April 12, 2021

HATI YANG BERGEMBIRA

(1)

Hi, sobat.
Apa kareba? Semoga Allah senantiasa memberkahi usia yang dipakai untuk beribadah kepada-Nya. 

Dan di malam pertama ini, perlu berucap : Selamat menyambut Ramadhan dengan hati yang paling gembira.

Sebab, kalau hati sudah gembira. Segalanya jadi lebih nyaman untuk dijalani. Pun, lebih enak untuk dinikmati. Pun, lebih lapang untuk disyukuri. Segalanya jadi lebih terasa mudah. Segalanya jadi lebih indah. Betul tidak?

Diberi hati yang gembira karena datangnya Ramadhan adalah anugerah Allah yang tiada tara.

Sebab, berapa banyak orang-orang yang ketika Ramadhan datang, alih-alih bergembira, justru ia berkecil hati. Dari mulai merasa serba dibatasi, hingga takut berkurangnya rezeki.

Maka, 
Mari sekali lagi bersyukur dengan anugerah Ramadhan tahun ini. Dengan hati yang paling bergembira.

Allah Yuftah 'Alaikum..

@azurazie_

Maret 21, 2021

NOMINAL TERLAMBAT

 Seandainya terlambat berperan untuk kemudahan orang lain itu terpampang nominalnya di depan mata. Kira-kira seberapa banyak kita harus ganti rugi, demi mengembalikan berharganya waktu mereka?

@azurazie_

Maret 20, 2021

HUTANG MAAF

Setiap kita punya hutang maaf kepada orang-orang yang berada di sekitar kita. Yang hampir tiap hari berinteraksi ataupun jarang sekalipun. Hutang maaf untuk waktu-waktu berharga mereka yang baik sengaja ataupun tidak, pernah kita pakai sesuka hati. Atas sebab kepentingan-kepentingan kita. Boleh jadi waktu istirahat mereka yang terpakai. Atau waktu bersama keluarga mereka yang terganggu. Atau waktu ibadah mereka yang menjadi terlambat. Semua itu karena kita yang meminta mereka untuk membantu memudahkan kebutuhan-kebutuhan kita.

Setiap kita punya hutang maaf kepada orang-orang yang berada di sekitar kita. Meski bukan untuk waktu. Mungkin bisa jadi faktor lain. Materi. Kesehatan. Kenyamanan. Ketenangan Yang sebab adanya kita. Sedikit banyak mempengaruhi keseharian mereka. Membuat mereka jadi lebih lelah. Membuat mereka merasa kesal dan gundah.

Setiap kita punya hutang maaf kepada orang-orang yang berada di sekitar kita.

Setidaknya bila kita terlanjur acuh untuk sekadar berterima kasih. Terkesan lupa atau bahkan merasa tidak perlu untuk melakukan itu. Sebab ego kita. Atau terlanjur yakin tanpa ucapan terima kasih atau apresiasi dalam bentuk lain. Orang-orang yang berada di sekitar kita akan tulus membantu.

Setidaknya jangan sampai kita berhutang maaf. Dan tidak tahu diri bahwa sejauh ini mereka juga yang berjasa untuk memudahkan segala urusan-urusan kita. Atas peran yang mereka lakukan di sela-sela waktu berharga mereka.

Dan doakan, agar mereka selalu diberi keberkahan waktu, kelapangan hati, kenyamanan diri, serta kemudahan-kemudahan lain. Untuk mereka sendiri. Karena mereka jauh lebih layak untuk menerimanya.

Semoga mereka selalu diberi kelapangan hati untuk selalu memaafkan meski tanpa diminta. Untuk kita yang terlalu bebal menyadari kesalahan, untuk kita yang terlalu gengsi meminta maaf duluan.


@azurazie_

Maret 17, 2021

BERBAU

Seandainya keluhan itu berbau, boleh jadi orang-orang akan menutup hidungnya di saat bertemu kita.

@azurazie_

Februari 25, 2021

GANJARAN TIAP USAHA

Tiap pagi, tiap-tiap makhluk bergerak, menyambut peruntungannya untuk bertahan hidup. Apa saja di kerjakan. Yang penting sedikit atau banyak dapat menghasilkan. Tetap bergerak tidak bermalas-malasan.

Seperti bapak satu itu, yang sedang beristirahat sebentar. Setelah berjalan berkilo-kilo jauhnya. Memikul keranjang berisi tanaman dalam polybag berbagai ukuran. Bermodalkan yakin, sejak sehabis subuh memulai usahanya.

Lagi-lagi bila dilihat dari kacamata manusia, sudah tentu akan banyak orang yang meremehkan usahanya. Atau bahkan merasa iba. 

Memang sih beberapa bulan ini hobi bercocok tanam sedang banyak digandrungi. Tapi rasanya itu berlaku untuk jenis tanaman hias. Sedangkan yang dijajakan oleh si bapak ini adalah bibit tanaman buah. Seperti durian, rambutan, jambu air, kecapi dan lain-lain.

Yang orang lain akan mikir berkali-kali untuk membelinya. Untuk apa? Toh tanaman buah itu tidak bisa segera 'dinikmati'. Lantaran tumbuh besar hingga waktunya berbuah butuh waktu yang panjang. Atau bahkan malah diwariskan ke anak cucunya nanti. 

Bukankah sudah lumrah, pohon buah di pekarangan rumahmu, boleh jadi ditanamnya sejak orang tuamu masih kecil dulu. Dan baru mulai berbuah di saat dirimu sudah besar.

Begitulah bila dilihat dari kacamata manusia. Akan timbul sifat pesimis. Padahal bukan kita yang jalani. Tapi, keyakinan bapak si penjajak bibit tanaman buah ini berbeda. Ia sepenuh yakin Allah akan tetap menilai tiap-tiap usahanya. Bahwa rezeki itu harus dijemput. Dan menawarkan bibit tanaman buah ini adalah salah satu bentuk ikhtiarnya. Siapa yang tahu setelah berkilo-kilo meter berjalan, ada orang baik yang melirik dagangannya. Bukan semata karena iba dan niat menolong. Tapi, orang itu memang sedang butuh. Memang sedang mencari.

Siapa yang tahu.
Allah Yang Tahu.

Februari 24, 2021

TAKARAN YANG SEBENARNYA

Tiap pagi, tiap-tiap makhluk bergerak, menyambut peruntungannya untuk bertahan hidup. Apa saja di kerjakan. Yang penting sedikit atau banyak dapat menghasilkan. Tetap bergerak tidak bermalas-malasan.

Namun, kadar peruntungan itu pada tiap-tiap makhluk boleh jadi berbeda. Selain karena hasil dari usahanya sendiri. Adapula faktor 'takaran' takdir yang telah ditetapkan-Nya.

Makanya, kalau dilihat dari kacamata manusia, kita menilainya timpang sebelah. Alias tidak seimbang.

Ada yang bekerja membanting tulang hingga bermandikan keringat. Tapi upah yang dihasilkan tidak ada setengahnya dari yang bekerja hanya mengandalkan ponsel dalam genggamannya. 

Ada yang bertahun-tahun harus menunggu, dan ketika dapat ternyata hanya secuil saja. Dibanding peruntungan orang lain yang baru sebentar tetapi langsung penuh, melimpah ruah.

Tidak adil.
Bila dilihat dari kacamata manusia.

Takaran yang didapat tidak sebanding dengan porsi kebutuhan dari masing-masing kepala.

Tapi siapa yang tahu, ketika yang dilihat adalah kadar rasa syukur dan kesabarannya.

Ada yang mudah sekali bersyukur dengan hal-hal kecil. Meski peruntungannya tidaklah lebih besar dari orang lain. Ada pula yang belum juga merasa puas meski sesuatu dalam genggamannya pun sudah meluber ke mana-mana. Tidak lagi bisa ia kendalikan dengan benar.

Dan rasanya nilai peruntungan yang terbaik bukan dari seberapa banyak yang telah diperoleh. Akan tetapi seberapa besar kadar rasa syukur itu, yang menjadi takaran yang sebenarnya.

@azurazie_

Februari 20, 2021

DIA MAH BEGITU ORANGNYA

Dia mah begitu orangnya.

Sudah tahu toilet umum, tapi suka sekali 'nabun' dan bikin ngebul sesukanya.

Egois ya? Memang begitu orangnya. 
Kayaknya emang udah bawaan, suka nggak bisa nahan dan kalau nggak 'nabun' jadi berasa kurang. Padahal mah ya, kan bisa ditunda dulu di tempat lain.  Kalau pengen buru-buru jadi bangke, jangan ngajak-ngajak orang lain. Kan tempe.

Emang begitu orangnya. Santai aja dia mah berlalu tanpa dosa. Padahal meninggalkan 'ranjau' yang bisa buat orang bahaya. 

Padahal mah ya, muslim yang baik itu harus bisa menempatkan diri dengan bijak. Biar orang lain tidak terganggu dari lisan ataupun perbuatan tangannya. Kan begitu kata junjungan kita juga.

Kan ngeri, siapa tahu nanti di yaumil hisab ada yang tiba-tiba 'ucluk-uncuk' datang. Mengadu sama Allah. Bahwa si fulan ini pada tanggal sekian, jam sekian, di tempat ini, telah merasa di dzolimi oleh dia. Dikarenakan 'nabun' sembarangan. Karena ulahnya, membuat si fulan sesak atau bahkan keracunan.

Widiiih... horor tuh.
Bisa-bisa dia pindah 'nabun'nya di pinggiran neraka.

Kan ada orang lain yang nggak ridho atas perbuatannya.

Ngeri-ngeri sedap.

Note : tulisan ini bermaksud menyinggung siapapun yang masih bisa mikir. Sekian.


#azurazie_


Februari 19, 2021

UDAH AH. MALU.

Jadi manusia itu seringnya serba salah.

Mau ngeluh lelah, eh rasa-rasa tak enak hati, ketika ingat orang lain malahan bisa lebih lelah lagi dari kita. Jungkir balik kesana kemari. Dibanding kita yang belum ada apa-apanya.

Mau ngeluh jenuh, eh lagi-lagi rasanya tak pantas ya, ketika ingat orang lain banyak berharap bisa berada di posisi kita yang sekarang. Apa yang kita jenuhkan, buat orang lain itu harapan yang belum juga kesampaian.

Mau ngeluh sedikit, lah makin tak tahu diri aja kita. Ketika ingat orang lain malahan serabutan. Banyakan cuma mengepal tangan kosong. Cuma bisa gigit jari, sedangkan kebutuhannya satu pun belum bisa di isi. Kita masih jauh lebih mending. Biar kadang suka rada pusing sedikit. Tapi kita masih punya leluasa jajan untuk sekadar beli camilan.

Benar kan jadi manusia itu seringnya serba salah. Ibaratnya mah baru juga mau mulai ngeluh, eh udah di suruh ngaca. Sadar diri, belum pantas-pantas amat buat ngeluh dibandingkan dengan orang lain yang nasibnya masih jauh di bawah kita.

Kalau begini mendingan tambah bersyukur aja ye, setidaknye berpahala. Sukur-sukur gara-gara rasa syukur kita, berkahnya jadi kerasa lebih beda dari biasanya. Kayak ada manis-manisnya gitu, kan syukurnya sembari senyum-senyum sendiri, mengingat sudah sejauh ini Allah masih mau memberikan nikmat-nikmat-Nya kepada kita. Senyum-senyum sendiri karena rada malu. Bisa-bisanya kita kepikiran buat ngeluh barang bentaran doangan juga.

Udah ah. Malu.

@azurazie_

Februari 18, 2021

KEHENDAK TERBAIK

Bagian mana yang tidak kamu pahami, bila ada yang lebih berhak berkehendak, dibanding kehendakmu?

Adalah Allah Yang Maha Berkehendak.
Tak perlu selaras dengan keinginanmu. 
Tapi yakinlah hasilnya akan lebih lurus memudahkan segala urusanmu.

Tak perlu sejalur dengan apa yang kamu harapkan. Tapi yakinlah tujuannya tetap sejalan untuk memenuhi tiap-tiap kebutuhan.

Pengetahuan kita saja yang seringnya terbatas.
Prasangka kita saja yang seringnya lebih dulu pesimis.

Maka, yang lebih tumbuh subur adalah keluhan. Bukannya bertambah sabar untuk memperbaiki kelemahan.

@azurazie_

Februari 17, 2021

SENI MENJADI ORANGTUA

Seni menjadi orang tua

Satu tahun satu bulan setelah ditakdirkan menjadi orang tua. Banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang kami dapatkan.

Memang masih seumuran jagung. Belum sebanding dengan tiga puluh tahun atau lebih dari masa orang tua kami menjaga anak-anaknya. - -Alhamdulillah masih lengkap sampai hari ini. 

Meski masih dibilang babak awal menjadi orang tua. Tapi mampu membuat kami merenungi banyak hal. Apalagi ketika anak sedang senang-senangnya "mengoprek" mengikuti keingintahuannya yang besar. Sepanjang hari. Sampai melebihi batas waktunya yang seharusnya ia sudah tidur.

Merenung, hmm... apakah saat kecil dulu kami pun begitu? Suka susah diarahkan. Suka semau kehendak sendiri. Yang berakhir bikin gemas orang tua karena harus tetap sabar dalam menjalani prosesnya. Itu dari sudut pandang seorang anak.

Atau kami belum sebanding itu, masih kurangnya rasa sabar di hati. Masih seringnya kelepasan mengeluh di depan anak. Masih suka kesal kalau arahan tidak diikuti. Tidak sesabar orang tua kami dulu ketika menghadapi kami sebagai anak-anak. Itu dari sudut pandang sebagai orang tua.

Atau ketidakenakan hati (yang sesaat) atas tingkah laku anak yang sebenarnya pada akhirnya selalu dimaklumi. Adalah semacam 'balasan' dari tingkah laku kita dahulu ketika masih menjadi anak-anak.
Toh setelah tiga puluh tahun lebih ini pun kami masih menyandang sebagai anak. Yang suka tiba-tiba kekanak-kanakan. Ketika sedang tidak sepaham dengan orang tua.

Maka, sungguh kami berharap Allah selalu meluaskan hati ini untuk mempunyai kesabaran yang lapang. 
Hingga meski tidak akan sebanding dengan yang pernah dialami orang tua kami dulu. Setidaknya kami bisa ikut tumbuh menjadi orang tua yang lebih baik. Bersamaan dengan tumbuh kembangnya anak kami. 

Semoga.


#azurazie_

Februari 16, 2021

BETAH DALAM BERTAHAN

Sederhana.

Mendapati satu tanaman yang dua hari lalu baru saja di #repotting dan hari ini atas kuasa Allah bertambah satu daun baru (sebelumnya baru dua daun) itu adalah sesuatu yang luar biasa bikin hati ini happy.

Tandanya, tanaman itu 'betah' dalam rumahnya yang baru. Merasa nyaman dan bisa beradaftasi dengan baik di lingkungannya yang baru.

Sederhana.

Nyatanya untuk bisa #survive dengan baik, kita perlu yang namanya tetap bergerak untuk tumbuh. Bergerak untuk bertambah. Atau bahkan sesekali perlu untuk berganti.

Seperti tanaman dalam pot kecil ini. Akarnya terus berusaha bergerak untuk tumbuh. Bergerak untuk menambah jumlah daun. Dari satu daun, dua daun, tiga daun, hingga tiba-tiba merimbun. Meski sesekali daun-daun itu juga perlu mengganti daun-daun yang sudah tua. Hukum alam. Segala sesuatu memiliki masanya masing-masing.

Sederhana.

Dalam bertahan kita perlu merasa 'betah' untuk berjuang. Agar selalu tumbuh semangat dan harapan itu. Entah itu bertahan untuk hal apa. Yang pasti untuk sesuatu yang kita anggap berharga untuk diperjuangkan.

Sederhana.

#azurazie_

Februari 15, 2021

TENTANG MERASA CUKUP

Seringnya kita menghitung-hitung seberapa banyak yang kita peroleh setelah sungguh-sunguh berusaha.
Dan merasa berkecil hati bila ternyata hasilnya lebih sedikit dari yang dibayangkan sebelumnya.

Padahal boleh jadi yang demikian itulah asal muasal kita jadi tak mudah untuk bersyukur. Masih menggunakan matematika kita sendiri dengan mempertimbangkan untung rugi. Masih mempersoalkan sedikit banyak. Alih-alih malahan cenderung menyalahkan diri sendiri kenapa hanya mendapatkan segitu. Padahal diri sendiri pula yang sudah bersusah payah berusaha sekuat tenaga. Padahal Kalau bukan diri kita sendiri siapa yang mau mengapresiasi?

Lupa akan matematika Allah dalam perhitungan berkah-Nya, yang kita peroleh atas dasar ikhlas menerima apa adanya. Menerima dengan lapang dada dengan menghargai tetes keringat sendiri.

Maka, setelah berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Jangan lupa bersyukur seberapa pun hasilnya. 
Tak perlu berkecil hati atas jumlah yang diperolehnya. Dan berharap selalu yang segitu adanya bisa menumbuhkan rasa cukup. Syukur-syukur bisa merasa lebih dari cukup. 

Karena sejatinya kita sendiri yang sejauh ini telah mengupayakannya.

#azurazie_

Februari 14, 2021

QOLBUN SALIM

Qolbun Salim


Alangkah beruntungnya orang yang memiliki hati yang sehat. Hati yang selamat dari penyakit-penyakit hati.

Tidak ada iri-dengki.
Tidak ada dendam.
Tidak mudah sebal akan sesuatu yang memang tidak mengenakan hati.
Lapang saja.
Selalu bisa menerima keadaan apa adanya.

Hati yang selalu terasa damai untuk dirinya sendiri. 
Pun untuk kerabat-keluarga.
Pun untuk teman sejawat-sahabat.
Pun untuk tetangga.
Baik yang dikenal secara personal.
Dikenal hanya sekadar selintasan lewat.
Dikenal dalam jaringan pertemanan dan lingkungan.
Maupun orang-orang yang tidak dikenal yang sempat bersinggungan.
Orang-orang yang berpapasan di jalan.

Hatinya selalu lurus, tidak menyimpan rasa kesal, tidak ada iri hati, apalagi dendam kesumat.

Alangkah beruntungnya orang yang memiliki hati yang sehat. Hati yang selamat dari hal-hal yang memberatkan nanti.

Baginya, hanyalah Allah... allah... Allah...
Yang diharapkan hanyalah ridho... ridho... ridho...

Maka, tidak ada waktu untuk bersitegang dengan makhluk lain. Selalu mudah memaafkan sekalipun karena ketidaksengajaan. 

Alangkah beruntungnya orang yang memiliki hati yang sehat.
@azurazie_

Januari 25, 2021

ADIL

Bila kita tidak bisa memberi sesuatu di luar kemampuan. Kita pun seharusnya sadar tidak meminta sesuatu di luar takaran.

Bila kita tidak mau menerima sesuatu di bawah kualitas. Kita pun seharusnya sadar tidak memberi sesuatu yang di rasa tak pantas.

Berlakulah adil. Karena bukan hanya kita yang selalu inginnya dapat yang terbaik. Orang lain pun berharap sama, tak mau jika harus dapat yang terbalik.

Berlakulah jujur. Karena bukan hanya kita yang selalu inginnya dapat dipercaya. Orang lain pun berharap sama, tak mau jika harus terpedaya. 

@azurazie_
#30haribercerita
#30hbc2125

Januari 24, 2021

MENCARI BERKAH

Sebenarnya yang kita cari adalah keberkahan. Terutama keberkahan waktu. Yang karenanya, segala urusan menjadi terasa mudah. Yang karenanya, setiap pekerjaan dirasa cukup untuk waktu menyelesaikannya. Segalanya terasa berkah dan membawa ketenangan.


Akan tetapi nyatanya, yang lebih sering kita turuti adalah keinginan. Terutama yang membuat hati senang. Yang karenanya, ringan sekali menelantarkan kewajiban. Yang karenanya prioritas utama malah disepelekan. Segalanya jadi terasa keteteran. Lelah karena tak kunjung selesai satu pun yang dikerjakan.

Biasanya yang jadi korban adalah Shalat. Di entar-entar kan dan tak terasa sudah di akhir waktu.

Boleh jadi karena itu pula, keseharian kita jauh sekali dari keberkahan waktu.

Wallahu 'alam.

@azurazie_

Januari 23, 2021

HAK DIRI

Ada hak diri yang selalu ingin merdeka di setiap suasana. Maka, tersenyumlah!

Ada hak diri yang selalu ingin bahagia di setiap saat. Maka, tersenyumlah!


Ada hak diri yang selalu ingin merasa bangga atas tiap-tiap usaha. Maka, bersemangatlah!

Jangan berkecil hati atas penilaian orang lain.
Dirimu layak berbangga di atas bahagia yang dirasa.

Sebab usaha sendiri.
Sebab keinginan sendiri.
Sebab kebutuhan sendiri.
Sebab Allah yang Mengadili.

@azurazie_

Januari 22, 2021

KETETER

Pernah tidak, kamu tiba-tiba merasa keteteran dalam mengerjakan sesuatu? Bukan karena faktor bertambah kuantitasnya. Tapi lebih ke kualitas performamu sendiri yang rasa-rasanya turun drastis.


Futur. Semangat mengendur. Yang berefek ke mana-mana. Sampai menggangu rutinitas harian. Sampai ada teguran dari atasan. Sampai timbul sebal, kenapa rasa-rasanya sesuatu itu tak juga mau selesai. Padahal biasanya lancar-lancar saja. Padahal biasanya tak sekrusial itu.

Pernah?

Hmm... kira-kira apa penyebabnya ya?
Mungkin kamu sedang lelah?
Mungkin sedang tidak fit belakangan ini?
Jenuh?

Atau...

Jangan-jangan sebab dosa-dosa yang tak terasa menumpuk.

Shalatmu tak lagi ontime? Lagi sering ketinggalan berjamaah?
Subuhmu lagi kesiangan terus?
Kelupaan tilawah Al-Qur'an meski cuma selembar kaca?

Hmm...

Coba renungkan dalam-dalam.

Semoga dengan begitu, kamu jadi giat kembali. Tak keteteran lagi. Segala sesuatunya terasa mudah saja. Bisa diatasi dengan lebih segera.

Itu yang dinamakan keberkahan waktu.

@azurazie_

Januari 21, 2021

MELALUI BADAI

Kepada Allah yang Maha Memelihara.

Kumohonkan pemeliharaan-Mu yang terbaik.
Kepada Allah yang Maha Mewarisi.
Anugerahkan nikmat-nikmat yang atasnya kami akan malu, bila seandainya tak disyukuri.

Melalui badai, akan lahir hati-hati yang tangguh, setelah berbasah-basah mengadu kepada-Mu dan mengaduh.

Melalui badai, akan tertempa pundak-pundak yang kokoh, setelah memupuk hati untuk bersabar dan mempertahankan sisi yang selalu bersyukur.

Melalui badai, diri semakin sadar akan kelemahan. Tak ada daya-upaya tanpa pertolongan. Dan jiwa bertambah kuat, sebab kepada-Mu terasa menjadi lebih dekat.

Melalui badai, kumohonkan pengampunan atas dosa-dosa yang lalu dan akan datang.

Melalui badai, kumohonkan kabulkan doa-doa pengharapan. Sebab, sungguh hanya kepada-Mu diri ini tidak akan berpaling.

@azurazie_

Januari 20, 2021

TAKDIR

 Takdir yang menurutmu baik, membuatmu bersyukur. Karena Allah yang mentakdirkan demikian.


Takdir yang bagimu kurang baik, membuatmu bersabar. Allah jua yang menggantikan. Yang lebih baik jauh ke depan.

@azurazie_

Januari 19, 2021

BERUNTUNG DALAM KEMALANGAN

 Suatu ketika, di panas yang terik, ban sepeda motormu kempes. Alhasil dirimu harus mendorongnya cukup jauh, sampai menemukan bengkel penambal ban. Dengan peluh keringat, haus karena panas yang menyengat, hatimu mengkal sekali. Padahal sedang terburu-buru menuju suatu tempat.


Sesampainya di bengkel, ada seorang anak kecil kira-kira usianya baru empat tahun sedang menangis tersedu-sedu. Entah sebab apa. Sedikit membuat bising di telinga.

"Sebentar atuh dek, bapak bantu abang ini dulu. Kasian jauh-jauh habis dorong motor." Ujar si pemilik bengkel. "Duduk di sini dulu aja, bang." Lanjutnya menyodorkan bangku plastik.

"Terima kasih, pak." Jawab dirimu tak banyak basa-basi.

Anak kecil itu masih terus saja menangis hingga prosesi menambal ban selesai.

"Nih, jajan deh." Kata si pemilik bengkel menyodorkan uang satu lembar pecahan sepuluh ribu kepada anaknya. Uang dari dirimu sebagai jasa menambal ban.

Lintang pukang, anak kecil itu langsung berlari. Drama menagisnya berhenti seketika. Dirimu menyeringai. Ada-ada saja anak-anak tuh. Batinmu berkata.

"Dari tadi itu minta duit buat jajan." Kata Si bapak tanpa dirimu bertanya.

Dan dirimu seketika terenyuh. Baru tahu kalau ternyata di balik kemalangan yang sedang dirimu alami. Membawa peruntungan bagi si bapak pemilik bengkel. Yang sejak tadi bingung membujuk anaknya untuk berhenti menangis. Karena belum ada pemasukan untuk hari ini atas usahanya membuka jasa tambal ban di pinggir jalan. Padahal sederhana, anaknya cuma minta uang jajan.

@azurazie_

Januari 04, 2021

30HBC2104 - SEMPURNA LELAH

Ketika selalu menuntut untuk sempurna, yakin deh diri sendiri juga yang akan kelelahan lebih dulu. Memikirkan keinginan yang selalu maunya bertambah. Belum lagi kekhawatiran yang tidak inginnya kehilangan apa-apa.

Membiarkan sesuatu terus apa adanya pun, tak lekas menjadikan hal itu baik. Bisa saja jadi serba ketinggalan. Lebih-lebih jatuhnya malahan tiba-tiba kekurangan. Faktor kebutuhan yang bertambah. 

Lalu harus bagaimana, ya?

Berjalan apa adanya, dengan tetap memperhatikan sekitar. Sepenuh usaha untuk menjaganya tetap stabil. Dan sedikit demi sedikit menjadikannya lebih baik. Tidak selalu menuntut untuk mendapat yang sempurna. Tapi diri siap menuntun untuk memenuhi apa-apa yang dibutuhkan. Bergerak. Terus bergerak, tapi tidak tergesa-gesa. Perlahan. Terus perlahan. Tapi tidak membiarkan peran sendiri terlambat.

Ingat juga, setiap kita tak hidup sendirian saja. Ada kanan, kiri, depan belakang yang menunggu peran kita. Baik diminta maupun tidak. Peran dengan porsi kita masing-masing yang mambuat roda hidup menjadi stabil. Tidak ada yang menghambat. Tidak ada yang jadi terlambat. Yang ada menjadi saling bermanfaat.

Ketika selalu menuntut untuk mendapat yang sempurna. Yakin deh, diri sendiri yang paling dulu akan merasa kelelahan.

@30haribercerita
#30haribercerita
#30Hbc2104
#sempurna
#azurazie_

Januari 01, 2021

30HBC2101 - BUKU CATATAN

Alif, dan si kembar Sin-Shin terlihat masih sibuk menyampul buku baru mereka. Kalau Alif lebih suka sampul berwarna cokelat seperti biasa. Sedangkan si kembar lebih kreatif, warna sampul di sesuaikan dengan jadwal pelajaran yang mereka tempel di dinding kamar. Senin, dengan mata pelajaran matematika dengan buku bersampul warna merah. Selasa, dengan mata pelajaran bahasa inggris, bersampul warna hijau muda. Dan seterusnya berbeda-beda untuk mata pelajaran dan hari-hari lainnya.

"Masih banyak buku yang belum disampulnya, dek?" Tanya Kalam sembari lewat ke dapur untuk menyimpan piring dan gelas, sehabis makan.

"Punya Alif, tinggal satu buku, Kak. Habis itu tinggal dikasih nama deh." Jawab Alif dengan menoleh ke kakaknya lebih dulu.

"Sin tinggal dua hari lagi." Sin ikut memberi laporan, memang buku yang belum dia sampul tinggal buku-buku mata pelajaran jum'at dan sabtu saja.

"Iya tinggal dua hari". Shin pun ikut menimpali.

Kalam mengangguk senyum. 
"Kalau sudah selesai dan diberi nama, Alif, Sin dan Shin, harus siap juga untuk bertanggungjawabnya, ya." 

Alif mengangguk paham. Sepenuh hati mengerti yang dimaksud kakaknya. Sin dan Shin sebenarnya juga paham sudah dijelaskan oleh Alif. Hanya mereka masih saja grogi saling melirik satu sama lain.

Kemarin, setelah shalat maghrib berjamaah, seperti biasa keluarga Abah Tanwin mengadakan pengajian sederhana di mushola keluarga mereka. Tema yang dibahas saat itu tentang: buku catatan amal.

Untuk memudahkan pemahaman Alif, Kalam menganalogikan buku catatan amal seperti buku sekolah Alif yang baru. Setelah buku tersebut diberi nama, tentang isi buku, coretan apa saja, dan tentang nilai yang akan diperoleh. Nama yang tertera di buku tersebutlah yang akan bertanggung jawab dan merasakan apresiasinya. Ketika nilainya bagus ia akan merasa bahagia. Ketika nilainya buruk ia juga yang akan merasa malu.

Dan Alhamdulillah Alif memahami penjelasan kakaknya itu.

@30haribercerita 
#30hbc2101 
#30haribercerita 
#epipremnumpinnatum 
#sirihgadinghijau 
#uploadkompakan 
#kampushijaiah 
#plantsmakepeoplehappy 
#plantsofinstagram