Desember 20, 2013

Even in My Dream

Aku melemparkan topi sembarang. Membuka satu kancing baju agar napas terasa lebih lancar. Umm... hari yang cukup melelahkan. Rasanya tubuh ini sudah minta jatahnya untuk istirahat. Tapi rindu ini masih butuh untuk ditenangkan.
Aku menghela napas, duduk di bahu tempat tidur. Pukul delapan malam. Semoga saja istriku masih terjaga. Ah bidadari kecilku, sedang apa ia? ingin sekali aku mendengar suaranya yang lucu menggemaskan. Mendengar ia memanggilku ayah, bercerita apa saja yang seharian ini ia lakukan, ia lihat. Mengayun-ayunkan tubuh mungilnya ke udara.
Tapi jarak ini lagi-lagi yang menghalangi rindu itu bertemu. Sungguh, jika bukan karena mengemban tugas negara. Aku lebih memilih ingin sepanjang hari bersama mereka. Menikmati kebersamaan dengan senyuman menyenangkan. Canda tawa mereka yang membuat aku tersenyum bahagia.

Umm... telponku belum juga diangkat. Mungkin istriku sudah tidur, lelah dengan tugas-tugas hariannya. Ya sudahlah, beberapa hari lagi aku bisa pulang.
Aku memandangi foto keluarga kecilku di dompet. Betapa aku merindukan mereka.
Even in My Dream by edcoustic
kau selalu di hati
selalu di pikirku
sepanjang hidupku
kau buat ku tersenyum
buat ku terharu
bidadari kecilku

dekap aku walau sekejap
biar kan lelah ku hilang
walau hanya mimpi

meski jauh kau selalu ku tunggu
kau tertidur
cintaku tak tertidur

ku timang-timang selalu rinduku
i see you
even in my dream

di manapun kini kau ada
separuh hidupku ada di hatimu
ku kan selalu ada menjagamu selalu

Desember 02, 2013

Sya, yang berbeda



Sya, semoga kau tidak mendengar degup jantungku yang sedang tidak beraturan ini. Tentu saja tidak, aku hanya berani memperhatikanmu dari jarak yang cukup jauh. Tapi bukan berarti kau tidak menyadari keberadaanku bukan? Siapa sih yang tidak terganggu jika diperhatikan berjam-jam oleh seseorang.

Aku berdiri, bersandar pada tubuh pohon buni tua ini. Tempat kau dulu menangis sambil berlari menghampiri nenekmu. Kemudian mengajakmu pulang, padahal jam sekolah masih berlanjut. Tempat di mana aku terakhir kalinya melihat –tepatnya menertawakanmu menangis. Aku menahan ketawa mengingat kejadian itu.

Sya, aku masih ingat betul potongan kejadian itu. Ketika sedang belajar bernyanyi bersama, suara kau yang paling menonjol berbeda. Jelas-jelas aku tertawa sendirian paling keras. Sambil berteriak mengejek, “Si keriting gagu.” Semua orang menoleh ke arahku. Semua anak riuh bak lebah ikutan tertawa. Dan kau berlari keluar kelas sambil terisak. Sedangkan aku dihukum berdiri di depan kelas hingga bel pulang. Kata nenek, lidahmu memang terlalu pendek. Jadi tidak berfungsi dengan baik ketika bicara.

Suasananya tidak jauh berbeda dengan waktu itu. Masih dengan riuh riang canda tawa anak-anak TK nol kecil. Masih dengan bangunan lama, meski cat tembok lebih terlihat segar. Hanya saja saat ini posisi kita yang bertukar, aku memperhatikanmu dari bawah pohon buni ini. Hampir menangis, tak kuat menahan haru. Sedangkan kau tertawa bersama anak-anak dengan riangnya.

Tapi entah apa yang sudah dinasehati oleh nenekmu. –beberapa hari ini aku baru tahu rahasia nasehat nenekmu itu. Esok harinya kau tidak menaruh dendam kepadaku. Tidak menangis lagi ketika aku ejek “Si keriting gagu aa... uu... aa... uu...” Kau malah membalas senyum. Tertawa meskipun tidak dengan suara. Aku jadi kesal sendiri, senjata untuk mengganggumu tidak berhasil. Tidak kalah akal, aku sengaja benar mematahkan semua crayon-crayonmu ketika sedang belajar menggambar. Agar kau marah dan menangis lagi. Dan lagi-lagi kau hanya tersenyum memamerkan susunan gigimu yang banyak bolongnya itu.

Aku juga pernah mempermalukanmu di depan teman-teman dan bu guru. Ketika seorang guru menanyakan apa cita-cita kita. Kau menulis sebuah kata GURU dan memamerkannya tinggi-tinggi. Spontan saja aku berteriak, “orang gagu mana bisa jadi guru.”

Sya, betapa kalau ingat masa itu, aku sangat badung dan menjengkelkan di matamu ya.

Sya, kini aku kembali dari perantauanku ke negeri orang. Aku sudah menyelesaikan study-ku dengan baik. Usiaku sudah cukup matang untuk mulai merencanakan masa depan. Mencari pendamping hidup. Entah kenapa sekelebat kenangan masa kecilku datang. Tiba-tiba saja aku teringat dengan sosokmu. Penasaran ingin tahu, bagaimana rupa si keriting gaguku dulu. Ah, sudah lama sekali kita tidak berjumpa.

Kebetulan pula kita bertemu di sekolah ini. Setelah bertahun-tahun lamanya. Jujur aku kaget sekali ketika pertama kali bertemu denganmu lagi. Akupun menangkap hal yang sama di matamu. Aku terkejut, sangat jelas kau sekarang berbeda. Aku seperti tidak mengenali lagi sosok si keriting gaguku dulu. Yang ada di hadapanku saat ini adalah Sya yang lain. Sya yang membuat aku lama tertegun. Memang kau tidak menjelma menjadi perempuan yang sempurna cantik. Tapi sudah lebih dari cukup menjadi alasanku untuk memandangmu sebagai perempuan yang menarik. Apakah ini yang dinamakan energi cinta? seseorang akan melihat sosok yang ia kagumi menjadi sosok yang lebih sempurna. Dengan kacamata cinta. Berapapun kekurangannya.

Kau masih saja tersenyum menghadapi kecanggunganku yang memberanikan diri menanyakan kabar. Seperti tidak memerlukan jawaban, aku mengangguk paham. Tentu saja kau sedang dalam keadaan baik. Pancaran cahayamu mampu aku lihat dengan baik. Ah, jelas-jelas itu adalah binaran mataku yang memendar ke arahmu.

Sya, aku tahu kapan pertama kalinya kau memutuskan untuk berkerudung. Sejak masuk sekolah menengah pertama. Kata nenekmu hari itu kau pulang dengan wajah yang memerah sekali. Bukan karena habis menangis atau kesal. Kau hanya menahan malu. Malu diperhatikan oleh teman-temanmu yang baru. Apalagi kalau bukan soal rambut keriting dan suaramu itu. Tapi lagi-lagi esoknya kau kembali tersenyum ramah ketika mereka mengganggumu. Hingga akhirnya mereka terbiasa dengan ‘kelebihanmu’ yang tidak dimiliki oleh mereka. Dan mulai mengenalmu dengan julukan, si puteri tersenyum yang tak banyak bicara.

Darimana aku tahu soal itu? Tentu saja aku tahu. Karena aku memutuskan untuk mencari tahu banyak hal tentangmu melalui cerita-cerita nenekmu. Beliau antusias sekali menceritakan semuanya. Hmm.... sejujurnya aku belum berani mengutarakan langsung ke inginan itu di depanmu. Takut kau keberatan.

Aku juga tahu kenapa di usiamu sekarang –hanya selisih beberapa bulan denganku, dan sebagai seorang perempuan seharusnya sudah menikah. Kau masih saja seorang diri. Bukan karena tidak ada laki-laki yang tertarik kepadamu. Banyak sekali kalau kata nenek, hanya saja mundur perlahan ketika tahu lebih dalam kekuranganmu. Ah mereka lelaki yang payah menurutku, tidak bisa melihat dengan jelas sisi lain yang kau punya. Tapi kau tetap tidak berkecil hati menanggapi hal ini. lebih memilih sibuk mengajarkan banyak hal kepada anak didikmu.

Sya, di sinilah aku sekarang. Bersandar pada tubuh pohon buni tempat kau menangis dulu. Karena ejekanku. Memperhatikanmu dengan senyum berkembang. Lihatlah, kau pandai sekali mendidik mereka semua. Seakan anggota tubuhmu kecuali lidah menjadi mulut kedua untukmu menyampaikan materi. Dan mereka tidak terlihat kesulitan untuk mengerti apa yang ingin kau sampaikan. Lihatlah bu guru Sya yang selalu tersenyum untuk sekitarnya.

Sya, aku akan menunggu hingga bel pulang berbunyi. Setelah meneguhkan hati beberapa hari ini, izinkan aku meminangmu hari ini. Sebagai lelaki badung dan menyebalkan di matamu. Lelaki yang memiliki banyak kekurangan sepertimu. Sebab bagiku, untuk menyempurnakan kekurangan, seseorang tidak perlu mencari sosok yang memiliki kelebihan. Sama saja itu tidak akan seimbang. Yang sempurna adalah dua orang yang saling menghargai kekurangan dengan sama-sama belajar memperbaikinya. Saling mengukuhkan kekurangan untuk kelebihan bersama.

Dan ternyata nasihat nenekmu dulu begitu sederhana, jangan membalas perbuatan buruk seseorang dengan dendam. Balas dengan senyuman ketabahan. 




November 30, 2013

Desember

Desember. Bulan penutup di perhitungan Tahun Miladiyah. Jika diibaratkan dengan alur kisah yang utuh, dalam novel-novel atau film. Bulan ini ibarat epilog. Bagian cerita yang menjadi penentu akhir dari perjalanan kisah, sejak bulan pertama yang menjadi prolognya. Hingga penghujung Desember yang merupakan endingnya.

Atau jika kisah-kisah itu masih panjang perjalanannya, Desember adalah penutup bab pertama. Hingga awal Januari menjadi pembuka kisah di bab berikutnya. Sebab, seperti pendapat seorang sahabat, kisah-kisah yang ada di dalam novel, cerita, dongeng, film ataupun di kehidupan nyata sekalipun, tidak ada yang namanya ending. Kisah itu tidak ada yang benar-benar sudah tamat, selagi tokoh-tokoh yang terlibat dalam rangkaian kisah itu masih ada yang hidup. Seperti kehidupan ini, kisahnya akan terus berlanjut semenjak manusia pertama, hingga hari kiamat nanti. Yang tamat dan berakhir hanyalah si tokoh jika ia ditakdirkan menjemput ajalnya dalam sebuah cerita, bukan kisahnya.

Desember. Jika diibaratkan sebuah project besar, mungkin inilah deadline pengerjaannya. Waktu yang sudah seharusnya pekerjaan itu matang, hanya tinggal memoles komponen-komponen kecil untuk mempercantik tampilan.

Desember. Jika diibaratkan sebuah perjalanan jauh. Si musafir dalam pengembaraan. Barangkali ini penghujung penantiannya untuk pulang, sampai tujuan. Atau masa-masa semua keinginan dan harapan itu tercapai.

Desember. Jika diibaratkan seorang yang pekerja keras. Ini waktu-waktu berharga yang bisa ia nikmati untuk bersantai menikmati hasil jerih payahnya. Bersama keluarga dengan senyum yang mengembang. tawa-tawa riang anak-istrinya.

Desember. Jika diibaratkan sebuah pohon yang besar. Inilah waktu untuk memuai bunga-bunga itu menjadi bakal buah. Waktu bunga-bunga mulai bermekaran. Kumbang-kumbang berdatangan.

Desember. Bulan penghujung tahun. Si bungsu yang selalu menjadi pusat perhatian. Anak terakhir yang dimiliki Tahun, yang paling ringkih dan manja. Yang rentan kecewa. Rentan kegagalan. Dan menjadi ujung tombak penentu keberhasilan.

Desember. Boleh jadi untuk seseorang atau lebih banyak lagi jumlahnya, yang entah siapa itu, entah di mana ia. Desember adalah waktu-waktu terakhir ia mengukir kisah sejarah di dunia. Tidak ada pintu belakang untuknya melihat Januari, si anak sulung yang pemberani. Siapa yang tahu ajal seseorang. Tidak ada yang tahu.

Tapi Desember untukku. Desember harapan-harapanku. Semoga ia adalah Desember yang lebih banyak lagi membawakan kabar gembira. Menjadi tempat dan waktu yang baik untuk bertemu dengan seseorang yang mengutuhkan kisah-kisah perjalananku. Yang menjadi penentu ending di bab pertamaku. Desember menjadi 'pintu belakang' untukku menjumpai masa depanku di tahun-tahun kemudian. Di bab-bab berikutnya.

Desember yang lebih banyak lagi mengajarkan arti kesyukuran. Yang membimbing dalam pemahaman-pemahaman. Yang mendewasakan kesalahan-kesalahan masa lalu. Desember yang di ridhoi Tuhanku, dengan mengabulkan harapan-harapan itu. Semoga.    



Penghujung November

Tak terasa sudah di penghujung bulan November. Dan rasa-rasanya saya hampir melupakan satu hal, masih ada kewajiban untuk menggenapkan postingan di blog ini. Hah, bisa dibilang ini bulan yang cukup membuat tarikan napas lebih menderu. Awalnya niat akan memposting satu hari sekali, tapi prakteknya tetap saja nihil. Tak mengapa, setidaknya sudah ada 28 judul postingan untuk bulan ini. (Dan beberapa draft tulisan yang masih menggantung dasbor.) Benar tidak? :D

Rahasia kecilnya, sistem kinerja dari resolusi-resolusi yang saya buat di bulan lalu memang agak sedikit melenceng dari jalur. Siklus kesehariannya agak goyang, banyak faktor yang membuat jadi demikian. Seperti waktu kepulangan yang agak melarut dari biasanya, faktor cuaca yang seperti ombak di lautan. Kadang pasang kadang surut. Dan daya tahan tubuh yang agak menurun. Meski hal-hal itu tidak semestinya menjadi alasan untuk tidak menyelesaikan semuanya dengan baik. Selagi pintar-pintar membagi waktu dan mengatur kendala-kendala yang datang. Seharusnya kan ya, seharusnya.

Ah, bagaimanapun saya akui, 'dapur' hidup saya memang masih saja berantakan di sana sini. Masih banyak yang perlu dibenahi dan lebih 'didewasakan' lagi. PR.... PR... 

Dan untuk bulan desember yang Insya Allah di mulai esok hari, saya berencana menulis kisah empat keseharian. Dengan empat tokoh utama yang memiliki karakter-karakter berbeda (semoga saya berhasil dibagian ini, mengingat saya masih lemah dalam membangun karakter tokoh fiksi). Kisah Lam, Jim, Ra' dan Fa. Dengan latar belakang kampus Hijaiyah. Empat tokoh yang mengisi keseharian dengan cara mereka masing-masing. Niatnya ingin menyelipkan sedikit-banyak pesan-pesan baik dari keseharian mereka. Tentang bagaimana mengisi waktu luang, menghabiskan masa muda. (semoga tidak berakhir dengan cerita yang sok tau ya, mengingat saya pun masih belajar menjejaki kehidupan saya pribadi.) Akan dibuat perjudul dengan kisah yang habis tuntas di satu judul, tapi masih memiliki keterkaitan satu sama lain. Kalau di pikiran saya sih alurnya begini begitu. Semoga saja waktu prakteknya mudah dituangkan dalam bentuk tulisan.  

Lalu apakah ada kisah-kisah rasa yang tumbuh di antara mereka? lihat saja nanti.

Untuk project bulan desember ini saya belum tahu nih menulisnya dalam bentuk online di blog atau lebih banyak offline. Kemungkinan besar sih offline dan akan lebih sedikit postingan di Lakaran Minda ini. Kita lihat nantilah. Doakan saja saya mengerjakannya nggak nanggung, mengingat banyak naskah cerita yang berceceran nggak dituntasin. haha....

Itu saja untuk tulisan kali ini. Besar harapan saya, apa-apa yang sudah atau akan tertulis di sini, lebih banyak mengandung kebaikannya dibanding perkataan/tulisan yang kelak harus saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wata'ala. Aamiin.

Demikian.... Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.... sudah menjadi pengunjung Lakaran Minda yang bijaksana. Sampai ketemu di postingan berikutnya.

Adios



November 24, 2013

NYAMAN

Nyaman. Tiba-tiba aku ingin mengurai kata itu. Lalu terbesit pertanyaan, seperti apakah suasana yang nyaman itu?

Kala menikmati kesendirian dalam sunyinya kamar. Ketika yang terdengar hanya bunyi detak-detik jam dinding. Hening. Tidak ada satupun yang menggangu. Ditemani rintik-rintik hujan yang turun di balik jendala. Atau ketika terbaring di hamparan rumput menghijau. Memejamkan mata, menikmati semilir angin yang membawa wewangian bunga dari pohon-pohon. Ditemani dengan gemericik alir mengalir. Atau mungkin duduk bersandar pada batu besar, kaki menjuntai ke air laut. Memandangi deburan ombak yang memecah karang.

Apakah seseorang akan merasakan kenyamanan di saat itu? Umm... bisa demikian bisa juga tidak. Boleh jadi pikirannya sedang rumit, hatinya sedang resah. Nyaman suasananya, tapi tidak jiwanya. Dan jangan lupakan satu hal, kebosanan yang kerap kali datang.

Nyaman. Apakah ketika berbincang berjam-jam dengan orang yang mengerti kita. Menceritakan apa saja. Tentang kisah-kisah masa lalu, mimpi-mimpi masa depan di depan beranda rumah kala senja. Sembari menikmati potongan buah magga yang diiris dadu. Ditemani dua cangkir coklat hangat. Bersenda gurau dengannya. Tertawa mendengar celotehnya.

Ataukah hanya sekedar chatting dengan seseorang nan jauh di sana. Seseorang yang belum dikenal di dunia nyata. Tapi terasa dekat di dunia maya. Seseorang yang belum pernah ditemui, mendengar suaranya, melihat wajahnya secara langsung. Tapi selalu dinantikan waktu luangnya untuk chatting dengannya. Seseorang yang kerap kali membuatmu tersenyum, tertawa riang sekalipun ia tidak akan melihat bahwa kita sedang tersenyum karena ulahnya, tutur katanya, candanya. Seseorang yang belum lama dikenal tapi kita sudah merasa biasa untuk menceritakan apa saja. tentang keseharian kita. Tentang mimpi-mimpi kita. Tentang kegiatan-kegiatan yang disukai. Ia tidak merasa keberatan untuk mendengarkannya. Dan kita sendiri menyediakan diri untuk menjadi pendengar yang baik untuknya.

Apakah saat-saat itu kita akan merasakan yang namanya nyaman? Aku tidak tahu persis apa yang membuat orang lain merasa nyaman. Yang kutahu, nyaman adalah saat di mana keberadaan kita, yang sedang kita lakukan seolah tidak terikat waktu. Tidak ada ukuran baru melewati waktu bersamanya sebentar, atau sudah berjam-jam. Itu teoriku. 

Mungkin suatu saat nanti kalian akan menemukan seseorang, ketika dengannya akan terasa nyaman, meskipun kalian tidak melakukan apa-apa, tidak membicarakan apa-apa. Sekalipun yang kalian lakukan hanyalah diam dalam waktu yang lama. Karena kalian tidak merasa bosan menghabiskan waktu bersamanya.