November 20, 2014

Tentang kabar hati

malam ini aku ingin berdiskusi denganmu tentang kabar hati dan sketsa-sketsa kasar masa depan. ada waktu luang?

jika ada, silakan telusuri rangkaian tulisan ini. dan jika tidak keberatan, aku harap di ujung kalimat nanti, kamu sedia memberikan komentar satu dua hal saja.

baiklah, mari mulai saja diskusinya. pertama, bagaimana kabar hatimu? sudah cukup lama aku tidak benar-benar menengoknya. hanya sekedar diam-diam memperhatikanmu dari kejauhan dan berasumsi rasa dalam hatimu sedang baik-baik saja.

keberatankah jika aku ingin tahu bagaimana kabar hatimu yang sebenarnya?
di diskusi kita sebelumnya. kita sepakat urusan hati perlu di ungkapkan dengan hati-hati. tidak perlu terburu-buru sebelum benar-benar tahu apa yang ingin di tuju. kita sepakat akan menutupnya rapat-rapat hingga sekiranya datang waktu yang tepat.

malam ini aku ingin bertanya, bagaimana kabar rasa dalam hatimu? setidaknya biarkan aku tahu rasa itu masih menuju ke arah yang sama denganku.

diam-diam saja menjawabnya. jika iya, silakan dilanjut merunut tulisan ini. masih ada yang ingin aku diskusikan. jika jawabanmu tidak, cukuplah kamu berhenti di titik berikutnya.

berarti masih mau lanjut ya. kedua, aku ingin bertanya tentang sketsa-sketsa kasar masa depan. menurutmu ketika seorang ikhwan menjadi tulang punggung untuk keluarga kecilnya, minimal harus memiliki pendapatan berapa dalam sebulan? bagiku ini penting, mengingat kelak kaum akhwat lah yang akan menjadi bendahara rumah tangga.

menurutmu kegiatan apa yang akan kita lakukan ketika sabtu-minggu tiba? untuk yang satu ini aku rasa akan mudah, mengingat kita memiliki beberapa hobi yang sama. aku penasaran bagaimana nanti kita mengkolaborasikannya.

dan bolehkah aku tahu bagaimana rencanamu ketika kelak menjadi satu-satunya tulang rusuk seorang ikhwan? pembelajaran apa yang akan kamu sediakan setiap harinya. sebagai seorang istri menjadi penasehat yang baik untuk suami. sebagai seorang ibu menjadi sebaik-baiknya pendidik si buah hati.

barangkali cukup itu dulu di diskusi kita kali ini. terima kasih sudah mau meluangkan waktu berhargamu itu. di lain waktu kita akan bahas sketsa-sketsa kasar masa depan di atas menjadi lebih halus dan terperinci, bagaimana?







November 09, 2014

ada yang sedang aku perjuangkan

ada yang sedang aku perjuangkan. bukan lagi harapan, apalagi impian. melainkan tujuan.
ya, aku sedang memperjuangkan tujuan. kali ini aku sedang benar-benar menaruh perhatian besar ke arah itu.

tujuan. bukan lagi impian. impian telah lama berlalu, ketika masa aku tidak mengenal siapa-siapa. ketika tidak ada sosok yang aku ketahui keberadaannya sebelumnya. jangan tanya bentuk wajah dan tutur kata. saat itu aku tidak punya Ide untuk melukiskannya. aku hanya memanggilnya ‘si masa depan’ ketika membuat tokoh utama di tulisan-tulisanku.

tujuan. bukan sekedar memperjuangkan harapan. masa harapan pun sudah aku lewati. bukan berarti saat ini tidak lagi membutuhkan harapan. tapi aku sedang memperjuangkan hal yang sifatnya lebih serius.

masa harapan ku lewati ketika pada suatu hari aku mulai mengenal seseorang. nampak jelas wajah dan tutur katanya. jelas pula keberadaannya. meskipun baru sekedar alakadar. dari pertemuan yang tidak diduga sebelumnya. tidak banyak sapa. hanya senyuman sederhana - setelah itu kembali sibuk dengan dunia masing-masing. hanya saja semenjak itu ada hal yang sepertinya mulai berbeda. entah apa itu namanya. barangkali itulah yang sering disebut rasa.

setelah itulah tokoh utamanya berubah dari ‘si masa depan’ menjadi ‘dia’ di tulisan-tulisanku selanjutnya.
ada yang sedang aku perjuangkan. tujuan. rasa yang pernah muncul itu ternyata menjadi sebuah tujuan. semakin terang-benderang arahnya. sudah semakin dikenal setiap kepribadiannya. itulah tujuan. sesuatu yang sedang aku perjuangkan. dengan begitu tokoh utamaku sudah memiliki nama resmi. bukan lagi ‘dia’, lalu siapa? kalian ingin tahu? duh rahasia.

tunggu sampai aku berhasil memperjuangkannya ya. 








November 05, 2014

hidup di negeri dongeng

kita pernah berbicara layaknya hidup di negeri dongeng. memang seperti kekanak-kanakan, tapi kita sama tahu di sana penuh dengan harapan-harapan.

awalnya kamu yang mulai bercerita, bertingkah seolah-olah kamu adalah putri dari penyihir ternama. seorang putri yang memiliki ayah yang baik dan pengertian. selalu cekatan memberikan apa saja yang kamu butuhkan. hanya simsalabim seketika semua tersedia. meskipun aku tahu ayahmu terlalu memanjakanmu jika kutarik kesimpulan dari ceritamu itu. 

katamu, suatu hari nanti ingin berpetualang menggunakan permadani terbang. menyibak kumpulan awan berarak hanya untuk memastikan langitmu akan selalu cerah. 

"siapa tahu bertemu pangeran langit." katamu sembari memandang ke atas. 
aku nyaris tertawa lepas, jika tidak ingat ini percakapan di negeri dongeng. 

aku mengangguk - lanjutkan ceritanya. begitulah maksudku. 

berlanjutlah dongeng harapanmu itu. mulai bercerita saat bertemu pangeran langit dan bagaimana kepribadiannya. tentang kebaikan dan tutur katanya.

kamu bercerita seakan memang sudah sangat mengenalnya. padahal bertemu saja belum. kataku mencibir, yang tentu hanya di dalam hati. mana berani aku membuyarkan dongeng harapanmu itu.

kita terus berbicara seperti hidup di negeri dongeng, hingga matahari beranjak pulang. 

sungguh cerita putri sang penyihir yang penuh harapan.

dan percakapan itu ditutup dengan pertanyaanmu yang membuatku seketika gugup. bagaimana cerita negeri dongeng versimu? kamu tiba-tiba bertanya seperti itu.

"eh? aku ingin bertemu dengan putri angsa mungkin."

"kenapa dia?"

"biar nggak perlu repot-repot ke langit." jawabku asal.







Oktober 29, 2014

di masa depan

di masa depan kita perlu merencanakan ini. sebuah ruangan berdinding rak buku. lengkap dengan koleksi aneka jenis bacaan. novel berbagai genre, kumpulan sajak dan prosa, komik, cerita bergambar. tentu saja buku-buku agama dan ilmu pengetahuan juga tersedia. sebagian koleksi, hasil buah tangan dari karya penulis-penulis favorit kita. sebagian lain referensi dari teman atau memang bacaan yang kita sedang/akan butuhkan. 

ruangan itu di sulap menjadi senyaman mungkin, sebagai tempat mengisi waktu luang di sela-sela rutinitas harian. buku-bukunya disusun dengan sedemikian rupa, tidak kalah rapi dengan rak buku perpustakaan besar kota.

membaca buku berjam-jam sembari menyantap potongan-potongan buah, itu hal yang menyenangkan bukan? ketika mata mulai lelah, istirahat sejenak. kita bisa mendiskusikan banyak hal. membahas tentang apa-apa yang sudah kita baca. saling mengemukakan pendapat masing-masing.

di masa depan kita perlu membicarakan tentang rencana ini. bagaimana menurutmu? tertarik tidak?

dan saat ini boleh kutahu kamu sedang membaca buku apa?


Adsumber : google







Oktober 28, 2014

bagaimana caranya membuatmu berhenti mengharapkanku?

bagaimana caranya membuatmu berhenti mengharapkanku?

kita sama tahu, harapan itu sulit untuk ditebak keinginannya. jangankan menghentikan harapan orang lain, harapan sendiri pun kadang sangat sulit untuk dipahami. alih-alih harapan yang punya porsi berlebihan.

lalu aku berpikir bagaimana caranya membuatmu berhenti mengharapkanku?

mungkinkah aku perlu membangun tembok hati yang tinggi menjulang ke langit? tembok kokoh tanpa celah sama sekali. aku rasa akan percuma jika sifat harapanmu bisa menembus dinding setebal apapun itu. bukankah kadang harapan sekeras kepala itu, ia tidak peduli harus berhadapan dengan apapun. sekalipun jelas-jelas tengah berhadapan dengan kenyataan.

dan seringkali harapan tidak mempan dengan kata perintah atau larangan bukan? ia tidak pernah mau mendengar titah untuk berhenti segera, bahkan untuk pergi menjauh selamanya.

harapanmu akan selalu bersikukuh dengan pendiriannya. sekalipun ia tahu hati yang selama ini ia perjuangkan, sudah tidak lagi menerima perhatiannya. hati itu sudah memiliki tujuan yang berbeda.

tapi sungguh aku ingin mencari tahu, bagaimana caranya membuatmu berhenti mengharapkanku?

atau kamu punya usul untuk hal ini? karena sejauh ini aku belum menemukan jawaban yang melegakan, ketika sewaktu-waktu berperan menjadi sepertimu.





Oktober 04, 2014

teduh

 setiap orang berlomba-lomba mencari tempat berteduh. entah dari dinginnya air hujan ataupun teriknya sengatan matahari. kamu tahu kenapa? bukankah seharusnya mereka tetap melangkah untuk mencapai tujuan masing-masing?

aku tidak tahu. dan tidak merasa perlu mencari tahu. karena aku pun sedang berteduh di bawah atap toko usang -yang sepertinya sudah tidak berfungsi.

hujannya menderas, aku memilih berteduh sejenak tidak ingin tertangkap basah telah hujan-hujanan ketika bertemu denganmu nanti. meskipun kalau saja aku nekat menerobos hujan, tentu akan menghemat waktu. dan pertemuan kita di salah satu toko buku menjadi lebih lama.

mungkin kamu sekarang sedang resah menungguku. bukan karena takut aku akan terlambat. tapi kekhawatiran yang suka agak berlebihan itu yang membuat suasana hatimu tidak nyaman. padahal aku baik-baik saja jika hanya satu dua kali hujan-hujanan.

umm.. nyaman ya. sejenak aku berpikir, bagaimana jika aku yang merasa lebih nyaman berada di tempatku berteduh sekarang. padahal tempat keberadaanmu kini adalah tujuanku.

bagaimana kalau aku merasa lebih nyaman berdiam diri dibandingkan menerobos hujan untuk bertemu denganmu?

seketika aku menengadahkan telapak untuk mengecek rintik hujan yang turun. ah sudah jauh mereda. aku akan bergegas, terus berjalan, terus melangkah untuk satu tujuan. sekalipun aku harus berteduh, berteduhlah di bawah atap yang sama denganmu. seperti halnya rasa ini yang selalu ingin berteduh di hatimu.

jangan khawatir, segera aku ke sana.







Oktober 03, 2014

hujan dan doa yang melangit

tidak lagi mendengar kabarmu seperti halnya musim kemarau yang merindu datangnya hujan.

ia tidak tahu kapan hujan itu akan tiba ke bumi membawa pesan langit. berisi jawaban atas harapan-harapan yang ia bisikkan selama ribuan menit.

kamu mungkin pernah mendengar sebuah kiasan, selama ini hujan lah satu-satunya perantara yang menghubungkan langit dan bumi.

tentang komunikasi di antara dua ruang yang saling berjauhan. cara menyapa yang unik dengan tanpa pernah bersentuhan.

aku ingin belajar menantimu setabah kemarau menunggu rintik hujan. sabar meski dalam waktu yang cukup panjang. menunggu waktu yang tepat mendatangimu untuk bersama merajut masa depan.

tidak sekarang. seperti halnya bumi yang percaya, ada waktu-waktu tertentu hujan itu akan lebih sering datang.

aku menunggumu seperti bumi menanti pesan langit yang di bawa oleh hujan. dan aku tidak keberatan sekalipun nantinya akan kebanjiran harapan.

jika hujan berperan sebagai penghubung bumi dan langit. bukankah kita pun memiliki doa? doa yang melangit.





September 26, 2014

asa & doa jilid 2

lagi-lagi secara tidak sengaja aku mendengar asa & doa berbisik-bisik tentangmu, tidak jauh dari sajadah yang aku bentangkan.

mereka mendebatkan satu hal, kamu lebih senang di doakan atau diharapkan.

doa memiliki pandangan yang tulus sekali, katanya kamu harus selalu menjadi inti dari doa-doa yang baik. doa yang mampu mewujudkan semua harapanmu. sesuai dengan yang kamu butuhkan.

asa tidak mau kalah berargumen, katanya kamu lebih senang diharapkan. menjadi pusat perhatian dan tempat berlabuhnya semua tujuan. kamu harus selalu menjadi doa yang menghangatkan semua harapan.

aku tertawa kecil sambil mengusap kepala. seberapa pun gigihnya mereka mempertahankan pendapat masing-masing. mereka tidak pernah tahu, bahwa kamu lebih butuh diperjuangkan. bukan sekedar menjadi harapan.
bukankah begitu?

di lain kesempatan aku melihat asa dan doa berjabat erat. suasananya menjadi lebih hangat, lebih bersahabat. tidak ada lagi jeda tujuan di antara keduanya. sudah terbentuk satu pandangan yang sama.
mereka sepakat, apapun harapannya dan apapun doanya semoga selalu membawa kebaikan untukmu. kebaikan yang mewarnai perjalanan masa depan yang lebih nyata.

aku mengerutkan dahi, semakin menerka-nerka dalam tanya. sebenarnya selama ini yang mereka maksud dengan kamu itu siapa?
mungkinkah aku mengenalnya?











biarkan

biarkan. biarkan waktu malam ini terasa lebih lambat dari biasanya. seperti waktunya seseorang yang tengah menunggu. meskipun aku tidak sedang menanti datangnya sesuatu.

biarkan. biarkan malam ini menjadi malam yang lebih panjang. seperti malam-malamnya seseorang yang selalu sendirian. meskipun aku tidak sedang kesepian.

menjadi waktu yang efektif untuk melepaskan semua beban pikiran. menjadi malam yang menghangatkan suasana ketenangan.

menjadi waktu yang membuat jeda sejenak carut-marutnya rutinitas dunia. menjadi malam yang menyepikan hingar-bingar masalah-masalah yang ada.

biarkan. biarkan malam ini menjadi lebih segar udaranya. lebih lega menghela napasnya.

biarkan. biarkan malam ini terasa begitu berbeda. darah di kepala tidak menggumpal penat. hati tidak dirundung gelisah kuat. pikiran tidak diserang kebingungan akut.

biarkan. biarkan malam ini di nikmati dengan begini adanya. sebab tidak menutup kemungkinan ketika pagi menjelang, segala macam 'beban' akan kembali sedia kala.

biarkan. biarkan malam ini terasa lebih panjang dari biasanya. dan ketika pagi kembali datang semoga harapan baru akan ikut menyapa kita.







kamu pernah?

kamu pernah membaca tulisan yang seolah-olah kamu sedang bercermin ketika membacanya?
aku pernah.

aku pernah tiba-tiba tertohok oleh 'pantulan bayangan' tulisan itu, seakan-seakan di depan mataku sendiri tengah berdiri si tua bijak yang sedang memarahiku karena satu kesalahan fatal. ia berkotbah asam garam kehidupan dan aku tidak bisa berkutik dibuatnya. itu tulisanmu yang berisi sindiran dan teguran.

kamu pernah?

aku pernah melihat wajahku di rundung pilu, seakan ingin menangis, terenyuh, tersentuh ketika membaca tulisan itu. seakan tiap kalimat yang terurai, tertulis rapi di atas sebuah air yang bening. dan aku bisa melihat ekspresi wajahku ketika membacanya. itu salah satu tulisan terbaikmu yang memuat remah-remah hikmah kehidupan.

kamu pernah?

aku pernah merasa hatiku tiba-tiba sejuk, damai, tenang sekali. perlahan-lahan mulai tumbuh tunas-tunas harapan. mulai menyala bara-bara semangat. oleh sebuah nasihat-nasihat bijak, kata-kata motivasi. seakan aku sedang berkaca untuk melihat kekuranganku sendiri. bercermin pada kealfaan yang aku buat. tulisan itu seperti kaca yang ternoda. ada harapan aku bisa membersihkannya dengan memperbaiki laku dan etika. kamu ingat tidak pernah menulis tentang nasihat-nasihat bijak?

kamu pernah?

aku pernah menikmati suasana hati yang tiba-tiba hangat akan harapan. mata yang berbinar akan impian. oleh sebab membaca tulisan. suatu waktu ketika aku membaca tulisan yang memuat tentang perasaanmu. ya meskipun di sana tidak tertera nama yang dituju. itu tidak mengurangi kehangatannya.

aku hanya ingin bercermin sejenak di sana. melihat bayangan wajahku yang merasakan hal yang sama dengan yang kamu rasa. sekalipun tulisan itu kamu tunjukan untuk seseorang yang entah siapa di luaran sana. sedangkan kamu tidak akan tahu, rasa versiku itu untukmu sang penulisnya.

kamu pernah?
sungguh aku pernah!








September 16, 2014

tempat menemukanmu

orang tua bilang mencari teman hidup tidak hanya sekedar baik orangnya, tapi asal-usul dan di mana awal kamu menemukannya juga penting.

lingkungannya baikkah? bertemu di tempat yang baikkah?

umm... perihal ini membuat aku ikut berpikir. tepatnya menerka-nerka. benar juga, pada akhirnya di manakah aku menemukan keberadaanmu?

di perjalanan sepanjang jakarta-bogor kah? tempat di mana aku lebih sering lewati. atau di beberapa titik tempat aku singgah.

ya, perjalanan pulang mengharuskanku singgah sebentar untuk menunaikan kewajiban magrib-isya. di waktu-waktu itukah kita bertemu? di salah satu masjid/mushola yang aku datangi? barangkali kamu ikut bagian menjadi makmum di barisan jamaah sholat. atau kita tidak sengaja berpapasan sewaktu mengambil wudhu?

rahasia kecilnya, aku sangat menghargai perempuan yang mau menyempatkan diri menunaikan ibadahnya ketika dalam perjalanan. kamu pun demikian bukan?

atau kita akan bertemu di salah satu toko buku di kota ini. ya, sedikitnya dua kali dalam sebulan aku akan mengunjungi toko buku. entah di kota depok ataupun bogor. barangkali kita bertemu di sana? di antara rak-rak berisi buku baru dengan aroma khasnya yang sangat menenangkan. jarak kita hanya sepelemparan batu. aku membaca di rak bagian novel, kamu sedang asyik senyum-senyum sendiri membaca komik.

rahasia kecilnya, aku suka dengan perempuan yang gemar membaca. mungkinkah aku akan menemukanmu di sana?

atau secara tidak sengaja kita bertemu di tempat yang tidak terduga sama sekali. kalau kamu tipe 'si pejalan kaki'. tipe yang suka ngebolang menyisir jalan keramaian sendirian. barangkali kita ada kesempatan berpapasan di sana.

ketika kamu melihat ada laki-laki kurus kerempeng dengan rambut tidak pernah di sisir sedang jalan kaki ke sembarang arah dengan menyoren tas kecil. sapa saja. kalau kamu sedang beruntung, lelaki itu bisa jadi aku. haha... akankah justru kita akan bertemu di suasana yang seperti itu?

ah, aku semakin penasaran di manakah tempat yang baik, sekiranya kita akan dipertemukan? atau begini saja. saat aku belum juga berhasil menemukanmu. mari kita berharap kamu bisa menemukanku lebih dulu di tempat yang baik.

bisa bekerja sama dengan selalu berada di tempat yang baik?








sedang lupa ingatan

kau dan aku sebelumnya pernah dipertemukan di alam sebelum dunia ini terbentuk. kedua nama kita tertulis di buku takdir yang sama. di lembar yang berdekatan. untuk itulah ada jaminan setiap makhluk adalah berpasangan.

barangkali saat itu kita sudah saling mengenal satu sama lain. dan bisa dikatakan, ketika kita mulai singgah hidup di dunia yang sementara ini, kita seakan lupa ingatan.

kau dan aku kembali menjadi orang asing. menjadi orang yang berjuang keras menemukan kembali ingatannya. mengingat catatan penting sebuah takdir yang hilang.

kau dan aku tidak begitu paham bagaimana cara mengembalikan ingatan itu. hanya memiliki petunjuk sedikit, ketika hati ini merespon getar rasa yang sama, ada kemungkinan ingatan berharga itu akan kembali. meskipun tidak seketika mulus 100%.

ada petunjuk bahwa rasa yang orang lain sebut cinta itulah kunci dari semua ingatan yang pernah ada.

seperti itulah cara kau dan aku mengumpulkan ingatan-ingatan. sembari berharap ingatan tentangmu memanglah baik. pun demikian, tentang aku dalam ingatanmu juga baik.

sebab kita semua ingin berpasangan dengan yang baik bukan? dengan seseorang yang namanya memang tertera di buku takdir yang sama.

bisakah kau mengingatku dengan lebih cepat?






tulisan yang mengendapkan harapan

dulu seingatku, pernah menulis tentang fungsi kata-kata selain sebagai bacaan. kata-kata punya sifat unik, ia pandai menyerap ingatan. mengendapkannya menjadi sesuatu yang sangat berharga. menyimpan kenangan salah satunya.

kau tahu, kata-kata yang pernah ku tulis dulu, menyimpan begitu banyak harapan. mengendapkan perasaan-perasaan yang dulu aku utarakan melalui sebuah tulisan. aku tahu kau suka membaca, karena itu aku belajar menuliskan rasa itu dengan sedemikian rupa.

berharap kau mengerti, meski di waktu yang bersamaan aku takut jika kau mulai bisa memahami maksud hati.

harapan dalam tulisan itu kini dingin membeku karena tidak pernah lagi kau baca. memang bukan sepenuhnya salahmu, karena aku yang berhenti menuliskannya.

kini, tiba-tiba saja kau datang menanyakan lagi tulisan-tulisan itu. dan harapan-harapan itu masih tetap sama, tidak berkurang sedikitpun kadarnya.

layaknya es yang membeku akan perlahan mencair oleh hangatnya matahari pagi. endapan harapan itu pun perlahan mulai terurai ketika kau 'menghangatkan' tulisanku lagi.

kau masih suka membaca kan? bolehkah aku menulis lebih banyak lagi tentang harapan perasaan?






September 11, 2014

mari ceritakan semua

mari ceritakan semuanya. tentang letihnya setelah bepergian. tentang perut yang sedang keroncongan. tentang mata yang mulai mengantuk. tentang tenggorokan yang sedikit gatal, sesekali batuk.

mari ceritakan semuanya. tentang ikan-ikan kecil yang tetap asyik berenang di antara arwana yang siap kapan saja menyerang. tentang delapan ekor marmut yang selalu bunyi ketika melihat kelebatan orang. tentang rembulan yang sedang bertengger di langit terang.

mari ceritakan semuanya. tentang jangkrik yang sibuk mengerik. tentang nyamuk-nyamuk yang sedikit-sedikit mengusik.

mari ceritakan semuanya. tentang angin dingin yang leluasa berhembus dari daun pintu yang terbuka lebar. tentang seekor kucing tetangga yang selonong boy ke dapur.

mari ceritakan semuanya. duduk istirahat sejenak. perhatikan semua hal yang selalu bergerak. bukankah bukan kau saja yang selalu terlihat sibuk?






percakapan asa & doa

suatu ketika asa dan doa tengah duduk bersama dalam sebuah perbincangan yang menarik.

"doa apa yang sering kau dengar dari lidah anak muda itu tentang jodohnya?" asa berujar.

"kebaikan. ia lebih banyak meminta Tuhan agar selalu mencurahkan kebaikan-kebaikan untuk seseorang yang wajahnya saja ia belum kenali." doa menanggapi dengan antusias.

"waaah ini menarik." kata asa tak kalah antusias.

"lalu harapan apa yang kau rasakan tulus dalam hati pemuda itu?" doa ingin sekali tahu.

"ia sangat berharap bisa menjadi bagian dari kebaikan itu sendiri."






ini tentang rindu

ini tentang rindu yang sesekali datang tiba-tiba.

tentang ia, sosok seseorang tanpa nama yang selalu terselip dalam doa-doa.

tentang ia, yang nantinya ditakdirkan sebagai pelengkap masa tua.

tentang ia, yang keberadaannya masih misteri, perangai, sifat, tutur kata, kebiasaan-kebiasaan dan hatinya masih tersembunyi. diam-diam asanya mengikuti takdir ilahi.

tentang ia, satu-satunya sosok yang akan menjadi jodoh kita. untuk masa depan yang berbahagia.

ini tentang rindu yang sesekali datang tiba-tiba.

lalu apakabar imanmu? baik-baikkah di sana?








September 03, 2014

kemarilah. duduk di sini. ceritalah.

kemarilah. duduk di sini. ceritalah. tentang apa saja. tentang apa-apa yang sedang kau pikirkan. tentang isi kepala yang minta segera di muntahkan.

kemarilah. duduk bersandar. ceritalah. tak perlu ragu. sampaikan kepadaku. semuanya. semua yang kau rasa perlu aku tahu. semua yang kau tahu tidak ada ruang yang cukup lagi di kepalamu.

kemarilah. mendekat ke sini. ceritalah. ceritakan semampumu. sesuatu yang sedang menjadi bebanmu. aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu. pendengar yang hanya perlu mendengar, tidak turut mencerewetimu.

kemarilah. rebahkan kepalamu. ceritalah. selama apapun yang kau mau. selama waktu yang kau butuhkan untuk kenyamanan perasaanmu.

kemarilah. duduk di sini. ceritalah.






teman seperjalanan

perjalanan yang baik akan mempertemukan teman-teman seperjalanan.

itu katamu, setiap hendak melakukan petualangan baru.
awalnya kamu adalah tipikal orang yang lebih suka berjalan sendirian. alasannya sederhana. ketika berjalan sendirian, kita tidak perlu ikut membawa beban orang lain. bebas, sebebas-bebasnya tanpa ada aturan yang mengikat dengan hak mereka.

katamu itu teori yang sederhana, meskipun aku setengah pusing memahaminya.

ya dengan berjalan sendirian kita bebas menentukan langkah awal, dan sampai mana akan berpetualang.

tidak perlu merasa tidak enak karena barangkali orang lain akan merasa bosan, mulai jenuh, mulai lelah dan sebagainya. hingga memutuskan pulang.

bukankah perjalanan yang seru adalah perjalanan yang kita tentukan sendiri batasnya, bukan karena keterbat
asan orang lain. katamu panjang lebar.

aku mengangguk saja, sembari melihatmu mulai menggendong tas besar itu di punggung. entah ke mana lagi kakimu itu melangkah.

perjalanan sendirian yang mempertemukan teman seperjalan ya? sepertinya menarik.

waktu berlalu menghapus jejak-jejak sebelumnya.

ternyata kamu benar-benar membuktikan teori itu. setelah sepulanganmu, kamu tak lagi sendirian. rupanya kamu berhasil menemukan teman seperjalanmu itu, seseorang yang memiliki teori yang kurang lebih sam
a denganmu.

hingga teori baru pun lahir. bukankah lebih menyenangkan berpetualang dengan orang yang memiliki hobi yang sama, memiliki prinsip dan pandangan hidup yang sama?

aku tercengang, ini hal yang menarik. seseorang yang kukenal selalu bepergian ke mana saja sendirian, kini mulai diiringi langkahnya oleh orang asing. seseorang yang kamu kenalkan sebagai teman seperjalanan.

aku sampai bertanya-tanya, bagaimana rasanya memiliki teman seperjalanan? seseru itukah petualanganmu itu?
 

 




selamat telah menjadi seorang ibuk

menjadi sehangat-hangatnya pelukan untuk buah hatimu. menjadi senyaman-nyamannya tempat perlindungan titipan Rabbmu.

selamat telah menjadi seorang ibuk.

menjadi syurga untuk mereka di bawah telapak kakimu. menjadi taman didik terbaik mengenal tuhannya, untuk anakmu.

selamat telah menjadi seorang ibuk.

seorang ibuk yang dimuliakan anakmu, anak-anak yang tumbuh menjadi peribadi yang baik, soleh dan mengharap ridho Allah, melalui bakti kepadamu.

selamat menjadi sebaik-baiknya ibuk untuk mereka. bersama-sama bahagia dalam suka cita.






Agustus 25, 2014

melalui tulisan

pertama kali mengenalmu melalui tulisan sederhana, hanya sekedar ucapan ramah tamah sebagai awal kamu mendiami rumah barumu di dunia maya.

tidak ada identitas resmi seperti nama lengkap, alamat rumah atau bahkan selembar foto tuan rumahnya.

tapi entah kenapa, itu pun cukup menjadi daya tarik buatku mengunjungi rumah barumu setiap harinya. sekedar mengecek tulisan apalagi yang kamu jamukan pagi ini. lambat laun menjadi sarapanku ketika terbangun di dini hari.

aku mengenal wajahmu melalui bingkai kata, berasumsi sendiri seperti apakah gerangan si penulis yang setiap kalimatnya aku nikmati titik komanya.

mengenal suaramu melalui rima kata, dari rangkaian huruf yang berhasil kamu intonasikan menjadi sajak-sajak berirama. dan aku mulai kecanduan untuk ikut mendendangkannya.

aku mengenal kepribadianmu dari bijaknya kalimat yang kamu buat. seolah menundukkan jumawa tiap orang yang membacanya. menegakkan punggung asa yang sedang kesepian hatinya. dan seringkali aku diam-diam ikut mengaminkannya.

dan sejauh ini apakah kamu tahu kita sudah lama bertetangga, setidaknya di dunia maya. aku tahu kamu pun sesekali berkunjung ke rumah mayaku. sekedar menghargai tiap jejak pengunjung rumah mayamu. meskipun tidak ikut meninggalkan jejak.

sebab diam-diam membaca tulisan orang lain tidak perlu ada pemberitahuankan?








kucing

"kucing itu punya insting yang tajam, tahu mana orang asing yang memang suka mereka, mana yang nggak." katamu di sela-sela suapan makan siang kita.

aku masih sibuk mengunyah potongan otak-otak, sembari melirik seekor anak kucing yang tiba-tiba melendot manja di kakiku.

"ah masa? itu bukannya insting, memang penciuman mereka saja yang peka. kita kan sedang makan." kataku berasumsi, kini sisa gigitan otak-otak pindah alih menjadi jatah kucing itu.

"ye nggak percaya. nanti aku buktikan, tanpa kita sedang makan pun. mereka akan berdatangan menghampiri kita."

itu percakapan yang paling aku ingat tentangmu. benar saja di lain kesempatan, ketika kita sedang asyik membaca serial supernova yang baru, tiba-tiba saja sekumpulan anak-anak kucing- yang entah dari mana datangnya, mengeong menghampiri.

kamu menyambut hangat mereka dengan usapan lembut. aku seperti melihat sekumpulan anak kucing itu menemukan ibu asuhnya. dan caramu berinteraksi memang kelihatan sekali menyayangi mereka.

itu sepotong kenangan yang membuat aku ikut menyukai kucing. hewan ini memang menggemaskan sekali ya. apalagi jika habis kena cipratan gerimis. lucu sekali melihat mereka berjalan agak berjinjit, 'mengibrit-ngibrit' kan tangannya yang basah. lalu sibuk sekali menjilati bagian tubuhnya agar cepat kering.

kamu akan tertawa terpingkal kalau sedang menyaksikan moment itu. meskipun tidak lama kemudian kamu sibuk mencari handuk kecil untuk membantu mengeringkannya.

itu dulu sebelum kamu pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. meninggalkan kenangan itu di sini, di tempat ku kini berada. lorong panjang, sepi dan jika malam akan sedikit gelap.

dan setelah kejadian menyedihkan itu, entah kenapa setiap kali aku melewati lorong panjang ini, aku seperti ditemani oleh kumpulan kucing yang aku tak tahu dari mana datangnya.

ketika mulai gelap pancaran bulat dari cahaya bola mata mereka lah yang menjadi penerang perjalananku. sampai di ujung lorong. dan kembali mereka pergi entah ke mana.

satu ekor yang warnanya paling menonjol dari yang lainnya. warnanya orange dengan loreng-loreng putih. buntutnya panjang sekali. sampai-sampai ketika berjalan, ekor itu membentuk lingkaran sempurna di udara.

hmph jika diperhatikan kucing itu agak mirip dengan kucing yang kamu selamatkan dulu. kucing yang hampir tertabrak motor ugal-ugalan. yang kamu selamatkan dengan nyawamu.





aku suka caramu

aku suka caramu menjaga kehormatan diri. meskipun menurut orang lain itu hanya sekedar foto. tapi tidak ada salahnya untuk lebih berhati-hati dengan aib sendiri.

ya ini memang pendapat yang cukup unik. kamu berprinsip di dunia maya yang luas ini tidak perlu menampilkan wujud rupa. kamu lebih suka memasang ava, foto profil gambar hewan-hewan lucu atau setangkai bunga.

katamu foto wajah itu sesuatu yang spesial, bersifat pribadi dan hanya di dapat di dunia nyata. tidak sembarang orang bisa mengaksesnya, mengambil, bahkan mengoleksinya. aku sependapat dengan teori itu, meskipun menurutku itu hak individu masing-masing orang untuk berekspresi.

aku suka caramu menjaga kehormatan diri. terlebih-lebih ketika tidak sengaja aku dapati seorang teman, ada yang memang hobi mengkoleksi foto-foto perempuan manis di hapenya. jumlahnya sudah ratusan.dan katanya ia unduh di dunia maya. aku sampai geleng-geleng kepala dengan hobi uniknya.





Agustus 12, 2014

apa yang kau pikirkan? atau apa?

apa yang kau pikirkan? atau apa?

apa yang kau pikirkan ketika tiba-tiba ada lelaki asing datang bertamu, lancang begitu saja bertanya, apa permintaan maharmu jika ada yang berniat melamar?

apa yang kau pikirkan? marah? tersinggung, malu? terenyuh? ingin tertawa? atau apa?

apa yang kau pikirkan, ketika ia datang dengan kerendahan hatinya, mengajukan proposal masa depannya, memintamu ikut serta dalam proses realisasinya. berawal dari titik terkecil dari yang ia punya. meniti dari anak tangga paling bawah. mengajakmu bersama-sama mendaki puncak dengan segala kemampuan yang ada.

apa yang kau pikirkan? bersedia dengan senang hati? merasa keberatan? tidak terlalu peduli? atau apa?

apa yang kau pikirkan, ketika ia sedikit bercerita, bahwa masa lalunya tidak lah begitu baik -untuk tidak dikatakan buruk. ia banyak melakukan hal bodoh dan membuang-buang waktu dengan percuma. dan ia ingin memulai kembali dari nol. sebagai manusia dengan harapan baru. melakoninya bersamamu jika kau bersedia menerimanya dengan lapang dada. menyambutnya dengan tangan terbuka.

apa yang kau pikirkan? enggan? merasa ada yang lebih baik? takut tidak bisa menjadi imammu yang baik? ragu? atau apa?

apa yang kau pikirkan, ketika kau tahu lelaki asing itu, pendidikannya tidak setinggi dirimu, penghasilannya hanya di atas rata-rata -untuk tidak dikatakan kecil dari penghasilanmu. tapi ia bertekad untuk bekerja keras. menjadi pemberi nafkah yang bertanggung jawab kepada keluarganya.

apa yang kau pikirkan? tidak peduli? masih kurang yakin? masa bodo? atau apa?

apa yang kau pikirkan, ketika ia datang tidak untuk mendengar jawaban yang ia ingin dengar. jawaban yang menjadi harapannya.

lelaki asing itu hanya ingin mengajakmu bersama-sama saling memperbaiki diri. karena ia yakin dengan begitu kau akan lebih memahami maksud kedatangannya.

lalu apa yang kau pikirkan ketika ada lelaki asing seperti itu datang bertamu?

merasa terusik, terancam, tidak aman? atau apa?

azura-zie.com
 




Agustus 11, 2014

lalu bagaimana seharusnya aku bertamu?

lalu bagaimana seharusnya aku bertamu?

aku tahu di balik pintu yang masih tertutup itu ada rasa yang begitu nyata. dan aku bisa merasakan dengan jelas keberadaannya.

membuat aku mengansumsikan banyak hal, bertanya-tanya untuk siapakah sebenarnya perasaanmu itu. siapakah gerangan yang selama ini kamu tunggu? aku ingin tahu. karena mau tidak mau ini sudah ikut mengusik harapanku.

lalu bagaimana seharusnya aku bertamu?

menunggu undangan resmimu, yang memintaku datang. kemudian pada akhirnya pintu yang selama ini tertutup akan terbuka. dan kamu dengan senang hati menceritakan tentang perasaan yang kau punya selama ini. rasa yang diam-diam aku perhatikan dari kejauhan.

hingga terang benderanglah urusan hati ini.

atau seperti yang belakangan ini aku lakukan. datang diam-diam ke pelataran rumahmu. dengan niat hati memberanikan diri mengetuk pintu rumah itu.

meskipun nyatanya tidak semudah itu, yang aku lakukan hanya mengitari rumahmu. sembari berharap kamu tiba-tiba keluar, sekedar memberi sinyal agar keraguan itu berguguran.

ada perasaan ragu, takut semua yang aku rasakan selama ini hanya didasari oleh asumsiku belaka. bahwa memang bukan aku yang kamu tunggu kedatangannya.
sebab perasaanmu seperti cahaya bola lampu yang mengundang banyak laron untuk mengitarinya. dan aku hanyalah salah satu laron yang sedang terpikat oleh sinarnya.

lalu bagaimana seharusnya aku bertamu?

hmm.... sebenarnya aku yang masih kurang bersungguh-sungguh, atau hatimu yang memang sulit disentuh.

zie
*ilustrasi (r)asa ungkapan hati seorang sahabat.



memelihara kebiasan

kau tahu kebiasaan sudah bisa kau anggap sebagai baju untuk hidupmu. atau bahkan kulit ketika sudah benar-benar dianggap 'sudah terbiasa begini dan akan terasa berbeda jika tidak begitu.'

kau tahu melakukan kebiasaan yang kau suka sama saja sedang memanjakan diri dengan perihal yang membuatmu merasa senang.

lalu apakah kau tahu juga ada dampak yang begitu buruk ketika kau sudah terkontaminasi dengan kebiasaan itu sendiri. kebiasaan itu menjelma menjadi parasit yang merusak inangnya. menjadi racun yang melumpuhkan sendi tubuhnya.

ya, ketika kau salah memeliha kebiasaan. kau kadung memelihara kebiasaan buruk sedari kecil. parahnya, ketika ada orang lain yang menasehati kalau kebiasaanmu itu buruk untuk dirimu sendiri, kau justru kehilangan akal akan tetap terus membelanya. menganggap yang selama ini kau kerjakan adalah baik.

seseorang akan kehilangan jati dirinya sendiri ketika sudah dikuasai kebiasaan buruknya.

kau tahu banyak sekali manusia yang terlanjur nyaman dengan kebiasaannya dan merasa tidak berdaya untuk melepas kebiasaan itu. meskipun sedikit banyak ada yang sadar bahwa kebiasaannya itu memanglah buruk. untuk dirinya sendiri bahkan orang lain. mereka bisa apa selain tetap mengerjakan kebiasaan itu dan diakhiri dengan penyesalan. akan terus berulang-ulang.

kau tahu bagaimana agar kebiasaan yang kau punya tidak berakhir menyeramkan atau bahkan menghancurkan. mulailah merawat kebiasaan baik. pelihara sebagaimana kamu memperhatikan kesehatanmu sendiri. jaga baik-baik ia agar tidak berubah menjadi berlebihan. sebab apa-apa yang kadung berlebihan berdampak tidak baik.

mari mulai memelihara kebiasaan baik.


Agustus 05, 2014

pengembara yang mana?

sedikitnya ada tiga jenis pengembara dalam perjalanan mencari pelengkap bahagia.

yang pertama, jenis pengembara yang memang sudah memiliki tujuan tetap. jelas ke mana arah ia melangkah, tahu persis harus melewati lika-liku yang perlu ditempuh selama perjalanan.

tugasnya sederhana, ia hanya perlu fokus dengan apa yang telah menjadi tujuannya. dan bersikeras dengan kesungguhan tekad bahwa bagaimana pun caranya ia harus sampai, baik tepat waktu maupun terlambat.

jenis pengembara ini lebih banyak kesempatan menemukan pelengkap kebahagiaanya.

yang kedua, jenis pengembara yang berjalan sambil mencari tujuan. ia tidak begitu tahu harus dan akan ke mana sebaiknya melangkahkan kedua kakinya. hanya saja ia memiliki harapan, bahwa dalam ikhtiarnya akan membuahkan hasil yang baik. selagi diusahakan dengan cara yang baik.

ia berpegang teguh atas perinsipnya, bahwa menemukan sesuatu yang berharga harus dengan berjalan mencari, tidak hanya sekedar berdiam diri.

pun demikian pengembara kita yang kedua ini pun memiliki kesempatan menemukan pelengkap bahagianya. meskipun harus lebih bekerja keras dibanding pengembara pertama. minimal meneguhkan hatinya untuk tidak mudah berputus asa.

pengembara yang ketiga, si pengelanayang berpergian ke sana kemari tanpa tujuan sama sekali. meskipun pada dasarnya ia melakukan perjalanan, pada hakikatnya ia tidak ke mana-mana. karena tidak sungguh-sungguh ingin menemukan apa-apa.

pengelana yang hanya asyik menghabiskan waktu dengan petualangan yang tidak perlu. 

apakah pengembara jenis ketiga ini tidak memiliki kesempatan menemukan pelengkap bahagianya? siapa yang tahu.

lalu bagaimana denganmu? jenis pengembara apa yang selama ini kamu tekuni dalam bermusafir menemukan pelengkap bahagiamu? yang bisa pula kamu anggap sebagai teman hidupmu.

pengembara yang mana?



Agustus 04, 2014

bagaimana rasanya menjadi tujuan?

bagaimana rasanya menjadi tujuan?

menjadi seseorang yang tengah menunggu dengan debar, ia yang menawarkan diri menjadi imam duniamu dan bersedia bertanggung jawab atas dirimu untuk kehidupan akhiratmu.

bagaimana rasanya menjadi tujuan?

lepas dari pilihan-pilihan dan perbandingan-perbandingan kaum adam. tidak lagi menjadi pilihan kedua, ketiga apalagi cadangan yang diperbincangkan oleh mereka.

bagaimana rasanya menjadi tujuan?

menjadi 'rumah' tinggal seseorang yang ingin menunaikan niat baiknya. tempat di mana ia akan selalu pulang dan nyaman berlama-lama di dalamnya.

bagaimana rasanya menjadi tujuan?

menjadi pusat segala rencana masa depan seseorang yang siap mati untuk melindungi kehormatanmu. memastikan kamu baik-baik saja. selalu tercukupi kebutuhan yang menjadi tanggung jawabnya.

bagaimana rasanya menjadi tujuan?

bisakah kamu menceritakan perasaan itu kepadaku, ketika aku telah sampai menujumu.




Juni 04, 2014

Hujan dan pesan-pesan perasaan

Seketika tersenyum memandang rinai hujan di balik jendela kaca. Memikirkan sesuatu tentang hujan dan pesan-pesan perasaan.

Hujan, tentu saja mereka adalah pasukan pembawa pesan yang disampaikan langit kepada hamparan tanah.
Itulah cara langit menyentuh tanah yang hanya bisa dipandanginya dari atas. Sosok yang ia ingin lindungi setiap saat.

Pesan itu akan sampai meresap dan kemudian cepat atau lambat akan kembali disambut sang langit, dengan pesan baru berisi curahan hati hamparan tanah yang hanya memandang ke atas. Memuji pesona langit.

Seketika aku tersenyum memikirkan sesuatu. Aku percaya selalu ada cara untuk menyampaikan pesan hati, sekalipun jarak membentang tak terperi.

Selalu ada kesempatan untuk terhubung dalam harapan. Seperti cara langit menyampaikan pesan lewat butiran hujan. Seperti alam yang pandai menyampaikan kisahnya. Kisah diam-diam yang selalu membuat orang lain iri dan jatuh cinta.

Entah berapa butir lagi hujan yang akan turun. Seketika aku resah memikirkan sesuatu. Aku yakin pesan-pesan doa itu akan sampai kepadanya. Yang aku belum tahu kapan pesan itu akan berbalas dengan kabar gembira. Mungkin setelah hujan ini sudah benar-benar reda.

Februari 23, 2014

CERURY: Sepuluh Tahun yang manis



Sudah sepuluh tahun aku bersahabat dengannya, masih tidak percaya jalinan itu diikat dengan hal yang lebih serius. Pernikahan. 

Aku dan Ra’ sudah bersahabat sejak zaman SMP. Tidak ada yang terlalu spesial dengan kisah persahabatan kami. Sekedar dua anak remaja yang suka tukar-tukaran mengerjakan PR di sekolah. Aku lemah di pelajaran IPA dan ia tidak terlalu suka pelajaran bahasa. Bisa dibilang awal terbentuk persahabatan itu tidak benar-benar tulus, ada kepentingan terselubung di sana.

Hampir setiap minggu aku main ke rumahnya untuk menukar lembar jawaban tugas sekolah. Dan kebiasaan itu terus berlanjut hingga kami sama-sama sudah kuliah di kampus berbeda. Meski bukan lagi karena tugas sekolah. Aku memang senang kerumahnya, orang tua Ra’ sangat menyenangkan. Ditambah masakan ibunya yang sayang sekali kalau dilewatkan.

Aku dan Ra’ memiliki sifat seperti bumi dan langit. Banyak sekali perbedaan di antara kami. Satu hal yang mungkin sama payahnya, kami sama-sama memiliki rahasia ‘diam-diam sedang menyukai seseorang’. Ya, kami termasuk golongan screat admirer, si penatap punggung seseorang. Ra’ mengaku sedang diam-diam menyukai teman kampusnya. Aku pun sedang tertarik dengan salah satu teman perempuannya Ra’. Sedangkan di antara kami berdua tidak pernah menyinggung soal cinta. Kami murni hanya bersahabat.

Sampai pada malam itu, aku ingat sekali jam delapan. Aku mengantar Ra’ pulang. Kami baru dari resepsi pernikahan salah satu sahabat Ra’. Dan ketika hendak pamit pulang, tiba-tiba ayah Ra’ menanyakan sesuatu yang membuatku terkejut.

“Kalian berdua kapan mau menikah?”

Aku dan Ra’ reflek saling pandang-pandangan. Aku mengerutkan dahi, sedangkan Ra’ langsung tertunduk. Malam itu untuk pertama kalinya aku memikirkan ulang ikatan persahabatan ini. Merenungkan apa perasaanku sebenarnya kepada Ra’.

Malam itu, 10 jam ke depan aku menimang-nimang hati ini. Dan pukul enam pagi akhirnya memutuskan sesuatu. Aku memberanikan diri melamarnya.

Melamar sahabat yang aku kenal 10 tahun lalu bernama Ra’.
***

Sepuluh hari berlalu setelah akad pernikahan, aku masih tidak percaya pada akhirnya kami mengisi hari-hari di bawah atap yang sama. Tidak ada yang berubah dengannya.Tidak ada yang berubah dari kami. Kami masih menjunjung tinggi perbedaan sifat-sikap masing-masing. Termasuk soal selera. Meskipun kami tahu harus sama-sama belajar beradaptasi, mencoba melebur perbedaan itu agar tetap seimbang pada tempatnya. Tanpa menghilangkan kenyamanan masing-masing dengan tetap menjadi diri sendiri.

Contoh sederhananya. Ra’ penggemar masakan pedas, tapi tidak terlalu suka dengan yang manis-manis. Sedangkan aku tidak pernah bisa memakan yang pedas dan paling suka dengan makanan manis. Ra’ pandai sekali menyikapi hal ini, ketika memasak ia selalu membagi dua bumbu yang berbeda. Sesuai dengan selera lidah kami masing-masing. Katanya, biarpun selera lidah kita berbeda, tapi lauknya tetap bisa sama. Dan aku mengacungi jempol bangga atas idenya itu.

Itulah kisahku dengan sahabatku Ra’ Dan aku mencintainya se jelas ujung lidah mengecap rasa manis.