Mei 17, 2018

MARHABAN

Marhaban. Sebelum melangkah lebih jauh, yuuk coba raba dalam hati masing-masing. Sudah sedalam apakah kita menyambut bulan Ramadhan dengan hati yang paling lapang. Bergembira dengan sebenar-benarnya penerimaan. Kaffah. Menyeluruh. Ta'at atas kewajiban yang Allah serukan dalam Al-Qur'an. Hingga tamat menunaikan, memang karena kita juga yang membutuhkan.

Bukan apa-apa, karena bila kita benar-benar menerimanya dengan menyeluruh, pun demikian kita wajib menghormatinya dengan sungguh-sungguh. Dengan begitu, tidak akan adalagi kita dengar lelucon-lelucon yang mungkin niatnya hanya untuk lucu-lucuan, tapi hakikatnya lucu tidak, ada manfaat apalagi.

Bukankah kita masih sering mendengar, entah langsung, entah obrolan di grup, entah berupa status, selentingan sederhana yang menurut pendapat saya pribadi sama saja dengan melecehkan kehormatan tamu agung kita. a.k.a bulan Ramadahan.

Misal :

H-1 nih, hari terakhir puas-puasin makan siang, atau yaah besok udah nggak boleh makan siang nih.
Ya ampun, segitu bebannya kah kedatangan Ramadhan sampai kita tega mengeluarkan statment seperti itu?

kasus lain :

BC berupa daftar warteg-warteg yang buka selama ramadhan, dengan ditutup dengan candaan "siapa tahu ada yang mau bukanya siang."

Ya salam, dan banyak kasus lain yang tak serupa tapi senada, sama-sama mengentengkan candaan, guyonan, untuk lucu-lucuan, tapi sebenarnya bila lebih direnungi sama saja kita sudah tidak menghargai bulan suci ini. Tidak lagi ada rasa hormat untuk sekadar menjaga lisan dan 'tulisan', dari statement yang tidak seharusnya. Tidak pada tempatnya. Loh kok perihal ibadah di guyonin?
Apalagi yang terang-terangan tidak puasa ya?

Maka dari itu, sudah benar-benar kah kita mengucap 'Marhaban' dengan sebenar-benarnya penerimaan. Tidak lagi terasa berat harus bangun malam untuk sahur, tidak lagi mengeluh siang hari haus dan lapar. Tidak lagi merasa berat untuk shalat taraweh. Dan blabla keberatan lainnya.
Tidakkah kita takut, tamu agung yang kita hormati ini, merasa tersinggung, tidak terima perlakuan kita, lalu berkahnya tidak sampai ke kita?

Marhaban Ya Ramadhan, aku menyambut kedatanganmu dengan sepenuhnya penerimaan. Dan menghormati kesucianmu dengan sepenuh penghargaan.

@azurazie_
01 Ramadhan 1439H

Mei 10, 2018

MERASA (TIDAK) MEMILIKI

Menurutmu, dari kedua celoteh yang sering didengar :
1.  Begitulah, kebanyakan yang lebih menghargai dan menjaga justru yang tidak merasa memiliki.
2. Karena merasa memiliki, makanya dia menjaga dan menghargainya lebih dari siapapun.
Mana yang menjadi kecenderungan sifat manusia?
Teori yang mendasarinya adalah : Bila sesuatu itu adalah benda, sudah tentu semua memiliki batas kegunaannya, batas fungsionalnya. Tiap-tiap sesuatu ada umur-umurnya. Sudah selayaknya dirawat dan dijaga. Agar selalu berfungsi dengan baik. Minimal jadi lebih lama bisa dimanfaatkan.
Bila itu sesama makhluk hidup, sudah lebih
pasti ada ajal-ajalnya. Maka, tidak bisa sekadar berharap kebersamaan itu lebih lama, kebahagiaan itu awet adanya. Tanpa berjuang untuk selalu menjaga dan menghargainya.
@azurazie_

Mei 03, 2018

TENTANG BERHARAP KEPADA MANUSIA

Menaruh harapan kepada manusia, tidak memiliki garansi apa-apa. Maka, seyogyanya kita, menjatuhkan harapan hanya kepada Allah semata. Dengan doa. Berharap dengan perantara doa. Tak harus memikirkan tentang : kapan dikabulkannya, bagaimana cara Allah memberinya, apa yang akan digantikannya. Gimana Allah aja. Berdoa tanpa tendensi apa-apa. Toh, kita memang selalu butuh. Tempat bergantung dan mencari untung. Perihal harapan yang genap menjadi utuh, adalah hak Allah Sang Maha Pengasih.

Dan tentang harapan kepada manusia. Baiknya, diganti dengan selalu berbuat baik. Tanpa pamrih. Tak perlu memikirkan manusia itu membalas kebaikan kita atau tidak. Gimana Allah aja. Yang kita yakini, bahwa tiap-tiap kebaikan digaransikan akan menjadi kebaikan untuk kita jua.

Maka, cukuplah sudah terlalu berharap kepada manusia. Cukuplah kita selalu berbuat baik saja. Kapanpun, di manapun, dengan siapapun. Agar harapan-harapan yang membersamai doa-doa itu. Allah qobul sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh kita. Sesuai dengan kemampuan kita untuk menerima tiap-tiap ketetapan-Nya.

April 14, 2018

SATU PEKAN BERLALU

Satu pekan berlalu, apa-apa yang menjadi harap, kini menjelma bahagia dengan hati yang paling siap.
Satu pekan berlalu, apa-apa yang menjadi doa, terijabah dalam bait-bait rasa, yang tertulis rapi di lauhul mahfud-Nya.
 
Satu pekan berlalu, sepakat menerima sepaket bukan lagi sekadar perbincangan yang kita gaung-gaungkan. Kini mulai menjadi kebiasaan yang perlu untuk selalu di musyawarahkan.

Karena aku dan kamu, telah menjadi kita. Itu artinya, tidak adalagi sekadar kata-kata. Melainkan diterap menjadi sesuatu yang lebih nyata. Musyawarah menjadi jalan agar apa-apa yang akan kita lakukan, apa-apa yang setelah itu dialami, resiko dan konsekuensinya menjadi tanggungan berdua. 

Ridho atas setiap keputusan pasangannya.
 
Dan waktu menjadi saksi dalam prosesnya. Bersamamu selalu, tak ingin berakhir waktuku. Itu saja.
@azurazie_

April 01, 2018

SATU PEKAN DARI HARI INI

Sahabatku, rasa-rasa ada beberapa hal yang perlu aku sampaikan kepadamu, terkait acara pada tanggal 08 April 2018. Satu pekan dari sekarang.

Sekiranya kamu berkenan untuk mengetahuinya. Terlepas setelah ini kamu keberatan atau tidak. Minimal aku sudah sampaikan apa yang menurutku perlu untuk diutarakan. Maka, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan kerendahan hati dan sepenuh harap. Izinkan aku memulainya.

Pertama, satu dari enam hak seorang muslim bagi muslim lainnya adalah perihal memenuhi sebuah undangan. Maka, sepenuh harap, luangkanlah waktu terbaikmu untuk mencumponi undangan itu. Aku doakan di hari yang sudah ditetapkan, kamu dan sekeluarga dalam kelapangan, sehat dan afiat. Diberikan keselamatan baik pergi sampai kembali pulang. Aamiin. Agar silaturrahim itu dapat terjalin.

Kedua, sebagai tuan rumah, sudah sepantasnya kami menjamu dengan jamuan yang paling baik. Itu sudah keharusan, tapi bila di hari itu, kamu merasa tidak terjamu dengan semestinya. Baik dari pelayanan maupun sambutan kedatangan. Atau hidangan yang tidak selera di lidah. Mohon maaf kami sampaikan. Semoga kamu ridho dan memaklumi itu.

Oh iya, saran dari kami, sebelum mencicipi hidangan yang sudah disediakan, alangkah baiknya sendok menu seperlunya. Dalam artian tidak berlebihan. Demi menghindari sesuatu yang bersifat mubadzir karena tidak semua termakan. Bila ternyata kurang dan ingin nambah tentu saja boleh.
Ketiga, menyambung dari point kedua, perihal pelayanan. Aku teringat nasihat Rasulullah SAW, yang melarang makan dan minum sambil berdiri. Semoga kamu pun ingat dengan sepotong nasihat itu, bila hal itu dikarenakan dengan fasilitas yang tidak terpenuhi, keterbatasan kursi yang disediakan. Kami berharap, kamu ridho dengan itu. Pun demikian semoga Allah memaklumi dengan 'keterbatasan itu.'

Keempat, ini yang paling ingin aku sampaikan kepadamu. Nanti, tidak akan kamu dapati sepotong pas photo pun di sana. Karena kami memang tidak melakukan prawed. Mohon maaf itu di luar prinsip kami sebagai muslim. Dan tentu saja hakmu untuk mengabadikan setiap moment yang sedang terjadi dalam hidupmu. Kami tidak akan membatasi itu.

Tapi, di mohon dengan sangat, bila memang di rasa perlu mengambil poto atau video di acara kami, untuk mengabadikan moment. Mohon cukup sekadarnya saja, dan semata-mata untuk koleksi pribadi saja.

Mohon dengan sangat tidak meng-uploud-nya di sosial media manapun. Bukan berarti kami tidak ingin ikut beruforia dengan itu. Apalagi ini memang acara bahagia kami. Tapi, yang lebih kami butuh adalah doa. Agar bahagia itu tetap terjaga setelahnya.

Kelima, teruntuk kamu yang nanti memenuhi undangan kami, ada  beberapa bentuk sovenir yang kami sediakan, sekadar untuk buah tangan agar tidak lengang dalam perjalanan pulang. Sebagai pengingat, bahwa pada tanggal 08 april 2018 pernah ada momentum bahagia yang kami rayakan. Bahagia yang kamu ikut mendoakan.

Itu saja beberapa point yang ingin kami sampaikan. Bila ada tutur kata yang tidak tersusun dengan rapi, mohon dimaklumi. Sebelumnya kami utarakan terima kasih.
Salam
@azurazie_
@sekitar_putri