Saya percaya bahwa diri kita memiliki peran menjadi perpanjangan tangan untuk rezeki orang lain. Dan garis jalur rezeki itu sudah Allah atur dengan sedemikian rupa. Meskipun kita tidak secara kasat mata untuk bisa melihat jalur-jalurnya.
Semisal, sewaktu ketika kita sedang membutuhkan suatu benda. Kita sengaja mencarinya di toko yang lebih jauh (sebut saja toko kedua), padahal kita melewati toko yang lebih dekat dan terjangkau (sebut saja toko pertama). Satu, karena di toko tsb pilihannya lebih banyak. Dua, karena di toko tsb biasanya harganya jauh lebih murah atau kualitasnya lebih baik. Tiga, bisa juga karena searah ke tempat lain untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Biar sekalian jalan.
Eh, ternyata sudah jauh-jauh pergi ke toko tsb, tokonya tutup. Atau yang sedang kita butuhkan stoknya habis. Dan sepanjang jalan tsb kita tidak menemukan toko alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan kita tsb. Sehingga kita pun pada akhirnya memutuskan membeli benda tsb di toko yang lebih dekat (toko pertama), yang sebelumnya lebih terjangkau jaraknya. Kesimpulannya, jadi berputar-putar? tidak hemat waktu? lebih capek karena faktor jarak tempuh juga? bisa jadi.
Tetapi, pernahkah kita terpikir, boleh jadi itu karena jalur rezeki si pemilik toko pertama yang ada pada diri kita, yang seolah-olah sudah membuat kita berputar-putar. Bahwa kita sedang menjadi perpanjangan tangan untuk rezeki si toko pertama tsb. Hikmahnya, rezeki memang tidak akan tertukar.
@azurazie_


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)