April 14, 2018

SATU PEKAN BERLALU

Satu pekan berlalu, apa-apa yang menjadi harap, kini menjelma bahagia dengan hati yang paling siap.
Satu pekan berlalu, apa-apa yang menjadi doa, terijabah dalam bait-bait rasa, yang tertulis rapi di lauhul mahfud-Nya.
 
Satu pekan berlalu, sepakat menerima sepaket bukan lagi sekadar perbincangan yang kita gaung-gaungkan. Kini mulai menjadi kebiasaan yang perlu untuk selalu di musyawarahkan.

Karena aku dan kamu, telah menjadi kita. Itu artinya, tidak adalagi sekadar kata-kata. Melainkan diterap menjadi sesuatu yang lebih nyata. Musyawarah menjadi jalan agar apa-apa yang akan kita lakukan, apa-apa yang setelah itu dialami, resiko dan konsekuensinya menjadi tanggungan berdua. 

Ridho atas setiap keputusan pasangannya.
 
Dan waktu menjadi saksi dalam prosesnya. Bersamamu selalu, tak ingin berakhir waktuku. Itu saja.
@azurazie_

April 01, 2018

SATU PEKAN DARI HARI INI

Sahabatku, rasa-rasa ada beberapa hal yang perlu aku sampaikan kepadamu, terkait acara pada tanggal 08 April 2018. Satu pekan dari sekarang.

Sekiranya kamu berkenan untuk mengetahuinya. Terlepas setelah ini kamu keberatan atau tidak. Minimal aku sudah sampaikan apa yang menurutku perlu untuk diutarakan. Maka, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan kerendahan hati dan sepenuh harap. Izinkan aku memulainya.

Pertama, satu dari enam hak seorang muslim bagi muslim lainnya adalah perihal memenuhi sebuah undangan. Maka, sepenuh harap, luangkanlah waktu terbaikmu untuk mencumponi undangan itu. Aku doakan di hari yang sudah ditetapkan, kamu dan sekeluarga dalam kelapangan, sehat dan afiat. Diberikan keselamatan baik pergi sampai kembali pulang. Aamiin. Agar silaturrahim itu dapat terjalin.

Kedua, sebagai tuan rumah, sudah sepantasnya kami menjamu dengan jamuan yang paling baik. Itu sudah keharusan, tapi bila di hari itu, kamu merasa tidak terjamu dengan semestinya. Baik dari pelayanan maupun sambutan kedatangan. Atau hidangan yang tidak selera di lidah. Mohon maaf kami sampaikan. Semoga kamu ridho dan memaklumi itu.

Oh iya, saran dari kami, sebelum mencicipi hidangan yang sudah disediakan, alangkah baiknya sendok menu seperlunya. Dalam artian tidak berlebihan. Demi menghindari sesuatu yang bersifat mubadzir karena tidak semua termakan. Bila ternyata kurang dan ingin nambah tentu saja boleh.
Ketiga, menyambung dari point kedua, perihal pelayanan. Aku teringat nasihat Rasulullah SAW, yang melarang makan dan minum sambil berdiri. Semoga kamu pun ingat dengan sepotong nasihat itu, bila hal itu dikarenakan dengan fasilitas yang tidak terpenuhi, keterbatasan kursi yang disediakan. Kami berharap, kamu ridho dengan itu. Pun demikian semoga Allah memaklumi dengan 'keterbatasan itu.'

Keempat, ini yang paling ingin aku sampaikan kepadamu. Nanti, tidak akan kamu dapati sepotong pas photo pun di sana. Karena kami memang tidak melakukan prawed. Mohon maaf itu di luar prinsip kami sebagai muslim. Dan tentu saja hakmu untuk mengabadikan setiap moment yang sedang terjadi dalam hidupmu. Kami tidak akan membatasi itu.

Tapi, di mohon dengan sangat, bila memang di rasa perlu mengambil poto atau video di acara kami, untuk mengabadikan moment. Mohon cukup sekadarnya saja, dan semata-mata untuk koleksi pribadi saja.

Mohon dengan sangat tidak meng-uploud-nya di sosial media manapun. Bukan berarti kami tidak ingin ikut beruforia dengan itu. Apalagi ini memang acara bahagia kami. Tapi, yang lebih kami butuh adalah doa. Agar bahagia itu tetap terjaga setelahnya.

Kelima, teruntuk kamu yang nanti memenuhi undangan kami, ada  beberapa bentuk sovenir yang kami sediakan, sekadar untuk buah tangan agar tidak lengang dalam perjalanan pulang. Sebagai pengingat, bahwa pada tanggal 08 april 2018 pernah ada momentum bahagia yang kami rayakan. Bahagia yang kamu ikut mendoakan.

Itu saja beberapa point yang ingin kami sampaikan. Bila ada tutur kata yang tidak tersusun dengan rapi, mohon dimaklumi. Sebelumnya kami utarakan terima kasih.
Salam
@azurazie_
@sekitar_putri

Maret 31, 2018

TIDAK SELALU TAHU

Kenapa kita suka cemburu dengan seseorang yang tidak kita kenal?

Kenapa tuh?

Ya, kan ini sedang bertanya.

Kalau menurut kamu, kira-kira kenapa?

Tidak tahu, tidak nyaman juga dengan sesuatu yang dikira-kira.

Pernah begitu?

Pernah.

Berarti tahu dong jawabannya!

Tidak selalu yang kita alami sendiri, kita tahu jawabannya. Kita tahu apa hikmahnya.

Maret 21, 2018

UNDANGAN

Sahabatku,
apa kabar? lama kita tak saling menyapa. Barangkali ini yang dinamakan 'ke makan omongan sendiri'. Barangkali kamu pernah mendengar dulu aku pernah berkata, 'malas sama teman yang cuma datang kalau ada maunya, tiba-tiba kasih undangan, misalnya.'

Duh, nyess di hati. Hari ini aku melakukannya. Sungguh, persis dengan apa yang dulu aku katakan. Tak apa ya? Toh ini termasuk kabar baik. Bukannya katamu, tiap-tiap kabar baik itu harus diberitakan. Agar semakin banyak orang yang mendoakan. Alasan klise ya.
Sahabatku, undangan yang sekarang sudah ditanganmu, warnanya coklat hati. Tentu saja nama yang bersanding dengan namaku, adalah orang asing di ingatanmu. Karena aku memang tidak pernah menyebut-nyebutnya sejak terakhir kita masih saling bertukar cerita. Entah itu kapan. Rasanya sudah lama nian.

Setidaknya kamu tahu hari ini. Aku memang tidak pernah memberitakan namanya di social media manapun sebelum ini. Baik di live story atapun status. Tidak pernah update potonya, baik sendiri, apalagi berdua denganku. Sama sekali tidak pernah. Singkatnya, tidak ada satu potong berita pun yang mengabarkan kalau aku sedang dekat dengannya. Alih-alih sedang memiliki hubungan khusus. Ya, aku tidak pernah mengumbar namanya di mana-mana. Jadi wajar saja kamu merasa asing dengan nama itu. Tapi ketahuilah ia amat terkenal di langit. Namanya seperti Uwais Al-Qarni, lebih dikenal di langit. Lewat untaian-untaian doa-doa kebaikan. Dan malaikat-malaikat dengan sukarela ikut meng-aamiin-kannya.

Doaku sederhana, 'Ya Allah berikan ia jodoh yang baik.' Itu yang aku ulang-ulang di kala aku ingat untuk berdoa. Aku tidak meminta jodoh yang baik untukku. Tapi aku meminta untuknya. Dan Allah yang Maha Baik memberi kabar baik itu. Aku pun dianugerahi jodoh yang baik.

Kau tahu sahabatku, sebagai manusia kebanyakan. Bukan berarti aku tidak ingin pamer kemesraan di khalayak ramai. Biar orang-orang tahu. Kalau perlu seluruh dunia. Sungguh, nafsu inginnya demikian. Seandainya engkau tahu, aku berusaha keras untuk tidak melakukan itu. Memang sih itu biasa saja, sudah banyak dilakukan orang. Atau munafik sekali lah kalau aku tidak mengakui, dulu pernah melakukan hal yang serupa itu. Ya begitulah, kita tidak pernah benar-benar belajar berubah, kalau juga tidak pernah benar-benar tahu bahwa yang kita lakukan adalah sia-sia. Dulu hal demikian di atas memang terasa up to date. Keren sekali. Merasa beruntung. Bebas dari julukan jomblo. Tapi nyatanya, bertahun-tahun melakukan itu. Hari ini tidak ada bekas yang bisa dibanggakan. Hanya aib yang selalu berusaha ditutupi. Aku belajar banyak hal dari itu.

Begitulah sahabatku, waktu bergulir, realitas berubah. Termasuk pemikiran kita yang ikut menua. Termasuk prioritas-prioritasnya.

Dan undangan cokelat hati ini, ingin mewakili itu semua. Tidak ada lagi umbar-umbar kata tjinta. Tidak ada lagi ungkapan-ungkapan sayang yang bukan pada ranahnya. Sejujurnya sampai detik ini aku tidak pernah mengungkapkan isi hatiku secara terang-terangan kepadanya. Tidak ada tanggal jadian. Tidak ada jadwal ngedate berduaan.

Maka, jangan heran kalau tiba-tiba kamu menerima undangan. Lalu seolah tak habis pikir bartanya-tanya, kapan pacarannya? Kapan ketemuannya? Kapan saling sukanya?

Haha... siapa yang sangka skenario Allah memang ajaib.

Tentu saja tidak ada hal-hal seperti di atas. Aku menahan diri dan mengumpulkan keberanian itu untuk satu hari yang berarti. Akad. Kulunasi semua itu dengan ikrar akad. Biarlah pertanyaan-pertanyaanmu, jawabannya terangkum dalam ijab dan kabul.
Maka dari itu sahabatku, sudilah engkau dukung azamku ini dengan menghadirinya. Dengan iringan doa-doanya. Agar apa-apa yang aku perjuangkan. Apa yang sejauh ini ia harapakan. Allah senantiasa meridhoi kami. Orang tua merestui kami. Dan sahabat-sahabat setia sepertimu ikut mendoakan kami. Agar kebahagian itu genap tidak sekadar bualan. Tapi menjadi hadiah manis di ujung penantian.
Insya allah
Ahad, 08 April 2018

Ditunggu kehadirannya.
Sepenuh harap.

azura zie

Maret 09, 2018

SESUATU YANG TAK TERDUGA

Kita sering mengalami sesuatu yang tak terduga. Sering dikait-kaitkan dengan sebuah kebetulan, konspirasi semesta. Atau apalah itu namanya. Padahal, tiap-tiap sesuatu ada pengaturnya. Detik, jam, tempat, keadaan, ada skenario yang melatarbelakangi ceritanya. Lalu, apa yang membuat sesuatu yang tak terduga itu dirasa memberatkan? Dianggap Tidak adil? Adalah kesiapan kita untuk menjalaninya. Kesiapan untuk selalu menerima setiap ketentuan. Menerima akibat-akibat yang boleh jadi kita juga penyebabnya. Hanya saja kita lupa atau bahkan tidak peduli ketika dahulu melakukannya.
Maka, sesuatu yang tak terduga, diibaratkan sebagai 'kejutan'. Bila itu baik, adalah sebab dari kebaikan-kebaikan yang dulu kita pernah perbuat. Adalah sebab, doa-doa yang kita ataupun orang lain pernah utarakan.

Bila itu buruk, adalah sebab dari kelalaian-kelalaian kita di waktu dulu. Adalah sebab, ketidakpedulian kita akan sesuatu.

Maka, begitulah seharusnya. Untuk akibat-akibat yang lebih baik, lebih dahulu upayakanlah sebab-sebab yang baik.

Semoga itu menjadi modal untuk menghadapi setiap sesuatu yang tak terduga di kemudian hari.

Azura zie

Maret 06, 2018

SEPERTI TIDAK ADA HABISNYA

Seperti tidak ada habisnya, barangkali itu yang sering kita rasakan, di sela-sela rutinitas yang monoton. Sedang mengerjakan kewajiban ini, datang lagi kewajiban lain, yang juga harus dipenuhi. Mungkin, begitulah sudah seharusnya. Ada yang pernah bilang : "kalau tidak begitu, berarti kita sudah tidak dibutuhkan lagi." Ada benarnya juga.
Kembali ke asal kalimat di atas. Seperti tidak ada habisnya. Begitu juga dengan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita. Satu di antaranya, nikmat kemampuan. Bayangkan, bila kita sudah tidak diberi daya apapun, alih-alih bisa mengerjakan kewajiban ini itu. Justru yang ada, keberadaan kita menyusahkan orang lain. Maka, sudah sepatutnya bersyukur. Seperti tidak ada habisnya, semoga syukur dan sabarpun selalu begitu. Semoga.

#Azurazie

Maret 04, 2018

BERTAHANLAH SEBENTAR LAGI

Pernahkah ada yang mengatakan kepadamu, bertahanlah sebentar lagi, di saat kamu sedang merasa lelah, merasa buntu dengan apa yang sedang kamu usahakan. Di waktu yang hampir habis, tenaga yang terkuras. Kegelisahan-kegelisahan yang menumpuk. Pikiran-pikiran yang bercabang. Yang kamu kira, saat itulah waktunya berhenti. Cukup sudah sampai di sini. Lalu, nasihat itu datang menenangkan, bertahanlah sebentar lagi, sebentar saja, tidak sampai menghabiskan seluruh sisa hidupmu. Terus menerus ia menyakinkan agar kamu mencoba untuk tetap bertahan. Sambil memegang teguh sebuah yakin. Bahwa di sisa-sisa waktu dan tenaga, tidak melulu akan berujung sia-sia. Pernahkah ada yang berkata demikian? Seharusnya pernah, pastilah pernah. Kamu saja yang tidak pernah peka untuk menyadarinya. Ia adalah dirimu sendiri. Yang membisikkan kalimat itu adalah dirimu sendiri. Bertahanlah sebentar lagi. Itu katamu sendiri. Maka percayalah pada diri sendiri. Boleh jadi itulah usahamu yang terbaik saat ini.

#Azura zie

Februari 21, 2018

MEMBATALKAN DOA

Pernahkah kita tiba-tiba membatalkan sebuah doa yang terlanjur diucap? Lalu berharap doa kita yang itu tidak pernah akan dikabulkan? Sedangkan kita sendiri tahu, bahwa tiap-tiap doa bergaransi dipenuhi. Selalu akan didengar. Aku rasa tidak pernah. Karena  tiap doa biasanya disertai oleh harapan si pemohon. Ada unsur kebaikan, minimal untuk dirinya sendiri.

Tapi, pernahkah kita sejenak berpikir, ada bagian-bagian doa yang kita tidak minta untuk di revisi atau bahkan dibatalkan. Tapi, Allah sendiri lah yang menggantinya dengan yang lebih baik. Dengan yang sebenarnya lebih kita butuhkan. Adapula yang ditunda, karena bukan waktu tepatnya.

Pernahkah kita sadari, ketidaktahuan kita akan sesuatu, (yang kita lakukan akan berdampak baik buruknya di masa depan). Allah lebih dulu menjaganya, hanya agar kita selamat dan tidak dirundung kecewa. Allah yang segala Maha Tahu, memberi hidayah agar kita tidak terjerumus ke lubang penyesalan itu. Dia mengilhamkan hati, memberikan kita akal untuk berpikir, menimbang-nimbang baik buruknya.

Sayangnya, lebih banyak kita tidak peka akan hal itu. Nasihat-nasihat hanya ibarat hembusan angin yang berlalu. Teguran-teguran hanya ditanggapi dengan senda gurau. Bila di waktu-waktu tertentu, teguran itu menjadi ujian, tanpa malu kita mengganggap Allah tidak adil. Bertanya-tanya kenapa dari sekian banyak orang, justru kita yang bernasib sial? Selebihnya hanya bisa mengeluh dan mengaduh. Lalu, kemarin-kemarin saat kita dalam kelapangan, kita sibuk apa? Barangkali sibuk menimang-nimang nafsu dan menuruti setiap keinginannya dengan berlebihan. Lalu kapan kita mulai belajar untuk merasa cukup? Cukup bersabar, cukup bersyukur.

@aazurazi_

Februari 04, 2018

TIDAK BISA APA-APA

Pada titik di mana, kamu menyadari, bahwa tidak bisa apa-apa, tanpa dibantu orang lain. Tidak berdaya, tanpa dimudahkan di segala urusan.

Untuk itu, tengoklah pada dirimu, masih adakah sedikit ego, yang enggan untuk sekadar berterima kasih. Tengoklah pada dirimu, masih adakah sedikit empati, untuk juga membantu meringankan beban, tanpa pamrih.

Pada titik di mana, kamu menyadari bahwa sejauh ini apa yang sudah kamu raih, tidak hanya karena jerih payahmu sendiri. Ada andil dan sokongan orang lain. Minimal doa-doanya. Minimal support semangatnya.

#azurazie_

Februari 02, 2018

BAGAIMANA?

Bagaimana cara menanggalkan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, tanpa meninggalkan keutamaan untuk tetap bersabar dan bersyukur? Bagaimana?

Hmm,
Bagaimana kalau dengan cara, menunggalkan apa-apa yang kamu perbuat, apa-apa yang kamu hadapi, hanya untuk memperoleh ridho-nya. Berbuat sesuatu, lillah, karena Allah. Bukan karena ingin dilihat manusia.

#azurazie_

Februari 01, 2018

ANGAN

Apa rasanya, bila anganmu, ada tangan-tangan yang sukarela membantu. Bila desiran angin, ikut memberi kabar gembira, bahwa sudah semakin dekat akan waktunya.

Apa rasanya, bila inginmu, di bangun dari doa-doa tulus orang-orang yang berharap kamu bahagia. Bila restu, ikut serta menjadi jalan lapang, kemudahan menjalani tiap prosesnya.

Rahman ... ya Rahman..
Adalah Allah yang mencukupi tiap-tiap kebutuhan.
Rahim ... ya Rahim...
Adalah Allah yang mengenapkan tahap-tahap ketetapan.
Salam ... ya Salam...
Adalah Allah yang menganugerahi tetap-tetap perasaan.
Ya Muqollibal Qulub...
Ridhoi takdir yang jauh hari telah termaktub.
Ialah rezeki, jodoh maupun akhir dari kehidupan.

#azurazie_

Januari 31, 2018

WAKTU

Yang selalu tepat, adalah waktu. Yang seringnya terlambat, adalah kamu. Waktu tidak pernah mundur. Sedang kamu, mau maju pun sering di ulur-ulur. Waktu selalu pergi meninggalkan yang hanya diam. Sedang kamu sering tertinggal di kenangan masa silam. Waktu yang berakhir, kamu yang pada akhirnya tersingkir.

Sisa waktu untuk memperbaiki banyak hal. Tinggal kamu yang wajib berpikir, bagaimana untuk menambah bekal.

Dan demi waktu yang termaktub dalam Al-Qur'an, yang tidak pernah membual. Demi kamu yang masih berakal untuk belajar mengurangi bebal. Ingat-ingat, sebenarnya untuk apa sejauh ini waktu dihabiskan? Sudah tentu, nanti ada hisab, kan?

#azurazie_

Januari 30, 2018

YANG DIRENCANAKAN

Putri, di beberapa keadaan, boleh jadi jauh api dari panggangan, jauh dari apa yang sudah di rencanakan, jauh pula dari yang diharapkan.

Improvisasi, rencana B, atau apalah itu sebutannya. Yang menuntut kita, cepat untuk mengambil keputusan. Memilah-milah pertimbangan mana yang lebih baik. Begitulah, kita hanya mampu berperan sebaik mungkin. Dan terus berharap Sang Sutradara Agung, selalu memberi hidayah, agar langkah selalu terarah ke titian-titian yang lebih baik. Agar skenario di balik itu semua, ada hikmah dan pelajaran untuk masa di depan kita.

Maka, begitulah bijaknya, apapun keputusan yang akan kamu ambil, semoga tidak ada keputusasaan saat memilihnya. Tetap berprasangka dengan dugaan yang paling baik. Untuk Allah Yang Maha Bijak.

#azurazie_

Januari 29, 2018

TANAH YANG SUBUR

Di atas tanah yang subur, tumbuh pepohonan yang subur. Begitulah hukum alamnya. Semua yang baik, berasal dari yang baik.

Orang tua yang sabar mendidik anak-anaknya akan nilai agama, akan tumbuh anak-anak yang sadar akan kewajibannya sebagai hamba. Dapat point lebih, bila di masa depan, anak-anak itu tersebar, membawa banyak manfaat untuk lingkungan sekitarnya.

Maka, beruntunglah bila terlahir dari orang tua yang memiliki 'tanah yang subur' dalam hati mereka. Yang mengajarkan mengeja alif ba ta hingga ya. Yang memberitahu Alif Laam Raa, adalah 3 huruf, yang di setiapnya ada 10x kebaikan. Bukan Alamaro yang dibunyikan sembarangan.

Maka, dengan begitu semoga satu ayat Al-Qur'an, selalu mampu diterap dalam keseharian.

"Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka."

Dengan memperbaiki ejaan ayat-ayat Al-Qur'an dalam shalat dan doa.

#azurazie_

Januari 28, 2018

DEMI MASA

Barangkali, keperluan kita setiap harinya terus bertambah. Sedangkan kemampuan, sedikit banyak berkurang, seiring dengan usia yang selalu bertumbuh.

Begitulah qodarullah, setiap apa-apa yang ada di dunia, adalah fana. Ada umur-umurnya. Ada kadaluarsanya. Ada batas-batas waktunya.

Maka, demi masa, semoga kita dijauhi dari golongan yang ada dalam kerugian. Yang masa mudanya, hanya habis menunggu masa tua. Yang waktu sehatnya, tidak dijaga, menjadi sebab sakitnya. Yang kesehariannya, lebih sering merasa miskin dibanding bersyukur sudah dicukupkan. Yang kelapangan waktunya, hanya sia-sia tidak menambah kebaikan. Dan yang hidupnya jauh dari ibadah untuk bekal di waktu datangnya kematian.

#azurazie_

Januari 27, 2018

BANGKRUT

Adalah riya yang melumat habis amal baik seseorang. Seperti lilin yang dinyalakan. Seperti keju yang meleleh di penggorengan. Seperti air yang dididihkan.

Seseorang yang merasa cukup bekalnya, banyak amal solehnya, kelak akan melongo ketika ternyata bangkrut di akhirat. Tersebab, tidak terasa sepanjang hidupnya, membiarkan riya menggerogoti amal-amalnya. Membiarkan riya mengekor di setiap perbuatannya.

Semisal, melakukan itu ingin dilihat banyak orang. Memberikan itu ingin dipuji orang lain. Sepotong status dibuat. Sampai kebaikan yang dibuat-buat. Itu memang hal sederhana, yang bisa menjadi malapetaka.

Adalah riya juga yang membuat orang lain merasa sudah menjadi pibadi lebih baik. Padahal kita bukanlah apa-apa, apabila ditelanjangi oleh aib-aib sendiri.  Allah sudah Maha Baik masih menutupi. Tidaklah kita seyogyanya ikut menjaga diri.

Semoga tulisan inipun terhindar dari sifat riya. Aamiin.

#azurazie_

Januari 26, 2018

MENGENAL SESEORANG

Ada seseorang, yang dengan mengenalnya, kita jadi belajar banyak hal. Tentang bagaimana kesabarannya menghadapi sesuatu. Tentang kelapangan dada, menerima setiap suka dukanya keadaan. Tentang ketabahannya untuk tidak mudah mengeluh dan menyerah. Seseorang yang di luar keadaannya itu, ia masih peduli dan mau membantu kesulitan orang lain.

Dengan mengenalnya kita pun berdoa semoga tiap-tiap langkahnya diberi kemudahan.

Ada seseorang, yang dengan mengenalnya, kita juga jadi belajar banyak hal. Seseorang yang mudah sekali mengeluh. Mudah sekali marah dengan hal-hal sederhana. Mudah sekali menghakimi orang lain. Selalu menuntut tanpa mau menuntun lebih dulu. Seseorang yang dengan kehadirannya justru tidak diharapkan banyak orang. Karena perangainya, karena tindak tanduknya.

Dengan mengenalnya kita pun berdoa semoga tiap-tiap langkahnya ada dalam perbaikan.

#azurazie_

Januari 22, 2018

FUNGSI BLOG

Yang menjaga tulisan-tulisan itu selalu ada, adalah blog. Yang memicu untuk selalu tetap menulis, menulis, dan menulis adalah keberadaan blog. Meskipun tidak setiap hari selalu di update postingannya, tapi dengan adanya blog, seperti pengingat, bagaimana dulu begitu ber-euporia meramaikannya. Belajar menyusun kata-kata menjadi lebih baik. Memperbaiki eyd dengan lebih sempurna. - pelajaran yang di masa sekolah dulu dianggap sepele. Memberanikan diri membuat cerita-cerita pendek pun karena blog.

Yang memelihara tulisan-tulisan itu pun adalah blog. Layaknya ruang arsip untuk tulisan-tulisan yang selesai ditulis dengan baik. Yang mungkin suatu saat rindu untuk membaca ulang satu persatu. Nostalgia dengan kenangannya. 

Yang diharapkan ada kebaikan-kebaikan yang bermanfaat karenanya adalah blog. Seperti air, tulisan-tulisan itu tetap mengalir ke muara para pembacanya. Meskipun kelak penulisnya sudah tiada. 

Dan blog itu memiliki nama LAKARAN MINDA beralamat di www.azura-zie.com
Apakabar blogger2 tempo baheula?

  

Januari 20, 2018

DITAMPAKKAN RAHASIA

Pada hari ditampakkan segala rahasia. (86:9)

Di saat aib-aib itu di pertontonkan. Hendak ke mana wajahmu di palingkan? Hendak mencari apa untuk sekadar menutupi cela dan keburukan? Sedangkan pada hari itu dirimu ditelanjangi habis-habisan.

Lalu, di mana wajah pongah itu. Dulu kala, ketika terasa ringan mengumbar aurat. Terasa ringan meninggalkan shalat. Terasa ringan menanggalkan kewajiban. Terasa berat menyempatkan diri untuk memenuhi panggilan adzan.

Lalu, di mana punggung yang angkuh itu. Dulu kala, ketika setiap nasihat-nasihat diabaikan. Teguran-teguran tidak didengarkan. Ajakan-ajakan memperbaiki diri diacuhkan. Ayat-ayat Al-Qur'an dinistakan. Aturan-aturan agama menjadi gurauan. Di kala orang-orang soleh yang berpegang teguh kepada agamanya, justru menjadi bahan tertawaan.

Pada hari ditampakkan segala rahasia. Mampukah kita berdalih kalau itu bukan perbuatan kita?
  

Januari 19, 2018

PERBEDAAN DOA DAN ASA

Doa : entah sudah berapa ulang kamu eja. Dengan lirih, sampai merintih. Diam-diam, hingga dalam-dalam. Doa, tidak pernah terasa usang. Doa tetap membuat hatimu tenang, bahwa pada waktunya, yang selalu di doakan, menjadi milikmu jua, di hari yang sudah di tetapkan.

Harap : entah sudah sejauh apa ia melambungkan angan. Dengan ekspektasi yang sering berlebihan. Memberikan energi positif yang sangat membangun. Bagi siapa-siapa yang percaya, hal-hal baik akan selalu datang, setelah bersusah payah mengupayakan.

Dan perbedaan keduanya adalah : doa yang baik selalu ada garansi akan di kabulkan. Secara kontan maupun di angsur perlahan-lahan. Maka, berdoalah sebanyak mungkin. Dengan terus menggenggam yakin.

Sedangkan harap, tidak selalu berujung sesuai dengan keinginan. Maka, berharaplah seadanya. Sesuai dengan kemampuanmu melapangkan dada, di kala di rundung krundung
  

Januari 18, 2018

KEBETULAN

Kita yakini, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah ada dalam ketetapan. Sebab-sebab adalah proses. Akibat yang terjadi, tidaklah perlu ditanggapi dengan banyak protes. Sebab-sebab yang baik, membuat takdir itu menjadi lebih baik.

Dan kita berjalan sesuai dengan apa-apa yang menjadi harapan. Usaha satu upaya agar pada waktunya menjadi kenyataan. Doa menjadi cara paling lembut agar apa yang di harap lantas disegerakan.

Tapi, bila ternyata tidak sesuai dengan prasangka. Jauh dari apa yang di harapan. Bukan berarti langsung menyimpulkan hidup ini tidak adil, kan?

Sebab, kita tidak tahu satu detik apa yang akan terjadi ke depan. Boleh jadi ketidaksesuaian harapan itu, justru yang menyelamatkan kita dari kecewa, yang lebih besar dari pada dugaan.
Tersebab karena ketidaktahuan kita.

Dan semoga Allah masih menjadi yang pertama untuk di percaya. Di yakini setiap ketetapanNya.

  

Januari 10, 2018

TIDAK HARUS, TAPI MAU

“Aku ada kata-kata nih, coba dicek enak dibaca nggak? ‘seseorang yang sering bertanya memang harus ada, agar si serba tahu (bagian ini yang susah pasnya) bisa berbagi ilmu.”

“Jangan Si serba atuh, kesannya sombong.”

“Oh! Nah, makanya kurang pas.”

“Yang rajin bertanya memang harus selalu ada, agar yang lebih tahu, bisa berbagi ilmu.”

“Nahhhh, itu dia hahahaha...”

“Yang rajin bertanya memang perlu ada, agar yang lebih tahu, bisa berbagi ilmu.”

“Okok....”

“Yang rajin bertanya memang perlu ada, agar yang lebih tahu, juga berbagi ilmu. Kalau pakai kata ‘mau berbagi’ kesannya dipaksa ngebaginya.”

“Oh, jadi harus diperhatikan tiap kata-katanya.”

“Biar nggak ambigu, jadi kesannya secara tidak langsung saling berbagi tanpa diminta. Ikhlas apa adanya.”

“Satu lagi... satu lagi... bagaimana mengajak orang lain ke jalan kebaikan?”

“Cara yang paling tepat, ya, jadi jalan kebaikan itu sendiri. Seseorang kan cenderung mengikuti apa yang ia sukai. Nah, biar ajakan itu tepat sasaran, kamu sendiri harus bisa jadi ‘jalanan’ untuk dia, agar sukarela ‘ngekor’ di belakang. Jadi nggak perlu ada istilah ngajak, tapi sukarela ikut.”

“Caranya? jadi ‘jalanan’.”

“Contohin, kamu lakuin duluan, berasa di shaf paling depan. Paling tepat waktu dan tidak plinplan. Biar yang nantinya ngikutin juga nggak ragu sama keputusannya. Kamunya sendiri nggak ada perasaan telah mengajak. “

“Itu kan kalau dia satu keyakinan. Kalau buat yang beda agama gimana?”

“Sama aja seperti Rasulullah, berdakwah dengan teladan. Nggak ada unsur paksaan, mencontohkan dalam keseharian. Dan mereka pada akhirnya berbondong-bondong masuk islam. Hidayah tetap ada di kuasa Allah, kita hanya sebagai perantara. Dengan usahanya. “

“Mungkin aku harus banyak-banyak membaca kisah Rasulullah saat berdakwah. Tapi awalnya aku harus jadi pribadi yang baik dulu ya intinya.”

“Tidak harus, tapi mau.”

“Iya iya.”

“kalau pakai kata ‘harus’ ada kesan paksaan. Tapi kalau ‘mau’ itu sukarela.”

“Hahaha itu ‘paksaan’ ada lagi.”


  

Januari 07, 2018

LEBAH & SEMUT MERAH

Satu dari sekian banyak tanda-tanda kita sedang hidup di akhir zaman adalah fitnah yang merajalela. Kerusakan-kerusakan akhlak di mana-mana.

Maka di manakah posisi hati kita bila di ilustrasikan seperti di bawah ini. Muslim seperti apakah kita?

Layaknya sekumpulan lebah, yang bila tidak diganggu, mereka tidak berbahaya, hanya merutinitaskan keseharian mencari sari-sari yang baik. Hingga pada akhirnya membuahkan madu yang manis. Menebar kebaikan. Keberadaannya menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tapi, bila sekali saja di ganggu, dibuat marah, sekumpulan lebah kompak sekali menyerang musuh-musuhnya. Tanpa ampun. Tanpa pandang bulu. Sampai tercapai apa yang dituju.

Ataukah kita seperti sekumpulan semut merah yang sedang mengerubungi sisa-sisa makanan yang jatuh. Yang justru bila digertak sedikit saja, sekelompok semut merah itu akan langsung kocar-kacir berlarian ke sana kemari. Seperti tidak ada pegangan. Tidak punya pemimpin. Seperti lupa semut adalah satu kelompok yang kompak dalam bekerja.

Maka, coba renungi dalam hati. Muslim yang seperti apakah kita saat ini?

@azurazie_

Januari 06, 2018

PUNGGUK MERINDU BULAN

Kala fajar tiba, aku bagaikan pungguk yang merindukan rembulan. Sembari menyusuri jalan setapak menuju rumah-Mu. Aku memantau langit, mencari 'seonggok' rembulan. Di langit sebelah mana ia 'bertengger' pagi ini.

Bagaimana keadaanya, sabit?purnama? Sekantung doraemon? Redup? Terang benderang? Atau bahkan nyaris tertutup awan. Lalu, kupandangi beberapa detik, fokus ke arahnya. Termenung, dari pekatnya malam di luasnya bentangan langit , Dia bermurah hati menghadirkan setitik cahaya. Seperti setitik iman di dada, yang tiap saat terus menerus bertambah titik-titik hitam karena dosa. Dosa yang disengaja, dosa yang terbiasa, dosa yang tidak terasa.

Aku bagaikan pungguk yang selalu merindukan rembulan. Begitupun hidayah-Mu agar iman di jiwa selalu aman. Aamiin.

@azurazie_