Mei 29, 2026

APA KABAR IMANMU HARI INI?


Wahai hati,  

kapan terakhir kali kau bertanya pada dirimu sendiri:  

"Apa kabar imanmu hari ini?"

Dengarlah,  

saat adzan Subuh mengetuk pintu langit,  

kau masih tertidur dalam buaian lalai.  

Malam yang seharusnya jadi saksi bisumu bermunajat,  

kini hanya jadi cerita yang tak sempat terjadi.

Kau berlari ke masjid, napas tersengal.  

Tapi iqamah sudah selesai, saf sudah rapat.  

Dua rakaat sebelum fajar yang nilainya lebih dari dunia,  

hanya jadi rindu yang menggantung.

Siang datang, kau ajak teman makan.  

Mereka tersenyum, "Maaf, aku puasa sunnah."  

Sementara kau lupa hari, lupa hitungan, lupa tujuan.  "Oh, kirain ini hari selasa."

Mereka bertadarus menggenapi satu juz,  

kau menggenapi obrolan yang tak ada ujungnya.

Jumat datang dan pergi, tanpa Al-Kahfi.  

Hari berlalu, tanpa shalawat yang menemani.  

Lalu kau menatap mereka yang bersemangat menambah bekal,  

dan bertanya: apa yang membuat kita berbeda?

Padahal waktu kita sama.  

24 jam, tak lebih, tak kurang.  

Yang berbeda hanyalah keberkahan yang kita minta,  

dan rasa manis yang kita cari saat sujud. 

Kamu tidak menjaga dengan baik hubunganmu dengan Allah.

Maka sering-seringlah bertanya, diri.  

Sebelum jauh tertinggal,  

sebelum waktu yang kau sia-siakan  

menjadi penyesalan yang tak bisa diulang.

Terus menua.

Dan bekalmu tidak ada apa-apanya.


@azurazie_

Mei 26, 2026

MAHAL HARGANYA

Mudah saja bagimu melangkahkan kaki keluar rumah untuk mencari nafkah hari ini. Bahkan, kamu masih sempat menunaikan shalat Dhuha dua rakaat sebelumnya.

Mudah saja bagimu menikmati sarapan pagi dengan makanan yang sehat, baik, dan halal. Minumannya pun kamu dapatkan gratis dari rekan kerja yang kelebihan membeli. Murah dan hemat.

Mudah saja bagimu menyelesaikan segala urusan tanpa butuh tenaga ekstra. Tanpa perlu waktu lama. Tanpa butuh bantuan orang lain. Segalanya terasa ringan, menyenangkan, dan membuahkan hasil sesuai harapan.

Dan ketika kamu menikmati semua itu sambil mengucap "Alhamdulillah", ada satu hal yang kamu sadari:

Segalanya terasa mudah dan murah ketika dinikmati. Padahal sejatinya, semua itu mahal tak ternilai harganya.

Mahal, karena Allah-lah yang mengizinkan kemudahan itu datang. Allah yang memudahkan kita untuk beribadah. Allah yang memberi hidayah untuk tetap mendirikan shalat di waktu-waktunya, lalu berdoa setelahnya.

Allah yang memudahkan kita menikmati makanan dengan raga yang sehat—tanpa terganggu indera pengecap, tanpa kehilangan selera makan. Allah juga yang mengingatkan kita agar selalu mengawali dan mengakhiri dengan doa, dengan tangan kanan, dan dengan posisi duduk yang baik.

Mudah dan sesederhana itu, tapi sebenarnya mahal harganya.

@azurazie_

Mei 24, 2026

JARAK DAN RINDU DENGAN DOA

Jarak terjauh bukanlah ruang, melainkan masa lalu yang tak akan kembali.

Rindu yang paling berat adalah mengenang orang-orang tercinta yang telah lebih dulu berpulang.

Dan nyatanya cinta itu tidak akan pernah hilang. Ia menjelma menjadi doa-doa yang kian dalam.

Maka, sungguh beruntung bagi orang-orang yang lebih dulu berpulang, dan meninggalkan anak-anak soleh yang senantiasa mau mendoakan. 

Karena, hanya itu yang bisa menjangkau rindu yang melampaui ruang dan waktu. Sampai dan terdengar, hingga menggembirakan hatinya.

@azurazie_

Mei 23, 2026

AMANAH DALAM DZULHIJJAH

Bulan Dzulhijjah itu bukan sekadar tentang penyembelihan hewan qurban.

Pada Dzulhijjah itu ada peristiwa perpisahan yang paling berat dalam sejarah umat manusia.

Tentang gembira yang meledak di dada dan sedih yang menusuk dalam-dalam. Bagaimana tidak, seakan kabar gembira dan rasa sedih seketika datang sepaket tak terelakan.

Pada Khutbah Wada.

Ketika Qs. Al-Maidah ayat 3 itu turun : 

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu."

Gembiralah hati ummat muslim saat itu. Karena bersyukur termasuk bagian dari golongan ummat yang telah sempurna agamanya. Yang telah disempurnakan nikmatnya. Yang telah dijamin keselamatan akhiratnya.

Tak berselang lama kemudian beralih sedih, karena tahu saat ayat itu turun adalah isyarat, masa kebersamaan dengan Rasulullah SAW. yang tercinta akan tinggal sebentar lagi waktunya. Sedih, karena nikmat yang tak kalah besar, (kesempatan hidup bersama Rasulullah SAW) akan hilang setelahnya.

Maka Bulan Dzulhijjah kini itu tentang, kita yang hidup di zaman tanpa Rasulullah SAW. secara fisik, akan tetapi telah sempurna agamanya.

Maka, Dzulhijjah itu sepatutnya tentang menjaga amanah dengan sebaik mungkin. Dengan menunaikan shalatnya (sebagai identitas seorang muslim). Dan terus perbaiki shalatnya (menjaga tiang agama). Karena itu adalah landasan dasar menjadi muslim yang patuh, muslim yang sempurna.

@azurazie_

Mei 22, 2026

LUPUT DALAM PERHATIAN

Sungguh, tidak ada yang luput dari perhatian-Mu. Baik perhatian-perhatian yang aku sadari sepenuhnya, maupun perhatian yang sama sekali luput aku ingat, bila tidak dibarengi dengan rasa syukur yang dalam-dalam atau perhatian dalam bentuk ibrah yang tiba-tiba Engkau ingatkan dalam sebuah peristiwa.

Tentang perhatian bagaimana aku bisa tumbuh sejauh ini. Bagaimana aku mampu mencukupi apa-apa yang aku butuh dengan kemampuanku sendiri. Setelah usahaku sendiri. Perhatian-Mu untuk takaran rezeki yang tak akan tertukar. Bagaimana aku merasa aman di kala sendirian di tempat asing, atau merasa nyaman di rumah sendiri. Bagaimana aku lapang dalam beribadah. Bagaimana Engkau memberikan kemudahan-kemudahan dan kebaikan-kebaikan. Itulah sebagian kecil dari perhatian-perhatian-Mu yang bisa aku sadari sepenuhnya.

Maka, aku selalu berusaha untuk bersyukur dengan sebaik-baiknya rasa syukur.

Masya Allah.

Hadza min fadli Rabbi.

Pun demikian, perhatian-perhatian yang sama sekali aku tidak bisa sadari, karena memang keterbatasan kemampuan. Bagaimana Engkau membentuk sistem yang begitu sempurna untuk menopang hidupnya tubuh ini. Tentang jantungku yang berdetak 100.000x sehari tanpa jeda untuk istirahat. Tentang miliaran sel di tubuhku yang mati dan lahir lagi di tiap detiknya. Tentang sistem imun yang memerangi virus dan bakteri jahat, meski aku sedang tidur nyenyak. Tentang kapan waktu yang tepat untukku bersin. Tentang oksigen yang bebas berlalu lalang masuk ke dalam hidung sampai ke paru-paru. Dan tentang lain-lain yang aku sama sekali luput untuk mengetahui bagaimana kinerjanya. Betapa Engkau Maha Baik memberi perhatian itu.

Allahu Akbar. 

Maka, aku berlipat-lipat jauh lebih bersyukur untuk nikmat sehat dan afiat itu.

Dan tentang pengawasan-Mu dalam melihat tindak tandukku dalam berbuat dosa. Sungguh aku malu, lebih sering luput dan pura-pura lupa, kalau Engkau pun mengawasinya.

Astaghfirullah.


@azurazie_

Mei 21, 2026

BERISIK DI KEPALA

Dalam keseharian, rasanya banyak sekali berisik yang mendegung di telingaku. Berisik atas keluhan-keluhanku sendiri. Pun demikian, berisik atas keluhan-keluhan orang lain. Berisik atas tuntutan pekerjaan. Berisik atas teguran dari atasan. Berisik dari pertanyaan-pertanyaan, yang boleh jadi sebenarnya sudah ada jawabannya. Dan mereka hanya terlalu mengandalkan. Atau pertanyaan itu aku sendiri tidak tahu jawabannya.

Dalam keseharianku, rasanya banyak sekali berisik yang membuat ruwet pikiran. Berisik dari tugas yang seolah tidak ada habisnya. Berisik dari tagihan-tagihan yang masih panjang. Berisik dari tuntutan-tuntutan ini itu yang berlomba minta diprioritaskan. Sedangkan daya yang terbatas. Sedangkan ekspektasi orang lain tidak semua bisa aku cukupi semua. Tidak selalu dahaga orang lain bisa aku legakan.

Dalam keseharianku, rasanya banyak sekali berisik yang aku sendiri juga butuh wadah untuk mencurahkan semuanya. Agar tidak menumpuk menjadi beban. Penat. Pusing. Sakit kepala.

Dan berisik itu terurai satu-satu ketika berbisik dalam sujud kepada-Mu. Bahwa tanpa pertolongan-Mu, boleh jadi semua memori di kepala ini akan terus-terusan penuh. Overload. Pecah berantakan. Tanpa kasih sayang-Mu. Banyak manusia yang akan kehilangan kepalanya, meski sedang berjuang tetap tegak berdiri dengan kakinya sendiri.

Maka, izinkanku selalu berbisik untuk megutarakan keluhan-keluhan itu kepada-Mu. Bukan sekadar mengakui kelemahan. Tetapi memang karena selalu butuh pertolongan.

@azurazie_



Mei 20, 2026

SEBAB-SEBAB YANG BAIK

Pada sebab-sebab yang baik, aku letakkan harapan. Sebab-sebab itu mejadi upaya terbaik untuk memenuhi tiap-tiap kebutuhan. Sebab-sebab itu sebagai cara yang bijak untuk memudahkan yang sedang menjadi urusan.

Karena dengan sebab-sebab yang baik itu, membawa prasangka yang baik. Bahwa apa yang tengah kita upayakan, Allah ridho. Sehingga Allah jua yang membalas ganjarannya. Dengan sesuatu yang baik. Allah menilai segala upaya kita dengan nilai yang terbaik.

Karena dengan sebab-sebab yang baik itu, membawa hati untuk tenang. Sebagaimana doa-doa kebaikan. Karena sejatinya dosalah yang membuat hati cenderung gelisah. Tak tenang. Merasa bersalah. Dengan sebab-sebab yang baik, aku meyakini apa yang aku sedang upayakan, sejalan dengan apa yang seharusnya Allah terima. Yang Allah maklumi. Yang dapat dipertanggung jawabkan dari mulai proses, hingga apapun yang akan menjadi hasil akhirnya.

Karena dengan sebab-sebab yang baik, aku berlindung dari rasa kecewa, bila hasil yang diharapkan jauh api dari panggangan. Tulus. Ikhlas. Apapun hasilnya, bagaimana Allah saja. Memberi yang sesuai harapan. Atau meggantinya dengan yang lebih baik kemudian.

Maka, aku berdoa sekaligus terus berusaha, semoga Allah senantiasa mengarahkan hati dan diri ini untuk selalu mengupayakan segala sesuatunya dengan sebab-sebab yang baik. Untuk akibat-akibat yang jauh lebih baik.

Semoga.


@azurazie_


Mei 19, 2026

PERPANJANGAN TANGAN REZEKI

Saya percaya bahwa diri kita memiliki peran menjadi perpanjangan tangan untuk rezeki orang lain. Dan garis jalur rezeki itu sudah Allah atur dengan sedemikian rupa. Meskipun kita tidak secara kasat mata untuk bisa melihat jalur-jalurnya.

Semisal, sewaktu ketika kita sedang membutuhkan suatu benda. Kita sengaja mencarinya di toko yang lebih jauh (sebut saja toko kedua), padahal kita melewati toko yang lebih dekat dan terjangkau (sebut saja toko pertama). Satu, karena di toko tsb pilihannya lebih banyak. Dua, karena di toko tsb biasanya harganya jauh lebih murah atau kualitasnya lebih baik. Tiga, bisa juga karena searah ke tempat lain untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Biar sekalian jalan.

Eh, ternyata sudah jauh-jauh pergi ke toko tsb, tokonya tutup. Atau yang sedang kita butuhkan stoknya habis. Dan sepanjang jalan tsb kita tidak menemukan toko alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan kita tsb. Sehingga kita pun pada akhirnya memutuskan membeli benda tsb di toko yang lebih dekat (toko pertama), yang sebelumnya lebih terjangkau jaraknya. Kesimpulannya, jadi berputar-putar? tidak hemat waktu? lebih capek karena faktor jarak tempuh juga? bisa jadi. 

Tetapi, pernahkah kita terpikir, boleh jadi itu karena jalur rezeki si pemilik toko pertama yang ada pada diri kita, yang seolah-olah sudah membuat kita berputar-putar. Bahwa kita sedang menjadi perpanjangan tangan untuk rezeki si toko pertama tsb. Hikmahnya, rezeki memang tidak akan tertukar.

@azurazie_

Mei 15, 2026

SETENGAH DARI OBAT ADALAH SABAR

Seringnya kita lupa, bahwa setengah dari obat adalah sabar.

Ketika sedang merasa kesulitan, kemalangan, setengah dari obat untuk jalan keluarnya adalah sabar.

Karena Allah menjamin setelah kesulitan akan ada kemudahan. 

Ketika sedang dilanda kesakitan, kelelahan, ketidakberdayaan, setengah dari obat untuk pemulihannya adalah sabar.

Karena sejatinya Allah juga yang menyembuhkan. 

Ketika sedang diitimpa kehilangan, setengah dari obat untuk mengikhlaskannya adalah sabar. 

Karena sesungguhnya Allah yang mengadakan sesuatu,

Allah juga yang berhak untuk meniadakan kemudian.

Dan tahukah kamu, apa obat setengahnya lagi?

Adalah Shalat.

Jadikan Sabar dan Shalat sebagai penolongmu.

Jadikan Sabar dan Shalat sebagai penghiburmu.

Jadikan Sabar dan Shalat sebagai prasangka baikmu.

Jadikan Sabar dan Shalat sebagai katarsis keluh kesahmu.

Jadikan Sabar dan Shalat sebagai tempat mengadu dan mengaduhmu.

Jadikan Sabar dan Shalat sebagai upaya untuk setiap permasalahan-permasalahanmu.

Jadikan Sabar dan Shalat sebagai tanda tundukmu kepada Tuhanmu.

Jadikan Sabar dan Shalat sebagai bentuk ketidakberdayaanmu sebagai hamba-Nya.

Semoga dengan begitu Allah senantiasa menghiburmu dengan cara-Nya yang paling lembut.

Hingga yang datang kemudian hanyalah kebaikan-kebaikan.

Yang dirasa hanyalah kemudahan-kemudahan. 

Yang tersisa hanyalah kesabaran-kesabaran.

Karena Allah bersama orang-orang yang sabar.

Semoga.


@azurazie_




Mei 11, 2026

APA INI CARA YANG PALING MANIS UNTUK BERTEMU DENGAN-MU?

Aku benci waktu pagi, entah terakhir kali kapan aku tersenyum saat pagi itu tiba. Selebihnya aku hanya menangis, menjerit, merengut, memaki, ketakutan, dan tersudut di sela-sela bongkahan bangunan rumahku. Ingin rasanya aku mendengarkan lagu-lagu kesukaanku semasa kecil. Saat suara merdu ibu memandikanku di pagi hari. Atau saat beliau mulai mendongengkan cerita sebelum aku tertidur. Tapi sayangnya semua itu kini hanya terkubur dalam kenangan.

Berbeda dengan lagu pagi hari yang sering aku dengar sekarang. Begitu memecahkan gendang telinga. Sumpah serapah, kata-kata kotor, umpatan, hujatan, dan rintihan doa-doa yang teraniaya. Tak jarang deretan peluru meluncur ke udara, memporak porandakan tembok-tembok yang berdiri kekar. Tidak bisa aku bayangkan jika peluru itu mengenai batok kepala.

Semua memang berbeda setelah kedatangan mereka. Iyah mereka datang bagaikan malaikat kematian, oh tidak lebih tepat bagai serigala lapar. Yang siap memangsa domba-domba ketakutan. Karena sudah tentu malaikat kematian, bisa saja datang lebih manis dan jauh lebih sopan. Tidak seperti mereka yang tidak berperikemanusiaan. Dan nyatanya akulah salah satu domba ketakutan itu.

Coba lihat mereka? lihat adik-adik kecil yang masih berserakan di trotoar. Apakah kalian lihat, mereka belum sempat di makamkan karena sang ibu yang lebih dulu tiada. Dan coba lihat itu. Iyah itu yang seperti kobangan. Itu bukan air hujan saja, tapi air hujan yang sudah bercampur dengan darah segar. Makanya berwarna coklat agak kemerah-merahan. Mewangi harum karena darah itu tumpah tidak sia-sia. Darah korban dari keserakahan manusia. Darah yang tumpah karena ulah mereka yang angkuh, yang merasa paling benar, paling berkuasa.

Sempat aku berpikir, Oh Tuhan! segitu murahnya kah nyawa kami Tuhan?, apakah kami hanya dianggap tumpukan dedaunan yang gugur di bawah pohon rindang?. Tak kenal itu daun muda ataukah daun yang memang sudah tua. Semua di sapu bersih oleh angin yang berseliweran. Bahkan ada yang tersudut di tong sampah.

Apakah mereka yang terlihat sangat gagah itu, mereka yang berkokang senjata sudah benar-benar tidak takut kepada-Mu Tuhan? Atau kah ini memang cara yang paling manis untuk bertemu dengan-Mu T? jika memang ia tentunya aku akan tersenyum untuk menantinya. Karena tak ada tempat yang paling indah untuk kembali selain kepada-Mu.

Entah itu siang atau malam, rasanya semua waktu sama saja, tak ada waktu untuk sekedar menikmatinya. Atau sekedar bercengkrama dengan keluarga. Yang ada hanyalah menunggu giliran peluru itu bersarang di tubuhku, menunggu giliran dentuman bom itu merobek telingaku. Menunggu dan melihat kematian. Bahkan mungkin akan segera merasakan kematian itu lebih cepat.

Dentuman juga menyeramkan, kami selalu ketakutan saat ia berbicara, dentuman yang kusaksikan membuyarkan impian, dentuman yang kudengar memekikan kematian.

***
Dan apa ini? rasanya ada sesuatu yang kental mengalir di pelipis kiriku, sakiiiiiiit!. Aku rasakan sangat sakit. Meski tak sesakit di hantui ketakutan itu, tapi ini benar-benar sakit. Penglihatanku sudah mulai kabuuur. Lemas, rasanya cairan itu sudah mulai banyak yang keluar.

Tapi aku tersenyum, ko aku malah tersenyum? rasanya aku senang. Apa semua ketakutan itu akan segera berakhir? Apa ini adalah waktunya Tuhan?, waktunya aku kembali kepada-Mu?. Aku biarkan pertanyaan-pertanyaan itu menggantung. Sampai ada seseorang yang datang, melihat nasibku dan meneruskan cerita ini.

***
“Ya Tuhan kasihan banget ya kalau melihat konflik di sana Bud?” ketika ada breaking news disalah satu stasiun televisi swasta.

“Memang ada berita apa Dik?, coba geser gw juga mau nonton berita!”  sambil menyeruput teh hangat.

“Itu anak kecil seumuran anak pertamamu ditemukan tewas di samping bak sampah semalam!”

“Aduuuuh! Ke tembak ya? Kepalanya sampai kaya gitu. Merinding gw melihatnya.” Budi sampai gemetar sendiri.

“Sampai kapan yah nasib mereka seperti itu. Kasihan banyak yang masih kecil sudah jadi korban.” Lanjut Dika prihatin.

“Entahlah! Gw pribadi berharap akan segera berakhir.” Kata budi sambil meneruskan baca koran paginya

Untuk Mereka Di Negeri Konflik

Bangkai busuk darah mengering
Tak ada hati tak ada iba
Napas bebas kemana jua
Rona ketakutan meronta ronta
Aku di sini hanyalah saksi
Tentang konflik semakin pelik

Sedikit saja aku berlengah
Napas ini akan terengah
Pandangan mata selalu menganga
Tembusan peluru di depan raga

Sesak isak semakin serak
Tangisan rintih teriak teriak
Oh tuhan boleh aku sekedar meminta
Semua ini berganti segera.

nyawa yang hilang akan berseri

@azurazie_

Mei 04, 2026

SADAR UNTUK SELALU SABAR

Sabar, yang menjadi hakmu, akan diterima. Sadar, yang menjadi kewajibanmu akan dituntut. Maka, jelaslah sudah. Dahulukan kewajibanmu untuk-Nya. Maka, hak-hakmu akan mengikuti setelahnya.

Sabar, atas segala usahamu Allah yang memudahkan. Sadar, akan hasil akhirnya Allah pula yang menentukan. Maka, jelaslah sudah. Dahulukan kesadaranmu untuk senantiasa berserah kepada-Nya (selepas berusaha). Dan sabar harus selalu mengikuti tiap-tiap prosesnya.

Sabar, pada tiap-tiap kesulitan, ada kemudahan setelahnya.

Maka, dirimu tenang.

Sadar, pada tiap-tiap kebaikan, ada kebaikan lain berikutnya.

Maka, dirimu menang.


@azurazie_

Mei 02, 2026

TEGUR DIRI SENDIRI

Rasanya, memang lebih mudah jika sok paling benar dengan menasehati orang lain, dibanding muhasabah untuk diri sendiri. Mungkin memang begitulah sifat manusia pada dasarnya. Maka, izinkanlah saya dengan tulisan ini untuk sekadar menuangkan keresahan-keresahan yang tiba-tiba membenak di pikiran. Di awali dengan pertanyaan :

Hari ini sudahkah kita menegur jemari tangan kita, tentang apa-apa yang sudah ia perbuat?

Mungkin kita pernah mendengar bahwa dosa yang paling sulit dihindari adalah dari penglihatan mata. Karena, biasanya yang pertama kali kita kenali atau kita cari itu diawali dengan melihatnya. Baik sengaja maupun awalnya tidak sengaja. Mata menjadi penentu tindakan kita selanjutnya akan berdampak apa. Untuk menambah kebaikan, atau menambah tumpukan aib sendiri yang suatu saat akan ditampakkan juga. 

Tapi, pernahkan kita merenungi bahwa kita tidak bisa menampik, sebenarnya lebih terbiasa menumpuk dosa dengan jemari kita. Dengan ponsel yang lebih sering berada di genggaman. Apalagi kalau bukan interaksi di social media. Entah itu secara personal maupun yang bertebaran di grup-grup sejenis whatsapp dan lainnya. Ngerumpi online istilahnya, jika tidak ingin dibilang ghibah yang modern.

Seberapa sering di dalam sharing sesuatu itu, kita melupakan istilah ‘saring’ lebih dulu. Adakah manfaatnya membagikan sesuatu itu? Adakah nilai kebaikannya? Perlukah kita sebar? Semisal membagikan potongan video atau membagikan potongan gambar yang sebenarnya tidak menambah nilai kebaikan apa-apa. 

Jemari tangan kita dengan mudahnya menumpuk dosa, dengan dalih hanya guyon, untuk lucu-lucuan, biar seru-seruan. Padahal kalau dipikirkan ulang, kelak dihari perhitungan semua itu akan di nampakkan kembali dengan detail, lengkap dengan historynya. Bahwa si fulan bin fulan pada tanggal sekian, waktu sekian, membagikan dosa jariah kepada si fulan, si fulan dan si fulan lainnya. Yang si fulan tersebut membagikan kembali kepada si fulan bin fulan, dan seterusnya, dan seterusnya. Hingga panjang sekali daftar riwayatnya. 

Innalillah, maka, pertanyaan itu layak sekali untuk kita renungkan sesering mungkin,  

Hari ini sudahkah kita menegur jemari tangan kita, tentang apa-apa yang sudah ia perbuat?

Alih-alih menambah kebaikan-kebaikan dengan sharing yang bermanfaat, dan menjaga kualitas diri dengan setiap harinya menjadi pribadi yang lebih baik. Kita lebih sering lupa untuk menjaga kehormatan diri sendiri dengan tidak bijak dalam membagikan sesuatu di social media. Perkara sederhana yang perlu kita renungi dalam-dalam. 

Dan bagaimana dengan anggota tubuh yang lain?

@azurazie_


Mei 01, 2026

SANGKAAN YANG BAIK, UNTUK HATI YANG BERSYUKUR

Karena ketetapan-Mu, ada dalam ketepatan waktu.

Maka, di balik penundaan. Berbaik sangka, Allah sedang sempurnakan. Allah sedang memberimu waktu lebih untuk mempersiapkan kesiapan.

Di balik kehilangan sesuatu. Berbaik sangka, Allah sedang menguji keikhlasan untuk menerima yang lebih dari yang dimiliki sekarang.

Di balik kegagalan. Berbaik sangka, justru Allah sedang menyelamatkan dari sesuatu yang boleh jadi esok lusa tidak bisa kita tangani karena keterbatasan kemampuan.

Di balik yang sedikit. Berbaik sangka, Allah memberimu rasa cukup untuk tidak mudah bertindak berlebihan. 

Di balik kekurangan. Berbaik sangka, Allah sedang memicumu agar terus belajar menambah kemampuan untuk perbaikan-perbaikan.

Maka, teruslah berbaik sangka untuk hal-hal yang di luar kemampuanmu dalam menerima segala alasannya. Semoga dengan begitu, hati tak mudah berkecil hati untuk setiap harapan yang belum juga berjodoh dengan waktu terbaiknya. 


@azurazie_