Desember 30, 2018

CUKUP SIAP

Rasa syukur yang bertambah, melatih diri untuk selalu merasa cukup. Rasa sabar yang bertumbuh, mendidik diri untuk selalu merasa siap.

Kita selalu sepakat, sabar dan syukur harus selalu sepaket.

Senantiasa bersyukur, bisa membuat kita selalu merasa cukup. Kebutuhan itu selalu terasa terpenuhi. Tersebab, yakin Allah Maha Kaya, sedangkan kebutuhan manusia tidak ada apa-apanya dibanding karunia-Nya.

Senantiasa bersabar, bisa membuat kita selalu merasa siap. Tentang qada dan qadar-Nya. Tentang ketetapan-ketetapan-Nya. Lahaula Walaquwwata illa billah adalah azam sepenuh hati, menjadikan kita selalu merasa siap. Bersabar dalam ujian. Bersabar dalam kelapangan.


#quotezie_
#azurazie_

Desember 29, 2018

KHAWATIR

Penghujung tahun, selalu menjadi 'wacana' yang menarik. Meski sebagai seorang muslim - dan secara pribadi tidak ikut ber-uforia untuk merayakannya. Tetap saja tahun masehi ini menjadi semacam 'batasan' untuk beberapa hal. Terutama yang menyangkut dengan urusan dunia. Dari kalender meja yang harus diganti sampai agenda kerja yang perlu di susun dan diperbaharui.

Maka, sudah tidak asing lagi ditelinga kita, tentang resolusi-resolusi itu. Tentang rencana-rencana dan target untuk tahun depan.

Lalu, sebenarnya apa yang lebih kamu khawatirkan? Apa-apa yang akan kita hadapi di depan, atau apa-apa yang sudah kamu tinggalkan di belakang?

Masa depan akan selalu ada harapan baru, karena masih bisa mengandalkan pilihan-pilihan yang akan kita ambil untuk melaluinya. Baik dan buruk tergantung usaha kita. Sedangkan masa lalu adalah kenyataan yang telah terbentuk. Tidak lagi bisa diubah atau di apa-apakan lagi.

Mengingat hal itu, sebagai seseorang yang cukup aktif di beberapa media sosial, timbul kecemasan baru. Tentang apa-apa yang telah ditinggalkan kemarin-kemarin. Tulisan-tulisan lama, komentar-komentar yang telah dilakukan. Like and share. Semua itu telah terjadi dan perlu dipertanggungjawabkan. Bagaimana bila ada satu dua kata yang tanpa sengaja telah menyinggung atau menyakiti orang lain? Bagaimana bila ada satu dua tulisan yang terlanjur membuat harapan semu untuk orang lain? Buruknya, bagaimana bila ada yang menjerumuskan orang lain ke hal yang tidak baik? Naudzubillah.

Ini tentang kecemasan di dunia maya. Belum lagi yang menyangkut di dunia yang lebih nyata.
Semoga kita semua tambah lebih bijak untuk meninggalkan sesuatu di belakang, tambah lebih bijak untuk merencanakan masa depan. Agar hal buruk tidak lagi terjadi. Agar pribadi dan lingkungan sekitar menjadi lebih baik lagi.


#azurazie_

Desember 27, 2018

KUN ANTA

Jadilah diri sendiri. Begitu biasanya orang lain memberimu nasihat sederhana. Tapi, sadarkah kamu, apa-apa yang melibatkan dirinya sendiri, biasanya bisa begitu tangguh atau amatlah rapuh.

Sebab, bila sudah melibatkan sepenuh sadar atas dirinya sendiri, otomatis ia akan membawa yang namanya perasaan. Perasaan itulah yang pada akhirnya berpengaruh besar pada langkah berikutnya. Pada pilihan-pilihan yang akan diambilnya kemudian.

Seseorang yang percaya sepenuhnya pada kemampuan sendiri, ia akan menjadi sangat tangguh. Apabila berhasil menjadi dirinya sendiri. Tanpa ada pengaruh dari orang lain. Tekadnya kukuh sepenuh harap, percaya dengan apa yang menjadi pilihannya. Sesuatu yang dipertaruhkan untuk kebaikan langkahnya.

Sebaliknya, seseorang yang pada dasarnya tidak terlalu percaya diri akan kemampuannya sendiri, ia bisa jadi sangat rapuh. Nasihat jadilah diri sendiri tidak serta merta membangkitkan kekuatannya. Justru membuat ia tambah sadar, bahwa dirinya sendiri tidak terlalu baik untuk menyelesaikan sesuatu.

Lalu, apa yang dibutuhkan untuk tetap menjadi diri sendiri, dengan sikap yang paling bijak? Selalu berusaha percaya sepenuhnya, kalau bukan karena kemauan dirinya sendiri untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Siapa lagi yang paling bisa diandalkan untuk melakukan perubahan.
Jadilah diri sendiri, bukan sekadar membuatmu jadi lebih tangguh. Tapi, membantu memperbaiki sisi rapuhmu dengan sungguh-sungguh.

#azurazie_

Desember 14, 2018

ANTARA ADZAN DAN IQOMAH

Bagaimana bila dunia ini sesingkat waktu antara adzan dan iqomah? Perkara soal dunia, lenyap semenjak kaki kanan melangkah masuk ke masjid. Waktu terbaik untuk sepenuh hati bersujud.

Kualitas hidup itu, seperti waktu antara adzan dan iqomah. Dalam keadaan bersuci duduk bersila, jemari kanan menggilir butir-butir tasbih, seraya lidah mengeja istighfar. Jemari kiri menengadah, seraya hati ikut berdoa untuk terhapusnya dosa-dosa yang diperbuat dengan terlanjur.

Bagaimana bila dunia sesingkat waktu antara adzan dan iqomah? Di manakah saat itu dirimu berada? Siap menjadi makmum untuk imam yang terpilih? Atau menjadi masbuk yang terburu-buru mencari shaf kosong, takut tertinggal jauh? Atau seringnya telinga dan hati tertutup gemerlapnya dunia, tak peduli dengan panggilan adzan. Bila dunia sesingkat waktu antara adzan dan iqomah, segera tentukan pilihan.


@azurazie_

November 27, 2018

RITME

Adakalanya kita merasa kewalahan mengikuti ritme seseorang yang selalu serba cepat. Bertindak dengan gesit. Seolah tidak ada bahasa lelah di dalam kamus kehidupannya. Kita merasa perlu mengatur napas tiap-tiap berusaha mensejajari langkahnya. Yang bila berhenti sebentar saja, langkahnya semakin jauh. Jangkauannya semakin sulit direngkuh. Adakalanya kita merasa kewalahan mengikuti ritme perjalanan seseorang. Di waktu yang bersamaan merasa takut sekali untuk ketinggalan. Atau sekadar memang kebutuhan untuk selalu membersamainya.

Adalakanya kita merasa gemas menunggu keterlambatan seseorang. Sekuat apapun dorongan yang kita perbuat untuk memantunya lebih cepat, tetap tidak membantu banyak. Sebab, tiap-tiap langkahnya memang benar-benar lambat.

Merasa gemas dengan ketidaktepatan waktu seseorang.  Di waktu bersamaan, keberadaannya memang seperti selalu di maklumi. Selalu butuh ditunggu. Agar perasaan kita sendiri selalu nyaman. Agar keberadaanya pun selalu aman dalam jangkauan.

Adakalanya begitulah relatifnya waktu memberi pelajaran. Tidak sekadar seberapa cepat langkah-langkah itu. Atau seberapa lama jejak-jejak itu akan sampai. Ini tentang kebersamaan yang selalu ingin diusahakan. Kebersamaan yang selalu ingin dirindukan.

#azurazie_

November 15, 2018

DI LUAR RENCANA

Adakalanya, kita dihadapi oleh situasi dan kondisi yang di luar perencanaan kita. Hitungannya jauh meleset. Lebih menguras tenaga. Lebih membutuhkan banyak waktu dalam penyelesaiannya. Seringnya kita mudah sekali berkecil hati akan hal itu.

Padahal, bisa saja hal yang demikian di atas, adalah salah satu upaya yang diperlukan. Agar apa-apa yang sedang kita usahakan. Apa-apa yang benar-benar kita perlukan. Bisa menjadi lebih matang dalam kesempurnaan. Bila ditarik kesimpulannya, bisa jadi kalau kita tidak mengusahakannya dengan sampai begitu, hasilnya bisa jadi tidak pernah kita nikmati seutuhnya. Bisa menjadikan kita tidak pernah ke mana-mana.

Sesuatu yang menuntutmu mengeluarkan lebih, memang adakalanya membuatmu menjadi lebih letih. Tapi, sesuatu yang menuntunmu untuk ikhlas menjalani dengan lillah. Insya Allah, hasilnya bisa menjadi lebih berkah.

Semoga dengan ini menjadi tambah semangat.
#tjintayangbercerita
#azurazie_

November 12, 2018

BUKU T(J)INTA YANG BERCERITA







Judul : T(j)inta yang bercerita
Tebal : 206 Halaman

Alhamdulillah, buku ke-6 saya sudah ada versi cetaknya. Setelah cukup lama tertunda dan prosesnya lebih lama dari buku-buku sebelumnya.

Mungkin memang begitu adanya, sesuatu yang dikira kita belum juga selesai-selesai, sebenarnya proses disempurnakannya memang belum usai. Minimal ketetapan untuk ketepatan waktunya belum akurat. Tidak ada yang terlambat, bila kita selalu percaya dengan ketetapan-Nya dengan sepenuh taat.

Buku ini diberi judul #T(J)INTAYANGBERCERITA adalah sebuah kumpulan tulisan-tulisan yang judulnya disusun secara runut dari A-Z

Dan dipenggal menjadi 3 bagian.
- Tinta yang menuliskan cerita
- Cinta yang menceritakan kisah
- Remah-remah hikmah

Ada 42 judul tulisan yang nano-nano di dalamnya. Dan yang membuat saya agak spechless adalah baru menyadari ternyata terbitnya tepat di bulan kelahiran Rasulullah. Rabiul Awal. Karena dua judul tulisan di dalamnya memang didedikasikan untuk mengungkap rindu kepadanya. Masya Allah, skenario Allah memanglah yang terbaik.

Tak lupa saya ingin mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat yang terlibat dalam kelahiran buku ke-6 ini. Khusus kepada @fathurriziq yang membuatkan cover dan @lainilaitu yang dengan sabar menyusun layoutnya menjadi lebih baik.

Tentu tak ketinggalan sepenuh cinta untuk @sekitar_putri yang selalu mau membersamai dalam semangat, agar buku ini bisa selesai sesuai komitmen di awalnya.
Besar harapan semoga apa yang sudah ditulis ada manfaat untuk pribadi saya dan untuk pembaca pada umumnya. Aamiin.

Salam literasi

#tjintayangbercerita
#azurazie_

November 11, 2018

KELAHIRANMU, YA RASULULLAH

Ya Rasulullah.
Kelahiranmu, adalah berkah untuk alam semesta.
Kehadiranmu, menjadi pelega rindu sahabat-sahabat yang mencinta.
Ketiadaanmu, menjadi lara untuk Bilal, si budak hitam yang merdeka.
Bersamamu, begitu hangat untuk iman yang mengukuh di dada.

Ya Rasulullah.
Meski kami hanyalah ummat akhir zaman yang belum pernah bersua.
Shalawat atasmu adalah rasa gembira.
Mereda rindu yang menghujam kuat di dada.
Kelahiranmu adalah syafaat yang nyata kala hidup di dunia.
Sebab, tanpa nurmu tiada akan dunia dan isinya tercipta.
Sebab, tanpamu tiada kami kenal keagungan Ilahi, Azza Wajalla.

Ya Rasulullah.
Terima kasih atas titipan rindu di kala itu. Rindu yang sempat dicemburui oleh sahabat-sahabatmu.
Kepada segolongan ummat yang hidup jauh setelah masamu.
Pada hati mereka ada cinta yang begitu nyata.
Dalam relung jiwa yang merintih asa.
Cinta yang menumpuk menjadi azam yang kuat.
Di bawah naungan benderamu kelak, cinta tersambut dengan syafaat.

#Azurazie_

Oktober 28, 2018

INI TENTANG

Ini tentang keberpihakan kita akan sesuatu. Tentang like, share, komen ketika berinteraksi di dunia maya. Ada istilah dosa jariah. Apa-apa yang kita bagikan, bila ternyata lebih banyak mudhorot untuk orang lain. Menginspirasi orang lain untuk melakukan yang tidak-tidak. Yang lebih sederhana, perkara like pun bisa jadi ikut andil dalam keberpihakan untuk hal-hal tertentu. Yang kelak di hari peradilan akan dituntut bertanggung jawab atau sekadar di interogasi sejauh mana kita terlibat dengan 'kasus' itu ketika masih di dunia dulu.

Ini tentang seberapa greget kita untuk menyampaikan sesuatu yang baik. Menjadi pemegang estafet kebaikan pertama, kedua ataupun ketiga. Kebaikan itu tidak terputus padamu. Atau kebaikan itu tidak terhambat karena ulahmu.

Ini tentang bagaimana peranmu berinteraksi di dunia maya. Pun bagaimana juga di kehidupan sehari-hari dunia nyata.

@azurazie_

Oktober 27, 2018

JEMARI YANG MENULIS

Saat ini, JEMARI TANGAN gatal sekali ingin menuliskan sesuatu. Tapi, kira-kira menulis apalagi ya?  OTAK yang sedang berpikir, melihat kecemasaan itu. Ia ingin membantu untuk sekadar mengusulkan ide. Bukankah masih banyak sekali bahan-bahan yang bisa dijadikan tulisan, dirangkai menjadi cerita. Bukankah masih banyak lembar-lembar perenungan itu, tentang kebaikan-kebaikan itu. Tentang nikmat-nikmat yang banyak itu. Tentang keresahan-keresahan itu. Hmmm... hmmm.. OTAK bergumam. Tentu saja jika semua ide yang ia pikirkan barusan benar-benar ditulis, Ia yakin JEMARI TANGAN tidak akan sanggup. Bisa-bisa pegal dia. OTAK mulai jumawa, bahwa ide-idenya masih begitu banyak berseliweran di pikiran. Sedangkan JEMARI TANGAN makin lesu, karena tidak ada satu katapun yang berhasil ia tulis.

Ketika sedang terjadi peristiwa itu. HATI diam-diam mengamati dari kejauhan. Ia menangkap ada sesuatu yang tidak beres. HATI pun menghampiri OTAK, 'menepuk pundaknya' dengan lembut.

"Hai OTAK, saudara setubuhku. Janganlah menjadi jumawa seperti itu. Jika sudah terlanjur terjerumus kekubangan riya. Sebanyak apapun tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh JEMARI TANGAN. Tidak akan ada manfaatnya. Ia hanya akan menulis tentang kesombongan, bukan lagi menulis tentang kebaikan. Niatnya sudah keliru."

Tiba-tiba OTAK memijit-mijit kepalanya. Benar sekali, ia telah khilaf sehingga sempat jumawa tadi. Dan kepada JEMARI TANGAN, hati memberi nasihat yang bijak.

"Tulislah apa-apa yang menurutmu bisa memantul kembali pada dirimu sendiri. Bila itu sebuah petikan nasihat yang pernah kamu dengar dari petuah-petuah bijak, minimal tulisan itu memantul kembali sebagai pengingat. Bila itu sebuah tulisan peringatan tentang kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat. Minimal tulisan itu bisa menjadi penegur, memantul agar dirimu menjadi lebih baik."

JEMARI TANGAN mengangguk mendengarkan nasihat dari HATI. Dan OTAK pun dengan perasaan lebih rendah hati memberikan satu ide untuk ditulis oleh JEMARI TANGAN.

Sedangkan HATI, selepas memberikan nasihat-nasihat kepada saudara setubuhnya. Mendadak mencelos. Ia takut apa yang telah ia sampaikan, sebenarnya belum benar-benar ia terapkan pada dirinya sendiri.

@azurazie_

ISYARAT RINDU

Bila dirimu terbangun di sepertiga malam, dengan alarm. Qum! Bangunlah segera, upayamu sedang dimudahkan oleh-Nya. Niat sebelum tidur itu dikabulkan di saat itu juga. Maka, berwudhulah jangan ragu. Bersujudlah, menghamba kepada Rabbmu. Bersimpuh mengutarakan isi hatimu.

Bila dirimu terbangun di sepertiga malam, tanpa alarm. Qum! Bangunlah segera, itulah isyarat rindu. Allah tengah merindu keluh kesahmu, menunggu rintih lirih doa-doamu. Maka, berwudhulah jangan ditunda-tunda. Bersujudlah dengan debar rindu di dalam dada. Kebiasaan itu sudah melatih dirimu untuk bangun tepat waktu. Pertahankan itu.

Bila dirimu tidak terbangun di sepertiga malam dengan atau tanpa alarm. Berkecil hatilah, barangkali azammu belum kuat. Atau hatimu belum begitu terikat oleh rindu-Nya. Raba hatimu, biasa saja kah tanpa ada rasa kecewa. Tidak juga bergerak hati itu untuk berusaha di rindu di sepertiga malam-Nya. Renungi dalam-dalam. Sebelum hatimu benar-benar mati, tidak juga terpanggil. Walaupun hanya sekadar keinginan untuk bangun.

@azurazie_

Oktober 25, 2018

CARA ALLAH MENGHIBURMU

Pernahkah kamu, ketika sedang dalam keadaan crowded, suntuk, riweh dengan dateline ini itu, tiba-tiba banyak permintaan ini itu. Ketika yang demikian membuat kepalamu pening, rungsing dan pusing. Emosimu yang sedikit meningkat. Sembari rasa sabar itu pun kamu berusaha lebih kuat. Pada saat itu, tanpa kamu sadari, ada saja kejadian sederhana yang membuat ketegangan itu terasa lebih 'lunak' untuk sementara.
 
 Semisal, ketika sedang mengalami itu, tiba-tiba saja ponselmu berdering. Telepon dari nomor yang tidak dikenal atau bisa juga yang dikenal. Logikanya di saat-saat seperti itu, biasanya dirimu enggan untuk menerima panggilan. Dering ponsel itu kamu hiraukan. Toh, ada sesuatu yang lebih butuh perhatian. Lebih menuntut untuk diselesaikan. Tapi, ternyata ada yang menggerakkan hatimu untuk tetap mengangkat telepon itu. Terjadilah percakapan itu.
 
"Haloo." 
 
"Iya haloo dengan siapa, ya?" 
 
"Loh, kok? Ini dengan siapa? Ada apa tadi nomor ini menghubungi saya duluan." 
 
"Ah, masa? Apa kepencet, ya?" 
 
"Bisa jadi kali ya, dikira tiba-tiba nelpon ada apa." 
 
"Hehe... nggak kok. Kayaknya emang kepencet. Btw gimana kabar bro?" 
 
"Alhamdulillah sehat-sehat. Tinggal di mana sekarang, bro?" Seketika senyum itu merekah. Mendengar suara teman lama yang sudah lama tak saling memberi kabar pun begitu menyenangkan. Begitulah, percakapan sederhana itu cukup mampu menguapkan penatnya pikiran. Melemaskan otot-otot kepala yang tadinya tegang. Setelah itu kamu menjadi merenungi satu hal. Masya Allah, selalu ada cara Allah untuk menghibur hamba-Nya. Selalu ada sesuatu untuk mengingatkan hamba-Nya. Bahwa apa yang kamu sedang kerjakan, apa yang sedang kamu upayakan dengan sebegitu seriusnya. Dengan sebegitu menguras tenaga, konsentrasi, emosi. Hanyalah bersifat fana. Duniawi. Yang tidak sampai di bawa mati.  
 
Sungguh, selalu ada cara Allah untuk menghibur hamba-Nya. Semoga kita bisa selalu peka untuk merenunginya.
 
@azurazie_

Oktober 23, 2018

TETANGGA DI DUNIA MAYA

Di ‘galaksi’ dunia maya, ruang bebas tempat ribuan kata-kata berseliweran di sana. Tulisan-tulisan tentang segala informasi dunia ini. Baik yang benar-benar berupa info berharga, ilmu pengetahuan, berita-berita penting yang sedang terjadi. Maupun hanya keluhan-keluhan yang berceceran, ungkapan-ungkapan perasaan yang ikut berserakan.
Semua hal itu banyak tersedia di rumah-rumah maya yang tumbuh menjamur di sana. Baik berbentuk web, blog, tumblr, instagram dan media-media lainnya. Tulisan-tulisan itu setiap detiknya akan terus bertambah, menjejali otak setiap manusia-manusia yang ‘haus’ informasi dunia maya. Mereka yang selalu update dan rajin membacanya. Manusia-manusia yang keranjingan internet. Yang online dengan gaget-nya setiap menit.


Dan di antara rumah-rumah maya itu, berdiri sebuah ‘gubug sederhana’, yang ikut meramaikan euporia dunia maya. @azurazie_ nama pemiliknya, www.azurazie.com adalah alamat url-nya. Yang di setiap ada kesempatan akan memposting tulisan-tulisan sederhana di rumah maya itu. Berusaha menjamu pengunjung yang datang dengan tulisan-tulisan yang (semoga) bermutu. Atau setidaknya tersirat kebaikan di setiap kata-katanya. Yang bisa 'dibawa pulang' setelah membacanya. Barangkali itulah yang sejauh ini diharapkan oleh si pemilik akun.

Meski di lain sisi, dalam perenungan yang panjang. Ia mulai khawatir, bila apa-apa yang telah ditulis. Terlanjur dibagikan, ada 'duri dalam daging'. Ada yang menyinggung dalam perasaan. Ada yang keliru dalam perkataan. Ia menjadi tetangga yang buruk di dunia maya. Yang keberadaannya tidak menambah manfaat. Alih-alih hanya menambah 'ganjalan' di akhirat.

Maka, seyogyanya penduduk setempat dalam perkampungan. Ia ingin terus berusaha membaur dalam perkumpulan-perkumpulan yang positif. Dalam diskusi-diskusi yang manfaat. Menyimak nasihat demi nasihat para 'sesepuh' yang lebih dulu hijrah dalam kebaikan. Ia berusaha membaur tanpa harus melebur. Tetap memiliki pendirian dalam kokohnya pijakan. Sambil sesekali mengutarakan pendapat. Ia ingin ikut punya andil dalam mufakat. Ia berusaha menyapa dengan sopan, ikut menyeru kebaikan dalam pesan.

Dan pada waktunya, sebelum dirinya terlanjut (suatu saat) menghilang dalam peredaran. Entah faktor apa yang menyebabkan itu. Diluar kuasanya dalam berusaha. Satu harapnya,   maafkan ia bila dalam 'tegur sapa' sebagai tetangga di dunia maya. Ada yang tidak berkenan. Barangkali satu-dua ada becandanya yang berlebihan. Komentar-komentar atau sekadar like yang kurang berkenan. Semoga itu menjadi pemakluman. Sebagai tetangga yang selalu ingin terlihat akrab dan ingin suasana selalu hangat.

@azurazie_

Oktober 18, 2018

CERITA TENTANG BLOG DI MASA ITU

Saya aktif ngeblog per november 2011. Sudah lama juga ya, dari zaman nama blognya agak 4lay. Sampai akhirnya memutuskan menggunakan jasa web berbayar kira-kira dari 5 tahun yang lalu. Hingga sampai hari ini beralamatkan azura-zie.com. Alhamdulillah.

Banyak hal menarik ternyata dari #ngeblog ini, salah satu di antaranya memiliki teman sehobi yang sama. Suka berbagi tulisan. Atau bisa dibilang suka curhat lewat tulisan. Dari berbagai macam daerah. Baik yang pernah bertemu di dunia nyata. Maupun sama sekali belum pernah kopidarat. Yang beberapa masih aktif berkomunikasi sampai hari ini. Lebih banyak lagi yang sudah tidak tahu bagaimana lagi kabarnya. Blognya pun sudah mirip goa yang lama tidak pernah dihuni. Horor. Sudah tidak ada update postingan bertahun-tahun. Saya berdoa di mana pun mereka berada semoga selalu dalam lindungan Allah subhanahu wata'ala. Dari blog ini juga lah, pada akhirnya proses belajar menulis dengan baik itu berlanjut hingga hari ini. Alhamdulillah. Suka merasa heboh sendiri juga bila melihat jumlah postingan blog dari 2011-2018. Ternyata sudah sebanyak itu. Sambil mengingat-ingat apa aja yang sudah berhasil di tulis dengan baik. 

Apalagi kalau di baca ulang secara random, suka ke pingin ketawa sendiri. Ternyata pernah menuliskan itu. Ternyata pernah mengalami cerita itu. menarik kan, ternyata adalah benar kenangan itu bisa saja mengendap dalam tulisan. 

Dari blog ini juga lah saya menyadari satu hal, bila dulu sewaktu masih sekolah bisa dibilang menyepelekan pelajaran bahasa indonesia. Ternyata setelah menekuni dunia literasi, ejaan yang disempurnakan itu sangat penting. Bahwa yang namanya ilmu itu tidak bisa disepelekan. Suatu saat kita sangat butuhkan. Kita pasti pernah merasa gregetan ketika membaca sebuah buku, dan kita dapati banyak sekali typonya. Salah tulisnya. Iya kan?
Dan benar adanya, menulis pun bagi saya merupakan katarsis yang baik. Kita bisa menyalurkan unek-unek di kepala. Buah pikiran. Ganjalan di hati. Salah satunya bisa melalui tulisan. Segala bentuk ekspresi itu tumpah ruah dalam tulisan. Efeknya bisa merasa lebih lega setelah berhasil menuliskannya. Walaupun kasarnya tulisan itu pada akhirnya cuma kita sendiri yang membacanya. Yang suatu hari kita bisa merenungi sesuatu dari tulisan itu sendiri.

Makanya, saya selalu salut kepada penulis-penulis, yang dengan tulisan-tulisannya bisa membuka pikiran orang lain menjadi lebih baik. Membuka sudut pandang yang berbeda. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita mungkin bingung harus ke mana mencari jawabannya. Tulisan yang menginspirasi untuk menjadi lebih baik. Terbuka dan berlapang dada. Salut! Semoga kebaikan-kebaikan itu terus mengalir kepada mereka.  

Suatu hari tiba-tiba terbersit kesadaran itu. Bahwa setiap sesuatu ada umur-umurnya. Ada masa-masanya. Seperti masa-masa #ngeblog itu. Barangkali untuk #blogger yang pernah saya kenal dulu, sudah tidak menjadi prioritas utama mereka untuk mengisi blog. Suka tiba-tiba sedih rumah tetangga di dunia maya itu sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

Segala sesuatu ada umur-umurnya. Tidak menutup kemungkinan masa-masa blog itu pun ada batasnya. Ada sudahnya. Entah aplikasinya yang sudah tidak bisa di akses. Seperti para pendahulunya : #friendster atau yang baru baru ini #path. Makanya sebelum itu terjadi ingin rasanya mem-backup tulisan-tulisan di blog itu. Agar suatu saat ketika ingin dibaca. Masih bisa. Tercetuslah ide untuk membukukan nya dalam buku #Lakaranminda dan #titiktemu. Kedua buku itu adalah tulisan-tulisan di blog yang dibukukan.
Seperti kedua buku pendahulunya #tjintayangbercerita itu pun sama. Berisi tulisan-tulisan yang pernah dimuat di blog, yang diperbaharui agar lebih 'enak' dibaca. Ada beberapa judul juga yang belum pernah diposting di mana-mana. Ada kurang lebih 41 judul tulisan. Yang random sekali. Yang diurut sesuai abjad. Dari A hingga Z.

Sebagai seseorang yang cukup hobi membaca dan mengkoleksi buku. Rasanya ingin di antara jejeran buku koleksi itu ada buku tulisan sendiri. Alhamdulillah terwujud. Dua novel #NafAs2Masa dan #KampusHijaiah sudah ada dalam versi cetaknya.
Dengan harapan, semoga apa-apa yang pernah ditulis selalu bisa menjadi pelajaran berharga untuk diri sendiri. Minimal belajar mengisi waktu luang dengan hal-hal yang positif. Contohnya menulis.

Demikian cerita blog kali ini. Apa ceritamu wahal #blogger tanah air? :) #blogger
 


@azurazie_

Oktober 14, 2018

TANPA TENDENSI

Seringnya kita, menuntut lebih untuk mendapatkan sesuatu. Alih-alih setelah mengeluarkan lebih banyak dari biasanya. Begitulah, fase memberi kita masih banyak mempertimbangkan untung rugi. Masih menitikberatkan timbal balik. Baik yang berhubungan dengan manusia dan bumi. Maupun yang berhubungan dengan langit dalam doa. 

Ingat-ingat, dalam berdoa pun kita seringnya menuntutnya lebih. Dalam bersedekah kita mengharapkan sesuatu yang lebih berlipat ganda. Selalu ada yang merasa, setelah mengeluarkan lebih banyak, harus kembali pun berkali lipat. Memang penting sih untuk berharap yang demikian. Itu namanya motivasi agar doa dan sedekah lebih bersungguh-sungguh lagi. Tentu dalam catatan hanya diri sendiri yang tahu ritual itu. Jauh dari kata riya dan keinginan dipuji-puji setelahnya.

Akan tetapi, tak bisakah kita sekali-sekali memberi, ya, memberi saja. Berdoa, ya, berdoa saja. Tanpa tendensi apa-apa. Memberi yang tulus, berdoa yang tulus. Dengan tidak memikirkan tuntutan apa setelah yang kita lakukan. Bukankah janji Allah adalah benar. Tanpa menuntut pun, doa itu akan dikabulkan. Sedekah itu akan dilipatgandakan. Maka, cukuplah kita hanya memberi. Cukuplah kita hanya melakukan. Untuk kebaikan-kebaikan setelahnya, biar dipercayakan kepada Allah saja. Toh, sejauh ini kita hidup memang sudah benar-benar dirawat oleh Tuhan Yang Maha Baik dan Mengatur Kehidupan kita di masa depan. Bijaknya, kita cukup hidup dalam aturan-aturan yang telah ditetapkan. Itu saja.

@azurazie_

Oktober 13, 2018

BUKU FUTUR(E)


Pernahkah kamu mendengar sepotong nasihat bijak : Jangan pernah mengumbar kata cinta kepada seorang perempuan, bila belum siap untuk menikahinya. Atau di satu sisi, jangan pernah termakan rayuan gombal seorang laki-laki, bila ia belum ada keberanian untuk menemui walimu.

Karena itu hanya bentuk perasaan semu, yang mudah buyar dan ambyar seiring perjalanan waktu. Tidak ada ikatan yang mengukuhkan.

Berawal dari nasihat-nasihat itu, lahirlah Futur(e). Tentang kisah dua orang yang menahan 'gemas' ingin mengutarakan perasaan masing-masing dengan gamblang. Dengan terang-terangan. Tapi berkomitmen dengan azamnya sendiri untuk menahan itu semua. Menunggu dalam ketepatan waktu. Hingga perasaan itu hanya saling menyapa dalam 'sindiran-sindiran' tulisan pendek. Sama-sama tahu bahwa itu yang dimaksud satu sama lain. Tapi keduanya sekadar cukup tahu. Sampai benar-benar ada ikatan.

Allah Maha Tahu niat baik mereka. Hingga lahirlah Futur(E) pada ketetapan-Nya.

Pernahkah kamu menunggu, dengan hati yang begitu berdebar? Getar-getar rindu, bercampur baur dengan cemas. Dalam benak ikut bertanya-tanya, yang telah lama ditunggu akankah benar-benar akan datang? Yang lama di nanti, apakah benar-benar yang diharapkan? Penuh khawatir. Menaruhkan seluruh keyakinan. 50:50. Gambling. Karena keterbatasan tahu, apa yang sebenarnya terjadi di masa depan. Keterbatasan tahu, apa yang sebenarnya akan datang. 

Apakah hanya bermodal keyakinan itu, hati menjadi jauh lebih tenang? Yakin bahwa sesuatu yang memang ditakdirkan dan akan menjadi milikmu, tanpa ditunggu pun, pasti akan datangnya. Apalagi bila dibarengi dengan niatmu menunggu. Bukankah itu pun adalah bentuk usaha? 

Tapi apakah hati sudah seyakin itu? Bukankah kita lebih tenang bila sesuatu itu terlihat wujudnya? Hanya berjarak sepelemparan batu. Lalu, sejauh ini apa yang membuatmu masih bertahan menunggu? 

#Futur(E)
@SekitarPutri
@azurazie_

LIHAT DENGAR RASAKAN

Sebagai makhluk yang berpikir, manusia tidak selalu harus lebih dulu menjadi pakar akan sesuatu. Agar tiap-tiap pertanyaan dalam hidupnya, sedikit banyak ada jawaban. Cukup mengasah kepekaan pada sekitar yang masih dalam jangkauannya. Melihat dengan lebih jeli, mendengar dengan lebih fokus dan merasakan dengan lebih halus. Dengan begitu, tentu ada sesuatu yang berhasil ia tangkap dalam inderanya. Sesuatu yang bisa dipikirkan lebih jauh. Direnungi lebih dalam. Pada akhirnya, ada hikmah pelajaran pada tiap kisah. Baik cerita hidupnya sendiri ataupun kisah dari hidup orang lain.

Maka, boleh jadi apa yang telah kamu lihat, apa yang telah kamu dengar, apa yang telah kamu rasakan, adalah sepotong jawaban dari apa yang selama ini kamu pertanyakan. Dalam konteks lain, apa yang selama ini kamu cari, sebenarnya selalu di dekatmu sendiri. 

Maka, mulailah belajar untuk melihat, mendengar dan merasakan dalam kepekaan lebih dalam. Untuk kemudian dipikir dan renungi diam-diam. Tentunya untuk sesuatu yang lebih baik lagi, kedepan.

@azurazie_

Oktober 12, 2018

KEPALA DAN HATI


Tiap-tiap kepala memiliki pertanyaan yang berbeda-beda. Mulai  dari doa yang selalu bertambah, belum juga matang. Hingga harapan-harapan yang terus bertumbuh dan belum juga datang. Dari perkara yang remeh tak terlalu penting. Hingga sesuatu yang krusial dan terasa genting. Jika di waktu dekat, tidak juga dapat. Keinginan manusia yang beraneka ragam, yang seringnya tidak didasari dengan kemampuan.

Dari begitu banyak pertanyaan itu, menimbun dalam kepala untuk dipikirkan. Meski kebanyakan tidak tahu persis, kapan perkiraannya bisa peroleh jawaban.

Allah yang Maha Kuasa mencipta kepala dalam bentuk yang sangat istimewa. Mampu menampung semua kegelisahan itu dengan kapasitas muatan yang luar biasa. Ya, meski bila terlalu dipikirkan, ujung-ujungnya sedikit pening dan kebanyakan pusing.

Alhamdulillahnya, tidak berlaku untuk hati. Kapasitas dan daya tampungnya jauh lebih luas dari kepala. Apalagi hati yang terdidik untuk selalu merasa lapang dalam penerimaan. Hati yang memiliki pemahaman baik yang selalu berhusnudzon di tiap-tiap keadaan. Hati itu mampu membantu mereda pusing di kepala.

Seperti kisah #kampushijaiah, dari Alif, Ba, Ta, Hingga Ya. Semoga hatimu selalu mampu membimbing kepala, untuk memikirkan banyak jalan keluar dengan rasa sabar dan syukur. Untuk tiap-tiap pertanyaanmu tentang banyak hal. Dari  cara A hingga Z, masa tidak ada satupun yang terpenuhi jawabannya. Mari banyak berpikir.

@azurazie_

September 22, 2018

NOVEL KAMPUS HIJAIAH



Kisah perjalanan
Hijrah Amala (Ra)
Kalam Qadri (Lam)
Fatih L Makki (Fa)
Jim Azami (Jim)

Yang seru untuk di ikuti.
Ada juga kekompakan 4 sekawan : 'Ain, Alif, Si kembar Sin & Shin. Yang mencari 'harta karun' dan memecahkan misteri dari Paman, Uncle, Abang Jim.
Ada juga tokoh-tokoh seru lainnya seperti Abah Tanwin dan Ummi Nun
Paman Idghom Mutamasilan & Bibi Ta Marbutoh. Saktah. Idzhar. Dll.

Semua itu bisa dibaca di Novel Kampus Hijaiah. 

 ............

_#Repost from @icaaisyaah with @regram.app ... Terima kasih telah mengenalkanku pada sebuah kisah persahabatan yang sarat akan ukhuwah menuju syurga-Nya, terima kasih telah mengenalkanku pada sosok Hijrah 'Ra' yang berani, bijak, dan juga memiliki kelembutan hati, menerima semua kenyataan yang telah ditetapkan Rabb dengan pandangan positif.
Terima kasih telah mengenalkanku pada sosok Fatih 'Fa' yang memiliki sikap tegas, aktif, dan juga cerdas .

Terima kasih telah mengenalkanku pada sosok kalam 'Lam', seorang pemuda pekerja keras, sosok yg berusaha dan menggantungkan hasil kepada Rabbnya, dan Jim yang menambah kehangatan persahabatan dalam kampus hijaiah dengan sikap ramah dan jenakanya.

Kisah seputar kampus yang seperti raudhah, dimana di dalamnya tumbuh generasi rabbani yang tidak hanya aktif, kreatif, namun juga memiliki akhlak yg baik, kisah persahabatan, cinta, dari mulai Alif sampai dengan Ya, juga dalam setiap chapternya memiliki nilai moral yang dibungkus dengan bahasa yg mudah dimengerti. Terutama chapter yang paling menyentuh ketika membaca tentang fitnah dunia ๐Ÿ’•

Special thanks to @sekitar_putri dan @azurazie_ yg telah mempertemukanku dengan Kampus Hijaiah, banyak pelajaran yang bisa diambil, dan maaf karna baru bisa mereview buku ini sekarang ๐Ÿ™
Ditunggu untuk karya selanjutnya ๐Ÿ˜Š

Recomended for all good readers, terutama remaja awal sampai dewasa ๐Ÿ‘


 @azurazie_




NOVEL NAFAS 2 MASA



Tentang perasaan yang bertanya - tanya, siapa sosok yang bersembunyi di dalam tulisan - tulisan yang selama ini mewarnai hari - hari keduanya, terpanggil satu sama lain untuk mencari tahu sosok misterius itu.

Siapakah dia? Seperti apa wajahnya? Berapa umurnya? Kenapa tidak pernah pasang foto di media sosial? Atau memang tidak punya? Hanya blognya saja? Lalu kenapa tidak pernah ada biografi di belakang buku-bukunya?
Ah, kenapa aku begitu penasaran dengan sosok itu?

Pernahkah kalian jatuh cinta kepada tulisan seseorang? Atau jangan-jangan jatuh cinta sama penulisnya juga?

................
 Aku pernah membaca tulisan seseorang, yang dengan tulisannya itu, membuka pemahaman baru. Tentang sisi lain yang tidak terlintas dipikiran sebelumnya. Tentang sisi yang lebih baik dari prasangka yang kadung aku percayai. Tentang sisi putih yang lebih tentram membawa kelapangan hati.

Barangkali bila aku tidak pernah membaca tulisan itu, selamanya aku akan terkukung oleh sisi yang kubaca dengan egoku sendiri. Sisi abu-abu yang aku yakini itulah yang paling masuk akal. Itulah yang paling mendekati benar.

Bahwa hidup ini akan selalu ada hitam dan putih. Kanan dan kiri. Atas dan bawah. Depan dan belakang. Seringnya kita mudah men-judge hanya satu sisi, dan menyepelekan sisi lainnya. Kadung menelan bulat-bulat. Tidak berusaha mencari kebenaran yang lebih akurat.

.......................
Terkadang untuk seorang penulis, lebih mudah menyisipkan nasihat-nasihat bijak dalam tulisan-tulisannya. Tapi dirinya sendiri ragu bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Barangkali itulah dirasakan oleh seorang Najma Tazkiya.
Terkadang seorang pembaca teramat ingin berterima kasih kepada penulis, yang tulisan sederhananya mampu menggugah kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tulisan itu meresap ke dalam hati tanpa merasa sedang dinasehati. Tapi merasa dirangkul dan diajak untuk sama-sama berbenah diri. Seperti itulah yang dirasakan oleh Syauqi Khumain.

Ada pula dua kisah yang romantis antara Rasha Kamil dan Hilda Inayah, yang sama-sama berjuang mengukuhkan perasaannya ke jenjang halal. Sekaligus ingin tetap menghargai perasaan kakak-kakaknya yang masih belum menemukan tambatan hatinya.

Simak kisah mereka di Novel NafAs 2 Masa.

@azurazie_

MASA LAL(U)I

Teorinya memang benar : adil itu bukan cuma sekadar soal ukuran, tapi sesuai dengan kebutuhan.

Buku masa lalu pernah setebal lI___Il, cerita masa depan baru setebal I_I. Memang tidak perlu menunggu sama tebalnya untuk sepenuhnya memahami kisah itu dalam penerimaan, tapi bagaimana sesuai kebutuhan saat ini agar jalan cerita kembali lapang.

Di lain sisi, ia yang hanya sekadar kecipratan masa lalu seseorang. Tidak akan sama pemahamannya dengan ia yang memang pernah tenggelam di masa itu.

Ibaratnya, seolah menaburi luka sendiri dengan garam. Padahal tidak ingin melakukan itu. Sambil berharap ada yang mampu mengobati perihnya itu pelan-pelan.

Ia yang ingin berdamai dengan masa lalunya seseorang. Sungguh seseorang itu pernah belajar tertatih untuk berdamai lebih dulu.

Ia yang ingin keberadaannya tidak dibayangi masa lalunya seseorang. Sungguh seseorang itu pernah berusaha lari dari bayangannya sendiri.

Tidak ada yang salah dengan itu semua. Semua ada cerita-ceritanya sendiri. Tinggal menerima dengan lapang dada di hati.
@azurazie_

September 21, 2018

DEKAT DENGANMU ADALAH KEHANGATAN, JAUH DARIMU ADALAH KERINDUAN

Kala itu, ketika sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Waktu maghrib pun tiba.

"Aku sholat di mushola depan dulu, ya. Musholanya mungil dan unik deh."

"Iya." Katamu menyetujuinya. Jarak rumah memang masih cukup jauh.

"Yaah, musholanya sepi." Kataku, ketika sampai, sembari mencari tempat parkir motor yang nyaman.

"Nanti juga ada yang shalat." Katamu membesarkan hati. "Aku tunggu di motor saja, ya."

Aku tersenyum mendengar jawabanmu yang menenangkan itu.

Memang setelah mengambil air wudhu dan ketika sedang siap-siap takhbiratul ihram. Ada suara gemericik air. Sepertinya ada seseorang yang sedang mengambil air wudhu juga.
Shalat maghrib pun akhirnya ada jamaahnya.

"Cieee... yang tadi jadi imam." Katamu menggoda ketika aku sampai di parkiran.

"Ngelihat aja lagi. Ternyata benar katamu, pada waktunya mah ada aja yang mampir ikut shalat." Aku tersenyum. "Jadi merenungi sesuatu deh."

"Iya atuh keliatan." Sembari menunjukkan hasil photonya di ponsel. "Merenungi apa?"

"Ya, kelak nanti di yaumil hisab, semoga saja masih diberi ingatan. Bahwa pada suatu hari pernah bertemu seseorang yang melakukan kebaikan yang sama. Meski hanya di sebuah mushola kecil di pinggir jalan. Saudara seiman yang meski tidak saling bertukar nama. Tapi, siap jadi saksi hidup satu sama lain. Untuk saling membela di hadapan-Nya."

"Aaah, sosweet deh. Kepikiran aja kamu mah."

"Tapi benar kan begitu? Istilahnya : dekat denganmu adalah kehangatan, jauh darimu adalah kerinduan."

"Masya Allah, aku dong yang lebih beruntung kalau gitu."

"Iya atuh, kamu kan selalu satu shaf di belakang ku. Hehe.. Siap jadi saksi hidup dunia akhirat, ya."

"Siap, kapten! Selalu siap diajak dalam tiap-tiap kebaikan."

Dan perjalanan pulang pun di lanjutkan kembali. Sembari mengucap aamiin.
#azurazie_

Agustus 19, 2018

TIDAK TAHU DIRI

Berhentilah bertanya sesuatu yang di luar kemampuan orang lain atau sudah di luar kuasanya. Karena itu menyebalkan. Berhentilah bertanya sesuatu yang sudah terlalu lampau, sedangkan orang lain tidak pernah ada di masa itu. Karena itu menyusahkan.

Dan bila seseorang sudah menjawab tidak tahu, seharusnya setelahnya tahu diri. Untuk tidak kembali mengulang pertanyaan. Setelah seseorang merasa tidak tahu, seharusnya menjadi tahu diri untuk menambah pengetahuan.

Seringnya seseorang bukan tidak mau atau bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dikarenakan tidak mengerti dengan pertanyaan itu sendiri.

Maka setelah TIDAK TAHU, seharusnya TAHU DIRI. Sampai di sini, paham?

#azurazie_

Agustus 15, 2018

SATU SHAF DI DEPANMU


Putri,
Satu shaf di depanmu, membuat aku lebih sungguh-sungguh menghadap-Nya. Seolah, aku ingin membuktikan atau sekadar ingin terlihat siap menjadi pemimpin atasmu. Yang kelak di hari perhitungan tak adalagi yang mampu di sanggah, kecuali amal-amal kebaikan yang bersaksi membela kita. 

Aku lebih sungguh-sungguh ingin terlihat siap di matamu (karena posisimu tepat satu shaf di belakangku) bila telah datang pertanyaan-pertanyaan itu. Siapa yang menasehatimu untuk selalu menutup aurat? Siapa yang selalu mengingatkanmu untuk menunaikan shalat? Membangunkanmu di kala sepertiga malam. Dengan doa sepenuh harap dalam-dalam. Maka, aku ingin sekali lantang dan membelamu di hadapan-Nya sebagai pimpinanmu. Ya Allah ya Rabb, bila masih ada cela atas istriku, itu dikarenakan ketidakmampuanku dalam mendidiknya di dunia. Maka, maklumilah kami berdua dengan rahmat-Mu.

Tapi, Putri.
Dikala sampailah sujud bersamamu, bergetarlah hati itu. Mulai keluarlah ketidakpercayaan diri itu. Ketika kening bertemu tempat sujud, seolah luruh juga ego itu. Luruh segala keangkuhan itu. Bagaimana bisa aku sepercaya diri itu, bisa sepenuhnya bertanggung jawab atasmu. Bila cela sendiri pun masih banyak yang harus diperbaiki. Bila saat-saat shalat sendiri pun, tidak ada keyakinan seteguh itu seperti saat kita berjamaah berdua.
#kampushijaiah
#azurazie_

Juli 25, 2018

YANG KAMU DAPATKAN HARI INI


Apa yang kamu dapat hari ini, percayalah itulah takdir terbaikmu. Yang telah diukur sesuai dengan kemampuanmu. Bila itu hal yang kamu rasa baik, yang membahagiakan. Telah diukur sesuai dengan kemampuanmu untuk bersyukur menerimanya. Bila itu hal yang kamu rasa tidak baik, kurang menyenangkan. Telah diukur sesuai dengan kemampuanmu untuk berlapang dada menjalaninya.

Percayalah itulah takdir terbaikmu yang sepatutnya kamu terima. Buah dari kerja kerasmu sejauh ini. Jawaban terbaik atas doa-doa yang kamu langitkan setiap hari. Pun doa-doa dari orang-orang yang senantiasa peduli akan kebaikanmu.

Maka, apa-apa yang telah kamu terima dan memberimu ilham untuk menambah syukur. Itu lebih utama daripada mengiba sesuatu yang belum berhasil kamu raih. Karena itu bisa jadi memang bukan takdirmu. Bukan sesuatu yang pantas untuk kamu miliki. Untuk sekadar dititipi. Karena Allah lebih tahu, kamu belum mampu untuk menjaganya. Ukuran sesuatu yang kamu damba itu, masih lebih besar dari ukuranmu untuk menerimanya.

Maka, mulailah merasa cukup dengan apa yang telah kamu genggam saja saat ini. Jaga baik-baik. Sambil berucap alhamdulillah... alhamdulillah... alhamdulillah... #kampushijaiah
#azurazie_

Juli 24, 2018

MENCEMBURUI MASA LALU


Pernah ada quote yang berbunyi : orang lain sudah berusaha sekuat tenaga untuk menguburnya dalam-dalam, kenapa kita malah sibuk mengungkitnya lagi?

Terkadang kita memang suka tiba-tiba mencemburui masa lalu. Masa, di mana kita belum pernah ada di dalamnya. Tidak tahu secara detail ceritanya. Masa lampau yang sudah tidak bisa lagi untuk sekadar ditengok. Apalagi di putar ulang. Di revisi agar hal itu tidak pernah terjadi.

Kenapa begitu? Entahlah. Sulit didefinisikan dengan kata-kata yang rasional. Barangkali karena itulah disebut dengan perasaan cemburu.

Meski kalau mau dipikir ulang, sejatinya kita tidak pernah benar-benar tahu, bagaimana perjuangan seseorang untuk melalui masa-masa itu. Seberapa waktu yang ia korbankan untuk bisa survive hingga hari ini. Ujung-ujungnya seberapa dalam ia 'memperbaiki' perasaannya agar tetap menjadi nyaman. 

Yang seringnya terhalangi oleh ego kita sendiri adalah. Perasaan cukup, bahwa saat ini adalah yang terpenting. Waktu sekarang adalah yang terbaik pada masanya. Karena saat inilah yang benar-benar ada, entah keberadaannya. Atau cerita yang sedang terjadinya.

Saat ini ia ada. Untukmu. 

Tanpa harus dibayang-bayangi masa lalu yang dia sudah lama lupakan. Masa lalu yang kamu sendiri tak perlu-perlu amat untuk tahu.

Bukannya begitu?
#LakaranMinda
#azurazie_

Juli 14, 2018

TEPAT TETAP

Pada ketetapan rasa. Ada harap yang mengutuh. Ada bait-bait doa yang mengukuh. Tangan-tangan yang menengadah ke langit, meminta qabul angan-angan yang sering terbesit. Kening yang menyentuh sujud, mengetuk fayakun, yang kadung ingin disegerakan.

Pada ketepatan rasa. Ada cinta yang terasa lebih berharga. Kehadiran seseorang yang ditunggu. Mengundang rindu bila ia tak kunjung bertamu. Menjamu dengan perasaan suka. Untuk sosok yang dalam pikiran, sudah terasa sebagai jodoh yang nyata. Menyempurna separuh. Untuk qabul yang terucap di ujung lidah.

Pada ketetapan-Mu. Seseorang malu-malu merayu. Ingin menyegera, dipertemukan sebilah rusuk yang hilang darinya. Sebuah nama sudah cukup lama menjadi rahasia kecilnya. Diam-diam mendoakan kebaikan. Dalam-dalam berharap memang itu nama yang dicatatkan. Bersama ketetapan rezeki, jatah usia dan lain-lain.

Pada ketepatan-Mu. Seseorang mau-mau menunggu. Karena yakin dan percaya, ketepatan-Mu ada dalam ketepatan waktu.
@azurazie_


Juli 12, 2018

YANG SELALU MEMBERSAMAIMU

Tidur terebah, memandang langit-langit kamar. Sejauh mata memandang, memang hanya binar lampu yang berpijar. Sejauh pikiran membayang, ada semraut persoalan yang lalu lalang,   hulu tentang anu, hingga hilir tentang itu.

Terbesit merenung, bila saat-saat dirimu dimanja oleh lelah. Dilanda jenuh yang datang tak hiraukan keadaan. Ternyata, memang ia yang sejauh ini masih setia membersamaimu dalam sukanya harapan. Hingga dukanya kenyataan yang tak terlalu diinginkan. Kiranya dirinya pula yang sekuat tenanga mendorong dirimu untuk tetap dalam pendirian. Bertahan sampai tetes keringat penghabisan.

Kiranya wajahnya lah yang senantiasa memperlihatkan senyum tanpa beban. Tegar dengan raut yang dibungkus dengan kenyakinan. Dirinya yang mengukuhkan kamu, untuk senantiasa utuh menjadi dirimu sendiri. Menerima apa adanya dirimu sendiri. Kedigjayaan dan ketidakberdayaan dirimu sendiri.
Kiranya dirinya lah yang membersamai langkah-langkahmu hingga saat ini. Yang ikut tertatih berperih-perih. Ikut berjuang berpeluh-peluh. Sosok yang keberadaanya itu pun sangat berperan penting, bahwa nyawa semangat itu masih tetap ada. Meski separuh lepas sudah mengudara.

Kiranya dirinya lah yang selalu berbisik, ayo sebentar lagi, bertahanlah, tidak akan sampai menghabiskan sisa usiamu, ayolah masa cuma segitu saja usahanya, yakin tidak mau lanjut dan blablabla orasi lainnya. Terus-terusan berusaha meyakinkanmu, bahwa sejauh ini segala upayamu ada yang menemani. Ada yang setia membersamai sepanjang waktu. Dan sangat bersedih hati bila hanya karena kerikil kecil, dirimu menyerah. Hanya karena merasa lelah dan jenuh dirimu berhenti melangkah.

Langit-langit kamar kini menjadi kanvas yang lebih luas. Melukiskan wajah sumringah sosok yang senantiasa membersamaimu hingga detik ini kamu mengingatnya. Ia tersenyum tulus dan bertanya : sudahkah kamu merasa lebih baik sekarang?

Dan alam bawah sadar kamu refleks ikut tersenyum penuh arti. Kenapa baru sadar sekarang, kalau ternyata akan selalu ada sosok yang selalu membersamaimu sepanjang waktu. Kamu sudah ingat sekarang siapa dia?
 
Dirimu sendiri.
Maka, berterima kasihlah padanya.
@azurazie_

Juli 10, 2018

ALAT PERMAINAN EDUKATIF - RODA BUAH



Alat Permainan Edukatif (APE) 
yang bertujuan dalam meningkatkan kognitif anak

Melatih kemampuan dan meningkatkan kognitif pada anak usia dini, dengan bermain sambil belajar agar terasa menyenangkan, yuuk kita berkreasi kita bisa bikin sendiri dengan memanfaatkan barang - barang yang ada di rumah, ๐Ÿ˜„


Permainan ini kami beri nama “Roda Buah”, dalam permainan ini terdiri dari sebuah lingkaran yang seperti roda yang harus diputar, papan yang bertuliskan angka yang memiliki isi gambar buah, dan beberapa batang kayu untuk mengelompokan gambar gambar buah.

Tujuan dari permainan ini melatih tentang mengenal dan mengingat nama buah dan angka. Meningkatkan kemampuan anak dalam berhitung serta meningkatkan sensori dan motorik anak dengan cara memutar roda, membuka kotak, dan meningkatkan ketelitian dan kesabaran anak dalam memasukan kertas buah berlubang kecil ke dalam batang kayu kecil.

Permainan ini untuk anak berusia 4-5 tahun yaitu untuk anak TK A dan TK B, dan dapat dimainkan secara bersama sama dengan anak-anak lainnya secara bergantian dan berlomba mendapatkan point bila apa yang mereka lakukan benar dalam tahap 1, 2, dan 3.

Bahan yang diperlukan dalam membuat mainan:
1. Kardus

2. Karton

3. Kertas warna

4. Kertas kilap

5. Stereofoam

6. Pins

7. Kawat

8. Sumpit

9. Gambar buah - buahan

10. Gunting

11. Lem kertas

12. Pembolong kertas



Cara membuat :

Tahap 1 :

· Gunting kardus ukuran 60x60 cm membentuk papan persegi, yang kemudian dilapisi karton berwarna

· Buatlah lingkaran dengan ukuran lebih kecil dari ukuran kardus 60x60 cm

· Bagi lingkaran menjadi 10 bagian yang dibedakan dengan kertas warna dan kemudian diberi angka 1 – 10

· Lubangi bagian tengah lingkaran kemudian di beri kawat dan ditempelkan pada papan persegi ukuran 60 x 60 cm, pastikan lingkaran tidak menempel pada papan kardus sehingga bisa di putar

· Buatlah simbol anak panah pada papan persegi untuk menunjukkan angka pada lingkaran itu berhenti


Tahap 2 :

· Bentuk styrofoam dengan ukuran 40 x 60 cm dengan dilapisi kertas kilap

· Buatlah lubang tidak tembus berbentuk kotak kecil di dalam styrofoam sebanyak 10 kotak, potongan kotak tidak dibuang, namun dilapisi dengan kertas warna dan ditempel angka 1 – 10 pada kotak yang berbeda kemudian diberi pins sebagai pegangan penutup kotak

· 10 kotak yang sudah dilubangi ditempel gambar buah dengan jumlah buah sesuai pada potongan angka dikotaknya





Tahap 3 :

· Buatlah 3 buah kotak kubus dari styrofoam

· Sediakan kardus yang di potong persegi berukuran lebih besar dari kotak kubus styrofoam yang kemudian potongan kardus tersebut ditempelkan pada kotak kubus sebagai alas

· Kemudian tancapkan sumpit pada atas kotak kubus styrofoam

· Sekitar kotak kubus dan kardus bisa ditempeli dengan gambar buah – buahan yang berbeda

· Sediakan gambar buah yang berbeda yang digunting menyerupai buah, kemudian diberi lubang dengan pembolong kertas. Lubang ini yang disesuaikan dengan sumpit agar bisa dimasukkan. (pada alat permainan kami, kami membuat 3 buah berbeda, yaitu : stroberry, pisang, mangga).







Cara Memainkannya:

1. Tahap 1, Anak diminta untuk memutar roda

Pada papan diatas roda berhenti pada anak panah warna merah yang menunjukkan angka 4.

2. Tahap 2, Anak menunjuk kotak yang sesuai dengan nomor yang mereka dapatkan, lalu membuka kotak tersebut, Kotak yang dibuka kotak angka 4

*dibalik kotak 4 terdapat gambar 8 buah mangga

3. Tahap 3, Setelah anak menemukan buah didalam kotak mereka harus menebak buah apakah yang tertera di dalam gambar. Lalu mereka diminta memasukkan gambar buah berlubang berdasarkan jumlah angka yang tertera pada kotak tadi di batang kayu kecil yang telah kami sediakan.



Walaupun terbagi dalam 3 tahapan, alat permainan ini merupakan 1 kesatuan alat permainan yang menyenangkan.

Demikian alat permainan edukatif yang kami sajikan, semoga bermanfaat ๐Ÿ˜‰

@sekitar_putri
#sekitar_putri #APE #AlatPermainanEdukatif #Kognitif #PAUD #Psikologi
Kinanti,
Sahara,
Olivia

Juli 08, 2018

YANG PALING UTAMA

"Ingat ya, putri. Ini semua tentang prioritas."

"Siap Kapten. Judulnya : Skripsweet yang memanggil. hehe.."

"Menurutmu apa coba bedanya : yang paling utama dan yang diutamakan?"

"Mulai lagi nih ceritanya membandingkan kalimat aktif dengan kalimat pasif?"

"Biar obrolannya selalu seru. Siapa tahu bisa membuka pemikiran baru."

"Dan pemahaman yang baik, ya. Jadi apa bedanya? Emm... mungkin begini : kalau yang paling utama itu bisa jadi sesuatu itu ada di deretan paling teratas. Sedangkan yang diutamakan, bisa jadi bukan lagi tentang urutan. Tapi yang perlu diperioritaskan."

"Nah, masuk akal. Sama seperti : yang paling utama adalah selalu berdoa dan meminta kepada Allah sebanyak yang kita inginkan. Karena ada garansi akan dikabulkan. Sedangkan yang diutamakan itu sudah urusan Allah, doa yang mana dulu yang Allah pertimbangkan sesuai yang menurut-Nya paling sedang kita butuhkan. Itu versi Allah."

"Lalu?"

"Kalau versi a. Yang paling utama adalah mendoakanmu agar selalu diberi kemudahan untuk menyelesaikan sesuatu. Sedangkan yang diutamakan, semoga Allah melindungimu dengan nikmat afiatnya."

"Apa?"

"Bersamamu saat ini pun sudah merasa yang paling utama sekaligus yang diutamakan."
@azurazie_
@sekitar_putri

Juli 06, 2018

YANG TERKADANG TIDAK DIPEDULIKAN

Yang terkadang tidak dipedulikan, adalah kenyataan bahwa kemudahan-kemudahan yang sedang kamu rasa saat ini. Lebih banyak karena campur tangan orang lain. Tidak mulus dari hasil jerih payahmu sendiri. Hasil dari bantuan mereka yang tanpa pamrih. Tanpa memperhitungkan untung-rugi. Karena memang berniat sekadar berperan sebaik mungkin. Sebagai manusia yang keberadaannya ingin bermanfaat untuk sekitarnya. Dan dirimu hanyalah dampak kecil dari kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan. Sekadar kecipratan dari manfaat kebaikan mereka yang luar biasa faedahnya.

Yang terkadang tidak dipedulikan adalah kenyataan bahwa pencapaian kamu saat ini. Lebih dominan hasil dari doa-doa tulus orang-orang di sekitarmu. Mereka yang tanpa sepengetahuanmu, bersedia menengadahkan tangan, sambil merapal harap bahwa kapanpun dan di manapun dirimu berada, selalu dalam keadaan paling baik. Mereka yang senantiasa khawatir dengan keadaanmu ketika berada di luar. Jauh dari jangkauan mata. Siapa yang tahu doa tulus siapa yang telah didengar untuk memuluskan setiap langkah-langkahmu hingga di detik ini kamu mengingatnya.

Mengingat bahwa tanpa bantuan dan doa orang lain, tidaklah ada daya dan upaya. Apalagi bila menyadari dirimu sendiri menjadi orang yang paling malas berdoa. Malas tunduk dan beribadah atas kuasa-Nya. Menyadari bahwa doa-doamu yang alakadarnya itu belum tentu 'berat' tulusnya untuk segera dikabulkan.

Lalu kau tiba-tiba terpikirkan. Terkadang itu yang benar-benar tidak kamu pedulikan. Acuh saja tanpa mau berupaya untuk ikut membantu meringankan beban mereka. Bukankah mereka juga butuh sokongan? Bukankah mereka jua penuh kekurangan. Bukankah mereka jua jauh dari kata layak untuk di doakan dalam kebaikan-kebaikan.

Bukankah kita juga inginnya keberadaan ini menjadi manfaat untuk orang lain. Bukan malah menyusahkan. Bukan kah kita sering tidak memedulikan hal yang demikian?
@azurazie_

Juli 04, 2018

PEREMPUAN SELALU BENAR

"Putri, coba berdiri sebentar deh."
"Kenapa tiba-tiba begitu?"
"Sekadar memastikan pakaianmu menutup sempurna sampai bawah. Ooh... oke.. cukup... sudah."
"Iya dong pastinya. Tinggal pakai kaos kaki aja. Tiap bepergian juga kan selalu begini."
"Perfecto. Nggak, suamimu hanya ingin selalu memastikan aurat istrinya selalu terjaga sempurna. Kalau nggak begitu nanti suamimu ini yang ditampar bolak-balik sama malaikat. Kan, horor."
"Karena perempuan selalu benar, berlaku juga sampai akhirat ya? Hehe.."
"Maksudmu?"
"Iya, ketika anak gadis keluar rumah nggak menutup aurat, nanti ayahnya yang ditanya-tanya dan diminta pertanggungjawabannya. Kenapa membiarkan anak gadisnya melenggang dengan pakaian seadanya. Kalau sudah menikah, tampuk kepemimpinan beralih ke suaminya."
"Nah, benar tuh. Perempuan memang selalu benar dunia akhirat ya. Hehe... Bisa menuntut nanti, kenapa ayah dan suaminya nggak membimbingnya ya, kenapa nggak ditegur dan diperhatikan perempuan-perempuan di sekitar keluarganya."
"Tenang saja, sebelum suamiku memastikan. Aku selalu menjaganya kok. Kan satu shaf di belakangmu ingin berlaku sampai akhirat juga."
"Masya Allah, istri solehahnya aa."
"Aamiin ya Allah."
@azurazie_
@sekitar_putri

Juni 26, 2018

DUA JARI KELINGKING

"Kamu nyadar nggak sih, cerita kita tuh kayaknya siklusnya cepat sekali?"
"Maksud a?"
"Iya, misal kemarin ceritanya yang bikin senang, bahagia, Ketawa-ketawa. Hari ini tahu-tahunya harus banyak merenung, lebih banyak bersabar. Tapi nggak lama kita udah bisa ketawa-ketawa lagi."
"Iya ya. Karena kita selalu lewatinya nggak pake berlebihan. Nggak lebay teuing. Yang aku rasa sih lebih banyak memaknai hidup selepas nikah."
"Maksudnya?"
"Pertanyaan a itu, kemarin aku baru nemu jawabannya sewaktu diam-diam memperhatikan mata a."
"Kok jadi ke mata?"
"Semua jadi terasa lebih ringan karena tahu kita selalu lewatinya bersama-sama. Terasa lebih mudah karena di sampingku selalu ada a."
"Masa? Ciyee terciduk dia. Dari matamu.. ku lihat..."
"Yee... serius."
"Hee... Sepakat untuk selalu menerima sepaket ya. Saat di bawah selalu bersabar. Saat senang selalu bersyukur. Dan selagi selalu sama-sama, semua jadi lebih ringan."
Dua jari kelingking bertemu. Saling mengkait kuat.
"Tunai ya. Tunai."
26 Juni 2018
@azurazie_
@sekitar_putri

TITIP SALAM

Sayang,
Terima kasih sudah menetap selama
6minggu 3hari dalam rahim,
memang terlalu singkat kebersamaan kita, tapi tidak apa, yakin Allah telah menetapkan yang terbaik untuk kita, dengan mengambil kamu kembali pada-Nya,
Sayang,
Meski kamu belum terwujud dalam bentuk yang utuh, tapi bagi kami kamu sudah dalam bentuk futuh, seperti nama panggilan untukmu,
Sayang,
Hujan pun mengiringi kembalinya kamu, dengan doa dengan asa dengan cinta,
Sayang,
Terima kasih sudah titip salam dan memperkenalkan diri kepada Ibu. "Ibu.. ini De Futuh." di saat Ibu sedang berada di antara sadar dan tidak sadar melepasmu. "De Futuh mau di sini aja di taman Allah." Katamu. "Ibu panggil ayah aja." Kamu salim tangan ibu, memakai peci putih. Selepas itu ada nama Allah yang bercahaya amat terang, yang memberikan ibu kekuatan untuk membuka mata. Saat itu ayahmu sudah berada di samping ibu. Memegang erat tangan ibu.
Bogor, 26 juni 2018
#FUTUH
#sekitar_Putri
#azurazie_

Juni 23, 2018

MENANTI APA MENUNGGU?

Pada suatu senja.

"Putri, lagi apa?"

"Menanti suami aku pulang."

"Menanti apa menunggu?"

"Memang beda, ya?"

"Beda atuh, menunggu itu untuk sesuatu yang pasti datang. Baik waktu atau kabarnya. Sedangkan menanti untuk sesuatu yang belum tentu pasti datangnya."

"Oke di ralat. Berarti menunggu. Suami aku lagi apa?"

"Menanti."

"Menanti apa?"

"Menanti, dapat kejutan bahagia apalagi yang Allah kasih, sampai rumah."

"Bukannya menunggu?"

"Nggak perlu menunggu lagi, kan sudah merasa bahagia."

"Terus kenapa bahasanya menanti? Berarti belum pasti dong sifatnya."

"Karena kita nggak pernah tahu bentuk kejutannya seperti apa. Meskipun belum pasti, a nggak masalah. Karena tanpa kejutan pun bahagia itu selalu dirasa apa adanya."

"😙 Menunggu sambil menanti ini mah jadinya."

23 Juni 2018
@azurazie_
@sekitar_putri

DE UTUN?

"Putri, kalau utun artinya apa ya?" Pada suatu malam. Sambil menunggu waktu isya.

"Utun?" Putri mengkonfirmasi.

"Iya, kalau a perhatikan, pasangan-pasangan yang baru hamil manggilnya De Utun. Emang itu bahasa apaan?" Sambil sibuk lihat-lihat status di whatsapp.

"Aku juga nggak tahu, panggilan umum buat jabang bayi kali, ya?"

"Oooh..  macam tu. A juga mau ikutan cari nama khusus, ah. Tapi jangan ikut-ikutan 'utun'. Ada ide?"

"Umm... apa ya?" Ia berpikir sejenak. "De Kaffah?"

"Kaffah? Sempurna maksudnya?"

"Kaffah alias... kinanti dan fauzi." Putri tersenyum manis.

"Lho? H nya punya siapa? Kepikiran aja lagian haha..." sambil menjawil hidungnya.

"Ya, kan cuma saran." Wajahnya sedikit cemberut.

"Kaffah, kaffah, umm..... gimana kalau Futuh, aja?"

"Setujuuu, 😍"

"Yes, De Futuh. Biar beda dari yang lain." Sambil mengusap-usap perut. "Assalamu'alaikum De Futuh."

Begitulah cerita Futuh ini dimulai. Sambil berdoa sepenuh harap, ia bertumbuh dengan baik.

23 Juni 2018
@azurazie_
@sekirar_putri

Juni 16, 2018

SELEPAS HARI RAYA

Sobat, satu hari selepas ritual ramah-tamah hari raya. Setelah terasa 'kenyang' mendapati pertanyaan 'kapan' dan tentu saja dibersamai dengan bisikkan doa-doa kebaikan juga. Maka, hari ini adalah langkah berikutnya.

Yang kebagian ditanya, 'kapan nikah?' Kebagian doa, 'semoga segera ketemu jodoh'. Itu artinya selepas ini, ada azam yang lebih kuat dari sebelumnya. Lebih giat menabungnya, lebih giat ikhtiar menemukan jodohnya. Lebih giat memperbaiki kualitas dirinya. Lebih sungguh-sungguh untuk segera menghalalkannya. Ayo, lekas jangan ditunda lagi.

Pun demikian, yang kebagian ditanya, 'Udah isi belum?' Kebagian doa, 'semoga segera punya momongan, ya'. Itu artinya selepas ini, harus lebih harmonis hubungan dengan pasangannya. Lebih saling mendukung dalam ikhtiarnya. Saling menguatkan satu sama lain. Lebih giat lagi nabung untuk masa depannya. Lebih giat memperbaiki kualitas diri untuk keduanya. Kualitas waktu luang. Kualitas perhatian dan kasih sayang. Kualitas kebersamaan.

Begitu juga yang kebagian ditanya, 'kapan wisuda?' Dan kebagian doa 'semoga cepat lulus ya' selepas ini, harus lebih giat lagi menyelesaikan skripsweetnya, lebih giat membaca dan mengumpulkan bahan-bahan pendukungnya. Lebih giat lagi bimbingan dengan dosennya. Lebih giat lagi menabung untuk biayanya. Lebih giat memperbaiki kualitas diri. Untuk lebih rajin. Lebih ulet. Pantang menyerah dan tidak mudah untuk mengeluh.

Dan begitu juga yang kebagian pertanyaan-pertanyaan lainnya. Baik yang serupa ataupun yang tak sama. Tentu saja selain lebih giat dari yang disebutkan di atas. Ada yang lebih penting lagi. Lebih giat memperbanyak doa. Dengan begitu semoga Allah mudahkan jalannya

Kenapa harus begitu?Sebab, apalah arti banyak 'menelan' pertanyaan-pertanyaan itu. Apalah arti menampung banyak sekali doa-doa dari saudara, orang tua, sahabat-sahabat kita. Bila kita sendiri tidak lebih tergerak untuk merealisasikannya. Pertanyaan dan doa-doa itu hanya sekadar rutinitas ceremonial tahunan. Bila sedang bertemu dan berkumpul. Padahal jauh di lubuk hati kita, semua itu adalah yang paling kita harapkan. Yang sejauh ini sedang kita perjuangkan.

Selamat menjadi lebih giat dari biasanya. Ganbatte kudasai yoo.

@azurazie_

Juni 15, 2018

IDUL FITRI 1439H

Dear pembaca Lakaran Minda  yang bijaksana. Barangkali banyak kata-kata yang terlanjur tertulis, menyinggung hingga menyakiti hati. Dan menjadi tabungan tuntutan di yaumil kiamah nanti. Besar harapan kami selagi masih ada di dunia, sudilah kiranya kau bantu hapus kesalahan itu dengan kata yang lebih bijak darimu. Maaf dari setulusnya hatimu.

salam dari kami yang sedang membuka pintu hati.
@azurazie_
@sekitar_putri

Juni 14, 2018

HAK YANG TERTANGGUH

Sobat,
Sebelum lebaran datang. Di penghujung Ramadhan ini. Mari ingat-ingat kembali, adakah hak-hak adami yang masih tertanggung pada dirimu? Bila ada dan mampu, ditunaikanlah dengan segera. Bila ada dan masih belum cukup mampu, kabari dan berikepastian akan waktunya. Jangan sampai hak-hak itu menggantung tanpa kejelasan. Karena waktu terus mengalir tanpa menunggu kesiapan.

Maka, adalah penting untuk diingat-ingat kembali, adakah hak adami itu yang belum tertunai. Baik harta benda, janji harapan, maupun hak-hak yang menyangkut keluasan hati mereka. Adakah hati yang masih terlanjur sakit hati karena ulah tangan dan lidah kita? Menjadi hak-hak permintaan maaf dari kita.

Apalah arti lebaran tiba. Hari kemenangan itu datang. Akan tetapi masih ada hak-hak adami yang masih tertangguhkan tanpa kejelasan. Masih ada yang belum mau saling memaafkan dengan hati yang lapang.

Apalah arti kemenangan, bila masih banyak banyak yang belum merdeka dari ulah kita punya lisan dan perbuatan.

Apalah artinya lama hidup di dunia, bila diakhir hayat hanya mengumpulkan banyak tuntutan-tuntutan. Karena waktu terus berjalan tanpa menunggu kesiapan. Tetangga kita pun ada yang menghembuskan nafasnya, satu hari sebelum lebaran. Innalillahi wainnailahi rajiun. Cukup menjadi nasihat untuk kita semua renungkan.

29 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 13, 2018

TARAWEH TERAKHIR

Bagaimana bila malam ini adalah malam taraweh terakhir di dunia? Saat itu posisimu ada di mana? Sedang sungguh-sungguh berduyun-duyun memenuhi masjid-masjid. Berlomba-lomba untuk mendapatkan shaf paling depan. Persis di belakang imam. Atau dirimu justru sedang singgah-singgah. Pindah dari satu mall menuju mall berikutnya untuk mengejar diskon.

Bagaimana bila malam ini adalah malam taraweh terakhir di dunia? Ya ini bukan lagi tentang membicarakan kesempatanmu sendiri. Tapi tentang kesempatan semua orang. Kita sedang membicarakan dunia. Sebab, bagaimana bila tahun-tahun berikutnya ramadhan tidak lagi datang. Dan malam ini gerbang rahmat itu akan segera ditutup. Gerbang ampunan itu sudah habis batasannya. Di manakah posisimu saat itu? Sedang sungguh-sungguh untuk meraihnya? Berusaha menjadi salah satu orang-orang terpilih yang mendapatkan kemuliaan ramadhan. Atau dirimu justru sedang singgah-singgah, macet-macetan. Euporia karena ini buka bersama terakhir. Canda tawa melewatkan kesempatan malam ini begitu saja.

Bagaimana bila malam ini adalah taraweh terakhir di dunia? Akankah akan dilewatkan begitu saja?

28 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 12, 2018

BATAS

Tiap-tiap sesuatu ada batasan-batasannya. Itu sudah fitrah bagi semua makhluk. Dan kalau sudah bertemu batasnya, manusia bisa mengupayakan apa? Diberi sakit yang 'agak' serius saja kita butuh bantuan orang lain. Apalagi sudah menyangkut batasan usia. Sudah pasti lebih banyak lagi bantuan orang lain untuk mengurusnya.

Dan lucunya, manusia itu walau sudah tahu begitu banyak memiliki batasan-batasan kemampuan. Akan tetapi, suka tidak serius untuk membekali batas kesempatannya. Seringnya penyesalan datang di akhir. Waktu yang selalu berakhir. Tidak diisi dengan bijak dan pintar.

Dalam konteks Ramadhan, batasan ini adalah sisa hari-hari berpuasa. Lalu timbul pertanyaan dalam benakmu, bagaimana bila dua hari sisa ramadhan ini adalah batasan kesempatanmu untuk berpuasa? Bagaimana bila tidak akan dirimu jumpai puasa-puasa di tahun-tahun berikutnya? Bagaimana bila dalam dua hari ini adalah batasan Allah menurunkan rahmat dan ampunan-Nya? Sedangkan dirimu sudah terlanjur membatasi diri untuk tidak sungguh-sungguh beribadah.

Maka, tiap-tiap sesuatu ada batasan-batasannya. Tidaklah bijak bila upayamu hanya sebatas menggugurkan kewajiban. Hanya sebatas menjalani rutinitas.Tidak sungguh-sungguh menambal kekurangan. Sedangkan kesempatan untuk memperbaiki sesuatu, waktunya terbatas.
27 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 11, 2018

MENYESUAIKAN

Dalam tiap-tiap keadaan, yang paling bijak adalah bagaimana bisa menyesuaikan. Bukan ingin selalu menang dan egois mengikuti mau sendiri atau sudah saja mengalah karena merasa tidak memiliki daya apa-apa.

Belajar menyesuaikan tanpa harus kehilangan jati diri. Semata-mata untuk tetap menyeimbangkan keadaan.

Seperti bijaknya air, ia mengalir menyesuaikan dengan keadaan. Apabila melewati turunan, dengan mudah mereka mengalir tanpa hambatan. Apabila menghadapi tanjakkan. Mereka tetap berusaha membendung hingga melampaui batasan. Meluber hingga akhirnya mengalir lagi sesuai dengan arahan.

Seperti bijaknya air, meski dari berbagai penjuru air mata sungai yang mengalir ke lautan. Mengalir air tawar itu, sampai laut menyesuaikan menjadi asin. Berbaur dengan keadaan. Tahu diri karena sifat air laut adalah asin. Tahu tempat. Tahu situasi.

Begitu pula dengan ibadah puasa, tubuh yang terbiasa menjalani puasa, ia tidak lah sulit menyesuaikan keadaan. Makan dan minum disesuaikan dengan kebutuhan waktunya. Yang tadinya makan di waktu siang. Disesuaikan di saat buka dan saur. Tidak lagi menuntut makan sepanjang hari, karena itu bisa membatalkan. Menyesuaikan dengan peraturan.

Makanya nyeleneh sekali apabila ada statment : hormatilah yang tidak berpuasa. Sebab, seharusnya yang tidak berpuasalah yang harus pandai menyesuaikan. Yang berpuasa sedang menjalani kewajibannya. Menyesuaikan dengan waktu-waktunya. Sedangkan yang tidak berpuasa menyesuaikan apa? Kewajiban saja tidak dijalani. Seharusnya lebih tahu diri untuk menghormati yang taat.

Maka, belajar untuk selalu menyesuaikan adalah bijak. Untuk berbagai keadaan. Untuk tiap-tiap kebutuhan.

26 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 10, 2018

TUJUAN PERJALANAN

Sebuah perjalanan semestinya selalu dibersamai oleh tujuan. Hendak ke mana. Guna menemukan apa. Sebab, tanpa tujuan, perjalanan itu akan kehilangan maknanya. Seperti tidak ada yang harus diperjuangkan. Seperti tidak memiliki target perjalanan itu sampai kapan. Alih-alih hanya lelah dan waktu yang dilaluinya sia-sia.

Seperti halnya hidup. Seseorang yang beruntung adalah yang mengetahui tujuan hidupnya. Hingga ia memahami benar hendak digunakan untuk apa waktu dua puluh empat jam dalam ke sehariannya. Kalau tidak tahu, boleh jadi sisa-sisa usianya hanya dihabiskan untuk makan minum buang air besar saja. Hingga tiba-tiba tak terasa semakin hari usia semakin tua.

Seperti halnya ramadhan. Seseorang yang beruntung adalah yang memahami betul apa tujuan puasanya. Apa yang harus di isi/ditunaikan sejak niat berpuasa hingga berbuka. Terus menerus hingga lebaran tiba. Dengan begitu ia berpuasa dengan bersungguh-sungguh. Tak sekadar menahan lapar dan dahaga. Tapi menjaga dari apa-apa yang bisa membatalkan pahalanya juga. Tentu saja tujuan puasa adalah gelar takwa.

Maka, sebuah perjalanan sudah semestinya dibersamai dengan tujuannya. Kalau tidak begitu, perjalanan sejauh ini untuk apa?  Perjalanan ini akan berakhir ke mana? Ada yang dihasilkan atau sia-sia.

25 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 09, 2018

MERASA CUKUP

Bukan tentang seberapa banyak, tapi tentang seberapa cukup.
Begitulah. Adakalanya kita menginginkan apa-apa yg didapat banyak. Tanpa memikirkan bahwa yang kita butuhkan adalah apa-apa yg dicukupkan.

Apa makna banyak jika tidak mencukupi?

Allah Maha Baik, selalu mencukupi apa-apa yang kita butuhkan, bukan selalu apa-apa yang kita inginkan.

Allah Maha Kaya, bisa saja jika sudah berkehendak, Allah akan memberi banyak. Adakalanya Dia tidak memberi banyak bukan karena tidak kuasa. Sungguh Allah Maha Kuasa untuk demikian, Allah menguji seberapa dalam dirimu merasa cukup. Seberapa mudah dirimu untuk bersyukur.

Semoga, cukup itu selalu mengutuhkan rasa syukur, tanpa kufur.

Ramadhan adalah latihan untuk memupuk rasa cukup. Bahwa, seringnya kita di siang hari memikirkan banyak sekali menu untuk berbuka puasa. Menginginkan segala macam jenis makanan yang menggugah selera kita. Tapi saat berbuka, yang diutamakan adalah rasa cukup. Cukup segelas air putih. Cukup tiga butir kurma. Cukup makan sekadarnya. Karena perut hanya bisa menampung secukupnya. Semua yang sejak siang begitu diinginkan, seolah bukan prioritas lagi. Bukan yang dibutuhkan lagi.

Maka, bukan tentang seberapa banyak, tapi tentang seberapa cukup.
24 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_
@sekitar_putri

Juni 08, 2018

BAPER

Kelak, kamu akan merindukan yang dulunya pernah begitu dekat. Yang setiap harinya membersamaimu. Yang kedatangannya ditunggu-tunggu dengan degub hati yang gembira membuncah rindu. Dan kamu akan merasakan kehilangan itu. Quality time sejak membuka mata hingga memejamkannya lagi di waktu malam.

Saat ia benar-benar hilang. Saat ia benar-benar pergi.

Kamu akan merasakan itu. Sebab, mulai menyadari tanpa kehadirannya, ada sesuatu yang terasa kurang. Tanpa adanya, ada hal berharga yang terasa hilang. Dan kamu mulai menyesalinya, kenapa selagi dekat tidak benar-benar menjaganya. Selagi ada tidak sigap untuk senantiasa menggembirakannya. Dan mulai bertanya-tanya, sebenarnya sudah melalukan apa saja selama ini? Apa yang sudah benar-benar diupayakan?

Duh Gusti, perkara ini tidak pernah terasa sederhana. Kehilangan yang berawal dari ketidakseriusan untuk menjaganya. Padahal dulu ketika menunggu kehadirannya sampai gemas dan semenggerutu itu. Kapan ia datang, kapan ia sampai. Adakah kesempatan itu. Adakah kabar gembira itu. Adakah waktu untuk menemuinya lagi?

Kini semua sudah terlanjur berubah. Terlanjur berbeda. Air mata kehilagan seperti apa yang bisa menebus semua kesalahan itu?

Hmm... iman kita apa sampai sebaper itu ya ketika yang pergi itu adalah Ramadhan. Jangan-jangan biasa-biasa saja. 

23 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_

Juni 07, 2018

OLEH-OLEH RAMADHAN

Sisa-sisa di penghujung ramadhan itu ibarat kita dalam perjalan pulang dari suatu tempat. Tinggal sisa-sisa tenaganya, badan yang mulai lelah, keroncongan dan mudah sekali mengeluh. Ya begitulah biasanya kondisi seseorang kalau dari perjalanan jauh menuju pulang. Sudah tidak lagi prima dalam tenaga. Cuma satu yang di mau, ingin cepat sampai rumah.

Begitu juga dalam beribadah puasa, makin ke sini makin banyak kendurnya. Makin banyak alakadarnya. Shalat jama'ah tidak lagi lima waktu. Jumlah rakaat shalat sunnah semakin berkurang. Tilawahnya tidak lagi onedayonejuz. Begitu pisan kan ya gambarannya. Bawaannya udah kepingin cepat-cepat lebaran.

Makanya seperti dalam perjalanan pulang. Padahal nih ya, kalau dari mana-mana itu, kita selalu ingin menyempatkan diri membawa oleh-oleh. Untuk keluarga di rumah. Walaupun cuma sekadar satu tentengan plastik. Rasanya beda tuh sama yang pulang cuma pulang aja, tak membawa apa saja.

Seharunya juga begitu dalam puasa di bulan Ramadhan. Kita pikirkan juga apa oleh-oleh terbaiknya untuk setelah lebaran. Misal, oleh-oleh kebiasaan baiknya selama ramadhan. Yang tadinya tidak pernah bangun shalat malam. Jadi seterusnya tetap bangun. Yang tadinya jarang baca Al-Qur'an, tiap hari jadi berasa ada yang kurang bila belum buka mushaf dan membaca Al-Qur'an. Ada oleh-oleh yang bisa kita banggakan menuju 'pulang'.

Maka, semoga di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Tidak ada hari yang terlewati sia-sia. Bila diibaratkan seperti perjalanan pulang. Bawalah oleh-oleh terbaiknya. Untuk sebelas bulan kemudian.

Di sisa-sisa hari Ramadhanmu, masa mau menghabiskan sisa-sisa usiamu dengan biasa-biasa saja.

22 Ramadhan 1439H
#Ramadhanberkualitas
@azurazie_