Desember 30, 2022

CUKUP DENGAN MERASA CUKUP

Cukup, kita selalu merasa cukup. Tidak perlu sampai orang lain menganggap kita selalu berkecukupan. 
Sebab, menghadapi ekspektasi sendiri saja kita sering kwalahan. Apalagi bila harus dituntut juga untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Sebab untuk memenuhi ekspektasi sendiri saja kita sering kelelahan. Apalagi bila harus juga memuaskan ekspektasi orang lain. 

Maka,mulailah dengan diri sendiri dulu yang cukup merasa cukup dengan hal apapun. Asal Allah ridho. Cukup Allah ridho. Sampai Allah ridho. Tidak perlu risau dengan penilaian orang lain. Tidak perlu resah melihat kepemilikan orang lain. 

Karena apa yang kita miliki, apa yang kita jaga, apa yang kita nikmati. Yang tidak bersangkutan dengan hak dan kewajiban orang lain. Yang akan bertanggungjawab akan hisabnya adalah diri kita sendiri. Yang akan kwalahan ketika ternyata berlebihan, ternyata lebih banyak mubadzirnya, ternyata lebih banyak yang disia-siakan atau tidak membawa manfaatnya. Adalah diri kita sendiri. Kita yang akan ditanya : asalnya dari mana? Dihabiskan untuk apa? 

Maka, cukup dengan merasa selalu cukup bisa jadi rem untuk tidak berlebihan dalam segala hal. Dalam hal pemakaian. Dalam hal kepemilikan. Dalam hal mengejarnya. Dalam hal membelinya. Dalam hal mencarinya. Cukup menjaga dengan yang cukup digenggaman saja. Sesuai kemampuan. Tidak melulu sekadar memenuhi kemauan. Tidak perlu sampai berupaya meraup sesuatu yang sampai di luar kemampuan untuk menjaganya. 

Semoga dengan begitu, apa-apa yang kita pakai, apa-apa yang kita nikmati, apa-apa yang kita jaga, apa-apa yang kita miliki. Allah ridho untuk penggunaannya. Allah berkahi segala khasiat dan manfaatnya. Dan kita bahagia karena pandai menikmatinya. Untuk menopang keperluan ibadah kepada-Nya. Untuk menampung kebutuhan hidup kita. 

Dengan cukup, tidak berlebihan. Apalagi sampai kwalahan. 

#gerimis30hari 
#gerimis_des22_29 
#azurazie_ 

Desember 20, 2022

RUANG SENDIRI

Tentang malam dan rahasianya. 
Tentang hati dan kenyamanan perasaannya. 
Tentang pikiran dan ekspektasi berlebihannya. 
Tentang tubuh yang menopang lelah letihnya.
Tentang waktu yang tak bisa lagi kembali.
Tentang kata yang terlanjur dikatakan.
Tentang kata yang masih tak bisa diungkapkan.
Tentang rahasia yang hanya hati yang tahu.
Tentang doa yang merintih malu. 

Pada masa segala sesuatu butuh ruang untuknya sendiri. 
Untuk pulih.
Untuk sembuh. 
Untuk kembali ceria. 
Untuk merasa merdeka.
Untuk belajar lebih sabar. 
Untuk belajar lebih sadar.
Untuk bertahan dari apa yang memberatkan.
Untuk perlahan kembali melangkah pelan-pelan. 

Pada batasan-batasan yang tak bisa dilampaui. 
Pada balasan-balasan yang tak bisa diprediksi. 
Pada kesempatan yang pernah disesali. 
Pada kesempitan yang pernah dilalui. 

Semua hal ada waktu terbaiknya. 
Semua waktu ada masa berakhirnya. 
Sebelum segalanya menjadi terlambat.
Sebelum segalanya mulai terhambat.
Lekas pulih. 
Kembali memilih. 
Untuk menjalani kembali. 
Peran yang sempat terhenti. 
Untuk menjadi lebih baik lagi. 

@azurazie_

Desember 19, 2022

MERAJUK

Hari minggu biasanya jadi anak ayah bagi @khansatazkiyahayyin, karena tahu ayahnya libur. Dan dia merasa kalau sudah bersama ayah, jadi lebih bebas bereksplorasi. Karena tidak seketat ketika bersama ibu. Yang biasa sama ibu tidak boleh, sama ayah boleh sedikit. Cobain aja sedikit. 

Ya, namanya anak-anak yang lagi tumbuh dan sedang masa-masanya berkeingintahuan besar. Kadang jadi tantrum dan susah diatur kalau lagi ingin sesuatu. Atau dilarang sesuatu. Jadi lebih manja dari biasanya. Jadi susah untuk mandi. Susah untuk makan dan lain-lain. Seenak hatinya sendiri. 

Ketika sedang menyuapi makan, saya jadi teringat masa-masa kecil dulu. Fix ini mah ambeknya anak ayah turun persis dari ayahnya sendiri. keras kepala. Saya ingat dulu semasa kecil pun sering banget membuat ibu kewalahan. Pernah berkali-kali sampai di kunci di kamar karena tidak juga mengerti. Dibiarkan sampai tangis itu reda sendiri. Padahal saat itu saya sudah punya adik perempuan yang hanya selisih 2 tahun. Tentu terbayang bagaimana harus berbagi eksta pikiran dan tenaga. Biasanya bapak yang membukakan pintu untuk membujuk dengan berbagai cara untuk berhenti merajuk. 

Saya ingat dulu pernah membuat bapak harus ke pasar parung malam-malam cuma untuk mencari mobilan yang saya mau. Dan tidak terima ketika mobilan itu rusak. Padahal baru pulang kerja. 

Begitulah waktu seolah memutar kembali kisah-kisah yang pernah kita alami, dengan bentuk tingkah laku anak sendiri. Saya menyeringai, inilah seni menjadi orang tua. Ini baru satu anak, bagaimana kalau ada dua atau lebih?

Sembari memangku @khansatazkiyahayyin saya mengajaknya berbicara. Tepatnya bertanya. 
Kenapa dd nggak mau mandi?
Kenapa dd nggak mau makan?
Kenapa dd suka nggak mau dengerin ibu?
Yang ditanya cuma diam. Entah apa yang ada dipikiran anak-anak. 

Sehari menjadi anak ayah. Membuat saya merenungi banyak hal. Seenerjik inikah setiap harinya di rumah ketika hanya bersama ibunya? Ketika merajuknya? Ketika susah diaturnya? Ketika patakilannya? Sebanyak inikah energi yang dibutuhkan ibunya setiap hari. Saya rasanya bisa berkali-kali lipat. Karena juga harus mengurus pekerjaan rumah tangga lainnya.

Dan saya pun membenak dalam hati. 
Nak sudah seharusnya kita banyak bersyukur dengan adanya ibu yang selalu membersamai kita setiap hari. Yang suka tidak memedulikan kepentingannya sendiri. Tidak dirasa untuk kesehatannya sendiri. Karena energi sudah habis untuk mengurus kita.

Karena ada anak di luar sana yang sepantaran denganmu, tidak seberuntung dirimu. Tidak ada ibu yang menemani, mendidik, merawat, menyediakan kebutuhan dan keinginanmu, karena ibunya sudah tiada. Tidak ada ayah yang memanjakannya setiap hari karena harus pergi bekerja dan biasanya pulang sudah larut malam. Yang kadang minggu pun harus tetap bekerja.

Mungkin saat ini dirimu belum begitu mengerti. Tak apa seiring berjalannya waktu pemahaman baik itu akan tiba. Dan semoga kedepannya kamu akan tumbuh menjadi pendengar yang baik untuk nasihat-nasihat yang ibumu berikan. Menjadi pemerhati yang baik untuk tingkah laku yang ibumu didikan. 
Agar tiap-tiap energi ibumu yang terkuras untuk kebaikan keluarga kita, Allah ganjar pahala yang berlipat ganda dengan menjadikan dirimu tumbuh menjadi anak yang solehah.Aamiin.









Desember 18, 2022

IDEAL

Sudah pasti, kita selalu ingin segala sesuatunya ideal sesuai dengan yang diharapkan. Part to part berjalan sesuai dengan list-list yang kita sudah rencanakan, agar keinginan itu terwujud paripurna. Agar harapan itu berbanding lurus dengan kebaikan yang kita bayangkan. 

Tapi, sayang sekali, selalu ada faktor lain yang di luar kendali kita. Human eror. Atau sering berbenturan dengan ego dan hak-hak orang lain. Atau tiba-tiba ada interupsi dari pihak ketiga yang tidak tahu menahu apa langkah yang sudah kita upayakan. Hal apa yang sudah kita bentuk dengan sedemikian rupa.

Yang apabila hal itu sedang terjadi, sering membuat kita nelangsa. Runyam. Buyar sudah. Seolah tenaga, pikiran, waktu terbuang begitu saja. Tidak kelihatan hasil baiknya.

Oooh... Kenapa mereka tidak bisa mengikuti sesuai idelnya kita? Kenapa dengan suka hati mendistraksi apa-apa yang susah payah telah kita bangun?kenapa tidak sepenuhnya membiarkan segala sesuatunya berjalan apa adanya, step by step sesuai dengan keinginan kita. Kenapa harus ikut campur? Kenapa suka usil ikut mengatur? 

Sedangkan bila terjadi sesuatu yang di luar kendali, kita juga yang pada akhirnya tertuduh duluan. Dan kita pula yang merasa paling bersalah. Karena tidak kuasa mempertahankan. 

Maka, benar adanya. Satu-satunya yang menghibur hati ini bahwa : Yang dilihat Allah adalah proses, bukan hasilnya. 

Biarpun ekspektasi kita tidak selalu tercapai, tapi Allah tahu langkah apa yang sudah kita coba. Soal hasil akhir biarkan bekerja sesuai dengan ganjarannya. Tugas kita sebatas usaha. 

Terus berusaha, sampai tidak terasa, tak adalagi keluhan-keluhan. Tak adalagi rasa kecewa yang di luar kemampuan kita. Karena kalau masih ada itu (keluhan, mudah kecewa) rasa-rasanya definisi ikhlas belum juga kita dapati maknanya. 

@gerimis30hari 
#gerimis_des22_18
#gerimis30hari
#azurazie_ 

Desember 10, 2022

MENJADI TENANG

Hidupmu akan menjadi tenang, bila saat berangkat keluar rumah ada doa-doa yang membersamaimu setiap langkah-langkahnya. Doa orang-orang terkasih yang berharap akan keselamatanmu di dalam perjalanan. Sampai tujuan. Sampai kembali pulang. 

Hidupmu akan menjadi tenang, bila ketika lelah dalam perjalanan, lelah dalam pekerjaan, lelah dalam perjuangan. Teringat ada orang-orang terkasih yang mengharapkanmu untuk segera pulang. Yang berharap dirimu akan baik-baik saja, kapan pun dan dimanapun kini dirimu berada. Baik-baik saja dalam memperjuangkan segala sesuatunya. 

Hidupmu akan menjadi tenang, bila ketika waktunya pulang. Perjalanan itu selesai. Selalu ada tempat untuk berbagi pelukan. Selalu ada tempat untuk menceritakan segala pelik. Selalu ada orang-orang terkasih yang menyambut kedatanganmu dengan senyum kehangatan. 
Tidak terlalu mengharapkan apa-apa yang akan kamu bawa. Yang lebih penting keadaan dirimu sendiri yang selalu dalam keadan prima.
Hidupmu akan menjadi tenang, bila teringat ada cinta yang selalu membersamaimu di setiap detik waktunya. 
Itu definisi tenang ketika bersama sesama manusia. 

Apalagi ketika dihubungkan dengan Allah. Hidupmu akan menjadi tenang, bila segala sesuatunya diniatkan karena Allah. Keluar rumah, bepergian, berjuang karena Allah. Sampai suatu waktu perjalanan itu selesai karena Allah. Tenang, ketika tahu ada Allah yang selalu membersamaimu kapan pun dan di manapun berada.

Hidupmu akan menjadi tenang, bila meyakini Allah tahu apa yang lebih kamu butuhkan dibanding apa yang kamu inginkan. Bila meyakini Allah lebih tahu apa yang ditakdirkan untuk mu itu lebih baik dibanding dengan apa yang sudah kamu rencanakan.

Hidupmu akan menjadi tenang, bila cinta Allah selalu membersamaimu dengan begitu banyak kebaikan-kebaikan. 

@azurazie_