Di dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh subur, menjamur, dan lama-lama menjadi lumrah dan dianggap satu hal yang biasa saja. Salah satunya kebiasaan contek-mencontek. Apalagi di kalangan para pelajar. Bahkan semakin modern cara-caranya, sistematis, tidak lagi sekedar perorangan, tapi berkelompok, estafet. Woooow menarik sekali bukan? yang sudah berpengalaman , banyak makan asam garam pasti sudah paham sekali soal ini. Boleh jadi sedang senyum-senyum sendiri, mengingat betapa menyenangkannya mencontek ini. Betapa terpacunya adrenalin. Betapa mahir dan enerjiknya saat itu.
Semua mimpi tertuang dalam pikiran, seluas dunia Lakaran Minda, di ruang yang lebih nyata.
Tampilkan postingan dengan label Shout Out. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shout Out. Tampilkan semua postingan
Mei 18, 2013
April 18, 2013
LAWAN PELECEHAN SEKSUAL - JANGAN MEPET-MEPET YA!
Kalau menilik judul artikel di
atas miris sekali bukan? sejenak menelan ludah dari kondisi zaman yang semakin
melambung modern, tapi sayangnya tidak dilandasi dengan kokohnya benteng diri,
perilaku sikap terpuji dari segelintir penghuninya. Mirisnya yang tadinya
segelintir itu semakin hari bukannya semakin punah tapi semakin merebak bagai
benalu yang merambat terus di pohon induknya. Kehilangan rasa malu, rasa takut
dan rasa hormat. Siapa lagi kalau bukan kaum perempuan yang lebih banyak
menjadi korban nafsu-nafsu kebinatangan yang liar itu. PELECEHAN SEKSUAL
menjadi sorotan media di mana-mana.
Maret 18, 2013
Parsial | AYO JUJUR
Kejujuran selalu memiliki tempat di hati kebaikan. #ayojujur
Kejujuran membawa dampak bahagia dan kelapangan hati yang melakukan.#ayojujur
Februari 18, 2013
GAMPANGNYA MENJAGA KEBERSIHAN
Angin
mendesir berulang kali, menerbangkan daun-daun tua kecoklatan ke segala arah. Berserakan
di atas tanah lapang yang lengang. Di atasnya berdiri sebuah rumah tua yang
cukup besar. Suasana pagi masih senyap, belum banyak orang yang berlalu lalang.
Mungkin karena semalam hujan, udara menjadi lebih dingin pagi ini. Membuat
orang agak bermalas-malasan untuk beraktivitas.
Desember 18, 2012
Bulan Menanam Pohon : Kisah Ben & Nalu
Bening embun pagi menyapa ujung
dedaunan yang nampak menguning. Semilir angin lembut menjatuhkan tetesnya,
membasuh ranting pohon yang sudah menua. Beberapa helai daun lain
terombang-ambing, melayang bebas perlahan mengikuti telisik angin yang
menerbangkannya. Sampai menuju tanah lapang yang telah dilapisi bebatuan ‘aspal
trotoar’.
Sinaran mentari menghangatkan
pagi. Awan-awan cerah berarak bebas melapisi langit biru, memutih. Tidak nampak
kehidupan di bawah payung langitnya. Seekor burung pun seakan enggan terbang
mengitarinya. Cuaca cerah, tapi pias. Hanya debu-debu tebal berhamburan -kasat
mata-, beriring dengan embun-embun yang mulai memuai ke angkasa. Satu pohon
besar menjulang. Satu-satunya penanda masih ada kehidupan –yang kasat mata- di
sana. Tumbuh, tapi pupus. Murung, disisa-sisa usianya.
Kulit tuanya sudah mulai keropos
terkelupas. Menjadi sarang rayap beserta koloni-koloninya. Kering kerontang
dengan napas yang mulai putus-putus kehabisan karbondioksida. Hanya di dua
sudut dahan besarnya yang masih terlihat hijau. Di sanalah tumbuh pohon benalu
yang sudah berpuluh-puluh tahun menumpang tinggal di pohon besar itu. Benalu
yang kian harap-harap cemas, mengedarkan pandangannya mencari dahan pohon baru
yang masih perkasa. Tapi sayang, pohon besar ini satu-satunya tempat tinggal
yang tersisa, setidaknya yang layak ditempati. Entah sampai kapan masih mampu
berdiri menampung mereka.
“Ben, kasihan ya nasib
pohon-pohon zaman sekarang ya.” Setengah berteriak Nalu menyapa Bena yang
letaknya memang berjauhan.
“Maksudnya?”
“Iya, kalau zaman dulu usia
pohon-pohon itu bisa sampai puluhan tahun, bahkan ada yang ratusan. Mereka masih
segar bugar nggak keropos seperti pohon yang kita tinggali ini. Tumbuh besar
dan tingi-tinggi. Dulu bumi masih hijau, udara masih segar. Oksigen yang
dihasilkan tumbuhan masih bersih nggak bercampur polusi. Tanahnya masih subur,
jadi akar-akar tumbuhan bisa menyerap intisari bumi dengan leluasa. Coba sekarang?
Untuk napas saja susah sepertinya, apalagi di tengah kota seperti ini. Lihat
tuh pohon kecil yang baru seminggu di tanam manusia, belum apa-apa sudah kering
duluan. Katanya sih buat pengganti kalau pohon besar ini sudah mati. Tapi mana sempat,
pengganti kok menunggu pohon yang lain lapuk lebih dulu. Gimana toh nasib kita
ini Ben?”
“Ah, Loe suka nggak nyadar diri.
Kan tanaman seperti kita juga yang ikut andil merugikan pohon secara perlahan.”
Ben menyeringai datar, “Iya, gimana nggak kering pohonnya, udaranya panas gini.
Lagian lihat saja tuh bidang tanahnya sebagian aspal. Kita memang sudah dijajah
Nal, dijajah manusia.”
“Hfff, ternyata loe sepemikiran
sama gue Ben. Gue juga merasa begitu. Tumbuhan memang sudah dijajah oleh
manusia dari tempat tinggalnya, bumi. Dulu nenek moyang kita sebagian besar,
bahkan hampir semua daratan, berkuasa penuh menghijaukan bumi. Menghasilkan oksigen
yang menjadi napas untuk makhluk lainnya, seperti hewan-hewan dan manusia. Padahal
pepohonan yang menyediakan oksigen buat mereka ya. Tapi, seiring populasi
manusia yang semakin meningkat, bangsa kita mulai tersisikan demi kepentingan
mereka. Manusia memang egois, nggak memikirkan nasib bumi itu sendiri. Sekarang
sebagian besar nggak lagi hijau, bahkan nggak lagi coklat karena tanah, tapi
manusia membuat lautan beton di mana-mana. Kejam.”
“Itulah dunia Nal, semua yang
berjalan di atas dunia sebenarnya sedang menuju pemberhentian akhir. Seperti bumi
itu sendiri. Semakin lama semakin hilang nuansa hijaunya, hilang keseimbangannya.
Alih-alih hilang sumber kehidupannya. Tapi selalu ada harapan, masih ada
harapan, akan ada harapan untuk memperbaiki jadi lebih baik. Lihat itu di bawah
kita, contoh kecilnya mereka Nal, bumi menaruh harapan besar kepada mereka. Tangan
mereka yang bisa merubah keadaan ini jadi lebih baik.”
“Benar Ben, gue baru ingat bulan
ini BULAN MENANAM POHON. Semoga saja ya nggak hanya di BULAN MENANAM POHON nya saja
mereka menanam pohon. Tapi setiap harinya ada pohon-pohon baru yang tumbuh merata
dibantu mereka. Pohon yang ke depannya membantu bumi kembali hijau. Udara
kembali segar.”
![]() |
| Sudahkah Anda Menanam Pohon? |
“Ya, semoga.” Ben dan Nalu
tersenyum mengembang melihat beberapa manusia mulai sibuk dengan cangkulnya,
menenteng-nenteng bibit tanaman baru. Ben dan Nalu melihat senang, ada manusia
yang masih peduli dengan bumi. Masih berperan menanam pohon yang mereka
saksikan sendiri di atas pohon tua yang sudah mulai keropos itu. Satu harapan
baru. Ben dan Nalu berharap tidak hanya di sini, tapi di mana-mana harapan baru
itu tumbuh subur. Seiring tumbuhan yang menghijaukan bumi.
Sadarkah kita selama
ini yang menjadi benalu seperti Ben dan Nalu? Sadarkah kita bumi ini sudah
seperti pohon tua itu? Kita yang menumpang hidup di pohon tua itu seperti Ben
dan Nalu. Dan yang pasti kita juga yang memiliki harapan besar itu, harapan
yang akan tumbuh subur dengan bekal tangan kita sendiri. Tangan yang mengubah
bumi menjadi lebih baik.
Oktober 18, 2012
TAWURAN SEHAT
Tak ada yang tahu kematian menjemput kita di mana, sedang melakukan apa bahkan bertanya kita sudah siap apa belum.
Akan sangat merugi ketika saat itu datang, kita sendiri sedang benar-benar melakukan hal yang sia-sia.
Wara-wiri sana sini, nongkrong yang tidak ada manfaat, apalagi untuk seorang pelajar yang seharusnya mencetak medali prestasi ini justru ribut hanya karena persoalan sepele, gengsi, adu jago dengan TAWURAN. Mahasiswa-mahasiswa yang seharusnya bersiap-siap untuk menjadi pemimpin selanjutnya, malah sibuk mencari perkara yang nggak ada manfaatnya. Woy udah bukan zamannya brothers.
Untuk apa? Pembuktian apa? Apa itu usaha kita agar orang tua yang membanting tulang setiap hari tersenyum, lalu dengan bangganya mereka bercerita kepada para tetangganya "Ini loh anak saya udah jago banget berantemnya, kemarin aja baru di tangkap polisi gara-gara berhasil bikin kepala aak orang bocor." Lah?
Ramai-ramai cuma untuk merusak diri, fasilitas umum, nama sekolah, nama baik orang tua. Di anggap sampah oleh masyarakat. Untuk apa?
Apa cuma itu prestasi yang bisa kita berikan? Apa itu yang membahagiakan mereka? Apa itu cara terbaik untuk membalas jasa mereka? Apa itu pembuktian kalau kehadiran kita itu berguna?
NO! Buang jauh-jauh deh kalau punya pemikiran seperti itu. Harusnya buat mereka bangga dengan prestasi gemilang, akhlak yang baik dan pembuktian mimpi mereka dengan melihat kita sukses.
![]() |
| Tawuran udah nggak zama mas bro!! |
Solidaritas kepada teman boleh tinggi mas bro, tapi tetap menjaga hal-hal dengan yang berbau ke mudorotan. Bukan berarti untuk ajang membela teman yang di sakiti dengan membalas secara bergerombol dan ngajakin tawuran. Cemen, mengendalikan emosi sendiri saja tidak berhasil, apa kata dunia?
Empati yang tinggi boleh saja mas bro, tapi coba dengan cara yang lebih baik, lebih santun dan lebih bermanfaat, ingat apa yang terjadi tak lepas dari reaksi sebab dan akibat, mungkin saja memang ada yang harus di perbaiki dengan diri kita sendiri makanya ada akibat yang muncul nggak mengenakan hati.
Hanya yang mampu mengendalikan hawa napsu itulah mereka yang menang, menang atas dirinya sendiri, untuk tidak cepat terbawa emosi, terhasut ajakan yang nggak benar, mengarahkan emosionalnya ke arah yang lebih baik, dan yang pasti akan selalu membuat inovasi baru bukan masalah baru.
Ayo temukan solusi bukan mengembang biakan masalah yang terjadi. Ayo saling mendukung dan memotivasi untuk mencetak prestasi. Ayo saling bergandengan erat untuk membuat bangga dunia, orang tua, sahabat, dan diri kita sendiri.
Tenang, selalu ada kesempatan untuk berubah selama ada keinginan untuk intropeski, memperbaiki diri. Ayo mulai dari diri sendiri dan dengan ini pasti lingkungan pun akan jadi lebih baik. Mari mulai arahkan TAWURAN yang SEHAT, dengan cara berkumpul melakukan diskusi, kegiatan sosial, sama-sama berdedikasi tinggi terhadap pelajaran, mengamalkan nilai-nilai kejujuran dan keimanan. Bentuk kelompok yang lebih membawa manfaat, sama-sama tumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki lingkungan, terutama Negara ini. Jia Yoo.. Tawuran sehat yuuk! lihat diri kita sudah sejauh mana memberikan andil untuk lingkungan, sudah sejauh mana mempersiapkan masa depan.
***
Ya Rabb, aku berlindung dari golongan orang yang tidak pandai mengisi waktu luang, tidak cermat mengambil sebuah kesempatan. Tidak bijak menetapkan sebuah pilihan. Tidak sabar menghadapi kegagalan.
Sesungguhnya apa yang ada adalah milik-Mu. dan akan bermanfaat jika di gunakan atas ridho-Mu.
September 18, 2012
SITUS PORNO Yang Di Akses! [BUKAN]
Tidak terasa sudah sekitar lima bulan perjalanan segelintir anak abg remaja (dewasa) yang tergabung dalam komunitas Blogger Shout Out!, menghijaukan ladang luas dunia internet. Dan untuk project kali ini bertemakan bukan SITUS PORNO. Semakin rumit ya temanya, tapi menantang dan menggairahkan pikiran untuk jadi lebih kreatif, di kemas lebih afik biar hasil semakin maksimal. Sejujurnya sih gue juga masih bingung mau nulis apa, tapi setelah kemarin iseng-iseng cek statistik blog sendiri, ternyata untuk kata kunci ke arah ABG,REMAJA, SMA, dan konotasi lain yang berunsur negatif 'buka-bukaan' lebih banyak di minati oleh penikmat internet. Sehari saja bisa lima puluh kali di akses, kebetulan kan bulan lalu membahas tentang ABG ANAK SMA, Padahal sudah jelas-jelas blog gue ini terbebas dari yang berbau PORNO, tidak ada yang membahas REMAJA SMA yang senonoh, suka buka-bukaan.
Dan sepertinya kata kunci bukan SITUS PORNO menelanjangi hal-hal yang berbau plus-plus akan sangat menantang untuk di buka. Membuat para penikmat internet di luar sana, bergerak tangannya, hatinya dan pikirannya untuk mengakses situs yang lebih bermanfaat, tidak hanya mencari yang berbau SITUS PORNO. Harapannya, semoga khusunya para REMAJA, ABG-ABG SMA, SMP, MAHASISWI, MAHASISWA, dan laki-laki serta wanita pada umumnya akan tersadar akan KENEGATIFAN YANG DITIMBULKAN JIKA 'MENELANJANGI' MEMBUKA SITUS PORNO dan HIMBAUAN UNTUK TIDAK MENGAKSESNYA. Dan bisa mendorong pembaca jadi lebih baik, lebih selektif memilih bacaan yang lebih manfaat. Ayo sama-sama dengan anggota BSO yang serempak hari ini membahas tema bukan SITUS PORNO, siapa lagi yang bergerak hatinya untuk menghijaukan keyword pencarian "SITUS PORNO"?
PS : Maaf ya jika ada kata-kata yang kurang enak di baca, itu cuma bagian dari kata kunci untuk 'perangkap' tema kali ini. hihi... *smile
Agustus 18, 2012
Cerita ABG Anak SMA
CERITA ABG SMA 18+
Ini kisah kenakalan anak-anak ABG SMA di sekolahnya. Cerita 18+ Paling baru.
Lonceng sekolah mulai berdentang nyaring, sejumlah siswa baru berlarian memasuki kelas masing-masing. Rupanya ini hari pertama untuk mereka memulai lembaran baru, masa putih abu-abu, SMA favorit yang selalu jadi pilihan.
Ini kisah kenakalan anak-anak ABG SMA di sekolahnya. Cerita 18+ Paling baru.
Lonceng sekolah mulai berdentang nyaring, sejumlah siswa baru berlarian memasuki kelas masing-masing. Rupanya ini hari pertama untuk mereka memulai lembaran baru, masa putih abu-abu, SMA favorit yang selalu jadi pilihan.
Lima
belas menit berlalu, pak Kardi sudah harus menutup gerbang sekolah, bersamaan
dengan itu seorang anak cewek lengkap dengan atribut MOS-nya tergopoh-gopoh
menghampiri dari arah luar gerbang. Rupanya ia telat. Rambut kepang dua dengan
pita warna-warni berhias batok kelapa, Sarnisa menyoren kantong tas dari terigu
dengan pernak-pernik cabe dan bawang.
“Paaaaaaak-paaaaaak
sebentar paaaaak.” Sarnisa terengah-engah mengatur napas, dengan nada memohon
meminta di izinkan masuk.
“Nggak
bisa neng sudah peraturan sekolah, hari pertama kok telat.” Geleng pak Kardi
sambil menyempurnakan menutup gerbang yang sempat tertunda.
“Pak,
tolong pak baru pertama kali ini telat pak.” Suara lain dari sisi luar ikut
berdemo. Rupanya Sarnisa memiliki teman yang senasib pagi ini. Mas-aih
tidak kalah aneh, memanggul karung goni, batok kelapa dan embel-embel lain.
Pak
Kardi malah berlalu meninggalkan kedua anak baru itu sambil sesekali terkekeh.
“Mau
nekat masuk gak?” Mas-aih menawarkan solusi.
“Nekat?
Maksudnya?” Sarnisa tidak mengerti.
“Ayo
ikut gw deh. Oh iya gue Masaru Galih, panggil saja Mas-aih.”
“Sarnisa.”
Perkenalan tanpa berjabat itu terjalin. Kini keduanya berputar ke arah belakang
sekolah. Mas-aih yang menjadi pemandu.
Suara
gemuruh dari lapangan mulai terdengar, masa orientasi siswa sudah resmi di
gelar. Masa keemasan bagi senior-senior yang ingin balas dendam, atau sekedar
usil kepada calon adik-adik kelasnya.
“Kita
lewat sini,” Mas-aih menunjuk sebuah tembok belakang sekolah, yang bagian
kawatnya sudah agak lenggang. “Gue duluan,” sekilas ia memperhatikan Sarnisa
dari ujung sampai kaki, “loe bisa manjat sedikit kan?” Mas-aih ragu.
“Bii...
bisa.” Sarnisa benar meragu. Tidak cukup tinggi kalau mengingat ia pernah
memanjat pohon jambu di pekarangan rumahnya. Tapi rasa takut yang membuat
sedikit gemetaran kakinya. Takut ketahuan.
“Hei...
bisa minta toloooong?” Mas-aih memanggil seseorang dari arah dalam, rupanya ia
agak kesulitan untuk turun karena permukaan dalam lebih tinggi. Yang di panggil
memandang ragu. Lalu menunjuk bagian dadanya sendiri, untuk meyakinkan bahwa
dirinya yang sedang di panggil seseorang yang memanjat tembok sekolah.
“Iyaa...
tolong ambilin bangku yang ada di situ. Gue nggak bisa turun nih, tolong ya.”
Mas-aih menunjuk bangku yang sudah tidak di pakai dari arah kantin. Yang di
mintai masih nampak ragu, tapi ia mulai melangkah ke tempat bangku berada.
Tidak
harus bersusah-susah Mas-aih mendaratkan kakinya, “Terima kasih, gue Mas-aih...
Nis aman ayo naik.” Serunya melihat Sarnisa yang masih meragu. Lalu
menyodorkan tangan untuk membantu.
“Hei
tunggu nama loe siapa?” panggil Mas-aih ketika melihat yang membantunya tadi
melenggang.
“Aglen.”
Tanpa menoleh.
“HEI...
KALIAN BERTIGA IKUT SAYA KE RUANG BP.” Suara garang satpam sekolah menggema
bersamaan dengan jejak kaki pertama Sarnisa di dalam.
“Oooow...”
mereka berbarengan sambil melirik satu sama lain.
Itulah
cara mereka bertiga berkenalan, Sarnisa, Mas-aih dan Aglen di sekolah pilihan
mereka. Hari pertama sama-sama bermasalah dengan satpam sekolah, tentunya Aglen
hanya kena getahnya. singgah di ruang BP, lalu berakhir di halaman sekolah,
kena hukuman.
Tapi
bermula dari situlah persahabatan ketiganya terjalin. Sarnisa yang agak tomboy,
smart dan riang, Mas-aih yang aktif, pandai bicara dan mudah bergaul. Aglen
kutu buku dan lebih pendiam dari kedua temannya. Ketiganya saling memotivasi,
sering belajar kelompok. Selalu di ikut sertakan dalam study banding antar
sekolah dan tidak jarang pulang dengan piala yang menjulang.
Satu
lagi tempat favorit mereka, Angkringan Enak di kantin luar sekolah, tempat
mereka menghabiskan waktu sepulang sekolah. Atau mencuri waktu ketika
istirahat. Karena seringnya mereka ke sana, sampai di cetuskan sebuah nama
khusus KANTIN ANAK SMA (Kantin Angkringan Enak
Sarnisa-Mas-aih-Aglen). Tiga orang siswa, meski bandel tapi berprestasi.
NB:
Mungkin ga sesuai dengan tema, tapi setidaknya cukup ampuh untuk menjerat
mangsa hehe...
CERITA ABG ANAK SMA – CERITA REMAJA SMA – KENAKALAN ANAK SMA
Juli 18, 2012
Jangan Curi Budaya Kami
Uzay Gingsull “Hanya Tulisan”
Sekitarmu memberikan sebuah pelajaran yang bijak. Ia tak pernah menggurui, melihatnya memotivasi.
No : 03/Project/BSO Jakarta, 18 Juli 2012
Lampiran : -
Perihal : Jangan Curi Budaya Kami
Yth. Saudaraku se Tanah Air
Di
Nusantara
Juni 18, 2012
LAGI GALAU? Pecahkan kode G-A-L-A-U!
“Pagi semua! Loh kok pada lesu gitu? semangatnya manaaaa? Baru jam sembilan pagi loh ini!” dengan tergesa-gesa Glen memasuki ruang kelas BSO. Dirinya agak kesiangan hari ini dan baru ingat kalau pagi ini jadwalnya memberi materi.
“Pagi kak, lagi pada resah nih nunggu kenaikan kelas, ada yang nunggu hasil UMPTN ada juga yang nunggu di terima lamaran kerjanya. Kalau aku sih galau gara-gara tugas kuliah. Jadi kita-kita lagi galau berjamaah deh!” kata Ca Ya mewakili semuanya.
Mei 18, 2012
Asyiknya Nge-BLOG ( Indonesia GO BLOG )
Oke untuk kali ini, blog yang sedang kamu baca ini lagi kedatangan seorang BLOGGER kece. kebetulan lagi senggang nyok atuh kita langsung berondong dengan pertanyaan-pertanyaan. Sebelumnya lihat dulu identitasnya.
April 26, 2012
Blogger Shout Out !
“Eh Glen lagi ngapain lo??” terlihat seseorang sedang sibuk dibalik pembatas sebuah warnet.
Langganan:
Postingan (Atom)


