Agustus 12, 2014

APA YANG KAMU PIKIRKAN? ATAU APA?

apa yang kau pikirkan? atau apa?

apa yang kau pikirkan ketika tiba-tiba ada lelaki asing datang bertamu, lancang begitu saja bertanya, apa permintaan maharmu jika ada yang berniat melamar?

apa yang kau pikirkan? marah? tersinggung, malu? terenyuh? ingin tertawa? atau apa?

apa yang kau pikirkan, ketika ia datang dengan kerendahan hatinya, mengajukan proposal masa depannya, memintamu ikut serta dalam proses realisasinya. berawal dari titik terkecil dari yang ia punya. meniti dari anak tangga paling bawah. mengajakmu bersama-sama mendaki puncak dengan segala kemampuan yang ada.

apa yang kau pikirkan? bersedia dengan senang hati? merasa keberatan? tidak terlalu peduli? atau apa?

apa yang kau pikirkan, ketika ia sedikit bercerita, bahwa masa lalunya tidak lah begitu baik -untuk tidak dikatakan buruk. ia banyak melakukan hal bodoh dan membuang-buang waktu dengan percuma. dan ia ingin memulai kembali dari nol. sebagai manusia dengan harapan baru. melakoninya bersamamu jika kau bersedia menerimanya dengan lapang dada. menyambutnya dengan tangan terbuka.

apa yang kau pikirkan? enggan? merasa ada yang lebih baik? takut tidak bisa menjadi imammu yang baik? ragu? atau apa?

apa yang kau pikirkan, ketika kau tahu lelaki asing itu, pendidikannya tidak setinggi dirimu, penghasilannya hanya di atas rata-rata -untuk tidak dikatakan kecil dari penghasilanmu. tapi ia bertekad untuk bekerja keras. menjadi pemberi nafkah yang bertanggung jawab kepada keluarganya.

apa yang kau pikirkan? tidak peduli? masih kurang yakin? masa bodo? atau apa?

apa yang kau pikirkan, ketika ia datang tidak untuk mendengar jawaban yang ia ingin dengar. jawaban yang menjadi harapannya.

lelaki asing itu hanya ingin mengajakmu bersama-sama saling memperbaiki diri. karena ia yakin dengan begitu kau akan lebih memahami maksud kedatangannya.

lalu apa yang kau pikirkan ketika ada lelaki asing seperti itu datang bertamu?

merasa terusik, terancam, tidak aman? atau apa?

azura-zie.com





Agustus 11, 2014

lalu bagaimana seharusnya aku bertamu?

lalu bagaimana seharusnya aku bertamu?

aku tahu di balik pintu yang masih tertutup itu ada rasa yang begitu nyata. dan aku bisa merasakan dengan jelas keberadaannya.

membuat aku mengansumsikan banyak hal, bertanya-tanya untuk siapakah sebenarnya perasaanmu itu. siapakah gerangan yang selama ini kamu tunggu? aku ingin tahu. karena mau tidak mau ini sudah ikut mengusik harapanku.

lalu bagaimana seharusnya aku bertamu?

menunggu undangan resmimu, yang memintaku datang. kemudian pada akhirnya pintu yang selama ini tertutup akan terbuka. dan kamu dengan senang hati menceritakan tentang perasaan yang kau punya selama ini. rasa yang diam-diam aku perhatikan dari kejauhan.

hingga terang benderanglah urusan hati ini.

atau seperti yang belakangan ini aku lakukan. datang diam-diam ke pelataran rumahmu. dengan niat hati memberanikan diri mengetuk pintu rumah itu.

meskipun nyatanya tidak semudah itu, yang aku lakukan hanya mengitari rumahmu. sembari berharap kamu tiba-tiba keluar, sekedar memberi sinyal agar keraguan itu berguguran.

ada perasaan ragu, takut semua yang aku rasakan selama ini hanya didasari oleh asumsiku belaka. bahwa memang bukan aku yang kamu tunggu kedatangannya.
sebab perasaanmu seperti cahaya bola lampu yang mengundang banyak laron untuk mengitarinya. dan aku hanyalah salah satu laron yang sedang terpikat oleh sinarnya.

lalu bagaimana seharusnya aku bertamu?

hmm.... sebenarnya aku yang masih kurang bersungguh-sungguh, atau hatimu yang memang sulit disentuh.

zie
*ilustrasi (r)asa ungkapan hati seorang sahabat.



MEMELIHARA KEBIASAAN

kau tahu kebiasaan sudah bisa kau anggap sebagai 'baju' untuk hidupmu. atau bahkan 'kulit' ketika sudah benar-benar dianggap 'sudah terbiasa begini dan akan terasa berbeda jika tidak begitu.'

kau tahu melakukan kebiasaan yang kau suka sama saja sedang memanjakan diri dengan perihal yang membuatmu merasa senang.

lalu apakah kau tahu juga ada dampak yang begitu buruk ketika kau sudah terkontaminasi dengan kebiasaan itu sendiri. kebiasaan itu menjelma menjadi parasit yang merusak inangnya. menjadi racun yang melumpuhkan sendi tubuhnya.

ya, ketika kau salah memeliha kebiasaan. kau kadung memelihara kebiasaan buruk sedari kecil. parahnya, ketika ada orang lain yang menasehati kalau kebiasaanmu itu buruk untuk dirimu sendiri, kau justru kehilangan akal akan tetap terus membelanya. menganggap yang selama ini kau kerjakan adalah baik.

seseorang akan kehilangan jati dirinya sendiri ketika sudah dikuasai kebiasaan buruknya.

kau tahu banyak sekali manusia yang terlanjur nyaman dengan kebiasaannya dan merasa tidak berdaya untuk melepas kebiasaan itu. meskipun sedikit banyak ada yang sadar bahwa kebiasaannya itu memanglah buruk. untuk dirinya sendiri bahkan orang lain. mereka bisa apa selain tetap mengerjakan kebiasaan itu dan diakhiri dengan penyesalan. akan terus berulang-ulang.

kau tahu bagaimana agar kebiasaan yang kau punya tidak berakhir menyeramkan atau bahkan menghancurkan. mulailah merawat kebiasaan baik. pelihara sebagaimana kamu memperhatikan kesehatanmu sendiri. jaga baik-baik ia agar tidak berubah menjadi berlebihan. sebab apa-apa yang kadung berlebihan berdampak tidak baik.

mari mulai memelihara kebiasaan baik.


Agustus 05, 2014

PENGEMBARA YANG MANA?

sedikitnya ada tiga jenis pengembara dalam perjalanan mencari pelengkap bahagia.

yang pertama, jenis pengembara yang memang sudah memiliki tujuan tetap. jelas ke mana arah ia melangkah, tahu persis harus melewati lika-liku yang perlu ditempuh selama perjalanan.

tugasnya sederhana, ia hanya perlu fokus dengan apa yang telah menjadi tujuannya. dan bersikeras dengan kesungguhan tekad bahwa bagaimana pun caranya ia harus sampai, baik tepat waktu maupun terlambat.

jenis pengembara ini lebih banyak kesempatan menemukan pelengkap kebahagiaanya.

yang kedua, jenis pengembara yang berjalan sambil mencari tujuan. ia tidak begitu tahu harus dan akan ke mana sebaiknya melangkahkan kedua kakinya. hanya saja ia memiliki harapan, bahwa dalam ikhtiarnya akan membuahkan hasil yang baik. selagi diusahakan dengan cara yang baik.

ia berpegang teguh atas perinsipnya, bahwa menemukan sesuatu yang berharga harus dengan berjalan mencari, tidak hanya sekedar berdiam diri.

pun demikian pengembara kita yang kedua ini pun memiliki kesempatan menemukan pelengkap bahagianya. meskipun harus lebih bekerja keras dibanding pengembara pertama. minimal meneguhkan hatinya untuk tidak mudah berputus asa.

pengembara yang ketiga, si pengelanayang berpergian ke sana kemari tanpa tujuan sama sekali. meskipun pada dasarnya ia melakukan perjalanan, pada hakikatnya ia tidak ke mana-mana. karena tidak sungguh-sungguh ingin menemukan apa-apa.

pengelana yang hanya asyik menghabiskan waktu dengan petualangan yang tidak perlu. 

apakah pengembara jenis ketiga ini tidak memiliki kesempatan menemukan pelengkap bahagianya? siapa yang tahu.

lalu bagaimana denganmu? jenis pengembara apa yang selama ini kamu tekuni dalam bermusafir menemukan pelengkap bahagiamu? yang bisa pula kamu anggap sebagai teman hidupmu.

pengembara yang mana?


Agustus 04, 2014

bagaimana rasanya menjadi tujuan?

bagaimana rasanya menjadi tujuan?

menjadi seseorang yang tengah menunggu dengan debar, ia yang menawarkan diri menjadi imam duniamu dan bersedia bertanggung jawab atas dirimu untuk kehidupan akhiratmu.

bagaimana rasanya menjadi tujuan?

lepas dari pilihan-pilihan dan perbandingan-perbandingan kaum adam. tidak lagi menjadi pilihan kedua, ketiga apalagi cadangan yang diperbincangkan oleh mereka.

bagaimana rasanya menjadi tujuan?

menjadi 'rumah' tinggal seseorang yang ingin menunaikan niat baiknya. tempat di mana ia akan selalu pulang dan nyaman berlama-lama di dalamnya.

bagaimana rasanya menjadi tujuan?

menjadi pusat segala rencana masa depan seseorang yang siap mati untuk melindungi kehormatanmu. memastikan kamu baik-baik saja. selalu tercukupi kebutuhan yang menjadi tanggung jawabnya.

bagaimana rasanya menjadi tujuan?

bisakah kamu menceritakan perasaan itu kepadaku, ketika aku telah sampai menujumu.