November 07, 2013

Perempuan pe(mbe)ri nasihat

Selalu ada saat di mana kita merasa sepi, kosong, bingung, tiba-tiba sedih, dan segala macam suasana yang tiba-tiba menjadi aneh rasanya. Sayangnya kita lebih banyak tidak tahu apa penyebabnya. Bukankah begitu?"

Aku menoleh ke arah suara. Seorang perempuan membawa buku tebal tiba-tiba saja sudah di sampingku. Aku mengerutkan dahi. Siapa? aku tidak mengenalnya. Tidak pernah melihatnya sebelum ini. Tidak tahu apa, aku ini sedang malas bicara, sedang ingin sendiri menyepi. Yang kutatap dengan sorotan mata tajam hanya berbalas senyum. Wajahnya menenangkan untuk dipandang.

Sudah satu jam aku berdiri bersandar pada pagar kayu sebuah cafe ternama di lantai dua. Kaki kesemutan. Mata berkunang-kunang, lelah memandang kekosongan. Menyebalkan sekali bukan ketika sedang ingin sendirian tiba-tiba ada 'pengganggu', apalagi yang sok tahu. Sudahlah tidak kenapa ada yang berbasa-basi. Toh ini tempat umum. Dan sudah tentu aku salah memilih tempat untuk melamun. Pengunjung cafe ini selalu ramai.

Aku memilih mengabaikan. Tidak peduli perempuan yang masih berdiri di sampingku hendak melakukan apa. Tidak ada rencana juga aku akan pindah. Karena sebentar lagi juga aku memutuskan pulang. Sebentar lagi sepertinya hujan akan turun.

Seumpama gravitasi, manusia akan kembali jatuh dalam lubang kenangan setelah bersusah payah untuk terbang melupakan.

Aku menoleh lagi, memastikan apa ia mengajakku bicara. Tapi aku lihat ia hanya memandang buku tebalnya. Atau barangkali ia sedang membaca quote pada buku itu, tapi masa iya buku sistem ekonomi syariah memuat kata-kata seperti tadi. Kata-kata yang lebih tepat mewakili keadaanku. Menyindir alasan kenapa aku berada di sini sekarang. 

Lalu kenapa pula aku jadi bertanya-tanya begini. Kenapa aku tidak abaikan saja? atau mungkin bertanya. Ah demi wajah yang menenangkan itu aku tidak rela untuk menegurnya agar diam saja. Berbagi tempat yang sama dengan tidak mengeluarkan suara. Harusnya kan begitu yang adil.

"Seharusnya para pencinta tahu, tidak banyak berguna jika hanya berusaha untuk melupa. Sebab kenangan bisa datang kapan saja, tanpa pinta. Sebaiknya mereka lebih memilih untuk belajar menerima, hingga kelak jika kenangan itu datang menyapa mereka bisa menikmatinya dengan suasana yang berbeda. Tapi entah kenapa mereka masih saja bersikeras untuk melupa, bukan memulai menerima."

Aku menyatukan alis semakin tidak mengerti dengan perempuan di sampingku. Ia sebenarnya sedang bicara dengan siapa? denganku? tapi ia tidak sedikit pun menoleh ke arahku. Padahal aku sudah cukup lama jadi mengalihkan pandangan ke arahnya, tertarik akan kata-katanya. Atau ia punya kebiasaan unik, berbicara pada angin? 

Memang sudah seharusnya begitu,apa yang terlanjur terikat akan selalu ada bekas. Sekuat apapun meronta, kalau memang masih terikat, tidak akan mudah begitu saja untuk bebas.

Aku ingin sekali menanggapi kata-katanya, tapi aku seakan beku. Seolah tertohok akan sesuatu yang tajam. Seakan membuat pita-pita suara mendadak tidak berfungsi seperti biasanya.  Lagi pula aku memang sedang malas berbicara dengan orang asing. Sedangkan orang asing ini seakan bisa membaca suasana hatiku.

Jika pada akhirnya melepaskan adalah jalan. Semoga saja tak lagi ada hati yang keberatan. Yang ditinggal akan mendewasakan ketabahan. Yang pergi tidak perlu lagi kembali mengingatkan kenangan.

Sempurna sudah aku menelan ludah. Seakan tenggorokan ini melega oleh sesuatu. Entah karena apa. Aku jadi penasaran sebenarnya siapa perempuan ini?

Jika melepaskan bukan pilihan yang baik menurut diri sendiri, coba jadikan ia kebutuhan. Terkadang ego berat untuk memilih keputusan, tapi hati lebih butuh kepastian."

"Maaf maksud anda?" Aku sudah tidak tahan untuk tidak menanggapi.

Ia tersenyum hangat ke arahku. "Percayalah, aku pernah belajar merawat luka dengan membuka hati untuk memaafkan. Sebab luka yang baik adalah yang berangsur pulih, bukan yang terus menganga semakin perih." 

Selepas mengatakan itu ia beranjak pergi tanpa bisa aku tahan, sebab aku sempurna mematung memikirkan kata-katanya. Aku menelan ludah. Ekor mataku masih menatap punggungnya. Ia semakin jauh. Tetiba aku teringat sesuatu, sepertinya aku memang pernah melihat ia sebelumnya. Tapi di mana? 

Aku menemukan banyak sekali bulir kenangan di langit senja. Menggantung rapi di pucuk-pucuk awan tebal. Barangkali beberapa bulir kenangan itu adalah tabungan kisahku, di masa lalu. Aku berharap petang ini tidak satupun bulir itu jatuh, alih-alih pecah di atas kepala. Seperti halnya aku berharap senja kali ini tidak diusir paksa oleh deras hujan. Sebab tidak setiap waktu seseorang bisa menikmati hujan. Tidak setiap waktu seseorang siap menerima kedatangan kenangan.

Dan kepada perempuan asing yang sudah tidak terlihat lagi keberadaanya, rasa-rasanya aku harus berterima kasih sudah membuka pikiranku dengan lebih baik. Benar saja seseorang yang tidak pernah meluangkan waktunya, memang tidak seharusnya diharapkan mau mengisi waktu luangku. karena waktuku terlalu berharga untuk berharap pada ketidakpastian.

Ah lain kali jika aku kembali bertemu dengannya, aku tidak akan segan-segan untuk menanyakan namanya.







6 komentar:

  1. aku suka kata katanya, sudah membuka pikiranku dengan lebih baik (lagi).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih sudah membacanya :)

      Hapus
  2. perempuan mahasiswi ekonomi syariah yang pernah terluka.
    baik sekali dia tetiba datang lalu membanjiri seseorang--yang tengah melamun bersama kenangan--dengan mantra-mantra ajaib. Kemudian berlalu tanpa pamit.
    dasar peri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, review cerpen yang pas sekali :D

      Hapus
    2. Haha. Hanya menyukai hal lebih detail.
      Suka sekali dengan kalimat: sebab luka yang baik adalah yang berangsur pulih, bukan yang terus menganga semakin perih.
      Ini perihal kehidupan, yaaa begitulah seharusnya

      Hapus
    3. Tapi kebanyakan kehidupan ini lebih senang yang drama-drama. lukanya terus menerus digaruk hingga menyebar misalnya.

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)