Desember 26, 2020

KEPADA-MU

Kepada Allah yang Maha Segala, kupertaruhkan segala pinta dalam doa.

Kepada Allah yang Maha Punya, kugadaikan segala perlu dalam ikhtiar semampunya.

Semoga kami ikut dalam bagian orang-orang yang hanya menaruh harap kepada-Mu. Tersebab memang butuh mengaduh. Tersebab terasa kembali utuh setelah mencurahkan segala gundah. 

Semoga kami ikut dalam bagian orang-orang yang pada pundaknya selalu ada usaha. Yang ingin mengubah takdir, agar datang dalam versi terbaiknya.

Sebab kami sepenuh yakin akan janji-Mu yang mengabulkan pada setiap doa.

Sebab kami sepenuh taat atas firman-Mu, bahwa nasib suatu kaum ditentukan oleh masing-masing usahanya.

Maka, kabulkanlah segala doa yang menurut pandangan-Mu adalah yang terbaik untuk kami.

Maka, takdirkanlah, nasib baik itu setelah apa yang telah diusahakan oleh kami.

@azurazie_

Desember 25, 2020

BERKAH BERMUAMALAH

Dalam sepekan ini ada tambahan kesibukan baru bagi kami, yakni mencoba berdagang salah satu bumbu dapur yang bisa dibilang dominan buat mengolah makanan sehari-hari. Memang si ini bukan pengalaman pertama di dalam dunia jual-beli. Dulu-dulu pun pernah mencoba menjual item-item lain. Termasuk jual buku #kampushijaiah dan buku-buku yang saya tulis lainnya.

Hanya saja interaksi jual-beli kali ini dirasa berbeda sekali. Baik dari segi antusias untuk diri kami pribadi maupun suasana dalam prosesnya. Bisa dibilang menyenangkan.

Saya merenungi, memperhatikan, betapa hanya dari wasilah satu item produk yang diperjual-belikan. Betapa 'hidup' proses 'gotong-royong' itu. Dari mulai pemasok memberi harga sekian, kami membeli sebagai modal sekian, dan dijual ke re-seller maupun langsung ke enduser sekian. Dari selisih harga yang kami anggap 'nilai keuntungan' itu. Yang kalau dalam hitungan sederhana matematika tidak seberapa. Jauh dari membuat kaya raya. Tetapi, hidup sekali rasa 'gotong-royong' dalam kebermanfaatan itu. 

Kesampingkan dulu besar kecilnya untung dalam transaksi jual-beli. Ketika terasa bermanfaat untuk banyak orang, rasanya sudah puas saja menikmatinya.

Maka, benar adanya seruan untuk utamakan belanja di warung tetangga lebih dulu. Apalagi ke warung saudara seimanmu. Tidak perlu jauh-jauh memikirkan efek untuk kebangkitan ekonomi islam itu sendiri. Tapi, dengan membeli dari tetangga sebelah rumah. Silaturrahmi itu terasa lebih erat. Transaksi itu terasa jauh lebih menghasilkan manfaat.

Semangat mengumpulkan pundi-pundi berkah untuk para pejuang rupiah.
Untung besar-kecil tak perlu jadi soal.
Yang penting pemasukan tak membuat tekor modal.

Betul?
@azurazie_

Desember 19, 2020

BERGANTUNG

Sungguh, hanya Allah yang tahu bagaimana kita. Sebab itu pulalah Allah jua yang tahu kebutuhan-kebutuhan kita.

Seberapa sering dirimu tiba-tiba spechless dengan cara Allah menghiburmu ketika sedih.
Dengan cara Allah membantumu memberi jalan keluar, dikala merasa buntu.

Sungguh, Allah memiliki banyak cara untuk membantu tiap-tiap kebutuhan makhluk-Nya. Baik yang dirimu ketahui dengan melihat perubahan nasib orang lain. Yang sedang diberi mudah, setelah sebelumnya terlihat kesusahan. Ataupun dirimu sendiri yang mengalaminya. Setelah melakukan perjuangan yang panjang.

Maka, hanya kepada Allah lah sebenar-benarnya tempat bergantung. Dari roda nasib yang sedang tidak terlalu beruntung. Di masa diri sedang di rundung bingung.   Jangan sekali-kali berpaling. 

Jangan sekalipun berpaling.

@azurazie_

Desember 18, 2020

HITUNG HUNTING

Kenapa ketika memberi seringnya kita hitung-hitungan. Sedangkan ketika hunting-hunting seringnya kita suka lupa diri. Sedangkan hutang-hutang suka di entar-entar-kan.

Padahal dengan memberi, boleh jadi akan dapat peruntungan di kemudian hari. Sedangkan menumpuk yang dibeli, boleh jadi ada hisab di atas timbangan. Di akhirat nanti.

Maka, beruntunglah ia, ketika memberi tak pernah hitungan. Tak mempersoalkan untung rugi. Niatnya hanya ingin berbagi. Memudahkan urusan orang lain. Ringan tangan. 

Maka, beruntung pula ia, ketika mempunyai kesempatan untuk membeli, ia hitung-hitung dulu, menimbang-nimbang seberapa perlu ia dengan hal itu. Adakah alternatif lain yang sekiranya ia sudah punya. Dan memanfaatkan apa yang sudah ada. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menunda membelinya. Meredam keinginannya dengan logika.

#plantsmakepeoplehappy
#plantssofinstagram
#plandemic 
#alocasiaamazonica 
#caladiumlovers 
#suplir 
#syngoniumwendlandii 
#calathealevonero 
#alokasialongiloba 
#caladiumtricolor 
#epipremnumpinnatum 
#pothosnjoy 
#azurazie_

Desember 17, 2020

BAHASA PROTES

Nak, di usiamu saat ini, bahasa protesmu adalah tangis. Bahasa ketidaknyamananmu akan sesuatu adalah tangis. Sampai ibumu terlihat gemas sekalipun, ketika menyuapimu makan, sedangkan dirimu yang tak lagi mau duduk diam. Berputar ke sana kemari. Ujung-ujungnya   bahasamu adalah tangis. "Kenapa aku di larang-larang, aku kan maunya begini. Aku lebih suka begitu." Boleh jadi itu penjabaran dari bahasa tangismu. 

Tak apa, seiring berjalannya waktu dan bertumbuhnya pemahaman baik.  Semoga kelak dirimu akan mulai mengerti, bahwa apa-apa yang sebenarnya tidak dibolehkan oleh ayah atau ibu adalah untuk kebaikanmu. Semata-mata untuk keselamatanmu. Untuk terhindar dari marabahaya. Terjatuh dari tempat tidur, misalnya. Dan ketahuilah bahasa ayah-ibu di saat menjagamu dari hal-hal yang kurang baik adalah cinta. Bahasa kasih sayang agar dirimu selalu baik-baik saja dalam pengawasan kami. Pun demikian semoga juga terterap ketika suatu waktu dirimu jauh dari pengawasan kami. Itulah yang dinamakan kebiasaan yang baik. Sesungguhnya ayah-ibu dan dirimu sedang sama-sama belajar menerapkan kebiasaan baik. Dengan mencontohkannya lebih dulu. Ketika makan harus duduk. Menggunakan tangan kanan. Tak lupa berdoa lebih dulu. Dan lain sebagainya.

Kelak, di masa yang lebih depan lagi, ketika dirimu sudah bisa mengungkapkan pendapat. Boleh jadi bahasa protesmu bertambah. Ah, semoga di saat itu ayah dan ibumu bisa tetap bersikap bijak, mau lebih dulu mendengarkan pendapatmu tanpa harus mengdikte ini itu lebih dulu. Bila dirasa masih kurang cocok tersebab kami sebagai orang tua sudah jauh lebih berpengalaman darimu. Lebih bisa menimbang-nimbang keputusan yang lebih tepat. Saat itu semoga kami bisa mengarahkan dengan cara yang baik.
Itu masa yang masih jauh sekali, nak.

Saat ini ayah dan ibu masih ingin menikmati moment membesarkanmu. Anak perempuan kami dengan tangan mungilnya itu. Dengan senyum imutnya itu. Tak ketinggalan dengan sifat 'sengke' nya juga sewaktu-waktu.

Bertiga membersamai waktu, merajut benang-benang bahagia yang akan menyelimuti hari ini, esok, lusa dan masa-masa yang lebih depan.  

Semoga Allah senantiasa meridhoi langkah-langkahnya. Aamiin.

#khansatazkiyahayyinstory 

@azurazie_

DIAWASI

Karena Allah yang memelihara.
Allah pula yang menjaga.
Kemudian Allah juga yang mengawasi.

Tugas kita hanya perlu taat.
Terus dirikan shalat.
Selalu beribadah.
Tetap berserah.
Allah menepati janji.
Segalanya terpenuhi.

Kemudian berprasangka baik kepada-Nya.
Atas balasan-balasan kemudian.
Tahu diri sebagai makhluk-Nya.
Pun Allah juga yang adil dalam timbangan.

Semoga Allah terus memelihara.
Allah terus menjaga.
Kemudian ingat, Allah juga terus mengawasi.

Tugas kita juga perlu menjaga hati.
Terus memelihara adab diri.
Tutur kata, tindak tanduk.
Tetap bersujud sepenuh tunduk.

Kemudian berserah akan penjagaan-Nya.
Berserah akan pengawasan-Nya.
Berserah akan pemeliharaan-Nya.
Atas balasan terbaik-Nya.
Pun berserah akan apa yang kelak dimintai pertanggungjawabannya.

@azurazie_

Desember 16, 2020

KERUMUN

Bila ketika dibangkitkan kita akan bersama dengan orang-orang yang kita cintai selama hidup di dunia.

Sungguh, aku takut saat ini terlanjur percaya diri akan baik-baik saja. Padahal nyatanya masih menjadi seekor lalat yang berkerumun di antara kotoran-kotoran yang ada. Bukankah lalat memilih demikian juga sebab karena cinta? Cintanya terhadap kotoran terlalu buta hingga tidak tahu bahwa kerumunan itu tidak bisa membawa kebaikan untuk akhiratnya. Tapi kan lalat tidak akan ada hisab atas perbuatannya. Sedangkan kita?

Bila ketika dibangkitkan kita akan bersama dengan orang-orang yang kita cintai selama hidup di dunia.

Sungguh, aku takut saat ini sudah kah menjadi salah satu semut yang berkerumun di sembarang tempat. Suka dengan butiran gula yang bertebaran di lantai. Kadang suka pula dengan sisa-sisa bangkai. Bukankah semut memilih demikian juga sebab karena cinta? Suka tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk akhiratnya. Tapi kan semut tidak akan ditanyai atas pilihannya? Sedangkan kita?

Bila ketika dibangkitkan kita akan bersama dengan orang-orang yang kita cintai selama hidup di dunia.

Sungguh, bisakah kita satu di antara lebah-lebah yang hanya mau berkerumun di atas manisnya madu. Tegas atas pilihannya. Bukankah lebah setegas itu juga karena sebab cinta? Cintanya yang membawa banyak kebaikan untuk kerumunan lain. Yang sama-sama menjaga marwah kehormatan sesama saudaranya.

Ah, lebah memang beruntung. Sedangkan kita? 

Bila ketika dibangkitkan kita akan bersama dengan orang-orang yang kita cintai selama hidup di dunia.

Dimanakah kita saat ini berkerumun. Menjadi seekor lalat yang jauh dari hidayah. Menjadi seekor semut yang suka berada di pilihan abu-abu. Ataukah seekor lebah yang tegas akan imannya. Mempertahankan apa yang dipercaya. Berkerumun dengan yang dicintainya.

Sungguh, hidayah itu mahal harganya.

#azurazie_ 

Desember 14, 2020

KARENA ALLAH YANG MEMAMPUKAN

Karena Allah yang memampukan
Allah pula yang memudahkan
Kemudian Allah juga yang mencukupkan.

Tugas kita hanya perlu berusaha.
Terus berusaha.
Selalu berusaha.
Tetap berusaha.

Kemudian ikhlas akan ketetapan-Nya.
Ikhlas atas pilihan-pilihan-Nya.
Ikhlas atas pemberian-Nya.
Atas takdir terbaik-Nya.
Pun ikhlas atas apa yang diambil kembali oleh-Nya.

Semoga Allah terus memampukan.
Allah terus memudahkan.
Kemudian Allah juga terus mencukupkan.

Tugas kita juga perlu berdoa.
Terus berdoa.
Selalu berdoa.
Tetap berdoa.

Kemudian berserah akan ketetapan-Nya.
Berserah akan pilihan-pilihan-Nya.
Berserah akan karunia-Nya.
Atas balasan terbaik-Nya.
Pun berserah akan apa yang kelak dipinta kembali oleh-Nya.

@azurazie_

Desember 12, 2020

TAK ADA SALAHNYA MEMAAFKAN

Sebelum terlelap, bolehlah selipkan beberapa doa di antara doa-doa yang biasa dirimu baca sebelum tidur.

Tak lupa biasakan untuk melepaskan gelisah perasaan yang mengganjal, dengan memberi maaf untuk (s)iapa-(s)iapa yang membuat dirimu kesal hari ini.

Semisal, si fulan yang seenaknya menyerobot antrian ketika mengambil uang di atm. Si fulan yang kendaraanya menerabas kencang genangan air hujan yang membuat dirimu kecipratan. Si fulan yang dengan entengnya datang terlambat setelah ditunggu, padahal dirimu butuh cepat di saat itu. Si fulan yang seenaknya menyuruh ini itu dengan meminta buru-buru padahal dirimu ada keperluan lain yang lebih mendesak.
Maafkan mereka, dan doakan agar besok-besok jauh lebih bijaksana dalam melakukan segala sesuatunya.

Semisal, tetangga yang ketahuan menggunjing kekurangan dirimu. Atau Suami yang seringnya lupa menyimpan handuk basah di atas kasur. Atau istri yang kelupaan memasukkan bekal makan siangmu. Atau anak-anak yang suka susah dikasih tahu ini itu. Meski sebenarnya untuk kebaikan mereka juga. Maafkan mereka, dan doakan besok-besok jauh lebih baik dalam menyelesaikan segala sesuatunya.

Sebelum terlelap, bolehlah selipkan beberapa doa di antara doa-doa yang biasa dirimu baca sebelum tidur. Dan maafkan, untuk kesalahan-kesalahan orang lain. Baik yang kenal dekat atau bahkan hanya sepintasan lewat di perjalanan. Untuk kelapangan hatimu sendiri yang tidak terbiasa menyimpan kesal dalam hati. Atau bahkan dendam. Untuk kelapangan hatimu sendiri yang terdidik untuk selalu memaafkan, meski yang berbuat salah tidak menyadari lebih dulu. Maafkan, karena dirimu layak memiliki hati yang senantiasa bebas dari prasangka buruk. Dari menumpuknya perasaan-perasaan negatif.

@azurazie_

Desember 11, 2020

TAK ADA SALAHNYA BERDOA

Sebelum terlelap, bolehlah selipkan beberapa doa di antara doa-doa yang biasa dirimu baca sebelum tidur.

Selipkan doa, untuk siapa-siapa yang dirimu tahu, mereka sedang berjuang untuk memenuhi peruntungannya. 

Entah itu doa untuk yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan. Yang sepanjang hari resah menunggu ponsel berdering, berharap ada panggilan interview dari perusahaan yang beberapa hari yang lalu ia tinggalkan surat lamaran. Doakan semoga esok ada kabar baik untuknya.

Entah itu doa untuk yang sedang sedikit gundah hatinya karena omongan tetangga hari ini. Tersebab, belum adanya momongan. Padahal sejauh ini sudah belajar untuk selalu percaya terhadap ketetapan-ketetapan-Nya. Bahwa hal-hal yang baik ada pada waktu-waktu terbaiknya. Doakan semoga hatinya bisa lebih sabar untuk bekal ketika suatu saat Allah takdirkan seorang anak untuknya.

Entah itu doa untuk teman-temanmu, saudara-saudaramu yang sejauh ini masih belum terlihat tanda-tanda kedatangan jodohnya. Yang setiap harinya memantaskan diri sebagai salah satu upaya agar dapat jodoh yang bisa dikatakan cerminan diri. Doakan semoga mereka segera dipertemukan dalam sebuah ikatan.

Atau sebait dua bait doa untuk orang-orang yang hari ini kebetulan bersinggungan dengan keseharianmu. Tukang sol sepatu yang lewat di samping rumah. Tukang tahu keliling. Tukang remote tv. Atau supir angkot yang mengantarmu. Atau marbot masjid tempat dirimu menumpang shalat. Dan siapapun itu. Baik yang dikenal ataupun tidak tahu sama sekali walaupun untuk sekadar nama. Doakan, mereka selalu dimudahkan dalam tiap-tiap urusannya. Dalam kegiatan yang terbaiknya.

Sebelum terlelap, bolehlah selipkan beberapa doa di antara doa-doa yang biasa dirimu baca sebelum tidur. Mungkin memang butuh waktu lebih lama dari biasanya. Tapi, doa-doa itu bisa jadi tolak ukur seberapa bersyukurnya dirimu hari ini. Yang mungkin dari segi roda hidup, dirimu selangkah lebih maju dari mereka-mereka yang dirimu doakan.
Doa-doa itu pula bisa jadi refleksi diri untuk seberapa sabarnya dirimu hari ini. Yang mungkin dari segi masalah, dirimu tidak lebih krusial dari mereka-mereka yang dirimu doakan.

Ingatlah, boleh jadi kemudahan-kemudahan yang kita lalui hari ini, banyak andil tersebab doa-doa dari orang lain juga.

@azurazie_

Desember 06, 2020

TANYA KENAPA?

 Kenapa seringnya kita tidak menyukai sesuatu yang terbatas. Tetapi, di waktu lain selalu berharap orang lain mau memaklumi segala keterbatasan kita?


Kenapa kita suka sebal terhadap sesuatu yang rasanya kurang memenuhi ini itu. Tetapi di lain waktu tidak berusaha melebihkan sesuatu yang orang lain sedang butuhkan?


Apa karena ketika menerima kita selalu inginnya segala sesuatunya itu sempurna. Sedangkan ketika memberi inginnya selalu dimaklumi tiap-tiap kekurangan kita.


Begitulah kira-kira.


@azurazie

Desember 05, 2020

DAYA JUANG

tiap makhluk hidup memiliki daya juangnya masing-masing. dengan medan yang Allah telah takdirkan atas hidupnya.

tidak ada yang bisa memilih ingin di lahirkan di mana. dengan siapa dan dalam keadaan seperti apa.

seperti seekor ikan, misalnya. ribuan ikan lain boleh jadi terlahir di dermaga nan luas. air yang mengalir deras. jernih dan sumber makanan yang banyak. tapi nasib memutuskan ikan satu ini harus lahir dan besar di dalam aquarium.

seperti ribuan tumbuhan lain, misalnya. benihnya tumbuh di hutan nan luas. dengan unsur hara yang terbaik. dengan sumber mata air yang dekat. udara yang sejuk. dan pupuk alami yang melimpah. tapi nasib mentakdirkan tumbuhan ini harus bertahan hidup di sebuah pot kecil. yang ironisnya pemiliknya suka lupa untuk sekadar menyiram.

begitulah hidup. kita semua punya daya juang masing-masing. berjalan di atas takdir masing-masing. tak perlu merasa iri dengan kehidupan orang lain. di manapun dan dalam situasi apapun, jadilah makhluk yang hidupnya senantiasa bermanfaat untuk diri sendiri, alih-alih untuk orang lain. jadilah makhluk yang hidupnya selalu berusaha berperan dengan baik. sesuai porsinya masing-masing. tidak menghambat atau bahkan merugikan orang lain. dengan begitu, kita akan selalu merasa lapang menjalani kehidupan ini. tak merasa sesak seperti hidup di dalam akuarium yang sempit. tidak merasa tertekan seperti berjuang hidup di atas tanah dalam pot kecil yang tandus.

@azurazie_

Desember 04, 2020

TERBALIK TERBAIK

Kita selalu inginnya yang terbaik, bukan justru yang terbalik.

Terbaik sesuai keinginan. Terbaik yang bisa memenuhi kebutuhan. 

Dan ketika realitanya justru terbalik, bisa langsung murung, berkecil hati.

Kadang kala bermuram hanya karena hal-hal sederhana. Yang kalau di situasi normal hal itu mudah saja kita lalui. Tapi karena kadung kecewa dengan ekspektasi sendiri, justru yang sederhana itu bisa memberatkan langkah kita berikutnya.

Tiba-tiba turun hujan, misalnya.
Membuat kita terlambat ke suatu tempat.

Padahal tidak selalu yang menurut kita terbalik, itu bukan hal yang terbaik yang telah Allah pilihkan. Jangan-jangan sebab terlambat itu, Allah menyelamatkan kita dari bahaya yang lebih besar. Terbalik menurut kita, menjadi terbaik untuk kehidupan kita sendiri.

Kita suka sebal bila sesuatu menjadi terbalik, padahal berharapnya selalu ingin yang terbaik.

Maka, penting mendidik hati sendiri untuk selalu mengedepankan prasangka baik dalam setiap suasana. Agar hati tidak mudah begitu saja kecewa. Pikirkan dulu kira-kira apa hikmahnya. Koreksi juga kenapa sebabnya. Setelah itu bisa memutuskan langkah berikutnya.

Semoga dengan begitu, baik terbalik maupun dapat yang terbaik. Kita selalu terbiasa bersyukur dan bersabar dalam melaluinya.

Semoga!
@azurazie_

MENUMPANG HIDUP

Sama seperti kita, manusia yang menumpang hidup di dunia.


Makhluk-makhluk hidup lain pun demikian. Seolah menumpang hidup di sekitar kita. Seperti sekelompok semut yang berbaris di tembok rumah atau mengerumun sisa-sisa makanan di meja dapur. Seperti kucing-kucing liar yang kalau kita buka pintu langsung mengeong meminta makan. Seperti cicak-cicak yang bertengger di plafon di kala malam. Dan makhluk lainnya. Mereka semua seolah menumpang hidup di sekiataran kita sebagai manusia.


Yang kadang kala tingkah laku mereka membuat jengkel kita. Karena merasa terganggu. Karena sudah membuat kotor. Atau bahkan bisa berujung merugikan.


Sebagai yang punya hobi merawat tanaman pun begitu. Ulat-ulat yang menumpang hidup dengan memakan daun-daun #caladium kita. Atau keong racun yang sedang asik makan dedaunan. Sampai rumput-rumput liar yang suka ikut tumbuh di dalam pot tanaman hias kita. Mereka semua seolah menumpang hidup di sekitaran kita. Sedikit banyak mengusik keseharian kita.


Tapi, kalau direnungi ulang. Allah Maha begitu baik kepada kita semua. Sebagai manusia yang menumpang hidup di dunia, tentu manusia ini memiliki tingkah laku yang lebih beragam dari mahkluk-makhluk lain. Karena kita diberi akal dan pikiran.


Boleh jadi Allah pun suka jengkel melihat tingkah laku kita yang cenderung berlebihan. Yang suka keluar dari aturan.

Tapi, kitanya masih merasa aman-aman saja. Karena Allah lebih bijak menunda balasan itu. Tidak seperti kita yang serta merta langsung menghardik kucing-kucing liar yang tidak sengaja menyenggol pot tanaman kita hingga pecah. Tidak seperti kita yang langsung menyapu/menyiram semut-semut yang bergerayang di salah satu buah kita.


Bukankah begitu?

@azurazie

BERPIKIR POSITIF

Diberi kemampuan lebih untuk menyelesaikan sesuatu, yang mungkin jumlahnya lebih banyak dari beban orang lain.


Meskipun di saat yang sama harus punya kemauan lebih letih untuk menyelesaikannya.


Soal bonus lelahnya :

Biar jadi urusan Allah yang memampukan kita. Terserah Allah memberinya apa.

Boleh bonusnya selalu diberi kesehatan. Bisa juga kelapangan waktu bersama keluarga. Atu lain-lain.

Tugas kita :

Tetap mau usaha tanpa keluh kesah yang bisa menghambat prosesnya.


Semoga selalu ada nilai lebih dari sesuatu yang membuat kita lebih letih.

Soal bentuk lebihnya, percayakan kepada Allah saja.


Sesederhana itu.

@azurazie_

Desember 03, 2020

MENYAMBUNG REZEKI

Adalah benar pada rezeki yang kita terima, boleh jadi akan jadi rezeki yang Allah titipkan untuk orang lain.


Seberapa sering kamu ketika dalam perjalanan, Allah menggerakkan hatimu untuk mampir sebentar hanya untuk membeli minuman atau sekadar camilan? Boleh jadi si pemilik warung yang sepanjang hari kepanasan, sangat mengharapkan dagangannya laris hari ini. Untuk menambah biaya sekolah anaknya. Secara tidak langsung dirimu telah menyambung rezeki untuknya.


Suatu ketika, saya iseng mampir ke sebuah kios tanaman di pinggir jalan. Yang sebelum masa #plantdemic tidak pernah terpikirkan saya akan menyambangi tempat itu. Karena memang tidak terlalu antusias dengan tanaman. Itu dulu.


Pada hari itu saya ingin coba pengalaman baru, gimana sih rasanya membeli tanaman langsung? Apalagi kalau lihat di story-story medsos, kios tanaman ini sudah seperti menjadi ‘mall’ baru untuk banyak orang. Jadi lebih sering ramai.


Sayangnya kios yang saya datangi bisa dikatakan sepi pengunjung. Mulailah saya keliling dari jajaran polybag satu ke yang lainnya. Melihat-lihat jenis-jenis tanaman, yang memang kalau diperhatikan kurang terurus. Mungkin itu jadi faktor kenapa sepi.


Singkat cerita, saya memutuskan mengadopsi dua jenis tanaman saat itu. Dengan kocek hanya 15ribu rupiah. Mungkin bagi saya itu sekadar 'hanya’ tapi bagi pemilik kios bisa lebih dari sekadar kata itu. Terlihat dari sumringahnya dan berkali-kali berucap alhamdulillah.

@azurazie_

Desember 02, 2020

RUMUS CANGGIH 2

Rumus Canggih 2 :

Merasa cukup atas tiap-tiap pemberian-Nya. Tak akan pernah cukup waktu untuk mensyukurinya.

Cukup itu tentang menerima dengan apa adanya. Tanpa menuntut lebih. Hadza Min Fadlillah. 

Cukup atas nikmat-nikmat-Nya yang tiada tara. Yang tak pernah akan cukup waktu, tenaga, pikiran, perhitungan, perhatian untuk benar-benar mensyukurinya. 

Mulailah hari ini dengan merasa cukup. Agar langkah kaki kita tidak terasa berat karena membawa tuntutan keinginan. Agar langkah kaki kita hanya akan menuntun ke arah yang membawa banyak kebaikan-kebaikan.


@azurazie_

Desember 01, 2020

RUMUS CANGGIH 1

Rumus Canggih 1 :

Memberi lebih,
Bukan membeli lebih.

Memberi itu tentang merelakan.
Melepas sesuatu yang berada di genggaman.

Sedangkan membeli itu tentang menuruti keinginan. 

Memberi, bisa menjadi terapi untuk melapangkan hati. Belajar untuk ikhlas.

Membeli, seringnya membuat was-was diri. Ketika keinginan tak sanggup untuk dituruti. Seolah emosimu diperas.

Mari memberi lebih untuk menambahkan kebaikan-kebaikan lain.
Dan jaga diri untuk tidak selalu membeli lebih. Ingat! Kelas hisabnya akan diperhitungkan. 

@azurazie_

November 20, 2020

JACKPOT DOA

Jum'at berkah.

Mari perbanyak doa-doa yang baik.

Melihat pedagang asongan di pinggir jalan. Doakan semoga dagangannya laris.
Melihat tukang siomay yang mendorong gerobagnya di panas terik. Doakan banyak yang akan beli.
Melihat ibu-ibu yang menenteng belanjaan sayur baru turun dari angkot. Mungkin dari pasar. Doakan semoga selalu diberi kesehatan dan rezeki yang cukup.

Mari perbanyak doa-doa yang baik. Untuk siapa pun itu. Baik yang kita kenal maupun selintasan yang kita lihat. Yang kita pikirkan. Doakan mereka dengan tulus diam-diam. Siapa tahu mereka-mereka itu dapat 'jackpot' dari Allah. Apa yang barusan kita doakan, ternyata jauh dalam lubuk hatinya pun sedang mengharapkan hal yang sama. 
Sehingga harapan itu lebih terdorong karena dibantu doa kita.

Dan percaya diri saja, mudah-mudahan orang lain di luaran sana pun, ketika mengingat kita. Lidahnya mudah untuk mendoakan kebaikan-kebaikan kita. Hingga jalan kita terasa lebih mudah. Tujuan kita terasa tidak lagi terlalu jauh.

Ya, minimal malaikat-malaikat Allah sudah tentu ikut meng-aamiin-kan doa-doa diam-diam kita barusan.

Jadi, coba tengok kiri kanan kita saat ini. Sejauh mata memandang apa yang kita lihat? Apa yang mata kita temukan? Mari doakan diam-diam sembari tersenyum.

Jangan lupa, ya.

@azurazie_

November 17, 2020

MENATAP, MENITIP, MENUTUP, MENETAP

Luangkan waktu sejenak.

Menatap diri, di hadapan cermin itu.
Adakah tutur katamu hari ini yang (tak) sengaja melukai perasaan orang lain? Yang karenanya, ada hati yang terluka. Ada diri yang kecewa.

Adakah tindak tandukmu hari ini yang sengaja ataupun tidak, berimbas merugikan orang lain. 

Menitip diri, di genggaman azam itu. Yang bertekad kuat untuk perbaiki tingkah laku. Yang karenanya orang lain akan merasa aman, oleh tanganmu atau pun lisan. 

Menutup diri, untuk tidak membicarakan aib orang lain. Sebab, setiap orang sudah pasti punya cela. Tersimpan rapi dalam hatinya. Karena Allah Maha Baik saja yang sejauh ini masih menutupinya. 

Menetap-kan hati, mulai saat ini, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Yang banyak membawa manfaat untuk kebanyakan orang. Minimal keberadaanmu tidak lagi menyusahkan. Justru bisa lebih menyenangkan atau pun menenangkan.

Bisa?

@azurazie_

November 16, 2020

RESPECT!

Penuh respect kepada siapa-siapa yang selalu gesit untuk mengupayakan sesuatu yang memang untuk kepentingannya sendiri. Mengerjakan ini itu yang memang dampak kedepannya akan ia butuhkan sendiri. Yang ketika kurang maksimal, ia juga yang sendirinya akan kelimpungan. Akan banyak kecewa karena jauh dari harapan.

Penuh respect kepada siapa-siapa yang punya komitment : bila masih bisa di handle sendiri, kenapa harus menunggu orang lain yang berbuat. Kenapa harus selalu diingatkan terus-terusan. Tidak selalu mengandalkan. Hingga menjadi sosok yang handal untuk tiap-tiap urusan.

Kepada siapa-siapa yang selalu tepat waktu, merasa tidak enakan kalau sedikit saja terlambat. Karena memang hasil akhirnya ia juga yang paling menikmati. 

Karena, adakalanya tidak semua orang mau memahami keterlambatan kita. Karena orang lain punya kepentingan lain yang perlu diupayakan juga. 

Maka, untuk siapa-siapa yang sudah terbiasa seperti itu. Terimakasih. Dengan perannya itu, dengan sendirinya sudah meringankan kerjaan orang lain. Yang mungkin saja sudah begitu gemas kepada satu dua orang yang harus selalu diingatkan. Padahal mereka sendiri yang sejatinya memiliki kepentingan.

Bravo!

@azurazie_

November 15, 2020

JANGAN BERLEBIHAN

Boleh kecewa, tapi jangan terlalu mengeluh. Apalagi sampai seolah-olah menyalahkan Allah. Siapa kita yang bisa-bisanya mengatur-atur Allah sesuai keinginan kita? Kehendak-Nya mutlak. Kita harus selalu menerima dengan hati yang bijak. Dan yakinilah itu yang terbaik.

Boleh tidak terima, tapi jangan juga jadi mudah mengalah. Apalagi sampai berputus asa dengan rahmat Allah. Ambil hikmah pada setiap kejadian. Pasti ada pelajaran yang melatarbelakangi terjadinya ketetapan. Bukankah karena sebab-sebab yang baiklah, akan ada akibat-akibat yang lebih baik.
Ketetapan-Nya ada dalam ketepatan waktu. Kita harus sabar dalam menunggu sesuatu. Dan yakinlah apa yang memang milikmu, cepat atau lambat pasti juga akan bertemu.

Boleh gembira, tapi jangan terlalu ber-uforia. Apalagi sampai jumawa. Siapalah kita, tanpa kuasa-Nya tidak lah punya daya dan upaya. Kita harus selalu tahu diri. Semua yang kita miliki hanyalah titipan ilahi Rabbi.

Yang hilang akan berganti
Dengan datang pengganti yang lebih baik lagi.

@azurazie_

November 14, 2020

MEMBENDUNG KEINGINAN

Masih menjadi 'ujian' yang cukup berat bagi manusia adalah tentang membendung keinginan-keinginan. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu perlu atau mendesak sebagai kebutuhan. Dalam tulisan ini lebih menitikberatkan keinginan itu sesuatu yang harus dibeli oleh materi.

Sesuatu yang kalau dipikir ulang di kemudian hari, membuat kita lebih banyak menyesal telah membelinya. Daripada menyesal tidak pernah membelinya. Apalagi bila sudah terbentur situasi, ketika prioritas utama yang sedang dibutuhkan justru terbengkalai. Menambah pusing pikiran karena lalai. 

Masih menjadi sesuatu yang perlu dibenahi oleh manusia adalah menyederhanakan keinginan-keinginan. Ingin ini ingin itu banyak sekali. Sampai kadang berujung dengan terlalu memaksakan diri.  

Maka, anugerah sekali rasanya bila selalu diberi rasa cukup. Tidak terlalu menuntut harus serba punya. Ketika tidak memiliki usaha lebih untuk menunjangnya.

Anugerah sekali rasanya bila diberi sifat yang bisa terima apa adanya. Selagi yang 'pokok' punya garansi akan selalu ada. Keinginan-keinginan lain itu terbendung dengan sendirinya. Tidak berharap lebih. Tapi tetap di upayakan dengan tidak menuntut cepat untuk realisasinya. 


@azurazie_

November 12, 2020

DAN REBAHLAH!

Teruntuk diri yang hari ini merasa begitu lelah, luruhlah dalam Alhamdulillah. Atas nikmat yang dicicip, dengan hati yang selalu merasa cukup. 

Meski letihmu tak selalu mendapat lebih melulu. Terimalah dalam Alhamdulillah. Atas Lillah yang menjadikannya berkah. Sepenuh hati menderma kasih.

Dan rebahlah! dirimu layak untuk rehat, sejenak. Untuk juangmu hari ini.  Menapaki bumi, menjemput rezeki. 

Dan rebahlah! untuk esok kembali giat, bergerak. Untuk tujuanmu yang sudah menanti. Memperbaiki diri, mencari Ridho illahi. 

Selamat istirahat!

@azurazie_

November 11, 2020

ANDAL DAN ANDIL

Tidaklah baik selalu mengandalkan orang lain untuk kepentingan sendiri. Lebih baik memberi andil dalam berbagai situasi. Bahu-membahu membantu mengisi kekurangan, dalam setiap sisi.

Orang yang paling bermanfaat untuk sesamanya tidak peduli dengan ukuran untung-rugi. Baginya yang terpenting apakah ia sudah memberi lebih dengan segala kekurangan yang ia miliki. Apakah ia juga sudah memaksimalkan letih. Untuk segala sesuatu yang sedang diperjuangkan.

Orang yang paling bermanfaat untuk sesamanya percaya, akan selalu ada timbal balik dari sebab-sebab yang baik yang ia lakukan. Akibat-akibat yang lebih baik akan datang di waktu, situasi dan tempat. Ketika benar-benar dibutuhkan.

Orang yang paling bermanfaat untuk sesamanya, cenderung lupa memperhitungkan keuntungan yang akan ia peroleh ketika melakukan ini itu. Ia lebih fokus memperhatikan upaya apa yang diperlukan agar segalanya selalu lancar. Perannya tidak memperlambat urusan orang lain. Prosesnya tidak menghambat untuk hasil yang diharapkannya itu.

Sudahkah kita menjadi orang yang paling bermanfaat untuk sesamanya?

@azurazie_

Oktober 18, 2020

RUMIT

 Yang rumit itu, ketika orang lain terlanjur berpikir atau bahkan menuntut kita untuk SEGALA TAHU dalam banyak hal. Padahal dengan keterbatasan yang kita miliki, sejatinya kita tidak selalu TAHU SEGALANYA. @azurazie_ 

Oktober 17, 2020

TANPA SYARAT

 

Barangkali di antara teman-teman kita, satu atau dua orang ada yang memiliki sifat selalu ingin mengomentari apa-apa yang ia lihat, apa-apa yang ia dengar. Sedikit-sedikit, ada saja komentarnya. Baik memang itu penting atau lebih seringnya tidak membawa manfaat apa-apa.

                Dan pernah tidak di waktu-waktu tertentu, justru kamu bersyukur, karena komentarnya itu tiba-tiba saja membuka pemahaman baru. Sudut pandang yang lebih baik. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehmu.

                Jum'at ke jum'at pesan taqwa itu tersampaikan kepada laki-laki soleh yang lebih memilih menjaga imannya untuk mendengarkan dua khutbah, melaksanakan shalat jum'at. Dibanding masih berkutat dengan kesibukan dunia, seolah-olah akan rugi banyak, bila menunda pekerjaannya itu. Padahal tidak lebih dari 1 jam lamanya untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Memperbaharui taqwa, kemudian setelah itu bebas kembali bertebaran di muka bumi ini.

                Di antara laki-laki soleh itu, ada dua pemuda yang masih duduk santai di teras masjid. Kalau hari jum’at memang jam istirahatnya lebih panjang dari hari-hari yang lain.

                "Kenapa, Sob? Kok sepertinya ruwet sekali pikiranmu?" Tanya Jim kepada Tahsin yang sejak tadi terlihat gelisah memikirkan sesuatu.

                "Ooh, bukan apa-apa, Bro. Lagi nggak habis pikir saja dengan manajemen masjid ini." Jawab Tahsin dengan sedikit helaan napas.

                "Maksudmu? Memang apa yang aneh?" Jim mengerutkan dahinya, sedikit penasaran. Ia paham benar dengan tabiat temannya itu, kalau ada sesuatu yang dirasa kurang pas dengan pemikirannya, sesuatu itu bisa jadi ‘ganjalan’ yang cukup berat untuk hatinya. Seperti ada yang harus segera diluruskan. Meski seringnya itu hanya kerumitan pikirannya sendiri.

                "Itu loh, kamu dengar kan tadi ya, kalau saldo kas masjid ini ada puluhan juta. Tapi, kok kemakmuran masjidnya nggak terawat begini. Misal, kran-kran di tempat wudhunya saja pada rusak. Aku lihat ada lebih dari tiga kran yang nggak berfungsi sama sekali. Padahal, berapa sih harga kran?" Tahsin mengeluarkan unek-uneknya.

                "Oooh, maksudmu kenapa saldo kas banyak, tapi nggak dipakai untuk mengganti yang anggarannya nggak butuh banyak keluar uang gitu, ya?"

                "Betul, Sob." Tahsin menyungging senyum karena temannya mengerti dengan apa yang ia maksudkan.

                "Oalaaah... pantas tadi aku perhatikan kamu ragu-ragu waktu mau masukin uang ke keropak." Kotak amal itu sempat lama terhenti di depan Tahsin, tapi tidak ada selembar uang pun yang masuk ke dalamnya.

                "Ya, aku pikir lebih baik infak ke tempat lain daripada di sini yang ujungnya hanya jadi saldo. Nggak dimanfaatkan dengan baik. Benar toh? Seharusnya kan bukan jadi tabungan kas."

                "Sebelum aku menanggapi komentarmu itu, boleh aku tanya dulu. Kamu niat infak berapa memang tadi?" Jim menyeringai.

                "Umm..." Tahsin ragu-ragu.

                "Hehe... becanda, Sob. Nggak perlu dijawab.” Jim membenarkan posisi duduknya karena mulai kesemutan. “Aku mau cerita nih, semoga ceritaku  ini bisa meringankan unek-unekmu itu.”

                Tahsin juga membenarkan posisi duduknya, terlihat antusias.

                “Begini, dulu ketika masjid ini sempat di renovasi. Kebetulan aku ini ikut bantu-bantu. Waktu kami pada sibuk mengecor, mengaduk semen dan sebagainya, tiba-tiba ada Pak Tua yang menghampiri DKM masjid ini. Mereka mengobrol lama dan terlihat cukup serius. Pak Tua itu bertanya kepada DKM apa yang sekiranya ia bisa bantu untuk pembangunan masjid ini. Membantu tenaga Pak Tua merasa nggak akan mampu, membeli semen dan benda material lain pun rasanya berat untuk ukuran pendapatannya sehari-hari. Tapi, Pak Tua itu ingin sekali punya andil dalam pembangunan masjid ini. Ia juga ingin punya rumah di surga nanti meskipun sederhana.”

                “DKM masjid ini pun sempat bingung menjawab pertanyaan si Pak Tua. Di sisi lain DKM nggak tega menolak keinginan tulus itu. Singkat cerita akhirnya DKM masjid ini mengusulkan agar Pak Tua membantu menyediakan kran masjid ini saja, kebetulan saat itu memang sudah ada yang pedalnya patah.”

                “Mbah keberatan nggak kalau membantu membelikan kran satu atau dua buah? Nggak perlu yang harganya mahal, yang biasa saja. Insya Allah, kran itu akan berfungsi dengan baik dan membantu orang-orang yang akan bersuci sebelum menunaikan shalat.” Begitu kata DKM masjid ini.

                “Boleh, Ustadz. Mbah, bersedia.” Cukup lama Pak Tua itu menimbang-nimbang keputusannya. “Kalau sudah ada nanti krannya mbah bawa ke sini. Terima kasih, Ustadz.”

                Tahsin menghela napas, masih mendengarkan dengan baik cerita Jim.

                “Sejak itulah, masjid ini seperti punya ‘donatur’ tetap untuk penggantian kran-krannya kalau rusak. Makanya, kalau diperhatikan kran-kran di tempat wudhu nggak seragam warnanya, alias warna-warni. Nah, hari ini kamu masih melihat ada kran yang belum diganti, mungkin karena tabungan si Pak Tua itu belum cukup.”

                Tahsin mengangguk mulai mengerti ceritanya.

                “Kau tahu nggak, siapa Pak Tua yang aku maksud di cerita ini, Sob?”

                “Iya, siapa, Bro? Sejujurnya sejak tadi aku sudah penasaran ingin menanyakan hal itu.”

                “Kau tahu kan, Pak Tua yang berjualan tissue di pintu masuk stasiun Bojong Gede?”

                “Oh iya, Pak Tua yang itu. Aku pernah membeli tissue-nya beberapa kali.” Tahsin ingat betul dengan Pak Tua yang dimaksud. Karena hampir setiap hari ia melihatnya.

                “Nah, Pak Tua itu yang aku maksud. Ia setiap hari berjualan tissue seharga dua ribu perak. Sebagian keuntungannya ia tabung untuk membeli kran untuk masjid ini. Sisanya ia gunakan untuk menopang kehidupannya sehari-hari. Nggak besar-besar amat kan pastinya keuntungannya? Tapi Pak Tua telaten untuk menabung.”

                Tahsin tiba-tiba merasa takjub. Tidak menyangka sama sekali.

                “Memang benar setiap jum’at, kas masjid ini selalu dilaporkan saldonya puluhan juta. Tapi, aku tahu betul amanah infak jama’ah Masjid ini disalurkannya dengan baik. Salah satunya, pengurus DKM punya data anak-anak yatim piatu yang masih perlu biaya sekolah, sekaligus memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Ada ratusan anak. Salah satunya, cucu dari Pak Tua itu. Ia hanya tinggal berdua dengan cucu yang usianya baru 10 Tahun. Namanya Alif. Anaknya cerdas dan kalau nggak salah sudah hafal 15 juz.”

                “DKM Masjid ini pernah cerita kalau sebenarnya saldo kas infak dari jama’ah selalu nyaris nol kalau sudah hari kamis. Di salurkan ke yang memang membutuhkan. Sesuai dengan yang sudah dianggarkan tiap minggunya. Tentu saja juga digunakan untuk perawatan masjid besar ini.” Jim menjeda ceritanya sejenak. “Tapi, berkahnya Masya Allah, setiap jum’at malam selalu saja masuk lagi infak baru ke rekening Masjid ataupun di antar langsung ke rumah DKM. Makanya jangan heran kalau setiap jum’at yang dilaporkan saldo kas masih puluhan juta.”

                “Tapi, kenapa nggak pernah di umumkan rincian pengeluarannya, ya?”

                “Untuk apa? Menurutku nggak perlu-perlu banget hal yang itu dibacakan, selain butuh waktu dan bisa mengganggu yang sedang berdzikir, shalat sunnah dan sebagainya. Kalau soal rincian lengkapnya sebenarnya selalu dipasang di papan pengumuman masjid. Kitanya saja yang kadang acuh, nggak tertarik untuk membaca pengumumannya.”

                Tahsin mengangguk, ia mengakui termasuk jama’ah masjid ini yang tidak pernah mampir untuk melihat-lihat mading.

                “Hanya soal pergantian kran yang rusak saja yang nggak pernah menggunakan uang kas, karena DKM masjid ini ingin menghormati dan menjaga azam Pak Tua untuk berinfak membantu kemakmuran masjid. Jadi, meskipun sudah rusak berhari-hari, kran tersebut belum juga diganti. Begitu ceritanya, Sob.”

                Tahsin terenyuh. Mulai terbuka pikirannya dengan sudut pandang yang baru. Tanpa Jim katakan pun ia mulai paham, bahwa infak itu sudah seharusnya tanpa syarat apa-apa.

                Jum’at ke Jum’at pesan taqwa itu menjadi pengingat kita semua. Taqwa dalam artian menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi segala larangannya.

                Perintah dalam artian sepenuh yakin dengan ketetapan Allah. Infak itu termasuk perintah-Nya. Dan larangan-Nya dalam artian berprasangka buruk kepada-Nya. Dengan terus bertanya-tanya apa yang sudah kita keluarkan, takut-takut tidak disalurkan dengan baik.

                Maka, sudah seharusnya infak itu tanpa syarat apa-apa. Selebihnya biarkan skenario Allah bekerja dengan kebijaksanaan-Nya. Biarkan Allah yang mengatur dengan keindahan cerita dibaliknya.


@azurazie_

Oktober 14, 2020

PERAN

Tentang orang-orang yang tidak sadar, perannya sedang ditunggu. Dan orang-orang yang tidak sabar, menunggu orang lain sedang berperan. 


Alangkah indahnya bila semua berperan dengan kesadaran dan porsinya masing-masing.

Tidak harus tergesa-gesa dalam menunggu.

Tidak mesti berleha-leha ketika ditunggu.


@azurazie_

April 16, 2020

SEMBUH

Dengan Asma-Mu, ya Allah. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Rabb yang menentukan takdir dan menyembuhkan. Yang memberikan ilmu-ilmu bermanfaat dalam dunia medis atau kedokteran. Ya Rabb, yang memilih di antara hamba-hamba-Nya yang memiliki lebih banyak kepintaran daripada hamba-hamba-Mu yang lain. Hingga terasa manfaat ilmunya untuk membantu kemanusiaan. Untuk dokter-dokter, suster-suster, perawat, apoteker, peracik obat-obatan, pun yang lainnya. Yang selalu gigih bahu-membahu untuk tetap 'waras' di antara-antara 'pesakitan-pesakitan'. Untuk mereka-mereka yang ilmunya berguna di kehidupan sehari-hari. Menjadi wasilah dalam menyelamatkan banyak orang. Dengan tetap berpegang teguh bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Allah, Rabb yang Maha penyayang.

Ya Rabb, barangkali di antara rintihan-rintihan orang-orang yang sedang diuji sakit. Bukan semata mengeluh dan tidak menerima bagian dari takdir hidupnya. Banyak dari mereka, merintih karena merasa tidak berdaya untuk tetap terjaga dalam beribadah. Mereka-mereka yang terbiasa ketika mendengar adzan langsung menuju ke masjid untuk shalat berjamaah. Mereka yang terbiasa mengkhatamkan qur'an minimal empat kali khataman dalam sebulan. Mereka yang tidak ingin terputus silaturrahmi kepada saudara, keluarga maupun teman sepermainan. Dan kebaikan-kebaikan lain yang biasa dilakukan di kala sehat. Dalam keadaan afiat.

Maka, Ya Rabb. Anugerahkan kesembuhan itu kepada hamba-hamba-Mu yang selalu terbangun untuk giat beribadah. Dalam ketaatan sebagai hamba yang paling banyak berserah.

Anugerahkan kesembuhan itu bagi mereka-mereka yang karena sembuhnya, menebar banyak kebaikan untuk orang lain.

@azurazie_

Maret 03, 2020

KEMBALIKAN

Kembalikanlah apa-apa yang perlu kamu kembalikan. Agar ruangmu lebih kosong untuk menerima apa-apa yang akan datang kemudian.

Adakalanya kita perlu cermat dalam memilah-milah mana yang perlu tetap di simpan dan mana yang seharusnya sudah kita kembalikan. Sebab, apa-apa yang ada pada diri kita, sejatinya hanyalah sebuah titipan. Bukankah begitu?

Apa-apa yang ada pada diri kita, ada juga hak Allah dan hak adami.
Semisal, kembalikan 2,5% dari pendapatanmu setiap bulan, agar hartamu lebih bersih. Semoga dengan begitu, harta itu lebih terasa mencukupi dalam keberkahan.

Itu sesuatu yang memang kita terima karena hasil usaha kita, ternyata perlu juga dikembalikan. Apalagi yang statusnya sebagai ‘hutang’. Menyangkut hak-hak adami. Maka, kembalikanlah dengan baik. Sungguh hati akan jauh melega apabila bisa mengembalikan sesuatu yang kita anggap ‘hutang’. Baik materi maupun non materi.

Banyak hal lain juga yang prosesnya perlu “dikembalikan” lebih dahulu untuk kita terima hal baik lain secara berlipat ganda. (Meskipun seharusnya kita tidak dibarengi dengan harapan akan mendapatkan lebih.)
Semisal, tentang sebuah kebaikan, yang akan kita terima dengan kebaikan yang lain.
Tentang shalawat kepada Rasulullah, 1 shalawat akan kembali 10 derajat kebaikan.
Tentang doa-doa untuk orang lain tanpa diketahui, akan mendapatkan doa yang sama untuk kita sendiri.
Dan tentang-tentang lain, yang prosesnya memang sudah seharusnya begitu. Dikeluarkan atau dikembalikan lebih dahulu untuk kemudian kita terima sesuatu yang lebih bermakna setelahnya.

Sedangkan sesuatu yang kita tahan-tahan, yang kita merasa sayang untuk mengeluarkannya. Tidak ingin dibagi-bagi untuk orang lain. Di simpan saja. Bisa jadi sesuatu itu pada akhirnya akan hilang begitu saja. Bahkan menjadi tidak berharga apabila kita sudah tidak membutuhkannya. Betul tidak?
Maka, kembalikanlah apa-apa yang kamu perlu kembalikan. Agar setelah itu kita menjadi lebih siap menerima kebaikan lain yang akan datang.
@quotezie

Maret 02, 2020

DIAM

Suatu waktu, tiba-tiba dirimu menyadari, ucapanmu semasa hidup masih lebih banyak yang sekadar basa-basi, hanya celoteh tidak bermakna penyambung obrolan. Daripada yang menyiratkan manfaat atau sekadar nasihat. Saat itu juga kamu akan lebih memilih banyak diam.

Suatu waktu, tiba-tiba dirimu menyadari perkataanmu masih lebih banyak yang hanya sekadar status keluhan tidak memberi manfaat apa-apa. Daripada tulisan yang bermanfaat atau menjadi motivasi. Saat itu juga kamu akan lebih bijak lagi memilah-milah kata untuk dibagikan di social media.

@azurazie_

Maret 01, 2020

KHANSASTORY - ZERO

Kullu Mauludin Yuuladu 'alal Fitrah.

Ayah bunda dimanapun kini berada. Beruntung rasanya tiap-tiap anak yang baru lahir. Dalam keadaan fitrah. Tidak menanggung dosa apapun. Betapa murni menjadi sebaik-baiknya hamba. Meskipun di usia tersebut mereka belum mengerti apa itu dosa. Hingga mencapai usia akil baligh.

Mungkin karena itu pula ketika kita memandang wajah anak kecil rasanya adem pikiran. Teduh di pandang mata.

Semoga tiap-tiap anak yang baru lahir itu tumbuh menjadi pribadi yang memiliki pemahan baik. Meskipun terlahir istilahnya mulai dari nol, tapi seiring berjalannya waktu. Dengan bertambahnya usia mereka. Yang bertambah adalah kebaikan-kebaikan.
Ayah bunda, hari ini tema dari @30Haribercerita adalah #30HBC20Istirahat karena memang hari terakhir dalam rangka #30Haribercerita. Tidak terasa ya, Alhamdulillah aku cuma bolong satu karena bingung yang cerita soal budi dan ani. Nggak kenal mereka sih.

Kembali ke tema hari ini, sebenarnya istirahat itu apa sih? Soalnya orang dewasa kelihatannya nggak pernah istirahat deh. Apa aja dikerjain. Apa aja di omongin. Hmm... Kalau makna istirahat bagi ibu adalah ketika aku anteng main bersama ayah @azurazie_

Makna istirahat bagi ayah adalah ketika sekitar hampir dua jam mematikan ponselnya. Bebas dari dering dan pesan whatsapp urusan kantor. Maklum meskipun hari ini cuti tetap saja banyak yang mengganggu ayah. Kalau kata ibu @sekitar_putri ayah mah open a.k.a orang penting. Hehe.. Sedangkan makna istirahat bagi aku ketika pulas dipangkuan ayah atau ibu. Berasa dipeluk ketika bobo. Huuu... nyamaaan.

Terima kasih ya ayah bunda sudah mau membaca tulisan di @khansatazkiyahayyin selama satu bulan. Mohon maaf kalau banyak kata-kata yang kurang berkenan. Semoga sedikit banyak ada manfaatnya. Aamiin.

#30Haribercerita
#Khansatazkiyahhayyinstory

Februari 29, 2020

KHANSYASTORY - YAKIN

Liyunfiq dzu sa'atim min sa'atihi.

Ayah bunda dimanapun kini berada. Betapa Allah memudahkan banyak hal, sesuai dengan kemampuan kita. Sampai perkara memberi pun dianjurkan sesuai dengan kemampuan kita. Tidak memaksakan diri. Sudah begitu Allah pun berjanji akan memberikan kelapangan setelah datangnya kesempitan. Kurang baik apa coba ya ke kita. 

Cuma kita seringnya kebanyakan pertimbangan dalam memberikan sesuatu di jalan Allah. Kayak kurang yakin kalau Allah akan melipatkan kebaikanya. Dengan balasan yang lebih. Kalau untuk memenuhi kemauan sendiri aja begitu royal. Padahal jadinya terputus setelah dinikmati. Habis tidak bersisa. 

PR besar deh untuk meyakini diri bahwa apa yang di keluarkan di jalan Allah tidak akan mengurangi jatah yang Allah tetapkan untuk kebutuhan kita. Yakin deh.

Ayah bunda soal yakin. Aku lagi sering nih bobo nya bentaran-bentaran. Karena takut ditinggal pergi. Padahal ibu @sekitar_putri selalu meyakinkan kalau aku mah tidak akan pernah ditinggal pergi sendirian. Senada dengan pernyataan ayah @azurazie_ yang berbisik ke ibu. Katanya aku tahu banget kalau ada yang mau pergi jadinya aku ikutan-ikutan ingin ikut.

Hmm... habis aku suka sebal kalau tiba-tiba ada yang sudah pulang, tapi aku nggak tahu kapan perginya. Biasanya Amah dan Mang Afik yang begitu. Pergi nggak bilang-bilang, sorenya tahu-tahu pulang.

Tapi kalau ayah sih selalu pamitan kalau mau berangkat ke mana-mana. Katanya biar aku nggak tiba-tiba nyariin.

Makanya aku suka tiba-tiba bangun meskipun lagi bobo, pas ayah bilang mau berangkat kerja. Ya siapa tahu aja kali ini aku diajak. Hihi... Yakin nih nggak ada yang mau ajak aku jalan-jalan?

@30haribercerita
#30HBC2029
#30HariBercerita
#Khansatazkiyahayyinstory

TERIMA SEADANYA

Terimalah seadanya, karena Allah mencukupi kebutuhan.
Karena dirimu sesekali perlu belajar mencukupi keinginan.
Terimalah seadanya, terkadang rasa syukur sesederhana itu.
Dengan mau menerima apaadanya.

Adakalanya dalam mensyukuri sesuatu itu sesederhana menerima dengan seadanya. Tidak selalu menuntut mendapat lebih. Dan hati menuntun untuk berucap terima kasih. Atas pemberian itu. Hingga yang sedikit itu terasa lebih berkah. Mampu mencukupi.

Semoga dengan begitu kita bisa lebih siap lagi ketika di lain waktu dianugerahi dengan sesuatu yang lebih banyak. Sesuatu yang lebih besar. Hati sudah terdidik untuk bersyukur sama besarnya. Lebih menuntun lagi untuk berterima kasih.   
Atas pemberian itu. Berkahnya bertambah. Tidak sekadar mencukupi, tapi bisa juga untuk memberi.
Untuk melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya.


#quotezie_
#azurazie_

Februari 28, 2020

KHANSASTORY - X

Ayah bunda untuk ejaan namaku Khansa pakai 'S' ya bukan 'Z'. Tazkiya pakai 'Z' bukan 'S' dan Hayyin double 'Y'. Nama itu sudah sesuai dengan lafadz arabnya. Biar maknanya sesuai.

#30katabercerita
#30hbc2028
#30HariBercerita
#Khansatazkiyahayyinstory

Februari 27, 2020

KHANSASTORY - WAKTU

Wal 'Asri Innal Insaana Lafii khusrin.

Ayah bunda dimanapun kini berada, tentang waktu semoga kita semua tidak termasuk golongan orang yang merugi, ya. Tapi sebaliknya menjadi yang beruntung karena keberkahan waktu. Dan ciri berkahnya waktu adalah kebaikan yang bertambah.
 
 Tentang waktu sebenarnya aku masih tidak mengerti kenapa waktu itu terasa lama sekali berlalu, apalagi ketika ayah @azurazie_ menjanjikan sesuatu. Saat ayah libur akan mengajakku jalan-jalan. Kalau sudah begitu aku suka rungsing sendiri. Padahal aku sering memandangi jam dinding. Sampai-sampai kata ibu @sekitar_putri , tidak perlu sering-sering lihat jam. Kalau sudah waktunya pergi khansa mah pasti diajak. Ibu mencoba menenangkan.

Sama halnya aku tidak mengerti kenapa ayah suka pulang kerjanya suka tidak menentu. Kadang sore sudah di rumah. Kadang juga malam. Kata ibu kalau ayah baru sampai, biar ayah istirahat dulu. Bersih-bersih dulu. Padahal aku sudah ingin digendongnya.

Sama halnya aku tidak mengerti kenapa ibu seringkali bilang kepadaku kalau waktunya bobo itu harus lebih lama daripada waktu main. Habisnya aku belakangan ini suka susah bobo. Hmm... Meskipun begitu waktu sudah berbaik hati menemani proses pertumbuhanku. Hingga hari ini genap 42 hari dari hari kelahiran. Alhamdulillah, ya.

@30haribercerita
#30HBC2027
#30Haribercerita
#KhansaTazkiyaHayyinStory

Februari 25, 2020

KHANSASTORY - VOICE

Allahumma Soyyiban naafian.

Ayah bunda dimana pun kini berada. Hujan itu membawa berkah ya. Tapi masih ada saja sebagian orang yang suka mengeluh karena merasa terhambat. Padahal suka-suka Allah aja ya, mau menurunkan hujan kapan pun dan dimanapun.

Ayah bunda kemarin lucu deh ketika aku sedang bobo di ayunan, tiba-tiba kebangun gara-gara mendengar ada anak kecil yang ngobrol sambil jalan. "Itu khansa, anak kecil yang suka nangis." Aku kan jadi malu ya. Ditambah diledeki sama mang Apik gara-gara hal itu. Hmm... Perihal suara, kata ayah @azurazie_
 
Pendengaranku memang lebih peka sejak dalam kandungan ibu @sekitar_putri
Tiap-tiap mendengar suara adzan di masjid aku selalu mengulet di dalam perutnya ibu. Lebih kencang dari biasanya.

Saat sudah lahir pun begitu, makanya suka susah untuk bobo, dikit-dikit bangun karena mendengar suara. Entah pintu yang terbuka. Suara motor yang lewat. Dan lain-lain.
Semoga saja kalau aku sudah besar nanti menjadi pendengar yang baik, ya. Yang mau menerima nasihat yang datang.
@30haribercerita
#30Hbc2025
#30HariBercerita
#Khansatazkiyahayyinstory

Februari 24, 2020

KHANSASTORY - UBAH

Hattaa Yughoirumaa Bi 'Anfusihim.

Ayah bunda di manapun kini berada, tiap-tiap keadaan kita akan menjadi lebih baik dengan usaha yang kita upayakan sendiri. Makanya, sebagai muslim mah kita tidak boleh manja. Harus selalu punya azam yang kuat untuk selalu berjuang. Mempersiapkan banyak. Memperbaiki berbagai hal. Sejalan dengan apa-apa yang telah Allah tetapkan. Menjadi pribadi yang tegas dan berintegritas. Tidak berada di zona yang abu-abu. Sebab subhat itu perlu dijauhi. Semoga dengan begitu kita akan selalu merasa nyaman. Karena segalanya akan menjadi aman. Termasuk keadaan iman.

Ayah bunda hari ini tema dari @30haribercerita adalah tentang #30hbcmantra tepatnya kata-kata yang memiliki magic tersendiri ketika kita ucapkan. Apalagi bila situasi kita sedang tidak dalam optimal. Kata-kata itu menjadi pematik untuk menyalakan kembali energi yang hampir pudar.

Menurut ayah bunda apa ya kata-kata mantra yang cocok untuk aku? Kalau kata ayah @azurazie_ berhubung tema caption aku hari ini di mulai dengan huruf U. Ayah menyarankan tentang 'ubah'. Semisal, ubah tangisan aku menjadi senyuman untuk ibu @sekitar_putri

Ubah rewelnya aku menjadi anteng bersama ibu.

Seperti itu... #30Haribercerita
#30HBC20mantra
#Khansatazkiyahayyinstory

Februari 23, 2020

KHANSASTORY - TERIMA

Laqod kholaqnal insaana fii kabad.

Ayah bunda di manapun kini berada, ternyata memang sudah fitrahnya manusia itu terlahir dalam susah payah, ya. Benar-benar tidak ada daya dan upaya selain dari kasih sayang Allah yang menetapkan sesuatu. Tidak ada yang pernah tahu akan terlahir dari rahim siapa, pun yang melapadzkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kirinya. Kasih sayang Allah pula menganugerahi orang-orang yang mencintai keberadaan kita. Sejak lahir hingga nanti sampai menua. Sebab, tanpa mereka barangkali kita tidak pernah jadi apa-apa, ya.

Maka dari itu kita perlu mendidik hati untuk selalu bisa menerima apa-apa yang datang dalam hidup kita. Dengan begitu kita bisa mengambil hikmahnya.

Ayah bunda, di usiaku saat ini aku pun sedang belajar untuk menerima dengan baik. Sebab, egonya seorang bayi yang baru bisa berbahasa tangis kan masih besar sekali, ya. Apa-apa inginnya dituruti, tanpa tahu itu sebenarnya baik atau tidak. Tidak tahu kalau berlebihan akan berdampak apa.

Makanya aku bersyukur memiliki ibu @sekitar_putri
Yang sabar dan telaten dalam memenuhi tiap-tiap kebutuhanku. Meski seringnya harus mengenyampingkan kepentingannya sendiri. Seperti kemarin ibu cerita kepada ayah @azurazie_ nikmat sekali rasanya di saat makan baru beberapa suap tapi tiba-tiba aku menangis karena haus. Tambah nikmat lagi kalau sedang di kamar mandi.

Aku juga sedang belajar menerima kalau di saat ayah berangkat kerja tidak diajak. Saat Amah berangkat ngaji juga tidak diajak. Saat Apha dan Mang Apik ke masjid juga tidak diajak.

Aku suka sebal kalau di rumah tiba-tiba sepi hanya ada ibu. Aku kan juga ingin main. Tapi kata ibu aku masih terlalu kecil, dan anak perempuan mah lebih banyak di rumah. Tidak seperti Dd Zahid yang suka diajak sama ayah ke masjid.

Hmmm... @30Haribercerita
#30HBC2023
#30Haribercerita
#KhansaTazkiyaHayyinstory

Februari 22, 2020

KHANSASTORY - SUGESTI

'UBUDILLAHA KAANNAKA TARAAHA.

Ayah bunda di manapun kini berada, secara sadar sebenarnya kita tahu Allah itu Maha Melihat tiap-tiap perilaku makhluk-makhluknya. Cuma seringnya kita bersikap biasa saja ya. Suka tidak kelihatan malu kalau sedang berbuat dosa. Lebih malu kalau orang lain yang memergoki kita. Hmm... belum bisa rasanya kita memposisikan diri dalam beribadah seakan-akan bisa melihat Allah. Hingga khusyu ibadah itu. Hingga benar-benar tertanam rasa takut itu. Tidak sekadar tahu bahwa diawasi, tapi kita sendiri menunjukkan diri bahwa kita layak untuk diperhatikan. Masya Allah kalau sudah bisa begitu rasanya bahagia sekali ya.

Ayah bunda, aku kan suka tiba-tiba cegukan ya, apalagi kalau udara sedang dingin. Lucunya kalau aku sedang cegukan, Amah buru-buru tuh menempelkan potongan tisue kecil di atas jidat aku. Jadi kaya main india-indiaan. Kata Amah sih itu sugesti biar cegukannya hilang. Harusnya sih menggunakan tikar pandan.

Pernah suatu hari aku cegukan kencang benar. Eh ayah @azurazie_ buru-buru tuh mencari tisue mau mengikuti cara Amah. Masa Mang Afik malah nyeletuk gini : "Bukannya pakai ujung karpet ya, A." Kata Mang Afik kepada ayah.

Mendengar itu ibu @sekitar_putri
Tertawa, masa putri manisnya dijidat ditempeli ujung karpet. Mamang ada-ada aja.

@30Haribercerita
#30Hbc2022
#30Haribercerita
#KhansaTazkiyaHayyinstory

Februari 21, 2020

KHANSASTORY - ROAD

La Yukallifullahu Nafsan Illa Wus'ahaaa.

Ayah bunda di manapun kini berada, betapa Allah itu Maha Baik ya, tidak membebani sesuatu melebihi ketangguhan pundaknya. Bila pun terasa berat, lelah, tidak kunjung usai, semua itu memupuk kesabaran. Dan Allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar. Dengan memahami itu kita jadi tidak mudah untuk mengeluh apalagi sampai memaki keadaan.

Ayah bunda hari ini @30haribercerita ngasih tema #30hbctips apa ya, Tips dari aku mah jangan lupa jalan-jalan aja deh. Karena aku paling suka kalau diajak jalan-jalan. Entah itu cuma kunjungan ke ibu bidan. Atau sekadar main ke rumah tetangga.

Saking senangnya kalau kata ibu @sekitar_putri mah kalau udah di janjiin besok mau jalan. Malamnya jadi susah bobo. Habisnya aku ingin cepat-cepat pagi rasanya. Kata ibu jangan sering-sering main ke tetangga dulu katanya nanti jadi kebiasaan kalau lagi bosan di rumah ngajaknya jalan terus. Kata ibu aku jalan-jalannya kalau ayah @azurazie_ libur aja.

Hari ini aku pertama kalinya diajak kerumah uyut mbah. (Kakek dan neneknya ayah). Senang deh rasanya. 

Jadi tips sederhana dari aku : kalau sedang merasa bosan di rumah, ajak jalan-jalan aja.

@30haribercerita
#30hbc2021
#30Haribercerita
#KhansaTazkiyaHayyinstory

Februari 20, 2020

KHANSASTORY - QOLQOLAH

Misqoola dzarrotin khoiron yaroh.

Ayah bunda di manapun kini berada, tiap-tiap perbuatan kita sudah tentu ada timbal balik setelahnya. Hukum sebab-akibat selalu berlaku. Perbuatan kita akan memantul kembali kepada diri kita sendiri. Seperti sifat dasarnya qolqolah. Maka penting untuk mengupayakan sebab-sebab yang baik untuk mengundang akibat-akibat yang lebih baik. Semakin keras perbuatan baik itu, akan memantulkan balasan yang berkali lipat lebih baik. Pun sebaliknya, bila berbuat yang tidak baik kepada sesama. Suatu saat akan menerima perlakuan yang tidak enak di keseharian kita.

Ayah bunda tentang perbuatan yang kembali memantul pada diri kita sendiri. Fase aku yang sekarang benar-benar seperti sebuah spons. Menyerap apapun itu yang datang padaku. Baik melalui pendengaran maupun penglihatan. 

Makanya waktu itu ibu @sekitar_putri sampai berkata perlu memilih diksi yang lebih baik. Ayah juga suka gregetan kalau ada anak-anak tetangga yang lewat, ngobrolnya dengan bahasa yang kurang sopan.

Dan ayah @azurazie_ pun selalu mengajak aku mengobrol sembari sedikit demi sedikit memberi pemahaman yang baik.

Seperti kemarin malam, kata ayah, aku kalau sedang kesal tidak boleh sambil menepak bagian tubuh ibu. Apalagi akunya kalau sudah datang haus sangat butuh bagian tubuh itu. Kata ayah sesekali kesal boleh untuk mengekspresikan apa yang sedang dirasa. Lebih baik menagis yang keras saja. Tapi, tidak boleh galak sama ibu. Karena sembilan bulan lebih aku pernah berada di rahim yang mulianya. "Tuh lihat, Bu. Khansa nya pintar kalau sedang dikasih pengertian suka langsung nerapin." Mendengar itu aku jadi malu dan menutupi wajah dengan sarung tangan yang sedang aku pakai.

@30Haribercerita
#30HBC202020
#30Haribercerita
#Khansatazkiyahayyinstory

Februari 19, 2020

KHANSASTORY - PRIORITAS

ILLA LIYA'BUDUUN.⁣

Ayah bunda di manapun kini berada, prioritas kita sebagai seorang muslim adalah ibadah semata. Maka, beruntung sekali bila keseharian kita didasari dengan niat ibadah. Segala sesuatunya di awali dengan doa. Dengan bismillah. Dari bangun pagi hingga tertidur lagi. Maka, waktu itu semakin terasa berkah, tidak ada yang terbuang sia-sia. Beruntung sekali ya rasanya kalau sudah bisa seperti itu, meski kebanyakan kita lebih sering lupa untuk sekadar mengawalinya dengan doa.⁣

_______ ⁣
"Aku udah boleh minum kopi belum, ya?" Tanya ibu @sekitar_putri ketika aku sedang menyusu.⁣

"Belum dong, nanti ya kalau Khansa sudah besar." Kata ayah @azurazie_ yang sejak tadi berusaha mencari ide untuk bahan tulisan.⁣

"Bilangnya jangan kalau sudah besar dong, Yah. Rasanya lama banget. Kalau sudah lepas ASI aja." Gerutu ibu.⁣

"Iya, kalau ayah sih lagi kepingin makan sate padang yang di bojong." Ayah mulai gelisah sendiri, biasanya suka sebal kalau lagi mau nulis tapi ibu mengajak bicara terus.⁣

"Iya, ya udah lama ya kita nggak jalan-jalan kulineran."⁣

"Iya nanti, ya." Ayah memutuskan untuk close IG nya. Di hapus lagi kata-kata yang baru sebaris. Batal menulisnya. Aku mengulet kencang. Ingin ikut jalan-jalan juga. Bosan boboan terus.⁣

"Nantinya kapan?" Ibu menuntut penjelasan.⁣

"Sebentar lagi bu, kalau Khansa udah siap diajak jalan jauh-jauh."⁣

"Iya ya. Ke jogja juga belum jadi-jadi, ya."⁣

"Iya, nanti kalau Khansa sudah besar." Ayah mengulang kalimatnya.⁣

"Hmm... ayah nggak jadi nulisnya?"⁣

"Nanti aja deh, belum dapet ide." ⁣

@30Haribercerita
#30HBC2019
#30Haribercerita
#KhansaTazkiyaHayyinstory

Februari 17, 2020

KHANSASTORY - NALURI

LA ILAHA ILLALLAH – لا إله إلا الله⁣

Ayah Bunda dimanapun kini berada, fitrah seorang hamba adalah mengesakan penciptanya. Meyakini sepenuh hati Allah tiada sekutu bagi-Nya. Dan sebagai hamba-Nya hanya bersandar kepada Allah. Selalu ingin kembali kepada-Nya. Naluri.⁣

Sehingga dengan begitu tiap-tiap mendengar panggilan adzan, akan bersegera untuk menyambut panggilan-Nya. Dan kemenangan dalam hidupnya, ada pada shalatnya.⁣

Ayah bunda, tadi setibanya ayah @azurazie_ dari kantor, ibu @sekitar_putri langsung menceritakan tentang aku. Yang hari ini jadi anak yang pintar. Anteng seharian.⁣

"Khansa kayak ngertiin banget pas aku bilang yang anteng ya, ibu nyambi nyetrika." Kata ibu dengan serunya.⁣

"Namanya juga anak ayah." Seperti biasa ayah mah suka 'mengakui sepihak' tentang aku.⁣

"Iya sembilan bulannya ada di perut ibu." Ibu pura-pura menggerutu.⁣

"Mungkin sudah nalurinya seorang anak kali ya bu, waktu kamu kurang enak badan, sampai harus ke RS aja dia mah anteng, nggak nuntut nyusu terus."⁣

"Iya alhamdulillah banget." Ibu memandangku dengan hangat. "Kalau soal bisa ngertiin kamu, ayah ngalah deh. Tapi kalau soal mirip-miripan, lebih banyakan aku."⁣

"Huuuh... dasar."⁣

Aku yang mendengar percakapan mereka, hanya bisa senyum-senyum. Ini bukan tentang naluri saja. Tapi ini segalanya tentang cinta.⁣

"Itu lihat bu, Khansanya senyum-senyum sendiri."⁣

@30haribercerita
#30HBC2017
#30Haribercerita
#KhansaTazkiyaHayyinstory