Desember 05, 2022

PERPISAHAN

Putri, perpisahan adalah niscaya. 
Karena segala hal ada waktu-waktunya. 
Ada masa habisnya. 
Ada masa kadaluarsanya. 
Sejatinya setiap hari kita menghadapi perpisahan.
Berpisah dari hari kemarin. Dari kesempatannya. Dari sisa usianya. Berpisah dari segala hal yang kita nikmati, kita gunakan dan kita berikan. Untuk menopang segala kebutuhan kita.

Putri, perpisahan adalah niscaya.
Maka yang dikhawatirkan bukanlah semata kapan perpisahan itu akan datang. Karena semua sudah ada ketetapan-ketetapannya. Ada takdir terbaiknya. Ada batasan-batasan kesempatan waktunya. 
Maka, yang perlu dicemaskan bukan perpisahannya. Akan tetapi dipisahkan.Sungguh kita berharap jangan sampai dipisahkan. 

Maka, sungguh perlu merawat dan berharap akan dua hal ini agar kita selamanya tidak akan dipisahkan. Sekalipun telah datang perpisahan karena azalnya tiba. 
Merawat Iman dan cinta karena Allah. 
Karena kelak kita akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang kita cintai selama di dunia. 
Merawat iman agar cinta Allah itu tetap terjaga. Cinta orang-orang yang mencintai Allah ikut terjaga. - yang kita berharap selalu ada di antaranya.

Dan merawat cinta karena Allah. Agar kita tidak pernah dipisahkan pada pelataran syurga firdaus-Nya. 

@azurazie_

Desember 04, 2022

BETAH ATAU BERTAHAN

Pegawai kantor itu sedang lelah sekali. Hari ini super sibuk tidak seperti biasanya. Permintaan yang banyak. Koreksian yang menumpuk. Tekanan dari atasan yang tinggi. Dateline ini itu, seolah-olah tidak bisa menunggu untuk sekadar makan siang dulu. Untuk sekadar coffetime dulu. Jenuh. Jengah. Hmm... Hanya bisa menghibur hati dengan berkata. Sabaaar... Sabar... 

Pegawai kantor itu menghela napas, kondisi seperti itu rentan sekali untuk mendatangkan pikiran yang bercabang. Tentang tujuannya masih berada di tempatnya sekarang. Setelah bertahun-tahun. Ketika betah dan butuh tak lagi seimbang, akan tetapi mulai jadi pertimbangan. 

Ketika jenuh tak lagi sekadar kata yang mewakili rasa. Tetapi sedikit banyak mulai berpengaruh terhadap asa.

"Kerja bertahun-tahun belum tentu karena betah, bro. Tapi karena kebutuhan. Makanya masih banyak yang mau tidak mau bertahan." Celoteh teman kerjanya yang sama suntuknya hari ini. 

Begitukah? Pegawai kantor itu membenak. 

"Tapi setidaknya kita merasa cape dan jenuh karena banyaknya kerjaan. Dari pada cape mikirin gimana cara dapat pekerjaan." Tambah rekan kantornya itu yang sudah lima tahun lebih lama masa kerjanya. 

Betul juga. Pegawai kantor itu bersyukur. 

@azurazie_

Desember 03, 2022

HUJAN DI WAKTU MAGRIB

Hujan di waktu magrib selalu terasa lebih... Hmm apa ya kata yang pas untuk mendeskripsikannya? Sendu? Bikin galau? 
Karena di kala itu banyak pilihan yang perlu dipikirkan, khususnya bagi orang-orang yang ada dalam perjalanan. Memilih mampir sebentar untuk menunaikan kewajiban. Atau tetap jalan karena sebentar lagi tujuan sudah sampai.

Lelaki itu memutuskan untuk singgah sebentar ke salah satu SPBU kota ini. Kalau kewajiban sudah tunai, perjalanan pun akan lebih tenang, pikirnya. Ia pegawai kantor yang hendak pulang ke rumah. 
Sembari memakai kembali mantel, ia melihat-lihat sekitaran. Banyak juga pengguna jalan lain yang memutuskan berteduh. Karena hujan cukup deras. Dan sebagian tidak memiliki jas hujan. 
Di sudut lain SPBU ini juga ada tiga remaja tanggung yang asik dengan kegiatannya. Satu orang sedang asik mengenjreng gitarnya, satu lagi mematik sebatang rokok yang entah sudah ke berapa hari ini. Puntung rokok terlihat berserakan di sekitarnya. Satu yang lainnya meneguk habis kopi hitam yang sudah dingin. Asik saja mereka tidak memedulikan orang-orang yang berteduh, yang berharap cemas kapan hujan ini akan segera reda. Ingin sampai rumah untuk bertemu keluarga. Ingin rebahan. Ingin makan karena perut sudah keroncongan.Dan kecemasan-kecemasan lain. Barangkali itu lah cara mereka menikmati waktu. Menikmati hidup. Toh, semua orang punya caranya sendiri-sendiri. 
Lelaki itu menyeringai. Menuntaskan kembali memakai mantel. Tetiba teringat voice note anak gadisnya yang baru berumur tiga tahun sore tadi. 

'Ayah kapan pulang kerjanya? Yogurt dd habis yah.'
'Ayah dd udah maman sama nuget. Nuget dino nya habis yah. Nanti beli lagi ya yang ada minionnya.'

Lelaki itu tersenyum setelah memutar kembali voice note tersebut. Teringat harus mampir dulu ke mini market. Kalau sampai lupa bisa merasa bersalah tidak bisa memenuhi kebutuhan anak gadisnya.
Lelaki itu bergegas melanjutkan perjalanan. Memilih menikmati waktu dan hidupnya bersama keluarga tercinta di rumah dengan segera.
@azurazie_

Desember 02, 2022

PADA BILANGAN BERAPA?

Pernahkah kamu memikirkan, pada bilangan berapa amalan-amalan rahasiamu yang pada akhirnya bisa menyelamatkanmu di hari perhitungan itu? Pada bilangan berapa rakaat shalatmu yang seringnya tergesa-gesa di perhitungkan khusuknya? Pada bilangan berapa lirih istighfarmu diterima, yang rasanya cuma sekadar di lidah. Tetapi tidak diresapi di hati. Pada bilangan berapa ayat-ayat al-qur'an yang memberatkan timbangan itu, yang seringnya nyaris satu tahun pun bisa dihitung khatamnya. Pada bilangan berapa amalan-amalan rahasia lain yang niatnya lebih banyak ingin keuntungan dunia. Untuk mudah usaha, mudan rezeki dan urusan-urusan lain. 

Pernahkah kamu memikikirkan itu? Sedangkan sebanyak apapun bilangan yang telah dirimu baca, sebanyak apapun bilangan yang dirimu kerjakan. Tidak menjamin akan membuatmu selamat, bila tidak ada satu bilangan pun ridho Allah atasnya. Bila ada satu bilangan pun yang tercemari oleh sifat riya.

Duh, itu jika memang benar sejauh ini dirimu memiliki amalan-amalan rahasia yang istiqomah dirimu kerjakan secara diam-diam. Tanpa hinggar bingar di hadapan manusia. Sekalipun ada, rasanya masih ada kecemasan. Meskipun tetap berharap, dari sekian banyak bilangan itu, ada satu saja yang Allah ridho atas apa yang kita lakukan. Ada satu saja yang Allah perhitungkan niat ikhlas kita. 
Lalu bagaimana yang tidak memiliki sama sekali amalan-amalan rahasia itu? Amalan sunnah yang Rasulullah tunaikan. Bagaimana yang untuk menunaikan kewajiban pun masih bolong-bolong? Ketika ada panggilan lima waktu masih abai? Lalu bilangan yang mana yang akan dirimu pertaruhkan untuk peruntungan di hari perhitungan nanti? Ridho Allah yang mana yang dirimu harapkan, bila tidak ada yang mendasari itu? 

Maka, bila sebesar dzarahpun ada dalam perhitungan, teruslah berharap satu bilangan yang Allah ridho atasnya pun semoga ada dalam peruntungan. 

Mari terus menambah bilangan-bilangan amalan rahasia itu. Teruskan, jangan pernah lelah. Sampai tidak terasa Allah memberi balasan kebaikan-Nya satu-satu. 

Desember 01, 2022

YANG LEBIH ROMANTIS

Episode mana lagi yang lebih romantis, ketika dua orang atau lebih yang tidak saling kenal, bertemu dalam sebuah bilik mushola pinggir jalan. Bersepakat untuk menunaikan shalat berjamaah.
Romantis, 
dalam masa yang sama saling meluangkan waktu untuk sejenak bersujud. Menunaikan kewajibannya. Sebelum melanjutkan perjalanan masing-masing. Dan kelak boleh jadi dua orang atau lebih itu, yang tidak saling kenal, sama-sama bersukarela menjadi saksi untuk satu kebaikan. Bahwa, pada tanggal sekian, jam sekian, di tempat itu, pernah bersama-sama memiliki kesadaran yang sama. Ada panggilan yang memang perlu disegerakan waktunya. 

@azurazie_