April 07, 2022

KUKIRA


Ya Rabb,
Kukira aku sudah benar-benar berserah pada-Mu. Tentang jalannya takdir yang telah tertulis. Akan tetapi masih saja aku khawatir. Tentang masa depan yang belum jelas tergambar. Padahal tugasku hanyalah sebatas ikhtiar. Hasil akhir pada-Mu lah yang paling benar.

Ya Rabb,
Kukira aku sudah benar-benar yakin. Bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Sepanjang napas masih ada diraga. Rezeki itu masih akan selalu ada. Akan tetapi aku masih saja was-was. Takut segala sesuatunya hanya sekadar nge-pas. Padahal tugasku hanya perlu selalu mawas diri. Darimana 
Rezeki itu ada, dan kemana harusnya bermuara. Karena itu yang akan diadili nanti.

Ya Rabb,
Kukira aku sudah benar-benar terserah pada-Mu. Setelah panjang-panjang berdoa meminta ini-itu. Akan tetapi selalu mudah kecewa, ketika belum diqabul dengan segera.

Ya Rabb,
Bila La Haula Walaquwwata illabillah sudah ada dalam deru napasku, lalu apa yang masih membuatku risau? 
Atau jangan-jangan yang kukira sudah ada itu semua. Sudah merasa berserah pada-Mu. Sudah merasa yakin akan ketetapan-Mu. Sudah bisa mengaku terserah Allah saja atas nasibku. Semua itu hanya sekadar baru ada di ujung lidah? Belum benar-benar ada di dalam hati.
@azurazie_

April 05, 2022

YANG BUGAR TIDAK PUASA, YANG SAKIT RINDU PUASA

Ya, sobat. Bagaimana kabar imanmu? Masihkah teguh mengikuti titah Rabbmu? Masihkah menghidupi sunnah-sunnah Rasulmu?

Puasa itu panggilan untuk orang-orang yang ada iman dalam hatinya. Iman yang kaffah. Utuh. Sempurna. Sepenuh tunduk. Langsung bertindak. Yang bukan sekadar tahu dan hafal rukun islam. Akan tetapi menunaikannya. Dalam hal ini puasa wajib pada bulan Ramadhan.

So, bagi muslim yang beriman. Yang merasa sehat bugar. Tidak dalam gangguan jiwa. Sudah lebih dari aqil baligh. Tidak ada alasan untuk meninggalkan rukun yang satu ini. Betul tidak?

Malu sama umur. Malu sama anak 5-6 tahun yang lagi semangat mulai belajar ikut puasa. 

Kok tulisannya pedas, ya? Menyindir? Biarin! Biar mikir. Jadi nggak banyak mangkir.

Hmm, kalau rasa malu masih kalah sama nafsu.
Coba renungi dalam-dalam sesuatu yang di bawah ini : 

Seberapa banyak orang yang dalam hatinya berkeinginan berpuasa penuh pada bulan Ramadhan. Akan tetapi, takdir tidak sedang bersahabat. Diuji sakit menahun. Struk. Gangguan lambung yang kronis. Bergantung dengan obat. Dan kondisi lain yang tidak memungkinkan untuknya berpuasa. Karena tidak kuat lagi tubuhnya.

Banyak. Tengok kanan-kiri. Boleh jadi mereka ada di sekitaran kita.

Tahukah kita bagaimana perasaannya? Seberapa sedih hatinya? Ketika melihat orang lain berlomba-lomba mencari keberkahan dalam bulan Ramadhan. Sedangkan ia masih harus berjibaku dengan kesehatannya sendiri. Tentu berjuang juga untuk kewajiban lain seperti shalat.
Padahal di waktu sehatnya dulu, paling istiqomah puasanya. Selalu mengkhatamkan Al-qur'an lebih dari tiga. Sekarang sekadar menopang tubuhnya untuk berjalan pun sudah ngos-ngosan.

Seandaikata nikmat sehat itu bisa ditukar. Organ dalam tubuh manusia bisa digadai. Tentu mereka mau meminjamnya barang sebulan selama Ramadhan, kepada orang-orang yang sehat secara fisik. Tapi berat untuk sekadar menahan haus dan lapar dalam berpuasa. Yang santai aja makan-minum di siang hari.

Tapi kan tidak bisa begitu.
Sudah jalan takdirnya masing-masing. 
Alhamdulillah-nya Allah Maha baik, ada rukshah untuk mereka. Ada keringanan. Bisa menggodo di hari yang lain bagi yang mampu. Atau fidyah untuk yang tidak mampu.
Catat : syarat berlaku hanya untuk yang kondisi sakit ya.

Sedangkan bagi yang sehat. Tak ada belas kasih. Wajib. Titik. Sengaja berbuka tanpa unsur syar'i. HARAM hukumnya.

Kuy lah sama-sama intropeksi dan berbenah diri.
Saling mengingatkan, tidak untuk menjatuhkan.
Tapi, sekadar memberi peringatan.
Karena kita sesama muslim wajib untuk saling mengingatkan.

@azurazie_

GENERASI TARAWIH

Hi, sobat. Bagaimana tarawih malam kedua? Shafnya sudah maju berapa baris? Hmm, mari berazam jangan sampai jadi golongan yang cuma mencicipi tarawih malam pertama aja. Malam sisanya berkeliaran di mana-mana. Hehe...Yang tersisa tinggal generasi orang-orang tempo doelou. Seperti yang udah-udah.

Sobat, sadarkah kamu. Tarawih itu, bisa jadi renungan betapa cepatnya melesat waktu. Generasi-generasi silih berganti. Generasi kakek kita udah lewat jauh. Tinggal satu-dua yang masih diberi umur panjang. Yang masih diberi kemampuan shalat berjamaah.

Generasi bapak-paman kita pun mungkin tinggal setengahnya. Sampai generasi kita sendiri sudah jadi orangtua. Generasi sudah mulai gendong anak sendiri buat ikutan ke masjid. Saking melesatnya waktu sampai bocah-bocah yang gaduh lari-larian di belakang pun udah kita nggak tahu lagi itu bocah anak siapa.

Coba deh, tengok kanan-kiri.  Depan-belakang. Generasi kita sendiri pun sudah banyak berkurang. Apalagi generasi di atas umur kita.Tidak adalagi bapak fulan bin fulan yang paling semangat menjawab bacaan bilal tarawih. Tidak adalagi bapak fulan bin fulan yang jadi tukang ngomelin bocah yang berisik. Dan fulan bin fulan lain yang pada masanya ikut meramaikan masjid.Lebih sedihnya, fulan bin fulan yang sudah nggak ada itu, bukan sekadar orang lain yang kita kenal. Mereka saudara-saudara kita sendiri. Guru kita sendiri. Atau bahkan orang tua kita sendiri.

Kalau diingat-ingat soal itu kan jadi rada sedih ya. Tahun ini, alhamdulillah kita masih di izinkan bertemu Ramadhan. Tahun depan bisa jadi kita yang dicariin sama orang lain karena udah nggak keliatan ada di masjid lagi.Makanya, getolin lagi deh tarawihnya. Sempatkan diri ya.

Realeted nih dengan tulisan @irmaliswt di bawah ini :

"Bagi sebagian orang bulan Ramadhan menjadi bulan yang menyenangkan sekaligus menyedihkan.Menyenangkan karena begitu banyak rahmat dan ampunan Allah. Menyedihkan karena orang yang ia cintai telah tiada."

@azurazie_

April 03, 2022

KEBAIKAN, PERBAIKAN, KEBALIKAN

Selamat mendulang berkah saudaraku. Di bulan penuh Rahman dan Ampunan. 

Mumpung masih hari pertama, di ingat-ingat lagi tiga point ini ya :

- Kebaikan
- Perbaikan
- Kebalikan

1. Kebaikan
Ramadhan itu bulan berlipatgandanya kebaikan. Yakin deh, semua orang, baik yang sedang punya maupun sekadar cukup untuk dirinya sendiri sekalipun, ingin rasanya di bulan ini untuk tambah berbagi. Tetangga berbagi makanan untuk berbuka. Pun untuk saudara yang dekat maupun yang jauh. Ingin rasanya ikut andil berbagi takjil di mana-mana. 
Dan bentuk kebaikan-kebaikan lain.

Nah, jangan lupa sedekah subuhnya jangan sampai ketinggalan.

2. Perbaikan
Ramadhan itu, jadikan aji mumpung untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Baik untuk perkara ibadah maupun perkara yang lain. Baik yang hubungannya sama Allah. Maupun kepada sesama manusia.

Banyakin deh perbaikan-perbaikan. Yang tadinya masih bolong-bolong bangun shalat malam. Jadi istiqomah sebelum santap sahur dua-empat-enam-delapan rakaat tahajudnya. Yang tadinya ketinggalan terus shalat sunnah qoblia subuh, jadi lebih gercep deh melangkahkan kakinya ke masjid. Biar nggak masbuk terus. Dan bentuk perbaikan-perbaikan lain.

3. Kebalikan

Nah, Ramadhan itu, bisa jadi momentum untuk membalik kebiasaan yang kurang baik.

Yang biasa suka kepo sama urusan orang lain. Dibalik deh jadi makin rajin mendoakan diam-diam. Yang suka koment ghibahan orang, REM! Ingat kalau sedang puasa. Sayangkan pahala puasanya.

Kebaikan, Perbaikan, Kebalikan.

Semoga dengan begitu Ramadhan kita tahun ini jadi  jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. 

Berlomba-lomba dalam kebaikan itu boleh. Riya dalam beribadah itu yang jangan.

Minimal kita berlomba dengan diri kita sendiri versi yang kemarin. Jadi versi yang berpuasa dengan penuh kesadaran dan juga kesabaran.

Aamiin..
Mudah-mudahan jadi berkah untuk kita semua.

@azurazie_

April 01, 2022

MARHABAN RAMADHAN

Adakah yang lebih menggembirakan hati dari : di doakan diam-diam oleh orang lain? Boleh jadi ada, ketika : di maafkan dalam-dalam.

Maka, mari sambut Ramadhan dengan lebih dulu mendoakan diam-diam : Doakan agar sehat dan berkah untuk semua. Lebih mudah untuk beribadah. Murah rezeki untuk bersedekah.

Dan sempurnakan dengan memaafkan dalam-dalam. Siapapun. Karena apapun. Agar langkah lebih ringan. Agar hati lebih lapang.

Agar urusan lain ditanggalkan.

Ramadhan ini untuk Allah kita tunggalkan.


@azurazie_