Oktober 29, 2014

di masa depan

di masa depan kita perlu merencanakan ini. sebuah ruangan berdinding rak buku. lengkap dengan koleksi aneka jenis bacaan. novel berbagai genre, kumpulan sajak dan prosa, komik, cerita bergambar. tentu saja buku-buku agama dan ilmu pengetahuan juga tersedia. sebagian koleksi, hasil buah tangan dari karya penulis-penulis favorit kita. sebagian lain referensi dari teman atau memang bacaan yang kita sedang/akan butuhkan. 

ruangan itu di sulap menjadi senyaman mungkin, sebagai tempat mengisi waktu luang di sela-sela rutinitas harian. buku-bukunya disusun dengan sedemikian rupa, tidak kalah rapi dengan rak buku perpustakaan besar kota.

membaca buku berjam-jam sembari menyantap potongan-potongan buah, itu hal yang menyenangkan bukan? ketika mata mulai lelah, istirahat sejenak. kita bisa mendiskusikan banyak hal. membahas tentang apa-apa yang sudah kita baca. saling mengemukakan pendapat masing-masing.

di masa depan kita perlu membicarakan tentang rencana ini. bagaimana menurutmu? tertarik tidak?

dan saat ini boleh kutahu kamu sedang membaca buku apa?


Adsumber : google







Oktober 28, 2014

bagaimana caranya membuatmu berhenti mengharapkanku?

bagaimana caranya membuatmu berhenti mengharapkanku?

kita sama tahu, harapan itu sulit untuk ditebak keinginannya. jangankan menghentikan harapan orang lain, harapan sendiri pun kadang sangat sulit untuk dipahami. alih-alih harapan yang punya porsi berlebihan.

lalu aku berpikir bagaimana caranya membuatmu berhenti mengharapkanku?

mungkinkah aku perlu membangun tembok hati yang tinggi menjulang ke langit? tembok kokoh tanpa celah sama sekali. aku rasa akan percuma jika sifat harapanmu bisa menembus dinding setebal apapun itu. bukankah kadang harapan sekeras kepala itu, ia tidak peduli harus berhadapan dengan apapun. sekalipun jelas-jelas tengah berhadapan dengan kenyataan.

dan seringkali harapan tidak mempan dengan kata perintah atau larangan bukan? ia tidak pernah mau mendengar titah untuk berhenti segera, bahkan untuk pergi menjauh selamanya.

harapanmu akan selalu bersikukuh dengan pendiriannya. sekalipun ia tahu hati yang selama ini ia perjuangkan, sudah tidak lagi menerima perhatiannya. hati itu sudah memiliki tujuan yang berbeda.

tapi sungguh aku ingin mencari tahu, bagaimana caranya membuatmu berhenti mengharapkanku?

atau kamu punya usul untuk hal ini? karena sejauh ini aku belum menemukan jawaban yang melegakan, ketika sewaktu-waktu berperan menjadi sepertimu.





Oktober 04, 2014

teduh

 setiap orang berlomba-lomba mencari tempat berteduh. entah dari dinginnya air hujan ataupun teriknya sengatan matahari. kamu tahu kenapa? bukankah seharusnya mereka tetap melangkah untuk mencapai tujuan masing-masing?

aku tidak tahu. dan tidak merasa perlu mencari tahu. karena aku pun sedang berteduh di bawah atap toko usang -yang sepertinya sudah tidak berfungsi.

hujannya menderas, aku memilih berteduh sejenak tidak ingin tertangkap basah telah hujan-hujanan ketika bertemu denganmu nanti. meskipun kalau saja aku nekat menerobos hujan, tentu akan menghemat waktu. dan pertemuan kita di salah satu toko buku menjadi lebih lama.

mungkin kamu sekarang sedang resah menungguku. bukan karena takut aku akan terlambat. tapi kekhawatiran yang suka agak berlebihan itu yang membuat suasana hatimu tidak nyaman. padahal aku baik-baik saja jika hanya satu dua kali hujan-hujanan.

umm.. nyaman ya. sejenak aku berpikir, bagaimana jika aku yang merasa lebih nyaman berada di tempatku berteduh sekarang. padahal tempat keberadaanmu kini adalah tujuanku.

bagaimana kalau aku merasa lebih nyaman berdiam diri dibandingkan menerobos hujan untuk bertemu denganmu?

seketika aku menengadahkan telapak untuk mengecek rintik hujan yang turun. ah sudah jauh mereda. aku akan bergegas, terus berjalan, terus melangkah untuk satu tujuan. sekalipun aku harus berteduh, berteduhlah di bawah atap yang sama denganmu. seperti halnya rasa ini yang selalu ingin berteduh di hatimu.

jangan khawatir, segera aku ke sana.







Oktober 03, 2014

hujan dan doa yang melangit

tidak lagi mendengar kabarmu seperti halnya musim kemarau yang merindu datangnya hujan.

ia tidak tahu kapan hujan itu akan tiba ke bumi membawa pesan langit. berisi jawaban atas harapan-harapan yang ia bisikkan selama ribuan menit.

kamu mungkin pernah mendengar sebuah kiasan, selama ini hujan lah satu-satunya perantara yang menghubungkan langit dan bumi.

tentang komunikasi di antara dua ruang yang saling berjauhan. cara menyapa yang unik dengan tanpa pernah bersentuhan.

aku ingin belajar menantimu setabah kemarau menunggu rintik hujan. sabar meski dalam waktu yang cukup panjang. menunggu waktu yang tepat mendatangimu untuk bersama merajut masa depan.

tidak sekarang. seperti halnya bumi yang percaya, ada waktu-waktu tertentu hujan itu akan lebih sering datang.

aku menunggumu seperti bumi menanti pesan langit yang di bawa oleh hujan. dan aku tidak keberatan sekalipun nantinya akan kebanjiran harapan.

jika hujan berperan sebagai penghubung bumi dan langit. bukankah kita pun memiliki doa? doa yang melangit.