Februari 29, 2016

WAKTU

Adalah waktu yang rela manusia bagi-bagi kepada manusia lain dalam bentuk peduli. Padahal waktu yang ia miliki secara otomatis mengurangi jatah usianya hidup di dunia fana ini. Seolah-olah secara tidak sadar, ia membiarkan waktu kepunyaanya dimanfaatkan untuk menopang kepentingan orang lain. Dalam bentuk perhatian-perhatian, dalam bentuk pertolongan-pertolongan, atau sekedar berupa dukungan. Ia rela menyisihkan sebagian jatah waktunya untuk memastikan orang-orang di sekitarnya selalu dalam keadaan baik. Selalu merasa bahagia.

Dan mirisnya di waktu luang yang ia punya justru tidak ia gunakan untuk memperbaiki keadaannya sendiri. Barangkali sebagai manusia, nalurinya mengharapkan perlakuan yang sama dari manusia lain.

Barangkali begitulah yang lebih baik untuk memanfaatkan sisa waktu hidup yang kita punya. Disisihkan untuk membawa manfaat ke banyak orang. Tidak peduli seberapa banyak waktu yang kita punya dikorbankan. Untuk kebahagiaan orang lain. Orang-orang yang penting dalam kehidupan kita. Dibandingkan kita hanya berpangku tangan, malas-malasan saja. Tidak peduli dengan orang lain, alih-alih tidak juga dengan diri sendiri.

Ini tentang jatah waktu yang kita punya, sama sekali belum membicarakan cinta.

Februari 27, 2016

TERIMA KASIH IBU SURI a.k DEE LESTARI UNTUK SERIAL SUPERNOVANYA

Kemarin, tanggal 26 Februari 2016 bagi #Addeection (sebutan untuk pembaca karya Dee) adalah hari yang bersejarah bagi mereka. Sebab genap 15 Tahun perjalanan Serial Supernova. Dan kemarin adalah hari resmi launching Serial Supernova seri terakhir : Inteligensi Embun Pagi.

Saya bisa bayangkan betapa Euporia pembaca setia Supernova memuncak hari itu. Akhirnya kepingan terakhir dari Serial Supernova dari 1-6 lengkap sudah. Sebagian #Addeection menjelma menjadi 'laron-laron' pemburu Supernova ke toko buku-toko buku terdekat. Sedangkan sebagian lain sudah menjadi 'pungguk' yang merindukan Supernova dikirim dari toko buku online. PO sejak sebulan yang lalu. Termasuk saya yang menanti cemas belum juga sampai. Sebagian lain ribut berkicau seperti burung-burung menyambut musim kawin. 

Serial Supernova ini memang menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun saya baru mengikutinya dari 2012 tapi setiap menunggu terbit serial berikutnya memang benar-benar menguras emosi. Decak tidak sabar. 

Akhir kalam, saya hanya ingin mengucapkan ;

Terima kasih banyak atas kerja kerasmu ibu Suri (a.k Dee) menulis buku serial, ditambah ketebalan yang kepingan terakhir lebih dari 6ratus halaman sudah pasti bukan perkara yang sebentar dan mudah. Tapi ibu suri berhasil menyelesaikannya dengan baik. Membuat antusias dan decak kagum penikmat tulisan-tulisanmu. Sekali lagi terima kasih.


KEGELISAHAN

Barangkali kegelisahan seorang penulis adalah sama dalam satu hal, ketika suatu hari ia membaca ulang tulisan-tulisannya. Kata-kata yang pernah ia tulis dulu seakan mencambuk dirinya sendiri. Betapa kebaikan-kebaikan yang tersirat yang mengendap dalam kalimat-kalimat itu, lebih banyak yang tidak ia praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menasehati perihal ini dan itu, tetapi nihil ia sendiri tidak menerapkannya. Ia mengingatkan orang lain untuk selalu melakukan ini dan itu, tapi sendirinya kebanyakan lupa. Atau bahkan sama sekali tidak ada niatan untuk melakukannya.

Sungguh hal-hal itu membuat ia malu. Betapa dirinya berlagak sok bijak, tapi sejatinya ia sendiri begitu buruk. Sangat teramat buruk.

Adalah benar, seorang manusia hanyalah berdiri di atas bumi ini, hanya diberi akal untuk tidak bertelanjang kaki. Diberi rasa malu untuk menutup tubuhnya dengan pakaian. Dan sejatinya hanya itu yang ia bisa lakukan, Jika saja Tuhan tidak memberinya akal, tidak memberinya rasa malu, alangkah manusia sama saja dengan binatang melata. 

Sungguh yang demikian itu membuat ia termenung. Betapa butuhnya ia dengan kasih sayang Tuhan yang menjaga segala bentuk aibnya. Memberikan 'topeng' terbaik untuk diperlihatkan kepada sesama manusia. Padahal sebenarnya dirinya hanyalah seonggok daging yang bisa berjalan di atas muka bumi, yang penuh cela penuh hina. Yang tidak malu berbuat dosa.


Februari 26, 2016

HAL YANG MEMBUATMU LENGAH

Jangan sekali-kali menyalahkan harapannya, salahkan ketidaksabarannya. Sebab harapan itu selalu baik, sedangkan kesabaran kadang harus selalu dididik.

Dengan terus berharap, akan lebih banyak kemungkinan untuk mendapatkan hal yang baik. Sedangkan berhenti bersabar, lebih banyak mendatangkan hal-hal buruk.

Sebab, kenyataannya lebih banyak hal-hal yang perlu untuk kita syukuri. Dibanding dengan hal-hal yang harus kita sabari.

Februari 23, 2016

NALURI

Waktu itu, saat rembang petang.- waktu kira-kira pukul lima. Aku dengannya menikmati sepotong sore, berbaring merumput, memandang petala langit. Awan-awan sedang sangat cerah, tidak nampak tanda-tanda akan hujan. Sudah lama kami tidak  meluangkan waktu bersama seperti ini. Tepatnya, ia baru saja kembali. – Menyapa sepi.

“Dua hal yang membuat seseorang kembali, rindu atau sepi. Kalau kamu yan g mana?” Ia membuka obrolan, setelah lebih dari lima belas menit kami hanya saling diam. Menikmati semilir angin yang entah kenapa sore ini benar-benar sedang nyaman sekali. Tidak mengusik, tidak pula membuat kantuk. Sejuk rasanya. – sampai ke hati.

“Naluri.” Kataku tanpa mengalihkan pandangan. Tetap fokus memperhatikan wajah langit.

“Maksudmu?” Ia mengubah posisi pandangannya, menoleh ke arahku.

“Kebutuhan nalurinya yang mendorong ia untuk kembali.” Akupun merasa perlu menoleh ke arahnya.

“Tergantung niatan.” Ia kembali memandang langit.

“Naluri nggak tergantung apapun, mengalir spontanitas. Misalnya seorang ibu yang reflek menyambar tangan anaknya yang hampir terjatuh.” Kataku ikut kembali memandang langit.
Ia terdengar menghela napas. “Campur tangan Allah yang menggetarkan hatinya.”

Aku mengangguk setuju masih tanpa menoleh.

Lengang sejenak tanpa ada lagi percakapan. Beberapa burung melintas di atas kepala kami, mungkin akan kembali ke sarang. – entah burung apa namanya.

“Bagaimana keadaan hatimu sudah membaikkah?”

“Sedikit lagi.” Aku menelan ludah, kenapa harus pertanyaan itu? Tak bisakah kesempatan ini tidak menyingung dulu soal itu. Aku sedang ingin menikmati kebersamaan tanpa harus mengungkit masa lalu.

“Ah kok sedikit, bukankah seharusnya sebentar?”

“Bedanya apa?” Aku menoleh ke arahnya.

“Ya beda kalau menurut aku.”

“Mungkin….” Aku kembali memandang langit. “Sedikit itu soal jumlah. Sedangkan sebentar soal waktu. Kalau jumlah, manusia bisa sedikit lebih memperkirakan, dari melihat sisa yang ada. Kalau waktu, mana ada kuasa soal itu. Bisa saja menurut kita sudah sebentar lagi, tapi kenyataan takdirnya lain?”

“Ah lagi-lagi dengan jawaban yang rinci. Nggak pernah berubah ya, kamu tambah bijak.”

“Sayangnya kali ini aku tidak berhasil bersembunyi dari kata-kata bijak.” Kataku lirih berharap ia tidak mendengarnya.

“Maksudmu?”

“Ah tidak. Aku hanya bersyukur kita masih punya waktu luang yang sama.” Aku menghela napas.

“Jadi intinya ini tentang kesempatan.” Ia memejamkan mata.

“Aku lebih setuju tentang naluri.”

Aku ikut memejamkan mata.




    

Februari 22, 2016

TENTANG ODOJ

Pembaca setia Lakaran Minda, kabar baik untuk hari ini. Lakaran Minda sedang kedatangan seseorang yang tidak mau disebutkan namanya, ia ingin berbagi kisah tentang salah satu pilihan terbaiknya selama hidup. Yaitu telah memilih mengikuti salah satu grup ODOJ. Alias One Day One Juz.

Apa itu ODOJ? silakan gugling sendiri ya, banyak kok di penelusuran google yang bahas soal itu.
Baiklah inilah sekilas obrolan singkat Lakaran Minda dengan tamunya hari ini :

1. Bisa ceritakan dengan singkat saja sejarah awal mula mengenal ODOJ?

Yang saya ingat, waktu itu ada seorang muslimah yang baik, (saya berdoa semoga beliau selalu dilimpahkan kebaikan-kebaikan yang manfaat) yang sangat gencar sekali mengajak saya untuk mengetahui ODOJ. Bukan mengajak lho, cuma memperkenalkan. Awalnya saya tidak antusias sama sekali, tapi karena ia tidak sekali dua kali membicarakan ODOJ itu akhirnya saya iseng lihat-lihat di medsos dan tanya-tanya. Oh ternyata ODOJ itu seperti itu.... tentang itu.... blablabla..... 

2. Terus anda langsung tertarik dan gabung?

Tidak. Karena saat itu saya belum punya alasan yang cukup untuk mengikutinya. Terlebih banyak juga yang kontra dengan grup ini. Bilang ibadah jadi riya lah apalah.... yang saya malas membahasnya.

3. Lalu apa yang membuat anda tiba-tiba memutuskan untuk bergabung?

Karena saya membaca salah satu hadist Rasulullah yang sayangnya bunyinya saya lupa. Tapi intinya saya ingat, bahwa Rasulullah mengingatkan jangan sampai mengkhatamkan Al-Qur'an lebih dari 40 hari. Saya langsung tergelak waktu itu, saya ingat benar butuh berapa lama selama ini mengkhatamkan Al-Qur'an di luar bulan Ramadhan. Bisa berbulan-bulan lamanya. Ya itu kebanyakan malasnya. Saat itulah saya ingin memperbaiki itu, mungkin dengan bergabung dengan ODOJ kebiasaan baik itu akan tumbuh.

4. Jadi pesan-pesan anda apa untuk pembaca Lakaran Minda mengenai ODOJ apa anda akan mengajak mereka bergabung juga?

Tidak. Silakan mereka pilih sendiri saja mau gabung atau tidak. Hanya satu hal yang saya ingin bagi di sini. Terlepas pro dan kontra tentang kegiatan ODOJ ini. Satu hal yang pasti dan boleh digaris bawahi. Bukan karena setelah bergabung di sini kuantitas baca Al-Qur'annya jadi lebih baik, jadi lebih rutin. Tapi setidaknya karena bergabung dengan ODOJ ada satu hal yang selalu membuat saya risau, kalau satu hari belum sama sekali melihat mushaf Al-Qur'an. Hanya melihat loh belum soal menyentuh. Alih-alih membacanya. Ternyata kebiasaan itu yang membentuk sesuatu yang baik. Itu saja.

5. Baik. Terima kasih atas waktunya. Semoga ada hal baik yang bisa dibawa pulang oleh pembaca Lakaran Minda di sini. Setelah membaca penuturan anda tentang ODOJ.

Ah saya tidak merasa memberikan apa-apa.


Februari 21, 2016

KETIDAKBERDAYAAN

Betapa keseharian manusia di kelilingi oleh ketidakberdayaan. Tentang ketidakberdayaan raganya menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah tumbang. Apalagi di musim penghujan seperti ini. Tentang ketidakberdayaan perasaannya menyesali hal-hal bodoh, sesederhana ketidaksengajaannya merusak barang-barang yang dirasa penting. Keteledorannya menghilangkan ini itu. Membuat ia muram memikirkan ketidakhati-hatiannya itu.

Betapa keseharian manusia dibayangi oleh ketidakberdayaan. Merasa tidak bisa melakukan apa-apa tanpa adanya campur tangan Tuhan. Yang menguatkan raganya, membesarkan perasaannya untuk tidak mudah menyerah, untuk tidak mudah larut dalam kesedihan. Untuk kembali bangkit berdiri dengan membawa harapan-harapan berikutnya. Yang hilang akan berganti. Yang pergi akan kembali jika memang sudah dikehendaki takdirnya.

Sebuah pemahaman yang mengajarkan bahwa semua hal memang memiliki batasnya, semua hal ada waktu-waktunya. Berjalan di atas usianya masing-masing.

Termasuk kemampuan diri kita yang benar-benar tidak berdaya tanpa ditopang oleh Tuhan yang Maha Memberi Daya dan Tenaga. Allah yang memiliki semuanya.

Februari 20, 2016

CAK-CAK DAN TOKEK

Tokkek.... tokkek.... tokkek,,,,

Suara nyaring itu bersahut-sahutan dengan suara takbir yang menggema seirama. Shalat Maghrib berjamaah baru saja memasuki rakaat yang ke dua.

Tokkek.... tokkek.... tokkek,,,,

"Hei, suara kau kecilkan sikit lah, ganggu konsentrasi yang sedang menghadap Tuhannya saja." Cak-cak datang menegur sahabatnya itu. "Kenapa kau terdengar sedang risau sekali?"

"Aku prihatin melihat segelintir manusia yang tekun ibadahnya, tapi tidak disertai dengan ilmunya."

"Maksud kau?" Cak-cak mengerutkan dahi tidak mengerti.

"Ya kau llihat di sana, ada pemuda yang shalat dengan pakaian yang sekenanya saja." Tokkek menunjuk salah satu jamaah yang berdiri paling pojok. Pemuda itu hanya memakai kaos ketat dan jeans belel.

"Mungkin dia sedang dalam perjalanan, bukan dari rumah. Lagipula yang penting kan pakaiannya menutupi aurat." Cak-cak berargumen.

"Kalau sedang dalam posisi berdiri memang menutup aurat, coba kau perhatikan ketika dia rukuk atau sujud."

"Oh iya, bagian belakangnya terbuka. Batal tuh shalatnya. Auratnya terbuka." Cak-cak terkesiap dengan apa yang ia lihat. Baru paham dengan yang dimaksud Tokkek.

"Aku yakin dia mana tahu kalau shalatnya sudah batal. Mana tahu aurat laki-laki itu dari atas dengkul sampai di atas pusar. Depannya sih tertutup, tapi bagian belakangnya terbuka."

"Hussh.... suka langsung men-judge seperti itu."

"Ya... kalau dia mengerti, seharusnya dia lebih memperhatikan pakaiannya ketika shalat. Ia baru contoh kecil manusia yang tekun beribadah tapi tidak disertai dengan ilmunya. Kau lihat di belakang kita."

Cak-cak langsung menoleh. Ia dapati seorang perempuan yang sedang ikut shalat berjamaah, dengan mukenanya. Tapi jari kakinya terbuka ketika duduk tahiyat akhir. 

"Subhanallah, banyak yang harus diingatkan sepertinya."

"Begitulah, makanya aku risih melihat pemandangan hari ini. Ditambah tadi aku lihat ada yang sedang tekun bertadarus lewat layar ponselnya."

"Lho apa yang salah dengan itu?"

"Aku tidak menyalahkan. Tapi hanya menyayangkan, aku lihat tidak jauh dari tempat duduknya ada banyak mushaf yang ia bisa pakai. Kan bisa dapat pahala lebih, pahala membacanya dan pahala memegang mushafnya."

Cak-cak mengangguk setuju.    


Februari 18, 2016

KITA INI SIAPA?

Dalam perenungan panjang.

Yang masih saja terngiang-ngiang di telinga ini sejak sudah hampir sebulan lalu adalah sindiran halus dari Habib Bahar bin Smith (semoga Allah senantiasa memuliakan beliau)  ketika berkesempatan ikut duduk di majelis ilmunya,

"Antum itu siapa? Kita ini siapa?"

kalimat tanya itu yang masih membenak diingatan, menjadi cambuk diri ketika kepongahan mulai menunjukkan dirinya. Betapa ketidakmahaberdayaan itu benar-benar terasa nyata, betapa manusia benar-benar lemah tanpa hidayah-Nya.

"Antum itu siapa? Kita ini siapa?"

Pasang baik-baik kalimat itu untuk dijadikan 'jebakan' untuk diri kita sendiri ketika kita mulai sering mengeluhkan ini itu. Ketika kita mulai menuntut banyak hal. Padahal sejatinya kita hanya menumpang hidup. Tidak memiliki apa-apa. Bahkan iman di dada pun termasuk anugerah pemberian-Nya. Jikalau itu dicabut dari jiwa, Sungguh tidak mengurangi ke Maha AgunganNya.

"Antum itu siapa? Kita ini siapa?"

Contoh kecil ketidakberdayaan manusia. Dua hari kemarin saya alfa tidak mendapatkan nikmatnya mendengar adzan subuh. Baru terbangun ketika sudah pukul lima pagi. Dan sungguh itu efeknya mempengaruhi banyak hal. Jadi lebih malas beraktivitas, tidak enak badan, malas beribadah, sampai lalai tidak menunaikan target menulis di blog ini. Yang padahal sudah ditargetkan sehari satu post. Itu baru target di dunia yang mudah lalai, apakabarnya target untuk akhirat? Ketika iman itu masih suka sekali naik turun.

Lantas antum itu siapa? Kita ini siapa?

Februari 17, 2016

RINTIK 4 - BERDOA KALA HUJAN

Fa, aku selalu ingin lebih banyak lagi mendoakanmu kala hujan turun. Bukan semata-mata saat itu salah satu waktu terbaik untuk berdoa. Saat hujan turun aku lebih banyak mengingatmu. Dan aku ingin berdoa dengan menyertai ingatan tentangmu itu. Agar doa itu lebih menggema, lebih bertenaga.

Kau tahu, Fa. Yang terbaik memberlakukan air hujan dengan lembut adalah cahaya matahari. Kehangatan sinar matahari mengambil kembali air-air itu dengan cara menguapkannya, perlahan, dikit demi sedikit hingga kembali ke awan. Dan pada waktunya air-air hujan itu kembali utuh di sana.
Itu cara matahari yang menakjubkan, jika doa-doaku itu diibaratkan air-air hujan. Aku yakin Tuhan kita lebih Maha Hangat menerima doa-doa itu ke singgahsanaNya. Doa yang akan utuh kau terima kelak dalam kebaikan.


Februari 14, 2016

LAKARAN DAN MINDA : (TIDAK) ANTUSIAS

Lakaran : "Kau tidak ikut-ikutan antri untuk dapetin cokelat gratis, Min? aku dengar ada orang dermawan yang membuka stand di alun-alun hari ini. Banyak yang antusias antri, sampai rebutan takut nggak kebagian."

Minda : "Ah aku nggak suka desak-desakan di keramaian. Aku juga sempat lihat tadi. Dalam rangka apa memang?"

Lakaran : "Entahlah, kalau banyak yang antusias gitu berarti itu kegiatan positif. Banyak digemari orang-orang."

Minda : "Belum tentu."

Lakaran : "Kok begitu?"

Minda : "Buktinya lalat lebih memilih gerumuti kotoran, bangkai busuk. Itu artinya nggak semua yang digemari banyak orang itu jadi otomatis baik."

Lakaran : "Kau benar juga. By the way, kira-kira hewan apalagi nih yang kita undang untuk bercerita di lapak kita? Semut sudah, katak dan bekicot sudah, tikus sudah, laron-laron sudah, kucing sudah. Siapa ya kira-kira? Kau punya ide nggak, Min?"

Minda : "Undang sapi aja sekali-kali."

Lakaran : "Sapi? mereka mau cerita soal apa?"

Minda : "Entahlah, itu suara apa ya di speker mushola?"

Lakaran : "Oh itu. hari ini kan ada acara tabligh akbar."

Minda : "Oh iya aku lupa. Ayo bergegas, kalau yang modal kaya gini baru kita harus antusias, kalau perlu desak-desakan cari berkahnya."



Februari 13, 2016

MEMBUANG SAMPAH

"Woy... Kurang ajar." frog marah-marah sambil mencak-mencak. Kepalanya menjadi sasaran empuk anak kecil yang buang sampah minuman kaleng sembarangan.

"Lah kenapa kau?" Bekicot bersimpatik melihat kawannya seperti sedang kesusahan.

"Zaman semakin edan saja. Orang tua terang-terangan mengajarkan anaknya buang sampah sembarangan." Umpat Frog sambil mengelus kepalanya yang benjol.

"Iya ya. Kasihan anak itu nanti besarnya akan jadi apa."

Februari 12, 2016

EPILOG SEORANG HAMBA

Tuhan, kataMu akan lebih mudah doa itu akan dikabulkan ketika hati sedang lapang. Maka, untuk itu izinkan aku mengungkapkan cinta dengan lantang. Sebab cintaku kepadaMu adalah bagian dari doa. Setulus hati seorang hamba kepada Tuhan Sang penciptanya.

Tuhan, kataMu di kala hujan adalah salah satu waktu terbaik dikabulkannya harapan. Maka, untuk itu aku ingin berusaha menurunkan rindu dari hati yang paling dalam, sebanyak rintik hujan yang sedang turun. Sebab rinduku adalah bagian dari harapan. Keinginan seorang hamba untuk kelak bertemu dengan Tuhan yang menganugerahkan kehidupan.

Tuhan, kataMu sepertiga malam adalah salah satu waktu rahasiaMu untuk mendengarkan keluhan-keluhan. Maka, saat-saat itu aku selalu berusaha terjaga untuk bersimpuh sujud kepadaMu. Sebab, sujudku bagian dari keluhan-keluhan. Pengaduan seorang hamba yang lemah kepada Tuhan yang selalu menguatkan.

Tuhan, manusia yang mengaku sedang jatuh cinta akan selalu merasa cemas dengan ketidakpastian perasaan. Menduga-duga apakah cintanya akan bersambut atau hanya akan bertepuk sebelah tangan. Dan ketika mengaku mencintaiMu. Seringkali manusia tidak terlalu mencemaskan itu. Sebab mereka tahu Engkau akan lebih dekat ketika hambamu itu mencintaiMu. Tapi itu tidak berlaku denganku. Aku selalu saja cemas, takut sejauh ini akulah yang tidak benar-benar mencintaiMu.

Tuhan, manusia yang sudah terlanjur rindu dengan kekasihnya. Selalu mengharapkan waktu pertemuan akan segera datang. Tapi tidak ketika dalam merindukanMu. Termasuk aku, kami takut diri yang masih berlumur dosa ini belum juga pantas di hadapanMu. Meski rindu itu terus bertambah sepanjang waktu.

Tuhan, dalam berdoa, ketika berharap, mulai mencintai, menahan merindu, dan ketika mengeluhkan semua itu akan lebih sempurna ketika menyebutkan namanya. Untuk itu izinkan aku selalu menyebut nama AgungMu. Allah Subhanahu Wata'ala. Tuhan yang Maha Pengasih mengabulkan semua pinta.

Februari 11, 2016

ANJURAN TIDAK BERLEBIHAN

Kala remang petang, sebuah meja bundar di area dapur rumah sedang ramai oleh semut-semut yang bekerja. Mereka baru saja dapat makanan tambahan. Tadi anak usia lima tahun di rumah itu tidak sengaja menumpahkan sesendok gula ketika menaburi roti tawar yang dibubuhi juga dengan keju. Meninggalkan kaleng berisi gula pasir yang masih terbuka.

Tidak berselang lama Komandan semut menerima laporan dari petugas pencari makanan perihal insiden itu. Komandan tidak mau membuang-buang waktu, mulai mengintruksikan semua prajuritnya untuk menuju ke lokasi kejadian.

"Lekas kerja.... Kerja... Sebelum matahari terbenam." seru komandan semut dengan suara bertenaga.

Terlihat barisan prajurit semut mulai mengular. Setiap kepala berkewajiban memanggul butiran-butiran gula pasir itu.

"Ingat, pantangan para tetua desa. Cukup ambil yang berserakan di luar. Kita tidak boleh sama sekali mengambil yang masih berada di bangunan itu." komandan semut menunjuk toples gula tanpa tutup. Di mata mereka itu tinggi sekali. Tidak mustahil memang untuk mereka gapai, tapi belakangan ini tetua desa berwasiat tidak boleh sembarang mencari makanan di sumber yang berbahaya.

"Hei kau, berjalannya cepat sikit jangan macam bayi baru belajar merangkak kau." hadrik komandan semut melihat salah satu prajuritnya sedikit malas-malasan.

Meski mengkal dibilang seperti bayi. Prajurit itu langsung memperbaiki kinerjanya. Tahu diri tidak memiliki wewenang untuk membantah komandan semut.

"Jangan diambil hati kawan." satu temannya mengiringi langkah prajurit yang ditegor tadi. Mencoba membesarkan hati. "Aku perhatikan, hari ini kau memang tidak bergairah sekali. Ada apa kawan?"

"Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa lelah sekali." prajurit itu menghela napas panjang. Sepertinya butiran gula yang sedang ia panggul memang lebih terasa berat hari ini.

"Ah, kau sakit kawan? Kenapa kau tak izin saja."

"Tidak, aku sehat. Hanya merasa lelah saja." prajurit itu memperbaiki posisi barang yang ia bawa agar lebih nyaman. "Kau tidak merasa jenuh dengan rutinitas ini?"

"Kenapa merasa jenuh kawan? Ini memang sudah tugas kita. Toh memang untuk kebaikan kita juga."

Prajurit itu terdiam.

"Aku beritahu kau satu hal, setiap hari apa yang telah kau upayakan. Jerih payah yang kau perjuangkan. Segala bentuk kerja keras itu, pastikan ada orang yang selalu akan menghargainya kawan. Dengan begitu kau tidak akan mudah jenuh."

Prajurit itu mengerutkan dahi. Justru dia merasa lelah karena merasa tidak ada yang menghargai kerja kerasnya selama ini. Kawan prajurit itu seperti menangkap ketidakmengertian kawannya itu.

"Orang yang aku maksud adalah diri kau sendiri, kawan. Minimal diri sendiri harus menghargai jerih payahmu itu. Dengan cara apa? Dengan tidak mudah mengeluh. Sebab ketika kau mengeluh kau sendiri yang menghambat jerih payahmu sendiri dalam berusaha. Kau akan merasa mudah lelah dan jenuh. Kalau anggapan orang lain peduli amat. Dihargai atau tidak kita tetap harus bekerja keras kan?"

Prajurit itu menelan ludah. Perkataan kawannya itu ada benarnya.

"Sudahlah, kudengar malam ini ada pesta. Jadi bersemangatlah kau sikit."
Prajurit itu mengangguk. Perjalanan mereka hampir sampai.

"Menurutmu, kenapa tetua desa melarang kita untuk mengambil makanan dari sumbernya? Kau lihat sendiri kan bangunan tadi berisi banyak sekali butiran gulanya. Itu persediaan yang akan sangat cukup untuk koloni kita."

"Apa kau tidak ngeri melihat media masa pagi ini? Banyak saudara-saudara kita yang tewas mengenaskan karena tertimbun butiran gula di bangunan yang mirip bangunan yang kita lihat tadi? Aku merinding melihatnya."

"Iya sih, tapi kan prajurit-prajurit kita jauh lebih berani dan pengalaman."

"Soal itu tidak perlu dipersangsikan lagi. Sejarah mencatat bangsa kita mampu memindahkan makanan seberat apapun ke dalam sarang. Kerjasama tim kita jelas-jelas teruji. Soal berita yang menewaskan saudara-saudara kita itu memang sudah nasibnya. Tapi aku simpatik dengan kebijakan tetua kita hari ini."

"Maksudmu?"

"Ya, seakan kita diingatkan untuk hidup tidak berlebihan. Sekiranya makanan yang kita peroleh hari ini cukup itu sudah lebih dari cukup. Tidak perlu mengambil semuanya. Toh apa-apa yang berlebihan tidak baik. Perut kita juga tidak akan menampung makanan sebanyak itu."

Prajurit itu mengangguk paham mendengar penjelasan kawannya.

"Satu hal lagi kawan, kalau kita serakah mau mengambil semuanya, apa bedanya bangsa kita dengan qorun?"

"Iya kau benar."

"Mari kita bergegas kawan, aku tidak mau disamakan dengan bayi yang baru merangkak." kawan prajurit itu menyeringai. "Tapi aku rasa orang itu berlebihan menyindirmu tadi. Macam komandan tak pernah jadi bayi saja."
Keduanya tertawa memasuki sarang.

Februari 10, 2016

PARODI : PERINTAH KOSONGKAN NEGARA

Di suatu negeri antah berantah, pagi itu terjadi kepanikan di mana-mana. Suara sirine menggaung, pengumuman penting presiden pagi itu membuat rakyat jelata gelagapan.

"DALAM 1x 24 JAM KITA HARUS KOSONGKAN NEGARA TERCINTA INI. HARAP KEMASI BARANG-BARANG BERHARGA KALIAN. HUTANG NEGARA INI SUDAH JATUH TEMPO. NEGARA INI SUDAH BUKAN MILIK KITA LAGI. AYO SEMUA MULAI BERKEMAS SELAMATKAN DIRI KALIAN MASING-MASING."

Suara pengumuman presiden negara itu menggaung di mana-mana. Di televisi, radio, surat kabar. Mendadak sekali membuat kepanikan di mana-mana.

Rakyat jelata yang tak tahu apa-apa geram, mana tahu soal hutang-hutang negara. Mana ada yang menyangka Negara tempat mereka tinggal selama ini sudah digadaikan untuk melunasi hutang-hutang itu. Apakah memang sudah sebesar itu pemimpin-pemimpin di negara mereka berhutang. Anak-anak kecil menangis tidak mengerti apa-apa. Seharusnya pagi ini mereka pergi ke sekolah. Tapi bapak dan ibunya menyuruh ikut berkemas. Entah hendak ke mana. Para lansia tidak bergerak dari tempat duduknya. Hanya memperhatikan kepanikan di luar rumah. Mereka untuk ke kamar mandi aja sudah susah bagaimana mungkin presiden menyuruh seluruh rakyatnya untuk mengosongkan negara ini.

Pita kuning sudah mulai dipasang di mana-mana. Panjaaaang sekali. Rakyat jelata kocar-kacir bingung harus pergi ke mana. Presiden hanya memerintah untuk mengungsi tapi tidak memberikan solusi mereka harus ke mana.

Rakyat jelata berlari ke sana kemari, ada yang hanya menenteng bantal. Menggotong-gotong kasur lapuk. Menggandol beberapa potong pakaian. Mana ada barang-barang berharga yang mereka punya. Seminggu lalu sudah diminta pemerintah untuk membantu melunasi hutang negara. Urunan. Dan ternyata meski seluruh kekayaan rakyat jelata dikumpulkan masih tidak cukup untuk membayar itu semua. Jangan tanya soal kas negara, semua sudah pindah ke perut keluarga para koruptor kelas kakap negeri ini. Yang ikut kebingungan dengan nasib mereka selanjutnya. Hendak menjadi parasit di mana lagi. Ketika inangnya sedang sekarat.

Negeri antah berantah ini sudah diujung tanduk. Tinggal rakyat jelata yang menanggung deritanya.

Februari 09, 2016

LARON-LARON YANG MENGITARI CAHAYA HINGGA AKHIR HAYATNYA

Saat itu hujan turun sejak petang hingga menjelang Maghrib. Beberapa laki-laki yang berazam bahwa akan lebih utama shalat berjamaah di masjid, tetap berduyun-duyun menujunya. Tidak peduli sepanjang jalan baju taqwa mereka tampias karena hujan. Sarung mereka harus digulung menghindari kecipak air menggenang. Mereka tetap melaju memenuhi seruan muadzin. Bersimpuh berserah memenuhi panggilan Tuhan.

Dan ketika memasuki rakaat kedua, hujan mulai berhenti digantikan oleh aliran listrik padam. Shalat harus tetap berlanjut dalam kegelapan. Makmum tetap patuh pada imam. Tetap berkosentrasi agar tidak menyalahi gerakan.

Lampu baru menyala kembali saat imam menyeru mengucapkan salam yang pertama. Keselamatan untukmu.   Diikuti serentak oleh makmum.

Saat itulah segerombol laron-laron mulai mendatangi ruang utama masjid. Terbang berseliweran mengitari cahaya lampu. Mereka menyerbu satu-satunya cahaya yang masih tersedia di rumah Allah itu. Sebab rumah-rumah penduduk setempat sudah kompak gelap gulita.

Saat itulah terdengar dua ekor laron berdiskusi. Tepatnya satu tengah mengeluh, satunya lagi mencoba menasehati.

"Hei, murung sekali wajah kau sobat? Ayolah bersemangat sikit. Selagi cahaya masih tersedia di ruangan ini." ujar laron pertama ketika melihat laron kedua nampak tidak bergairah sama sekali.

"Untuk apa sih kita terlihat bodoh seperti ini? Selalu mengejar-ngejar cahaya hingga tidak ada satupun yang tersisa. Hanya untuk menjemput mati." laron kedua mengeluh bernapas. Beberapa laron-laron lain sudah kehilangan sayapnya. Bersamaan dengan marbot masjid mulai mematikan saklar lampu ruangan. Dan menggantinya dengan cahaya lilin.

"Ah kau macam tak miliki iman saja. Itu memang sudah takdir bangsa kita. Tapi setidaknya kau tahu satu hal, meski usia kita hidup di dunia ini hanya sekejab saja. Setidaknya di akhir hayat kita masih cenderung mengikuti cahaya. Meskipun itu redup kita masih menjadi segelintir yang mengitarinya. Kau perlu bersyukur atas anugerah itu." laron pertama berkata panjang lebar.

Laron kedua menelan ludah. Ada yang bergetar hebat di hatinya. Cahaya yang tadinya mulai redup di hatinya, nasihat laron pertama itu seperti pematik yang berhasil membuat cahaya itu tetap menyala.
"Lah kau malah melamun macam laron kesambet jin lampu ajaib saja." laron pertama bergurau. "Ayo lekas terbang kita harus tepat waktu mengitari cahaya lilin itu. Cahaya terakhir yang ada di ruangan ini. Sebelum benar-benar padam. Beruntung sekali aku malam ini. Setidaknya ajal menjemput ketika aku berada di rumah Allah. Masih sempat memandang cahaya-Nya."

Laron kedua beranjak bangun dengan pemahaman yang lebih baik.

Seperti itulah kisah segelintir laron yang cenderung selalu menuju cahaya. Layaknya umat islam pada akhir zaman. Semoga kita termasuk segelintir ummat yang terasing, tetap berduyun-duyun memegang teguhnya iman. Aamiin.

Februari 08, 2016

FANA

Banyak hal memang layak untuk ditertawakan, semenyebalkan apapun itu. Sebagai pengingat, dunia ini memang hanya tempat senda gurau yang pada waktunya juga berlalu. Termasuk hal yang menyebalkan itu.

Banyak hal memang layak untuk dilupakan, semenyakitkan apapun itu. Sebagai pengingat, dunia ini memang hanya sementara, ada masanya berakhir juga. Berlaku yang menyakirkan pun sama saja.

Tentang apa-apa yang sedang membuatmu nelangsa. Patah semangat. Gundah gulana. Duka nestapa. Atau pun kesal sekali rasanya. Cobalah sejenak tertawakan. Minimal tertawalah untuk kebodohan kita yang mudah sekali jatuh terbawa suasana.

Cobalah untuk dilupakan. Minimal sejenak abaikan rasa sakitnya. Untuk  menguatkan diri dan mencoba bangkit lagi. Biar kebas rasanya. Biar kebal raganya. Sebab waktu akan terus berjalan, tidak peduli orang-orang yang sedang mengaduh kesakitan, mengeluh kelelahan.

Waktu akan terus berjalan. Di atas dunia yang fana.

Februari 07, 2016

KRAN REZEKI

Salah satu hal yang selalu luput kita sadari betapa pentingnya rasa yakin itu adalah perihal rezeki tiap-tiap makhluk hidup sudah ada yang mengaturnya. Bahwa kran rezeki itu sudah memiliki penampungnya masing-masing. Dan akan keluar tergantung usaha kita untuk membuka krannya agar tetap lancar. Lupa salah satu point pentingnya adalah sabar. Kran yang hanya mengucurkan air sedikit pun pada akhirnya akan memenuhi ember yang ada di bawahnya. Tergantung dengan seberapa banyak isi penampungnya. Catatan kecilnya, Tuhan kita sudah pasti hitungannya akurat. Kebutuhan makhluk-makhluknya sudah diperkirakan dengan sedemikian rupa.  

Begitulah, terkadang kita terlanjur abai untuk mengingat hal sesederhana itu. Kadung mengeluh karena merasa sulit sekali untuk mendapatkannya. Terlanjur iri hati ketika melihat rezeki orang lain lebih melimpah ruah. Sepertinya mudah sekali mereka mendapatkannya.

Pagi itu kira-kira matahari sedang setinggi tombak, seperti biasa saya menyempatkan diri untuk menjemput adik laki-laki dari sekolahnya. Ada pemandangan yang menarik. Bel berbunyi, siswa-siswa kelas 1 dan 2 SD sudah waktunya untuk pulang. Bergerombol menuju jalan raya. Ada dua orang satpam yang bertugas untuk membantu mereka menyebrang jalan.

Situasi seperti itu selalu menarik perhatian para angkutan umum. Saya yang sedang menunggu adik laki-laki, duduk di atas jok motor. Menyeringai menyaksikan pemandangan itu. Satu mobil angkot sempurna berhenti di depan anak-anak yang bergerombol di pinggir jalan. Sesekali pak satpam mewanti-wanti untuk tetap tertib. Tidak main lari-larian dan bercanda sampai kondisi jalan memungkinkan untuk mereka menyebrang. Angkot itu kosong, pak sopir berteriak menawarkan jasanya. Tapi sayang tidak ada satupun anak-anak yang tertarik naik mobilnya. Sebab gerombolan pertama itu memang akan menyebrang. Pulang dengan berjalan kaki menuju sebuah gang kecil. Sang sopir angkot pertama masygul kembali menggas mobilnya. Itu bukan rezekinya.

Tidak lama kemudian, datang lagi satu gerombol anak-anak yang akan pulang. Satu angkutan umum lagi berhenti di depan mereka. Kali ini tidak kosong. Ada satu orang yang duduk di pojokan. Lagi-lagi saya menyeringai, aku bisa menebak gerombolan kedua anak-anak itu juga bukan rezeki untuk angkot yang kedua. Mereka juga akan menyebrang jalan. Sebagian malah ada yang sudah pulang dengan jemputannya. Sopir angkot kedua ini lebih sabar menunggu dari angkot sebelumnya. Meskipun setelah gerombolan anak-anak ketiga datang pun tidak ada satu anak pun yang masuk ke angkotnya. Sopir kedua itu juga masygul melanjutkan perjalannanya.

Dan ketika adik laki-lakiku sudah menampakkan diri. Saya sudah siap menancapkan gas. Saat itulah angkot ketiga datang, langsung diserbu dengan gerombolan anak-anak yang keluar bersama dengan adik laki-lakiku. Sungguh itu pemandangan yang sangat menarik. Betapa rezeki memang sudah ditentukan masing-masing. 

Itu pengingat yang sangat menarik untuk dipikirkan.

Februari 06, 2016

KIRA-KIRA BAGAIMANA PERASAANNYA?

Kira-kira bagaimana perasaan seseorang yang setiap hari selalu merasa perlu menyempatkan diri melihat beranda rumah(maya)mu. Dan berkali-kali tidak ada (si)apa-(si)apa di sana. Yang ia dapati hanya sebuah rumah yang lama ditinggalkan penghuninya.

Kira-kira bagaimana perasaanya? Ketika yang selalu ia pertanyakan adalah pertanyaan serupa setiap harinya. Tentang kecemasan yang entah kapan akan tenang.

Kapan penghuni rumah(maya) itu akan pulang? Merapikan puing-puing kenangan yang berserakan di beranda rumahnya.

Kenangan yang menjadi alasan setiap hari seseorang itu merasa perlu untuk menengok ke sana. Seolah memastikan sesuatu.

Kira-kira bagaimana perasaannya? Apakah kau tahu sesuatu?

Februari 04, 2016

NAFSU

"Sekali nafsu itu kau manjakan, maka nafsu itu akan semakin kurang ajar dan tidak tahu diri! jangan pernah berdamai dengan nafsu! Sekali kau berdamai, maka nafsu itu akan menginjak harga dirimu dan menjajahmu! jangan beri kehormatan sedikit pun pada nafsumu. Perlakukan dia sebagai makhluk hina, pengkhianat yang tidak boleh diberi ampun!"

#SyaikhUtsman

Dikutip dari Novel Ayat-Ayat Cinta 2 Karya Habiburrahman El Shirazy