141012 21.00
“Tidur dek
udah malam.”
“A, ikan
layang-layangnya suka naik turun ikutin tangan Afiq. Nih... tuh.” Sambil memperlihatkan
pertunjukan yang menggemaskan itu. Ya anak kecil memang selalu polos, ada saja
tingkah lakunya yang menggelitik. “Tapi
yang koki itu diam aja A.” Satu ekor koki mutiara memang sedang diam didasar
akuarium tapi siripnya masih saja berenang.
“Lagi tidur
kali. Udah sana kamu juga tidur.”
“Yang
layang-layang nggak tidur A.”
“Nanti
waktu Afiq tidur, si layang-layang juga tidur.” Jawabku sekenanya. Meskipun aku
juga masih sangsi, apa ia ikan tidur? Bukannya mereka nggak punya kelopak mata?
Ah pasti tidur dong, sewaktu kecil saja ketika diajak bapak ke empang malam-malam,
selalu saja ada ikan yang menepi sedang diam, tak banyak bergerak. Dan keisenganku
pun mulai bereaksi, tunggang langgang ikan itu terbirit karena kaget ketika aku
sentuh. Hahaha... kenangan yang manis dan jahil.
***
151012
03.00
Senat-senut
seakan aliran darah di kepala ini menggumpal di satu titik. Tidak nyaman sekali
harus terbangun dengan keadaan seperti itu. Mata kunang-kunang menyisir jalan
ke arah dapur untuk mengambil segelas air putih, dan wudhu. Semoga saja karena
itu akan segera hilang rasa sakitnya. Alhamdulillah, satu napas kehidupan sudah
aku miliki. Satu kesempatan untuk memperbaiki diri sudah kudapati. Sepertinya hanya
rasa syukur yang bisa menjajarkan nikmat itu semua. Dalam balutan kesunyian
sepertiga malam, meraih kerinduan. Terpekur di kesendirian.
Satu jam
berlalu, lantunan kidung Qur’an sudah menggema dari Masjid dekat rumah. Bersyukur
masih ada orang tua yang bangun sedini itu menyempatkan diri untuk mengiramakan
suasana fajar, Masya Allah. Meskipun dengan suara yang sudah sayup-sayup di
makan usia. Tapi itu sudah membuktikan bahwa ada yang lebih baik daripada
sekedar tidur. Ya satu langkahku tertinggal yang masih belum bisa aku sejajari,
aku berdoa semoga orang tua itu di berkahi sisa umurnya dengan Al-Qur’an yang
sudah di dawamnya. Jasanya lah membangunkan semua yang terlelap agar segera
terjaga. Sepertinya sebentar lagi azan subuhpun akan menggema.
Tiba-tiba
mataku terbelalak melihat enam ekor ikan sedang tertidur pulas di dasar (Apa
mungkin tertidur? Tapi mereka terdiam, jadi anggap saja begitu.) sekonyong-konyong
aku memanggil bapak yang sedang menggunakan koko dan kain sarung.
“Pak lihat
ikannya lagi pada tidur.” Aku mengarahkan pandangan mata bapak dengan jari
telunjukku, layaknya anak kecil yang baru menemukan hal yang baru.
“Oh iya.” Seketika
saja aku melihat si bapak seperti anak kecil juga, ups! “Pantas saja ya kalau
di empang suka pada diam dipinggir tapi kalau di colek langsung kabur.” Sayangnya
sedini ini Syafiq belum terjaga untukku beri tahu. Tak apalah ada yang sudah
memanggil telingaku, Azan sudah berkumandang. Dan kini kedua anak kecil itu
menyusuri malam menuju panggilan Tuhan, yang telah menghidupkan kami setelah
mematikan.
08.00
“Aa nggak
kerja?” Ketika waktu matahari terbit aku masih saja belum berangkat.
“Nggak. Tuh
lihat Dek ikannya masih pada tidur.” Sepertinya gumpalan darah dikepala belum
juga mau terurai, nggak memungkinkan untuk mengendarai motor selama satu jam. Bisa
saja nekat, ah tapi tidak ada salahnya satu hari istirahat. Hoho...
“Oh iyaa. Kasih
makan A. Aa libur?”
“Ya nggak
bisa atuh Dek, kan masih pada tidur. Iya A libur, mandi sana.” Aku mengusap
lembut kepalanya, sambil mengetik sms untuk meminta izin tidak masuk hari ini. Lalu
menyalakan laptop untuk meneruskan tulisan, berharap semoga saja rasa sakit itu
mereda (Memang cara yang aneh, tapi kalau hanya diam saja tidak memikirkan
apa-apa justru menambah sakit. Aneh ya? Biarlah.) Tapi tidak lama malah
tertidur.
10.00
“A ikannya
masih pada tidur.”
“Oh iya.”
Tapi kok sepertinya ada yang nggak beres, apa iya ikan selama itu tidurnya? Mungkin
saja kali, toh biasanya aku ke kantor jadi nggak tahu aktivitas ikan-ikan itu
selama seharian. Lagi pula sirip-sirip mereka masih bergerak-gerak. Tapi nggak
selang lama satu ekor ikan koki mutiara menyembul ke permukaan.
“Yah Dek si
kokinya mati satu.” Aku memastikan lima ikan yang lain. Masih berpindah tempat
ketika di ganggu. Berarti memang satu yang mati. Aku menghela napas panjang. Berarti
memang ada yang nggak beres dengan keadaan mereka, bukan hanya semata-mata
sedang tertidur. Aduh bodoh sekali.
“Kok mati
A. Kenapa mati?”
“Mungkin
syurganya sudah merindukan dia Dek.”
“Iya A? Syurganya di mana?” Aduh harus
cari jawaban lagi nih ‘tepok jidat’. Tapi
dasar anak kecil, temannya datang saja sudah lupa sama pertanyaannya barusan.
“Push-push.”
Aku memberikan jenazah ikan itu kepada seekor kucing yang melintas. Sekejab
tubuh mungil itu lenyap tak tersisa, mungkin itu memang sudah rezekinya. Setidaknya
aku sudah menemukan jawaban kalau si Syafiq bertanya lagi. Syurga si koki
sementara di dalam perut si mpus hahaha...
Masya Allah
rupanya hari ini malaikat maut memang sedang bertamu ke istana kami. Satu jam
kemudian menyusul dua ekor yang mengambang ke permukaan, meyisakan tiga ekor
yang masih bergerak-gerak di dasar tapi seakan tak bergairah. Entah apa yang
salah dengan keadaan akuarium itu, airnya kah yang tidak bersahabat (Tapi nggak
bau dan penyaringan kotoran berjalan baik.) makanan? Aku rasa cukup dan tidak
berlebihan. Atau ikannya yang sakit? Ah kemarin-kemarin semua nampak sehat dan
lincah. Ya apapun itu yang pasti itu memang sudah takdir hidup mereka. Satu pelajaran
berharga, seakan aku diingatkan kembali bahwa kematian memang sangat misterius,
dan malaikat pencabut nyawa teramat sangat dekat. Seakan sosoknya selalu
berseru : “Perbaharui syahadatmu... perbaharui syahadatmu. Jangan terlena...
tetap waspada.” Masya Allah, rasa bersyukur masih diberikan kesempatan hidup
untuk memperbaiki diri.
071012 07.00
Gemericik
air mulai terdengar lagi di sudut ruang ini, membangunkan 'sepi' yang lama mati
suri. Mungkin nanti malam akan ada teman kecil yang menari-nari, melenggokkan
ekornya mengelilingi gemericik air ini. Aquarium selamat datang kembali.
081012 20.00
Selamat
datang cantik di rumah barumu. Berenanglah yang bebas, menarikan ekormu dengan
senyuman menyeringai, tertawakan aku yang lama terpekur dalam kesendirian
malam.
Selamat
malam cantik, biar saja mata cicak itu mendelik, menatap culas, mengeryitkan
dahi ketika melihat aku memandang lurus ke arahmu, tanpa jemu. Setidaknya malam
ini cicak itu tahu, sudah ada empat penghuni baru kamar sunyi ini. Kalian semua
ikan kokiku.
*Yang pasti akan selalu ada yang tersirat meskipun tidak sedang tersurat, meskipun mungkin tidak kita sadari.