Mei 28, 2013

Kayu bakar

*Rencana adalah bagian dari pembakaran semangat

Mari sejenak kita coba berfilosofi dengan kayu bakar.

Kalian tahu setumpuk kayu bakar di tungku perapian akan selamanya menjadi potongan kayu jika tidak disulu oleh api. Sedangkan jika ada nyala api sedikit saja, meskipun lambat serpihan kayu itu akan habis terbakar. Apalagi jika nyala apinya membesar, ditambah amunisi minyak tanah atau bensin, hanya hitungan detik saja kayu bakar itu menjadi arang matang, atau bahkan abu. Tiada sisa.

Nah anggap saja potongan kayu bakar yang menumpuk di tungku perapian adalah rencana-rencana yang kalian sudah susun, sedangkan percikan-percikan api adalah semangat juangmu. Tergantung bagaimana kobaran apimu bekerja, semangatmu terbakar. Maka sekejab saja rencana-rencana yang kamu susun itu menjadi tujuan nyata keberhasilan. Kayu-kayu bakar itu menjadi abu yang diterbangkan angin. Bebas dari belenggu tungku api.

Apakabar dengan rasa syukurmu?

Apakabar dengan rasa syukurmu? masihkah dilumuri oleh keluhan?
Apakabar rasa bahagiamu? masihkah diteriaki oleh tuntutan keinginan?

Aduhai, bukankah banyak yang menyimpulkan kalau kebahagiaan itu sederhana? Banyak contoh teladan kisah orang yang pandai bersyukur dekat sekali dengan bahagia?

Lalu apakabar fungsi hatimu? masihkah bisa menyerap sejuknya sebuah penerimaan? dari bulir-bulir keringat keikhlasan.

Mei 23, 2013

Rembulan yang mengikuti

Kau tahu tidak kenapa saat mendongak ke langit ketika berjalan, bulan yang cantik itu selalu mengikuti langkahmu. Terus-menerus mengiringi ke mana pun kau pergi. Kau berhenti, ia ikut berhenti. Kau menambah langkah jauh-jauh, ia ikut bergerak lebih cepat. Kau melompat, mungkin ia pun ikut melompat. Setia di atas kepalamu.

Sedangkan ketika melihat sekelilingmu, rumah-rumah, pohon-pohon,dan segala macam lainnya, justru semakin membelakangimu. Seperti mundur menjauh, semakin tertinggal.

Kau tahu kenapa?

Apa yang selalu berada di atasmu, meskipun berjarak jauh itulah harapan yang kau punya, semangat sepanjang langkah jejakmu. Sinarnya menuntun sampai selesai perantauanmu, ke muara tujuan. Sedangkan yang menjauhi ke belakang itulah masa lalumu, masa yang hanya untuk kau toleh sebentar, melihat sudah seberapa jauh kau melangkah, seberapa dekat lagi kau capai apa yang menjadi tujuan perjalanan.


Bahagia yang egois

Ada orang yang ketika berbahagia egois sekali. Mungkin jika ia mampu menghentikan waktu sejenak saja, ia akan meminta semua jarum jam berhenti bekerja, meminta bumi berhenti beraktivitas sementara. Bumi diam sebentar untuk berhenti berotasi. Siklus perguliran waktu distop sampai kebahagiaan itu lebih terasa sempurna. Lebih berumur panjang. 

Lalu ia mulai mengultimatum dunia agar semua perhatian tertuju kepadanya. Melihat satu titik yang sama, titik yang paling berbinar. Melihat betapa ia paling bercahaya, dengan bola mata yang menawan, dengan rona wajah yang berseri. Dengan senyuman terbaiknya. Lihat, betapa egoisnya dia, seolah ia pemilik satu-satunya si bahagia. Ratu dari kedamaian hidup.

Atau boleh jadi ini hanya pemikiran yang berlebihan, boleh jadi keegoisannya itu hanya cara untuk mengklaim satu hal, bahwa ada bahagia yang ingin sekali dibagi bersama, ada bahagia yang butuh pengakuan sesama. Ada bahagia yang tidak ingin ia rasakan sendirian. Ada bahagia yang terasa tidak ada apa-apanya jika terabaikan.

Berlaku juga dengan kesedihan. 

Mei 21, 2013

Rindu yang berkarat

Rindu yang berkarat, sekarat.

Jauh, menjarak, melebar, tak lagi mengerucut. Mengundang tunggu, berteman jemu.

Tak lagi terdefinisi, tak beraturan. Tak lagi ada kebetulan, tak bersinggungan.

Mulai pudar, terlanjur memutar.

Sulit diterjemah, jauh terjamah. 

Berjalan, melangkah, mencari, ada tujuan, jauh dari kesia-siaan.

Jangan hanya singgah, lalu pergi. Ini tempat berlabuh, menepilah di sini.

Dalam keterbatasan sapa

Dalam keterbatasan sapa, ada rasa yang tak kenal batas. Menerjang pembatas, berharap bebas.

Lucu sekali kinerja sebuah rasa. Tersirap dalam rindu. Memuai perlahan melalui pori hati. Hujan kembali bersama harapan.

Lucu sekali kelakuan hati. Kadang terlalu banyak memilih. Tapi kepalang kecewa ketika tidak dipilih.

Sedangkan hati masih butuh asupan kejelasan. Sebelum cenderung samar dalam kekecewaan.

Mei 18, 2013

KIAT-KIAT MENCONTEK SUKSES KETIKA UJIAN

Di dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh subur, menjamur, dan lama-lama menjadi lumrah dan dianggap satu hal yang biasa saja. Salah satunya kebiasaan contek-mencontek. Apalagi di kalangan para pelajar. Bahkan semakin modern cara-caranya, sistematis, tidak lagi sekedar perorangan, tapi berkelompok, estafet. Woooow menarik sekali bukan? yang sudah berpengalaman , banyak makan asam garam pasti sudah paham sekali soal ini. Boleh jadi sedang senyum-senyum sendiri, mengingat betapa menyenangkannya mencontek ini. Betapa terpacunya adrenalin. Betapa mahir dan enerjiknya saat itu.

Mei 15, 2013

hal-hal yang datang sekejab

Ada hal-hal yang datang sekejab, seumuran jagung tapi pada akhirnya menetap lama. Beranak pinak kesan yang dibawanya. 

Ada yang hanya singkat menyapa, layaknya umur embun. Tapi sepanjang jalan tidak mudah untuk dilupa. Terus terngiang-ngiang tak kenal bosan bersuara.

Dan juga sebaliknya, ada yang lama bertamu, mengiringi sepanjang jalan, cerewet sekali seperti alarm yang diaktifkan. Tapi nasibnya tidak mujur, mudah dilupa begitu saja.

Perkara ini memang tidak pernah sederhana, pada akhirnya lagi-lagi kebutuhan yang terpilih, tak peduli lagi dengan kebiasaan.

Kenyamanan yang mengambil peran, bukan karena hal itu selalu ada di sepanjang jalan.


Tak jemu kah kamu?

Tak jemu kah kamu dengan kelemahan sendiri, yang tidak pernah berani menguatkan diri.

Tak jemu kah kamu dengan kesalahan yang terulang, tanpa upaya untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Tak jemu kah kamu atas kemalasan diri, yang menghambat langkah kaki untuk memperbaiki diri.

Tak jemu kah kamu dengan keras kepalamu tidak bisa mendengarkan nasihat orang lain, tanpa mau mengkoreksi cacat dalam diri.

Tak jemu kah kamu atas rasa kuasa yang berlebihan, tanpa mau merendahkan hati untuk menerima kekurangan orang lain.

Tak jemu kah kamu atas keluhan-keluhan panjang, ratapan-ratapan putus asa. Tanpa mau lebih belajar menerima apa-apa dengan lapang dada.

Tak jemu kah kamu, merasa paling benar, merasa paling layak, merasa paling menderita, merasa paling harus dikasihani. Sedangkan tahu kah kamu, ada yang sudah benar-benar jemu menunggu sikap/sifatmu berubah. Diri yang berada dalam tubuhmu sendiri, yang sebenarnya ingin menjadi lebih baik. Tapi selalu terhalang oleh kebiasaan-kebiasaan lama.


(masih) Selalu ada yang berkesudahan

(masih) Selalu ada yang berkesudahan

Dalam perjalanan panjang, ada kata kembali yang mengantarkan pulang.
Bukan soal perjalanan atau waktu kepulangan, rahasia kecilnya yang berkesudahan adalah kebersamaan.

Dalam masa pertemuan, ada kata pergi yang mendasari perpisahan.
Bukan soal bertemu atau berpisah yang memang sudah ditulis takdirnya. Rahasia kecilnya yang berkesudahan adalah kebersamaan.

Bagaimana mungkin kebersamaan ini menjadi sentral sebuah lingkaran kehidupan?

Boleh jadi hal itulah yang memutuskan perkara pertemuan, perpisahan, kehilangan jadi lebih berharga.

Selalu ada yang berkesudahan

Selalu ada yang berkesudahan. Ketika kau sedang dilanda kerumitan, seolah beban tertumpu semua di pundak. Seakan dinding-dinding dunia menyempit, udara tak lagi melegakan. Segala yang ada hanya menambah sesak. Gigit kuat-kuat, bahwa selalu ada yang berkesudahan. Ada kemudahan setelah kesulitan.

Selalu ada yang bersetelahan.
Ketika kau merasa semesta sedang berbaik hati meminjami sebagian anugerahnya. Seolah kau adalah primadonya para makhluk yang diberi kemudahan ke sana, kemari. Terasa begitu lapang dada dan pikiran. Kunyah cepat-cepat, selalu ada yang bersetelahan. Bersyukur selagi terjaga, roda hidup masih berputar seperti adanya.

Selalu terjaga untuk tidak mudah menyerah, sekalipun lelah. Selalu ada yang berkesudahan.

Selalu terjaga untuk tidak pernah terlena, sekalipun senang. Selalu ada yang bersetelahan.

Dan harus selalu ada hati yang bersyukur di setiap keadaan.


Mei 14, 2013

Rekreasi otak

Katamu di suatu moment yang tidak disengaja. Atau aku lebih suka menyebutnya satu waktu yang menyempitkan ruang dunia luar kita. Di satu jeda waktu yang sama. Di jendela jarak yang sedang terbuka.

Katamu, aku bukan sok tahu. Tapi, aku suka berhasil memutar balikkan definisi, dari keadaan yang sebenarnya. Pandai melihat sisi lain dari kecemasan suatu perkara. Mengubahnya menjadi energi yang lebih positif. Begitukan katamu? ah... padahal aku cuma mengarang saja, memilih nama yang lebih asyik di telinga. Yang tidak terlalu menggiungkan. 

Mei 13, 2013

rahasia kecil


Setiap diri memiliki ruang rahasia di hatinya. Entah tentang kekaguman, harapan, penyesalan, rasa malu atau bahkan ketakutan. Rahasia kecil yang sengaja dipeliharanya. Tentang sesuatu yang dibiarkan menggumpal lama. Elastis sekali,  ketika teringat ia akan menggelembung (tanpa pernah pecah), ketika terlupa ia tipis sekali. Setipis lapisan bawang. Meskipun tetap ada, tak ke mana-mana. 

Lambat laun hanya menjadi ingatan ketika terkenang.

terlambat

Banyak yang sedang menghela napas, perlahan-lahan, berharap agar sedikit melega.

Banyak yang sedang menatap kosong ke depan. Dalam lamunan panjang. Mencari celah agar pikiran lebih merdeka dari rumit yang silang sengketa.

Banyak yang sedang menelan ludah pahit-pahit. Mata panas membulat. Tenggorokan tercekat. Berharap apa yang ia dengar atau ia lihat hanya fatamorgana yang di visualkan sang waktu. Tidak nyata.

Awan - Hati Berkabut


Mendungnya langit selalu nampak dari awannya.
Mendungnya hati tidak selalu terlihat dari wajahnya.

Awan putih berarak memayungi cerahnya hari.
Hati bersih penyejuk, menyelimuti kebaikan diri.

Awan hitam menyimpan gumpalan gemuruh petir.
Hati muram mengandung bulir-bulir airmata, siap mengalir.

Gumpalan awan semakin besar semakin menakjubkan.
Gumpalan perasaan yang tertahan, lama-lama benar menjengkelkan.

Begitulah kiranya, yang nampak di mata lebih mudah diterka. Yang tersimpan rapi di hati akan selalu tersembunyi.



Mei 08, 2013

Itu yang berharga. Jaga baik-baik.

Selalu ada yang berhasil membuatmu tertawa, minimal senyum bukan? di sela-sela letihnya aktivitasmu. Itulah yang berharga. Jaga baik-baik.
Selalu ada yang peduli menyisihkan waktunya untuk mendengarmu, bertanya keadaan, minimal menyapa bukan? itu yang berharga. Jaga baik-baik.
Selalu ada yang mau menegur, memberi nasihat dan masukan-masukan baik, minimal mengingatkan ketika ada satu kekeliruan bukan? Itulah yang berharga. Jaga baik-baik. 
Kalaupun pada akhirnya tidak ada lagi hal yang demikian. Buat ia selalu ada dengan kamu melakukan hal yang sama. Itu yang berharga. Jaga baik-baik.
Dan pada akhirnya sadar tidak sadar kamu akan berterima kasih kepada waktu yang masih mengikat kebersamaan. Bersyukur atas izin yang masih diberikan. Kemudian melafal doa, "Semoga Tuhan menitipkannya lebih lama,"
Itu yang berharga. Jaga baik-baik.