Desember 12, 2012

Ketetapan & Pilihan

Mari kita bicarakan tentang ketetapan dan pilihan.

Hidup, rezeki, pertemuan, jodoh dan kehilangan (pergi, mati, kembali) itu ketetapannya. Tidak ada yang kuasa untuk memajukan, mengulur waktu, bahkan menghapusnya.

Yang bisa dilakukan hanyalah dengan 'pilihan, pilihan untuk menapaki hidup yang lebih berarti, bermanfaat. Pilihan untuk menghargai pertemuan, saling mengisi kekurangan dan mengikat hati dengan keakraban, bukan dengan kebencian. Pilihan untuk memperbaiki diri, budi, laku, kualitas diri untuk mendapatkan jodoh yang sesuai permintaan hati. Dan pilihan untuk memanfaatkan waktu luang, mempersiapkan diri dengan bekal sebelum kembali pulang, serta pilihan untuk menerima yang telah pergi. Memahami yang sudah terjadi.

Bukankah kebaikan akan selalu diiringi kebaikan (pula) Qs ; Ar-Rahman.

Senang dan duka tipis sekali, kapan pun dan di mana pun bisa saja bertukar posisi. Satu hal yang mendamaikan mereka; kesempatan untuk bersama. Kesempatan untuk mengecap rasa. Tanpanya tidak ada lagi definisi suka dan duka.

Tidak ada kesempatan yang sia-sia. Yang sia-sia ketika memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa. Tidak ada kebersamaan yang sia-sia. Yang sia-sia ketika harus kembali sendiri, tapi kehilangan kepercayaan untuk bisa. Dan ketika bersama tidak menempatkan diri memanfaatkan waktu yang ada.

Belajarlah seperti bunga matahari, yang selalu menghadapkan wajahnya ke langit. Bukan, ia bukan hanya sekedar mencari sinarnya. Ia hanya percaya akan selalu ada harapan. Tentunya ketika menatap langit, bukan merunduk ke kubangan kesedihan. Dengan tetap ceria bukan mengurai airmata.

Ketika langit gelap diselingi kilatan cahaya yang menyambar, seseorang bergegas melajukan kendaraan roda duanya, dikarenakan takut hujan turun dan terjebak hujan lebat sepanjang jalan. Padahal tanpa disadari ia justru sedang menuju hujan.

Mungkin seperti itulah orang yang memiliki tujuan tapi tanpa perhitungan. Seperti seseorang tadi yang tidak pandai membaca petunjuk awan. Tidak peduli langit mana yang sudah lebih dulu gelap. Yang ia tahu, ia harus bergegas jalan sebelum turun hujan.


Ya, meskipun sudah tahu memiliki tujuan, bukan berarti tidak akan mengalami kesulitan ketika diperjalanan. Bukan berarti tidak ada kekeliruan ketika mengambil keputusan. Yang memiliki tujuan saja masih ada ujian dan tidak jarang mengalami hal sulit. Bagaimana yang tidak pernah memiliki tujuan? Apalagi yang tidak pernah memikirkannya. Jangan-jangan ia sendiri tidak tahu 'tujuan' itu sendiri apa.

Seseorang terus saja menyirami taman penantiannya, mengumpul harap agar taman itu tumbuh subur sesuai dengan keinginan hati. Sepanjang siang dan malam ia perhatikan, ditengok, ada rasa cemas menunggu penantian itu berputik dan berbuah manis. Tidak lupa ia menyiangi rerumputan yang sekiranya menghambat pertumbuhan 'harapan'. Sambil memperbaiki diri dan berdoa setulus hati ia terus bersabar dalam penantian. Ia percaya penantiannya tak akan sia-sia.

Satu orang lainnya tengah berjuang dalam pencarian. Menyibak dedaunan ilalang yang ia anggap menghalangi perjalanannya, guna memetik putik yang dijanjikan. Dengan jiwa semangat terus menerus berjalan dalam labirin panjang pencarian. Dengan berbekal ilmu dan iman serta sopan santun dalam perjalanan. Ia percaya pencariannya akan berakhir manis sesuai dengan yang sudah dijanjikan.

Sekarang anggap saja orang pertama itu adalah seorang perempuan yang belajar  menjadi wanita shalehah. Yang senantiasa memperbaiki diri. Berdoa dalam kesabaran, menunggu dengan manis di gerbang penantian. Ia tidak akan keluar sembarangan, menabur-nabur semerbak harum begitu saja sebelum yang telah dijanjikan datang menjemputnya. Hanya satu, satu orang itu saja yang entah itu siapa yang ia yakini adalah jawaban atas penantiannya.

Dan anggap saja seseorang yang kedua adalah seorang laki-laki yang belajar menjadi laki-laki shaleh, yang sedang mencari tambatan hati setelah berhari-hari memantaskan diri. Berhati-hati agar tidak salah pilih dan salah petik tumbuhan yang tandus sebelum waktu panennya. Layu sebelum mekar berkembang. Tidak timbul ragu ketika menetapkan pilihan atas jawaban pencariannya.

Tahukah kalian, ketika dua hati tengah menyatu ada skenario Tuhan yang mempertemukan keduanya. Asmara Tuhan yang menautkan hati mereka dalam lembutnya kasih sayang. Dan tahukah apa perekat yang menyatukan mereka? Waktu. Waktu yang tepat dalam takdir perjodohan.

Pada akhirnya penantian itu tidak akan sia-sia saat perjalanannya adalah sebuah pencarian diri, menuju yang lebih baik. Dalam cerminan hati yang sesungguhnya.

Kabar gembira itu ketika hati yang kamu tuju, tengah merindukan kedatanganmu dengan suka cita. Bertemunya kedua harapan dalam satu tujuan.

Dan yang celaka, ketika kamu berjalan jauh tapi tidak pernah ada sesuatu yang bisa kamu temukan. Kamu terus berjalan, tanpa tahu itu hanya menuju kesia-siaan.

21 komentar:

  1. sama dengan saat kita mendaki gunung. kadang di depan, di jalan gelap itu, ada dua jalan bercabang di jalan simpang. kita akan kuatkan hati untuk memilihnya manakala tak tau arah. begitu berjalan, lalu yang kita temukan jalan terjal penuh jurang, kita akan mencoba kembali ke jalan simpang untuk mencoba jalan yang lain. manakala kita menemukan jalan yang lebih lapang, tentu itu yang kemudian kita pilih.
    hidup adalah berjalan benar dengan menghindari setiap risiko yang mungkin ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang lapang dan lurus versi manusia belum tentu akan selamat ya bang, bisa saja ada ujian kewaspadaan di sana. Sedangkan yang terjal ada sensasi sendiri ketika mendaki, tantangan untuk lebih hati-hati. Ya, seperti itulah yang kita selalu perlukan, petunjuk Allah yang mengarahkan ke tujuan yang lebih baik. Karena manusia begitu banyak batasan batasannya. Hehe...
      #dapet tambahan postingan lagi ini dari ketua SSKZ :P

      Hapus
    2. hehe... bukan ketua, tapi seksi konsumsi

      Hapus
    3. Oh iya ya menu andalan ayam bakar rica-rica :D

      Hapus
  2. kunjungan perdana sobat :) sambil baca2
    visit n koment back y dblogq :)
    skalian follow blogq ya nanti ak folback

    BalasHapus
  3. indah sekali..

    'kebetulan', pagi tadi nyimak ceramahnya ustadz wijayanto di tv, ada peserta di studio yg bertanya, mengapa Nabi Luth shalih, tapi istri durhaka, dan mengapa Nabi Nuh shalih, tapi anaknya durhaka?

    Jawab pak ustadz, ada 2 macam takdir: takdir mughayyarot, misalnya perbuatan baik/buruk, masih bisa diubah/diusahakan, dan merupakan suatu pilihan. Yang 1nya lagi takdir ghairu mughayyarot, misal, terlahir sebagai lelaki/perempuan, bukan pilihan manusia, tapi sudah menjadi ketetapan Allah, sehingga tak bisa diubah.

    Maka, soal ketetapan pilihan, mau baik atau buruk, ada di tangan manusia yang memilihnya. Ada di QS Asy Syams juga kan ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. siip, masukan berharga, Mbak Dini

      Hapus
    2. Mantaaaap mbak dini, dapet pelajaran lagi setuju sama bang Zach..

      Hapus
  4. ketetapan dan pilihan...

    hm...
    sholat istikhoroh saja, Uzay...
    dah mau nikah kah?
    wkwkwkwk

    ~eh kamu rajin sekali mampir ke tempatku
    -___-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau Insya Allah, kamu juga kan? :D
      masalah waktunya dan dengan siapanya baru masih rahasia Allah :)


      Jadi ga boleh niiih? :D

      Hapus
    2. Iya....
      Insya Allah :)

      Hahaha,
      tidak apa-apa...

      Hapus
  5. mau komen apa ya #garuk2pala

    saya lebih suka kalau yg menautkan 2 hati itu adalah kecintaan kepada satu Rabb, bukan cuma sekedar waktu sih :D

    #ngasal =))

    salam kenal :dadah2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu semua cinta semua bermuara ke Rabb.. sebagai muara terakhirnya :)

      salam kenal juga.

      Hapus
  6. btw, aye suka cursor kucingnya XD

    si item juga ada nongkrong di mari... dulu pernah pasang di blog, tp dah ku remove... makin sering nemu dia maen di blog laen soalnya =D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe karena saya suka kucing :)

      Hapus
  7. *spechless*
    kata-katanya sungguh inday, zay :)

    BalasHapus
  8. hallo bang uzay^^
    sudah lama ga mampir kesini,
    seneng deh bisa mampir kesini lagi :D

    BalasHapus
  9. ini mau komen gimana ya?
    mm... jadi, Allah kan udah menentukan segala ketetapan buat hambanya, dan semua hanya masalah waktu. nah, sembari nunggu waktu yang udah ditetapkan itu datang, kita selalu punya pilihan buat nunggu dengan cara apa, memperbaiki diri atau memaksakan waktu?
    gitu ya bang???

    BalasHapus
  10. Yap, makanya selain ada ketegasan didalam ketetapan dan pilihan kita juga harus berhikmat dan memohon petunjuk yang kuasa ye Zay :D

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)