Desember 08, 2012

Mekar Malam

Setelah shalat maghrib berjamaah dengan pak Ramlan, aku beringsut keluar mencari Savana, kali ini ia tidak terdengar mengaji seperti biasanya, jadi aku menebak kalau dia sedang ada di taman obat-obatan yang ia rawat. Udara malam di pegunungan lebih terasa menusuk kulit, meskipun sudah memakai mantel yang cukup tebal, rasanya kali ini secangkir wedang jahe hangat belum banyak membantu. 

Ternyata dugaan ku benar, Savana sedang duduk di sebuah bangku panjang terbuat dari rotan, di depannya terdapat beberapa pot bunga yang sempat aku lihat pagi tadi. Tidak sepertiku yang menahan dingin, gadis itu seperti tidak merasakan desiran angin yang bertiup di sekitarnya. Mungkin sudah terbiasa.

 Aku berniat ingin mengajukan diri untuk lebih banyak belajar tentang alam, terutama untuk menunjang tugas kuliahku. Semoga saja dia bersedia membantu. Ia tampak serius mengamati tanaman-tanaman di depannya. Aku harap kehadiran ku tidak terlalu mengejutkan dan menggangu. 

“Tanaman bunganya terawat yah, kalau mekar pasti lebih cantik.” Basa-basi ku. Lalu menyeruput wedang jahe.

“Oh..iya kak,” sejenak ia melihat ke arahku, “Lima menit lagi pasti bunganya mekar.” Lalu ia kembali menatap lekat ke bunga itu, seperti tidak ingin kehilangan moment berharga. 

“Kok, kamu bisa tahu? Boleh aku duduk di sampingmu?” pintaku lebih hati-hati. 

“Um...boleh kak silakan. Coba lihat saja, nanti alam yang bekerja di bawah sinar rembulan ini. Dan aku sedang menunggu moment itu.” Katanya sambil tersenyum simpul. 

‘Bunga Bulan’ aku membaca tulisan di pot berukuran sedang itu. Ku perhatikan sorot bulan di atas sana jatuh pas ke kelopak bunga yang masih mengatup. 

“Sudah saatnya kak, ayo kita perhatikan.” Savana antusias, kini jaraknya dengan bunga dibuat lebih dekat. Aku ikut penasaran. Subhanallah, sejenak kemudian sepucuk bunga berwarna merah muda mulai mekar. Perlahan-lahan kelopak itu terbuka hingga mahkotanya berbentuk sempurna. “Oh... yang ini jenis yang berwarna merah muda ternyata.” Savana menyimpulkan. 

“Kamu sedang meneliti bunga ini? Ini benar bunga Bulan?” tanyaku sambil jariku menunjuk nama yang tertera di pot. 

“Nggak kak, aku penasaran saja dari kemarin malam satu pohon di pot ini tidak berkembang. Iya ini Ipomoea bisa juga di sebut bunga Bulan. Karena ia akan mekar di bawah sinar bulan. Untuk itu aku menantinya. Ketika mentari terbit dan sinarnya menyentuh kelopak, mereka akan kembali kuncup. Biasanya selain merah muda, ia juga berkelopak putih. Dan aku lebih suka warna kedua itu.” Kembali ia menatap letak, benar-benar terlihat bahagia bisa menikmati proses bunga itu sempurna. Savana mulai memperhatikan bunga-bunga di tempat lain. 

“Kamu suka bunga ya?” aku ikut memperhatikan tumbuhan lain. Meskipun terbilang rumah ini di kelilingi pohonan besar, entah kenapa sinar rembulan bisa berperan menerangi sekelilingnya. 

“Tepatnya mereka teman ku di saat sepi.” Jawabnya dan kembali tersenyum. Rasanya jika aku melihat senyum yang mengembang itu, aku teringat sosok gadis yang beberapa waktu lalu aku temui di mimpi. Ya senyuman mereka mirip. 

“Hei... kak jangan sentuh itu.” Aku tersentak. Tapi terlambat tanganku sudah lebih dulu menyentuh bunga yang namanya belum aku kenal. Aromanya menggoda, bunga itu berwarna kuning krim. 

“Maaf.” Aku takut telah melakukan kebodohan lagi. 

“Yang itu namanya Gladiol Tristis dan yang tadi kakak sentuh, itu bagian pertahanan tubuhnya dari serangga, bisa menyebabkan iritasi kulit dan alergi. Makanya aku bilang jangan di sentuh.” Savana terkekeh. 

“Habis aromanya menggoda Sav.” Walaupun aku tersenyum tapi ada rasa  khawatir akan efek yang timbul setelahnya. 

“Di situlah uniknya tumbuhan kak, mereka memiliki keistimewaan tersendiri. Alam ikut menjaga mereka, bisa jadi sahabat untuk manusia atau menjadi ancaman, tergantung cara kita memperlakukannya. Makanya sebagai manusia kita tidak di perkenankan sembarang memetik bahkan merusak.” 

“Apa bunga-bunga ini juga bisa di jadikan obat Savana?” aku semakin tertarik mempelajarinya. 

“Tentu saja, Allah menciptakan mahluknya memiliki kegunaan. Selain menghasilkan bunga-bunga yang cantik dan sedap di pandang. Seperti Oenothera biennis, aku menyebutnya bunga kipas kuning, dari biji dan akarnya bisa di jadikan obat-obatan, tentu juga bunga-bunga yang lain. Cuma manusia ilmunya masih terbatas.” 

Masya Allah rasanya aku tidak salah pilih orang, aku berbisik. 

“Kenapa kak?” rupanya Savana samar-samar mendengar. 

“Nggak... boleh minta bantuannya?”sebelum ia menjawab, aku melanjutkan kata-kataku.

“Aku kan ke gunung ini dalam rangka tugas karya ilmiah, kamu bisa bantu mempelajari alam lebih dalam? Ya dari pada aku terdampar di sini dan pulang tidak membawa apa-apa. Tapi itu pun kamu tidak keberatan. Gimana?” Pintaku. 

“Boleh, besok kebetulan jadwal aku mengunjungi hutan.” Savana beranjak. 

“Mengunjungi hutan?” tanyaku masih bingung. 

“Iya, sampai besok kak, aku ke kamar dulu.” Savana meninggalkanku dengan penuh tanda tanya.

#Bagian dari naskah berjudul Lakaran Minda
Mohon maaf kalau banyak kata yang belum rapi tersusun.

6 komentar:

  1. Tadinya udah berniat untuk ga lompat2, tapi karena ini lakaran minda jadi ga jadi hoho

    BalasHapus
  2. saya udah baca sekali. cuma belum konek banget. kalo yang sebelum ini, lebih greget bahasanya menurut saya, Bang Uz.

    BalasHapus
  3. ehm.. ud rapih ko. jalan ceritannya pun ud asik bang. :D

    BalasHapus
  4. ini lanjutan yg smarin jg kan ya....

    BalasHapus
  5. Maasya Allah keren sekaliii.. tulisan kayak gini mestinya masuk materi Bahasa Indonesia di sekolah2 nih..

    BalasHapus
  6. Bang, udah kenal dengan yang ini belom?http://whentheheartchimes.blogspot.com

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)