"Kenapa dengan wajahmu sobat? seperti belum makan dua hari. Lesu sekali."
Aku menoleh sepintas. Wajah penegur barusan lebih cerah dibanding awan yang tidak jelas wajahnya di sana. Tidak bisa dibilang cerah, tidak juga mendung. Aku tersenyum dipaksakan. Ia bertanya kenapa, berarti aku harus menjawabnya dengan memberi penjelasan. Ah aku rasa tidak perlu sekaku itu, aku memilih menimpalinya dengan berbalik bertanya. Mungkin lebih seru.
"Kau pernah merasa begitu bodoh akan angan sendiri? Mengira sudah pandai melompat tapi jatuh berkali-kali."

