Agustus 31, 2012

Serahkan Kepada Pemiliknya

"Hahaha.."
“Kenapa ketawa?”
“Nggak, hanya sedang geli dengan diri sendiri.”
“Hoho... sama kalau gitu. Kadang kita bingung apa yang sebenarnya kita cari, lucunya tetap saja mencari. Meskipun tahu di sana tidak mungkin ada. Kadang kita tidak tahu alasan apa sampai harus menunggu. Padahal sudah tahu, tidak ada lagi yang harus di tunggu. Lucunya masih saja berlama-lama diam menunggu. Kadang kita tahu itu menyakitkan, tapi tetap saja pura-pura nggak sakit. Lucu kan?”
“Iyaa... kadang kita tahu kalau sudah lelah, tapi tetap ngotot nggak mau istirahat.”
“Padahal semua itu nggak cukup di hadapi dengan sekedar ketawa.”
“Apalagi menangis.”
“Ketidakberdayaan membuat kita kecil, dan tidak berarti apa-apa. Bahkan untuk sekedar berkata baik-baik saja. ”
“Membuat kita jadi lucu juga.”
“.....”
 
“Aku sering berkata baik-baik saja. Sonna hazu nai deshou, padahal nyatanya tidak seperti itu. Mendustai diri sendiri, padahal cuma kita yang tahu betapa sedihnya diri sendiri.”
“Pura-pura kuat, padahal sebenarnya rapuh. Mari kita tertawa bersama. Kita tidak lebih dari sebuah lilin yang tidak berdaya ketika mulai di nyalakan. Tidak memiliki pilihan untuk sekedar menolak. Semua orang senang dan merasa aman. Tapi mereka tidak peduli siapa yang membuat itu semua. Siapa yang sedang berjuang. Menyedihkan, dan menggelikan.”
“Sudah sejauh itupun masih saja tidak rela jika di katakan ‘BODOH’.”
“Tepat!”
“Dan mau-maunya di bodohi keadaan.”
“Harus gimana lagi? Rapuh.”
“Kalau menyerah seperti itu, lebih kelihatan bodoh lagi. Bukankah kebalikan harusnya kita tertawa, betapa hebatnya kita.”
“Konyol!, setidaknya kita tidak konyol. Biarkan saja semua itu mereka rasakan tanpa harus tahu ada apa di baliknya. Dan nikmati saja. Sesekali tertawakan.”
“Kita harus tetap senyum demi satu kenyataan.”
“Meski harus di paksakan.”
“Setidaknya hidup kita lebih berwarna, dari hidup mereka yang mulus-mulus saja tanpa sandungan.  Bukankah begitu?”
“Ya... kita punya Tuhan yang lebih mengerti. Untuk apa semua itu kita lakukan. Persetan dengan mereka yang egois, atau tidak pernah peduli.”
“Mari ubah formasi kita. Selama ini lebih suka memaksa keadaan, dan orang lain di tuntut untuk mengerti. Seharusnya kita juga coba untuk mengerti.”
“Kenapa juga harus mereka yang mengerti? Iya nggak?”
“Ya.... kita yang mencoba mengerti, itu jauh membuat hati tenang. Lebih mudah di terima.”
“Kita coba saja.”
“Kata banyak orang kesibukan bisa buat kita lupa beban pikiran. Apa kamu bisa?”
“Nggak! Hati dan pikiran nggak bisa di bohongi, atau di tutup-tutupi. Tampak luarnya saja sibuk, padahal dalamnya jauh lebih sibuk.”
“Hahaha... ternyata aku ada temannya.”
"......."
 
“Dia sudah kasih kabar?”
“Sudah.”
“Baik-baik saja kan?”
“Hanya dia yang tahu.”
“Aku tahu persis apa yang kamu rasa saat ini. Karena pernah ngalami dulu. Kamu masih mending, dia masih mau bicara. Dulu aku nggak ada yang kasih tahu tentang kabarnya, tentang keadaannya. Jadi jangan terlalu sedih ya.”
“Pernah ngerasa ada tapi seperti nggak di anggap ada? Pernah mati-matian berjuang tapi tidak di hiraukan? Dan bertahan karena satu alasan, sayang.”
“Pernah, lebih parah dari itu, pernah ngerasa nggak di anggap manusia. Dia lebih nggak menganggap dirinya ada. Lebih nggak memanusiakan dirinya sendiri. Lebih nggak menghiraukan dirinya sendiri. Jawaban itu yang aku dapat, setelah tiga tahun berkubang duka. Nyatanya mereka yang sok kuat itu lebih rapuh.  Dia selalu menyakiti tapi selalu ada berjuta maaf kan? Dan kita mencari-cari pegangan sendiri untuk tetap bertahan.”
“Masih bertahan di sisi itu, entah sampai kapan, yang penting dia baik-baik saja.”
“Setidaknya kamu masih bisa berkata yang penting dia baik-baik saja. Dulu aku tidak bisa berkata seperti itu. Aku tahu betul dia sangat tidak baik. Aku mencintai orang yang sakit karena prinsipnya sendiri. Bisa di bayangkan?”
“Apa harus di bayangkan? Gak ada yang tahu persis luka dan bahagia seseorang, kecuali dirinya sendiri.”
“Ya... betul itu sekalipun kita pendengar yang paling setia. Tapi tetap rasanya tidak akan sama. So, kamu yakin hati dia masih pada tempatnya?”
“Sudah bukan untukku.”
“Lalu untuk siapa?”
“Gak pernah tahu.”
“Tapi dia nggak sayang sama orang lain kan?”
“Hanya hatinya yang tahu,”
“Setidaknya dia nggak pernah bilang begitu kan?”
“Nggak penting lagi. Buatku yang penting dia baik-baik saja sekarang. Itu sudah lebih dari cukup.”
“Bohong, kamu sedang berbohong. Kalau memang hanya itu tujuanmu. Kamu nggak akan jengah dengan sikapnya. Tidak mungkin asal dia baik-baik saja kalau kamu tidak memiliki tujuan lebih. tujuan yang lebih itulah yang membuat kamu bertahan. Mengakui apa tidak, nyatanya manusia itu egois.”
“Aku akan ada, sampai benar-benar ada yang jagain dia. Baru saat itu selesai. Yang lebih tahu itu aku bukan kamu.”
“Oh ya? Pahlawan banget kamu. Mengesampingkan diri sendiri demi orang lain atas nama cinta. Hati kita juga punya hak untuk bahagia. Kita punya hak untuk memohon pada-Nya. Meski semua sudah ada takdirnya. Kamu masih bisa untuk meminta. Ternyata cuma sebatas itu cinta kamu buat dia. Sebatas sampai ada yang jagain dia. Ternyata kamu lebih bodoh dari pada aku.”
“Sudah terlalu lama aku berharap lebih. Memperjuangkan itu semua meski kadang tanpa sambutan. Sekarang saatnya semua serahkan kepada Allah sebagai pemilik hatinya. Jika dia memang jodohku, berarti aku sedang menjaganya selama ini. Jika bukan, berarti aku sedang berusaha untuk mendapatkan yang lebih baik dari dia. setidaknya aku tidak diam. Dan berpura-pura tidak sayang sama dia. Mencintai bukan sekedar memiliki. Aku harus siap pergi atau di tinggal pergi.”
“Kamu benar, tapi jangan menyerah begitulah. Tetap semangat. Harus yakin Allah tahu apa yang sedang kamu usahakan. Yakin Allah selalu dengar permintaan hatimu. Jangan berkata tidak sebelum Allah menjawabnya.”
“Nggak menyerah, aku selalu berdoa yang terbaik untuk aku dan dia. Mencintai karena-Nya. Biarkan di luruskan atau di redakan.”
"Kata ayahku Allah itu punya segalanya untuk di kabulkan. Cepat atau lambatnya doa terkabul tergantung seberapa khusuk dan serius kita meminta. Jadi kamu jangan tanggung-tanggung mintanya. Yakinlah Allah memberi yang terbaik.Jadi jangan kecewa saat jawabannya berbeda dengan yang di harapkan."
“Semoga yang terbaik selalu untuk kita semua.”
 

Agustus 29, 2012

~status fb tentang hati~ [2]

Simponi fajar mengalun damai..

Butiran embun sejuk membasuh nadi..
Menunggu mentari hangatkan pagi..


3 jeda berulang tiap hari

Seperti aku menunggu di sini..

Menanti damai, sejuk dan hangat..


~status fb tentang hati~


Kamu tidak pernah tahu seberapa dalamnya. karena kamu belum benar-benar masuk. 

Kamu tidak pernah tahu seberapa sakitnya, karena untuk sekedar tahu saja kamu tidak mau.


Tapi,

Dengan mudahnya kamu keluar.

karena aku juga membiarkannya.


~status fb tentang hati~


Rumput tidak pernah lelah bergoyang, ada waktunya ia diam, kering dan mati..

Kamu tidak pernah berhenti mencari, adakalanya menunggu, lelah dan?


Menunggu lagi?

Mencari?

Atau mati?


~status fb tentang hati~


Sejak kapan kamu bersahabat dengan kata?

Sejak aku mulai suka menguraikannya, ternyata mereka asyik di ajak bicara.

Sejak kapan kamu mulai suka kata?

Sejak aku mengenal rindu tapi ragu menyapanya, Sejak aku mengenal rasa tapi aku bingung mengungkapnya.

Terus sejak kapan kamu kenal rindu?

Sejak aku mengenal cinta. 

Umm... sejak kapan kamu mengenal itu semua?

Jauh sebelum kamu mulai bertanya.


~status fb tentang hati~


Aku mengenalmu melalui KATA... lalu mulai akrab saling berbagi kata membentuk cerita. Jaga baik-baik ya jangan sampai kamu menghilang di kemudian hari tanpa KATA... Karena jika itu terjadi aku tidak bisa lagi berkata-kata...


~status fb tentang hati~


Sudah pekat, kemudian penat, lalu apa yang bersahabat? Hati yang terikat? kenangan yang berkelabat? coba dorong kuat-kuat, siapa tahu masih ada celah yang bisa aku lihat. Semoga saja lekas lepas dari jerat.

Hai apa hatimu berkabut? Ku bawakan setangkai bukat, ya itu usahaku untuk memikat. Apa berhasil?




Agustus 28, 2012

~status fb tentang hati~ [1]

  • Pertemuan itu tidak ada yang kebetulan bukan? semoga saja berbanding lurus dengan jodohnya.
  • Banyak hati yang silih berganti menyapa, menemani, merindukan, mencintai, ada juga yang berkorban. Mereka datang dan pergi dengan caranya masing-masing, ada yang pelan-pelan bak bayangan yang hilang di balik cahaya. Ada pula yang begitu cepat, seperti kilat yang hanya terdengar gelegarnya saja. Tapi hati manakah yang jadi jodohmu? tambatan hatimu? belahan jiwamu? mana ada yang tahu, siapa yang membawa garansi kebahagiaan itu.
  • Pada nyatanya akan ada satu hati yang kelak terpilih, yang menemani hingga tua. Apa itu hati kamu? kita lihat nanti, di waktu yang tepat doa itu akan terjawab.
  • Jika dalam sebuah permainan, aku sudah memiliki dua tiket, satu untuk menjemputmu, satunya untuk membahagiakanmu. Tapi di dunia yang sebenarnya aku baru memiliki tiket yang pertama. Karena yang satunya masih di kamu.
  • Aku yakin doamu yg terbaik untukku, pastinya doaku tidak lepas untukmu. Semoga saja doa itu berjodoh hingga melahirkan yg terbaik untuk kita. semoga!
  • Aku punya dua hal ; usaha & doa. Bagaimana jika kita mulai merencanakannya bersama? bersedia?
  • Kita sedang berjalan beriringan, menikmati hembusan angin yang sama. Merasakan hangatnya mentari yang menyapa. Dan terkadang di perjalanan kita berhenti sejenak. Kamu menemaniku, aku memperhatikanmu. Kita saling menyemangati, meski pada akhirnya belum bisa di pastikan akan berlabuh di tempat yang sama. Setidaknya bagiku kamu akan selalu dalam keadaan baik ketika menujunya. Dan bagimu, aku ada untuk menopangmu. Bukankah begitu?

HATI

Hanya satu yang benar-benar akan tinggal di sana. Akankah itu kamu? kamu bersedia?Tinggal tunggu waktu yang tepat, hati itu akan memilih.Ikatan suci akan jadi jawabannya. Duduk manis saja di sana, di hati. Sederhana bukan?
  • Sedang menunggu pekat, untuk raga yang berselimut. Mata memejam berkabut. Menggelar mimpi, mulai merajut. Esok hari masih misteri, episode baru akan menanti. Labirin rindu panjang berliku, hari yang cerah akan menyapamu. Lantas ke mana lagi hati menuju? kepada Tuhan pemilik rindu.
  • Di mana puncak rindu? di ujung penantianmu? aku rasa bukan, karena ada di ujung lidahmu. Katakanlah..
  • Kecup mimpimu malam ini, dalam balutan doa, penghantar nyenyak selimut raga. Sampai bertemu di sepertiga malam-Nya. Tempat mengadu, menuai asa. Jangan lupa besuk namaku dalam setiap bisikan kata. Aku mencintaimu karena-nya. Semoga di luruskan atau di redakan.

Dear

Debar hati berbisik doaEntah ke berapa kali tersebut nama yang sama.Asa dan rasa meleburnya.Resah yang ada, jodoh menjemputnya.
You 
Yang ku tunggu hanyalah satu.Orang yang sama sejak mengenalmu dulu.Untuk hati, hanya kamu. 

Dear You.
  • Kita sedang melaju, perjalanan masih sangat jauh. Ujungnya saja belum nampak. Kadang penat tidak bersahabat, adakalanya lengang. Terik dan suka berganti teduh bahkan hujan. Lingkarkan saja lenganmu yang erat di badan. Bersantailah, kamu aman di belakangku. Kita bersama melaju perjalanan ini, menuju satu tujuan yang sama. Rumah kita.

Agustus 20, 2012

Airmata

Dalam haru biru butiran-butiran air mata tumpah ruah, bak anak kecil yang memadati taman bermain. Ada yang mulai berkoloni, riang bak baru mendapatkan mainan baru. Berjalan ke sana ke mari memamerkan kepunyaannya. Ya... pergelatan akbar itu di mulai. Gerbang fitrah baru saja di buka. Para air mata yang sudah membentuk kelopok kecil berbondong-bondong menujunya. Gelembung kristal itu beraneka ragam, ada yang butirannya cukup besar, bening, tembus pandang seolah ingin menunjukkan apa adanya,  ketika menyapanya kamu akan mendapati kesejukan dan ketenangan yang tiada tara, lalu rasa nyaman akan menjalar ke seluruh tubuhmu, melenturkan sendi-sendi yang lama kaku. Air mata ini yang paling istimewa, kehadirannya sangat di damba, di pelihara agar tidak tumpah sia-sia, karena hanya rasa ikhlas dan tulus selalu mengiringinya. Air mata itu memiliki mata seteduh senja, lahir dari mata seorang ibu yang selalu memaafkan anak-anaknya. Selalu hangat kasih sayang dalam peluknya. Selalu lembut dalam tutur katanya. Ketika kamu menyapa air mata itu, kamu akan tersadar besarnya pengorbanan seorang ibu yang melahirkanmu. Menjaga dan membesarkanmu. Melindungi dan mengajarimu. Lalu air mata bening itu mulai beriring menuju muara fitri. Mengawali lembaran baru.

Di sudut lain, aku bertemu dengan air mata lainnya, kelompoknya lebih sedikit, berdiameter lebih kecil tapi melebar, mereka  juga bening, seakan aku bisa bercermin dengannya. Ketika menyapanya kamu juga akan mendapati kesejukan. Bak sedang bermain di bawah pancuran air tejun. Membasahi pori-pori kepalamu, hingga membuatmu tenang, seolah tidak ada beban yang menghantam. Meresap ke kulit sampai ke tulangmu. Air mata ini di bubuhi cinta karena Allah, di ikat janji suci, kesetiaan. Butiran itu terlahir dari mata seorang suami yang meridhoi kesalahan istrinya, dari mata seorang istri yang mengabdi kepada suaminya. Dari mata seorang teman kepada sahabatnya. Dari mata seorang murid kepada gurunya. Dari mata seorang adik kepada kakaknya. Kelompok air mata itupun menuju ke muara yang sama, muara fitri. Mengawali episode berikutnya.

Aku menelusuri sudut lain, kini aku bertemu dengan kelompok air mata paling banyak jumlahnya. Butirannya besar-besar. Tidak terlalu bening, tapi cukup jernih meskipun jika di perhatikan lebih dalam, masih banyak butiran-butiran noda di dalamnya, menggumpal dan ada yang sudah benar-benar pecah hingga mencemari ke jernihan air mata tersebut. Tapi air mata inilah yang paling bersemangat menuju ke muara. Seolah-olah waktu perhelatan akbar ini adalah moment yang tidak boleh di lewati sedetikpun, waktu yang sudah lama di nanti sebagai ajang untuk meletupkan kesalahan-kesalahan, membersihkan bercak-bercak hitam. Mencairkan hati yang membeku karena ego. Air mata yang lahir dari hati seorang anak yang menyesali perbuatannya. Seorang anak yang tersadar atas kesalahan-kesalahan yang di buat terhadap kedua orang tuanya. Seorang anak yang begitu lalai menanggapi nasihat orang tuanya. Yang suka membantah perkataan ibu bapaknya. Yang kerap kali membuat kesal keduanya. Kelompok air mata ini semakin lama semakin banyak, bak air bah yang mencari lorong yang lebih lebar untuk menumpahkan segalanya. Membersihkan onak-onaknya. Air mata yang mencari kehangatan. Mencari keridhoan. Bergerombol bergabung di muara fitri. Menyesali semua tingkah lakunya yang tidak baik.

Ketika muara fitri sudah di padati oleh air mata-air mata yang berlabuh, dan gerbangnya akan di tutup. Seketika sebutir air mata yang hampir lahir prematur tertatih menuju muara. butirannya paling kecil di antara yang lain, sebatang kara. Tubuhnya tidak sempurna, seolah habis di paksakan untuk keluar. Akan tetapi ia juga ingin ikut bergabung bersama yang lain. Berharap lahirnya tidak sia-sia. Butiran kecil itu menunduk sepanjang perjalanan, tidak berani menatap butiran lainnya. Ia merasa seluruh mata sedang menatap iba kepadanya. Kalian tahu butiran air mata itu milik siapa? Ia air mata itu ingin lahir dari hati yang keras. Dari mata yang sekuat tenaga ingin menangis, tapi usahanya belum juga membuahkan hasil. Dari diri yang merasa tidak memiliki keberanian untuk sekedar memeluk ibunya, yang tidak pernah bisa mengeluarkan kata ‘maaf bu’. Dari hati yang sulit sekali tersentuh, dari kelopak mata yang susah sekali untuk sekedar berkaca-kaca. Dari kelenjar air mata yang tidak juga tumpah meskipun di paksakan. Itulah butiran kecil yang terlahir dari mataku. Dari seorang anak yang membeku oleh penyesalan dalam. 

***        

Dimanakah kata maaf itu akan berarti? Ketika ia telah meluluhkan ego yang berjumawa. Ketika ia telah melonggarkan sendi-sendi kerasnya hati yang bernoda. Ketika ia menjadi syifa untuk luka yang menerpa. Menghapus noda-noda yang mencela. Lalu dimanakah aku memperoleh maaf? Dari hati yang ikhlas menerima. Semoga kan ku dapat maaf itu dari sana..

Uzay Gingsull 'Hanya Tulisan' mengucap maaf setulus jiwa..
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H 
Minal aidin alfa idzin
Mohon Maaf Lahir Batin..


Agustus 18, 2012

Cerita ABG Anak SMA


CERITA ABG SMA 18+

Ini kisah kenakalan anak-anak ABG SMA di sekolahnya. Cerita 18+ Paling baru.

Lonceng sekolah mulai berdentang nyaring, sejumlah siswa baru berlarian memasuki kelas masing-masing. Rupanya ini hari pertama untuk mereka memulai lembaran baru, masa putih abu-abu, SMA favorit yang selalu jadi pilihan. 

Lima belas menit berlalu, pak Kardi sudah harus menutup gerbang sekolah, bersamaan dengan itu seorang anak cewek lengkap dengan atribut MOS-nya tergopoh-gopoh menghampiri dari arah luar gerbang. Rupanya ia telat. Rambut kepang dua dengan pita warna-warni berhias batok kelapa, Sarnisa menyoren kantong tas dari terigu dengan pernak-pernik cabe dan bawang. 

“Paaaaaaak-paaaaaak sebentar paaaaak.” Sarnisa terengah-engah mengatur napas, dengan nada memohon meminta di izinkan masuk. 

“Nggak bisa neng sudah peraturan sekolah, hari pertama kok telat.” Geleng pak Kardi sambil menyempurnakan menutup gerbang yang sempat tertunda. 

“Pak, tolong pak baru pertama kali ini telat pak.” Suara lain dari sisi luar ikut berdemo. Rupanya Sarnisa memiliki teman yang senasib pagi ini.  Mas-aih tidak kalah aneh, memanggul karung goni, batok kelapa dan embel-embel lain. 

Pak Kardi malah berlalu meninggalkan kedua anak baru itu sambil sesekali terkekeh. 

“Mau nekat masuk gak?” Mas-aih menawarkan solusi. 

“Nekat? Maksudnya?” Sarnisa tidak mengerti. 

“Ayo ikut gw deh. Oh iya gue Masaru Galih, panggil saja Mas-aih.”  

“Sarnisa.” Perkenalan tanpa berjabat itu terjalin. Kini keduanya berputar ke arah belakang sekolah. Mas-aih yang menjadi pemandu.

Suara gemuruh dari lapangan mulai terdengar, masa orientasi siswa sudah resmi di gelar. Masa keemasan bagi senior-senior yang ingin balas dendam, atau sekedar usil kepada calon adik-adik kelasnya. 

“Kita lewat sini,” Mas-aih menunjuk sebuah tembok belakang sekolah, yang bagian kawatnya sudah agak lenggang. “Gue duluan,” sekilas ia memperhatikan Sarnisa dari ujung sampai kaki, “loe bisa manjat sedikit kan?” Mas-aih ragu. 

“Bii... bisa.” Sarnisa benar meragu. Tidak cukup tinggi kalau mengingat ia pernah memanjat pohon jambu di pekarangan rumahnya. Tapi rasa takut yang membuat sedikit gemetaran kakinya. Takut ketahuan. 

“Hei... bisa minta toloooong?” Mas-aih memanggil seseorang dari arah dalam, rupanya ia agak kesulitan untuk turun karena permukaan dalam lebih tinggi. Yang di panggil memandang ragu. Lalu menunjuk bagian dadanya sendiri, untuk meyakinkan bahwa dirinya yang sedang di panggil seseorang yang memanjat tembok sekolah. 

“Iyaa... tolong ambilin bangku yang ada di situ. Gue nggak bisa turun nih, tolong ya.” Mas-aih menunjuk bangku yang sudah tidak di pakai dari arah kantin. Yang di mintai masih nampak ragu, tapi ia mulai melangkah ke tempat bangku berada. 

Tidak harus bersusah-susah Mas-aih mendaratkan kakinya, “Terima kasih, gue Mas-aih... Nis aman ayo naik.”  Serunya melihat Sarnisa yang masih meragu. Lalu menyodorkan tangan untuk membantu. 

“Hei tunggu nama loe siapa?” panggil Mas-aih ketika melihat yang membantunya tadi melenggang.
“Aglen.” Tanpa menoleh.

 “HEI... KALIAN BERTIGA IKUT SAYA KE RUANG BP.” Suara garang satpam sekolah menggema bersamaan dengan jejak kaki pertama Sarnisa di dalam. 

“Oooow...” mereka berbarengan sambil melirik satu sama lain. 

Itulah cara mereka bertiga berkenalan, Sarnisa, Mas-aih dan Aglen di sekolah pilihan mereka. Hari pertama sama-sama bermasalah dengan satpam sekolah, tentunya Aglen hanya kena getahnya. singgah di ruang BP, lalu berakhir di halaman sekolah, kena hukuman. 

Tapi bermula dari situlah persahabatan ketiganya terjalin. Sarnisa yang agak tomboy, smart dan riang, Mas-aih yang aktif, pandai bicara dan mudah bergaul. Aglen kutu buku dan lebih pendiam dari kedua temannya. Ketiganya saling memotivasi, sering belajar kelompok. Selalu di ikut sertakan dalam study banding antar sekolah dan tidak jarang pulang dengan piala yang menjulang. 

Satu lagi tempat favorit mereka, Angkringan Enak di kantin luar sekolah, tempat mereka menghabiskan waktu sepulang sekolah. Atau mencuri waktu ketika istirahat. Karena seringnya mereka ke sana, sampai di cetuskan sebuah nama khusus  KANTIN ANAK SMA (Kantin Angkringan Enak Sarnisa-Mas-aih-Aglen). Tiga orang siswa, meski bandel tapi berprestasi.  

NB: Mungkin ga sesuai dengan tema, tapi setidaknya cukup ampuh untuk menjerat mangsa hehe...

CERITA ABG ANAK SMA – CERITA REMAJA SMA – KENAKALAN ANAK SMA

Agustus 15, 2012

Menuju Titik Itu

Pagi yang menyisakan sejumput malam dan menjanjikan siang, selaksa doa dieja, harapan di ukir, cita menjadi jembatan masa depan dan cinta sebagai bahan bakar yang tak boleh habis sepanjang perjalanan.

Apa bekalmu? apa dayamu? Sekuat apa kuasamu pada dirimu? Se kokoh apa pundakmu? seberapapun itu hanya bagian energi positif untuk tubuhmu, sedangkan hati? keputusan akhir? kembalikan kepada pemilik-Nya.

Saat ujung jalan sudah mulai tampak dimata, sejauh mata memandang, seseorang ada yang mempercepat langkahnya agar lekas sampai pada titik ujung itu. Langsung meraih tujuannya berjalan. Karena ia berjalan menuju titik itu penuh harapan baru, berjuang menempuh sampai akhir. Ada yang ingin dicapai di sana. Atau sekedar menyapa.

Agustus 14, 2012

Aku Hanya Rindu

"Kenapa menangis?" di ujung ponsel tidak ada lagi kata yang terdengar, sejenak hening bergantian dengan isakan kecil. Mendengar itu Farhan mulai ikut berkaca-kaca. Tanda tanya besar menggelayutinya, ada apa gerangan di ujung sana. "Apa kamu baik-baik saja?" Farhan mulai khawatir, menunggu jawaban yang bisa melegakannya. Sebenarnya sedang ada apa di sana? apakah semua dalam keadan baik? tanda tanya itu seolah mengikat kuat ke lehernya dan segera ingin ia lepas. 

"Gapapa mas, aku baik, hanya saja rindu ini mencair menjadi tangis setelah mendengar suaramu. Maaf aku jadi cengeng." Sarah berusaha mengendalikan perasaan, air mata yang di bendungnya berbulan-bulan kini meledak bak air bah meluluhkan semua pertahanannya. Rasa khawatir, rindu, kesal, gundah, kini tersapu sejak tidak lebih dari lima menit penantian itu terbayar, sebuah kabar dari sang suami yang bertugas untuk negaranya. 

"Maafkan aku, lebaran ini aku pulang. Aku janji." Pertahanan Farhan pun ikut terkoyak, tidak bisa di elakan sejatinya dirinya pun merasakan hal serupa. Tugas berat di pundaknya harus tergadai oleh rasa rindu dan keluarga.


Agustus 13, 2012

Dini Hari

Hembusan angin segar menyeruak dari sela kaca jendela dan pintu, menggigilkan ragaku yang tak bermantel. Cukup lumayan untuk mengusir kantuk yang bergelantungan di kelopak mata. Dari balik setir ini aku mengontrol laju kendaraan, teman... lebih tepatnya rumah keduaku ketika di jalan. Di jok yang sudah tak lembut permukaannya ini aku bertahan sepanjang hari. Menahan terik panas yang memantul dari kaca depan. Dari macetnya jalanan ibu kota. Tapi kali ini benar-benar masih dini, jalanan masih tampak lenggang, meskipun ada beberapa titik sudah mulai merapat. 

Belum begitu banyak penumpang, masih terlalu dini untuk mereka berkeliaran, bercengkrama dengan dinginnya kota. Baru dua orang yang aku bawa untuk aku antarkan ke tujuannya, satu di antaranya sedang tersunut-sunut menahan kantuk, aku asumsikan ia baru saja pulang kerja, mungkin melembur, terlihat dari pakaiannya yang sudah tidak rapi, rambut berantakan dan peluh seumur jagung masih menetes di pelipisnya, meskipun aku sendiri merasakan dingin yang teramat. Satunya lagi tampak lebih segar, berkebalikan dengan yang pertama, aku terka ia akan pergi kerja jika melihat pakaian yang ia kenakan cukup rapi dengan rambut yang baru selesai di sisir. Sangat kontras pemandangan yang ku lihat, hanya satu yang sama dari keduanya, sama-sama berjuang untuk keluarganya di rumah. Aku yakin itu.

Lima meter perjalanan berlalu, satu di antaranya turun, membayarkan satu lembar uang dua ribuan, sebagai rezeki pertamaku pagi ini. Tidak berselang waktu, satu ibu sedang menenteng beberapa ikat kangkung, dan memanggul karung kecil men-stop mobilku, sudah di pastikan ia dari pasar. Lalu di susul oleh dua anak berseragam sekolah, mengingat fajar sudah mau usai. Ya... hampir tiap hari aku dapati mereka... para penumpangku, dengan karakter dan tujuan berbeda aku antarkan satu persatu sampai tujuannya, dari fajar sampai pekat malam aku tekuni sebagai ibadah dan kebutuhan.

Untuk itu aku harus selalu bangun lebih awal agar saat mereka butuh tumpangan aku sudah ada, jauh lebih awal ku jemput rezekiku yang di titipkan melalui mereka. Salah satu yang bisa aku ambil pelajaran untuk hidup, bahwa semua ini datang dan pergi, naik turun menemui tujuan masing-masing, sama-sama berjuang untuk diri dan keluarga mereka. Meskipun tanpa ada yang mau singgah lebih lama untuk sekedar menggantikan posisiku, di balik setir ini. Setidaknya aku nikmati perananku ini. Seperti mereka, karena aku juga punya tujuan, keluarga kecilku di rumah.


 

Agustus 12, 2012

Bayangkan DL Itu Tidak Ada

Bayangkan jika DL tidak pernah ada di dunia, semua akan berantakan, tidak tepat waktu, semau sendiri, tidak ada tanggung jawab, berleha-leha, tidak bersungguh-sungguh, tidak ada persiapan yang matang. Dan ingat DL kehidupan adalah kematian, DL termisterius karena tidak ada yang tahu datangnya.


Masa sekarang pun (hari ini) akan menjadi masa lalu, sehari kemudian, satu minggu kemudian, satu tahun kemudian. Dan selama belum ada gerbang kematian akan selalu ada masa depan, masa depan saat remaja, masa depan saat berumah tangga, masa depan di hari tua, dan akan berhenti sejenak saat tutup usia. Lalu bagaimana dengan masa depan di akhirat? berarti masih terus berlanjut bukan? Yang pasti ada sisi positif tidak di ketahui DL dari kematian, akan selalu berusaha menampilkan yang terbaik, akan selalu waspada ketika sewaktu-waktu di minta, akan selalu di perbaiki agar semakin sempurna, setidaknya kita tidak mau apa yang sudah susah payah kita persiapkan, kita kerjakan pada waktunya banyak revisi atau bahkan akan di tolak mentah-mentah. 

Masa lalu, sekarang, masa depan dan DL kematian. Sudahkah mempersiapkannya?

 

Agustus 11, 2012

Menahan

Tepat pukul 12, ketika terik matahari sedang panas-panasnya. Dua orang sedang istirahat, bersandar pada kursi. Keduanya tampak tenang, tapi keadaan dalam mereka yang sedang di uji, yang satu sedang berjuang keras mempertahankan puasanya. Saat sahur ia hanya menyuap 3 butir kurma sisa ta'jil yang ia dapat dari masjid. Karena takut terhadap Tuhannya. Ia tetap berpuasa meski sejak buka kemarin belum ada makanan berat sampai ke lambungnya. Ia tahu tidak ada alasan untuk meninggalkan puasa meski dalam keadaan kekurangan. Baginya puasa bukan hanya sekedar kewajiban, tapi sudah menjadi kebutuhan. Ia masih harus berpikir keras untuk buka mencari rezeki ke mana, tepatnya mencari mushola yang menyediakan ta'jil berbuka, untuk sekedar membatalkan puasanya. Masih ada setengah hari untuknya menahan diri, untuk sejenak mengalihkan rasa lapar, ia putuskan menuju mushola untuk menunaikan shalat.

Satu orang lagi dari keduanya mulai menguap. Ia merasa mulutnya sangat asam, perutnya tidak terlalu bergejolak, karena sejatinya ia sahur dalam keadaan serba kecukupan, dengan lauk yang banyak. Dengan pasokan gizi dan makanan enak. Seperti biasa setelah sahur ia niat berpuasa. Tapi siang ini ia mulai gelisah, pertahanannya di uji.  Untuk mengurangi gelisahnya, ia beranjak mencari ruang lain yang lebih sepi. Tanpa pikir panjang ia keluarkan sebatang rokok yang menggodanya sejak sejam tadi. Ia hisap penuh perasaan lega. Tanpa penyesalan, tanpa merasa berdosa telah mengingkari niat puasanya.

Agustus 09, 2012

KAMU ADA SUDAH CUKUP

Awan tampak semakin gelap, tapi belum juga ada tanda-tanda akan turunnya hujan. Sepasang mata resah sedang mendongak, melihat langit yang belum juga mengabulkan harapannya. Keni menghela napas panjang, mungkin ini memang sudah waktunya, tekadnya bulat. Rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa, rasa-rasanya malam ini juga akan ia mulai. Kembali ia mendongakan kepala, untuk memastikan kembali keadaan langit itu, tetap nihil, tidak ada perubahan.
            “Kamu jadi akan pergi?” Kima menatap sendu. Berharap sosok cowok yang selama ini menjadi pelindungnya tidak benar-benar pergi. Cukup lama kebersamaan mereka terjalin, suka duka mewarnai keseharian. Buat Kima, Keni-lah satu-satunya alasan kenapa sampai saat ini ia mampu bertahan hidup.
            “Jadi... Umm,” sesaat Keni balik menatap mata sendu itu, berharap ia mampu mereda kecemasan, meyakinkan, bahwa Kima akan baik-baik saja sepeninggalannya nanti, “aku sudah bosan di sini, tidak ada air, tidak turun hujan, tidak ada perubahan. Dan finally, ini keputusanku.”  
            “Apa tidak sebaiknya menunggu sebentar lagi? Siapa tahu yang kita tunggu akan turun malam ini? atau mungkin besok.” Kima menengadah, berharap langit akan berpihak kepadanya, meskipun ia sendiri tahu, itu tidak mampu menahan orang yang ia sayang mengurungkan niatnya.
Sejenak semua seakan terhenti, hanya suara Kima yang terdengar jelas di telinga Keni. Suara setengah memohon untuk tidakpergi, setengah merelakan. Keni menghampiri, meletakkan tangannya di dua sisi bahu Kima. “Kamu sudah lihat sendiri, sudah berbulan-bulan langit hanya murung, tapi tidak jua meneteskan airnya. Jadi tidak ada alasan lagi yang bisa menahan ku di sini.” Kima tertunduk lesu, matanya mulai berkaca-kaca. “Yakin kamu tidak ingin ikut aku? Tidak mungkin kan kita akan selamanya begini terus. Aku pastikan di tempat yang baru nanti, kita tidak akan kekurangan air. Di sini terlalu gersang, sudah tidak banyak pepohonan. Kita berangkat malam ini juga, gimana?”
Kima menggeleng lemah. Apa aku bukan alasan yang kuat untuk kamu bertahan di sini? nyatanya hujannya sudah turun Ken, apa kamu benar-benar tidak melihatnya? Aku sudah merasakannya, ia membasahi bulu mataku, merembas sampai hatiku yang sebentar lagi kehilangan. Lalu bagaimana kamu bisa berkata aku akan baik-baik saja? Kima terisak dalam diam, tatapannya kosong berusaha sekuat hati untuk tetap terlihat tegar, ia tidak mau kesedihannya menjadi beban untuk Keni melangkah. Namun pedih hatinya tidaklah bisa di bohongi. Berkelebatan memori kebersamaannya dengan Keni, setiap celahnya masih tersimpan rapi. Hatinya mulai ciut, terbayang mulai esok hari tanpa ada sosok yang melindungi, menopangnya ketika jatuh. Merangkulnya ketika lemah. Sosok yang begitu penting dalam hidup Kima. Sosok yang pernah menyelamatkannya dulu dari kematian yang nyaris terjadi. Ia meratapi perpisahan yang belum benar-benar terjadi.
“Aku pergi Kima, baik-baik ya di sini. Setelah aku temukan air, aku pasti kembali menjemputmu. Aku janji.” Keni tersenyum pamit, ia mulai melangkah, meninggalkan Kima yang sudah tidak bisa berkata apa-apa. Bayangannya semakin menjauh bersamaan malam yang semakin pekat. Kamu sudah pernah ada pun, sudah cukup. Kima limpung sudah tidak memiliki kekuatan.
***
Keesokan harinya.
“Gilaaa bro, Jakarta makin exstrim ya panasnya.”
“Ia, gimana nggak panas, semakin hari jadi lautan beton gini bukan ladang hijau yang di utamakan. Mall terus yang di bangun, bukan taman kota. Lihat tuh katak saja nggak kuat, sampai mati gitu.”
Dua orang penyapu jalan berbincang-bincang, satu di antaranya menyapu bangkai katak yang sudah gesang tersengat matahari. Kima mati mengenaskan, sedangkan Keni tidak ada yang tahu ke mana langkah kaki membawanya.  

Agustus 08, 2012

Pemimpin

Ada pemimpin yang tidak menyadari sedang di olok - olok oleh bawahannya. Apa salah dia? mungkin karena ketika berdiri di atas ia lupa tujuan awal dirinya di pilih. Tidak peka terhadap hak-hak bawahan dan lalai dengan kewajiban.
lalu apa dia masih punya muka untuk tetap memimpin?

Ada juga bawahan yang selalu menaruh curiga kepada pimpinannya. Ada apa dengan dia? Mungkin ia lupa yang sedang berdiri di atas adalah pilihannya, orang yang di percaya memperjuangkan hak-haknya. Siapa tahu bawahan itu hanya menuntut hak, tanpa membantu pimpinan menyelesaikan kewajibannya atau menunaikan kewajibannya sendiri.
Lalu apa masih ada yang tidak mengaku telah memilih?

Setiap jiwa adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan di mintai pertanggungjawabannya.
Kedewasaan bukan sekedar kematangan usia, tapi kadang kala seseorang di tuntut selalu pandai menempatkan posisi, menyeimbangkan antara hak dan kewajiban. Saat ia berhasil, sudah kah ia di anggap dewasa? pastinya ia lebih baik dari pada yang hanya pandai bicara tanpa ada bukti nyata.

Agustus 07, 2012

Anggap Saja Hujan

“Kenapa? Kelihatannya resah banget?” Remi datang menghampiri Rena yang menatap kosong ke luar jendela. Simponi gerimis mengalun, tidak membuatnya nyaman di ujung senja ini.  Rena hanya sekilas melirik Remi yang datang.

Agustus 06, 2012

3 Orang Resah

Tiga orang yang terlihat resah, satu di antaranya berulang kali memperhatikan laju jarum jam, menunggu bus atau metromini lewat, hari ini adalah hari pertamanya magang, dan pagi ini pula ia kesiangan. Ada kecemasaan di wajahnya mengingat waktu makin siang. 

Satu dari yang lainnya terlihat lebih santai, beruncang-uncang kaki di bangku halte, sambil memainkan games ke sukaannya di hape, atau sesekali tersenyum membalas sms yang masuk. Tapi itu semua hanya upaya dia untuk menghilangkan resah, karena seharian penuh akan berhadapan dengan mata pelajaran di sekolah. sebenarnya Ia tidak pernah ingin sekolah, tapi sudah terlalu sering mendapatkan teguran dari wali kelas. Dan sudah tidak memiliki alasan lagi untuk absen ke sekolah. Dengan setengah hati ia melangkah. 

Satu orang lagi dari kedua lainnya, terlihat mulai sibuk mengerjakan pekerjaan rutinnya. Menyapu dan membersihkan jalan dari sampah-sampah pembungkus makanan sisa-sisa remaja yang nongkrong semalam. Di tengah-tengah aktifitasnya, sesekali Ia melihat kedua orang yang sama-sama berada di sebuah halte, terlihat kedua orang yang di perhatikannya itu sudah menaiki bus menuju tujuan masing-masing. Tinggal ia berteman  resah, mengingat kesalahan besar yang pernah ia buat. Tentang kesempatan emas yang dulu di berikan. Tentang pilihan masa depan yang tidak ia gunakan. Seseorang itu mulai menyesali keputusannya, seandainya kesempatan sekolahnya dulu tidak di sia-siakan, mungkin hari ini ia bisa menggunakan baju putih hitam dan magang di perusahaan. Ia membatin.

Seseorang ada yang bijak mengambil peluang, ada yang berleha-leha menanggapinya, cuek bahkan tidak peduli, tapi itu semua adalah pilihan yang kelak ia juga yang akan merasakan. 

Agustus 05, 2012

Muara 3 Rasa

Seseorang sedang tertatih, mengikuti aliran air yang terus membawanya, kadang aliran itu menahan perlahan, kadang pula deras menguji pertahanan. Tapi apapun caranya, bagaimanapun rintangannya, seseorang itu yakin suatu saat bisa berada di muara itu, berlabuh di sana,  yang ia kenal muara Cinta...

Seseorang sedang mengikuti hembusan angin, yang menerbangkannya ke negeri kedamaian, kesejukan, tapi kadang juga terlempar ke dimensi yang menyesakan, menyakitkan. Tapi apapun rasanya itu, bagaimana suasanya, seseorang itu yakin suatu saat angin itu membawa ke muara kehangatan, yang ia sebut muara Rindu...

Seseorang sedang mencari arah persimpangan, berliku-liku, ia menemukan tepian, terperangkap ke jalan buntu bahkan jurang, tersesat. Tapi ke manapun kaki melangkah, sebesar apapun terjalnya, seseorang itu yakin suatu saat akan menemukan persimpangan yang sebenarnya. Jalan yang menuju muara, ia mengenalnya muara Persahabatan...

Pada waktunya ketiga pejalan itu, bertemu di satu muara yang sama, saling mengenal, saling berbagi kisah dan pengalaman, berbagi bekal dan buah tangan. Ketiganya sepakat memberi nama muara itu, MUARA 3 RASA...