Oktober 21, 2015

TITIKTEMU - TITIK TEMU

…………………………………………………………………..
titik, 1 butir air atau barang cair yg jatuh menetes; 2 keluar berbutir-butir atau setetes-setetes; 3 noktah sbg tanda baca di akhir kalimat berita atau yg dibubuhkan di atas huruf /i/ dan /j/ ;
titik temu, 1 titik tempat terjadinya pertemuan dua garis; 2 titik tempat terjadinya kesesuaian pendapat;
…………………………………………………………………………………

B
egitu yang dikatakan oleh KBBI. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ketika aku menyakan tentang makna titik temu. Lalu timbul pertanyaan baru, apa yang menjadi sebab pertemuan kedua titik itu? Serendipity: semacam kebetulan yang menyenangkan? Mungkin. Meskipun aku tak percaya dengan kebetulan-kebetulan.
Lalu di mana kopi darat mereka akan dirayakan? Ah kenapa pula jadi pertanyaan beruntun?
Waktu yang berkuasa menjawab. Takdir yang menentukan sebab. Skakmat!
            Titik temu. Bukankah akan lebih sederhana jika mulai saat ini kita sebut saja titik temu itu, titik di mana kita mulai belajar saling memahami sesuatu.
Memahami apa-apa yang ada di diri dan tersembunyi dalam hati. Sesuatu atau banyak hal ini itu yang kita mulai saling sepakati. Menjadi satu titik asa. Satu muara tujuan yang senada. Dalam jalur perjalanan yang sama.
Dan untuk itu, bukankah kita harus saling tahu? Tentu tidak keberatan jika aku lebih banyak tahu tentangmu.
“Jawab dulu. Tanya kemudian. Deal?” Aku menunggu pesanku terkirim. Signal sedang naik turun di tempatku.
Deal.”
Baiklah nona interview ini kita mulai. Sepertinya akan cukup panjang. Masih ada waktu kalau mau untuk sedikit menyiapkan cemilan.
            “Gunung/Pantai.”
            “Gunung.” Ya aku tahu itu.
            “Baca buku/Nonton film.”
            “Baca buku.” Masa? Setahuku banyak buku yang nyaris tak selesai kamu baca. Ngaku aja!
            “Buku/Musik.”
            “Musik.” Tentu saja.
            “Sunset/Sunrise.
            “Sunset.Kita pernah bahas lebih detail soal ini.
            “Hitam/Putih”
            “Hitam.” Baik. Catet.
            “Berada dalam gelap gulita/ketinggian.”
            “Gelap gulita.” Wow!
“Nyaman dalam keramaian/Sepi menyendiri.”
“Sepi Menyendiri.” Ketok palu.
“Pagi/Malam.”
“Pagi.”
“Matematika/Sejarah.”
“Sejarah.” Masa sih?
“Teh hangat manis/Es teh manis.”
“Teh manis hangat.”
“Cokelat/Es Krim”
“Es krim rasa cokelat hehe…”
“Dasar. Oke sudah cukup nona untuk hari ini. Terima kasih untuk jawabannya.”
 “Lebaaaaay…. Jadi untuk apa pertanyaan-pertanyaan itu?”
“Sekedar mencari tahu sebanyak apa point-point yang tadi kutanyakan, contrengnya sama.”
“Untuk?”
 “Ya kalau dibagian yang sama, suatu saat kita bisa duet kan ngejalaninya? Pasti jadi lebih seru.”
“Lalu? Banyak yang cocok?”
“Lumayan, selain 3-5-8-9. Selebihnya sama. Kecuali yang terakhir ya jawabanmu keluar dari jalur.” Hihi sedikit ngerjain biar dia buka ulang soal-soal tadi.
“Dari mana kamu yakin di antara semua jawaban yang aku pilih tadi nggak ada yang mengecoh kesimpulanmu?”
“Nggak apa-apa. Justru kalau ada yang berbeda bukannya bisa jadi selingan sewaktu-waktu kalau salah satu dari kita ada yang jenuh?”
“Umm… boleh juga.”

Hei…. Bukannya baru saja kita sepakati sebuah titik temu? Dan ini baru permulaan.

Oktober 20, 2015

TITIKTEMU - PERTANYAAN

Ketika sebuah pertanyaan berkonspirasi dengan waktu. Dan jawaban yang melegakan masih terasa jauh dari harapan.
Saat upaya pencarian itu masih jauh dari jangkauan titik temu. Dan waktu masih belum juga mau ‘membuka mulut’ memberikan sedikit rahasianya. Dimana seharusnya sesuatu itu ditemukan.
Ketika menunggu benar-benar menguji kesabaran. Sedangkan belum juga ada sesuatu yang benar-benar menunjukkan itikad baiknya. Datang bertamu membawa kabar melegakan.
Tahukah kamu, sebagian orang sibuk mempertanyakan takdir orang lain. Merasa perlu memastikannya secara berulang-ulang. Hingga terkesan mereka justru yang terlihat tidak sabaran. Bukankah setiap orang telah memiliki takdirnya masing-masing? Lengkap dengan ketetapan waktu dan perputarannya. Lalu kenapa bersusah payah, mau direpotkan dengan urusan orang lain? bukankah mereka pun banyak menyimpan pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya sendiri? Entahlah!

Pertanyaan-pertanyaan, jawaban yang dibutuhkan, waktu dan takdirnya. Seharusnya selalu berkoordinasi dengan baik bukan? Mengikuti catatan-Nya. Seperti takdir hulu yang selalu berakhir ke muara. Lepaskan. Bebaskan. Biarkan mengalir mengikuti arus perjalanannya. Biarkan berjalan apa adanya. Hingga pada akhirnya menemukan tujuannya. Sampai pada takdirnya, berhenti di titik temu.

Oktober 19, 2015

TITIKTEMU - DOA

Fa, ketika kita merasa sulit sekali mendapatkan sesuatu. Sulit sekali meluluskan harapan menjadi kenyataan.
Sulit sekali menemukan apa yang sedang benar-benar kita butuhkan. Sulit sekali mengupayakan apa yang sedang kita inginkan. Padahal sudah berjuang keras untuk mendapatkan.
Ketika kita merasa sulit sekali mendapatkan sesuatu. Tidak juga ada kabar baik yang menggembirakan hati. Melegakan pikiran. Barangkali selama ini kita hanya sibuk mengeluh. Lupa untuk meminta. Lupa untuk berdoa.

Barangkali selama ini kita hanya sibuk mengaduh. Lebih banyak mengutarakan pertanyaan-pertanyaan.

Oktober 18, 2015

TITIKTEMU - TEMU

Aku pernah mengupayakan temu. Sengaja menyusuri jarak menjadi lebih dekat. Ada keberanian yang aku pertaruhkan. Keberanian untuk menyapa ketika pada akhirnya bersua. Bertatap muka. Sayangnya waktu masih belum mengizinkan, masih kalah oleh keberuntungan. Mungkin lain waktu.
Aku pernah sengaja mengunjungi tempat tinggalmu. Berharap ada sedikit kehangatan sambutan kedatanganmu. Jarak sudah berkilo-kilo meter menjadi lebih dekat. Sudah di dalam lingkungan desa yang sama. Meski lagi-lagi takdir bertemu belum juga ada. Mungkin lain waktu.
Pada akhirnya aku menarik kesimpulan. Bahwa temu bukan sekedar perlu diupayakan. Untuk bertemu tidak bisa jika hanya berjuang sendirian.
Untuk pertemuan, terkadang kita tidak cukup untuk sekedar direncanakan. perlu juga membuat kesempatan.

Mungkin lain waktu, kita lebih ‘berjodoh’ bertemu. Untuk itu keberatan kah jika aku memintamu ikut memperbanyak doa.

Oktober 17, 2015

TITIKTEMU - TITIK

Lengkapilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat:


  1. Sebelum berangkat sekolah, Budi ……………. kepada orang tua.  

  1. Ani belajar ……………. nasi di dapur.

  1. Ayam berkokok harimau ……………


Setelah menjemput adikku Syafiq dari sekolah, iseng aku melihat buku LKS-nya. Seketika rasanya bernostalgia dengan masa-masa sekolah dulu.
Mungkin ketika seusianya dulu, pertanyaan soal di atas  akan terasa sulit. Alih-alih akan bertanya kepada mama untuk membantu mengerjakannya. Seiring berjalannya usia, di mataku saat ini tentu saja soal yang sama akan sangat mudah.
Di bawah ini adalah jawabanku :

1.      Sebelum berangkat sekolah, Budi mengenalkan calon mantu kepada orang tua.

2.      Ani belajar menghitung butir-butir kenangan nasi di dapur.

3.      Ayam berkokok harimau pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi.

Benar ngaco kan jawabanku? Hehe… Kalau jawaban kamu apa?
Tiba-tiba aku terpikir sesuatu, bukankah di keseharian kita juga dituntut untuk menjawab pertanyaan yang serupa. Mencari tahu jawaban dari titik-titik misteri yang sering kali kita pertanyakan.
Entah tentang hidup, tentang siapa yang mejadi jodoh kita, tentang bagaimana masa depan kita nantinya. Dan tentu pertanyaan-pertanyaan rumit lainnya. Masing-masing kita memiliki pertanyaan-pertanyaannya sendiri.
Banyak sekali bukan yang belum kita temukan jawabannya?
Maka seiring berjalannya waktu dengan segala upaya kita, semoga suatu saat kita bisa melengkapi titik-titik pertanyaan itu dengan tepat.
Malam harinya aku iseng membuat status di bbm dengan bentuk pertanyaan.   

(…………………… adalah ketika suasana hati sedang gundah gulana karena berharap ingin sekali bertemu.)
           
Missing Someone. True/False?”
Tidak terduga sebelumnya, hanya berjeda beberapa menit, kamu menanggapinya.
            “True.”
Balasku diiringi dengan emot senyum. Dan tentu saja aku memang benar-benar tersenyum sumringah saat itu.
Fa, saat itu juga aku memikirkan bagaimana caranya mengupayakan temu.















Missing You.

Tepatnya. Hatiku menyuarakan itu.