November 23, 2019

NILAI HARGA

Tiap-tiap sesuatu ada nilai harganya. Baik yang bersifat materi maupun non materi. Penilaiannya tidak selalu bergantung dengan label, struk, daftar harga ataupun istilah lainnya sebagai informasi sesuatu itu ada nilainya. Terkadang bentuk penilaiannya sesuai dengan keadaan atau sesuai dengan kebutuhan kita. Mungkin sesuatu yang kita sedang genggam, kita pikir amat besar nilai harganya. Sedangkan di mata orang lain sesuatu itu biasa saja. Sebab, ia sedang tidak membutuhkan di saat itu. Atau sebaliknya, sesuatu yang dianggap orang lain nilainya biasa saja, karena kita sangat butuh itu, sesuatu yang orang lain miliki itu jadi sesuatu yang sangat berharga. Boleh jadi kita rela mengeluarkan berapapun materi untuk mendapatkannya. Rela menukarnya dengan apa saja.

Tiap-tiap sesuatu ada nilai harganya. Tepatnya di saat kita sedang benar-benar membutuhkannya. Besar kecil sudah bukan jadi ukuran di saat itu, tetapi nilai kegunaan yang lebih diutamakan. Banyak contoh sederhana, sesuatu yang awalnya kita anggap remeh, tapi suatu ketika jadi ‘bumerang’ untuk kita karena pernah kita abaikan. Kesehatan, misalnya. Perkara tidak bisa buang angin saja bisa jadi masalah yang besar. Padahal sebelumnya bisa jadi kita merasa risih kalau ada yang buang angin sembarangan di tempat umum. Merasa risih dengan bau yang kita sendiri keluarkan.

Tiap-tiap sesuatu ada nilai harganya. Dan cara bijak untuk menghargai segala sesuatu itu dengan bersyukur. Agar segala sesutu itu nilainya tetap terjaga. Dalam keadaan lapang atau di saat benar-benar sedang kita butuhkan.

Dan sesuatu yang sering kita abaikan tentang nilai harganya adalah : Kesehatan dan Waktu Luang.

@azurazie_

November 22, 2019

CUKUP BERBUAT BAIK

Setelah membantu memudahkan urusan manusia, yakinlah setelah itu Allah akan menggerakkan hati orang lain untuk membantu memudahkan tiap-tiap urusan kita. Entah siapapun itu, baik yang sudah kenal dekat ataupun orang asing sekalipun. Terkadang seringnya datang dari yang tidak disangka-sangka. Entah balasan tunai di saat itu juga, atau menjadi tabungan untuk kemudahan di kemudian hari. Sebab seorang muslim selalu percaya firman Rabbnya, bahwa tiap-tiap kebaikan akan ada balasan kebaikan berikutnya.

Keyakinan yang sesederhana itu, mampu mengukuhkan hati untuk kita selalu berbuat baik. Baik dalam keadaan lapang atau dalam keadaan cukup sulit sekalipun. Tidak memikirkan untung-rugi. Karena balasan terbaik adalah pemberian dari Rabb yang Maha Kaya dan Memiliki segalanya.

@azurazie_

November 21, 2019

SADAR DIRI

Seandainya tiap-tiap orang sadar diri untuk berperan dengan baik sesuai dengan porsinya masing-masing. Dan memenuhi tiap-tiap kepentingannya sendiri. Tentu, tidak akan adalagi yang namanya : terlalu mengandalkan, selalu menunggu atau menjadi terlambat karena sesuatu.
 
@azurazie_

November 14, 2019

DOSA JEMARI TANGAN

Rasanya, memang lebih mudah jika sok paling benar dengan menasehati orang lain, dibanding muhasabah untuk diri sendiri. Mungkin memang begitulah sifat manusia pada dasarnya. Maka, izinkanlah saya dengan tulisan ini untuk sekadar menuangkan keresahan-keresahan yang tiba-tiba membenak di pikiran. Di awali dengan pertanyaan : Hari ini sudahkah kita menegur jemari tangan kita, tentang apa-apa yang sudah ia perbuat?
Mungkin kita pernah mendengar bahwa dosa yang paling sulit dihindari adalah dari penglihatan mata. Karena, biasanya yang pertama kali kita kenali atau kita cari itu diawali dengan melihatnya. Baik sengaja maupun awalnya tidak sengaja. Mata menjadi penentu tindakan kita selanjutnya akan berdampak apa. Untuk menambah kebaikan, atau menambah tumpukan aib sendiri yang suatu saat akan ditampakkan juga.
Tapi, pernahkan kita merenungi bahwa kita tidak bisa menampik, sebenarnya lebih terbiasa menumpuk dosa dengan jemari kita. Dengan ponsel yang lebih sering berada di genggaman. Apalagi kalau bukan interaksi di social media. Entah itu secara personal maupun yang bertebaran di grup-grup sejenis whatsapp dan lainnya. Ngerumpi online istilahnya, jika tidak ingin dibilang ghibah yang modern.
Seberapa sering di dalam sharing sesuatu itu, kita melupakan istilah ‘saring’ lebih dulu. Adakah manfaatnya membagikan sesuatu itu? Adakah nilai kebaikannya? Perlukah kita sebar? Semisal membagikan potongan video (yang lebih seringnya berisi konten yang menjerumus ke vulgar.)  atau membagikan potongan gambar yang sebenarnya tidak menambah nilai kebaikan apa-apa. Hanya untuk mengundang tertawaan,
Jemari tangan kita dengan mudahnya menumpuk dosa, dengan dalih hanya guyon, untuk lucu-lucuan, biar seru-seruan. Padahal kalau dipikirkan ulang, kelak dihari perhitungan semua itu akan di nampakkan kembali dengan detail, lengkap dengan historynya. Bahwa si fulan bin fulan pada tanggal sekian, waktu sekian, membagikan dosa jariah kepada si fulan, si fulan dan si fulan lainnya. Yang si fulan tersebut membagikan kembali kepada si fulan bin fulan, dan seterusnya, dan seterusnya. Hingga panjang sekali daftar riwayatnya. 

Makanya, terkadang hati kecil saya mah inginnya tidak perlu lah di undang di grup-grup mana pun. Dalam komunitas apapun. Karena biasanya apapun nama grupnya ada saja satu dua orang yang usil nyepam hal-hal di atas. Cukuplah kalau sekiaranya ada perlu atau sesuatu yang penting untuk dibagi ke saya, via japri saja. Tapi sayangnya kita sebagai manusia memang sudah selayaknya menjadi mahkluk sosial yang mau tidak mau, suka tidak suka ikut membaur. Sekalipun di social media.

Innalillah, maka, pertanyaan itu layak sekali untuk kita renungkan sesering mungkin,  
Hari ini sudahkah kita menegur jemari tangan kita, tentang apa-apa yang sudah ia perbuat?
Alih-alih menambah kebaikan-kebaikan dengan sharing yang bermanfaat, dan menjaga kualitas diri dengan setiap harinya menjadi pribadi yang lebih baik. Kita lebih sering lupa untuk menjaga kehormatan diri sendiri dengan tidak bijak dalam membagikan sesuatu di social media. Perkara sederhana yang perlu kita renungi dalam-dalam. Kemudian perbanyak istighfar diam-diam.

Semoga kita bisa lebih bijak dalam memilah-milah dan menahan diri untuk sesuatu yang tidak perlu.


November 11, 2019

LETAKNYA NIAT

Letaknya niat itu di dalam hati. Maka, bisa dianggap sah dan ada nilai dalam perbuatannya. Jika sudah begitu akan ada hasil dan dampak baik setelah mengerjakannya.

Mendidik niat dengan baik, boleh jadi yang terbaik ada dalam ritual shalat kita. Sebab ketika niat dalam hati dan takbiraratul ihram, sudah tentu setelahnya seluruh anggota badan lain akan sungguh-sungguh menunaikan rukun-rukun dan sunnah yang berkaitan dalam shalat.

Karena niat pula, kita jadi terbiasa terpanggil untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim tiap-tiap waktunya. Meski harus bangun lebih dini hari untuk shalat shubuh, misalnya. Atau sebagaimana yang kita ketahui bersama tentang sebuah kekuatan niat untuk seseorang yang menunaikan puasa.

Sungguh betapa pentingnya andil sebuah niat dalam keseharian kita. Karena menjadi penggerak untuk lebih sungguh-sungguh dalam memenuhi segala yang kita harapkan. Apa-apa yang kita sedang butuhkan.

Maka, periksalah kembali segala niat baikmu selama ini untuk menuntaskan sesuatu. Yang memang sudah jauh-jauh hari ingin kamu capai. Jangan-jangan selalu terasa ‘jalan di tempat’ karena niatnya baru sekadar dalam pikiran, belum teguh dan sungguh-sungguh di dalam hati. Jangan-jangan niat-niat itu tidak maju-maju karena cuma menjadi sebatas rencana, hingga seringkali berakhir hanya menjadi wacana.

Periksa kembali letak niatmu, sudah sungguh-sungguh terucap di dalam hati. Atau baru sekadar angan-angan dalam pikiran. Semoga dengan begitu, setelah ini ada energi positif yang tiba-tiba menyalakan kembali harapan-harapan itu. Menumbuhkan kembali semangat itu. Untuk menuntas kan kembali dengan usaha yang paling maksimal, segala sesuatu yang pernah dimulai atau memang baru akan dikerjaan. Hingga pada akhirnya bisa benar-benar tercapai sesuai dengan harapan.

@azurazie_