Agustus 08, 2012

Pemimpin

Ada pemimpin yang tidak menyadari sedang di olok - olok oleh bawahannya. Apa salah dia? mungkin karena ketika berdiri di atas ia lupa tujuan awal dirinya di pilih. Tidak peka terhadap hak-hak bawahan dan lalai dengan kewajiban.
lalu apa dia masih punya muka untuk tetap memimpin?

Ada juga bawahan yang selalu menaruh curiga kepada pimpinannya. Ada apa dengan dia? Mungkin ia lupa yang sedang berdiri di atas adalah pilihannya, orang yang di percaya memperjuangkan hak-haknya. Siapa tahu bawahan itu hanya menuntut hak, tanpa membantu pimpinan menyelesaikan kewajibannya atau menunaikan kewajibannya sendiri.
Lalu apa masih ada yang tidak mengaku telah memilih?

Setiap jiwa adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan di mintai pertanggungjawabannya.
Kedewasaan bukan sekedar kematangan usia, tapi kadang kala seseorang di tuntut selalu pandai menempatkan posisi, menyeimbangkan antara hak dan kewajiban. Saat ia berhasil, sudah kah ia di anggap dewasa? pastinya ia lebih baik dari pada yang hanya pandai bicara tanpa ada bukti nyata.

Agustus 07, 2012

Anggap Saja Hujan

“Kenapa? Kelihatannya resah banget?” Remi datang menghampiri Rena yang menatap kosong ke luar jendela. Simponi gerimis mengalun, tidak membuatnya nyaman di ujung senja ini.  Rena hanya sekilas melirik Remi yang datang.

Agustus 06, 2012

3 Orang Resah

Tiga orang yang terlihat resah, satu di antaranya berulang kali memperhatikan laju jarum jam, menunggu bus atau metromini lewat, hari ini adalah hari pertamanya magang, dan pagi ini pula ia kesiangan. Ada kecemasaan di wajahnya mengingat waktu makin siang. 

Satu dari yang lainnya terlihat lebih santai, beruncang-uncang kaki di bangku halte, sambil memainkan games ke sukaannya di hape, atau sesekali tersenyum membalas sms yang masuk. Tapi itu semua hanya upaya dia untuk menghilangkan resah, karena seharian penuh akan berhadapan dengan mata pelajaran di sekolah. sebenarnya Ia tidak pernah ingin sekolah, tapi sudah terlalu sering mendapatkan teguran dari wali kelas. Dan sudah tidak memiliki alasan lagi untuk absen ke sekolah. Dengan setengah hati ia melangkah. 

Satu orang lagi dari kedua lainnya, terlihat mulai sibuk mengerjakan pekerjaan rutinnya. Menyapu dan membersihkan jalan dari sampah-sampah pembungkus makanan sisa-sisa remaja yang nongkrong semalam. Di tengah-tengah aktifitasnya, sesekali Ia melihat kedua orang yang sama-sama berada di sebuah halte, terlihat kedua orang yang di perhatikannya itu sudah menaiki bus menuju tujuan masing-masing. Tinggal ia berteman  resah, mengingat kesalahan besar yang pernah ia buat. Tentang kesempatan emas yang dulu di berikan. Tentang pilihan masa depan yang tidak ia gunakan. Seseorang itu mulai menyesali keputusannya, seandainya kesempatan sekolahnya dulu tidak di sia-siakan, mungkin hari ini ia bisa menggunakan baju putih hitam dan magang di perusahaan. Ia membatin.

Seseorang ada yang bijak mengambil peluang, ada yang berleha-leha menanggapinya, cuek bahkan tidak peduli, tapi itu semua adalah pilihan yang kelak ia juga yang akan merasakan. 

Agustus 05, 2012

Muara 3 Rasa

Seseorang sedang tertatih, mengikuti aliran air yang terus membawanya, kadang aliran itu menahan perlahan, kadang pula deras menguji pertahanan. Tapi apapun caranya, bagaimanapun rintangannya, seseorang itu yakin suatu saat bisa berada di muara itu, berlabuh di sana,  yang ia kenal muara Cinta...

Seseorang sedang mengikuti hembusan angin, yang menerbangkannya ke negeri kedamaian, kesejukan, tapi kadang juga terlempar ke dimensi yang menyesakan, menyakitkan. Tapi apapun rasanya itu, bagaimana suasanya, seseorang itu yakin suatu saat angin itu membawa ke muara kehangatan, yang ia sebut muara Rindu...

Seseorang sedang mencari arah persimpangan, berliku-liku, ia menemukan tepian, terperangkap ke jalan buntu bahkan jurang, tersesat. Tapi ke manapun kaki melangkah, sebesar apapun terjalnya, seseorang itu yakin suatu saat akan menemukan persimpangan yang sebenarnya. Jalan yang menuju muara, ia mengenalnya muara Persahabatan...

Pada waktunya ketiga pejalan itu, bertemu di satu muara yang sama, saling mengenal, saling berbagi kisah dan pengalaman, berbagi bekal dan buah tangan. Ketiganya sepakat memberi nama muara itu, MUARA 3 RASA...

Agustus 04, 2012

Hello Stranger

Dua orang saling mencuri pandang. Seperti ada sebuah magnet besar hingga pandangan keduanya kerap kali bertemu. Setelah itu kembali pura-pura tidak tahu atau sekedar melempar senyum, lalu kembali ke pikiran mereka masing-masing. Keduanya sedang mengikuti psikotes di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Keduanya sama-sama ingin menyapa, sekedar bertanya atau lebih dari itu, berkenalan. Tapi rasa canggung ternyata lebih dominan, mengalahkan keingin tahuan yang sudah mulai membuat gundah.