Februari 27, 2013

Cermin 1 : Masa Depanmu

Ketika bukan lagi dedaunan yang diterbangkan angin, tetapi debu-debu berseliweran menghujam mata. Ketika bukan lagi suara riang jangkrik-jangkrik malam, tetapi deru-deru kendaraan memburu, membisingkan telinga. Ketika tidak ada lagi senyum ramah tamah para tetua desa, tetapi wajah gusar kasar jiwa-jiwa lelah ibu kota.

Februari 22, 2013

Isyarat Rindu

Langit malam sempurna menjadi kelambu dunia. Siap meninabobokan tubuh-tubuh letih sebagian makhluk yang berada di dalamnya. Tapi malam belum berhasil membujukku terlelap. Aku masih terjaga di bawah langit-langit kamar dengan cahaya lampu temaram. Masih asyik mengolah kata, meraciknya menjadi bumbu-bumbu penyedap kisah. Agar bait demi bait terasa lezat tersaji di cawan hati yang hangat. Hmm... rasanya rindu ini belum juga merdeka dari jarak yang masih saja bersengketa.

Februari 21, 2013

Berteman Elegy Sunyi



Elegy sunyi sedang mengibarkan bendera setengah tiang. Ada kabar besar yang dibawa angin hari ini. Seorang gadis kumal baru saja dipaksa menelan pahitnya kenyataan. Hatinya mencelos seakan lepas dari tempatnya, terkejut tak tertanggung sampai surut beberapa langkah kebelakang dari tempatnya berdiri. Berdebam, terjerembab begitu saja di tanah basah bekas hujan pagi tadi. Mungkin kekuatannya sudah benar-benar memuai tak tersisa. Tubuhnya lusuh, wajahnya tidak ada sinar-sinar semangat untuk melewati hari. Bahkan untuk memandang ke depan. 

Februari 20, 2013

DIBALIK ARTI LAKARAN MINDA

Tanyamu :

Ada kisah apa di balik Lakaran Minda?

Nyataku :

Lakaran Minda itu adalah sebuah ruang imaji, yang melahirkan pikiran-pikiran menarik, memvisualkan mimpi-mimpi ajaib dan angan-angan maya (tentu di ruang pikiran masing-masing pembaca.) Ya begitulah dunia yang sering kita sebut DUNIA IMPIAN. Berisi angan-angan panjang yang berkelebatan. Menarik sekali untuk kita ikuti alurnya. Tapi akan selalu bersifat abstrak jika tidak ada usaha untuk membuatnya lebih nyata. 

Dengan labirin kata, Lakaran Minda ini lahir, tidak hanya sekedar kelakar, berharap yang tertulis di sini akan lebih terbaca. Dari bentuk pesan-pesan yang tersurat, dari sudut pandang pembaca yang tersirat. Melahirkan pemahaman-pemahaman baru, yang membangun, positif dan lebih baik. (untuk pembaca dan pemilik blognya.)

Sebenarnya awal menggunakan nama Lakaran Minda karena itu judul naskah pertama saya dulu yang baru beberapa bab. Cerita tentang seseorang yang terjebak di dunia pikirannya sendiri, sampai bingung untuk membedakan sebenarnya dia sedang berada di dunia nyata, atau dunia yang hanya dipikirannya sendiri. (Sudah pernah saya bagikan ceritanya sebagian di blog ini.

Nama Lakaran Minda sebenarnya bukan hal baru, jika ada yang berkenan search dimesin penelusuran google, ada 82,100 results (0.23 seconds) hasil dari kata kunci itu. Yang paling banyak dikunjungi oleh para tamu dunia maya adalah tentang lirik lagu berjudul Lakaran Minda yang dibawakan tim Nasyid Saujana, dari Negeri Malaysia. Itu salah satu lagu favorit saya waktu masih masa putih abu-abu. Ada juga beberapa blog yang menggunakan nama itu, (beberapa blog masih aktif sebagian lain sudah tidak pernah diisi.)

Awalnya kepikiran mau ganti judul blog lagi, tapi mengingat begitu banyak nama kembar di dunia ini. Jadi biarlah nama blog sederhana ini tetap Lakaran Minda. Toh sama-sama ingin berbagi dengan tulisan, berbagi sesuatu yang Insya Allah bermanfaat. Mungkin yang jadi perbedaan dengan blog lain tentang isi dan penampilan blognya. 

Harapannya sih semoga kedepan blog ini bisa menjadi TAMAN BACA di dunia maya. Taman yang bisa menyejukkan pengunjung dengan tulisan-tulisannya. Yang membuat betah berlama-lama di sini. Tentu yang bisa dipetik manfaatnya. Aamiin.

Mudah-mudahan tulisan ini cukup mewakili pertanyaan tentang arti dari Lakaran Minda ya. Kalau sekiranya ada kritik, saran atau berupa pertanyaan lain, bisa kirim email ke zie.azura@ymail.com nanti akan dijawab dalam bentuk seperti ini, berlabel Nyataku-Tanyamu. Terima kasih. 

P.S : Minda = Pikiran  

*Mohon maaf untuk template blog yang masih berubah-ubah, masih penyesuaian. Seperti itulah kinerja mata, masih saja merasa kurang karena dituntun selalu terlihat sempurna oleh pandang.

*Geist!
 

Februari 19, 2013

Romantika Bumi & Langit


Bait-bait aksara membumi dalam kertas hatiku. Dengan juraian rasa pena yang menuliskan rindu. Semua sempurna terbaca bahagia. Terbentuk dari tinta emas kalam pertemuan. Membawa kisah haru dalam sejuta kenangan. Tentang kita. Hari lalu, kisah ini dan masa depan.

Februari 18, 2013

GAMPANGNYA MENJAGA KEBERSIHAN


Angin mendesir berulang kali, menerbangkan daun-daun tua kecoklatan ke segala arah. Berserakan di atas tanah lapang yang lengang. Di atasnya berdiri sebuah rumah tua yang cukup besar. Suasana pagi masih senyap, belum banyak orang yang berlalu lalang. Mungkin karena semalam hujan, udara menjadi lebih dingin pagi ini. Membuat orang agak bermalas-malasan untuk beraktivitas.

Februari 17, 2013

TUJUAN


Pertanyaanmu :

Pernah kah kamu merasa lelah dengan keadaan? Merasa kalah dan bingung dengan dirimu sendiri, sampai bingung harus berbuat apa.

Pernyataanku :

Kadang apa yang kamu butuhkan sebenarnya ada di depan mata, tapi kamu tidak menyadarinya. Berapa banyak helaan napas saat telah jauh melangkah sadar itu datang terlambat. Kadang yang sungguh-sungguh kamu kejar justru itu tidak terlalu kamu butuhkan. Berapa banyak air ludah yang tertelan ketika habis waktu dengan rasa sesal. Padahal ludah yang tertelan saja teramat sulit untuk dimuntahkan lagi.

Perkara ini begitu sederhana. Tapi sayang kita sering kali justru merumitkannya. 



Kadang pilihan terbaik justru berada dekat sekali denganmu. Tapi kamu memilih jalan berputar lebih dulu. Atau lebih buruk lagi pilihan itu tertutup oleh egomu sendiri, sifat remehmu sendiri. Hingga lagi-lagi waktu yang berbaik hati mengungkapkannya, ketika kamu kelelahan hanya berputar-putar. Seakan menuju tujuan padahal kamu justru tersesat oleh labirin panjang angan.



Ini juga sangat sederhana, tapi lagi-lagi ego sendiri yang merumitkannya. Ego yang selalu berpendapat kamu yang paling benar. Kamu yang paling tahu.
Kadang kita hanya berdiri di persimpangan, tanpa tahu akan jalan ke mana.
 Bukan berarti tidak memiliki tujuan, mungkin saja hanya sedang lelah.

Kamu tahu apa yang membuat seseorang tetap semangat, seakan energi yang ia miliki terus bertambah atau tidak ada habisnya. Apa yang membuat ia tetap mengukir senyum meski didera oleh lelah dan cucuran keringat. Tetap berdiri tegak walau bagaimana pun halangan. Karena ia berjalan, berbuat, berusaha memiliki tujuan. Tujuan itu yang memotivasi dirinya untuk tetap bertahan. Jika kamu sekarang berkeluh kesah dengan wajah murung muram seperti ini, boleh jadi kamu tidak lagi memiliki tujuan, boleh jadi kamu lupa akan tujuan-tujuanmu atau minimal kalah dengan keadaan.

Kamu boleh lelah, tapi nggak boleh nyerah. Kamu boleh lemah, tapi nggak boleh kalah. Janji?


*Geist!

Februari 15, 2013

Mengikat & Terikat (Harapan)


Harapan boleh tinggi, tapi berangan-angan cukup sederhana saja. Harapan akan membuatmu lebih semangat, sedangkan angan hanya mengimajinasikan khayalan yang berlebihan. Boleh jadi kakimu tidak akan jejak dan terjatuh jika pada akhirnya angan itu tidak membuahkan kenyataan. Berhati-hatilah, ketika kamu mulai membayangkan sesuatu sampai tinggi mengawan, boleh jadi kamu hanya sedang berandai-andai, bukan sedang memupuk harapan.

Februari 13, 2013

Ketika Azalia Jatuh Cinta

Malam sempurna menjadi selimut bumi. Dengan lampion-lampion unik yang menggantung di langit-langitnya, banyak yang memanggil mereka dengan sebutan rasi bintang yang berjumlah ribuan. Sepotong bulan sabit ikut menampakkan diri, tidak mau ketinggalan peran dalam pesta malam ini. Cantik sekali bukan? sempurna sudah langit memesona untuk dipandang. Rasanya sayang sekali jika semua itu kita lewatkan.

Alam mulai mendendangkan simponinya, dalam tarian angin yang menelisik lembut. Menebarkan semerbak harum kelopak-kelopak bunga yang mekar pada malam hari. Di tambah dengan kicauan jangkrik dan katak-katak sawah yang riang bersahut-sahutan. Merdu sekali bukan? Apalagi kesunyian malam sangat mendukung. Tidak ada penghalang (suara bising) yang menghalau jernihnya musical alam. Terdengar sempurna. Seharusnya tidak ada daun telinga yang berpura-pura tidak menikmatinya.

Februari 11, 2013

Sebut Saja Pohon Kehidupan

Sebut saja pohon kehidupan,dari tunas-tunas muda harapan. Ranting-ranting masalah yang rumit dan bercabang. Ada pula pelepah doa sebagai penyangga daun sebelum masanya gugur bertebaran.

Berakhir seperti ini kita?
Sebut saja pohon kehidupan. Daun-daun bergilir berguguran dari tangkainya, melayang bebas terbawa angin-angin kematian. Kemudian menyentuh tanah, kering, getas, rusak. Sampai tak lagi bernama. Tidak adalagi yang peduli kecuali mulut-mulut mungil bakteri pengurai raga tak bernyawa. 

Sebut saja pohon kehidupan. Setiap saat ia kehilangan satu bagian dari tubuhnya. Terlepas, terhempas dan terkulai. Sampai pohon itu tak lagi menyemai nama. Ikut roboh terlupakan, bumi tempatnya berpijak lupa bahwa ia pernah ada.

Februari 10, 2013

Kisah Si Kabut Tebal dan Mentari

Hai Mentari, yang selalu mengajarkan arti sebuah kehangatan. Penggegas harapan baru ketika pagi menyapa. Pelopor keceriaan untuk senyum semesta.

Ini bukan kisah baru yang aku paparkan kepada penduduk langit, dalam desahan napas yang berderu. Karena sebelumnya aku pernah menceritakan persoalan ini kepada awan berarak. Semoga saja selepas itu, awan putih kembali bugar dan secara tidak sengaja ia menyebarluaskan aura positif kepada gumpalan awan lain. Hingga langit benar-benar cerah oleh awan-awan berarak yang mendapatkan kembali semangat hidupnya. Itu harapanku waktu itu, dan menjadi harapan yang sama kali ini (untukmu).

Ini kisah seseorang tiga tahun silam. Jika hidup itu selalu menakjubkan, ia percaya. Jika Tuhan begitu baik kepadanya, ia sangat percaya. Jika senang dan sedih berada di dalam kordinat yang sama, ia pun lebih dari pernah merasakannya. Tertarik untuk mendengar? Begini kisahnya :

Sebut saja seseorang itu si Kabut Pekat. Suatu ketika Ia berjibaku antara manisnya hidup dan getirnya mendekati jurang kematian. Ramadhan yang seharusnya jadi tumpuan kerinduan, ia harus gadai dengan membaringkan diri di salah satu bangsal rumah sakit. Ketika bulan mulia menjadi moment spesial untuk bermesraan dengan Tuhannya, ia justru diasingkan jauh dari keluarga. 

Februari 08, 2013

Biar Aku Yang Belajar Menjadi Penanya

Sebatang pena bisa memilah-milah kertas mana yang akan ia goreskan tulisan. Memilah-milah buku mana yang akan ia jadikan kanvas untuk menggambar. Tapi tidak dengan kertas. Ia tidak bisa memilih pena seperti apa yang boleh menulis di tubuh putihnya. Kertas hanya bisa tersenyum atas takdirnya, tercipta untuk dipilih sang pena. Pena yang beruntung mendapatkannya.

sumber
Tapi lihatlah tanpa kertas, pena bukanlah apa-apa. Tanpa kertas pena tidak bisa mengabadikan kisah apa-apa. Tanpa kertas pena tidak bisa menggambar sketsa masa depannya.

Aduhai gadisku, jadilah kertas putih itu. Biar aku yang belajar menjadi penanya. Menulis impian-impian kebahagiaan. Jaga baik-baik kertas putih itu, agar tidak sembarang bernoda. Biar aku yang beruntung menjadi penanya. Pena yang akan memilah kertas terbaik untuk mengukir masa depan. Pena yang bertanggung jawab, memelihara dan menghargai kertas pilihannya.Pena yang berjodoh dengan kertas pemberian Tuhan.

*Geist!