Juli 01, 2015

SETENGAH PERJALANAN?


"Sudah hampir 1/2 perjalanan ya. Betapa singkat waktu itu terasa. Tapi rasanya belum banyak bekal kebaikan yang kita bisa bawa."

"Maksudmu? Tempat yang kita tuju sebentar lagi sampai?" Lam mengambil ransel. Siap untuk langkah kami berikutnya. Setelah beberapa menit beristirahat. Kami memang sedang dalam perjalanan ke suatu tempat.

"Yang ku maksud Ramadhan, Jim. Belum banyak yang sudah kita lakukan kan?"

"Kau benar, Lam. 15 hari waktu yang singkat untuk memperbaiki diri. Aku merasa masih menjadi ulat. Belum berproses membentuk kepompong. Apa akan cukup sisa waktunya untuk bermstamorfosis menjadi makhluk yang lebih indah nantinya?"

"Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Perjalanan kita kali ini dan perjalanan kita mengisi Ramadhan bisa dikatakan memiliki proses yang sama. Meskipun dalam cakupan butuh waktu yang berbeda."

"Maksudmu?"

"Dalam setiap perjalanan, sedikitnya kita membutuhkan bekal toh? Niat, tekad, keberanian & tentunya tujuan. Perjalanan hari ini, kita sudah pastikan menggenggam kebutuhan itu. Bekal di ranselku. Niat, tekad, keberanian sudah pasti. Buktinya kita sudah sejauh ini melangkah. Tujuan kita jelas arah dan kita bisa prediksi waktu sampainya."

Aku mengangguk. Menunggu perkataan Lam berikutnya.

"Awal Ramadhan kemarin juga menurutku begitu. Kita sudah punya bekal pengalaman Ramadhan sebelumnya. Minimal modal rasa gembira menyambutnya. Niat dan lain-lain setiap hari kita perbarui. Yang membuat kita kuat sampai waktu buka. Tujuan jelas kita pasti memilikinya dalam hati masing-masing. Taqwa. Dan waktunya juga sudah ditetapkan. Satu bulan penuh."

Lam menghela napas. "Tapi ada perjalanan yang lebih aku khawatirkan, Jim."

"Apa itu?" aku mengerutkan dahi.

"Perjalanan yang kita tidak ketahui batas waktunya. Yang tidak kita ketahui sampai kapan kesempatan memenuhi bekalnya."

Dahiku lebih berlipat-lipat.

"Umur, Jim. Perjalanan kita selama di dunia. Kita tidak tahu apakah sudah setengah perjalanan. Atau malah hampir sampai batasnya. Jangan-jangan kita sudah mau kehabisan bekal ini."

Seketika aku merinding mendengarnya.

"Jangan berputus asa dari Rahmat Allah, Lam. Kesempatan memperbaikinya selalu ada di setiap detik. Setiap hela napas. Bukankah begitu?" aku menasihati diri sendiri.

"Ya kau benar, Jim."

Dan perjalanan kami  hari ini pun sampai pada tujuan.

Juni 14, 2015

KEPOMPONG


Sebelas bulan tinggal menghitung hari akan berlalu. Sebelas bulan waktu yang cukup panjang untuk merangkak, berjalan atau bahkan berlari mengejar ketinggalan.

Sebelas bulan kita layaknya seekor ulat yang ingin bermetamorfosis menjadi mahkluk yang lebih indah. Seekor ulat yang kebanyakan orang akan merasa jijik ketika melihatnya. Di hindari. Di jauhi dan tidak dipedulikan kehadirannya.

Barangkali kita akan bernasib seperti ulat, jika saja Allah yang Maha baik membiarkan aib-aib kita diperlihatkan. Dosa-dosa kita akan ditampakkan.

Sebelas bulan akan berlalu. Kita seperti ulat yang akan menuju kepompongnya. Tempat ia akan berproses dan dibentuk menjadi lebih baik. 

Ramadhan adalah 'kepompong' kita untuk bulan-bulan berikutnya. Tempat berproses dan dibentuk menjadi manusia yang lebih baik. Tempat dibersihkannya noda-noda hitam yang menjijikkan. 

Semoga ramadhan kali ini benar-benar menjadi 'kepompong' untuk kita menjadi manusia yang kembali fitrah. Menjadi manusia yang lebih terlihat baik. Layaknya seekor ulat yang bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Hewan menawan yang banyak membuat mata tertawan.

Semoga.

Juni 09, 2015

jagalah!


Tidak lagi utuh sesuatu yang telah terlanjur kau buat retak. Meskipun secara tampak mata wujudnya tetaplah sama. Sejatinya ada yang membuat sesuatu itu menjadi kurang sempurna.

Tidak lagi sama sesuatu yang terlanjur kau buat patah. Ada 'luka' yang tak lagi bisa begitu saja disembunyikan. Meski kau berupaya membuatnya terlihat tersambung seperti sediakala. Sejatinya ada cela yang teriris di dalamnya.

Untuk itu, memang sulit menjaga kepercayaan. Tetapi jauh lebih sulit jika harus mengembalikan kepercayaan.

Untuk itu, jagalah dengan bijak sesuatu itu sebelum terlanjur retak. Lindungilah dengan tanggung jawab sesuatu itu sebelum terlanjur patah.

Juni 08, 2015

untukmu RAMADHAN

Rasanya seperti baru kemarin. Aku bergegas pulang dari kemacetan ibukota. Tidak sabaran menunggu tanda dibolehkannya memanjakan lapar dan dahaga. Menyantap menu-menu idaman. Sering makan kekenyangan.
Rasanya seperti baru kemarin. Berduyun-duyun menuju masjid belakang rumah. Mengejar shalat tarawih berjamaah. Tidak ingin ketinggalan. Mencari shaft paling depan. Meski tidak bertahan lama, tidak sampai sebulan ruang masjid kembali menjadi lega.

Rasanya seperti baru kemarin. Memenuhi rutinitas bulanan. Tidak belajar melakukannya sebagai kebutuhan.
Rasanya seperti baru kemarin. Memaksakan diri bangun di sepertiga malam. Menahan kantuk mengunyah makan sahur. Tak jarang subuh kembali tidur.

Rasanya seperti baru kemarin aku bersedih ketika hari-hari terakhir bisa meniti ibadah bersamamu. Di sepuluh hari terakhir, malam-malam utamamu. Bersedih karena betapa malasnya mengisi kesempatan memperbaiki kualitasnya.

Rasanya seperti baru kemarin. Kau tinggalkan kami dalam kedukaan. Harus menunggu datangmu lagi setahun. Meski kau pun tahu banyak yang lebih bersuka cita. Euporia di hari raya.

Tinggal beberapa hari lagi gerbang pintumu kembali terbuka. Banyak yang bersuka cita menantinya. Semoga kami 'memperlakukan'mu jauh lebih baik dari tahun sebelumnya.

Juni 06, 2015

MENJADI ANAK YANG LEBIH BERMUTU


"Harus bersyukur masih ada yang mau bilangin, masih ada yang negor, masih ada yang perhatiin. Berarti masih ada yang peduli, masih ada yang sayang."

Saya tertegun sejenak, menghentikan kunyahan terakhir dari makanan yang sedang saya nikmati. Terasa dejavu dengan nasihat itu. Seakan ingatan terlempar ke masa lalu. Sewaktu saya masih kecil. Ketika keras kepala ini masih perlu dididik dengan keras dan bijaksana. Meski sampai saat ini masih belum juga lulus dan dewasa.

Betapa waktu melesat cepat berlalu. Dua puluh tahun lebih seperti baru kemarin. Tetapi nasihat itu seperti udara segar yang terus berhembus. Dan kali ini saya kembali 'tertampar' oleh hembusannya. Nasihat itu masih segar diingatan. Meskipun kalimat tadi, kali ini lebih ditunjukkan kepada adik lelaki saya yang paling kecil. Dialog antara ibu dan anaknya di dapur.

Waktu itu barangkali saya belum paham benar maksud kalimat ibu. Seperti adik lelaki saya yang tetap saja asyik dengan makanannya. Tetapi saat ini, ketika nasihat itu kembali terdengar. Saya paham. Ibu benar. Nasihat orang tua harus selalu didengar. Bukan hanya untuk saat itu ketika beliau menegur, tetapi untuk sepanjang perjalanan hidup kita. Agar tidak tersungkur.

Dik, barangkali saat ini kamu belum memikirkannya baik-baik. Kamu belum mengerti banyak hal. Tapi saya harap kamu tidak terjebak di jalan yang sama seperti yang kakak lalui. Kamu harus lebih banyak belajar sejak dini.

Karena waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Dik, percayalah nasihat orang tua selalu benar. Untuk kita belajar. Belajar untuk lebih menghargai waktu. Dengarkan ibu. Jadilah anak ibu yang lebih bermutu.