September 27, 2012

Panggung Dunia

Sepagi ini saja telah kudengar berita tiga jiwa yang telah berpulang kepada-Mu. Telah ada kabar dua orang kepala yang sedang terbaring lemah karena sakit. Dan aku dengar suara bayi mungil lahir dengan selamat dari rahim bundanya. Masya Allah, skenario Tuhan sedang berputar-putar di panggung lebar bernama dunia, Satu persatu aktor muncul ke permukaan dan tidak lama kembali ke belakang. 

Lihat tepukan para malaikat gembira ketika melihat pemain yang berperan baik menghidupkan cerita, mereka terkagum-kagum seraya berucap kepada sang sutradara, "aku suka dengan pemain ini, aku harap di pertunjukan selanjutnya ia masih ada."

Raut wajah gembira itu seketika lenyap ketika pemain lain yang berperan antagonis mulai muncul, seraya para malaikat mengaduh satu sama lain.

"yang seperti ini yang aku nggak suka melihatnya, cuma merusak cerita yang sudah indah. Aku harap ia akan menjadi orang baik, kalau tidak semoga nggak akan lama di atas sana,"

September 19, 2012

Dua Kisah


1.] DUA BILIK HARAPAN TERPISAH RUANG

Ada dua buah bilik kamar harapan, yang di sekat oleh dinding tebal kepastian, dinding itu sudah terlihat retak, dan semakin hari semakin menganga. Hanya sebuah jam dinding terbuat dari kayu yang masih setia mengantung di tubuhnya.

Bilik sebelah kiri kamar harapan itu sedang mendengungkan jemu, sudah cukup lama waktu terkuras semu, diam di tempat seolah kaki terbelenggu. Entah berapa lama lagi ia 
mampu bertahan, untuk hati yang tidak juga yakin akan bertemu jawab 'untuk apa ia masih menunggu? padahal di depan mata telah jelas dinding pemisah. Dengan bayang yang semakin redup menjauh. Tapi kakinya tercekat tidak jua mau bergerak. Tidak ada keberanian untuk melangkah, atau... parahnya terpaku.

Di sisi bilik kamar harapan sebelah kanan, sedang gaduh-gaduhnya oleh tanda tanya yang berteriak. Meng-orasikan protes hati yang lelah menanti. Katanya, 'apa kita sedang berjalan menuju tujuan? apa aku tidak lagi di jebak oleh harapan yang tak bertuan? kalau ia tunjukan.' rasanya terdiam di tempat yang tidak bertujuan itu lebih melelahkan di banding harus berlari mencari alasan untuk apa aku masih diam di sini. 'Jika memang masih ada tujuan berjalan beriring denganmu, akan aku lakukan sepenuh hati. Jika tidak lagi, biarkan aku pergi.' katanya setengah berharap.

Entah dinding tebal kepastian itu akan meruntuhkan bilik kamar harapan yang mana. Hanya detik waktu, jam dinding kian ikut merapuh itu yang tahu kapan masa penantian itu akan usai, masa kepastian yang di agungkan. Dan lagi-lagi hati harus menunggu.

2.] JADI IKUTAN?

"Jadi ikutan?" Leya bertanya antusias.

"Sepertinya nggak deh." Aurel menanggapi dengan pesimis. Ini pertanyaan yang kedua kalinya ia dengar dari mulut Leya setelah membaca pengumuman sebuah audisi menulis novel yang di selenggarakan oleh salah satu penerbit mayor.

"Kenapa? kesempatan bagus loh. Bukannya ini juga impian kamu?" sambil menunjukan raut wajah kecewa.

"Nggak yakin kalau aku bakalan b
isa apalagi sampai selesai, kamu kan sedikit banyak sudah mahir di bidang itu. Imajinasimu lebih berkembang dan mendukung, sedangkan aku? untuk merangkai kata satu paragraf saja masih butuh berpikir keras. Kayaknya aku nggak ikut dulu deh." Aurel menunduk lesu, tidak berani menatap wajah kecewa Leya.

"Hmmm.... Aureeeel." Leya menarik napas sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. Kedua tangannya menggenggam erat bahu Aurel yang masih menunduk. "Please, jangan lihat aku sebagai orang yang BISA, tapi pandanglah aku sebagai orang yang MAU belajar mencobanya. Jadi di sini tidak ada kata mahir, yang ada hanya dua orang yang MAU melakukannya, MAU mewujudkan mimpinya. Sungguh jika itu kamu lakukan, itu saja bisa memacuku lebih semangat. Dan aku yakin kamu juga akan terdorong untuk lebih percaya diri."

"Tapi...."

"Kenapa harus ragu sih, aku dan kamu memiliki waktu yang sama, kesempatan yang sama, dan cukup luang untuk mewujudkannya, jadi masih ada alasan untuk bilang tidak MAU?" genggaman itu semakin erat mencengkram bahu Aurel. Membuat kepercayaan diri Aurel kembali kesemula meski belum seutuhnya.

"Jadi masih ada alasan?" Kembali Leya antusias mencari jawaban. Aurel hanya membalas dengan senyum dan anggukan pelan. Melegakan.

***

Tetap berprasangka baik kepada-Nya itu lebih nyaman di banding rasa menunggu. Insya Allah selama tetap menjaga hati, yang terbaik akan muncul juga, Insya Allah...

 

September 18, 2012

Munajat Untuk Rasul

Kamu tahu siapa manusia yang meski sama sekali tidak mengenalmu, belum pernah bertemu denganmu, tapi lisannya selalu bermanis doa untuk kebaikanmu. Kamu tahu siapa manusia yang dalam keadaan lemahnya pun masih mencemaskan keselamatanmu. Dalam keadaan sakit masih memohonkan ampunan untukmu. Kamu tahu siapa manusia yang meski bukan saudara sedarah, rela berkorban untukmu, mau menanggung semua kesaki
tanmu ketika maut merenggut nyawa. Manusia yang masih mengingatmu, peduli denganmu di penghujung usianya. Kamu tahu siapa gerangan manusia itu?


Ya, dialah sebaik-baiknya budi pekerti yang mulia. Sebaik-baiknya pemberi rasa kasih sayang dan cinta. Sebaik-baiknya contoh tauladan. Sebaik-baiknya penyantun anak-anak yatim. Manusia pilihan, Muhammad ibn Abdullah, Rasulullah SAW. Lantas apa yang sudah kamu lakukan untuk membelanya? untuk menyayanginya? untuk mencintainya? apakah dadamu bergemuruh emosi mendengar manusia yang mulia itu sedang di hina oleh orang-orang kafir di luar sana? Apa yang sudah kamu perbuat? Apa kamu rela Nabi yang sangat memikirkan umatnya, yang kamu cintai itu di rendahkan oleh orang tak beradab? Atau jangan-jangan kamu acuh saja! karena menurutmu itu bukanlah urusanmu, lalu melenggang santai, menutup mata dan telinga seolah sedang tidak terjadi apa-apa. Terlalu sibuk dengan kepentingan pribadimu sendiri. Atau jangan-jangan selama ini kamu hanya mengaku menjadi umatnya, tapi tidak benar-benar mencintainya!


Ya Allah ya Rabb, Sesungguhnya kekasih-Mu adalah Nabi yang mulia, yang selalu akan terjaga kemuliaannya sebagaimana Engkau mencontohkan langsung bershalawat kepadanya. Tapi sungguh kami tidak ridho jika ada segelintir manusia yang menghinanya, mencacinya, mengolok-olokan manusia yang kami rindukan. Seluruh jagad raya merintih sedih, tidak rela ya Rabb. Jagalah kami agar tetap menjadi golongan umat yang telah di panggil Rasulullah sebelum wafatnya, ummati... ummati... ummati.. sampai akhir hayat nanti. Dan kelak rindu ini berbuah manis di bawah teduh benderanya. Amiin.. 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
“Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad, keluarganya, istri-istrinya dan keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. Berilah karunia kepada Muhammad, keluarganya, istri-istrinya dan keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung." (HR. Bukhari-Muslim)

SITUS PORNO Yang Di Akses! [BUKAN]

Tidak terasa sudah sekitar lima bulan perjalanan segelintir anak abg remaja (dewasa) yang tergabung dalam komunitas Blogger Shout Out!, menghijaukan ladang luas dunia internet. Dan untuk project kali ini bertemakan bukan SITUS PORNO. Semakin rumit ya temanya, tapi menantang dan menggairahkan pikiran untuk jadi lebih kreatif, di kemas lebih afik biar hasil semakin maksimal. Sejujurnya sih gue juga masih bingung mau nulis apa, tapi setelah kemarin iseng-iseng cek statistik blog sendiri, ternyata untuk kata kunci ke arah ABG,REMAJA, SMA, dan konotasi  lain yang berunsur negatif 'buka-bukaan' lebih banyak di minati oleh penikmat internet. Sehari saja bisa lima puluh kali di akses, kebetulan kan bulan lalu membahas tentang ABG ANAK SMA, Padahal sudah jelas-jelas blog gue ini terbebas dari yang berbau PORNO, tidak ada yang membahas REMAJA SMA yang senonoh, suka buka-bukaan.

Dan sepertinya kata kunci bukan SITUS PORNO menelanjangi hal-hal yang berbau plus-plus akan sangat menantang untuk di buka. Membuat para penikmat internet di luar sana, bergerak tangannya, hatinya dan pikirannya untuk mengakses situs yang lebih bermanfaat, tidak hanya mencari yang berbau SITUS PORNO. Harapannya, semoga khusunya para REMAJA, ABG-ABG SMA, SMP, MAHASISWI, MAHASISWA, dan laki-laki serta wanita pada umumnya akan tersadar akan KENEGATIFAN YANG DITIMBULKAN JIKA 'MENELANJANGI' MEMBUKA SITUS PORNO dan HIMBAUAN UNTUK TIDAK MENGAKSESNYA.  Dan bisa mendorong pembaca jadi lebih baik, lebih selektif memilih bacaan yang lebih manfaat. Ayo sama-sama dengan anggota BSO yang serempak hari ini membahas tema bukan SITUS PORNO, siapa lagi yang bergerak hatinya untuk menghijaukan keyword pencarian "SITUS PORNO"?

PS : Maaf ya jika ada kata-kata yang kurang enak di baca, itu cuma bagian dari kata kunci untuk 'perangkap' tema kali ini. hihi... *smile 


September 17, 2012

Ada Apa Di Zaman Ini?

1.]

Yang menjadi petanyaan setiap berganti hari adalah; apakah hari ini akan lebih baik dari kemarin?

Umm... harus, Insya Allah. Selagi ada niat baik, berprasangka baik, doa yang baik dan usaha yang baik maka hasilnya pun akan baik. Karena Allah mencatat niat hambanya, mendengar prasangka baik hambanya, mengabulkan doa yang baik hambanya dan melihat usaha hambanya. So, kalau semua sudah sejalan dengan ketentuan-Nya hasilnya akan baik juga bukan? Insya Allah.

Ada yang mengawali harinya dengan keluhan, secara tidak sadar ia sudah mengeluarkan modal ketidakpercaya dirian. Kalau sudah begitu bukankah itu mempengaruhi keberhasilan? ayo bangkit guys! akan buruk sekali kalau harus gagal sebelum mencoba atau tertinggal cuma karena terlalu lama diam.

2.]

"Bad News is good News."

Coba lihat apa yang di sukai zaman sekarang? hal-hal yang bersifat negatif bukan? lalu apa fungsi media itu? bukan seharusnya untuk mencerahkan pemahaman masyarakatnya? masih bisa seperti itu? mungkin tidak jika melihat kenyataan yang ada, semakin banyak perguncingan di mana-mana, membicarakan keburukan di mana-mana, mengagung-agungkan kesalahan yang ada. Dan menutup mata akan kebenaran yang kecil. Umm... sudah separah itukah? semoga hanya praduga saya saja.

Semua sudah semakin terbalik ya. Layaknya kan yang punya salah itu yang datang meminta maaf. Yang punya noda yang sibuk membersihkan. Coba lihat sekarang, yang punya salah diam-diam saja, acuh seolah tidak pernah melakukan apa-apa. Seolah tidak merugikan siapa-siapa. Kesannya manja, harus di singgung dulu baru sadar kalau dirinya bersalah. Padahal coba pikir siapa yang lebih butuh? Masya Allah manusia memang tempat khilaf dan alpha, tapi sekarang begitu banyak yang bangga dengan kesalahannya. Bahkan di anggap wajar. Naudzubillah...

(Apakabar Saudara Rohis yang di fitnah di sana ya?)


 4.]

"Segala puji yang teragung hanya kepada-Mu ya Rabb. Entah harus bagaimana mengungkapkan rasa syukur ini, janji-Mu adalah benar, manisnya telah aku nikmati, Engkau hadirkan bidadari dunia sebagai pelengkap jiwaku di dunia dalam bentuk istri yang solehah. Yang membasuh segala peluh ujian di keseharian dengan kelembutannya. Yang memberi rasa aman untuk rezeki yang Engkau titipkan dengan kesetiaannya. 


Itu saja sudah merupakan anugerah yang teramat manis yang Engkau berikan ya Rabb. Di tambah setelah beberapa bulan pernikahan Engkau titipkan buah hati melalui rahimnya, sebagai pelengkap keluarga kecilku ini. Betapa bahagianya aku telah di amanahkan untuk menjadi seorang ayah, melihat anak itu tumbuh, mulai bisa berjalan, memanggil ayah, ceria dengan sikap polosnya. Dan bertambah syukurku ya Rabb, ketika anak itu menginjak usia empat tahun, setiap ba'da Magrib aku mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana tulang rusukku, istri solehah itu dengan telaten mulai mengajarkan buah hati kecilku lebih mengenal-Mu ya Rabb, mulai mempelajari kitab suci-Mu. Alif, ba, ta dengan terbata-bata huruf hijaiah itu keluar dari lisan mungilnya. Sungguh hanya air mata bahagia yang bisa mewakili pemandangan itu setiap hari dalam sujud syukurku ya Rabb. Al-hamdulillah." kata seorang pemimpin rumah tangga yang baru saja pulang shalat berjamaah, ketika membuka pintu mendengar istrinya sedang mengajarkan iqra kepada buah hatinya yang baru berusia empat tahun.
(Keluargamu habis magrib langsung setel TV channel mana hayooo? #upz! sama-sama duduk membaca Al-Qur'an iya kan? Insya Allah.)

***

 

September 16, 2012

Oh.... Media

Ketika uang yang berkuasa, politik hitam mengadu domba,
Berita tinggal lah berita,
Yang di depan putar balikan fakta, di belakang mengurut dada tak berdaya.
Di manakah lagi kami harus percaya?
Ketika yang benar di pandang sebelah mata. Yang salah menari-nari tak berdosa.
Hanya untuk populeritas sepiha, golongan semata.
Dengan dalih, "Berita ini kurang menjual, poles dikit biar lebih menarik. Biar jadi topik utama." 
Rupanya sudah makin banyak yang pandai bicara, tanpa akhlak bijak bersuara.

Ya Allah siapa lagi yang bisa kami percaya? sedangkan Engkau Maha melihat, Maha mendengar kebenaran yang ada.

Ya Allah yang Maha kuasa membuka hijab. Mudahkan kami untuk melihat yang benar adalah benar, yang salah adalah salah. Sehingga tidak lagi ada keabu-abuan. Tidak lagi ada yang salah berlindung di bawah kaki yang benar. Yang benar di punggungi oleh yang salah. Karena kami tidak pandai memahami ketentuan-Mu. Apakah semua yang terjadi itu ujian untuk mengingatkan atau Azab-Mu untuk membinasakan.

Ya A
llah, di zaman yang penuh fitnah ini, apa segitu murahnya nyawa manusia? segitu tidak berharganya sebuah kesempatan? atau kami hanyalah golongan hamba yang lalai dan selalu merusak diri. Yang tidak adil atas-Mu, atas waktu menghadap-Mu. Padahal tiap detik nikmat-Mu kami rasakan tanpa pinta. Sesungguhnya bukan Engkau yang membutuhkan kami, tapi kami yang membutuhkan Engkau ya Rabb. Hanya saja manusia enggan untuk bersungguh-sungguh minta kepada-Mu hanya sibuk dengan dunia mereka sendiri. Padahal dunia dan isinya adalah milik-Mu. Yang suatu saat akan Engkau ambil semuanya. Lantas apa yang kami cari selain Ridho-Mu ya Rabb? 

Ya Allah, anugerahkan kami pemimpin yang arif, yang takut kepada-Mu. Yang menjalankan amanah dari-Mu. Jangan biarkan kami tersesat tanpa pemimpin, atau pemimpin yang tidak mampu memimpin menuju-Mu.
Hanya Engkaulah tempat sebaik-baiknya berserah. Amiin.

September 12, 2012

Rintih Tanah Kepada Awan

Lucunya lihat tanah sedang berharap-harap cemas, akankah hujan akan menyapanya sore ini. Awan gelap sudah muncul, melebarkan permadaninya di atas hamparan tanah yang kekeringan, menantikan basuhan. Suasana sudah mendukung, gelap dan angin-angin mulai menyambut riang. Bisa di bilang kerinduan itu sudah di ujung lelahnya. Sudah berbulan-bulan tanah di telantarkan tanpa sekalipun di tengok. Dan mari kita lihat sebentar lagi, senyuman tanah itu akan mengembang sempurna atau ia kembali akan menggigit-gigit bibirnya sendiri. Mengingat kemarin   langit lagi-lagi hanya memberi harapan kosong yang terpaksa ia telan pahit. Mari sama-sama kita lihat, sambil menanti senja berjingga di ujung temaramnya.

Pernah aku lihat, suatu ketika tanah menengadahkan pandangannya ke langit, terlihat mentari sedang terik-teriknya merajai bumi. Dengan payung-payung awan berarak di bawahnya. Tak sabar tanah mengutarakan keluh hatinya kepada awan. "Hai awan putih, sampai kapan kamu akan berarak di atas ku? apa kamu tidak lihat di sini aku sudah kering, lusuh berdebu bahkan retak dan sekarat. Lihat pohon-pohon kecil itu ikut pula mengering karena akarnya kekurangan serapan air. Boleh aku tahu temanmu awan gelap sedang berpatroli ke mana? kenapa ia tak kunjung datang menaungi singgasana ku di sini? membawa oleh-oleh air sejuk dari langit, lalu menaburnya menjadi rintik-rintik hujan yang lama aku rindukan. Sungguh aku membutuhkan basuhannya. Sampai kan salam pada raja mentarimu, sudikah ia mau sedikit berbagi teduhnya di sini."

"Tanah... tanah... bagaimana aku beranjak dari sini, aku saja masih mencari serapan air dari bumi. Lihat, semenjak pohon-pohon besar tak lagi tumbuh di singgahsana suburmu itu, aku tidak lagi leluasa menyerap air-air bumi untuk aku jadikan bahan-bahan pembentuk gerimis. Aku pun sedang berpikir keras, kenapa semakin hari semakin susah saja aku menguapkan air dari dasar bumi, sungai-sungai kecil dan genangan air lainnya. Dan awan gelap yang kamu tanyakan, mungkin ia sedang menyapa langit sebelahmu. Tunggu saja pada waktunya ia akan mampir ke tempatmu. Sang mentari sudah adil, ia sangat tunduk kepada aturan Tuhannya, tidak lelah bertasbih mengadu, membawa persoalan bumi yang tak sehijau dulu. Terus berdoa saja! Allaahumma agits-naa, Allaahumma agits-naa, Allaahumma agits-naa."

Dan kembalilah tanah tertunduk lesu, tidak berputus asa atas Rahmat-Nya. Dan bersabar sebentar lagi Allah menurunkan karunia-Nya, menggembirakan hati dengan menurunkan hujan sesuai kebutuhan. Tanah sangat yakin itu.

***

Sebenarnya takdir langit dan bumi itu berputar, langit untuk bumi, bumi untuk langit, saling menopang. Seperti halnya proses hujan. Dan mungkin saja manusia lah dengan keteledorannya secara tidak langsung memutuskan satu mata rantai perputaran itu. 

September 06, 2012

Lembaran Baru

Pagi yang menyisakan sejumput malam dan menjanjikan siang, selaksa doa di eja, harapan di ukir, cita menjadi jembatan masa depan dan cinta sebagai bahan bakar yang tak boleh habis sepanjang perjalanan. Apa bekalmu? apa dayamu? Sekuat apa kuasamu pada dirimu? Se-kokoh apa pundakmu? seberapapun itu hanya bagian energi positif untuk tubuhmu, sedangkan hasil yang akan kamu dapat, keputusan akhir yang di terima, kembalikan kepada pemiliknya.

Pagi ini adalah awal kaset hariku di putar. Akan ada apa saja belum bisa di tebak. Yang pasti semua sudah terangkum dalam skenario. Tinggal pintar-pintar aku memainkan perannya. Sedangkan tema kadang suka sama dari hari lalu, atau terulang sebagian, atau bahkan bertolak belakang. Aku harap hari ini peranku baik, permainanku bagus dan maksimal agar tiap harinya, roll kaset itu melaju lebih baik dari sebelumnya.

Kembali dengan energi baru. Menerobos lorong-lorong malas, berhias jemu. Saatnya untuk siapkan diri. Rutinitas padat di depan menanti. Siap?

Aku membuka lembaran baru, masih kosong dan ingin mulai menuliskan kata lagi, menari-nari kan pena, mengukir kata-kata dalam pikiran. Tapi rupanya kaca bukuku terlalu tipis, ada cetakan samar di lembaran baru yang ingin aku tuliskan tadi. Atau mungkin di lembaran sebelumnya aku menulis terlalu keras. Terlalu menekan pena hingga menapak di lembaran berikutnya yang aku buka. Seolah lembaran baru itu harus di bayang-bayangi masa lalu, masa sebelumnya. Dan rasanya kosong memang bukan berarti tidak ada, mungkin saja ia hanya belum nampak atau samar. Apa boleh buat, lembaran baru itu harus segera aku isi, tidak mungkin aku biarkan begitu saja tanpa ku tulis apa-apa. Atau akan kusam dengan sendirinya. Akan ku ukir dengan lebih hati-hati agar luka lama tidak akan bermuara di kubangan yang sama. Mari di mulai. Lembaran baru adalah medan juang ku selanjutnya.

Lihat dandelion-dandelion itu begitu percaya kepada angin yang menerbangkannya, meskipun belum tahu pada akhirnya akan menepi di mana. Begitu damai dalam penantiannya, sabar atas takdirnya. Satu helai dari mereka menyapaku, lirih berkata 'Aku tahu Tuhan sudah berbisik kepada angin agar membawaku ke pelabuhan akhir yang terbaik. Dan itu yang aku butuhkan. Aku ikut maumu Tuhan.'

Jalanan itu ada yang padat merayap, ada kalanya benar-benar lengang. Tapi pastinya jalan itu yang sedang aku laju untuk sampai pada tujuan. Cepat atau lambat akan sampai juga bukan? setidaknya aku tidak berhenti di tengah jalan, apalagi berputar ke belakang.

Hembusan angin pagi memacu untuk terus berlari. Terik siang membuai mimpi yg menjulang. Senja teduh mereda gemuruh, melepas asa menua rapuh. Ingin berhenti di satu titik, lalu menetap tidak ingin melangkah lagi. Cukup di batas lelah itu, menyepi. Ketika hari tua telah memiliki bekal yang pasti.

Nyatanya semua orang pernah berada di sebuah jurang, paling tidak di jurang kesalahan. So, apapun penilaian orang, tanggapi dengan santun saja, suatu saat akan kedengeran tong siapa yang paling nyaring iya nggak?





September 02, 2012

Ada Yang Datang, Peduli Dan Menunggu

Ada yang tidak sadar dirinya sedang di tunggu, ada yang tidak sadar sudah berapa lama ia menunggu, ada yang tidak tahu masih haruskah ia menunggu, ada yang tidak tahu kalau dirinya masih di tunggu.. lalu siapa yang di tunggu siapa yang menunggu, entahlah yang pasti waktu tidak pernah menunggu, aku tidak menunggu, kamu tidak di tunggu, kepastian yang menunggu, kepastian yang di tunggu.

Hai harapan, angin sejukmu mau melambungkan kami ke mana? apakah kami akan terjatuh? tersungkur? atau kami akan mendarat di lembutnya permadani kepastian? kami harap opsi kedua lebih dominan.


Hai penabur mimpi, alam bawah sadarmu akan menuntun kami ke mana? apakah berakhir di alam yang pekat, gelap gulita sehingga saat kami terbangun kami tidak lagi berdaya, atau membawa kami ke lembah yang sekelilingnya di terangi lampion-lampion, manik-manik penghias hingga saat kami terbangun simpul senyum itu begitu merekah. Apa boleh kami pesan opsi kedua saja?

Hai penantian, waktu panjangmu berdetak sampai detik ke berapa? apa sempat kami bertemu dengan rindu sebelum waktu itu akan habis pada masanya? atau kami tidak akan menemukan apa-apa. Sudah pasti kali ini kami pesan opsi yang pertama. Bisa?

Ya... semoga saja harapan, impian dan penantian itu akan sampai di waktu yang tepat. Atau kami sendiri yang akan menempatkannya.

***

Kepada kamu yang sedang berada di zona ketidaknyamanan. Gelisah hati di rundung kepiluan. Lelah hati menghadapi ketidakberdayaan diri. Terjerat oleh perangkap kegagalan, hingga membuatmu seolah tak mampu berjalan. Bertanya-tanya tentang kepastian, tentang keputusan yang kadang pahit di lidah. Apakah kamu pernah membenci keadaan? ketidaksukaan hati menerima kenyataan. Padahal semua yang kamu dapat, yang sudah di beri Allah, semua itu adil untuk kita. Tentang rasa, hasil keputusan, cobaan, pujian. Bukankah semua yang di beri berdasarkan kebutuhan? dan yang di dapat tidak melebihi kemampuan? hanya saja kadang kita mengotakkanya ke zona ketidaknyamanan diri. Merasa tidak puas dan mulai membanding-bandingkan. Rasanya memang itu yang kerap kita lakukan. Ingatlah Allah itu tidak pernah tidur, dan tidak akan membiarkan hambanya tersungkur.

Janganlah hanya menghabiskan waktu di zona ketidaknyamanan, meskipun katanya kamu menikmatinya. Pada waktunya kamu akan kelelahan sendiri. Nyatanya kamu yang lebih dulu mengikat, hingga akhirnya kamu sendiri yang terikat. Bagaimana kalau mulai coba keluar dari zona itu, dan menemukan kenyamanan yang baru. Mau?

***

Ada yang peduli sampai lupa kepentingannya sendiri. Ada yang tidak sadar kalau ada seseorang yang benar-benar peduli. Ada yang tidak peduli dengan orang yang sudah mau peduli. Ada yang sama-sama tidak peduli dengan peduli.

Ada yang datang membawa tangis, lalu pergi meninggalkan sendu. Ada yang datang membawa berang, lalu berlalu tinggalkan kelu. Ada yang datang membawa luka, tanpa pernah tahu untuk apa ia menyapa. Lalu pergi begitu saja. Lantas ada yang peduli kepada tempat yang mereka datangi?


Suatu ketika kamu datang ingin meminjam bahu. Ingin mengendorkan penat yang melekat membebanimu. Tanpa tahu persis yang kamu datangi sedang lapang atau tidak. Kamu akan pilih yang mana? Si A yang ternyata sedang di rundung sedih juga. Ia tetap menyambutmu dengan hangat dan membiarkan kamu bersandar di bahunya. Meskipun konsentrasinya terbagi dua antara menghiburmu dan menetralkan hatinya sendiri. Atau pilih si B yang ternyata hatinya sedang berbunga-bunga. Ia juga menyambut hangat kedatanganmu. Dan mempersilakan kamu berkeluh kesah di bahunya. Tapi konsentrasinya pun terbagi dua. Antara mendengarkan keluhanmu dan sedang terbuai dengan kegembiraannya sendiri, menikmati ketenangan hati. Kalau harus memilih kamu meminjam bahu yang mana? Nyatanya tidak ada yang benar - benar tahu seseorang itu sedang lapang atau justru ia juga sedang membutuhkan topangan. Dan yang pasti karang di lautan tidak ada yang benar-benar tegar menghadapi bebannya sendiri.






September 01, 2012

Masih Tentangmu

Malam ini langit tidak menunjukan sisi pekatnya, apalagi kalau bukan rembulan cantik yang menemani sedang menebarkan senyum. Umm... rasanya awan-awan rapuh di sekelilingnya pun tidak akan menaburkan rindunya. Lihat saja wajah langit sedang sumringah, jadi tidak ada alasan untuknya menangis, atau sekedar membiarkan tetesan hujan menyentuh bumi yang sedang lapang dan tenang.

Tinggal aku yang berada di antara keduanya, masih harus mengumpulkan keberanian. Tiba-tiba merasakan rindu, tenggelam dalam lautan kata yang berisi tentangmu, sudah lebih dari sepekan folder khusus itu tidak terjamah. Hanya di biarkan mati di dalam memori. Untuk sekedar menengoknya saja aku sudah ketakutan, takut akan terbawa kenangan yang sempat aku redakan itu. Dan sekali saja aku membukanya, akan kembali lahir berlembar-lembar kata yang sampai saat ini aku tak tahu kapan menuju ending-nya. Tapi kali ini rasanya aku ingin sekali bermanja dengan kisah-kisah tentangmu yang aku selalu tulis, seperti dulu menuliskan lembaran-lembaran tentangmu, membacanya kembali, dan kemudian nanti mengenangnya lagi.
Seiring bersamamu aku rasa yang namanya rindu itu punya tingkatan, paling berat jika sudah sampai fase BUTUH. Dan semakin hari, seiring waktu melaju efeknya pun meningkat. Dari mulai biasa-biasa saja sambil senyum-senyum menanti sekedar kabar, lalu bertambah hari jadi meningkat resah dan mulai kehilangan lekuk senyum. Sampai masa hati tidak tenang, perasaan gelisah tak menentu. Dan berujung lelah tak mampu berkata apa-apa lagi untuk sekedar bertanya 'Kapan kamu menengok rindu ini?' dan yang paling aku khawatirkan adalah ketika rindu itu akhirnya memuai entah ke mana. Karena kamu tidak juga menyapanya. Mungkin saat itu aku sudah kehilangan selera untuk merindu.

Bukankah yang timbal balik itu menyenangkan? ketika merindu di rindui, mencintai di cintai, menyayangi di sayangi, melindungi di lindungi, dan saling mengerti di hati. Lalu kenapa kamu justru milih menyendiri dalam kubangan sepi? Mari kembali biar perputaran itu stabil dan timbal balik saling memberi salam lagi.

Pertengkaran kecil kemarin tidak sebanding dengan masa-masa perjalanan yang terlewat. Batu sandungan itu hanya kerikil untuk pengingat bahwa kita sedang berjalan beriring, dengan dua ego yang berbeda. Jadi untuk apa berkabung, rembulan saja tidak sedang murung. Masih ada alasan bersedih saat sekitarmu saja tak tunjukan peluh. Sampai kapan kamu menyepi, lihat mereka mencarimu peduli. Lalu untuk apa kamu menangis, bukankah airmata itu lelah menari-nari sejak pagi. Gimana kalau kamu senyum, rasanya langit sedang membutuhkan itu. Langit hatimu.

Hari ini, esok dan nanti dengan orang yang sama. Wow! Meskipun pastinya grafik hidup mengalami naik turun. Kadang meningkat senang atau menurun di kubangan sedih. Tapi rasanya jika itu di jalani denganmu, aku tidak keberatan. Selama itu masih bisa di bagi berdua dalam suka dukanya. Toh kebersamaan kita itu sudah cukup jadi alasan untukku bahagia. Meskipun kebersamaan yang di jalin sekarang belum punya garansi resmi 'tuk akhirnya hidup berdua sampai tua. Toh banyak alasan yang menggoda perpisahan 'tuk menyapa. Lalu bagaimana dengan mereka yang jalan berdampingan tapi tidak pernah ada tujuan? rasa-rasanya perpisahan ikut beriringan di sampingnya. Setidaknya kita berjalan dengan adanya tujuan bukan?

Untuk bertahan menapaki tiap jengkal lembaran hidup rasanya kita selalu bertemu degan namanya alasan. Meskipun bisa saja ada bagian yang tak perlu alasan itu. Seperti aku yang masih bertahan di sini untukmu, padahal bisa saja aku pergi, tapi nyatanya alasanku ada karena MAU bukan karena BISA. Buktinya di sini masih saja jadi rumahmu. Lalu untuk apa kita di pertemukan? Tidak ada yang tahu. Mungkin ada rencana di belakangnya. Atau ada masa depan menantinya. Yang pasti esok masih misteri tidak ada yang benar-benar tahu kapan harus pergi atau kembali.

Aku rasa kidung cinta tidak mudah untuk di jinakan. Karena bukan kuasa kita untuk membolak balikan hati. Jadi sederhanakan saja rasanya atau di dewasakan. Aku rasa tidak semua bunga rindu akan cepat berputik, apalagi jika datang dari sebelah arah saja. Nikmati saja, sampai sarinya perlahan memuai. Karena jika di tekan akan lebih menyakitkan bukan? Dan biarlah resahku di reda oleh sebait doa untukmu. Dan pemilikmu yang akan menjaga dengan kelembutan-Nya.