Oktober 30, 2017

TENTANG SI LELAH DAN EGONYA

Putri,
terkadang kita harus pandai memahami egonya Si Lelah. Tidak untuk selalu dituruti kemauannya. Karena itu bisa membuatnya jadi lebih manja. Tidak jua harus dipaksa tetap melakukan apa yang sudah tidak ia mau. Sebab, itupun tidak membuat ia akan selalu baik-baik saja.

Yang harus kamu lakukan adalah, coba bujuk ia dengan bijak. Jika memang kamu melihat ia masih sanggup berjuang sedikit lagi. Ingatkan ia tentang tujuan-tujuan yang masih jauh dari jangkauan. Tentang apa-apa yang sejauh ini ia perjuangkan. Semoga dengan begitu, ia kembali bersemangat.

Kalau yang kamu lihat sebaliknya. Si  lelah itu sudah benar-benar terlihat payah. Alangkah baiknya, sesekali biarkan Si Lelah itu istirahat. Teruslah berdoa, agar ia selalu memiliki kekuatan untuk meneruskan setiap usahanya. Mewujudkan apa-apa yang menjadi alasan berlelah-lelahnya.

azura-zie.com

Oktober 27, 2017

SELAGI DI DUNIA

Kita tidak pernah tahu, kebaikan seperti apa yang akan kita terima sepanjang hari ini. Pun, demikian, kemalangan macam apa yang akan kita temui.

Bismillah, apapun itu. Bila datangnya dari-Mu, kami ikhlas, kami ridho. Sebab, kebaikan itu adalah satu di antara kasih sayang-Mu. Sepatutnya kami syukuri. Semoga bertambah, bertambah dan ditambahkan. Hingga mendulang berkah.

Sebab, kemalangan itu adalah satu di antara teguran-Mu. Seharusnya pun kami sabari. Semoga dengan begitu, menjadi tidak mudah lalai dan lebih berhati-hati. Menjaga diri dalam bertingkah.

Apa-apa yang akan kami terima hari ini, bila itu memang menjadi hak kami. Semoga bisa kami manfaatkan sebaik mungkin untuk beribadah. Dan apabila ada hak orang lain yang secara tidak sengaja kami ikut cicipi. Semoga Engkau bijak, hisablah selagi kami di dunia. Dengan cara yang paling lembut. Dengan kasih sayang. Sebagaimana Engkau mendengar pengaduan hamba-hamba yang bertaubat.

Hisablah selagi dunia, karena di akhirat kami tak mampu menanggung siksa.

Aamiin

Azura-zie.com

Oktober 25, 2017

APA YANG KAU GENGGAM?

"Hei anak muda, apa yang sedang ada di dalam genggamanmu?"

Entah datangnya dari mana, tiba-tiba pak tua sudah berada di sampingku. Ketika aku sedang mengikat tali sepatu.

"Yang digenggam, pak tua?" Aku mengernyitkan dahi, jelas-jelas kedua tanganku sedang berkutat dengan sepatu dan talinya.

Pak tua menyeringai, duduk bersila di samping kananku.

"Rasulullah mengibaratkan keadaan akhir zaman untuk seorang muslim itu ibarat menggenggam bara api. Bila pada zaman ini kau belum merasa menggenggam bara itu, kau hebat atau sebaliknya, kau payah."

Seperti biasa kata-kata pak tua selalu berhasil membuat otakku berpikir lebih keras. Hebat atau malah payah?

"Kau hebat, itu artinya imanmu tidak dalam bahaya. Aman-aman saja. Sedangkan fitnah di mana-mana. Pikiran-pikiran liberal semakin luas dan bebas. Atau sebaliknya, kau payah, tidak tahu sama sekali bahwa imanmu perlahan-perlahan sedang digerogoti, seperti api membakar daun kering."

Hatiku tiba-tiba mencelos, tidak pernah terpikir sampai seperti itu.

"Jadi apa yang sedang kau genggam anak muda?"

"Aku tidak tahu, pak tua." Aku mengeluh.

Pak tua menyeringai, memperbaiki posisi duduknya.

"Di akhir zaman ini, yang perlu digenggam oleh anak muda seperti kau, minimal genggamlah rasa takut. Setiap kita adalah seorang pemimpin, dan setiap pemimpin dimintai pertanggungjawabannya nanti. Dan kau laki-laki, lebih banyak lagi yang harus kau pimpin. Diri sendiri, pemimpin istri jika kau sudah menikah, bahkan memimpin keluarga jika kau punya anak. Tugasmu tidak sederhana, sudah tercatat dalam Al-Qur'an, bagaimana kau harus memastikan keluargamu jauh dari api neraka. Minimal genggamlah rasa takut. Takut apa yang kau perbuat, yang kau katakan, kau janjikan, tidak bisa kau pertanggungjawabkan."

Aku mengangguk, mencermati setiap kata yang keluar dari lidah pak tua.

"Satu lagi anak muda, kalau kau sudah punya istri, titip pesan untuknya. Yang harus digenggam untuk seorang perempuan di akhir zaman ini adalah minimal genggamlah rasa malu. Coba kau perhatikan, sebagian kaum hawa semakin terbuai dengan gelarnya sebagai 'perhiasan dunia'. Lupa dengan nasihat Rasulullah berikutnya, bahwa sebaik-baiknya perhiasan adalah perempuan solehah. Lihat di social media, perempuan-perempuan zaman sekarang, seolah saling berlomba memperlihatkan kecantikannya. Benar-benar menunjukkan bahwa mereka adalah 'perhiasannya' dunia. Ingin dikagumi setiap waktu penampilannya. Nah, ingat baik-baik yang aku sampaikan ini. Agar kau bisa menasehati istrimu nanti. Agar terhindar dari fitnahnya dunia."

Aku mengangguk paham, merasa beruntung pagi ini bertemu lagi dengan pak tua.

"Jadi, kapan kau menikah?" Pak tua bangun, kemudian menepuk pundakku.

Aku tertohok.

Azura-zie.com

Oktober 21, 2017

MUSIM YANG BAIK

Musim hujan sudah kembali, Putri.
Bukan tentang seberapa banyak kenangan yang datang menyertainya.
Tapi, seberapa banyak doa-doa baik itu terjamin didengar oleh-Nya.
Bukan berarti doa yang didengar hanya di saat hujan saja.
Tapi, ini tentang kesempatan baik yang seharusnya tidak dilewatkan oleh kita.
Bukan tentang salah satu waktu diijabahnya doa itu, adalah di kala hujan.
Tapi, ini tentang harapan, hujan yang turun membawa keberkahan, bukan kemudhorotan. Karena dengan doa, Insya Allah takdir yang buruk akan tertunda. Alih-alih diganti dengan takdir yang lebih baik oleh-Nya.

Di musim ini, aku tidak akan mengingatkanmu tentang sedia payung, kenakan selalu jaket dan pintar-pintarlah jaga kesehatan. Sebab, dengan membaca tulisan ini pun seharusnya kamu sudah ingat.
Aku hanya ingin bilang, jaga kesehatan itu, 11-12 seperti keseharusan kamu menjaga iman. Bukan berarti antara iman dan kesehatan itu derajatnya disamaratakan. Sebab, iman yang sehat, segalanya akan menjadi lebih baik. Sebab, tubuh yang sehat, ibadahpun menjadi lebih baik. Dan hujan adalah musim yang baik.

Satu hal lagi, Putri.
Seperti kebiasaanmu di kala hujan, akan selalu bilang tentang turunnya. Di mana pun itu, kapan pun itu. Yang ini akan aku beritahu, hanya untuk kali ini saja kuberitahunya. Saat itu pun seharusnya aku sedang berdoa. Karena menurutku doa yang lebih baik adalah yang disertai ingatan. Tentangmu, tentang hujan dan doa-doa yang sengaja dilangitkan.

azura-zie.com

Oktober 13, 2017

PERISTIWA SHUBUH PART 2

Setelah sekian lama tidak bertemu dengan pak tua, tiba-tiba saja ia bertanya.

"Hei anak muda, siapakah yang mengimami shalat Subuhmu setiap pagi?" Tanyanya seperti biasanya dengan raut wajah bergurau.

"Maksudnya gimana pak tua?" Aku mengerutkan dahi. Meskipun sebenarnya aku paham dengan pertanyaannya. Tapi tidak paham dengan maksudnya.

"Masa pertanyaan semudah itu kau tidak mengerti."

"Sejujurnya lebih sering kesiangan dan shalat di rumah, pak tua. Sesekali ke masjid jadi makmum imam masjid. Kadang juga malah jadi masbuk." Jawabku seadanya.

"Seberapa banyak jamaah shubuh yang sesekali kau ikuti itu?"

"Ya nggak lebih dari sepuluh orang dewasa, termasuk sang imam."

Kulihat pak tua menyeringai. "Bisa jadi segelintir itulah yang mengantar kerandamu nanti."

Aku terhenyak.

"Bisa jadi juga, orang-orang itulah yang menjadi saksi, kalau kau pernah ikut menjadi jamaah shubuh selama hidup di dunia."

"Pandai-pandailah kau bersyukur masih menjadi bagian yang segelintir itu." Katanya kemudian, sambil berlalu. Meninggalkanku dalam perenungan yang panjang.

azura-zie.com

Oktober 11, 2017

PERCAKAPAN ASA & DOA PART 3

Suatu hari, ketika suasana Hati sedang lapang-lapangnya. Tanpa sengaja, ia mendengar percakapan Doa dan Asa, membicarakan tentang Rindu.

"Apa pendapatmu tentang Rindu." Asa bertanya.

"Rindu adalah sesuatu yang membuat aku jauh lebih lama dalam berdoa." Doa menjawab dengan tulus. "Kalau menurutmu?"

"Hmm... bagiku, Rindu itulah yang menyebabkanku berharap lebih dalam." Jawab Asa sambil tertegun.

Hati pun tersenyum, seraya ikut berdoa dan berharap banyak kebaikan untuk keduanya.

azura-zie.com

Oktober 08, 2017

PADA JANJI-MU, AKU TERIKAT

Pada janji-Mu, aku terikat.
Jika aku bersyukur, maka Engkau tambahkan nikmat-Mu. (14:7)
Lalu seberapa ta'at kah aku pada janji-Mu, bila untuk bersyukur pun harus dibiasakan dulu, dengan mendapatkan sesuatu?

Pada janji-Mu, aku terikat.
Bila aku mengingat-Mu, maka Engkau pun akan mengingatku. (2:152) Lalu seberapa seringkah aku benar-benar mengingat-Mu, bila lebih sering lupa untuk menunaikan kewajibannya.

Pada janji-Mu, aku terikat.
Bila aku berdoa kepada-Mu, maka Engkau akan kabulkan semua itu. (40:60)
Lalu seberapa butuhkah aku akan dikabulkannya doa itu? Bila lebih banyak prasangka buruknya, dibanding dengan percaya. Bila doa-doa itu masih terkesan asal-asalan dan ala kadarnya.

Pada janji-Mu, aku terikat.
Bila aku memohon ampunan, maka Engkau akan menunda datangnya adzab. (8:33)
Lalu bagaimana bila adzab-Mu yang lebih dulu datang, di saat aku sedang lalai dalam kesalahan. Naudzubillah.

Sungguh, pada janji-Mu, aku terikat.
Dan sungguh-sungguh, aku berharap, bila Engkau memenuhi janji-Mu, semoga aku benar-benar dalam keadaan yang ta'at.
Aamiin.

azura-zie.com

Oktober 05, 2017

SEBELUM TERASA TERBURU

Sebelum waktumu, terasa terburu. Adakah sejenak kamu benar-benar merasa cukup? Cukup mencari lebih dari yang ada di genggaman. Buang jauh-jauh yang sedang ingin di angan. Jauh dari jangkauan. Memang jauh dari kemampuan. Merasa cukup, yang ada di genggaman pun bisa dirayakan dengan penuh rasa kesyukuran.

Sebelum waktumu, terasa terburu. Adakah sejenak kamu benar-benar merasa cukup? Cukup menunggu sesuatu yang tidak pasti datang. Buang jauh-jauh ekspekatasi yang sudah berlebihan. Mengiming-imingkan harapan semu. Sedangkan ketidakpastian itu menyita banyak waktu untuk di tunggu. Merasa cukup, melangkah lagi dengan penuh keyakinan. Untuk kesempatan lain yang benar-benar datang di hari kemudian.

Sebelum waktumu, terasa terburu. Luangkanlah sejenak untuk memikirkan keputusan. Bahwa, hidup tidak semestinya terhenti di tempat. Tidak juga bergerak hanya karena masa lalu yang masih saja mengikat.

azura-zie.com

Oktober 02, 2017

SETELAH BERUSAHA & BERDOA

Setelah berusaha, bukan berarti segalanya menjadi terwujud sesuai dengan asa. Adakalanya, ada waktu-waktu semua itu, hasilnya di luar rencana. Jauh dari perhitungan. Boleh jadi, hasil yang lebih baik itu jauh-jauh hari sudah di tetapkan. Hanya saja, kita butuh usaha lebih dan banyak kesabaran.

Setelah berdoa, bukan berarti saat itu juga segalanya menjadi lebih mudah. Adakalanya, ada waktu-waktu doa-doa itu terasa belum juga dikabulkan. Menanti cemas kapan kabar baik itu akan datang. Boleh jadi, ketika sudah jenuh berdoa, justru semakin jauh dari apa yang sudah disiapkan sebagai penggantinya. Jika memang yang kita minta dalam doa, memang bukan ditakdirkan menjadi milik kita.

Untuk itu, sekalipun terasa lelah, pun jenuh. Tetaplah, jangan berhenti berusaha. Jangan sampai putus berdoa. Karena kita tidak pernah tahu, kebaikan macam apa yang sedang menunggu di depan. Karena doa dan usaha kita. Pun kita tidak akan tahu, keburukan macam apa yang akan terjadi kemudian. Jika kita memutuskan berhenti untuk berdoa. Berhenti untuk berusaha.

Karena tidak ada yang bisa mengubah takdir, selain dengan doa.

azura-zie.com