruh sisa hidupmu. Terus menerus ia menyakinkan agar kamu mencoba untuk tetap bertahan. Sambil memegang teguh sebuah yakin. Bahwa di sisa-sisa waktu dan tenaga, tidak melulu akan berujung sia-sia. Pernahkah ada yang berkata demikian? Seharusnya pernah, pastilah pernah. Kamu saja yang tidak pernah peka untuk menyadarinya. Ia adalah dirimu sendiri. Yang membisikkan kalimat itu adalah dirimu sendiri. Bertahanlah sebentar lagi. Itu katamu sendiri. Maka percayalah pada diri sendiri. Boleh jadi itulah usahamu yang terbaik saat ini.

#Azura zie

Februari 21, 2018

MEMBATALKAN DOA

Pernahkah kita tiba-tiba membatalkan sebuah doa yang terlanjur diucap? Lalu berharap doa kita yang itu tidak pernah akan dikabulkan? Sedangkan kita sendiri tahu, bahwa tiap-tiap doa bergaransi dipenuhi. Selalu akan didengar. Aku rasa tidak pernah. Karena  tiap doa biasanya disertai oleh harapan si pemohon. Ada unsur kebaikan, minimal untuk dirinya sendiri.

Tapi, pernahkah kita sejenak berpikir, ada bagian-bagian doa yang kita tidak minta untuk di revisi atau bahkan dibatalkan. Tapi, Allah sendiri lah yang menggantinya dengan yang lebih baik. Dengan yang sebenarnya lebih kita butuhkan. Adapula yang ditunda, karena bukan waktu tepatnya.

Pernahkah kita sadari, ketidaktahuan kita akan sesuatu, (yang kita lakukan akan berdampak baik buruknya di masa depan). Allah lebih dulu menjaganya, hanya agar kita selamat dan tidak dirundung kecewa. Allah yang segala Maha Tahu, memberi hidayah agar kita tidak terjerumus ke lubang penyesalan itu. Dia mengilhamkan hati, memberikan kita akal untuk berpikir, menimbang-nimbang baik buruknya.

Sayangnya, lebih banyak kita tidak peka akan hal itu. Nasihat-nasihat hanya ibarat hembusan angin yang berlalu. Teguran-teguran hanya ditanggapi dengan senda gurau. Bila di waktu-waktu tertentu, teguran itu menjadi ujian, tanpa malu kita mengganggap Allah tidak adil. Bertanya-tanya kenapa dari sekian banyak orang, justru kita yang bernasib sial? Selebihnya hanya bisa mengeluh dan mengaduh. Lalu, kemarin-kemarin saat kita dalam kelapangan, kita sibuk apa? Barangkali sibuk menimang-nimang nafsu dan menuruti setiap keinginannya dengan berlebihan. Lalu kapan kita mulai belajar untuk merasa cukup? Cukup bersabar, cukup bersyukur.

@aazurazi_

Februari 04, 2018

TIDAK BISA APA-APA

Pada titik di mana, kamu menyadari, bahwa tidak bisa apa-apa, tanpa dibantu orang lain. Tidak berdaya, tanpa dimudahkan di segala urusan.

Untuk itu, tengoklah pada dirimu, masih adakah sedikit ego, yang enggan untuk sekadar berterima kasih. Tengoklah pada dirimu, masih adakah sedikit empati, untuk juga membantu meringankan beban, tanpa pamrih.

Pada titik di mana, kamu menyadari bahwa sejauh ini apa yang sudah kamu raih, tidak hanya karena jerih payahmu sendiri. Ada andil dan sokongan orang lain. Minimal doa-doanya. Minimal support semangatnya.

#azurazie_

Februari 02, 2018

BAGAIMANA?

Bagaimana cara menanggalkan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, tanpa meninggalkan keutamaan untuk tetap bersabar dan bersyukur? Bagaimana?

Hmm,
Bagaimana kalau dengan cara, menunggalkan apa-apa yang kamu perbuat, apa-apa yang kamu hadapi, hanya untuk memperoleh ridho-nya. Berbuat sesuatu, lillah, karena Allah. Bukan karena ingin dilihat manusia.

#azurazie_

Februari 01, 2018

ANGAN

Apa rasanya, bila anganmu, ada tangan-tangan yang sukarela membantu. Bila desiran angin, ikut memberi kabar gembira, bahwa sudah semakin dekat akan waktunya.

Apa rasanya, bila inginmu, di bangun dari doa-doa tulus orang-orang yang berharap kamu bahagia. Bila restu, ikut serta menjadi jalan lapang, kemudahan menjalani tiap prosesnya.

Rahman ... ya Rahman..
Adalah Allah yang mencukupi tiap-tiap kebutuhan.
Rahim ... ya Rahim...
Adalah Allah yang mengenapkan tahap-tahap ketetapan.
Salam ... ya Salam...
Adalah Allah yang menganugerahi tetap-tetap perasaan.
Ya Muqollibal Qulub...
Ridhoi takdir yang jauh hari telah termaktub.
Ialah rezeki, jodoh maupun akhir dari kehidupan.

#azurazie_

Januari 31, 2018

WAKTU

Yang selalu tepat, adalah waktu. Yang seringnya terlambat, adalah kamu. Waktu tidak pernah mundur. Sedang kamu, mau maju pun sering di ulur-ulur. Waktu selalu pergi meninggalkan yang hanya diam. Sedang kamu sering tertinggal di kenangan masa silam. Waktu yang berakhir, kamu yang pada akhirnya tersingkir.

Sisa waktu untuk memperbaiki banyak hal. Tinggal kamu yang wajib berpikir, bagaimana untuk menambah bekal.

Dan demi waktu yang termaktub dalam Al-Qur'an, yang tidak pernah membual. Demi kamu yang masih berakal untuk belajar mengurangi bebal. Ingat-ingat, sebenarnya untuk apa sejauh ini waktu dihabiskan? Sudah tentu, nanti ada hisab, kan?

#azurazie_

Januari 30, 2018

YANG DIRENCANAKAN

Putri, di beberapa keadaan, boleh jadi jauh api dari panggangan, jauh dari apa yang sudah di rencanakan, jauh pula dari yang diharapkan.

Improvisasi, rencana B, atau apalah itu sebutannya. Yang menuntut kita, cepat untuk mengambil keputusan. Memilah-milah pertimbangan mana yang lebih baik. Begitulah, kita hanya mampu berperan sebaik mungkin. Dan terus berharap Sang Sutradara Agung, selalu memberi hidayah, agar langkah selalu terarah ke titian-titian yang lebih baik. Agar skenario di balik itu semua, ada hikmah dan pelajaran untuk masa di depan kita.

Maka, begitulah bijaknya, apapun keputusan yang akan kamu ambil, semoga tidak ada keputusasaan saat memilihnya. Tetap berprasangka dengan dugaan yang paling baik. Untuk Allah Yang Maha Bijak.

#azurazie_

Januari 29, 2018

TANAH YANG SUBUR

Di atas tanah yang subur, tumbuh pepohonan yang subur. Begitulah hukum alamnya. Semua yang baik, berasal dari yang baik.

Orang tua yang sabar mendidik anak-anaknya akan nilai agama, akan tumbuh anak-anak yang sadar akan kewajibannya sebagai hamba. Dapat point lebih, bila di masa depan, anak-anak itu tersebar, membawa banyak manfaat untuk lingkungan sekitarnya.

Maka, beruntunglah bila terlahir dari orang tua yang memiliki 'tanah yang subur' dalam hati mereka. Yang mengajarkan mengeja alif ba ta hingga ya. Yang memberitahu Alif Laam Raa, adalah 3 huruf, yang di setiapnya ada 10x kebaikan. Bukan Alamaro yang dibunyikan sembarangan.

Maka, dengan begitu semoga satu ayat Al-Qur'an, selalu mampu diterap dalam keseharian.

"Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka."

Dengan memperbaiki ejaan ayat-ayat Al-Qur'an dalam shalat dan doa.

#azurazie_

Januari 28, 2018

DEMI MASA

Barangkali, keperluan kita setiap harinya terus bertambah. Sedangkan kemampuan, sedikit banyak berkurang, seiring dengan usia yang selalu bertumbuh.

Begitulah qodarullah, setiap apa-apa yang ada di dunia, adalah fana. Ada umur-umurnya. Ada kadaluarsanya. Ada batas-batas waktunya.

Maka, demi masa, semoga kita dijauhi dari golongan yang ada dalam kerugian. Yang masa mudanya, hanya habis menunggu masa tua. Yang waktu sehatnya, tidak dijaga, menjadi sebab sakitnya. Yang kesehariannya, lebih sering merasa miskin dibanding bersyukur sudah dicukupkan. Yang kelapangan waktunya, hanya sia-sia tidak menambah kebaikan. Dan yang hidupnya jauh dari ibadah untuk bekal di waktu datangnya kematian.

#azurazie_

Januari 27, 2018

BANGKRUT

Adalah riya yang melumat habis amal baik seseorang. Seperti lilin yang dinyalakan. Seperti keju yang meleleh di penggorengan. Seperti air yang dididihkan.

Seseorang yang merasa cukup bekalnya, banyak amal solehnya, kelak akan melongo ketika ternyata bangkrut di akhirat. Tersebab, tidak terasa sepanjang hidupnya, membiarkan riya menggerogoti amal-amalnya. Membiarkan riya mengekor di setiap perbuatannya.

Semisal, melakukan itu ingin dilihat banyak orang. Memberikan itu ingin dipuji orang lain. Sepotong status dibuat. Sampai kebaikan yang dibuat-buat. Itu memang hal sederhana, yang bisa menjadi malapetaka.

Adalah riya juga yang membuat orang lain merasa sudah menjadi pibadi lebih baik. Padahal kita bukanlah apa-apa, apabila ditelanjangi oleh aib-aib sendiri.  Allah sudah Maha Baik masih menutupi. Tidaklah kita seyogyanya ikut menjaga diri.

Semoga tulisan inipun terhindar dari sifat riya. Aamiin.

#azurazie_

Januari 26, 2018

MENGENAL SESEORANG

Ada seseorang, yang dengan mengenalnya, kita jadi belajar banyak hal. Tentang bagaimana kesabarannya menghadapi sesuatu. Tentang kelapangan dada, menerima setiap suka dukanya keadaan. Tentang ketabahannya untuk tidak mudah mengeluh dan menyerah. Seseorang yang di luar keadaannya itu, ia masih peduli dan mau membantu kesulitan orang lain.

Dengan mengenalnya kita pun berdoa semoga tiap-tiap langkahnya diberi kemudahan.

Ada seseorang, yang dengan mengenalnya, kita juga jadi belajar banyak hal. Seseorang yang mudah sekali mengeluh. Mudah sekali marah dengan hal-hal sederhana. Mudah sekali menghakimi orang lain. Selalu menuntut tanpa mau menuntun lebih dulu. Seseorang yang dengan kehadirannya justru tidak diharapkan banyak orang. Karena perangainya, karena tindak tanduknya.

Dengan mengenalnya kita pun berdoa semoga tiap-tiap langkahnya ada dalam perbaikan.

#azurazie_

Januari 22, 2018

FUNGSI BLOG

Yang menjaga tulisan-tulisan itu selalu ada, adalah blog. Yang memicu untuk selalu tetap menulis, menulis, dan menulis adalah keberadaan blog. Meskipun tidak setiap hari selalu di update postingannya, tapi dengan adanya blog, seperti pengingat, bagaimana dulu begitu ber-euporia meramaikannya. Belajar menyusun kata-kata menjadi lebih baik. Memperbaiki eyd dengan lebih sempurna. - pelajaran yang di masa sekolah dulu dianggap sepele. Memberanikan diri membuat cerita-cerita pendek pun karena blog.

Yang memelihara tulisan-tulisan itu pun adalah blog. Layaknya ruang arsip untuk tulisan-tulisan yang selesai ditulis dengan baik. Yang mungkin suatu saat rindu untuk membaca ulang satu persatu. Nostalgia dengan kenangannya. 

Yang diharapkan ada kebaikan-kebaikan yang bermanfaat karenanya adalah blog. Seperti air, tulisan-tulisan itu tetap mengalir ke muara para pembacanya. Meskipun kelak penulisnya sudah tiada. 

Dan blog itu memiliki nama LAKARAN MINDA beralamat di www.azura-zie.com
Apakabar blogger2 tempo baheula?

  

Januari 20, 2018

DITAMPAKKAN RAHASIA

Pada hari ditampakkan segala rahasia. (86:9)

Di saat aib-aib itu di pertontonkan. Hendak ke mana wajahmu di palingkan? Hendak mencari apa untuk sekadar menutupi cela dan keburukan? Sedangkan pada hari itu dirimu ditelanjangi habis-habisan.

Lalu, di mana wajah pongah itu. Dulu kala, ketika terasa ringan mengumbar aurat. Terasa ringan meninggalkan shalat. Terasa ringan menanggalkan kewajiban. Terasa berat menyempatkan diri untuk memenuhi panggilan adzan.

Lalu, di mana punggung yang angkuh itu. Dulu kala, ketika setiap nasihat-nasihat diabaikan. Teguran-teguran tidak didengarkan. Ajakan-ajakan memperbaiki diri diacuhkan. Ayat-ayat Al-Qur'an dinistakan. Aturan-aturan agama menjadi gurauan. Di kala orang-orang soleh yang berpegang teguh kepada agamanya, justru menjadi bahan tertawaan.

Pada hari ditampakkan segala rahasia. Mampukah kita berdalih kalau itu bukan perbuatan kita?
  

Januari 19, 2018

PERBEDAAN DOA DAN ASA

Doa : entah sudah berapa ulang kamu eja. Dengan lirih, sampai merintih. Diam-diam, hingga dalam-dalam. Doa, tidak pernah terasa usang. Doa tetap membuat hatimu tenang, bahwa pada waktunya, yang selalu di doakan, menjadi milikmu jua, di hari yang sudah di tetapkan.

Harap : entah sudah sejauh apa ia melambungkan angan. Dengan ekspektasi yang sering berlebihan. Memberikan energi positif yang sangat membangun. Bagi siapa-siapa yang percaya, hal-hal baik akan selalu datang, setelah bersusah payah mengupayakan.

Dan perbedaan keduanya adalah : doa yang baik selalu ada garansi akan di kabulkan. Secara kontan maupun di angsur perlahan-lahan. Maka, berdoalah sebanyak mungkin. Dengan terus menggenggam yakin.

Sedangkan harap, tidak selalu berujung sesuai dengan keinginan. Maka, berharaplah seadanya. Sesuai dengan kemampuanmu melapangkan dada, di kala di rundung krundung
  

Januari 18, 2018

KEBETULAN

Kita yakini, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah ada dalam ketetapan. Sebab-sebab adalah proses. Akibat yang terjadi, tidaklah perlu ditanggapi dengan banyak protes. Sebab-sebab yang baik, membuat takdir itu menjadi lebih baik.

Dan kita berjalan sesuai dengan apa-apa yang menjadi harapan. Usaha satu upaya agar pada waktunya menjadi kenyataan. Doa menjadi cara paling lembut agar apa yang di harap lantas disegerakan.

Tapi, bila ternyata tidak sesuai dengan prasangka. Jauh dari apa yang di harapan. Bukan berarti langsung menyimpulkan hidup ini tidak adil, kan?

Sebab, kita tidak tahu satu detik apa yang akan terjadi ke depan. Boleh jadi ketidaksesuaian harapan itu, justru yang menyelamatkan kita dari kecewa, yang lebih besar dari pada dugaan.
Tersebab karena ketidaktahuan kita.

Dan semoga Allah masih menjadi yang pertama untuk di percaya. Di yakini setiap ketetapanNya.

  

Januari 10, 2018

TIDAK HARUS, TAPI MAU

“Aku ada kata-kata nih, coba dicek enak dibaca nggak? ‘seseorang yang sering bertanya memang harus ada, agar si serba tahu (bagian ini yang susah pasnya) bisa berbagi ilmu.”

“Jangan Si serba atuh, kesannya sombong.”

“Oh! Nah, makanya kurang pas.”

“Yang rajin bertanya memang harus selalu ada, agar yang lebih tahu, bisa berbagi ilmu.”

“Nahhhh, itu dia hahahaha...”

“Yang rajin bertanya memang perlu ada, agar yang lebih tahu, bisa berbagi ilmu.”

“Okok....”

“Yang rajin bertanya memang perlu ada, agar yang lebih tahu, juga berbagi ilmu. Kalau pakai kata ‘mau berbagi’ kesannya dipaksa ngebaginya.”

“Oh, jadi harus diperhatikan tiap kata-katanya.”

“Biar nggak ambigu, jadi kesannya secara tidak langsung saling berbagi tanpa diminta. Ikhlas apa adanya.”

“Satu lagi... satu lagi... bagaimana mengajak orang lain ke jalan kebaikan?”

“Cara yang paling tepat, ya, jadi jalan kebaikan itu sendiri. Seseorang kan cenderung mengikuti apa yang ia sukai. Nah, biar ajakan itu tepat sasaran, kamu sendiri harus bisa jadi ‘jalanan’ untuk dia, agar sukarela ‘ngekor’ di belakang. Jadi nggak perlu ada istilah ngajak, tapi sukarela ikut.”

“Caranya? jadi ‘jalanan’.”

“Contohin, kamu lakuin duluan, berasa di shaf paling depan. Paling tepat waktu dan tidak plinplan. Biar yang nantinya ngikutin juga nggak ragu sama keputusannya. Kamunya sendiri nggak ada perasaan telah mengajak. “

“Itu kan kalau dia satu keyakinan. Kalau buat yang beda agama gimana?”

“Sama aja seperti Rasulullah, berdakwah dengan teladan. Nggak ada unsur paksaan, mencontohkan dalam keseharian. Dan mereka pada akhirnya berbondong-bondong masuk islam. Hidayah tetap ada di kuasa Allah, kita hanya sebagai perantara. Dengan usahanya. “

“Mungkin aku harus banyak-banyak membaca kisah Rasulullah saat berdakwah. Tapi awalnya aku harus jadi pribadi yang baik dulu ya intinya.”

“Tidak harus, tapi mau.”

“Iya iya.”

“kalau pakai kata ‘harus’ ada kesan paksaan. Tapi kalau ‘mau’ itu sukarela.”

“Hahaha itu ‘paksaan’ ada lagi.”