Januari 23, 2024

PINTU-PINTU

Tentang kebaikan yang datang dan kemudahan-kemudahan dalam tiap-tiap urusanmu, maka itulah kasih sayang yang Allah berikan kepadamu.

Boleh jadi atas sebab terkabulnya doa tulus kedua orang tuamu dari sejak dalam kandungan sampai saat ini.

Boleh jadi atas sebab kebaikan-kebaikan yang lebih dulu kau lakukan kemarin-kemarin.

Boleh jadi atas sebab nilai sedekah yang telah kau keluarkan.

Boleh jadi atas sebab Shalawat-Shalawat atas nabimu yang setiap hari kau lantunkan dengan sepenuh cinta dan kerinduan.

Boleh jadi atas sebab amalan-amalan rahasia yang sengaja kau rutinkan.

Boleh jadi atas sebab doa-doa yang orang lain khususkan untukmu secara diam-diam.

Maka, bersyukurlah atas kebaikan-kebaikan dan kemudahan-kemudahan itu yang datang dari banyak pintu-pintu. Maka, jagalah pintu-pintu itu agar satupun tidak tertutup. 

Dan tentang kemalangan yang datang padamu, sudah tentu itu akan selalu cenderung atas sebab dosamu sendiri yang kau telah lakukan. Pintu kemalangan itu justru seringnya dibuka atas sebab perilakumu sendiri. Yang karenanya bisa membuat pintu-pintu kebaikan itu menjadi tertutup satu persatu. 


@azurazie_

Januari 13, 2024

SAJADAH YANG KESEPIAN

Aku adalah sajadah yang kesepian di sebuah surau di kampung ini. Yang selalu merasa dingin ketika waktu subuh tiba. Aku bertanya-tanya, kenapa di waktu itu selalu tidak banyak orang yang datang ke surau ini. Apa memang di kampung ini sudah sedikit sekali kaum laki-lakinya yang berkewajiban shalat berjamaah. Apa di kampung ini sudah tidak banyak yang perlu mengaduh dan bersujud kepada sang penciptanya. Sungguh aku sebagai sajadah yang selalu menanti kedatangan mereka bertanya-tanya. 

Akan tetapi aku sedikit punya harapan, infonya tinggal 60 hari dari hari ini bulan Ramadhan akan datang. Biasanya pada bulan tersebut surau ini akan kembali ramai pada waktu subuh. Bahkan anak-anak kecilpun ikut berlarian di atas ku. Rasanya aku sudah tidak sabar menanti hal itu. Sembari berharap pada Ramadhan tahun ini akan lebih banyak lagi yang konsisten meramaikan waktu subuh di tiap harinya. Semoga.


Januari 11, 2024

BALOK PERASAAN

Sejak membuka mata, kita mulai menyusun balok-balok perasaan. Mulai dari rasa syukur karena masih dibangunkan setelah semalaman tidur. Kemudian pergi untuk melewati aktivitas-aktivitas rutin sehari-sehari. Bekerja. Berniaga. Berlibur. Mencari sesuatu dan lain-lain. Balok-balok perasaan itu semakin beragam bentuknya. Terlebih setelah bertemu-bersinggungan-bersisian dengan banyak orang. Baik yang memang sudah dikenal maupun orang asing di jalan. Dengan berbagai macam karakter dan kepentingan-kepentingannya masing-masing. Balok-balok perasaan itu semakin berwarna. Bahagia. Senang. Sedih. Sebal. Merasa lelah. Penat. Mulai muak. Pusing. Merasa diburu-buru. Dan warna-warna lain yang terkadang di luar kendali kita. Sampai-sampai sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata.

Kemudian balok-balok perasaan itu akan sempurna setelah kembali ke rumah. Ketika disambut ceria oleh  keluarga yang kita sayang. Anak yang menyambut ceria dengan celotehnya tentang ini itu yang sudah ia kerjakan seharian. Pamer tentang mainannya. Pamer tentang pencapaiannya. Istri yang sumringah tersenyum karena sudah merasa lega suaminya sampai rumah. Merasa senang karena kembali ditemani untuk menghadapi kerandoman anaknya. 

Balok-balok perasaan itu menjadi utuh setelah sampai rumah. Sekalipun kita sama-sama tidak tahu persis apa warna balok perasaan yang paling dominan di diri masing-masing. Yang di rumah tidak tahu persis kondisi apa yang sudah dialami di luar seperti apa. Yang baru pulang pun demikian tidak tahu persis seharian keadaan rumah seperti apa. Sama-sama tidak tahu tentang keruwetan-keribetan masing-masing. 

Akan tetapi balok-balok perasaan itu dirasa menjadi utuh. Menjadi bentuk yang sempurna - terlepas tampilan yang terlihat seperti apa. Rasanya sempurna saja. Karena pada waktunya semua balok-balok perasaan itu dari pertama terbentuk semenjak bangun tidur sampai kembali pulang, dirasa sempurna karena kembali bersama di bawah atap yang sama bernama keluarga. 

@30haribercerita 
#30hbc2411
#30haribercerita 
#azurazie_ 

Januari 09, 2024

SUDAH BERAPAKAH BERSHALAWAT HARI INI?

Tahun 2024 ayo lebih bersemangat untuk perbanyak shalawat kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Minimal untuk tiga hal ini :

1. Bershalawat karena memang menyenangkan. Ringan di lidah. Mudah dilafalnya. Fleksibel bisa kapan dan dimana saja. 

2. Bershalawat karena menenangkan. Urusan-urusanmu terasa lebih mudah. Karena rasanya hati lebih riang. Lebih gembira. 

3. Bershalawat agar bisa memenangkan. Terus berharap agar shalawat yang kita baca pada akhirnya bisa memenangkan hati Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Kita dapat perhatiannya. 

Jadi, sudah berapa banyak shalawat hari ini? Mulai di target ya sehari minimal harus berapa. Agar lebih konsisten.

@azurazie_

Januari 07, 2024

TENTANG PAKAIAN

Selalu terlihat memakai baju-celana itu-itu saja bukan sebuah kekurangan. Boleh jadi sebenarnya itu ada nilai kelebihannya. Sebab, nanti apa yang kita miliki di dunia ada hisabnya. Ada pertanggungjawabannya. Termasuk apa yang kita pakai. Untuk tulisan ini akan menitikberatkan soal pakaian. Semakin sedikit punya baju, semakin sedikit yang perlu kita pertanggungjawabkan nanti.

Maka, penting rasanya sesekali mengingat kira-kira pakaian mana yang kita punya, yang belum pernah kita pakai dalam menunaikan ibadah. Belum pernah kita pakai untuk shalat. belum pernah kita pakai untuk pergi menuntut ilmu. Pergi silaturahmi. Mencari nafkah dan bentuk kegiatan lain yang ada banyak unsur kebaikan-kebaikan di dalamnya. Mininal satu kali dalam seumur hidup kita pernah memakainya untuk hal-hal demikian. Yang di saat nanti tiba waktunya untuk dipertanggungjawabkan, pakaian-pakaian itu bisa bantu bersaksi untuk sebuah kebaikan. Semoga dengan begitu hisab atas kepemilikan kita menjadi lebih ringan. 

Maka, penting juga sedari awal ketika membeli carilah pakaian yang baik untuk dipakai dalam moment apapun. Dipakai silaturahmi-berlibur-bermain dirasa aman. Dipakai untuk shalat pun pantas dan sopan. Dalam artian pakaian-pakaian itu sudah memiliki kelayakan untuk menutup aurat dan membantu menjaga kehormatanmu.

Jadi, jangan sekalipun usil ketika melihat orang yang kita kenal, memakai pakaian yang itu-itu saja di setiap moment kegiatannya. Terlepas ia masih memiliki pakaian lain atau tidak. Boleh jadi ia hanya memang sedang menerapkan prinsipnya. Menerapkan pemahamannya. Sedang berusaha meminimalisir sesuatu yang kelak belum tentu ia mampu pertanggungjawabkan. 


@30haribercerita
#30hbc2407
#30haribercerita
#pakaian
#azurazie_

Januari 06, 2024

TEMPAT YANG MENJADI SAKSI SUJUD



يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَا رَهَا 
"Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya,"
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 4)

Alangkah beruntungnya apabila yang diberitakan oleh bumi adalah seberapa banyak tempat yang pernah kita pakai untuk bersujud. Makanya, ketika sedang melakukan perjalanan yang apalagi jarak tempuhnya jauh, sebaiknya sempatkan diri untuk mampir ke masjid-masjid yang kita lewati. Agar kita punya sejarah semasa hidup pernah shalat di masjid A sampai masjid Z. Lebih beruntung lagi shalatnya berjamaah dengan orang-orang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya. Jamaah transit yang sama-sama menumpang shalat di masjid itu. Beruntung, kita memiliki saksi hidup yang banyak nanti. 

Atau bisa juga mulai diperhatikan sudut-sudut rumahmu yang belum pernah digelar sajadah di atasnya. Agar di rumahmu tidak hanya ada satu sudut yang pernah dipakai untuk tempat shalat. Tentu perlu diperhatikan juga soal kebersihan atau layak atau tidaknya shalat di sana. 

Karena hal ini juga, maka sangat dianjurkan ketika sehabis shalat fardu untuk menggeser atau berpindah tempat ketika hendak melanjutkan dengan shalat sunnah ba'diyah setelahnya. 

Besar harapan kita semua, semoga kelak apa yang diberitakan oleh bumi adalah tentang lebih banyak tempat-tempat yang baik yang pernah kita gunakan untuk beribadah. Bukan sebaliknya yang kita gunakan untuk tempat bersenda gurau atau lalai. 

@30haribercerita 
#30hbc2406 
#30haribercerita 
#sujud 
#azurazie_ 

Januari 04, 2024

YAKIN DENGAN REZEKI

Bila sepenuh yakin bahwa rezekimu sudah sesuai dengan takaran. Seharusnya tidak akan mengganggu waktu ibadah dalam proses mengupayakannya. 

Bila sepenuh yakin bahwa rezekimu tidak akan tertukar. Seharusnya tidak ada pernah terbesit dalam pikiran untuk mengambil bagian orang lain. 

Dan apabila masih cenderung demikian, apa mungkin dirimu belum benar-benar seyakin itu? 

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ


Artinya: "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)." (Surat Hud Ayat 6) 

@azurazie_

Januari 02, 2024

HUJAN PERTAMA DI 2024



Aku iri kepada mereka yang khusu dalam doanya. 
Tentang mereka yang sepenuh yakin akan didengar rintihannya. Dalam pengaduannya. Dalam sujud panjangnya. 

Bermunajat tanpa ragu. Terus menerus meminta tanpa lelah. Tanpa memikirkan, sudahkah harapan-harapan dalam doa itu dikabulkan satu-satu. Tugasnya hanya berdoa. Setelahnya, baiknya Allah saja. 

Aku iri kepada rintik hujan yang turun kala itu. Hujan yang membersamai untaian doa-doa mereka. Begitu sendu. Begitu syahdu. 

اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً
@azurazie_

Januari 01, 2024

TAHUN 2024

Sekitar minggu lalu, sempat sumringah ketika mendengar himbauan dari bapak walikota tentang pelarangan perayaan pergantian tahun baru, dengan tidak berkumpul di titik point yang biasanya tiap tahun diadakan, maupun tentang pemasangan kembang apinya.

Sumringah hati ini dan mulai berekspektasi : wah tahun ini mah sepi mudah-mudahan, sudah mulai banyak masyarakat yang sadar diri. Ditambah berempati mengingat masih gencarnya seruan #safepalestine🇵🇸 #freepalestine🇵🇸 #stopgenocide.

Maka, kami sekeluarga mulai tumbuh ekspektasi-ekspektasi itu, bahwa malam pergantian tahun bisa tidur nyenyak, ditambah habis diguyur hujan di waktu maghribnya. Jalan raya pun terbilang sepi. 

Sayangnya, sekitar pukul 23.15 ekpektasi itu mulai runtuh. Karena kami terbangun mendengar ada yang mulai menyalakan kembang api, di kampung sendiri. Ekspektasi itu semakin ambyar saat pukul 0.00 semakin berisik dar der dor ramai bersahut-sahutan dengan kampung tetangga juga. 

Saat itu juga rasanya ingin berteriak tentang masih hilangnya empati di negeri ini. Ingin mengumpat kemudian sedih hati ini tentang minimnya kesadaran diri. 

Dan rasanya ingin pula mencari orang-orang yang sudah berbohong di hari pertama pergantian tahun dengan dirinya sendiri. Mereka yang mengaku punya resolusi agar tahun ini menjadi lebih baik, akan tetapi barisan shalat subuh masih saja bisa terhitung dengan jari. 
@azurazie_