Barangkali nanti manusia yang (mengaku) modern membutuhkan sebuah tali yang mengikat kakinya ketika sudah merasa terbang
mengawan.
Belakangan ini bukankah semakin banyak manusia yang memanjakan kesombongannya, memamerkan kebolehannya. Serasa melambung, melayang-layang. Padahal sejatinya ia tidak pernah bisa lari dari tanah.
Mungkin manusia perlu membawa sekantung tanah sepanjang pengembaraan, pengingat darimana sebenarnya asalnya. Bukankah banyak yang menjelajah jauh, masih menjejakkan kaki di atas tanah. Tetapi lupa ada waktunya nanti ia berada di bawah tanah.
Dan manusia yang sabar selalu punya segenggam tabah untuk tidak mudah berkeluh kesah.
Manusia yang jujur selalu mempunyai penjaga diri, mengepal amanah.
Manusia yang pintar tidak pernah melepaskan kebiasaan bersyukur.
Manusia yang tahu diri selalu ingat darimana asalnya, dan ke mana ia harus kembali.
Bagaikan embun kau sejukkan Hati ini dengan kasih sayangmu Betapa kau sangat berarti Dan bagiku kau takkan pernah terganti
Tahukah ibu kaulah nomor satu buatku
Nomor satu buatku
Tidak ada di dunia ini yang dapat menggantikan posisimu
Oh, maafkan aku membuatmu senantiasa mengasuhku,
Akan ku gunakan setiap kesempatan yang kudapatkan
Tuk membuatmu tersenyum, saat kubersamamu
Sekarang ku kan mencoba menyayangimu seperti engkau menyayangiku
Hanya Tuhan yang tahu betapa berartinya engkau padaku
Ya Allah ampuni dosanya Sayangilah seperti menyayangiku Berilah ia kebahagiaan Di dunia juga di akhirat
Aku menengadah, melipat kedua
tangan sebagai alternatif alas kepala. Sejauh mata memandang, bulan siaga penuh.
Purnama tepat pandang-pandangan dengan kedua bola mata. Angin berdesir mengipas
kulit. Masuk angin? Ah itu urusan belakangan. Yang pasti malam ini aku biarkan
selentingan rindu memainkan peranannya. Perkara rasa yang akan mempengaruhi sedikit
banyak kepolosan hati. Hati yang selalu sedia menampung apa saja, tanpa
keberatan akan berduka. Hati yang selalu setia menyerap rasa apa saja, meski
kadang tidak peduli ada kehilangan yang begitu nyata.
Asing. Kamu pernah terbangun dari
tidur panjang, karena tidak ada lagi yang mengusik lelapnya. Kemudian merasa linglung seperti terbangun di tempat
yang berbeda. Merasa kehilangan sesuatu yang biasanya dilihat. Didengar. Bertanya-tanya.
Atau mungkin lebih dari sekedar pertanyaan, tapi merasa ketakutan. Asing.
Kehilangan aura yang biasanya.